Minggu, 01 Februari 2026

ADA APA DENGAN HANTU

MATABACA, Vol. 5/No. 6/Februari 2007


Oleh: Rocky Gerung


Efek, adalah inti dari seni horor. Dalam film ia langsung tampak di layar, dan seterusnya mengepung psikologi penonton. Pada novel, efek itu dibangkitkan oleh kalimat, dan seterusnya menyergap imajinasi pembaca.


Dua-duanya, baik pada film maupun novel, adrenalin kita dipompa habis: napas terengah, dan sirkulasi darah meningkat. Namun, kita menikmati rasa takut itu. Spekulasi teoretis tentang fenomena ini berkembang karena ia terus dikejar oleh pertanyaan: Mengapa sesuatu yang menakutkan justru menyenangkan sehingga kita mengonsumsinya, dan karena itu film dan cerita horor terus diproduksi. Apakah horor berada di luar atau justru bagian dari sistem psikis manusia? Keterangan ilmiah apa yang tersedia?


Di awal tahun ini, sebuah hasil penelitian tentang phantom effects (bayangan hantu), dimuat dalam majalah Nature (seperti diulas oleh Deborah Blum dalam International Herald Tribune 8/1/2007). Kesimpulannya adalah bahwa "hantu" itu tidak lebih dari fenomena neurologis, yaitu kumpulan sensasi yang susunan kimianya dapat dianalisis. Jadi, hantu itu tidak ada di luar sana, tetapi di dalam pikiran kita, alias hasil dari "korslet" sistem kelistrikan otak. Tetapi mengapa kita "menikmatinya"?


Tentu saja bagi "penikmat horor,masalahnya bukan di mana hantu itu bermukim (di dalam atau di luar pikiran), tetapi bahwa fenomena hantu itu memang ada. Ini sekaligus menerangkan bahwa kegiatan paranormal adalah kegiatan mengolah energi, medan magnet alam, dan sistem kelistrikan tubuh. Jadi, fenomena itu memenuhi hukum-hukum ilmiah Oliver Lodge misalnya, peneliti awal sistem komunikasi radio nirkabel, berteori bahwa otak manusia adalah sebuah tranceiver gelombang yang dapat bekerja dalam kondisi bawah-sadar. Dalam cara berpikir itulah, Olaf Blanke, seorang neuroscientist, menerangkan fenomena hantu itu dalam majalah Nature. la menstimulasi dengan arus listrik bagian otak yang disebut angular gyrus, dalam sebuah penelitian mengenai kemampuan bahasa, tetapi kemudian menemukan suatu gejala sampingan, yaitu pengalaman pasien yang seolah-olah melihat "hantu" dan merasakan kehadiran orang lain. Gejala samping ini membangkitkan lagi spekulasi tentang adanya "dunia lain" yang bekerja di belakang dunia yang biasa kita hidupi.

Sesungguhnya, kita dapat menerangkan fenomena itu sebagai aktivitas psikokognitif manusia yang ingin mengatasi kondisi now-ness (kekinian), dan secara bawah sadar selalu melihat peluang pada beragam possibilities untuk mencari keterangan tentang kehidupan. Dilihat dari sudut ini, horor adalah keterangan yang diolah oleh pikiran dengan bahan-bahan yang tersedia dalam kebudayaan, tradisi dan sistem simbolik individual. Jadi, ada semacam “politik harapan” pada manusia untuk memahami dunia karena mencurigai bahwa kedirian dan kehadiran historisnya mungkin saja bukan hakikat dan identitas yang seharusnya ia miliki. The truth is out there, kira-kira begitu politik harapan itu bekerja. Namun, pada saat yang sama, kumpulan memori yang mengendap dalam sistem makna kebudayaan juga amat kuat menempel pada cara berpikir kita sehingga menjadi medan transaksi makna antarorang. Artinya, beban-beban makna yang ditanamkan secara primal selama ribuan tahun peradaban, selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak semuanya mampu dijawab oleh manusia. Kebudayaan seakan-akan menjadi lebih besar dan menakutkan bagi manusia, karena di dalamnya ketidaktahuan dijaga sebagai inti kehidupan. Berbagai regulasi psikis, religius menjamin kesakralan kebudayaan dan mengerdilkan manusia sebagai debu alam semesta yang tak berarti. Polarisasi antara penjara primal dan obsesi pada posibilitas inilah yang memungkinkan terpeliharanya medan pemaknaan bagi fenomena-fenomena supranatural, tetapi bukan lagi untuk pemujaan, melainkan untuk pemahaman.


Medan inilah yang memungkinkan hubungan produksi dan konsumsi karya horor dapat diselenggarakan. Saya kira inilah yang menerangkan mengapa horor yang mestinya dihindarkan karena menakutkan itu, justru kita dekati dan kita nikmati. Seolah olah kita diambangkan dalam polaritas "fiksi-fakta" dalam mengonsumsi seni horor. Artinya, di satu pihak, kita dituntun oleh rasionalitas untuk mengerti bahwa horor hanyalah mainan pikiran. Di pihak lain, kita masih berspekulasi tentang realitas "di luar sana".


Dalam terminologi The New Age, realitas "di luar sana" itu merupakan realitas spiritual yang tak terlihat, yang tersusun oleh energi kosmis yang berbeda dengan jenis energi yang dikenal dalam fisika. Inilah pendekatan esoterik yang berupaya menerangkan bahwa ada dimensi energi yang lebih abstrak yang tetap tak terjamah oleh keterangan teoretis fisika. Ensiklopedi okultisme menyebut fenomena ini sebagai "kekuatan ketiga" (third force), yang berdasar pada pengalaman manusia di dalam mencari makna melalui fasilitas psikis dan magis. Jadi, dalam upaya manusia "melihat" masa depan, obsesi pada supranatural sebetulnya merupakan obsesi yang rasional juga, yaitu dalam arti niat manusia untuk mengetahui posibilitas dari situasi kekiniannya yang membosankan sekarang ini. Spekulasi tentang "dunia lain" tidak didekati secara standar penjelasan religius, melainkan melalui jalan yang oleh kebanyakan orang dianggap "sesat". Di waktu lalu, mereka yang terlibat dalam kegiatan semacam ini akan menerima hukuman berat sampai pada pembunuhan. Tapi kini "dunia lain" itu justru mengambil bentuk yang lebih sempurna melalui seni

horor. Penceritaannya pun makin membangkitkan sensasi ketakutan dengan bantuan visualisasi teknologi. Jadi, sebetulnya naluri manusia untuk mencapai dimensi batin yang melampaui kondisi kekiniannya itu, tetap terpelihara dan bahkan memasuki dimensi industri yang  makin mewabah.


Bila gejala ini hendak kita amati melalui lensa posmodernisme, secara cepat kita dapat mengatakan bahwa pluralisasi medan realitas dan pluralisasi fasilitas pemaknaan pada manusia, sedang mencapai titik perseteruan baru dengan kepastian-kepastian metodologis dalam cara kita memahami diri kita dan realitas semesta. Apa yang sedang terjadi dalam dunia kebudayaan sekarang ini adalah suatu percakapan tajam antara mereka yang berupaya untuk membenamkan kebenaran dan identitas pada struktur-struktur makna yang sudah pasti (agama, misalnya) dan mereka yang secara enteng melihat kebenaran dan identitas sebagai permainan-permainan temporer yang penuh kemungkinan. Seni horor, dalam kaitan ini, mungkin perlu kita letakkan dalam permainan kemungkinan itu. Dengan itu, beban-beban esensialisme kebudayaan dapat dicairkan sejenak di setiap malam jumat. Thank God It's Friday the 13th..!


Rocky Gerung 

Pengajar Filsafat, Fakultas limu Budaya. Universitas Indonesia


Sumber: MATABACA, Vol. 5/No. 6/Februari 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar