SETIAP pagi, seorang pemuda datang ke sebuah padepokan Kungfu paling terkenal di kampungnya dengan semangat membara. Ia membayangkan akan segera belajar jurus-jurus hebat seperti “Naga Menyambar” atau “Elang Menukik”. Namun, yang diperintahkan gurunya, hanya satu: “Angkut air dari sungai dan bersihkan halaman.”
Hari demi hari, bulan demi bulan, tugasnya tak berubah. Setiap pagi dan menjelang senja ia memikul dua ember air menanjak ke padepokan, lalu menyapu dedaunan yang jatuh. Kakinya pegal, pinggang dan punggungnya sakit, hatinya mulai goyah.
Suatu sore, setelah hampir setahun berlalu, Si Anak Muda itu tak tahan lagi. Ia meletakkan ember dengan keras lalu berteriak, “Guru!” katanya dengan suara gemetar tapi lantang, “Saya datang untuk belajar Kungfu, bukan jadi pembantumu!”
Tuan Guru menatapnya lama, lalu tersenyum. “Pelajaranmu sudah dimulai sejak hari pertama kau datang ke padepokan ini.”
Si Anak Muda terdiam. Mencoba mencerna kata-kata gurunya.
Tuan Guru melanjutkan, “Setiap kali kau mengangkut air, kau melatih keseimbangan. Setiap sapuan sapu, kau melatih pernapasan dan kesabaran. Jurus hanyalah bentuk, tapi dasar kekuatan ada pada tubuh dan ketekunan.”
Si Anak Muda menunduk. Ia ingin protes, tapi ia baru menyadari, tangannya kini lebih kuat, langkahnya lebih mantap. Tubuhnya berotot.
Beberapa tahun kemudian, Si Anak Muda menjadi murid yang paling tangguh. Jurus-jurus yang dulu ia idamkan kini mengalir alami dari gerak tubuhnya sendiri.
Ia belajar bahwa kesabaran adalah jurus pertama yang tak pernah diajarkan dengan kata-kata.
Bertahun-tahun setelah itu, Si Anak Muda mengenang masa belajar itu saat ia sendiri menjadi murid, bukan Kungfu, melainkan menulis. Gurunya, seorang penulis tua, tidak langsung mengajarkan teknik menulis seperti yang ia harapkan: metafora, alur, atau diksi. Ia hanya berkata, “Tulislah setiap hari, meski satu paragraf. Bacalah setiap malam, meski satu halaman.”
Awalnya Si Anak Muda mengeluh, seperti ia mengeluh kepada guru kungfunya, dulu. Mengapa belum juga belajar “jurus” menulis?
Namun, lambat laun ia mengerti. Dari kebiasaan menulis setiap hari, tangannya terlatih. Dari membaca tanpa henti, pikirannya terasah.
Hingga suatu hari, kalimat-kalimatnya mengalir tanpa ragu, seperti air dari sungai yang dulu ia pikul dengan sabar.
Menulis, pikirnya, tak ubahnya belajar Kungfu: yang pertama dan utama adalah kesabaran. Tanpa itu, jurus secanggih apa pun tak akan pernah ia kuasai karena ia tak memiliki pondasinya: kesabaran, konsistensi, dan latihan tanpa henti. (Muhammad Subhan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar