Fitzerald Kennedy Sitorus
Sebelum Heidegger, istilah Dasein telah sangat jamak digunakan dalam filsafat. Istilah ini dapat diartikan dengan eksistensi. Sesuatu yang eksis berarti ada (bahasa Jerman: sein) di sana (bahasa Jerman: da). Jadi esksitensi itu sama dengan da-sein (ada di sana).
Tapi Heidegger memberi arti baru untuk Dasein. Ia menggunakan kata ini secara eksklusif hanya untuk manusia. Manusia adalah Dasein. Artinya manusia itu ada di sana, tapi manusia tidak sekadar ada di sana; manusia itu ada di sana dan ia peduli terhadap ada-nya. Dia misalnya bertanya apa tujuan hidupnya, dari mana dia, dan mau ke mana dia.
Jadi manusia berbeda dari batu atau pohon kelapa atau kerbau yang sekadar ada di sana. Kerbau atau batu juga ada di sana (“Dasein”), tapi mereka tidak pernah bertanya mengenai ada-nya mereka. Mereka hanya ada di sana begitu saja. Karena itu, sekalipun mereka ada di sana (“Dasein”) mereka bukanlah Dasein (dalam istilah Heidegger).
Mengapa Heidegger tidak menggunakan istilah manusia (man) untuk „manusia“ yang hendak dibicarakannya? Karena, menurutnya, istilah manusia telah mengandung konotasi pengertian tertentu. Manusia (human being) adalah mahluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa.
Heidegger ingin menghindari pengertian ini. Ia ingin berbicara mengenai manusia secara ontologis fenomenologis. Artinya, ia hendak berbicara mengenai manusia dalam kondisinya yang paling ontologis, yang paling mendasar, sebelum dibebani dengan konotasi pengertian macam-macam.
Dasein adalah istilah fenomenologis untuk „manusia“. Artinya, hal yang paling mendasar yang bisa kita katakan mengenai fenomena „manusia“ adalah bahwa ia ada di sana (Dasein). Itu saja.
Semua pengertian atau makna lain yang terkandung dalam istilah manusia, entah itu kesadaran, perasaan, iman atau spritualitas, pikiran atau rasio...semua itu diturunkan dari Dasein tersebut. Dasein adalah fakta ontologis yang bisa kita katakan mengenai „manusia“. Itulah pengertian manusia yang paling primer. Semua yang lain itu bersifat sekunder, diatributkan kemudian.
Heidegger mengatakan bahwa Sartre salah memahami filsafatnya ketika Sartre menerjemahkan Dasein dengan kesadaran diri. Menurut Heidegger, filsafat Sartre itu adalah antropologi filosofis, sementara filsafatnya adalah fenomenologi atau ontologi Dasein.
Karena itu, istilah Dasein (dalam arti Heidegger sebagaimana diuraikan di atas) tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain. Tidak ada kata dalam bahasa apapun yang dapat menampung pengertian tersebut. Itu sebabnya istilah tersebut sering tetap ditulis dalam bahasa aslinya dalam terjemahan mengenai karya-karya Heidegger.
Heidegger adalah filsuf besar yang mengubah wajah filsafat Barat modern. Diskusi mengenai Dasein di atas bertolak dari pertanyaan yang lebih asali lagi, yakni apa artinya Ada (Sein). Seluruh filsafat Heidegger bertolak dari pertanyaan singkat yang hanya terdiri dari tiga kata ini.
Sekalipun Heidegger berbicara dan berpikir mengenai tema yang sangat agung dan besar, yakni mengenai Ada (Sein), ia tetaplah seorang manusia yang terdiri dari darah, daging, dan emosi.
Perjumpaannya dengan filsuf Hannah Arendt memperlihatkan itu. Hubungan keduanya memang tidak sekadar hubungan erotis romantis. Surat-surat mereka memperlihatkan semacam kesamaan pergumulan filosofis intelektual.
Dan pada diri Arendt yang waktu itu masih gadis, cantik, dan cerdas, Heidegger (yang waktu itu telah menikah dan punya anak) menemukan semacam inspirasi filosofis untuk menyelami misteri Ada ...
Heidegger merancang kencan-kencannya dengan Arendt secara cermat, secermat ia berpikir menguak misteri Ada. Mereka kadang menggunakan simbol-simbol. Melalui surat, Heidegger biasanya mengundang Arendt ke apartemennya malam-malam. Kalau lampu di kamar saya nanti mati, bel saja, saya ada di kamar, katanya.
Filsuf besar ini meninggal 50 tahun lampau, 26 Mei 1976.
Sumber: Fb
https://www.philomag.de/artikel/heidegger-und-das-dasein?amp=&fbclid=IwdGRzaAR_GVBjbGNrBH8ZRGV4dG4DYWVtAjExAHNydGMGYXBwX2lkDDM1MDY4NTUzMTcyOAABHsKNXhFLdLwDJMFEFhYUao329LI2uGvUBHCV9bsAqX05NZdV2LMuJrwzml_W_aem_KLNJrdtd4KvP6ZHB5G578Q&sfnsn=wiwspwa

0 komentar:
Posting Komentar