![]() |
| Arief Budiman |
Oleh: Arief Budiman
Dunia kita sedang berubah cepat sekarang. Ke manakah arahnya, maju atau mundur? Inilah pertanyaan yang sering dilontarkan.
Di satu pihak kita melihat dunia semakin demokratis. Banyak negara yang tadinya menganut sistem politik yang otoriter, sekarang bertumbangan. Yang paling dramatis adalah hancurnya sistem otoriter Uni Soviet dan Eropa Timur. Sukar sekali membayangkan munculnya kembali rezim otoriter di negara-negara ini sekarang. Rakyat di sana tampaknya sudah “kapok” dengan rezim semacam ini. Bahkan seandainya partai komunis mau berkuasa kembali, tampaknya mereka harus mengembangkan sosialisme di bawah sistem politik yang demokratis.
Sedangkan di Asia Tenggara, runtuhnya rezim Marcos, serta gagalnya usaha kaum militer untuk berkuasa lagi di Thailand, menunjukkan bahwa demokrasi memang sedang merambat juga ke kawasan ini.
Inilah yang membuat seorang Francis Fukuyama membuat kesimpulan bahwa umat manusia sekarang sedang memasuki periode “akhir dari sejarah”. Fukuyama mengikuti pemikiran Hegel yang menyatakan bahwa masyarakat manusia bergerak dari periode “hanya satu orang yang berkuasa” (monarki) menuju kepada “beberapa orang berkuasa” (oligarki) dan berakhir pada “semua orang berkuasa” (demokrasi). Menurut Fukuyama, periode akhir inilah yang sekarang sedang kita alami.
Sedangkan Samuel Huntington mengatakan bahwa kita sedang mengalami “gelombang ketiga” dari proses demokratisasi. Menurut Huntington, ada tiga gelombang demokrasi, yaitu:
1. Yang pertama tahun 1828-1926, ketika Amerika Serikat, Eropa Barat, dan negara-negara jajahan Inggris menjadi demokratis, paling sedikit secara minimal. Pada periode ini, lebih dari 30 negara terkena gelombang ini. Kemudian antara 1922-1942, terjadi arus balik, dimulai dengan berhasilnya Mussolini merebut kekuasaan di Italia melalui Partai Fasis yang didirikannya. Fasisme lalu diikuti oleh Jerman, kemudian Jepang.
2. Gelombang kedua terjadi antara 1943-1962. Proses demokrasi terjadi di negara-negara yang kalah perang (Jerman, Italia dan Jepang), di beberapa negara Amerika Latin, serta beberapa negara bekas kolonial. Tapi kemudian terjadi arus balik (1958-1975) dengan munculnya rezim-rezim diktator di Amerika Latin, Asia, dan Afrika (di Indonesia misalnya dengan munculnya Demokrasi Terpimpin).
3. Gelombang ketiga dimulai pada 1974 sampai sekarang. Pertama dengan terjadinya proses demokrasi di Portugal, kemudian diikuti dengan negara, negara di Eropa Selatan, Amerika Latin, Asia dan akhirnya di negara-negara Komunis. Dalam bukunya yang berjudul The Third Wave: Democratization in the Late Twentieth Century (Norman & London: University of Oklahoma Press, 1991: terjemahan buku ini diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti), Huntington membahas teori-teori tentang gejala ini secara menarik. Tapi, untuk artikel ini kiranya cukup kita simpulkan, di kalangan ahli ilmu sosial terdapat pandangan bahwa proses demokratisasi merupakan sebuah gejala yang sedang melanda dunia sekarang. Tentunya ini merupakan suatu hal yang baik.
Seperti juga gelombang-gelombang sebelumnya, gejala ini tampaknya akan diikuti oleh sebuah arus balik. Kita belum tahu kapan arus balik ini akan terjadi. Tapi gejalanya mungkin sudah tampak sekarang. Yang paling mencolok adalah apa yang terjadi di bekas Uni Soviet dan bekas Yugoslavia. Perang etnis secara dahsyat sedang berlangsung di sana. Tentu saja kita masih menunggu apakah hal ini akan membuat negara-negara ini kembali kepada sistem politik yang otoritarian, dan kemudian diikuti oleh negara-negara bekas komunis lainnya? Tapi, meskipun Uni Soviet dan Yugoslavia belum kembali menjadi negara-negara otoriter, dampak dari perang etnis ini sudah menggema di negara-negara yang masih otoriter sekarang. Setiap ada gerakan ke arah demokratisasi, pemerintah otoriter di negara tersebut menunjuk contoh buruk di kedua negara yang sedang pecah ini. Dengan demikian, meskipun belum ada arus balik, apa yang terjadi sudah cukup untuk menghambat proses demokratisasi yang sedang terjadi di negara-negara otoriter. Tapi, meskipun arus balik tampaknya akan terjadi, para ahli ilmu sosial masih berpendapat bahwa apa yang dikatakan Hegel masih tetap benar, yakni sejarah sedang terus bergerak menuju kepada keadaan di mana “semua orang berkuasa” (demokrasi). Proses ini mungkin tidak akan bergerak dalam sebuah garis lurus, tapi berbelok-belok. Dia juga tidak akan licin melaju di atas sebuah jalan bebas hambatan yang mulus, tapi jalan yang ditempuhnya berlubang dan penuh guncangan. Tapi, sejarah akan tetap bergerak maju. Karena itu, adalah wajar untuk bersikap optimistis.
Bagi para penganut teori ekonomi neo-klasik, gejala demokratisasi ini diikuti pula oleh menguatnya sistem pasar bebas alias kapitalisme. Bahkan mereka beranggapan, gejala demokrasi politik ini merupakan akibat atau wajah lain dari proses demokratisasi ekonomi alias pasar bebas. Dalam sistem ini, aktor-aktor ekonomi dibiarkan bebas menentukan apa yang mau mereka lakukan untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Mereka hanya dibatasi oleh mekanisme pasar. Pemerintah sebisa-bisanya dilarang ikut campur tangan.
Terhadap pandangan ini pun diajukan banyak kritik yang keras. Salah satunya adalah perubahan nilai kemanusiaan yang cukup mengkhawatirkan. Ketika pandangan sosialisme masih bertanding dengan kapitalisme dulu, orang berbicara tentang perlunya menenggang mereka yang lemah dan tertindas. Para pendukung sosialisme memang merupakan orang-orang yang romantis, yang berjuang dengan risiko yang besar bagi dirinya. Mereka bersatu dengan kaum buruh yang miskin menghadapi bayonet militer untuk menuntut kenaikan upah. Banyak di antara mereka yang terpaksa masuk ke penjara. Bahkan beberapa dari mereka harus menghadapi regu tembak. Tapi, dengan air mata yang berlinang mereka tetap tegak memandang ke depan, ke dunia yang mereka impikan di mana manusia bisa hidup sama rara sama rasa. Tidakkah ini sebuah romantisme yang mengharukan?
Ideologi kapitalisme dengan pasar bebasnya menciptakan manusia dengan ideal yang berlainan. Yang penting di sini adalah meningkatkan keunggulan komparatif dirinya, supaya memiliki daya saing yang kuat di pasar. Yang dituju adalah keuntungan materiil. Bagaimana dengan idealisme dan solidaritas dengan orang yang papa? Wah, itu "kan hanya ada di khotbah para ulama dan pendeta. Kita sekarang sedang berbicara di dunia nyata, Bung, yang sangat keras dan penuh persaingan.
Maka muncul pertanyaan, apakah melemahnya ideologi sosialisme dan menguatnya kekuatan kapitalisme dengan sistem pasar bebasnya, suatu kemajuan atau kemunduran? Kalau tentang demokrasi mungkin kita masih bisa sepakat bahwa ini adalah gejala kemajuan. Tapi, tentang kapitalisme dan Sistem pasar bebasnya, kita tampaknya masih harus banyak bertanya.
Kompas, 27 Maret 1996
Arief Budiman, intelektual publik
Sumber:
Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar