![]() |
| Arief Budiman, intelektual publik |
Oleh: Arief Budiman
Romo Mangun adalah seorang sosialis. Artinya, dia selalu mengutamakan keadilan dan persamaan. Karena itulah perhatiannya selalu dicurahkan kepada orang kecil, orang yang berada di pinggiran, orang yang tersisih. Bahkan untuk bisa merasakan nasib mereka, Romo Mangun menyesuaikan gaya hidupnya. Romo bisa tidur di hotel mahal (kalau sedang mengikuti konferensi internasional), tapi juga bisa nyenyak kalau harus tidur di gubuk penduduk di Kedung Ombo. Tidur di mobil Toyota Kijang-nya yang tua pun tak ada masalah buat dia.
Saya senang ketika diminta menulis tentang sosialisme untuk buku ini. Senang karena inilah salah satu topik yang tepat yang bisa dituliskan tentang Romo. Untuk menyesuaikan dengan sikap kerakyat-jelataan Romo, saya ingin menuliskan tema ini secara singkat dan sederhana, supaya bisa dibaca oleh banyak orang, tanpa mengurangi kelengkapannya.
***
Di Indonesia, kalau kita bicara tentang sosialisme, orang langsung jadi bersikap negatif. Ada dua alasan mengapa hal ini terjadi:
1. Sosialisme biasanya diasosiasikan dengan komunisme. Padahal, di Indonesia, komunisme adalah semacam hantu yang harus dikikis habis. Bukankah peristiwa tahun 1965 yang menghilangkan ratusan ribu jiwa orang Indonesia dalam waktu beberapa bulan disebabkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI)? Begitulah kebanyakan orang berpikir. [1]
2. Sosialisme juga diasosiasikan dengan Sosialisme ala Indonesia yang dicanangkan bekas Presiden Sukarno ketika memperkenalkan Manipol Usdek dan mulai memerintah secara otoriter. Wajah sosialisme muncul sebagai sistem politik yang represif, dengan politik luar-negeri yang anti negara-negara industri Barat yang kapitalistis, serta pemihakan pemerintah terhadap PKI, dan keadaan ekonomi yang morat-marit.
Padahal, kalau kita kembali ke pengertian yang jernih tentang sosialisme, dia hanyalah sekadar sebuah sistem yang menghendaki sebuah masyarakat yang bisa memberi kehidupan yang adil dan sejahtera terhadap seluruh warganya. Ini adalah aspek ekonomi dari sosialisme.
Aspek politiknya adalah demi menjamin kelanggengan sistem ini, rakyat harus memiliki kekuatan politik untuk mempertahankannya. Kekuatan ini bisa diperoleh kalau hak politik rakyat dijamin, serta rakyat juga punya kekuatan ekonomi yang relatif sama untuk bisa ikut berpolitik. Karena itu, kekuatan politik dan ekonomi saling memengaruhi. Kalau rakyat hanya punya kekuatan politik saja, tapi kekuatan ekonominya lemah, maka hak politik tersebut jadi tidak efektif. Misalnya, di Amerika Serikat, seseorang tidak mungkin bisa ikut berkampanye menjadi presiden kalau dia tidak memiliki dana sendiri, atau dibiayai oleh perusahaan-perusahaan besar. Tanpa berkampanye, sangar mustahil seseorang bisa menjadi presiden.
Karena itu, demokrasi yang sejati haruslah merupakan sekaligus demokrasi ekonomi dan demokrasi politik. Sosialisme memang berbicara ke arah ini.
Adalah salah kalau orang mengira bahwa cita-cita sosialisme mula-mula dicetuskan oleh Karl Marx. Usaha ini sudah dilakukan sejak zaman Yunani Kuno, oleh para pemikir tentang masyarakat ketika itu. Marx hanya melanjutkan pemikiran ini dan mengembangkannya menjadi sebuah ideologi dan gerakan politik dari orang-orang dan negara-negara miskin yang tertindas.
Demikianlah, sebagai cita-cita, sosialisme sudah merupakan sesuatu yang lama, lebih tua dari Marxisme yang baru lahir pada abad ke-19. Sosialisme sebagai cita-cita bahkan menjadi inti dari semua agama besar di dunia. Keadilan, kesamaan martabat dari semua manusia tanpa memandang kaya dan miskin, merupakan inti dari semua ajaran agama besar di dunia ini. Karena itu, tidaklah heran kalau banyak tokoh agama berbicara tentang sosialisme dengan caranya masing-masing.
Lalu, apa bedanya antara sosialisme yang dikembangkan Marxisme dan sosialisme yang dikembangkan orang-orang non-Marxis?
***
Sosialisme, seperti dinyatakan di atas, didasarkan pada cita-cita kemanusiaan yang menginginkan sebuah masyarakat di mana persamaan bisa dicapai, baik persamaan politik maupun ekonomi. Keduanya memang saling berhubungan.
Sosialisme sebagai semangat kebersamaan biasanya diterapkan sebagai kebaikan hati untuk selalu memberikan derma kepada orang-orang yang berkekurangan. Kalau Anda selalu berusaha menolong tetangga Anda yang lebih miskin, atau memberikan sumbangan kepada panti-panti asuhan dan rumah jompo, Anda merupakan seorang sosialis. Anda, secara individual, selalu berusaha melakukan pemerataan kekayaan, meskipun secara kecil-kecilan.
Sosialisme seperti ini bisa dikatakan sebagai sosialisme individual, didasarkan pada kebaikan hati orang secara individual.
Sosialisme inilah yang juga dianjurkan para moralis dan kaum agamawan. Mereka berusaha menyadarkan orang bahwa rasa kebersamaan dengan kaum miskin, kaum duafa, kaum yang kurang beruntung, merupakan perbuatan yang direstui Tuhan. Kalau semua orang mematuhi himbauan kaum moralis dan agamawan ini, maka akan banyak orang yang berjiwa sosialis, dan pemerataan meskipun mungkin belum sempurna, bisa dicapai.
Tapi, ada orang-orang yang tidak puas dengan sosialisme individual semacam ini. Mereka melakukan hal yang lebih jauh, yakni membuat sebuah masyarakat sosialis, meskipun secara kecil-kecilan. Maka, jauh sebelum Karl Marx lahir, banyak komune dibentuk sebagai pengejawantahan dari ide sebuah masyarakat sosialis. Sering komune ini dibentuk atas dasar keagamaan, dipimpin oleh seorang tokoh agama yang karismatik.
Dalam komune-komune ini, prinsip kekeluargaan diterapkan. Artinya, bagai sebuah keluarga besar, komune tersebut dikelola oleh sebuah Dewan Pimpinan yang dipilih, kemudian semua orang bekerja atas dasar “setiap orang menyumbangkan sesuai dengan kemampuannya, dan mendapatkan sesuai dengan kebutuhannya". Ini artinya, bila Anda seorang dokter dan belum menikah, Anda akan bekerja sebagai dokter, tapi pendapatan Anda adalah sama dengan pendapatan untuk satu orang. Sebaliknya, tukang sampah yang sudah berkeluarga dengan anak tiga orang akan mendapatkan penghasilan lebih besar, karena penghasilan itu untuk hidup lima orang.
Dalam komune, meski tidak secara ketat, milik pribadi ditiadakan. Semua barang yang dipakai untuk kepentingan umum, dimiliki bersama. Alat produksi seperti sawah dan ladang, pabrik, dan yang sejenisnya dipakai untuk kepentingan semua orang. Dan semua orang mendapatkan imbalan sesuai dengan kebutuhannya.
Maka, dari sosialisme individual, dalam pelaksanaan komune, ide sosialisme dilaksanakan sebagai sosialisme dalam sebuah sistem kemasyarakatan, sebuah sosialisme sistemik. Ide sosialisme sistemik inilah yang nanti dilaksanakan oleh Marxisme, dalam skala yang lebih besar serta didukung oleh sebuah teori sejarah yang menarik.
***
Sementara itu, pada abad ke-19, perkembangan masyarakat berubah dari sistem feodal rnenuju sistem kapitalis. Bila dalam sistem feodal martabat manusia dinilai berdasarkan keturunannya, apakah seseorang masih punya hubungan dengan raja dan bangsawan, dalam sistem kapitalis martabat manusia dinilai dari prestasinya dalam memproduksi sesuatu. Dalam kapitalisme, tidak peduli apakah dia punya hubungan darah dengan bangsawan ini atau itu, tapi yang dinilai apakah dia seorang pengusaha yang baik, seorang dokter yang manjur, seorang insinyur yang terampil.
Sistem imbalan, karena itu, didasarkan pada prestasi seseorang. Upah didasarkan pada apa yang mampu dikerjakan orang itu. Maka, berbeda dengan Sistem sosialis, orang mendapatkan upah bukan berdasarkan kebutuhannya, tapi kemampuannya. Seorang insinyur lajang akan memperoleh upah yang jauh lebih tinggi ketimbang seorang tukang sampah, meskipun yang terakhir ini harus menanggung empat jiwa dalam keluarganya.
Sistem kapitalisme ini mengakibatkan orang berlomba-lomba berprestasi, untuk memperoleh imbalan sebanyak-banyaknya. Kapitalisme berhasil membuat masyarakat menjadi sangat dinamis. Tapi pada saat yang bersamaan, dia menciptakan jurang kaya miskin yang makin lebar, baik antar individual, maupun antar kelompok masyarakat dan antar negara di dunia ini.
Marxisme muncul pada saat kapitalisme sedang berkembang dalam bentuknya yang paling liberal, di mana pasar dan kompetisi bebas dibiarkan tanpa kendali. Akibatnya, di samping beberapa orang yang kuat dan punya kelebihan menjadi sangat kaya, banyak orang menjadi miskin. Charles Dickens misalnya menuliskan novelnya yang berjudul Oliver Twist tentang kemiskinan yang menimpa penduduk London. Pada titik inilah Marx beranggapan bahwa kapitalisme bukan merupakan resep untuk memecahkan persoalan, tapi dia merupakan persoalan itu sendiri.[2] Karena itu, dia kemudian menyusun teori sosialis Marxis yang sangat memengaruhi perkembangan dunia.
Sosialisme Marxis didasarkan pada sosialisme sistemik seperti yang diuraikan di atas. Sosialisme Marxis tidak percaya bahwa sosialisme yang benar akan terjadi, kalau hanya diserahkan kepada individu-individu. Harus dibuat sebuah sistem yang bisa menjamin bahwa sosialisme bisa menjadi kenyataan.
Bagi Marx, jaminan tersebut adalah bila pemilikan pribadi atas alat-alat produksi dihapuskan. Seperti kehidupan di komune. Bila semua orang hidup sesuai dengan kebutuhannya dan tidak bisa lebih dari itu, maka keserakahan yang dirangsang oleh sistem kapitalisme menjadi terkontrol. Orang tidak lagi berlomba mencari imbalan materiil untuk prestasinya, tapi orang senang berprestasi bagi masyarakat karena dia merasa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang-orang di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti ini, maka apa yang dianjurkan oleh kaum moralis dan agama secara individual akan menjadi kenyataan, karena sistem sosial yang ada (sosialisme) merangsang terciptanya manusia-manusia sosial seperti ini.[3]
***
Sosialisme Marxis ini kemudian diikuti dengan sebuah teori sejarah yang cukup menarik. Dengan apa yang dikenal sebagai aliran Materialisme Historis, Marx menyatakan bahwa sejarah digerakkan oleh materi, bukan oleh ide seperti yang dinyatakan Hegel. Sejarah adalah perjuangan kelas untuk menguasai alat produksi.
Kalau kita melihat sejarah umat manusia, mula-mula ketika manusia hidup dengan melakukan pengembaraan di hutan-hutan, maka alat produksi tidak dikuasai siapa-siapa. Setiap orang boleh berburu atau bercocok tanam di mana saja, dan mengonsumsikan hasilnya.
Kemudian ketika keterampilan pertanian dan peternakan berkembang, orang mulai menetap di sebuah daerah untuk hidup di sana. Mulailah muncul usaha untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama tanah. Terutama ketika jumlah penduduk jadi makin bertambah dan sumber daya alam menjadi semakin langka, orang yang paling perkasa di masyarakat tersebut kemudian menyatakan dirinya sebagai penguasa di daerah tersebut dan menguasai sumber-sumber kehidupan.
Mulailah pemilikan pribadi berkembang. Penguasa baru ini menamakan dirinya raja dan mewariskan kekuasaan dan kekayaannya kepada keturunannya. Sebuah ideologi feodal dikembangkan, yang mengatakan bahwa raja dan keturunannya memperoleh restu dari para dewa di langit untuk berkuasa. Biasanya, ideologi ini erat hubungannya dengan agama. Dalam sistem feodal, agama dan kekuasaan memang sulit dipisahkan. Agama adalah alat untuk melegitimasi sistem kekuasaan tersebut.
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan individu-individu (yang bukan bangsawan) yang terampil dalam berdagang dan punya keahlian yang penting bagi masyarakat, menimbulkan kegoncangan bagi sistem feodal. Para individu ini, yang disebut sebagai kaum borjuasi, mulai menantang kekuasaan kaum bangsawan. Revolusi Prancis pada abad ke-18, dengan semboyan “kebebasan, persamaan, dan persaudaraan” merupakan Revolusi Borjuasi pertama dan terbesar. Sang raja dan banyak bangsawan dipenggal kepalanya dengan gilotin, dan sebuah pemerintah republik didirikan. Di sini, individu dibiarkan berkompetisi dalam prestasi, tanpa memandang keturunannya. Maka, kapitalisme liberal pun muncul mengikuti keberhasilan revolusi ini. Yang menguasai alat-alat produksi sekarang bukanlah raja, tapi individu-individu berprestasi yang dinamakan sebagai kaum borjuasi.
Demikianlah, Karl Marx berhasil mengembangkan sebuah teori sejarah yang didasarkan pada perjuangan kelas, merebut alat produksi. Mula-mula seorang kuat merebut alat-alat produksi yang tadinya bebas dan mengumumkan dirinya sebagai raja. Kemudian, dia digulingkan oleh kaum borjuasi.
Di bawah kekuasaan kaum borjuasi ini, yang berkiprah di bawah sistem kapitalisme, maka kemajuan dan kekayaan diperoleh untuk kaum itu saja.
Dalam sistem ini, banyak rakyat dan negara menjadi miskin, karena surplus produksinya diambil oleh kaum borjuasi. Kaum ini memiliki modal, ilmu pengetahuan, dan kekuatan militer.
Menurut Marx, cepat atau lambat, orang yang tak berdaya pada akhirnya akan bersatu dan memberontak untuk mengambil alih penguasaan terhadap alat-alat produksi ini. Mereka lalu menciptakan sistem baru: sosialisme. Ini tak terelakkan, dia merupakan hukum besi sejarah. Pada titik inilah, menurut Marx, politik dan demokrasi ekonomi dapat dicapai, dan keadilan menjadi kenyataan.
Tentang tujuan sosialisme, yakni keadilan dan pemerataan, tampaknya tidak ada persoalan. Yang jadi masalah adalah cara mencapainya.
Bagi sosialisme individual, masalah metode untuk mencapainya tidak ada masalah. Setiap orang bisa melaksanakan kebaikan hatinya untuk membagi kelebihannya kepada orang yang membutuhkannya. Juga bagi orang yang menyebarkan ideologi kedermawanan, tidak ada yang menentangnya. Karena itu, sosialisme individual selalu dikumandangkan orang sepanjang zaman, baik oleh para moralis maupun alim ulama dan pendeta dari segala agama.
Sosialisme sistemik, kalau ini dilakukan secara sukarela, memang tidak ada masalah. Orang boleh membentuk komune-komune dan mempraktikkan ajaran sosialisme di sana, sepanjang orang yang ikut komune itu tidak dipaksa melakukannya.[4]
Mungkin yang paling menjadi masalah adalah sosialisme Marxis. Dalam kategori ini, ada dua aliran utama. Jalan Revolusioner. Kelompok Marxis ini berpendapat sosialisme tidak mungkin dicapai kalau tidak melalui jalar kekerasan, dengan merebutnya dari tangan penguasa yang ada. Tesisnya adalah, tidak mungkin ada penguasa yang mau menyerahkan secara sukarela kekuasaan yang sudah ada di tangannya. Kekuasaan ini harus direbut, kalau perlu dengan kekerasan melalui sebuah revolusi.
Bahkan-sesudah revolusi, sesudah kaum buruh atau kaum miskin/proletariat mengambil alih kekuasaan, keadaan masih kacau. Kelompok buruh masih belum bisa mengkonsolidasikan dirinya. Musuh masih berusaha merebut kembali kekuasaannya. Dalam keadaan seperti ini, dibutuhkan sebuah negara yang kuat, dipimpin oleh seorang diktator atas nama kaum proletariat. Maka muncullah istilah diktator proletariat, yang dihalalkan oleh revolusi sosialis untuk melahirkan sebuah masyarakat sosialis yang sejati.[5] Josef Stalin sangat menggunakan pengertian ini untuk melegitimasi kepemimpinannya yang represif dan penuh dengan teror berdarah itu.
Kedua, Jalan Evolusioner. Salah seorang tokoh Marxis, Eduard Bernstein, menyatakan bahwa revolusi sosialis tidak dibutuhkan lagi. Masyarakat kapitalis ketika itu (Jerman, pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20), berkat tekanan kaum komunis, sudah banyak memenuhi tuntutan kaum buruh. Kehidupan buruh sudah jauh lebih baik. Dengan lain perkataan, perjuangan kaum sosialis sudah banyak tercapai meskipun belum ada masyarakat sosialis secara formal.
Pendapatnya ini membuat dia dituduh sebagai seorang revisionis, yang mengkhianati perjuangan kaum sosialis/komunis. Tapi Bernstein juga dianggap sebagai tokoh yang menghendaki jalan demokratis. ke arah sosialisme. Pendapatnya ini kemudian hidup kembali pada tahun 1970-an, ketika muncul apa yang disebut sebagai Eurocommunism atau Komunisme Eropa. Partai-partai komunis di Eropa, terutama Prancis, Italia, dan Spanyol, mulai berbicara tentang usaha memperjuangkan sosialisme melalui jalan demokratis.
Ide ini kemudian dipraktikkan oleh Salvador Allende, tokoh Partai Sosialis (yang didukung oleh Partai Komunis) di Cile, yang memenangkan pemilihan umum yang demokratis pada tahun 1970. Tapi kemudian, pemberontakan militer di bawah pimpinan Jenderal Augusto Pinochet mengakhiri kariernya sekaligus juga sosialisme dan demokrasi di Cile. Allende sendiri mati ditembak (versi resmi: bunuh diri) di kantornya.
Peristiwa di Cile ini membuat orang menjadi sangsi lagi terhadap jalan demokratis untuk mencapai sosialisme. Tapi ide bahwa ada jalan lain yang tidak melalui kekerasan dan revolusi masih tetap kuat di kalangan para pemikir, sosialis.
***
Romo Mangun, tidak syak lagi, adalah seorang sosialis, paling sedikit sebagai penganut sosialisme individual. Dia selalu memikirkan kaum miskin, dan berusaha mewujudkan sebuah masyarakat yang berkeadilan di mana terdapat demokrasi politik dan sekaligus demokrasi ekonomi.
Romo memang tidak pernah mempersoalkan apakah dibutuhkan pengaturan masyarakat kembali untuk menjamin sebuah sistem sosialis yang langgeng. Apakah dia setuju dengan penghapusan sistem pemilikan pribadi terhadap alat produksi? Dalam hal ini, posisi Romo kurang jelas. Yang jelas adalah dia sangat marah kalau ada orang yang menjadi korban karena keserakahan orang lain yang lebih kuat, baik secara ekonomi maupun politik.
Dalam hal cara mewujudkan sebuah masyarakat sosialis, jelas sekali Romo tidak akan bisa menyetujui jalan kekerasan. Meskipun bersimpati dengan kelompok Katolik yang menganut ideologi Teologi Pembebasan di Amerika Latin, yang kadang-kadang menggunakan jalan kekerasan untuk melawan kaum penindas, rasanya Romo Mangun tidak akan menyetujui metode kekerasan dipakai meskipun untuk tujuan yang mulia.
Karena itu, saya kira tidak akan salah kalau saya katakan Romo Mangun adalah seorang sosialis individual yang humanis. Bagi Romo, tidak hanya tujuan saja yang perlu benar (sosialis), tapi cara mencapainya juga harus benar (kemanusiaan). Inilah kira-kira posisi Romo Mangun dalam pemikiran dan praktik melaksanakan ajaran sosialisme.
Catatan kaki:
1. Pada saat ini, ada kehendak untuk mempelajari kembali apa sebenarnya yang terjadi pada tahun 1965. Peran sebenarnya PKI juga harus dikaji ulang. Kehendak ini tentunya sangat sehat dan Perlu didukung, supaya generasi mendatang bisa mengambil sikap yang tepat dan konstruktif bagi kemajuan bangsa ini.
2. Kapitalisme liberal yang kejam kemudian dikoreksi dengan kapitalisme yang dilengkapi dengan konsep “welfare state”. Di sini, negara ikut campur untuk membantu orang-orang miskin. Dengan demikian, kerniskinan yang dihasilkan di sektor swasta (pasar dan kompetisi bebas yang tidak bisa dicampuri negara), diperbaiki di sektor publik (dalam bentuk subsidi negara). Dananya diambil dari pajak yang dikenakan kepada orang-orang yang menjadi kaya dalam sistem kapitalisme ini.
3. Ini berarti bahwa ada perubahan dari hakekat manusia. Dalam sistem kapitalisme, hakekat manusia yang diciptakan adalah manusia yang serakah, yang selalu berusaha mencari imbalan material, Dalam sosialisme, imbalan material bukan menjadi tujuan utama, tapi martabat sebagai manusia yang membantu orang-orang di sekitarnya yang menjadi sesuatu yang utama. Di sini kita masuk kepada sebuah pertanyaan filsafat yang mendalam: Apakah sebenarnya hakekat manusia? Apakah dia dibentuk oleh sistem sosialnya, atau memang sudah ada sejak lahir dan tidak bisa diubah lagi? Kenyataan bahwa manusia pada saat ini bersifat materialistik, apakah ini ada sejak lahir, atau merupakan produk dari sistem kapitalisme yang mendominasi dunia sekarang?
4. Pernyataan ini mungkin tidak sepenuhnya benar. Ketika hidup di Amerika Serikat dulu, saya pernah ikut kegiatan koperasi yang mengusahakan penjualan bahan-bahan makanan. Kami membeli sendiri bahan-bahan makanan tersebut dari para petani, menjualnya di kalangan anggota tanpa keuntungan untuk dikonsumsikan sendiri. Ini merupakan semacam komun. Dengan koperasi semacam ini, harga bisa ditekan sampai 3096 lebih murah ketimbang harga-harga di toko serba ada. Ketika koperasi kami makin populer, maka para pemilik toko serba ada mulai melakukan penekanan dengan berbagai cara, karena penjualan mereka jadi menurun.
5. Ada kelompok Marxis yang membedakan masyarakat sosialis dan komunis pada perbedaan tahap prosesnya. Masyarakat sosialis adalah masyarakat di mana kaum proletariat sudah memenangkan perjuangan politiknya, tapi masih dibutuhkan negara yang otoriter untuk mempertahankannya. Sedangkan masyarakat komunis adalah masyarakat di mana sistem sosialis sudah kuat sehingga negara tidak dibutuhkan lagi. Masyarakat menjadi sangat demokratis, praktis tanpa ada (campur tangan) negara. Tapi ada juga orang yang mengatakan hal yang sebaliknya. Sosialisme adalah usaha untuk mencapai masyarakat sosialis dengan jalan yang demokratis. Komunisme menempuhnya dengan jalan kekerasan melalui sebuah revolusi. Partai Sosialis dianggap sebagai partai yang lebih lunak ketimbang Partai Komunis.
Arief Budiman, intelektual publik
Sumber:
Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006, h. 365-372
Tulisan ini merupakan Kata Pengantar sebuah buku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar