Minggu, 22 Maret 2026

Khutbah Jumat : Azas Hidup Taqwa

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia.

Pada kesempatan khutbah ini, khatib mengajak kita semua untuk selalu menyegarkan ingatan kita dan merenungkan tentang takwa. Karena pesan-pesan taqwa merupakan inti dari khutbah Jumat. Takwa juga merupakan tujuan dari seluruh ajaran Alquran sebagaimana diterangkan dalam ayat-ayat pertama surah Al-Baqarah:

الۤمّۤۚ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Alif Lam Mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Qs.Al Baqarah, ayat: 1-2)

Takwa ialah pola hidup atau gaya kita menjalani kehidupan, yakni kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita.

اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

"Sesungguhnya Allah bersama kita." (Qs. Al-Taubah, ayat: 40)

Seperti diucapkan Nabi kepada sahabatnya, Abu Bakar, pada waktu beliau berdua berada di Gua Tsur dalam pengejaran kaum kafir Quraisy dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Abu Bakar merasa ketakutan karena hampir diketahui musuh. Lalu Nabi dengan tenang mengatakan:

لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

"Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (Qs. Al-Taubah, ayat: 40)

Kesadaran bahwa Allah beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita.

Pertama, kesadaran itu memberikan kemantapan dalam hidup, bahwa kita ini tidak pernah sendirian. Allah selalu bersama kita. Oleh karena itu, kita tidak akan takut menempuh hidup ini karena kita bersandar kepada Allah. Bersandar kepada Allah disebut tawakal. Salah satu sifat Allah ialah Al-Wakil, artinya tempat bersandar.

حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Qs. Ali Imran, ayat: 173)

Kedua, (dampak yang kedua) dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah akhlaqul-karimah. Mengapa? Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Allah, dan tidak mendapat ridha Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan.

***

Apa itu hal yang diridhai Allah?

Sesuatu yang diridhai Allah itu ialah sesuatu yang bersesuaian dengan hati nurani kita. Dalam diri kita terdapat sesuatu sebagai mudhghah (مُضْغَةً) sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi. sebagai segumpal daging. Suatu perumpamaan segumpal daging ini menentukan seluruh hidup kita:

Ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu (hidupmu) akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu (hidupmu) pun rusak, (daging) itu adalah kalbu.” (HR. Bukhari)

Itulah hati nurani yang diberikan oleh Allah Swt. kepada kita. Hati Nurani merupakan petunjuk pertama untuk menempuh hidup yang benar. Maka, bekal pertama kali bagi manusia dalam mempertimbangkan perbuatan baik dan buruk ialah hati nurani. Nurani merupakan garis lurus antara manusia dengan Tuhan yang disebut as-shirathal-mustaqim (jalan lurus). Jadi, perbuatan baik itu bersesuaian dengan hati nurani.

Sehingga Rasulullah Saw. juga menggambarkan kepada seorang sahabatnya yang bernama Wabishah bin Ma'bad, seorang kampung yang hidupnya sedikit kasar. Wabishah bertanya kepada Nabi, tentang apa itu kebajikan dan kejahatan? Maka Nabi menjawab dengan meletakkan tangannya ke dada Wabishah bin Ma'bad dan mengatakan,

Wabishah, kebajikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram, sedangkan kejahatan adalah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.”

Sabda Nabi:

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada dirimu (Istafti nafsaka), mintalah fatwa pada hatimu (Istafti qalbaka), wahai Wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR Ahmad)

Maka kita mengetahui sesuatu itu diridhai oleh Allah, kalau kita berbuat dengan tulus dan jujur mendengarkan hati nurani kita. Karena itu, dalam hadis disebutkan bahwa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur.

"Nabi Saw. ditanya: Apakah yang paling banyak memasukkan orang ke surga?” Nabi menjawab, "Takwa dan akhlak yang baik.' Nabi juga ditanya, Apa yang paling banyak memasukkan orang ke neraka?' Nabi menjawab, “Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan.” (HR Ibnu Majah)

Hal itu pula yang menjadi dasar alasan, mengapa takwa itu merupakan asas hidup yang benar.

Dalam agama kita, asas hidup itu hanya dua. Yang satu benar dan yang lainnya salah. Azas hidup yang benar ialah taqwa, bertakwa kepada Allah dan selalu berupaya mencari ridho Allah.

Azas kedua, yang salah adalah semua azas hidup yang tidak berdasarkan taqwa dan tak bertujuan mencari ridha Allah.

***

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,

Menempuh hidup berasaskan takwa kepada Allah dan ridha-Nya tidak lain ialah, bagaimana kita menjalani hidup ini dengan terus-menerus ingat bahwa semua tingkah laku kita berada dalam pengawasan Tuhan.

Karena itu, dalam Al-Quran, Surah Ya Sin—yang sering kita baca—bahwa pada manusia itu yang penting adalah amalnya. Dan amal itu akan dicatat oleh Tuhan beserta efeknya atau dampaknya.

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍࣖ

Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas.” (Qs. Ya Sin, ayat: 12)

Jadi, yang kita bawa menghadap Allah adalah amal. Jika manusia itu sudah meninggalkan dunia ini, maka amal itu terwujud di dunia ini dalam bentuk reputasi (nama baik, bisa juga nama buruk).

Seperti dikatakan dalam pribahasa melayu, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal.”

***

Buya Hamka pernah mengutip kata bijak (syair) dari penyair Arab-Mesir, Ahmad Syauqi (1868–1932). Dalam syair Ahmad Syauqi—yang terkenal mengenai reputasi—amal dan kenangan baik yang ditinggalkan seseorang di dunia dapat memperpanjang usia mereka secara maknawi, bahkan setelah mereka wafat.

Bunyi syair Ahmad Syauki:

"Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia."

Maknanya apa?

Syauqi menekankan bahwa manusia memiliki dua umur: umur biologis (ketika bernapas) dan umur sosial (ketika namanya dikenang baik. Itulah umur kedua). Meskipun umur fisik manusia sementara, ia bisa "diperpanjang" dengan meninggalkan amal jariyah, karya, atau reputasi yang baik (sebutan dirimu yang dikenang). Apa yang ditinggalkan seseorang (amal dan nama baik) lebih bernilai daripada sekadar keberadaan fisiknya saat hidup.

Pesan ini bisa menjadi motivasi untuk terus berbuat kebaikan agar terus hidup dalam ingatan manusia dan mendapatkan pahala yang terus mengalir.

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani)

***

Jadi, amal itulah yang akan menjadi reputasi. Reputasi itulah yang dikenang orang kalau seseorang itu sudah meninggal. Ia bisa baik atau buruk. Dan, umur reputasi itu jauh lebih panjang daripada umur pribadi manusia yang bersangkutan. Sampai sekarang kita masih bisa menyebut dengan penuh penghargaan kepada Plato, kepada Aristoteles, misalnya, terutama kepada Nabi Muhammad. Tapi kita juga bisa menyebut dengan penuh kutukan dalam hati, orang-orang seperti Fir'aun, Raja Namrud, Qarun, Abu Lahab, dan lain-lain.

Jadi reputasi itu—nama baik ataupun nama buruk—jauh lebih panjang daripada umur seseorang. Aristoteles tampil di dunia hanya sampai umur 40-50 tahun menurut perkiraan. Tapi sampai sekarang orang masih mengenang dia dan mempelajari pengetahuan yang diwariskan. Inilah amal. Inilah yang dimaksud dalam Surah Ya Sin di atas.

Maka dari itu, agar reputasi kita ini nanti baik, yang berarti mencerminkan apa yang kita alami di akhirat, maka hendaknya kita berusaha betul-betul menyadari Allah itu hadir.

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ

“Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid, ayat: 4)

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

“…dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Qs. Qaaf, ayat: 16)

Dalam bahasa Ibrani ada kata “imanuel”, yang artinya Tuhan bersama kita. Imanu artinya beserta kita, el artinya Tuhan (Allah).

Firman Allah:

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Mujadilah, ayat ke: 7)

Tidak ada empat orang yang berbisik-bisik melainkan Allah yang kelima. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu melainkan Allah selalu beserta mereka di mana pun mereka berada.

Maka dari itu tidak heran, bahwa Al-Quran seperti yang saya kutip di atas, tidak lain tujuannya ialah membuat orang itu bertakwa. Dan seluruh ibadah kita ini pun akhirnya ialah agar membuat kita lebih bertakwa.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ .  إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Rujukan:

1.       Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat, h. 360-367

2.       Ceramah Buya Hamka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar