Rabu, 10 Desember 2025

Kartini dalam Pandangan Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003


Tulisan tentang Kartini di bawah ini saya ambil dari buku Pramoedya Ananta Toer, berjudul: Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003. 


Kartini dan buku

"Tak ada orang di sampingnya, yang menunjukkan kepadanya pada yang indah, yang tinggi yang ada di dekat segala yang rendah dan hina dalam kehidupan ini. Kebiasaan Pribumi membuat sedemikian rupa, bahwa ada suatu jarak yang harus dipertahankan antara orangtua dan anak-anaknya. Memang mereka dapat bergaul akrab satu dengan yang lain, tapi sampai pada keakraban sebagaimana pada orangtua-orangtua Eropa, mereka tiada kan sampai. Ni mencintai Ayahnya, namun, sekalipun tidaklah bakal menyinggung hati orangtuanya, menyatakan pikirannya yang paling intim kepada mereka, ia tak dapat. Dingin dan adem saja etiket Jawa yang keras itu memisahkan mereka berdua. Ni melarikan diri sebanyak mungkin dari orang-orang yang melecehkannya dengan sinisme mereka. Dan di mana adat dan kebiasaan negerinya tak memberinya tempat pelarian di dalam tangan orangtua, di dalam hati orangtua, terhadap jiwanya yang berdukacita menderita itu, ia dapat hiburan pada sahabat-sahabatnya yang pendiam dan bisu: “buku”. 

Selalu ia suka membaca, tapi kini kecintaannya pada pustaka telah menjadi candu. Segera setelah pekerjaan yang ditugaskan kepadanya selesai, tangannya pun menggapai buku, atau koran. Segala-galanya ia baca, apa saja yang jatuh di bawah matanya, ia menelan segala dengan lahapnya, mentah ataupun matang. Ada juga terjadi ia lemparkan buku yang berisikan penuh hal-hal menjijikkan. Tak perlu ia cari-cari di dalam buku, kalau hanya hendak mengetahui hal-hal menjijikkan dan kotor, kehidupan yang nyata ini sudah penuh dengannya, dan justru untuk menghindarkan diri daripadanya, ia masuk ke dalam dunia-dunia yang menciptakan kecerdasan manusia melalui realita atau fantasi. 

Ada banyak buku-buku bagus, yang ini artinya yang membuat ia lupa pada kehidupan yang menjengkelkan ini. Tokoh-tokoh yang indah, pandangan hidup yang mulia, jiwa-jiwa dan pikiran-pikiran besar, membuat hatinya membara penuh semangat dan menggeletar takjub. Ia hidup bersama dengan segala yang dibacanya. Dan tentang bacaan ini ia tiada berkekurangan suatu apa, ia hanya harus mengulurkan tangan ke dalam leestrommel, yang setiap minggu membawakan perbekalan baru, dan Ayahnya sendiri suka dan sering melihat nafsu bacanya, dan dirusakkannya dia dengan hadiah buku-buku. Tak semua yang dibacanya dipahaminya, namun hal itu tak perlu mengecilkan hatinya. Apa yang kurang jelas pada pembacaan pertama, pada pembacaan kedua mulai menerawang, dan pada ketiga atau empat kalinya menjadi agak terfahami. Setiap kata asing yang ditemuinya, dicatatnya, agar kelak, kalau abang yang dicintainya datang, dapatlah ia minta mengartikannya. Dan abang itu selalu menolong adiknya dengan suka hati dan setianya. O! Betapa takjub ia, kalau lambat-laun ia mengetahui, bahwa bacaan itu bukan saja memberikannya kenikmatan, tapi juga pelajaran yang tiada habis-habisnya. O! Sekiranya tak ada padanya bapa yang dicintai, abangnya yang setia dan buku-bukunya, mungkinkah ia dapat lewatkan tahun-tahun gelap itu dengan selamat? Tentulah ia sudah tewas, tak tahan menderitakan tindasan berat kejengkelan yang begitu banyak di atas panggung hidupnya dan jiwanya yang masih begitu muda. Ayah dan abang mengisi hatinya yang menanggung lapar cinta, sedang buku-buku itu mengisi jiwanya yang lapar."

Sumber

Kartini, "Surat Panjang, Agustus 1900", kepada Nyonya Abendanon, dalam Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 73-74.


***

Kartini, Feodalisme, dan Buku-buku Barat


Dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer, menulis tentang pemberontakan Kartini terhadap sistem masyarakat feodalistik Jawa. Kartini tercerahkan karena membacai banyak buku-buku Barat. Pram menulis:

Dalam tulisan-tulisannya Kartini memang tidak pernah menyebut kata “feodal” atau “feodalisme”. Ia hanya menyebut bangsawan, ningrat, belum sampai pada sistem yang mereka dukung. Tetapi mengapakah ia tidak pernah menyebut-nyebut feodalisme sebagai suatu sistem? Apakah ia belum sampai pada pengertian ini ataukah, demi ayahnya, ia sengaja tidak menyebut-nyebutnya? Apabila ia tidak memahami ini, ditambah dengan semangat kerakyatannya yang berapi-api, sebenarnya ia berada di dalam keruwetan, yang hanya dengan banyak luka-luka saja dapat melepaskan diri daripadanya. Tetapi, melihat dari cara ia memandang persoalan hampir tidak pernah meninggalkan kata Rakyat, memberikan kepada orang dugaan yang keras, bahwa sesungguhnya ia memahami feodalisme sebagai sistem, setidak-tidaknya, bila paham ini tidak didapatkannya dari bacaan tentulah dari intuisinya. 

Secara intuitif ia pun tahu kedudukan ayahnya yang tidak bisa diganggu-gugat. Lapisan lebih luas, yang melingkungi Ayahnya, adalah Ibu tuanya, kemudian saudari-saudarinya yang lebih tua daripadanya. Baru kemudian dirinya dan semua adik-adiknya. 

Lapisan yang lebih luas lagi terdiri atas sanak famili yang agak jauh, yang tinggal di kabupaten itu. Kemudian lapisan lebih luas, yang terdiri atas pembantu-pembantu rumahtangga, termasuk di dalamnya tukang jahit, tukang emas, tukang kebun, tukang masak, dan lain-lain.

Antara satu lapisan dengan yang lain, menganga jarak pemisah yang tak dapat diseberangi. Antara satu lapisan dengan yang lain terdapat hubungan perintah, jadi seperti dalam susunan kekuasaan militer. Karena itu simpati Kartini terhadap Rakyat, sebenarnya telah menyimpang dari kebiasaan, ia telah melawan tata hidup feodalisme Pribumi yang sangat keras.

Berabad-abad lamanya tata hidup ini dijalankan terus tanpa suatu protes. Orang tidak pernah merasa keberatan terhadap ini. Mengapa Kartini bisa bersimpati terhadap Rakyat, bukankah Rakyat itu termasuk kasta terbawah, dan sudah semestinya saja menderita? Ini tidak lain disebabkan bacaannya, yaitu buku-buku Barat, majalah dan koran yang ditulis buat semua pembaca, tidak peduli seorang feodal tinggi, menengah, rendah, atau Rakyat jelata. Pengetahuan dari dunia Barat bersifat demokratik, artinya dapat dimiliki oleh siapa saja tanpa memandang tinggi rendah kedudukannya dalam masyarakat ataupun kebangsawanannya. Dari bacaan yang demokratik ini ia dapat mengetahui, secara sadar atau intuitif, bahwa keadaan dunia Barat adalah lebih baik daripada keadaan tata hidup Pribumi. Dari perbandingan ini ia mengerti, bahwa tata hidup pribumi masih sangat terbelakang atau primitif. 

Tata hidup Pribumi yang hanya mengenal atasan dan bawahan, tentu saja menyebabkan orang kurang menghargai perasaan orang lain: kekurangan perikemanusiaan. Dari bacaan itu pula Kartini mengetahui, bahwa dalam kehidupan Barat, manusia satu dengan yang lain berhubungan atau berhadapan sebagai manusia dengan manusia. Sedang di dunia Pribumi Jawa, hubungan semacam itu tidak ada. Yang ada cuma atasan dengan bawahan, yang satu memerintah, yang lain diperintah. Kalau yang diperintah kurang baik melakukannya, ia mendapat amarah atau hukuman. Tidak ada yang bisa melewati pelapisan-pelapisan itu, ada maha pengatur yang mempertahankannya dengan keras dan ganas. Bukan manusia maha pengatur yang sangat berkuasa ini, tetapi hukum, dan hukum itu pun tiada tertulis. Hukum ini biasanya dinamai adat. 

Adat ini dipatuhi dari lapisan masyarakat paling atas sampai paling bawah. Setiap lapisan diperintah oleh adat tertentu. Hubungan antara lapisan yang satu dengan yang lainnya, pun diatur oleh hukum tertentu pula. Setiap tindakan yang diganjur dikendalikan olehnya, sampai-sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya: cara bicara, berdiri, duduk, membuka mulut, mengulurkan tangan, bahkan cara bernafas pun! 

Hanya orang yang mengenal tata hidup dunia lain, sekali pun hanya melalui bacaan, dapat menilai tata hidup dunianya sendiri. Memang “tidak sesuatu yang baru di bawah pancaran sang surya,” kata Kartini, tetapi tidak semua diketahui orang. Dengan pengetahuannya tentang dunia Barat, mulailah ia bisa menilai tata hidup sendiri. (lihat Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 88-89).

***

Kartini dan Kritik atas Feodalisme


Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, menjelaskan dengan baik sekali tentang sikap Kartini terhadap tata hidup masyarakat “feodal".

Feodalisme, menurut Pram, tidak lain adalah "imperialisme Pribumi" yang hidup di dalam masyarakatnya sendiri. 

Pram menulis:

Hubungan antara orang-orang feodal dalam lingkungan kecil semacam itu telah memenuhi hampir seluruh sastra tradisional Jawa, terutama di dalam kitab Babad Tanah Jawa, sebuah kronik raja-raja Jawa yang ditulis pada abad yang lalu. Hubungan yang kaku antara orang-orang feodal Jawa ini dapat ditemukan kembali di dalam drama (wayang) yang mengisahkan epos-epos Hindu Mahabharata dan Ramayana. Tetapi sampai sedemikian terperinci, baru Kartini yang menulis. 

Dari kutipan-kutipan kecil itu nampaklah, bahwa kehormatan manusia terletak pada nilai kebangsawanannya, tak peduli orang itu bodoh atau tidak, beradab atau tidak, kejam atau tidak. Barangsiapa tinggi kebangsawanannya, dia berhak dihormati oleh siapapun yang kurang keningratannya, tak peduli orang itu lebih terpelajar, lebih berbudi, ataupun lebih bijaksana. Maka juga nilai manusia tidak terletak pada kemampuannya, kebisaannya, dan jasanya kepada masyarakatnya—semua itu tidak berarti dalam tata hidup feodalisme Pribumi Jawa. 

Sebagaimana nampak pada surat-suratnya yang akan dikutip kemudian, Kartini tidak membenarkan tata hidup “feodalisme yang penyakitan” ini, karena dengan tata hidup demikian baik dan buruk tidak ada batasnya, bahkan tidak punya bentuk ataupun isi, karena semua itu tidak berarti. Yang menjadi ukuran hidup kemudian adalah anggukan atau gelengan kaum feodal. Kalau kaum feodal mengangguk, itulah ketentuan bahwa segala-galanya boleh diperbuat. Segala-galanya! Demikian pula sebaliknya kalau kaum feodal menggeleng. Ilmu pengetahuan sama sekali tidak berharga. 

Tetapi apakah sebabnya tata hidup sedemikian dipertahankan terus? Dan mengapa dia bisa bertahan terus? Bukankah dia menunjukkan kurangnya kesusilaan, peradaban, dan tidak memungkinkan timbulnya setiakawan antarmanusia? 

Menurut paham zaman modern dewasa ini, zaman yang sudah diresapi semangat demokrasi, tata hidup “feodalisme yang sakit” itu tidak lain daripada imperialisme Pribumi yang hidup di dalam masyarakatnya sendiri. Pada zamannya tata hidup ini memang memberi rahmat kepada masyarakat, karena hanya dengan pelapisan-pelapisan yang sangat keras itu masyarakat bisa diatur dan dibela terhadap serangan-serangan dari  luarnya yang terlampau sering terjadi. 

Dengan runtuhnya Majapahit, sebenarnya selesailah zaman feodalisme Pribumi ini. Zaman Islam di Jawa belum sempat melakukan perombakan tata hidup ini, karena tidak berapa lama kemudian masuklah penjajah Barat. Justru melalui kaum feodallah Rakyat Pribumi dikalahkan oleh penjajahan Barat. Kemudian penjajah itu mempertahankan terus berlangsungnya tata hidup itu, karena hanya dengan jalan demikian perikemanusiaan, ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan setiakawan dapat dihalang-halangi tumbuhnya. 

Melalui kaum feodal, dalam tata hidup feodalisme, Rakyat Pribumi diperintah oleh penjajah (Belanda, Inggris, Portugis, Prancis), sehingga penjajah itu sendiri tidak perlu bekerja payah-payah. 

Sudah tentulah, bahwa dalam tata hidup ini petani dan pekerjalah, yang sangat menderita, karena jasa mereka terhadap masyarakat tidak diakui, dan sementara itu mereka harus hidupi kaum feodal, yang tidak berbuat atau bekerja sesuatu pun. Maka "kerja" sama nilainya dengan kehinaan, dan tidak kerja sama nilainya dengan kemuliaan. 

Kalau Kartini menyerukan “kerja!" apalagi buat Rakyatnya, malah ingin “disebut dengan satu nafas dengan Rakyat”, ini tidak lain daripada kata-kata lain yang menyatakan pemberontakannya terhadap seluruh tata hidup feodalisme Pribumi, suatu revolusi jiwa yang tidak kurang dahsyatnya daripada revolusi apapun. Ia bukan lagi menentang dan melawan perseorangan, ia telah perangi dan berantas suatu sistem, suatu tata hidup. 

Tata hidup ini nampak oleh Kartini secara lebih intensif di dalam lingkungannya sendiri—lingkungan kabupaten yang terkurung oleh tembok tebal lagi tinggi. Pelapisan-pelapisan yang ada tidak lain daripada kerja berat dan rintihan pada lapisan yang lain. Lapisan yang bawah menderita karena lapisan yang di atasnya lagi, dan demikian seterusnya. 

Permaduan adalah salah satu mata rantai penderitaan raksasa ini. Tidak ada seorang bawahan pun, apa lagi wanita, berani menolak perintah bangsawan untuk menjadi istrinya yang ke sekian atau ke sekian. Permaduan ini bukan berasal dari agama Islam, tetapi dari tata hidup feodalisme itu sendiri, jadi jauh sebelum masuknya Islam.

Dan di lingkungannya sendiri ini ia saban hari melihat permaduan itu beserta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Ayahnya sendiri yang mempermadu wanita-wanita itu, dan ibu-ibunya sendiri yang dimadu itu. Dari lingkungannya sendiri ini Kartini memahami keburukan permaduan sebagai matarantai penderitaan raksasa. Kalau dalam perlawanannya terhadap tata hidup feodalisme ia dapatkan Ayahnya sendiri sebagai benteng yang melindungi musuhnya, juga dalam penolakannya terhadap permaduan, kembali ia dapatkan Ayahnya yang sangat dihormati dan dicintainya itu sebagai benteng yang melindungi musuhnya. Sedang Kartini sendiri dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah benteng musuh ini.

Dengan memahami posisinya ini, orang akan lebih mudah mengerti, betapa sulit sebenarnya hidup Kartini. Sedang sezarah pun ia tidak ingin melukai hati Ayahnya. Dan sikap ini pula, yang menyebabkan Kartini untuk selama-lamanya terbelah dalam perjuangannya. Dalam salah sebuah suratnya ia menyatakan, bahwa adat yang diturutnya itu tinggal hanya cintanya terhadap Ayahnya. Sekalipun demikian, hal itu tidak mengurangi keterbelahannya. 

Pengetahuan Kartini tentang dunia Pribumi sebenarnya hanya perluasan daripada pengetahuannya tentang lingkungannya sendiri yang kecil, karena segala apa yang terjadi di luar, terjadi pula di dalam kabupaten. Yang berbeda hanyalah format dan variasinya, nilai dan warna dan macamnya. 

Sudah sejak semula orang telah mengenal sikap Kartini terhadap lingkungannya, terhadap tata hidup feodal: ia melawan dan memeranginya, terkecuali ayahnya. Ia lebih bersimpati pada Rakyat jelata dengan penderitaannya. Kepada kaum feodal ia menyatakan proklamasinya: “Adeldom verplicht” atau: Kebangsawanan mewajibkan, artinya makin tinggi kebangsawanan seseorang, makin berat tugas dan kewajibannya terhadap Rakyat. 

Ini berarti Kartini ingin menyembuhkan tata hidup “feodalisme Pribumi yang sakit” itu, dan mengembalikan tugasnya seperti pada zaman sebelum jatuhnya Majapahit. Bila kebangsawanan itu tidak sanggup memikul tugas dan kewajiban itu, dia pun tidak berarti sesuatu pun, dan hanya merupakan beban belaka bagi masyarakat (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 91-93).

***

Kartini: Multatuli dan Berbagai Bacaannya

Dan karena Rakyat itu hidupnya sangat tergantung pada pertanian, dan pertanian pada gilirannya tergantung pada teraturnya musim, kalau musim tidak menepati janji seluruh Rakyat akan menerima bencana, seperti yang terjadi pada tahun 1901. Waktu itu musim kering melewati waktu yang semestinya, “Di mana-mana keadaan tidak sehat karena kekeringan besar itu. Kasihan negeri ini,” kata Kartini, “apalagi yang melayang-layang di atas kepalamu terkecuali penyakit-penyakit yang berbahaya itu?” 

Kartini menulis:

"Oleh karena kekeringan besar ini hampir di seluruh negeri berbagai sawah rusak. Di Grobokan, bencana ini lebih-lebih lagi, di sana berjangkit bahaya kelaparan, dan dengan ngeri dan gigil orang di Demak dengan 26.000 bahu sawah gagal dan dalam pada itu mengamuk pula kolera, menghadapi musim hujan yang setiap tahun membenam daerahnya. Kasihan negeri ini, yang kekeringan di musim kering karena bencana air, dan di musim hujan terbenam karena bencana air pula." 

Melihat kondisi yang serba buruk itu ia ingin membaktikan tenaganya kepada mereka. Kalau saja diijinkan ayahnya—dan ijin ini penting sekali; karena ia tak mau melewati ayahnya begitu saja—ia mau serahkan segala-galanya buat kepentingan Rakyatnya. Tetapi justru itulah yang ia tidak diperkenankan melakukannya. Karena itu ia tidak pernah hidup di tengah-tengah Rakyat Pribumi secara akrab dan wajar. Hanya simpati dan pikirannya yang hidup, berjuang, dan menderita bersama dengan Rakyat. 

Pengenalannya terhadap Rakyatnya sebagian didapat dari bacaan Multatuli, dari koran dan majalah, serta dari diskusi-diskusinya dengan orang-orang terpelajar, terutama sekali dari Ayah dan Pamannya sendiri. 

Hubungannya dengan Rakyat memang terbatas, tetapi mendalam, dan ia melihatnya dengan pandangan yang jernih, baik tentang kekurangannya maupun kelebihannya. Bacaan tentang Rakyatnya sendiri, selain yang berbahasa Belanda juga yang berbahasa Jawa. 

Pada-suatu kali karena ia dianggap telah menjadi orang Belanda sedang ia sendiri tidak membenarkannya itu, sedang untuk membuktikan ketidakbenaran tuduhan umum itu, Kartini dengan tulus dan ikhlas mulai mempelajari buku-buku berbahasa Jawa, maka, Kartini menulis:

"Seseorang orang tua karena girangnya tentang itu, datang kepada kami menyerahkan koleksi bukunya, naskah-naskah Jawa tulisan tangan, di antaranya berhuruf Arab.... Barangkali kau sudah mengetahui, buku-buku Jawa sangat susah bisa didapatkan, karena masih tertulis dengan tangan, hanya beberapa di antaranya saja tercetak. Sekarang kami sedang membaca sajak-sajak indah, ajaran-ajaran yang bijaksana tertulis dalam bahasa bunga. Betapa inginku kau mengenal bahasa kami; o, ingin sekali aku berbagi kenikmatan dengan kau tentang bahasa ini membaca dari aslinya; dalam terjemahan tentu tiadalah seperti aslinya. Tiadakah hasratmu buat mempelajari bahasa Jawa? Bahasa itu sangat sukar, memang, tetapi duh betapa indahnya! Bahasa ini adalah bahasa perasaan penuh puisi dan... tajam. Sering takjublah kami, anak-anak negeri ini sendiri tentang ketajaman orang-orang sebangsa kami. Kau tiadalah dapat bayangkan, apapun mereka bisa lukiskan. Sebut saja sesuatu, sembarangan saja, tunjuklah sesuatu benda, dan seorang Jawa yang cerdas (geestig), yang terutama sekali banyak kau dapatkan di antara Rakyat yang sesungguhnya, tahu saja dengan segera untuk menyajakkannya, yang mentakjubkan oleh karena ketajamannya dan kecerdasannya (geestigheid). Itulah bakat pada orang Timur barangkali."  

Di antara pustaka warisan nenek moyangnya sendiri yang dibacanya adalah Wulangreh, dan dengan sendirinya, sebagaimana biasanya pada anak-anak feodal pada masa itu juga buku Centini, dan sudah pasti hikayat-hikayat wayang, hikayat berantai Panji, hikayat berantai Menak yang berlaku di Asia Dekat. Kecintaannya pada bahasa dan sastra Jawa tidak lain daripada pernyataan dalam bentuk lain akan cintanya pada bangsa dan Rakyat serta negerinya. Hanya ia menyayangkan, bahwa sastra itu: 

"... begitu banyak mengandung simbolik dalam bahasa yang tidak dapat dipahami oleh orang biasa. Dan ini pula lagi: orang Jawa menangkap buku-bukunya secara harfiah, dan karenanya pabila tidak semua maka banyak di antara nilai-nilainya yang praktis menjadi mubazir. 

Dalam moral Jawa, misalnya, ada dipujikan mengurangi makan dan tidur sebagai jalan ke arah kesejahteraan kehidupan fana dan baqa. 

Pikiran-pikiran indah yang menjadi dasar tulisan-tulisan tersebut luputlah bagi massa pembaca. 

Maka orang pun berpuasa, berlapar diri, berjaga, dan berkhayal sedemikian rupa, sedang gagasan bagus itu tergelincir daripadanya. Tidak makan, minum, atau tidur menjadi tujuan hidup—dan—dengan jalan menderita (ikhtiar, penguasaan diri, dan pembatasan diri) akan mendapatkan kebahagiaan! 

Dan demikianlah orang berbuat dalam banyak hal lagi."

Memang sastra Jawa yang telah tertulis, sampai sejauh itu adalah sastra feodal, yang bukan saja tidak terbaca oleh Rakyat jelata, tetapi memang pada mulanya tidak boleh dibaca sebagai akibat dari pengaruh Hinduismes yang tidak mengizinkan kasta sudra dan paria mendengar weda-weda mereka. Dalam hal ini sastra Jawa mempunyai wajah yang serba sebaliknya daripada sastra Melayu yang terus-menerus bersifat demokratik sekalipun dengan tema-tema feodal. 

Dan apabila Kartini meninggalkan sastra feodal Jawa yang penuh retorik gagah, penuh kontras antara yang putih dan yang hitam, antara nilai-nilai moral tradisional dengan kepahlawanan-kepahlawanan satria-satria di dalam peperangan, kehalusan-kehalusan para wanitanya dan kemurnian-kemurnian para bhagawan, mendadak sontak Kartini berhadapan dengan pendapat umum dari kalangan orang-orang Belanda kolonial bahwa (Kartini menulis): "Orang Jawa adalah pembohong turunan yang sama sekali tidak bisa dipercaya." (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, 95-98).

***

Feodalisme: Memecahbelah Masyarakat dan Sikapnya di Hadapan Kekuasaan Kolonial

Terlalu banyak memang hubungan antara kaum feodal dengan bawahan terutama Rakyat jelata yang dirasai oleh Kartini mengganggu perasaan kemanusiaannya. Dan hubungan semacam itu tidak bakal menimbulkan persatuan di kalangan Pribumi. Feodalisme itu sendiri telah merupakan tata hidup yang memecah-belah masyarakat dalam lapisan dan susunan hamba-berhamba. Jangankan persamaan yang memang sudah ditentang oleh feodalisme itu, bahkan persaudaraan pun tidak ada—juga antara saudara seibu-sebapa. Tanggung jawab sosial yang ada hanya berasal dari bawah kepada kaum feodal, sebaliknya kaum feodal tidak bertanggung jawab sesuatu kepada bawahannya, apa lagi Rakyat. Kebebasan berbuat kaum feodal ini makin tinggi kefeodalannya, makin mutlak, terkecuali terhadap satu-satunya batasan yang tidak bakal diterjangnya tanpa mengalami kehancuran sendiri: pemerintah penjajahan Hindia Belanda. Dalam usahanya untuk memajukan Rakyat, siapa pun menghadapi pemerintah jajahan ini sebagai penghalang, tapi dalam pada itu terutama penghalang dari pihak Pribumi sendiri: kaum feodal. h. 104-105

***

Benar sekali, bahwa bidang penggarapan Kartini di sini cuma dibatasi sampai keamtenaran atau kepangrehprajaan semata. Tetapi pun tidak dapat dilupakan, bahwa pada masa itu bidang kesatriaan adalah bidang kepangrehprajaan ini, dan berabad-abad lamanya Dunia Pribumi rusak karena lapisan satria, yang memerintah ini, telah kehilangan pusatnya, yaitu Brahman atau konseptor, pencipta konsep-konsep yang semestinya lapisan satria itu yang mewujudkannya. Tanpa Brahman, tanpa konseptor, lapisan satria menjadi gelandangan tanpa pegangan, tidak tahu dengan tepat apa sesungguhnya mereka harus kerjakan, sehingga Bung Karno mempergunakan pencirian atas tata hidup mereka sebagai “feodalisme sakitan”. Justru dengan tulisannya tersebut, sekalipun cuma menggarap bidang kepangrehprajaan, bidang kesatriaan, tanpa disadarinya Kartini sebenarnya telah menduduki tempat sebagai Brahman, sebagai pemikir, sebagai konseptor. Paling sedikit ia telah meletakkan konsep, bahwa: kedudukan amtenar harus lebih banyak direbut oleh Pribumi terpelajar. h. 113

***

Pribumi yang Telah Maju 

Kartini menggambarkan masyarakat Pribumi sebagai “rimba-belantara” yang gelap-gulita. Kalau ia banyak bicara tentang “terang”, itulah obor-obor yang diharapkannya jadi penerangan dalam “rimba-belantara” yang gelap-gulita. Tanpa malu-malu Kartini mengakui, bahwa obor-obor itu tidak lain daripada intelektualitas Eropa, yang belum lagi dikuasai oleh Pribumi. Dengan intelektualitas Eropa itulah “rimba-belantara” yang gelap-gulita itu akan menjadi padang luas yang terang benderang bagi setiap orang. 

Kalau di sini dikatakan intelektualitas Eropa bukanlah berarti, bahwa di Timur tidak ada intelektualitas itu. Yang dimaksudkannya dengan intelektualitas Eropa tidak lain daripada ilmu pengetahuan yang ada pada waktu itu memang hanya Eropa saja yang menguasai. Pada masa itu Eropa itulah benua yang mengendalikan seluruh dunia, dan tidak ada kekuatan di luarnya yang tidak dapat dipatahkan olehnya. 

Dalam “rimba-belantara” yang gelap-gulita ini di sana-sini muncul lelatu-lelatu kecil yang berasal dari terang yang dibawa oleh Eropa. Lelatu-lelatu kecil ini tidak lain daripada Pribumi yang telah maju. Sesuai dengan kelelatuannya, dia atau mereka ini baru dapat memberi terang pada kelilingnya yang kecil (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 125).

***

Kartini, Barat, dan Bangsawan Budi

Kartini mengenal Dunia Barat sudah sejak masa kanak-kanak, yaitu waktu buat pertama kali memasuki sekolah rendah untuk orang-orang Eropa. Secara intuitif ia ketahui perbedaan, bahkan pertentangan, antara pergaulan Barat dan Pribumi. Di rumahnya sendiri ia menjadi hamba dari semua saudaranya yang lebih tua, dan siapa saja yang dalam pelapisan tata hidup feodal itu setingkat kebangsawanannya dengannya, tetapi yang umurnya lebih tua daripadanya. Dalam pergaulan dengan anak-anak Eropa, yang demikian tidak didapatinya. 

Ia dapati Dunia Barat, setiap anak sama haknya dengan anak yang lain. Di dalam Dunia Barat ia merasa lebih bebas, lebih penuh. Setiap larangan bukan ditentukan oleh suka-tidaknya orang-orang yang lebih tua atau lebih berbangsa daripadanya, tetapi berdasarkan alasan-alasan yang bisa diterima. 

Daya observasinya telah membantu ia memahami, bahwa Dunia Barat bersuasanakan demokrasi, dan ia merasa lebih cocok hidup di dalam suasana ini. Kecintaannya pada demokrasi, pada Dunia Barat kemudian berpadu dengan kesukaannya akan hal-hal baru yang berasal dari Eropa: ilmu dan pengetahuan.

Tambah lama ia tambah mengerti tidak benarnya tata hidup feodalisme seperti telah banyak tertulis dalam surat-suratnya. Kalau ia berpaling pada Dunia Pribumi, dunianya sendiri, maka nampak olehnya bahwa pembesar-pembesar Pribumi itu menduduki pangkat tinggi, bukanlah karena kecakapannya, bukan karena ilmu dan pengetahuannya, tetapi hanyalah karena darahnya. Dan dari pengalamannya sendiri serta pengetahuannya dalam bahasa Belanda, tentulah ia sejak kecil dapat melihat betapa rendahnya nilai pengetahuan para pejabat Pribumi yang pernah bicara dengannya sebagai anak sekolah. Sekalipun Kartini tidak pernah menyebut-nyebut, dapat dipastikan, bahwa secara intuitif pula ia dapat rasai keunggulan moral orang-orang yang berpengetahuan dibandingkan dengan pejabat-pejabat Pribumi yang kurang pengetahuannya. Karena itu bukan suatu kebetulan bila ia pernah menyatakan, bahwa kebangsawanan darah tidak berarti. Baginya hanya ada bangsawan jiwa dan budi. 

Juga bukan suatu kebetulan, bila ia bangga pada keluarga terpelajar sejak kakeknya (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 149).

***


Kartini dan Dunia Barat


Kartini mengenal Dunia Barat sudah sejak masa kanak-kanak, yaitu waktu buat pertama kali memasuki sekolah rendah untuk orang-orang Eropa. Secara intuitif ia ketahui perbedaan, bahkan pertentangan, antara pergaulan Barat dan Pribumi. Di rumahnya sendiri ia menjadi hamba dari semua saudaranya yang lebih tua, dan siapa saja yang dalam pelapisan tata hidup feodal itu setingkat kebangsawanannya dengannya, tetapi yang umurnya lebih tua daripadanya. Dalam pergaulan dengan anak-anak Eropa, yang demikian tidak didapatinya. 

Ia dapati Dunia Barat, setiap anak sama haknya dengan anak yang lain. Di dalam Dunia Barat ia merasa lebih bebas, lebih penuh. Setiap larangan bukan ditentukan oleh suka-tidaknya orang-orang yang lebih tua atau lebih berbangsa daripadanya, tetapi berdasarkan alasan-alasan yang bisa diterima. 

Daya observasinya telah membantu ia memahami, bahwa Dunia Barat bersuasanakan demokrasi, dan ia merasa lebih cocok hidup di dalam suasana ini. Kecintaannya pada demokrasi, pada Dunia Barat kemudian berpadu dengan kesukaannya akan hal-hal baru yang berasal dari Eropa: ilmu dan pengetahuan.

Tambah lama ia tambah mengerti tidak benarnya tata hidup feodalisme seperti telah banyak tertulis dalam surat-suratnya. Kalau ia berpaling pada Dunia Pribumi, dunianya sendiri, maka nampak olehnya bahwa pembesar-pembesar Pribumi itu menduduki pangkat tinggi, bukanlah karena kecakapannya, bukan karena ilmu dan pengetahuannya, tetapi hanyalah karena darahnya. Dan dari pengalamannya sendiri serta pengetahuannya dalam bahasa Belanda, tentulah ia sejak kecil dapat melihat betapa rendahnya nilai pengetahuan para pejabat Pribumi yang pernah bicara dengannya sebagai anak sekolah. Sekalipun Kartini tidak pernah menyebut-nyebut, dapat dipastikan, bahwa secara intuitif pula ia dapat rasai keunggulan moral orang-orang yang berpengetahuan dibandingkan dengan pejabat-pejabat Pribumi yang kurang pengetahuannya. Karena itu bukan suatu kebetulan bila ia pernah menyatakan, bahwa kebangsawanan darah tidak berarti. Baginya hanya ada bangsawan jiwa dan budi. 

Juga bukan suatu kebetulan, bila ia bangga pada keluarga terpelajar sejak kakeknya. 

Secara intuitif pula ia mengerti, bahwa untuk bisa menjadi kuat seperti orang Barat, ia harus menguasai apa yang juga dikuasai orang Barat, yaitu ilmu dan pengetahuan. Dan untuk menguasai ini hanya ada satu jalan terbuka yaitu: mempelajari bahasa Belanda. Ia mengerti, mempelajari dan bisa bahasa Belanda bukanlah tujuan. Bahasa Belanda barulah alat semata untuk bisa sampai pada peradaban Eropa. Maka dengan keuletan luar biasa ia pelajari bahasa ini sampai menguasainya. Dan dengan bahasa ini pula ia melakukan kontak langsung dengan Dunia Barat semasa, yang di samping diwakili oleh buku-buku juga oleh orang-orangnya. Sejak kecil ia telah memperlihatkan bakat luar biasa dalam bahasa Belanda ini. 

Kunjungan Kartini ke kapal perang merupakan salah satu peristiwa penting dalam hidupnya. Sedang pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya kepada Carel Balsem tidak lain daripada semangatnya yang keras untuk menguasai peralatan Barat itu dalam segala bidangnya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu tidak lain daripada semangat demokrasi yang telah bekerja dalam diri Kartini. Jadi demokrasi itu bukan hanya sebuah begrip atau pengertian, tetapi telah menjadi bagian dari dirinya sendiri. 

Dalam kontaknya dengan orang-orang Barat lainnya, ia pun menunjukkan kebebasan jiwanya yang luar biasa ini—sama sekali meninggalkan watak merangkak-rangkak feodal Jawa—dan menghadapi siapa saja dengan hati dan otak tegak. Demikian pula ia hadapi direktur departemen pengajaran Mr. J.H. Abendanon dan Nyonya, rombongan Gubernur Jendral Rooseboom, ajudan Gubernur Jendral de Booy dan Nyonya, Dr. Brandes, Dr. Bervoets, Prof. dr. G.K. Anton dan Nyonya, Dr. N. Adriani, Ir. H.H. van Kol, Ir. E.C. Abendanon, pejabat-pejabat tinggi pangrehpraja di Jepara, residen Semarang, dan sebagainya. Dengan mereka Kartini juga bersurat-suratan, tetapi tidak semua dapat ditemukan atau tidak diumumkan dalam Door Duisternis tot Licht. 

Orang-orang Barat menganggap, bahwa tahun 1900 merupakan tahun penting bagi Kartini dalam kontak-kontaknya dengan Dunia Barat. Hal ini tidaklah tepat. Karena 1899-lah tahun terpenting baginya, karena pada tahun ini ia berhubungan dengan sahabat pena dari Eropa: Estelle Zeehandelaar—ia sendiri sebagai seorang berjiwa merdeka di negeri terjajah, Stella seorang berjiwa merdeka di negeri yang merdeka. Sementara orang Indonesia menganggap, bahwa hubungannya dengan Belanda pejabat-pejabat tinggi, tidak lain dari watak Blandis Kartini. Kenyataannya adalah, bahwa dengan jiwa merdeka itu ia dapat berhubungan dengan siapa saja yang menganggapnya bukan hamba, dan menghadapinya setingkat dan sederajat, dan dengan penghargaan. Hal demikian tiada bisa didapatkannya dari orang-orang sebangsanya yang terbungkuk-bungkuk diperhamba oleh feodalisme jaman tengah, serta di dalam keadaan di mana yang dihargai hanyalah ketinggian keningratan dan pangkat. 

Tetapi semua itu bukan berarti, bahwa Eropa adalah pola satu-satunya di atas bumi ini, yang harus jadi cetakan bagi semua negeri di luarnya. Tak pernah Kartini menganggap, bahwa Eropa adalah sorga. Ia pun mengetahui segi-segi gelap benua impian ini. Ia memahami juga kekurangan-kekurangannya. Sebagaimana halnya dengan negeri dan bangsanya sendiri ia pun melihat kelebihan dan kekurangan pada kedua-duanya. (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 149-154).

***

Barat yang dikenal Kartini dari bacaan 


Barat dikenal Kartini melewati tiga jalan. Pertama-tama adalah yang dapat disaksikannya sendiri dengan pancainderanya. Jalan kedua adalah observasinya yang mencakup hubungan Pribumi-Barat secara luas, sehingga memberinya kesimpulan urgensinya pergi ke Eropa. Jalan ketiga adalah bacaannya dari karya orang-orang Eropa di berbagai bidang, terutama di bidang sastra, yang mencerminkan kehidupan kalbu Eropa. 

Mula-mula sekali Kartini mengagumi dan memuja Multatuli karena karyanya yang besar, dengan sikap yang masak, pancaran perasaan keadilan dan kemanusiaan yang tiada tara dalam abad ke-19 itu. Ia tetap mengagumi dan memuja pujangga besar ini, bahwa memberinya kekuatan yang tidak terpatahkan dalam memilih pihak Pribumi atau Barat. Kartini tetap berpihak pada Pribumi. Protes, kecaman, anjuran, penolakan dalam tulisan-tulisannya bernapaskan pengaruh Multatuli. Pemihakannya adalah mutlak Multatuli di samping intuisinya akan kejahatan kolonialisme. 

Bagi masa itu Kartini merupakan keluarbiasaan karena banyaknya sastra Belanda yang dibacanya. Dan karena tiada bimbingan ke arah apresiasi sastra, bacaan ini—seperti dinyatakan oleh R. Nieuwenhuys—adalah campur-aduk, tidak menurut cara studi yang semestinya. Apakah bacaan yang campur-aduk ini punya pengaruh buruk? Sedikit-banyak memang ada, terutama pergaulannya dengan para pengarang kecil Belanda—pengarang-pengarang wanita—yang masing-masing mendesakkan teori-teorinya sendiri, tanpa memberikan petunjuk kepadanya garis sejarah sastra Belanda yang sehat. Tetapi apa yang telah dilewati Kartini dalam hidupnya tidak mungkin bisa diperbaiki generasi sesudahnya. Orang hanya bisa menjejak kembali bacaannya, yang sedikit atau banyak berpengaruh atas dirinya. 

Setelah Multatuli, ia membaca Couperus (Louis Marie Anne) lahir tahun 1863 di 's-Gravenhage dan meninggal pada tahun 1923. Sejak tahun 1873 Couperus pergi ke Hindia dan bersekolah di Gymnasium di Batavia, kemudian balik ke Nederland. Pada tahun 1899 ia pergi lagi ke Hindia. Menurut Kartini, “bahasa Couperus sangat indah tiada duanya.” Sayang sekali Kartini tidak pernah menjelaskan apa yang pernah dibacanya dari karya pujangga Belanda ini. Dan sangat sulit untuk mengemukakan salah sebuah dari karyanya yang tidak kurang dari 30 buah buku itu. Mungkin sekali Kartini pernah membaca salah sebuah dari 4 buah karyanya yang pertama, yaitu Eline Vere, Een Haagsche Roman, Nootlot, Extaze, Eene Illuzie, dan Majesteit. (h. 158-159)

***

Multatuli Ditulis Tanpa Acuan Sastra

Inwijding sebenarnya sebuah roman yang belum selesai. Dan pengarangnya sendiri termasuk salah seorang pelopor Angkatan '8o Belanda, dan menempati kedudukan yang sangat penting dalam sejarah sastra Belanda. Dan hampir-hampir sebagaimana halnya dengan De Kleine johannes, cuma tidak dalam bentuk cerita. Inwijding merupakan sebuah potret diri dari pengarangnya.

Berbeda daripada Multatuli, seorang anak dari kalangan rakyat jelata, yang sudah sejak kanak-kanak telah memasuki kehidupan, dan menulis tanpa acuan sastra serta lebih banyak didorong oleh gugatan kemanusiaan, Vosmaer berasal dari keluarga berada, menamatkan pelajaran pada waktunya, hidup teratur, dan sebelum menceburkan diri dalam dunia sastra telah mempelajari secara mendalam masalah-masalah keindahan dalam sastra. Hal ini dengan sendirinya menyebabkan karyanya mengembangkan tradisi sastra Belanda yang sudah ada, jadi tidak menempati kedudukan khusus. Adalah mengherankan juga, bahwa Kartini yang mengagumi Multatuli yang menulis tanpa acuan sastra itu dapat juga menikmati Vosmaer. Tetapi justru dari fakta selera sastra ini orang dapat mengetahui, bahwa Kartini sendiri sebenarnya tidak menghiraukan bentuk-bentuk dalam sastra. Ia lebih mengutamakan isi. 

Pengarang Belanda yang paling banyak disebut Kartini, terkecuali Multatuli, adalah de Genestet (Petrus Augustus) yang dilahirkan pada tahun 1829 di Amsterdam dan meninggal di Rozendaal pada tahun 1861. Rupa-rupanya de Genestet adalah seorang penyair yang disukai Kartini. Ia pernah mengutip salah sebuah sajaknya Een Meikindje atau Bocah Kelahiran Mei, buat putera Nyonya de Booij-Boissevain, seorang bocah kelahiran Mei. (h. 162-163) 

***

Multatuli Ditulis Tanpa Acuan Sastra

Inwijding sebenarnya sebuah roman yang belum selesai. Dan pengarangnya sendiri termasuk salah seorang pelopor Angkatan '8o Belanda, dan menempati kedudukan yang sangat penting dalam sejarah sastra Belanda. Dan hampir-hampir sebagaimana halnya dengan De Kleine johannes, cuma tidak dalam bentuk cerita. Inwijding merupakan sebuah potret diri dari pengarangnya.

Berbeda daripada Multatuli, seorang anak dari kalangan rakyat jelata, yang sudah sejak kanak-kanak telah memasuki kehidupan, dan menulis tanpa acuan sastra serta lebih banyak didorong oleh gugatan kemanusiaan, Vosmaer berasal dari keluarga berada, menamatkan pelajaran pada waktunya, hidup teratur, dan sebelum menceburkan diri dalam dunia sastra telah mempelajari secara mendalam masalah-masalah keindahan dalam sastra. Hal ini dengan sendirinya menyebabkan karyanya mengembangkan tradisi sastra Belanda yang sudah ada, jadi tidak menempati kedudukan khusus. Adalah mengherankan juga, bahwa Kartini yang mengagumi Multatuli yang menulis tanpa acuan sastra itu dapat juga menikmati Vosmaer. Tetapi justru dari fakta selera sastra ini orang dapat mengetahui, bahwa Kartini sendiri sebenarnya tidak menghiraukan bentuk-bentuk dalam sastra. Ia lebih mengutamakan isi. 

Pengarang Belanda yang paling banyak disebut Kartini, terkecuali Multatuli, adalah de Genestet (Petrus Augustus) yang dilahirkan pada tahun 1829 di Amsterdam dan meninggal di Rozendaal pada tahun 1861. Rupa-rupanya de Genestet adalah seorang penyair yang disukai Kartini. Ia pernah mengutip salah sebuah sajaknya Een Meikindje atau Bocah Kelahiran Mei, buat putera Nyonya de Booij-Boissevain, seorang bocah kelahiran Mei. h. 162-163

***

Bacaan Kartini dari luar Nederland 

Bacaan Kartini bukan cuma mencakup sastra Belanda, tetapi mencakup buku-buku penting pada masanya. Dalam salah sebuah suratnya ia menyatakan bahwa buku-buku terjemahan sudah tentu tidaklah dapat menandingi buku aslinya, dan sudah tentu ada bagian-bagian yang menjadi rusak karenanya. Untuk dapat membaca langsung dari aslinya, pendidikan sekolah-rendahnya tentu tidak memungkinkan. Karena itu ia mencoba juga mempelajari bahasa-bahasa modern lainnya. "Aku mau sampaikan sedikit kepadamu, ialah bahwa kami bertiga sekarang mulai belajar bahasa Prancis dari buku-buku Servas de Buijn," tulis Kartini. h. 169

***

Kartini, Buku, dan Sastra

Memang patut disayangkan, bahwa Kartini tak banyak menyebut bacaannya yang lain-lain. Sekali ia pernah menyebut salah sebuah karya Shakespeare, yang didengarnya lewat sebuah deklamasi Willem Rooyards, atau karya Marie Marx-Koning, Lessing, secara selintas lalu. Tetapi kesukaannya akan bacaan pastilah lebih berarti daripada hanya penyebutan nama-nama. 

Mungkin sekali bacaan Kartini, sejauh yang disebutnya, terlampau sedikit bagi generasi kemudian. Dalam hal ini patut juga diterangkan, bahwa bacaan Kartini, tidak diperolehnya dengan mudah seperti halnya kemudian, apa lagi di kotanya yang terpencil seperti Jepara itu. Sebuah buku yang dipesannya pada toko buku, bukan hanya tidak mesti ada, tidak jarang harus ditunggunya berbulan-bulan lamanya sebelum yang dipesannya itu terbawa oleh pos laut dari Nederland. Tetapi apa yang sudah dibacanya digenggamnya terus di dalam tangannya, dan ikut memperkuat moralnya. 

Patut pula dikemukakan, di masa itu Jepara tak ada toko buku biar sebuah pun. 

Bahwa Eropa yang dikenalnya sebagian melewati buku-buku sastra adalah tepat sekali, karena di dalam buku-buku inilah didapatkan pengertian tentang Eropa yang tidak berat sebelah, tetapi meliputi segala aspek, kultural, sosial, kehidupan kejiwaan, dan kehidupan materi. Dalam hal ini Kartini mengikuti tradisi Eropa untuk mendapatkan tingkat peradaban yang layak: studi, lektur, seni, dan sastra. Karena menurut ukuran Eropa, bagaimanapun tinggi studi dan lektur seseorang, tanpa sastra atau seni, orang itu masih dianggap belum beradab, sekalipun tidaklah biadab. (Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 175) . 

***

Cita-Cita Kartini Jadi Penulis

"Gagasan gila, bukan? Aku, yang tiada mempelajari sesuatu pun, tak tahu sesuatu pun, berani-beranian hendak ceburkan diri di gelanggang sastra! Tapi bagaimanapun, biar kau tertawakan aku, dan aku tahu kau tak berbuat begitu, gagasan ini tidak akan kulepas dari genggamanku. Memang ini pekerjaan rumit, tapi “barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang”, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia." — Kartini, Surat, 6 November 1899, kepada Estella Zeehandelaar, dalam Pram, h. 181

***

Mengapa Kartini Memilih Sastra sebagai Alat Perjuangan, Bukan Dokter, Bukan Guru, atau lainnya? 

Pramoedya Ananta Toer menjelaskan:

Tetapi mengapakah ia memilih sastra sebagai alat perjuangan, bukan alat-alat lain? Ia telah menderetkan alat-alat lain: jadi dokter, jadi jururawat, jadi guru. Pilihan ini rupa-rupanya sudah lama diuji dan dikajinya. Rupa-rupanya pada tahun 1900 ia sudah ambil kepastian ini. Dalam pertemuannya dengan Mr. J.H. Abendanon di Jepara, Direktur Departemen ini pun sudah berkata kepadanya, bahwa ia tahu, ia hendak menjadi pengarang. Jadi pilihan ini sudah melalui berbagai pertimbangan. Rupa-rupanya sastra juga yang dipilihnya, karena mempunyai daerah juang yang luas dibandingkan dengan yang lain-lain. Sedang sebagai guru misalnya benar ia dapat “langsung mendidik” tetapi dalam “lingkungan terbatas” saja, demikian halnya sebagai dokter atau jururawat, daerah-juangnya pun terbatas. Lain halnya di bidang sastra sebagai pengarang, karena:

"Sebagai pengarang dapatlah aku secara besar-besaran mewujudkan cita-citaku dan bekerja bagi pengangkatan derajat dan pengadaban Rakyatku. 

Kau tahu sendiri akan kecintaanku pada sastra, bahkan menjadi salah satu angan-anganku untuk sekali waktu jadi sastrawan yang berarti.” 

... Dan dengan demikian bukan hanya terlalu sedikit tulisannya yang pernah diumumkannya, juga terlalu sedikit tulisan yang dibuatnya dengan kesengajaan diumumkan. Sekiranya ia tak banyak menulis surat, mungkin juga tulisan-tulisannya yang sangat sedikit yang diumumkan itu takkan banyak memberikan bukti tentang perjuangan dan pemikirannya yang gagah berani. Padahal bila dilihat dari jumlahnya, ia menduduki tempat tertinggi di bidang produktivitas dan juga kualitas pada masa itu, bahkan boleh disebut satu-satunya dalam jangka waktu antara 1879 sampai dengan 1910, atau dalam waktu tidak kurang dari 30 tahun! 

Walaupun sastra dianggapnya alat keramat untuk perjuangan mengangkat derajat dan pengadaban Rakyatnya, karena tulisan dengan prestasi sastranya cuma sedikit, sebenarnya surat-suratnya yang ditulis tanpa pretensi sastra yang menjadi kesaksian perjuangan dan pemikirannya ini, dan itu pun dapat dikatakan bukan bernilai sastra di samping kekeliruan-kekeliruan kecil, dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmu pengetahuan dan nilai sastranya. 

(Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003, h. 207-208, dan 209) 

***

Kebajikan Bukan Monopoli Kaum Agama

Kartini sudah sampai pada puncak kesabarannya, dan tanpa disadarinya ia telah marah, bahkan juga menyesali Ayahnya sendiri. Tetapi Estelle Zeehandelaar adalah seorang gadis Yahudi-Belanda dengan pandangan hidup sosialis yang berapi-api. Ia tidak akan menyetujui kalau Kartini memasuki dunia keagamaan. Hal itu Kartini sangat maklum, Estelle tentu tidak rela terjadi perkembangan ini. Seperti nampak dalam surat-suratnya dengan Stella, rupa-rupanya gadis sosialis inilah yang mempengaruhi Kartini sedemikian rupa, bahwa kebajikan bukanlah barang monopoli kaum agama, karena orang pun—dan terutama sekali—dapat lakukan kebajikan karena perasaan tanggung jawab terhadap sesama, karena nuraninya sendiri. h. 212

***

Pram tentang Kartini dan Pers

Pendapat Djajadiningrat ini sangat berbeda dari pendapat Kartini yang mengatakan dalam hubungan dengan kebutuhan bacaan bagi Pribumi, maka tidaklah terpuji disodorkan, "Koran biasa dengan berita-berita tentang kebakaran, pencurian, dan pembunuhan, ataupun penghinaan serta pemfitnahan yang tak ketentuan asalnya."

Tapi seyogianya: 

"Mingguan dan bulanan, di mana dimuat segala-galanya yang memperluas pengetahuan, memperkembangkan kecerdasan serta membersihkan kalbu.” 

Tapi meninggalkan soal penilaian antara Djajadiningrat dan Kartini ini, sampailah orang pada harapan Kartini tentang pers. Ia berpendapat, bahwa pers adalah alat yang sangat ampuh untuk perjuangan. Itu sebabnya ia bersorak girang waktu “ikatan pemuda generasi baru, yang sedang menyelesaikan pelajaran mereka di perguruan-perguruan tinggi Nederland” menerbitkan Bintang Hindia yang berbahasa Melayu dan Belanda, di bawah pimpinan Abdul Rivai. 

"Dan selalu menjadi maksudku, untuk mengangkat suara keras-keras, karena hanya publikasi saja dapat membawakan perbaikan yang kita harapkan atas keadaan yang begitu membutuhkan perbaikan itu... Memang itu lebih baik, jadi segera pasang senapan buka peperangan, jadi sudah sejak dari awalnya kepada masyarakat Pribumi kami katakan padanya, dari golongan apa kami ini.” 

Malahan Kartini sendiri merasa perlu mempunyai penerbitan sendiri. Sekali waktu seorang kawannya menantangnya, agar ia turun tangan “mengasah penanya buat kerja menaikkan derajat Rakyat”, dan bahwa ia hendaknya mempunyai “majalah atau semacamnya, yang bekerja mengabdi kepentingan Rakyat, dan karenanya ia harus lakukan juga pekerjaan redaksi; atau kalau tidak ia harus menjadi pembantu koran-koran atau majalah-majalah terkemuka di Hindia, dan menulis karangan-karangan yang keras, sehingga yang nyenyak tidur pun akan geragapan bangun".

Kartini sendiri mengerti, bahwa perjuangannya dibantu oleh pers. Tanpa pers, bagaimanapun hebatnya pemikiran dan perjuangan itu, daerah-juangnya akan tetap terbatas. Kepengarangan yang memikul faal sosial pada gilirannya harus pula bersambung dengan pers yang progresif. (hlm. 216-217) 

Catatan: keterangan yang bertanda petik adalah kutipan langsung dari tulisan Kartini

***

Kartini seorang intelektual sejati

"....bahwa antara pemikirannya dan perbuatan tidak terdapat keretakan, apalagi pertentangan atau perpecahan. Sepanjang pemikiran dan perjuangannya, ia tetap dapat mempertahankan integritas atau keutuhan antara jiwa dan laku. Dari jiwa demikian tidak mungkin timbul mentalitas negatif. Ia tidak bisa berpura-pura. Malah sekali waktu menolak terhadap paksaan “berpura-pura suci”, “pendiam dan penurut” seperti wanita-wanita feodal lainnya, bahkan mengatakan bahwa “dalam setiap jaman ada saja gadis-gadis yang berontak”. Tentu saja ia memasukkan diri dalam barisan gadis jamannya yang berontak. 

Kecerdasan Kartini yang luar biasa pada jamannya nampak lebih nyata lagi bila dipertentangkan dengan situasinya pada waktu itu: tidak ada perpustakaan, tidak ada toko buku, tidak ada sekolah menengah, tidak ada pesawat radio yang kadang-kala menyiarkan pandangan-pandangan keilmuan. Bacaannya tiada tersusun menurut rencana atau acara. Apa saja yang jatuh ke tangannya, baik sebagai hadiah atau dipinjamnya, dibacanya: majalah, koran, buku, dari hal-hal utama sampai iklan, dan—peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan pemerintah jajahan. (hlm. 290) 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar