![]() |
| Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994 |
Oleh: Dr. R. Paryana Suryadipura
Setiap orang yang berpikir dan berhasrat mesra untuk memperoleh pengetahuan yang sempurna, yang dapat dicapai melalui sebuah penelitian yang akurat serta proses berpikir yang sedalam-dalamnya tentang kenyataan hidup yang sebenar-benarnya, dengan tidak sengaja telah memasuki alam filsafat.
Kenyataan yang sebenarnya itu disebut hakikat, sedangkan hasrat mesra yang mendorong setiap orang memasuki alam filsafat adalah kegiatan batin kita sendiri. Selanjutnya dapat ditandaskan bahwa kegiatan-kegiatan batin adalah proses berpikir dan dorongan mencari hakikat adalah berpikir dengan dasar-dasar yang benar. Berpikir dengan dasar-dasar yang benar memerlukan adanya sebuah metode atau tarikat, yang lazim dipakai oleh para ahli ilmu pengetahuan, terutama oleh para ahli filsafat.
Ilmu filsafat memikirkan hakikat. Ahli filsafat adalah ahli pikir tentang hakikat, dan tidak mau dipandang kurang dari itu.
Mencari hakikat bukanlah berpikir tentang suatu kenyataan yang dapat disaksikan melalui pancaindera, melainkan memikirkan hubungan antara kenyataan-kenyataan ini dengan keseluruhan semesta alam, terutama dengan asas pusatnya (Het Centrale Beqinsel), yakni Tuhan Yang Maha Esa.
Hubungan antara suatu yang dapat disaksikan dengan pancaindera yang menjadi pangkalnya disebut Ma'rifat.
Dengan demikian, makna perkataan filsafat yang sebenarnya adalah hasrat mesra terhadap Ma'rifat, yang diketahui dan dikenal oleh hakikat.
Pikiran yang ditujukan pada dunia semata-mata yang dapat dialami (ervaarbare wereld) adalah suatu pikiran yang sangat sederhana, yang hanya menggambarkan dunia sebagai suatu yang tampak dalam bentuk kenyataan-kenyataan yang lahiriah.
Adanya kenyataan-kenyataan lahiriah itu sangat tergantung pada kenyataan-kenyataan yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kenyataan-kenyataan yang lahiriah tersebut adalah nisbi (relatif), sedangkan hakikat tidak tergantung pada keadaan lain atau bersifat lahiriah. Hakikat langsung sangat tergantung pada suatu yang bersifat mutlak atau yang mutlak sendiri (absolut). Kita mendapatkan keyakinan tentang hakikat dari setiap hal apabila kita dapat menemukan suatu yang bersifat mutlak yang merupakan asal kejadiannya.
Karena keriyataan-kenyataan yang lahir tersebut bersifat nisbi dan sangat tergantung pada suatu hal yang bersifat absolut, maka kenyataan yang lahir tersebut hanyalah merupakan bagian (fragmen) atau berasal dari suatu yang bersifat mutlak tersebut. Kita tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu apabila kita hanya mengenal fragmennya saja, karena kita tidak mengenal keseluruhan komponen yang membentuknya dan tidak mengerti akan asas-asasnya. Dengan demikian, mengetahui bagian-bagian dari sesuatu bukan berarti mengetahui hakikat dari sesuatu itu.
Secara lebih rinci lagi dapat ditegaskan bahwa kenisbian adalah pancaran hakikat di dalam bentuk lahiriah (verschijning in haar uitwendigheid), yang kehadirannya sangat tergantung pada suatu hal yang masih bersifat nisbi pula, dan yang ternyata masih tergantung pula pada suatu hal yang bersifat nisbi pula, demikian seterusnya, sampai kita tiba pada yang mutlak. Inilah yang disebut hakikat.
Sebab-sebab yang mendorong para cerdik pandai selalu merasa tidak puas dengan suatu hal yang bersifat lahiriah saja adalah karena mereka dikarunia alat-alat berpikir, yang dapat pula digunakan untuk memikirkan hal-hal yang berada jauh di luar suatu yang dapat dilihat secara konkret (het abstraheerend verstand). Berpikir secara abstrak tentang kenyataan yang riel itu bukanlah suatu abstraksi yang sebenarnya, melainkan hanya merupakan khayalan (beeldende fantasie) mengenai dunia dalam bentuknya yang lahiriah.
Cara berpikir yang demikian itu umumnya digunakan oleh masyarakat negara yang memiliki tingkat peradaban yang masih rendah (primitieve volken). Namun demikian, di kalangan para cerdik pandai zaman sekarang pun masih terdapat sebagian di antaranya yang lebih percaya pada hal-hal yang bersifat positif saja, nisbi, nyata, berjasad, dan berfaedah. Aliran itu disebut positivisme.
Kerusakan sifat dan tabiat manusia serta kekacauan dunia yang terjadi dewasa ini adalah disebabkan oleh cara berpikir sebagian umat manusia yang mengingkari hal-hal yang bersifat abstrak yang justru mengandung hakikat.
Pikiran yang masih terikat erat dengan kenyataan-kenyataan yang bersifat lahiriah-terutama pikiran orang-orang yang mengabdi pada ilmu pengetahuan eksakta, perlu dibebaskan dari kebekuan dan benang kusut (warnet) berupa kesesatan yang memandang dunia lahir ini sebagai hakikat.
Selain itu, ilmu-ilmu pengetahuan eksakta itu sendiri, terutama ilmu alam, telah memperoleh hasil-hasil penelitian dan eksplorasi yang mendekati hakikat, dengan diperolehnya atom dan bagian-bagian yang membentuknya.
Atom fisika dan intinya (nucleus), yang telah dipelajari oleh para ahli atom sedalam-dalamnya, sudah dapat dipergunakan untuk membuka jalan yang luas dan jelas menuju pada hal-hal yang sampai kini belum dapat dipahami melalui akal sehat. Namun demikian, hasil-hasil penelitian ini telah dapat disaksikan di dalam abstraksi untuk memahami hakikatnya. Sialnya, hasil-hasil penelitian atom fisika itu juga telah dijadikan sebagai alat untuk menciptakan alat-alat pemusnah, antara lain senjata nuklir dan kimia yang memiliki daya penghancur yang sangat dahsyat.
Melangkah di atas jalan ini, dari alam lahiriah menuju alam abstrak, yang akhirnya menuju pada hakikat yang dasar-dasarnya diletakkan oleh atom fisika, bukanlah suatu gambaran yang tidak masuk akal sama sekali. Lebih dari itu, perlu digarisbawahi bahwa inilah satu-satunya jalan yang dapat mengembalikan mereka yang telah jauh tersesat di alam eksakta dan matematika.
Atom fisika adalah pengetahuan eksakta, di atas atom terdapat alam daya semata-mata, yang bersifat hipotetikal. Namun keberadaannya tidak dapat disangkal, karena banyak peristiwa yang terjadi di dalam jagad raya ini yang tidak dapat dimengerti tanpa keadaan yang bersifat hipotetikal ini. Justru di atas hal-hal yang bersifat hipotetikal inilah dapat diabstraksikan letaknya sesuatu yang bersifat mutlak.
Untuk dapat memahami hubungan antara yang mutlak dengan yang nisbi, maka kita harus menempuh jalan yang terbentang luas dan jelas antara kedua hal dimaksud.
Yang mutlak bersifat universal, yang meliputi segala yang ada, dan menjadi asas pusat (het centrale beqinsel) dari hal-hal yang bersifat umum. Penelitian yang diawali dari hal-hal yang bersifat umum menuju ke arah hal-hal yang bersifat khusus disebut sebagai penelitian deduktif.
Hal-hal yang bersifat nisbi adalah setiap hal yang bersifat khusus dan dapat disaksikan melalui mata, dapat diukur, ditakar dan ditimbang. Penelitian yang bergerak dari hal-hal yang bersifat khusus menuju arah yang bersifat umum disebut penelitian induktif.
Dengan diketahuinya susunan atom, maka hakikat benda telah dapat didekati, dan kita akan segera mengetahui bahwa bagian-bagian yang terkecil hanyalah merupakan pemusatan daya (energi) semata-mata. Proton dan neutron yang membentuk struktur susunan atom disebut padatan, sedangkan elektron merupakan pusaran energi.
Dengan temuan ini, maka ilmu pengetahuan telah sampai pada batasnya, yakni batas antara yang nyata dengan yang tersembunyi, antara yang fana dengan yang baka, antara yang materiel dengan yang spritual dan antara benda dengan roh.
Bila bergerak setingkat di atas alam antara ini, ilmu pengetahuan akan dapat menemukan mahkotanya, yang akan menjadi fundamen bagi agama, yakni Tuhan-Hakikat Yang Terakhir.
Karangan ini bermaksud membuktikan, baik dengan jalan induksi maupun deduksi, bahwa ilmu pengetahuan dan agama, justru bertemu di alam antara. Ini diketahui berkat diketemukannya susunan atom dan bagian-bagiannya.
Semoga uraian berikut ini dapat memberikan penjelasan ala kadarnya tentang ilmu pengetahuan dan agama, yang sampai kini saling memancar (divergeeren) dan bertemu kembali (converqeeren) ke satu titik pertemuan. Inilah yang menjadi tempat asal kita, dan kembali lagi ke tempat awal dan akhir kita.
Dr. R. Paryana Suryadipura
Sumber:
(Mukadimah dalam Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 1-5).
***
Ruang Mutlak
Ruang mutlak (absolute ruimte), yakni ruang yang tetap dan tidak berubah oleh pengaruh apapun dan tidak dapat digerakkan. Ia tidak mempunyai batas, dan terhadapnya semua keadaan menjadi nisbi. Semua ruang yang dapat disaksikan disebut ruang nisbi, suatu dimensi yang bergerak atau bagian ruang mutlak yang dapat kita saksikan.
Setiap kenyataan yang dapat kita saksikan adalah menempati suatu ruang yang dibatasi oleh ruang lain. Meja, kursi, lemari dan manusia menempati suatu ruang, misalnya di dalam suatu kamar; dan semua ini dibatasi oleh ruang kamar yang ada di sekelilingnya, yang membatasi permukaan barang-barang atau manusia itu. Ruang kamar ini selanjutnya juga dibatasi oleh tembok-tembok rumah, yang juga menempati ruang lain di dalam halaman yang ada di sekelilingnya, dan demikianlah seterusnya: halaman di dalam kota; kota di dalam daerah; daerah di dalam pulau; pulau di dalam negara; negara di dalam benua; benua di dalam dunia; dunia di dalam susunan planet, dan susunan planet di dalam bintang bima sakti (melkweg) dan bima sakti di dalam semesta alam (universum) dan universum di dalam ruang yang lebih besar lagi, demikian seterusnya hingga sampai tak berakhir. Kesimpulannya adalah bahwa ruang dibatasi oleh ruang lain dan jumlah semua ruang itu tidak mempunyai batas, oleh karena setiap ruang dibatasi oleh suatu ruang yang lain.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, karena setiap sesuatu itu menempati ruang, maka Tuhan pun menempati ruang pula. Dengan pernyataan ini, kita pun segera dihadang oleh sebuah pertanyaan: apakah ruang yang tidak mempunyai batas tadi diisi sepenuhnya atau hanya sebagian oleh Zat Tuhan?
Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah diisi sepenuhnya, tidak hanya sebagian, karena apabila demikian halnya, maka dengan sendirinya kita pun akan menghadapi dua kenyataan: ruang dan Tuhan atau tempat dan isi. Tempat tersebut adalah Maha Ruang sedangkan isi adalah Tuhan. Mengenai arti ini terdapat kemungkinan bahwa isi ini dapat di keluarkan dan dimasukkan kembali ke dalam tempatnya. Kalau ini benar maka kita pun harus mengatakan bahwa antara isi dengan tempat masih terdapat kelonggaran ataupun tempat kosong, meskipun tempat longgar itu adalah sedemikian kecilnya. Jelasnya, Tempat dan Isi atau Maha Ruang dan Tuhan adalah dua kenyataan yang masing-masing mempunyai hadiratnya sendiri.
Berkenaan dengan kedua keadaan ini, timbul pula pertanyaan selanjutnya: Apa atau Siapakah yang lebih dulu ada, Maha Ruang atau Tuhan?
Selarasnya, Maha Ruang yang lebih dulu ada, karena setiap sesuatu itu haruslah menempati ruang. Apabila Tuhan lebih dulu ada sebelum adanya ruang, maka kita pun akan bertanya di manakah gerangan Tuhan itu bertakhta? Jika belum ada tempat bagi-Nya? Akan tetapi, bila Maha Ruang itu lebih dulu ada, kita pun dihadapkan dengan pertanyaan yang tak kalah sulitnya: Siapakah yang mengadakan Maha Ruang itu selain daripada Tuhan?
Seandainya Maha Ruang dan Tuhan pada suatu ketika bersama-sama ada sebagai keadaan yang terbatas, kemudian ruang itu melebar dan meluas hingga tak terbatas, maka dugaan demikian juga menjadi sangat musykil, karena telah ditetapkan bahwa setiap ruang yang terbatas harus mempunyai batas untuk ruang yang lain. Dan siapakah yang mengadakan ruang lain itu. Di samping itu, praduga naif seperti itu juga akan mendorong kita untuk menganggap bahwa pada mulanya Tuhan adalah terbatas dan oleh karena itu Ia pun berbentuk secara riel. Jelas anggapan ini sangat keliru dan tidak benar sama sekali.
Bukan hanya dogma semua agama yang besar sajalah yang memastikan dan meyakini bahwa Tuhan tidak pernah berawal dan berakhir, baik di dalam waktu dan tempat serta tidak mempunyai bentuk rupa dan sebagainya, tetapi logika dan pandangan-pandangan yang bersifat matematis dan fisik juga telah mendorong manusia sejak dulu kala untuk merenungkan sebuah pertanyaan penting: “Siapakah yang mengadakan ruang di luar ruang Tuhan yang terbatas itu, dan sampai kemanakah ruang dan Tuhan yang terbatas itu meluas hingga tak berbatas?
Di atas kita telah menyinggung bahwa Maha Ruang dan Tuhan boleh saja diasumsikan sebagai dua kenyataan yang masing-masing mempunyai hadiratnya sendiri-sendiri. Tetapi kita pun akan segera dihadang oleh pertanyaan lebih lanjut: mungkinkah hal seperti itu terjadi?
Menurut keesaan Tuhan, maka pertanyaan itu dengan tegas dapat dijawab: Tidak mungkin.
Selain Tuhan, tidak adalagi satu apa pun yang bersifat esa, karena kalau masih ada kenyataan yang bersifat esa, maka keesaan Tuhan akan sirna dengan sendirinya. Maha Ruang, yang hanya ada satu, tidak mungkin diberi sifat yang esa di samping keesaan Tuhan, walaupun seandainya keesaan Maha Ruang itu diberikan tingkatan yang lebih rendah.
Dari nalar ini dapat kita simpulkan bahwa Maha Ruang dan Tuhan adalah satu kenyataan: wadah dan isi adalah satu, yang sesuai dengan sifat-sifat Tuhan sebagai sesuatu yang mengatasi (transcendent) semua keadaan yang diadakannya dan dapat menyelami setiap sesuatu itu (immanent). Immanensi yang kita maksudkan di sini telah tertulis di dalam firman Tuhan yang berbunyi, “Kami lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu" (Q.s. Qaaf, ayat 16). h. 21-23) (Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 21-23).
***
Manusia Tercipta dari Tanah? Suatu Tinjauan Ilmiah
Tidak dapat disangkal bahwa hidup yang pertama diciptakan dengan menggunakan tanah sebagai bahannya. Menurut keyakinan umum, tubuh semua makhluk hidup terbentuk dari tanah.
“Sesungguhnya kami telah menjadikan manusia dari tanah.” (Q.s. Al Hajj, ayat 5).
Menurut ayat Al-Quran yang dimaksud dengan tanah adalah unsur-unsur atau zat-zat asli yang terdapat di dalam tanah. Adapun caranya, dilakukan dengan persenyawaan zat arang (Carbongenium) dengan zat pembakar (Oxygenium), zat lemas (Nitrogenium) dengan zat air (Hydrogenium). Proses persenyawaan ini dinamakan proteinisatie karena dari persenyawaan ini terbentuk zat yang dinamakan protein. Setelah protein ini terbentuk, maka zat ini dihidupkan dan proses menghidupkan protein ini dinamakan vitalisatie. Adapun yang menghidupkannya adalah radio karbon, sebagai hasil dari pemecahan atom zat lemas yang ada di dalam lapisan udara dan melalui sinar kosmis pemecahan atom ini menjadi radio karbon dan zat air. Sebagai zat asam arang "CO2) radio karbon ini memasuki protein sehingga protein ini menjadi hidup oleh pengaruh radio activiteit yang ada padanya. Protein yang telah hidup itu disinari oleh elektron-elektron dari sinar kosmis dan di antara elektron-elektron yang menyusun atom protein tersebut ada yang digantikan oleh elektron yang berasal dari sinar kosmis, dan proses ini dinamakan substitusi. Sebagai akibat dari substitusi ini protein yang hidup tadi mengalami mutasi sehingga berlangsunglah evolusi dan akhirnya terdapatlah umat manusia di atas dunia ini.
Radio karbon dan elektron-elektron dari sinar cosmis itulah yang mengubah sifat zat-zat yang berasal dari tanah dan mereka sendiri berasal dari luar dunia kita.
--Manusia dengan Atomnya, h. 260-261
Amal Perbuatan
Sebelum ke luar dari pusat akal, elektron-elektron bebas yang berkumpul di dalam pusat akal diperinci dan diatur sebelum menjadi perbuatan.
Arus listrik yang mengalir dari pusat kesadaran menuju pusat akal adalah berbentuk roh yang menjelmakan kesadaran dan pikiran dan menamakan dirinya AKU. Jadi pada hakikatnya Aku bukanlah jasmani melainkan roh yang sadar akan diri sendiri dan mampu berpikir. Oleh karena itu roh ini dinamakan pikir atau anima mentalis.
Selama elektron-elektron bebas ini membentuk anima mentalis dan menamakan dirinya Aku, serta tetap berkumpul di dalam pusat akal, maka anima mentalis menambah dirinya dengan daya-daya bioelektrik sebagai penjelmaan dari hasil penginderaan baru sehingga Aku selalu diisi dengan gambaran dari barang-barang yang disaksikan oleh pancaindera. Adapun gambaran-gambaran yang merupakan hasil tangkapan pancaindera semuanya mengenai barang-barang nyata atau materiel. Dengan demikian, pikiran atau Aku ini penuh dengan gambaran yang materialis, dan pikiran yang demikian dinamakan pikiran materialis.
Di samping itu pikiran yang materialis selalu disertai oleh daya-daya yang berasal dari pangkal otak dan menjelmakan nafsu-nafsu: keinginan (begeerte) dan kemurkaan (toorn atau zucht tot zelfbehoud).
Daya bio elektrik yang keluar dari pusat akal dan yang akan dijadikan amal perbuatan, mula-mula mengalir ke pusat kemauan, kemudian ke dalam urat-urat saraf dan akhirnya menuju otot untuk dijadikan amal perbuatan atau gerakan. Dengan demikian, daya yang mengalir dari pusat akal sampai ke otot ini melakukan fungsi saraf dan gerakan yang dinamakan fungsi animalis. Dengan demikian, maka daya bio ini dinamakan roh hewani atau anima animalis.
Sebagian dari daya bio-elektrik yang berkumpul di pusat akal, tanpa kita sadari, mengalir ke bagian otak yang dinamakan thalamus. Thalamus ini berhubungan dengan pusat-pusat dipangkal otak yang melakukan fungsi hayati atau fungsi vegetatif. Dengan demikian, daya bio ini disebut roh hayati atau roh nabati atau anima vegetalis.
Pada saat Aku lupa akan diri sendiri, maka putuslah hubungannya dengan dunia luar, sehingga pikiran berubah dari pikiran yang materialis menjadi pikiran yang abstrahereend dan tidak lagi berputar-putar di dalam otak, akan tetapi memasuki alam yang sesuai dengan fungsinya, yaitu alam abstrak yang berada di luar otak. Selanjutnya pikiran menyusun badan pikiran atau corpus mentalis yang merupakan permukaan dari badan halus kita.
Badan pikiran ini juga merupakan roh pikiran akan tetapi roh pikiran yang abstrak (anima abstraktiva).
Apabila Aku ini terus-menerus lupa akan diri sendiri karena terikat kepada suatu persoalan yang menarik perhatian atau perlu dipecahkan, maka pikiran semacam ini lebih banyak terdapat di alam abstrak daripada di dalam otak. Akibatnya nafsu-nafsu yang terakhir yang menyertainya, yaitu sebelum hubungan dengan dunia luar diputuskan, dan nafsu-nafsu yang mendahuluinya, masuk ke dalam alam abstrak dan mengubah sikap dan hakikatnya, dan menjadi kemauan yang keras yang disertai dengan pengabaian akan diri sendiri (zel/vergetelheid). Kemauan yang demikian dinamakan inspirasi. Inspirasi ini mendorong pikiran supaya lebih dalam memasuki persoalan yang mengikat dirinya. Akibat selanjutnya adalah bahwa inspirasi ini akan lebih kuat mendorong pikiran untuk beresonansi dengan bagian isi alam angan-angan (ideeenwereld) yang sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi. Dalam keadaan yang demikian, orang tersebut akan menerima ilham atau ide, sehingga tercapailah pemecahan persoalan. ---Manusia dengan Atomnya, h. 265-266
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar