Sabtu, 25 Oktober 2025

Masa Kecil dan Remaja

Budiman Sudjatmiko (memakai kemeja putih) bersama Pramoedya Ananta Toer


Si Kecil “Tukang Nguping” 


Oleh: Budiman Sudjatmiko


Saya dilahirkan pada bulan Maret tahun 1970, tanggal 10 di sebuah desa bernama Pahonjean di Kecamatan Majenang, Cilacap. Desa tempat saya dilahirkan adalah desa pertanian, di mana sebagian besar mata pencaharian penduduknya tergantung dari tanaman padi. Sebagian lagi bekerja sebagai buruh perkebunan karet, yaitu sebagai tenaga penyadap. 

Desa Pahonjean terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saya dilahirkan di rumah kakek saya dari pihak ibu. Saat itu, kedua orang tua saya sudah tinggal di Bogor, tapi atas permintaan nenek saya yang ingin menyaksikan kelahiran cucu pertamanya maka ibu sengaja melahirkan saya di rumah nenek. 

Atas permintaan kakek dan nenek saya juga—baik dari pihak ayah yang tinggal di Majenang maupun dari pihak ibu yang di Pahonjean—saya kemudian ditinggal di desa. Otomatis saya melewatkan masa kecil tanpa mengenal kedua orang tua kandung saya secara langsung, dan ini berlangsung sampai saya berumur 7 tahun. 

Lingkungan sosial saya di masa itu adalah lingkungan yang sangat sederhana. Kemiskinan dan kesederhanaan alam pedesaan adalah atmosfer yang kental melingkupi masa kecil saya, tapi karena kebetulan kakek dari ibu adalah seorang kepala desa, saya memperoleh perhatian yang cukup besar dari tetangga-tetangga saya yang rata-rata petani itu. Kalaupun bukan petani, mereka tetap keluarga sederhana yang profesinya tukang cukur, pedagang kecil di pasar, atau pegawai rendahan dan semacamnya. 

Dengan kalangan anak-anak desa yang sederhana itu saya melewatkan hari-hari bahagia di masa kecil saya. 

Sebagai anak desa, saya dan teman-teman tak mengenal mainan anak-anak kota buatan pabrik yang mahal dan canggih. Mainan kami adalah bermain dan berenang di sungai di suatu sore yang cerah atau ramai-ramai bersepeda menyusuri jalan tanah yang membelah areal persawahan. 

Permainan kami yang lain adalah main petak umpet, layangan, atau adu jangkrik. Sesekali saya dan teman-teman ramai-ramai nonton bioskop juga, tapi itu paling hanya kalau bioskop memutar film-film silat Cina yang menjadi favorit kami. Biasanya, seingat saya, waktu itu jagoan-jagoan kami adalah Chen Kuan Tai, Ti Lung, Fu Shen, dan tak ketinggalan juga Bruce Lee tentunya. 

Tapi di luar semua itu, hiburan yang paling mengesankan buat saya adalah jika saya bisa mencari kesempatan untuk mendapat dongengan dari kakek saya. Adalah sangat menyenangkan jika kakek menceritakan pengalaman masa mudanya selama masa perjuangan kemerdekaan. Sangat menghanyutkan mendengar cerita-cerita itu. Rasanya tiada bosan-bosannya saya meminta kakek untuk mengulang cerita-ceritanya. 

Secara tidak sadar, kakek telah menanamkan nilai-nilai heroisme dalam diri saya melalui cerita pengalaman perjuangannya sendiri di masa mudanya. Tokoh yang sering disebut-sebut oleh kakek dalam cerita-ceritanya adalah Bung Karno. Bahkan, karena seringnya nama itu disebut, saya sampai memanggil salah seorang saudara saya dengan sebutan "Pak Kano”, begitu lidah kecil saya melafalkan nama Bung Karno. 

Rakyat Pahonjean kebetulan memang sangat menghormati Bung Karno sebagai proklamator sekaligus sebagai "Bapak” mereka. Maklumlah, desa tempat kelahiran saya itu kenyataannya memang merupakan basis kuat Partai Nasional Indonesia (PNI), selain juga merupakan basis kuat Nahdhatul Ulama (NU) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Karena desa itu sangat terpolitisasi pada masa tahun 60-an, pengaruh-pengaruhnya pun masih terasa pada masa kecil saya itu. Kebetulan, sejak kecil saya sudah suka “nguping” jika kakek, nenek maupun saudara dan tetangga saya bercerita satu sama lain tentang sejarah tempat tinggal kami. 

Salah satu cerita yang pernah saya curi dengar adalah tentang pembunuhan besar-besaran yang katanya pernah terjadi di desa kami. Pada saat itu, saya membayangkan betapa mengerikannya peristiwa itu sehingga walaupun merasa penasaran tapi saya tak berani menanyakannya pada kakek atau nenek saya. Untuk urusan-urusan seperti itu, kakek dan nenek biasanya bersikap agak keras. 

Jadi jangankan bertanya, ketahuan menguping pun biasanya nenek sudah menghardik saya, "Anak kecil jangan suka mendengarkan obrolan orang tua!” Tentu saja saya takut dihardik seperti itu oleh nenek, tapi saya hanya bisa protes dalam hati saja kalau sudah begitu. Tapi saya tidak kapok, tetap saja berusaha "nguping” setiap ada kesempatan. 

Begitulah semuanya berlangsung seiring berjalannya waktu di Pahonjean. Saya melewati hari-hari itu tanpa beban sebagaimana umumnya anak-anak. Tapi menginjak usia enam tahun, terjadilah suatu peristiwa yang agak luar biasa dalam hidup saya. Saya “diperkenalkan” oleh kakek-nenek saya pada orang-orang yang katanya adalah "orang tua” saya dan karena mereka tinggal di Bogor maka saya harus ikut mereka tinggal di Bogor. 

Semuanya terjadi begitu cepat, tapi sebagai anak kecil yang polos, saya—meskipun tak tahu apa sebenarnya yang tengah saya alami—tetap merasa gembira. Saya pikir, setidaknya saya akan menemukan situasi atau lingkungan baru yang menyenangkan. 

Kepindahan saya ke Bogor terjadi saat saya naik ke kelas 2 SD. Berarti saya akan pindah dari SD II Majenang, sebuah SD yang sangat sederhana, namun untuk ukuran kecamatan, SD II merupakan yang terbaik. Saya juga baru sadar kalau saya harus mengucapkan selamat tinggal juga pada Pak De, Bu Lik, kakek, nenek dan handai taulan saya semuanya. 

Lebih jauh lagi, ternyata saya juga harus mengucapkan selamat tinggal pada kesederhanaan, dan kesetiakawanan teman-teman saya. Saya tidak tahu apakah hal-hal itu masih bisa saya temukan di Bogor atau tidak. Yang pasti, di Bogor saya harus mulai membiasakan diri menjadi seorang kakak bagi tiga orang adik saya yang masih kecil. 

Berbeda dengan teman-teman saya di desa, di Bogor saya bergaul dengan anak-anak yang rata-rata berasal dari kelas sosial menengah ke atas. Mereka kebanyakan adalah anak-anak pegawai swasta, anak-anak pengusaha menengah, dan semacamnya. Di lingkungan baru ini, terus terang saya tidak merasa sreg. 

Mungkin karena saya anak desa, sehingga saya tidak suka dengan gaya hidup mereka yang serba urban. Atau bisa jadi mereka juga tidak suka melihat seorang anak desa berada di antara mereka. Ketidaksregan ini bahkan kurasakan saat berinteraksi dengan ketiga adik dan orang tua saya sendiri. Butuh waktu lama untuk merasa “in group” dengan mereka. 

Di sekolah saya yang baru, SD Pengadilan II, saya juga butuh waktu lama untuk beradaptasi. Yang membuatku agak jengah adalah kebiasaan teman-teman sekolahku untuk merayakan hari ulang tahun mereka dengan acara pesta-pesta. Dan walaupun masih SD, mereka sudah mengkonsumsi musik-musik disko untuk memeriahkan acara pesta-pesta itu. 

Sebagai anak desa, saya akhirnya menjadi terasing di tengah keluarga dan teman-teman baru saking sulitnya saya mencoba melarutkan diri di antara mereka. 

Sebagai jalan keluar untuk mengatasi “keterasingan” itu, baik di rumah maupun di sekolah, saya mulai menenggelamkan diri di dunia buku. Sejak itu, mulailah kuisi hari-hariku dengan membaca dan membaca. Koran, majalah, buku-buku koleksi ayah, semuanya saya baca habis. Di antara buku-buku cerita ayah, karya-karya Dr. Karl May adalah salah satu yang paling saya gemari. 

Di luar buku cerita, buku politik—entah mengapa menjadi pilihan saya. Meski saya belum mampu memahami isinya dengan baik, saya selalu berusaha keras untuk mempelajarinya. Seingat saya, koleksi buku-buku tulisan Bung Karno adalah buku politik yang sudah saya baca waktu itu. 

Saking dalamnya saya menenggelamkan diri, sampai-sampai buku berbahasa Inggris pun saya coba baca juga meski saya belum mengerti. Salah satunya adalah tulisan John F. Kennedy yang berjudul Profiles in Courages, yaitu tentang sejarah para senator AS yang terkenal karena keberanian dan konsistensinya dalam membela kebenaran. 

Tapi, keasyikan ini mengakibatkan saya jarang sekali bergaul dengan teman-teman di sekolah maupun di rumah. Dunia buku terasa lebih menarik dan memperkaya saya dibandingkan bergaul dengan anak-anak “kota” tersebut. 

Tapi ternyata, justru dengan “kekayaan” itu teman-teman saya mulai bisa menerima saya, walaupun tetap saja saya merasa jengah kalau harus ke acara-acara pesta mereka. Saat paling menyenangkan adalah masa libur panjang karena saat itulah saya bisa “pulang” ke kampung halaman saya desa Pahonjean. Sebuah tempat yang makin saya cintai semenjak saya tinggal di Bogor. Rasa haru, empati, dan solidaritas pada kemiskinan spontan muncul dalam diri saya begitu membandingkan mereka dengan lingkungan saya di Bogor. Yang satu sederhana yang lain bermewah-mewah. Yang satu bekerja keras membantu orang tuanya yang lain bermanja-manja dengan fasilitas yang diberikan orang tua mereka. Begitulah kesadaran masa kecil saya, terbentuk karena distimulasi oleh naluri keadilan saya yang terusik melihat kontradiksi dan kesenjangan dua lingkungan tersebut. 

Setangkai Bunga Anggrek untuk Lusia 

Satu peristiwa penting dalam karier saya sebagai “kutu buku” adalah ketika saya menemukan "harta karun" di rumah kakek. Ketika iseng-iseng saya membongkar gudangnya, saya menemukan banyak sekali koleksi buku-buku lama milik kakek. Secara sembunyi-sembunyi, bukubuku itu saya curi untuk dibawa ke Bogor kalau masa liburan sudah habis. Hal itu terus saya lakukan hampir setiap liburan. Dari buku-buku itu, saya mengenal banyak tokoh sejarah seperti Bung Karno, Nasser, Mao Tze Tung, Nehru dan banyak lagi tokoh-tokoh dunia lainnya. 

Lucunya—ini mungkin karena gede rasa atau entah apa membaca terus buku-buku itu mengakibatkan saya mulai membayangkan kalau jalan hidup yang ditempuh oleh pahlawan-pahlawan itu, seolah-olah suatu saat juga bakal saya jalani. Karena perasaan inilah maka saat itu, setiap kali ditanya tentang cita-cita—oleh orang tua ataupun guru saya selalu menjawab bahwa saya ingin menjadi politikus. Sebuah jawaban yang kadang mengundang tawa orang tua, guru, ataupun sanak-famili saya. 

Selepas SD, saya masuk ke SMP Negeri I Bogor. Tapi karena saya tetap merasa tidak sreg tinggal di Bogor, saya mendesak orang tua agar mengembalikan saya ke Majenang untuk bersekolah di sana. Akhirnya, orang tua saya mengizinkan juga. Di Majenang, saya masuk SMP 1 Majenang dan tinggal kembali bersama kakek. Kembali ke lingkungan sederhana yang saya cintai dan kembali berkumpul dengan teman-teman lama saya. 

Saya kemudian mencoba untuk menghidupkan suasana pertemanan yang kritis dengan membentuk kelompok-kelompok belajar. Tentu saja tidak semua teman mempunyai animo terhadap gagasan itu. Tapi, setidaknya saya berhasil mengumpulkan beberapa teman untuk membuat kelompok diskusi pelajaran sejarah. Kebetulan di antara teman-teman ada yang berasal dari keluarga cukup aktif di kegiatan organisasi NU atau aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). 

Kebetulan juga, guru sejarah kami, Pak Mugiyanto, tertarik dengan kegiatan diskusi kami. Dia juga mengetahui bahwa saya menyukai pemikiran-pemikiran Bung Karno. Dengan bantuan Pak Mugiyanto, kelompok-kelompok diskusi pun menjadi lebih berkembang, terutama untuk pelajaran sejarah. Hal ini sangat dimungkinkan karena waktu itu baru diintrodusir Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). 

Perdebatan menjadi seru karena biasanya kebanyakan kelompok mengambil referensi dari buku pelajaran sejarah versi pemerintah. Sementara kelompok saya selalu mencari referensi dari literatur alternatif, baik itu dari koleksi saya maupun koleksi teman-teman lain. 

Kegandrungan saya untuk mencari referensi kritis akhirnya membawa saya berkenalan dengan Pak Soebardjo, salah seorang tokoh masyarakat di Majenang. Dulu, Pak Soebardjo adalah seorang tokoh PNI yang terkenal di Cilacap. Perkenalan saya dengannya karena putri bungsunya adalah teman sekolah saya.

Dengan beberapa teman, saya sering berkunjung ke rumahnya sehingga akhirnya kami menjadi kenal dan sering berdiskusi soal sejarah politik dengan Pak Soebardjo. Pak Soebardjo juga cukup antusias terhadap kami. Ia kemudian juga sering meminjami kami buku-buku yang dimilikinya. Salah satu yang masih saya ingat betul adalah buku pidato pembelaan Bung Karno di pengadilan kolonial yang berjudul “Indonesia Menggugat”. 

Tentu saja tidak setiap hari saya membenamkan diri dengan persoalan-persoalan itu melulu. Bagaimanapun toh saya tetap seorang remaja biasa sehingga ada kalanya saya juga menjadi remaja pada umumnya. Dalam urusan cinta remaja misalnya, saya juga sempat mengalaminya ketika itu. Saya akui saya sangat lugu dan tidak ahli dalam urusan yang satu ini. Tapi hal ini tidak bisa mencegah saya untuk menaksir seorang gadis. Dan gadis itu adalah Lusia, seorang gadis keturunan Cina yang sangat pandai di sekolah kami. 

Awalnya, mungkin kepandaiannyalah yang memicu perasaan saya terhadap Lusia. Selain saya, banyak juga teman lain yang tertarik dan mengidolakan Lusia. Saya tidak tahu bagaimana teman-teman saya yang lain itu berupaya menarik hati Lusia. Tapi yang jelas saya sendiri berusaha menarik perhatiannya melalui kegiatan belajar bersama. Untunglah Lusia adalah seorang gadis yang ramah dan terbuka sehingga saya bisa cepat menjadi akrab dengannya. 

Salah satu kenangan saya dengan Lusia terjadi ketika suatu ketika saya mengisi liburan di Bogor. Waktu itu, tak berapa lama sebelum saya pulang ke Majenang, saya menyempatkan diri membeli setangkai bunga anggrek untuk Lusia. Sesampainya saya di Majenang pada pagi hari sebenarnya saya berniat untuk segera memberikan bunga itu pada Lusia sore atau malam harinya. Tapi karena ternyata saya merasa kikuk, sungkan, malu atau mungkin tidak berani memberikan bunga itu di rumahnya, akhirnya saya meminta bantuan seorang teman yang rumahnya berhadapan dengan rumah Lusia. Saya minta teman itu memanggil Lusia ke rumahnya sementara saya sudah berada di situ. Dan di rumah teman itulah kemudian saya memberikan bunga anggrek itu pada Lusia. 

Lusia ternyata sangat menyukai pemberian saya itu. Setangkai bunga anggrek itu. Hal ini sungguh sangat membahagiakan saya saat itu. Sedemikian jauh, itulah bentuk tertinggi ekspresi kekaguman dan rasa suka saya padanya. Hanya itu saja, karena dia tak pernah benar-benar menjadi kekasih saya. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa dia masih terlalu muda untuk menjalin hubungan asmara dengan lelaki mana pun. Dan sejak saya lulus dari SMP I Majenang, saya tak pernah bertemu lagi dengan Lusia. 

Budiman Sudjatmiko, aktivis dan mantan Ketua PRD


Sumber:

FX Rudy Gunawan, Budiman Sudjatmiko: Menolak Tunduk (Catatan Anak Muda Menentang Tirani), Jakarta: PT Gramedia, 1999, h. 25-33.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar