Selasa, 30 September 2025

MEMBAYANGKAN SATU DESA SATU PERPUSTAKAAN

Tulisan AS Laksana


Oleh: AS Laksana


Pada suatu pagi, tiba-tiba saya ingin menulis cerita yang memuat adegan kemarahan orang banyak. Saya pernah melihat seorang pencuri pakaian dipukuli oleh sejumlah orang—itu kejadian lebih dari dua puluh tahun lalu. Ingatan tentang peristiwa tersebut sudah mulai samar-samar dan yang tertinggal di kepala saya hanya gambar tentang seorang teman yang sangat bergairah untuk ikut menendang dan memukul pencuri itu. Saya lihat ia seperti melampiaskan kekesalannya, mungkin karena skripsinya tak kunjung selesai, kepada pencuri yang tertangkap. 

Bertahun-tahun setelah itu, kesadisan bentuk hukuman yang ditimpakan oleh orang banyak kepada pencuri yang tertangkap tidak berkurang. Kita pernah mendengar atau membaca berita tentang pencuri yang dibakar massa, atau dihajar beramai-ramai sampai meninggal, dan orang-orang tetap menghajar si pencuri meskipun di tempat kejadian itu ada polisi. Di tengah kemarahan orang banyak, polisi hanya bisa memandangi orang tersebut dihajar. 

Untuk keperluan membangun adegan sebagus mungkin, saya ingin tahu seperti apa situasinya dan bagaimana ekspresi orang-orang hari ini saat melampiaskan kemarahan. Jika tulisan tersebut jadi, saya berharap bisa membuat pembaca tulisan itu seolah-olah berada di ditempat kejadian: bisa merasakan dengus napas orang-orang yang marah, melihat wajah dan sorot mata, mendengar suara amarah diteriakkan, dan sebagainya sesuai dengan prinsip-prinsip membuat deskripsi yang memikat pembaca. 

Demikian pula yang saya lakukan ketika ingin tahu situasi tawuran antar pelajar atau antar warga. Sudah banyak video yang saya tonton dan saya menjadi muak. Adegan tentang itu tidak juga saya tulis. Yang terus-menerus mengganggu benak saya justru kenapa anak-anak sekolah bisa menyukai tawuran ketimbang membaca buku atau kenapa warga suka tawuran dan tidak suka membaca buku. 

Penjelasan simpelnya bisa begini: Berantem adalah tindakan naluriah atau kecakapan yang melekat pada manusia sejak lahir. Orang tidak harus belajar dan berpikir keras untuk memukul orang atau membalas serangan pihak lain. Ketika tangan atau kaki digigit nyamuk, kita membalas gigitan itu dengan menepuk nyamuk tersebut. Matilah si penyerang. Dan, nyamuk bisa kita ganti dengan makhluk apa saja. 

Sebaliknya, membaca bukan sesuatu yang bersifat naluriah pada manusia. Untuk sesuatu yang tidak naluriah, orang harus belajar dan mengondisikan diri untuk menguasai kecakapan itu. Jika tidak membiasakan diri membaca buku, kita tidak akan memiliki kecakapan membaca buku. Jika tidak menjadikan kegiatan membaca buku sebagai kebutuhan, kita tidak akan pernah memiliki kebutuhan untuk membaca buku. Dan, kita melenyapkan peluang untuk memperoleh pengetahuan atau mendapatkan pengalaman dari kehidupan alternatif yang hadir melalui buku-buku cerita. 

Bagaimanapun pengetahuan disebarluaskan, ditransformasikan dari satu orang ke orang-orang lain, melalui pengajaran—melalui buku. Para pemikir besar menyampaiakn pemikiran melalui tulisan dan mereka menerbitkan buku-buku. Para penulis besar menyampaikan cerita-cerita mereka melalui buku. 

Untuk dua jenis buku, fiksi dan nonfiksi, kita bisa mengatakan bahwa buku-buku nonfiksi membantu kita memahami kehidupan yang kita jalani, buku-buku fiksi memperkaya kehidupan dengan membawa kita mengalami berbagai hal di luar lingkungan kehidupan yang kita jalani. 

Dalam hal ni, kita tergolong masyarakat yang nahas karena kebanyakan di antara kita tidak suka membaca buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Kita lebih menykau tawuran dan gosip. Kita memunggungi perpustakaan dan memilih mal. 

Saya sering berkhayal bahwa semestinya mal-mal memiliki perpustakaan. Perumahan-perumahan yang terus dibangun juga diwajibkan menyediakan ruang publik berupa perpustakaan, setidaknya satu buah bangunan yang akan dijadikan perpustakaan milik bersama warga perumahan. Tempat itu akan dikelola bersama, dihidupkan bersama, diperbarui terus-menerus koleksinya secara bersama-sama oleh seluruh warga. 

Pada masa kampanye, Pak Jokowi pernah menjanjikan hibah dana Rp 1 miliar untuk desa-desa di seluruh Indonesia. Sekarang ia sudah menjadi presiden. Sekiranya janji itu diwujudkan, saya pikir akan sangat menarik jika 10 persen dari dana itu diwajibkan untuk membeli buku dan membangun perpustakaan. Bagi desa-desa yang sudah memilki perpustakaan, 10 persen dana itu bisa digunakan untuk menambah koleksi buku-buku di perpustakaan mereka. 

Dengan Rp 100 juta, kita bisa mendapatkan dua ribu judul buku. Dengan asumsi, satu judul buku rata-rata seharga Rp 50 ribu. Setidaknya, kita bisa membeli buku-buku dari gudang penerbit dan mendapatkan harga yang lebih murah. 

Saya pernah membicarakan tentang gerakan membangun perpustakaan desa ini dengan Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf. Kami berkawan dekat sejak lama dan ia merespons positif gagasan tersebut. Seribu buku untuk setiap desa—demi memulai gerakan masyarakat gemar membaca. Alasan saya sepele saja, setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Jika kesempatan itu ada dan mereka tidak memanfaatkannya, pemerintah sudah menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. 

Alangkah menyenangkan jika ia menjalankan gagasan itu. Saya yakin sebuah langkah kecil dari seorang kepala daerah akan mengilhami lahirnya satu gerakan besar untuk menjadikan setiap warga negara menjadi cerdas. 

Mungkin kita akan sibuk mempertimbangkan buku-buku apa yang harus disediakan. Menurut saya, yang patut dibela adalah anak-anak. Sudah waktunya kita memikirkan bagaimana cara menumbuhkan generasi baru yang gemar membaca buku. Kalau orang-orang dewasa ingin ikut membaca, mereka bisa membaca buku anak-anak yang ada. 

Buku anak-anak cocok juga bagi pembaca dewasa yang sebelumnya tidak memiliki kegemaran membaca buku. Buku anak-anak juga sangat menarik. Tidak hanya dongeng-dongeng, tetapi juga buku-buku nonfiksi. Saya selalu kagum pada penulis anak-anak, yang mampu menyampaikan topik-topik rumit dalam bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Ada buku yang memperkenalkan pemikiran Socrates dan filsafat, memperkenalkan sains, ilmu sosial, dan pelbagai topik lain kepada anak-anak. 

Dulu sekali, saya pernah membaca buku anak-anak yang dimaksudkan untuk memperkenalkan politik kepada para pembaca belia. Buku itu mengajarkan cara membuat keputusan politik melalui aktivitas sarapan pagi. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku tersebut kira-kira berjudul Belajar Berpolitik Melalui Meja Makan. 

Saya tidak tahu banya tentang situasi kita hari ini dan akan bergerak ke arah mana negara ini. Yang bisa saya pikirkan adalah perlunya sebuah gerakan “satu desa satu perpustakaan”. Sekiranya hal ini dijalankan, kita akan memperbaiki kecerdasan generasi mendatang dan menghidupkan industri perbukuan. Itu industri yang secara langsung menopang penyebarluasan pengetahuan. 

Kabar buruk saya dapatkan dari percakapan ringan dengan beberapa orang yang menekuni industri perbukuan. Pendapatan beberapa penerbit besar dan menengah anjlok hingga 50 persen dari pendapatan mereka tahun sebelumnya. Ini situasi menyedihkan meski tidak mengejutkan. Kita tahu, dalam situasi baik-baik saja, buku selalu di deret bawah daftar kebutuhan manusia Indonesia. Dalam situasi lesu, buku adalah yang pertama dicoret dari daftar kebutuhan. 

Saya pikir mestinya pemerintah risau kenapa sekarang rata-rata warga negara ini tidak suka membaca buku. Sekolah juga mestinya risau kenapa murid-murid lebih suka tawuran atau keluyuran di mal ketimbang membaca buku. Jika kerisauan itu tidak ada, seperti inilah situasinya sekarang. Kita hanya sibuk bergelut dengan urusan sehari-hari dan menjadi dangkal—dan sesekali menghajar orang. 

Orang-orang yang mencintai buku dan ilmu pengetahuan, yang bergairah meningkatkan kecerdasan, saya yakin tidak akan gemar menghajar dan membakar orang. (*)


Sumber: Jawa Pos, 6 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar