![]() |
| buku F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023 |
Oleh: F. Budi Hardiman
Agenda filsafat adalah pencarian kebenaran. Untuk itu, dalam sejarahnya, filsafat selalu berpolemik tentang kebenaran. Jawaban yang diperoleh tidak pernah final. Karena itu, termasuk dalam pencarian kebenaran, filsafat memeriksa bagaimana orang memberi jawaban-jawabannya. Filsafat bertanya dan mengajak berpikir lebih lanjut.
Pertanyaan-pertanyaan filosofis menyentuh persoalan kebenaran. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, seperti: apakah asal-usul segala sesuatu? apakah manusia itu? bagaimana kita tahu sesuatu? apa makna sejarah dan apakah waktu itu? diberikan oleh bidang-bidang yang berbeda-beda dalam filsafat, seperti metafisika, antropologi, epistemologi, dan seterusnya.
Namun, tetap saja persoalan kebenaran membayangi bidang-bidang itu karena pada gilirannya kita bisa mengajukan pertanyaan: benarkah jawaban-jawaban itu? Jika ya, dalam arti apa benar? Tampaknya kita tidak akan pernah bisa mengelak dari persoalan kebenaran, maka sebaiknya kita dengan sengaja mempersoalkannya.
Dengan judul “Kebenaran dan Para Kritikusnya”, buku ini mendiskusikan problem kebenaran dalam filsafat, khususnya dalam filsafat sains kontemporer. Tentu saja diskusi buku ini sebagian kecil saja dari diskusi tentang masalah kebenaran dalam filsafat.
Kebenaran yang dibicarakan oleh filsafat adalah konsep kebenaran, yaitu pemahaman tentang apa itu kebenaran. Ketika orang berkata: “Itu benar”, kita bisa balik bertanya: "Apa maksudmu dengan 'benar'?", maka jawaban orang itu sedikit banyak mengacu pada 'konsep' tentang kebenaran. Jawaban orang itu merupakan bagian argumentasi tentang apa itu kebenaran. Argumentasi macam itulah yang kita sebut di sini diskursus kebenaran.
Jadi, buku ini adalah sebuah diskursus kebenaran. Tentu saja diskursus kebenaran bukanlah kebenaran, maka bisa benar atau salah. Bukankah Anda tidak perlu menyetujui sebuah argumen sebagai kebenaran? Meski demikian, penting untuk mengetahui manfaatnya.
Dengan mengikuti diskusus kebenaran kita menjadi lebih kritis, dan sikap kritis sangat penting justru di era komunikasi digital ketika kemampuan untuk memilih dan memilah informasi secara bijaksana cukup menentukan kelangsungan hidup kita.
Alasan untuk itu jelas: diskursus kebenaran membantu kita mengeksplisitkan konsep kebenaran yang diandaikan begitu saja di dalam komunikasi baik digital maupun korporeal sehingga kita dapat berhati-hati dengan klaim-klaim kebenaran yang diucapkan siapa pun dan dari sumber mana pun.
Buku ini dibingkai dengan sebuah tilikan historis filosofis: kebenaran yang semula menyangkut seluruh eksistensi kita lambat laun menyempit menjadi klaim rasional. Konsep ontologis tentang kebenaran, sebagaimana masih terdapat di dalam agama-agama dunia dan filsafat kuno, bergeser menjadi konsep epistemologis tentang kebenaran.
Awalnya pergeseran ini terjadi di Barat, tetapi kemudian juga sampai kepada kita semua di belahan lain bumi kita. Saya akan bergargumen bahwa sains modern dan modernitas berpengaruh sangat besar terhadap apa yang nanti akan kita sebut epistemologisasi kebenaran itu.
Epistemologisasi kebenaran ini merupakan alasan mengapa kebenaran dipahami secara sempit sebagai fakta atau kebenaran faktual yang praktis telah memperoleh supremasi dan hampir tidak dapat dibantah lagi. Diskursus kebenaran kemudian akan masuk ke dalam kritik-kritik atas sains dan kebenaran faktualnya.
Saya mengulik konsep itu dengan bantuan para filsuf kontemporer yang saya sebut 'para kritikus kebenaran'. Tentu saja kritik mereka adalah sebagian saja dari kritik-kritik atas positivisme, objektivisme, saintisme, naturalisme.
Saya hanya mengambil beberapa contoh, yakni dari filsafat ilmu baru, hermeneutik, fenomenologi, poststrukturalisme, teori kritis. Semuanya merupakan bagian kesinambungan proyek dalam beberapa buku saya terdahulu untuk memproblematisasi positivisme.
Akan jelas dari isi buku ini bahwa saya tidak menolak konsep kebenaran faktual sebagaimana dipegang teguh dalam sains modern, jurnalisme, pengadilan, dan bahkan demokrasi. Yang saya upayakan dengan bantuan para kritikus kebenaran itu adalah mendudukkan konsep kebenaran faktual pada tempatnya dalam arsitektur pemikiran yang terbuka terhada kemajemukan nilai.
Setelah melakukan intellectual Odyssey melalui interpretasi kritis atas pemikiran delapan filsuf kontemporer, diskursus kebenaran akan pulang kembali kepada konsep ontologis tentang kebenaran.
Namun, alih-alih merehabilitasi konsep ontologi klasik tentang kebenaran, diskursus akan menawarkan tipologisasi ontologi-ontologi agar kita menjadi lebih terbuka terhadap kemajemukan nilai masyarakat dewasa ini.
Pendirian terbuka tidak perlu dikategorikan entah sebagai konservatif atau progresif. Filsafat memang memiliki tugas retrospektif untuk memahami sejarah. Kita bisa membaca ilustrasi Hegel tentang burung hantu dari Minerva dalam prakata bukunya tentang filsafat hukum. Katanya, filsafat baru muncul sesudah proses sejarah selesai, yakni kehidupan menjadi tua.
“Burung hantu dari Minerva mulai terbang baru di saat senja datang”, begitu tulisnya. Artinya, kebenaran baru dipahami di akhir sejarah. Namun, kita belum di titik itu. Karena itu, selain memiliki tugas retrospektif, filsafat juga memiliki tugas prospektif untuk mengantisipasi kebenaran yang akan datang.
Dalam arti ini, pemikiran terbuka tidak akan memastikan bahwa pencarian kebenaran sudah selesai, entah dalam sains tertentu, dalam filsafat tertentu atau dalam agama tertentu, karena kebenaran yang menyingkap kepada pemikiran itu berada di dalam tegangan antara sudah dan belum. Saya akan berargumentasi ke arah itu.
Buku ini selesai ditulis di awal tahun 2023 yang dipenuhi dengan harapan akan pemulihan dari pandemi Covid-19. Atas selesainya buku ini pertama-tama saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Komunitas Salihara Jakarta yang telah mengundang saya untuk memberikan seri kuliah publik bertopik “Kebenaran di Medan Tempur Pasca Kebenaran” di bulan Maret 2021 yang lalu.
Makalah-makalah kuliah itu merupakan studi awal atas topik buku ini yang saat itu merupakan respons atas politik pasca kebenaran dan perdebatan tentang sains dan agama yang berlangsung lewat Facebook (perdebatan itu kemudian dibukukan dalam Goenawan Mohamad et.al. (ed), Polemik Sains: Sebuah Diskursus Pemikiran).
Ucapan terima kasih juga tertuju kepada para kolega Universitas Pelita Harapan, khususnya Faculty of Liberal Arts, yang telah memberikan kondisi yang menantang saya untuk memikirkan problem buku ini.
Akhirnya, saya juga berterima kasih kepada Penerbit PT. Kanisius yang telah menerbitkan buku ini sehingga sampai ke tangan para pembacanya. Semoga buku ini dapat memprovokasi pikiran agar kita tidak terlalu cepat menerima sesuatu sebagai kebenaran. (F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023, h. 5-8).
Tangerang Selatan, 1 Januari 2023
Catatan: judul tulisan di atas bukan dari FBH, tapi dari saya.
***
Epilog: Melanjutkan Pencarian
Oleh: F Budi Hardiman
Kita telah mempersoalkan idea kebenaran faktual dengan bantuan delapan kritikusnya (Khun, Feyerabend, Rorty, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Foucault, dan Habermas). Agar menjadi radikal, yaitu sampai ke radix atau akar, diskursus telah dilanjutkan ke ranah ontologis. Pada ranah ini kita melepaskan kesempitan pencarian kebenaran dalam dunia fakta-fakta dan membuka ruang pencarian itu kembali selapang semesta, seperti dulu dijalani oleh dua bentuk pengetahuan yang telah ada sebelumnya, yaitu agama dan filsafat. Dalam ruang lapang ini sains tidak sendirian mencari kebenaran, melainkan bersama agama dan filsafat. Juga pada ontologis ini kita menemu ranah kemajemukan pemaknaan ontologis, sehingga sains, agama, dan filsafat tetap harus melanjutkan pencarian kebenaran dan tidak berhenti di tempat mereka sekarang berada. Mereka harus saling belajar untuk mendekati kebenaran tanpa tergesa-gesa mengklaim pendekatannya sebagai final, karena kebenaran belum secara sepenuhnya menyatakan diri kepada pikiran. Diskursus kebenaran dalam buku ini mengisyaratkan bahwa kebenaran bukan persoalan yang mudah karena terkait kesejarahan, kekuasaan, dan komunikasi manusia. Ada sisi kemanusiaan dari kebenaran yang ikut serta dalam menangkap pernyataan diri kebenaran.
Adegan romantis dalam film Holywood A Beautiful Mind kiranya dapat memberi ilustrasi untuk diskursus dalam buku ini. Pemeran utama film itu menengadah ke langit dan menunjukkan kepada kekasihnya hamparan bintang-bintang. “Berilah nama apa saja”, pintanya, lalu gadis itu berkata: “Payung”. Pada saat itu hamparan bintang-bintang itu terlihat terhubung satu sama lain menjadi bentuk payung. Dari situ gadis itu lalu dapat menamai gugus bintang-bintang lain. Hillary Lawson menamai proses penamaan itu closure, penutupan.
Konsep ini dapat menjadi pembanding untuk pandangan dalam diskusi buku ini. Menurut Lawson, semua deskripsi kita tentang dunia adalah hasil suatu closure. Dengan closure suatu yang tidak tentu menjadi tertentu. Namun, closure tidak hanya menutup, melainkan sekaligus membuka. Dengan mengatakan “payung” sepenggal fragmen dari hamparan bintang-bintang yang tidak diketahui menjadi diketahui, tetapi dengan cara itu juga terbukalah kemungkinan menamai fragmen-fragmen lain dari hamparan jutaan bintang yang tidak diketahui itu, misalnya Sagitarius, Leo, Aquarius, dan seterusnya. Closure memungkinkan disclosure.
Closure kita temukan dalam bahasa, pengetahuan, agama, politik, sampai keseharian kita. Lawson mengupas hal-hal itu.
Yang perlu kita perhatikan di sini adalah bagaimana konsep itu dapat menjelaskan sesuatu tentang persoalan kebenaran yang telah didiskusikan di dalam buku ini. Meski tidak sama persis, konsep closure senada dengan “paradigma”, “aletheia”, “horizon”, dan juga “diskursus”. Karena itu, kita boleh mengatakan bahwa sains, agama, filsafat, atau bahkan bahasa adalah hasil closure. Namun, kita harus hati-hati di sini karena konsep closure condong kepada subjek pemakna, padahal objek yang dimaknai tetap ada sebagai dirinya. Konsep itu lebih epistemologis daripada ontologis. Namun, perhatikanlah bahwa bagian hamparan bintang yang dibatasi dengan closure 'payung', 'Sagitarius', 'Leo', dan seterusnya, tidak sepenuhnya identik dengan nama-nama itu. Benda bukanlah makna, maka tetap ada kesenjangan antara benda dan namanya, antara realitas dan closure. Jika mengambil kebenaran sebagai aletheia, titik berat bukan pada subjek pemberi makna, melainkan pada realitas yang menyingkap dan lalu dimaknai. Tetapi kita meminjam konsep closure dan bukan aletheia di sini untuk menunjukkan bahwa manusia tidak pasif menunggu penyingkapan, melainkan aktif menyongsongnya dengan intervensi intelektual.
Suatu hasil riset yang objektif, suatu pengalaman religius yang subjektif, atau suatu pandangan ontologis yang mendasar bisa saja memiliki koherensi logis atau berkorespondensi dengan sebagian kenyataan, tetapi mereka tidak menutup seluruh kenyataan. Pengetahuan benar yang mereka hasilkan tidak menghabisi kenyataan. Pertama, closure “payung” tidak identik dengan kumpulan bintang-bintang yang dibingkainya. Kedua, closure tersebut adalah suatu upaya menstrukturkan sebagian kecil hamparan bintang-bintang, sementara teritorium lain di luarnya tetap tidak diketahui. Closure tidak sepenuhnya merupakan korespondensi antara ide payung dan bagian gugus bintang yang distrukturkannya. Sebagaimana kata pertama yang diucapkan manusia adalah perpaduan antara penataan dan pengenalan dunia, closure adalah suatu keputusan pengetahuan untuk mengintervensi dunia dengan pengenalan dan penataan dunia untuk mengetahui kebenaran. Closure membuat hal-hal terjadi, sehingga peristiwa kebenaran dapat dialami. Diperlukan suatu komitmen pada kebenaran dan sekaligus juga suatu keberanian untuk mencari, menemukan, dan mengalami kebenaran. Ada menyingkap tetapi hanya dapat ditangkap, jika pikiran terbuka. Dalam arti ini onto-logi dan epistemo-logi saling mengandaikan, tetapi kebenaran itu sendiri tetap melampaui kedua logos itu. Dari diskusi dalam buku ini, kita memang belum dapat memastikan 'apa' itu kebenaran. Kita menetapkan ukuran-ukuran untuknya, tetapi ukuran-ukuran itu tetap kontingen dalam ruang dan waktu. Namun, sudah ada petunjuk yang cukup membantu dari hasil diskusi kita. Kebenaran bukan sekadar konsep epistemologis, entah itu koherensi pikiran ataupun korespondensi antara pernyataan dan kenyataan, juga bukan hasil konsensus belaka; kebenaran merupakan suatu realitas, dan realitas ini menyatakan diri kepada pikiran kita. Realitas itu bisa merupakan sesuatu yang impersonal, seperti tat tvam asi—ungkapan ini berasal dari Chandogya, salah salah satu dari dua belas aliran utama Upanishad. Ungkapan itu berarti tiadanya perbedaan antara Atman dan Brahman, yakni dengan mengenali diri kita mengenal semesta. Brahman itu sendiri impersonal, yakni tak terbatas, kekal, tak berwujud, dst. Menurut panteisme Hindu ini, Atman adalah percikan Brahman dalam diri makhluk hidup—dalam ontologi pelepasan atau seperti alam dalam ontologi penerimaan, tetapi juga bisa suatu person ilahi, sang Ada absolut yang menyingkapkan diri, seperti dalam ontologi pelampauan. Dalam Kekristenan, kebenaran bukan hal abstrak, bukan konsep, melainkan sesuatu yang konkret, historis, dan riil, yakni pribadi ilahi Yesus Kristus. Ada basis historis yang menyatakan kebenaran itu, yakni peristiwa salib dan kubur yang kosong, dan fakta historis itu masuk ke dalam dunia makna. Kebenaran yang menyingkap dapat diketahui, meskipun tidak sepenuhnya. Ketidakpenuhan pengetahuan ini justru memungkinkan pencarian kebenaran yang menjelang. Pendirian ini menolak berbagai bentuk agnotisme, termasuk versi Kantian yang menempatkan kebenaran ontologis di wilayah yang tidak dapat diketahui, dan mendekati konsep aletheia Heidegger. Pendirian ini juga mengatasi relativisme karena pikiran tidak menciptakan kebenaran, melainkan mendekati kebenaran yang menyatakan diri kepadanya. Diperlukan keterbukaan pikiran untuk mengalami penyingkapan kebenaran. Keterbukaan juga menyangkut iman, sejauh iman dipahami sebagai disposisi dasar terhadap Ada.
Ontologi penyingkapan diandaikan di dalam setiap ontologi dan bentuk murninya terdapat dalam pengetahuan filosofis. Untuk menemukan kebenaran, yang sangat menentukan bukanlah benteng keyakinan yang sudah final, melainkan pintu pikiran yang selalu terbuka. Philosopia, mencintai kebijaksanaan, adalah pengertian yang disematkan kepada filsafat sejak kelahirannya. Kebijaksanaan tidak terdapat dalam ketergesaan menetapkan suatu kebenaran. Karena itu, filsafat yang setia pada pengertian aslinya akan terus melanjutkan pencarian kebenaran. Filsafat yang mencari kebenaran tentu berbeda dari filsafat yang menetapkan kebenaran. Sementara filsafat yang menetapkan kebenaran dapat segera berubah menjadi dogma yang membelenggu pikiran, filsafat yang mencari kebenaran bersikap kritis terhadap ideologisasi dan dogmatisasi dalam bentuk apa pun. Filsafat bukan firman Tuhan dan bukan doktrin orang percaya tentang kebenaran absolut dan final. Karena bukan spiritualitas dan bukan ideologi, filsafat yang mencari kebenaran harus puas dengan kesenjangan yang tidak terjembatani antara ontologi dan kebenaran. la memelihara keterjagaan dan bergerak dengan keterbukaan yang pada ranah ontologis tidak memiliki wujud lain selain ontologi penyingkapan. Pada locus yang berjarak terhadap wawasan-wawasan dunia itu, filsafat memang tidak memberi kenyamanan ataupun hiburan. Namun, ia memberi suatu yang sangat hakiki untuk penemuan kebenaran: kebebasan.
Pengetahuan manusia begitu terbatas, tetapi juga bisa begitu terbuka terhadap yang tak terbatas sehingga tidak ada sikap yang lebih tepat selain kerendahhatian intelektual yang mencegahnya untuk tergesa-gesa menutupi kesenjangan antara ontologi dan kebenaran. Filsafat melengkapi kita dengan suatu kewaspadaan terhadap realitas untuk membuka pikiran kita seluas-luasnya kepada keterbatasan konstruksi-konstruksi mapan dari sains, agama, dan filsafat sendiri. Kutipan tulisan Heidegger berikut mungkin dapat membantu kita untuk memahami hubungan antara pengetahuan dan kebenaran:
"Keterbukaan Ada sebagai suatu keseluruhan tidak persis sama dengan jumlah semua entitas yang familiar secara langsung. Sebaliknya: di mana entitas tidak sangat familiar bagi manusia dan hampir tidak dan hanya secara kasar diketahui oleh sains, keterbukaan entitas-entitas sebagai suatu keseluruhan dapat berlaku secara lebih hakiki daripada kalau yang familiar dan yang diketahui itu telah menjadi tidak terbatas, dan tidak ada lagi yang dapat menahan kuasa mengetahui karena penguasaan teknis atas kenyataan berlaku tanpa batas." (Martin Heidegger, “On the Essence of Truth”, hlm. 131).
Yang dibidik oleh Heidegger dalam kutipan di atas adalah sains dan supremasi kebenaran faktual. Namun, sebetulnya bidikan juga bisa diarahkan pada bentuk-bentuk pengetahuan lainnya, seperti agama, filsafat, seni, karena jika menjadi dominan, mereka menjadi familiar juga dan membuat familiarisasi segala sesuatu yang tidak lain daripada mencoba menutup misteri Ada.
Contoh yang paling dekat adalah Ada kita sendiri yang membawa kepada pertanyaan, apakah kebenaran tentang Ada ini. Kalau menyadari kesadaran kita sendiri, kita akan menjumpai diri kita sendiri sebagai suatu kemungkinan murni yang intim sekaligus asing, suatu yang kita kenal sekaligus suatu terra incognita yang belum dilukis di dalam peta. Agama, filsafat, dan sains menjamin 'diri' ini dikenali sebagai suatu Ada. Padahal sesungguhnya 'diri' adalah suatu kemungkinan murni, suatu berada-menuju-tiada, suatu peristiwa, suatu yang menyingkapkan keasingan-keasingan baru, sehingga kita sendiri menyadari 'diri' itu sebagai misteri. Kartografi 'diri' yang dicoba disusun oleh agama, filsafat, dan sains tidak menghabisi terra incognita baru yang muncul justru saat peta itu dikira sudah selesai disusun, entah sebagai ens creatum, atman, subjectum atau apa lagi. Familiaritas dapat mengecoh seolah ia adalah seluruh kenyataan, padahal ia adalah hasil suatu closure, seperti ide payung yang menstrukturkan sebagian kumpulan bintang. Adalah lebih menarik memperhatikan bagian yang berada di luar closure itu, yang tidak familiar dan tidak terkatakan. Celah-celah yang belum dapat dijelaskan oleh sains, sesuatu yang tidak familiar baginya, menyingkapkan sesuatu yang penting dan hakiki untuk memahami Ada. Dalam kaitan dengan pengetahuan manusia, kebenaran ada dalam tegangan antara menyingkap dan menyembunyikan diri. Terhadap segala yang dianggap familiar dan benar tanpa boleh dipertanyakan lagi, filsafat tampil sebagai penggoda dengan ajakan yang menggairahkan akal untuk melanjutkan pencarian kebenaran. Untuk itu, dibutuhkan kerelaan untuk melepaskan keyakinan-keyakinan yang membelenggu, kegigihan untuk melampaui horizon yang membatasi, kesiapan untuk menerima batas-batas yang tidak dapat dilalui, dan keterbukaan terhadap penyingkapan kebenaran yang wajahnya berada di seberang pemikiran dan tidak pernah selesai dikenali. Pencarian kebenaran tidak sama dengan pencarian kepastian yang telah diyakini, entah itu dalam agama ataupun sains, melainkan keterbukaan terhadap kenyataan-kenyataan yang sampai sekarang belum familiar bagi kita karena belum kita ketahui. Untuk itu, memang diperlukan keberanian untuk berpikir. Jadi, filsafat tidak cukup berciri retrospektif, seperti kalau Hegel mengilustrasikannya dengan burung hantu dari Minerva yang terbang di petang hari setelah segalanya selesai, melainkan juga berciri prospektif, yakni mengantisipasi kebenaran yang menjelang. Seluruh pengetahuan manusia, entah itu sains, filsafat, seni, atau agama, mengantisipasinya. (F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023, h. 257-265).
Prof. Dr. F. Budi Hardiman, guru besar filsafat di Universitas Pelita Harapan. Menulis belasan buku filsafat antara lain:
1. Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitare Herrschaft. Eine kritische Uberprufung der Texte von Georg Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Pemerintahan yang Setara: Massa dan Pemerintahan Totaliter. Sebuah Kajian Kritis atas Teks-teks Georg Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti, dan Hannah Arendt), Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001 (disertasi doktor yang diterbitkan).
2. Demokratie als Diskurs Zu Jurgen Habermas Diskurstheorie des demokratischen Rechtsstaats (Demokrasi sebagai Diskursus: Tentang Teori Diskursus Negara Hukum Demokratis Jürgen Habermas (tesis magister yang tak diterbitkan).
3. Demokrasi Deliberatif (2009),
4. Seni Memahami (2015),
5. Demokrasi dan Sentimentalitas (2018),
6. Aku Klik maka Aku Ada (2021). Buku ini adalah bukunya yang ke-16.
***
Sumber dua tulisan di atas:
Prakata dan epilog dalam buku F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023
![]() |
| Sampul belakang |
Sinopsis:
Buku ini adalah sebuah diskursus kebenaran. Jalan masuknya bukan lewat pintu agama, melainkan lewat pintu filsafat sains kontemporer. Dahulu dalam agama dan filsafat, kebenaran masih menyangkut seluruh kenyataan. Namun, dalam pengaruh sains modern, kebenaran mulai dipahami secara sempit sebagai kebenaran faktual.
Mengapa kebenaran faktual bukan seluruh kebenaran? Bagaimana kebenaran terkait zaman?Mengapa kebenaran tidak lain daripada kedok kekuasaan? Bisakah kita mengatasi relativisme kebenaran lewat komunikasi rasional? ) Di manakah posisi agama, filsafat, dan sains dalam pencarian kebenaran?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, penulis mengomentari secara kritis pemikiran Kuhn, Feyerabend, Rorty, Dilthey, Heidegger, Gadamer sampai Foucault dan Habermas. Lewat perjalanan intelektual yang cermat dan penuh kesabaran ini, ia mengajak kita keluar dari pemikiran yang menyempitkan kebenaran sebagai fakta.
Bersama Heidegger, ia melakukan ontological turn dengan mengangkat kembali diskursus kebenaran ke ranah ontologis, di mana agama, filsafat, dan sains dapat dilihat sebagai upaya-upaya pencarian kebenaran.
Sebuah buku yang mengingatkan kita agar tidak terburu-buru memetik kebenaran sebelum matang, sehingga kita terbebas dari jebakan saintisme, ideologi, dan radikalisme agama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar