"Dengan observasi awam saja bisa kita ketahui bahwa berbagai kesulitan yang diperlihatkan oleh performance mahasiswa sebetulnya merupakan kesalahan sekolah menengah atau bahkan sekolah dasar. Bahasa Inggris yang tidak mencukupi, bahasa Indonesia yang kacau, kemampuan menulis yang rendah, dan kebiasaan bicara lisan yang kacau, semua itu seharusnya merupakan masalah di SMP atau SMA, bukan di universitas. Pohon yang layu daunnya tidak disirami di daunnya, tetapi justru di akarnya."
BERTUMBUH: SELALU DARI BAWAH
Oleh: Ignas Kleden *
(MATRA, NO. 9, April 1987, “Cakrawala”)
SEORANG KEPALA KANTOR melihat nama-nama yang diusulkan sebagai calon pegawai di kantornya, kemudian mengembalikan daftar itu dengan agak kasar. Setengah meledak terdengar suaranya kesal dan parau: "Berilah saya seorang yang sudah pintar atau belum pintar, tetapi bebaskanlah saya dari orang-orang setengah pintar." Lho? "Ya! Yang sudah pintar dapat disuruh bekerja, yang belum pintar dapat diajar bekerja, tetapi yang separuh pintar tak mau lagi belajar dan belum dapat disuruh bekerja.”
Dalam pengalaman memang kelihatan, jauh lebih mudah menerima seorang murid yang sama sekali belum dapat mengetik, dan melatihnya mengetik dengan sepuluh jari, daripada melatih seseorang yang sudah terbiasa mengetik dengan dua jari untuk mengubah kebiasaannya dan mengetik dengan sepuluh jari.
KITA BARANGKALI TIDAK mempunyai istilah yang tepat untuk menerjemahkan apa yang oleh Goethe dinamakan Zauberlehrling (yang secara harafiah berarti "murid si tukang sihir"). Terjemahan yang agak tepat ialah "semi-intelektual", "setengah-terdidik". "setengah-terpelajar". Dalam segi kejuruan, hal itu lalu berarti "setengah-terampil", "setengah-terlatih", yaitu mempunyai kecakapan yang tanggung sifatnya.
Karena ketidaktahuan sering kurang berbahaya dari sifat tanggung, dari satu segi pendidikan sebetulnya diperlukan juga usaha sistematis untuk mencegah munculnya orang-orang tanggung, setengah-terdidik, setengah-terampil, semi-intelektual, atau semi- profesional. Lebih baik mempunyai seorang yang sama sekali tidak bisa menyetir ketimbang mendapat sopir dengan kemampuan menyetir setengah-setengah. Seorang yang tidak bisa menyetir memang tidak bisa membawa mobil, tetapi seorang sopir yang tanggung justru akan membawa malapetaka.
TENTULAH BUKAN MAKSUD karangan ini untuk mempropagandakan bahwa pendidikan harus menghasilkan para maestro dan virtuoso. Yang ditolak melalui argumen-argumen di sini ialah ilusi bahwa sebuah tunas dapat bertumbuh menjadi sebatang pohon hanya dalam beberapa hari atau satu dua minggu.
Pendidikan adalah semacam usaha pertanian yang menanam manusia sebagai bibitnya. Tumbuhnya batang padi memang dapat dibuat subur, tetapi jelas tak dapat diakselerasikan. Demikian pun usaha membuat seorang anak manusia "menjadi orang" tidak dapat selalu dipercepat. Beda utama antara sibernetika dan pendidikan ialah bahwa pada yang satu jarak antara input-output bisa diperpendek, sementara pada yang lainnya jarak itu biasanya mempunyai ukuran dan sekuens yang tetap – tentu saja dengan para genius sebagai pengecualian.
ZAUBERLEHRLING ADALAH HASIL pendidikan-paksa, pendidikan-loncat, pendidikan ad hoc pendidikan yang terpikat tujuan tapi mengabaikan proses. Dengan kata lain, pertumbuhan yang terjadi tidak disebabkan dorongan kekuatan dari bawah, melainkan karena ditarik – lebih dari itu: dikatrol – dari atas.
Dengan berbagai kebutuhan baru yang dibawa oleh pembangunan nasional, maka jelas bahwa pendidikan hampir selalu dihubungkan melulu dengan tenaga kerja, yaitu bagaimana orang-orang yang tamat sekolah pada tingkat tertentu dapat mempunyai partisipasi dalam angkatan kerja. Titik berat pelajaran pada learning by doing. Terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia kontemporer ialah: pendidikan siap pakai.
Sementara itu, karena kerja tak bisa menunggu – labor can not wait kata jargon – sementara orang-orang yang bekerja harus mempunyai tanda "tamat sekolah", maka berbagai jalan dicari agar supaya ada cukup orang "tamat sekolah". Semi-intelektualisme dan semi- profesionalisme adalah ibarat membangun rumah bertingkat dengan fondasi yang lemah.
Rumah itu menyenangkan untuk dihuni, sedap dipandang mata, memberikan status sosial tertentu kepada pemiliknya, dan mengundang hormat serta kecemburuan tertentu dari tetangga. Namun, semua itu benar dan berlaku hanya selama tidak ada gempa, topan, atau banjir. Kalau banjir melanda, gempa mengguncang, atau topan menerpa, rumah bertingkat itu segera menjelma menjadi bahaya, bukan hanya bagi penghuni, melainkan juga tetangga. Berarti, kualitas tanggung sering kali tidak begitu menyulitkan selagi situasi normal, dan selama keadaan berjalan biasa dan menyenangkan. Kualitas akan teruji dalam kesulitan dan krisis. Baru pada waktu itu ketahuan bahwa membangun fondasi yang kuat jauh lebih penting dari membangun rumah bertingkat dua.
DITERJEMAHKAN KE DALAM SITUASI pendidikan kita, maka rupanya perlu dipikirkan dan dibicarakan lagi apakah pembaruan pendidikan bukannya harus mulai dari atas tetapi dari bawah. Bagaimana dapat diharapkan studi pasca sarjana yang baik, yang berdiri di atas SD yang tidak mantap?
Dengan observasi awam saja bisa kita ketahui bahwa berbagai kesulitan yang diperlihatkan oleh performance mahasiswa sebetulnya merupakan kesalahan sekolah menengah atau bahkan sekolah dasar. Bahasa Inggris yang tidak mencukupi, bahasa Indonesia yang kacau, kemampuan menulis yang rendah, dan kebiasaan bicara lisan yang kacau, semua itu seharusnya merupakan masalah di SMP atau SMA, bukan di universitas. Pohon yang layu daunnya tidak disirami di daunnya, tetapi justru di akarnya.
Tampaknya sudah lebih terang dari sinar matahari bahwa tidak ada trickle down dalam pendidikan. Yang ada hanyalah bertumbuh dari bawah. Maka usaha menteri Fuad Hassan untuk membereskan gaji guru adalah langkah pertama yang harus didorong, karena dengan itu pohon pendidikan nasional diberi pupuk pertama pada akarnya. Tanpa usaha serius seperti itu pendidikan kita akan tampak indah di tingkah atasnya (dengan bertambah banyaknya doktor, sarjana, atau pemegang diploma) tetapi hanya memerlukan krisis kecil untuk membuktikan apakah semua itu berdiri di atas karang atau pasir.
* Peneliti di LP3ES
Sumber: MATRA, NO. 9, April 1987

Tidak ada komentar:
Posting Komentar