![]() |
| Dr. Anhar Gonggong |
"Adam Malik cuma kelas 2 SMP. Tapi dia bisa menulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dengan baik. Banyak intelektual kita itu otodidak. Hamka itu cuma kelas 2 SD, tapi bisa menulis Tafsir Al Azhar berjilid-jilid." —Anhar Gonggong, dalam YouTube, "Cara Menjadi Intelektual".
"Jadi, langkah untuk menjadi seorang pemikir, menjadi seorang intelektual, tidak bisa tidak adalah membaca dan menulis," kata Anhar Gonggong lebih lanjut.
Beliau juga menjelaskan, pentingnya banyak baca buku.
"Untuk menulis suatu persoalan tertentu, tidak bisa tidak, kita harus membaca. Kalau kita mau menulis tentang kepemimpinan, misalnya, ya kita harus baca buku tentang kepemimpinan," katanya.
"Kalau mau jadi penulis, ya harus jadi pembaca juga. Tidak bisa lepas itu," jelas sejarawan Indonesia itu.
"Anda tidak mungkin bisa menjadi pemikir yang baik atau berpikir secara baik tanpa membaca," tegas Anhar Gonggong.
"Untuk jadi pemimpin," lanjut Anhar, "ya harus belajar—dalam arti membaca dan menulis. Kedua, harus juga memperhatikan tingkah laku pemimpin dunia. Saya sejak masih SMA sudah baca bukunya Yamin, berusaha kenal Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain-lain."
"Saya pernah diajar oleh seorang pemimpin satu lembaga besar. Dibilang: kalau kamu mau melihat bagaimana jalannya negara, maka kamu harus tahu biografi dari macam-macam orang yang memegang peranan penting di negara itu," terang Anhar Gonggong.
***
Anhar Gonggong, dalam chanel YouTube-nya itu, juga menjelaskan tentang sosok Bung Karno dan Bung Hatta.
Bung Karno dan Bung Hatta, jelas Anhar Gonggong, tak mau bekerja dalam birokrasi pemerintahan kolonial karena mereka punya cita-cita. Padahal, kalau mereka mau menerima tawaran pemerintah kolonial, mereka pasti mendapat posisi yang bagus. Bung Karno seorang insinyur. Bung Hatta seorang doktorandus bidang ekonomi.
Tapi mereka menolak. Mengapa? Karena, mereka memiliki prinsip: ilmu yang mereka miliki bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Dan ilmu itu mereka gunakan untuk berjuang, meskipun akibat yang mereka alami adalah keluar-masuk penjara. "Itulah yang saya maksud dengan 'orang-orang terdidik tercerahkan'. Mereka tampil menjadi pemimpin yang melampaui dirinya," kata Anhar.
***
Apa yang dijelaskan Pak Anhar Gonggong, persis seperti yang dijelaskan sosiolog Indonesia, Ignas Kleden dalam bukunya Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka.
Seorang intelektual, jelas Ignas Kleden, tidak memandang ilmu, dan bahkan ilmu pengetahuan, sebagai tujuan yang hendak dicapainya, tetapi hanya sebagai sarana yang dapat dimanfaatkannya. Minat dan kerja seorang intelektual adalah mencoba melakukan konversi pengetahuan dan informasi menjadi nilai atau kepentingan dalam hidup manusia.
Lebih lanjut, Ignas Kleden juga membedakan antara ilmuwan dan intelektual. Ignas menulis:
"Dalam perbandingan dengan tugas seorang ilmuwan akan menarik mempertanyakan apa yang dilakukan oleh seorang intelektual, khususnya oleh seorang intelektual publik. Menurut pendapat saya, seorang intelektual juga bekerja dengan informasi dan pengetahuan, tetapi dia tidak menjadikan informasi dan pengetahuan sebagai tujuan kerjanya, melainkan sebagai sarana, sebagai jalan, sebagai fasilitas. Seorang ilmuwan mengubah kepercayaan dan nilai menjadi informasi dan pengetahuan, sementara seorang untelektual mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai, komitmen politik, keyakinan ideologis atau sikap moral. Seorang ilmuwan membatasi kerjanya dalam disiplin yang menjadi bidang keahliannya, sementara seorang intelektual menerobos disiplin keilmuannya, karena tujuan yang menggerakkan dia bukanlah suatu arsitektur pengetahuan yang harus dibangunnya, melainkan suatu masalah publik yang harus dipikirkan dengan segera, atau kepentingan publik yang harus diselamatkan atau dibela."
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar