alt/text gambar

Minggu, 23 November 2025

Topik Pilihan:

KRITIK SASTRA INDONESIA TANPA SEJARAH

 

Oleh: Veven Sp Wardhana

(Kompas, 22 November 1987)


Awal Oktober yang lalu, saya menerima surat dari Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogya yang meminta sumbangan dana untuk menyelenggarakan seminar teori sastra dan penerbitan buku teori sastra. Kalau kemudian saya tersenyum atas kehadiran surat itu itu bukan dikarena kan bahwa mereka masih mengingat saya sebagai alumnusnya – sekalipun sebatas untuk dimintai dana – tetapi lebih disebabkan oleh tema yang mereka pilih untuk dua macam proyek itu, yakni: Mencari Sosok Teori Sastra Khas Indonesia. 


Pasalnya lebih dari setengah dasawarsa sebelumnya sewaktu saya masih menjadi civitas akadmika Gadjah Mada, baik secara klesak klesik maupun terang terangan lewat tulisan di surat kabar lokal, saya pernah mengusulkan kemungkinan pencarian teori yang khas itu ke banyak civitas akademika fakultas sastra –ya ke para dosen, ya juga ke para mahasiswa sastra nonfilologi dan nonlinguistik. Dan reaksi yang muncul adalah tak ada reaksi.


Tentu usulan itu bukanlah usul sang baru dan orisinal. Usulan itu lebih banyak lahir lantaran se ringnya gosok-gesek dalam setiap sarasehan lesehan di Sanggar bambu Ngasem, Yogyakarta, yang saya selenggarakan dengan motor utama Drs Darmanto Yatman, Genthong Hariono Seloali, dan Linus Suryadi AG – sekali seperti mendapat dorongan dari Roma I Kuntara Wiryamartana dan Bakdi Sumanto.


Kalau kemudian saya masih mencoba menyempatkan diri kembali tersenyum atas surat dan rencana Fakultas Sastra UGM, itu dikarenakan bahwa dalam penerbitan buku teori yang khas itu nama Prof Dr Andreas Teeuw dipasang sebagai seeling pointnya. Ternyata, orang-orang kita tetap baru bisa merasa yakin setelah orang asing yang mendahului bicara. 


Kalau kemudian Subagio Sas trowardoyo (Kompas, 30 Oktober 1987; Keterlambatan Kita dalam Teori Sastra) dan Satyagraha Hoerip (Kompas, 15 November 1987, Teori Sastra “PDN”, Mungkinkah itu?) juga sama-sama merasa perlu merumuskan teori khas pribumi – lepas dari yang apakah itu sesuatu yang baru atau justru sudah terlambat; juga lepas dari apakah ide ini orisinal ataukah lebih dulu dipengaruhi pakar sastra asing, kendati hal itupun sah-sah saja – naga-naganya rumusan itu sepertinya memang perlu untuk direnungkan. Paling tidak, anggapan kesama-dan-sebangunan-nya karya sastra mulai lagi dipertanyakan. Bahwa perbedaan ruang dan waktu, nyatanya bakal juga membedakan jurus analisis yang berbeda pula.  


India punya konsep poetika sendin, sebagaimana pula Tiongkok juga punya konsep keindahan yang berbeda dibandingkan poetika Yunani. Sekadar untuk memberi gambaran, keindahan karya sastra atau umumnya karya seni India terletak pada bhava. Yakni transendensi antara yang imajinatif dan yang faktual.


Dalam dunia tari lebih gam pang dicarikan rujukannya. Seorang penari yang menarikan sosok Arjuna, misalnya Bhava itu terletak pada “pembentukan-penjelmaan” Arjuna ke dalam diri penari dan atau sebaliknya.


Poetika Cina lebih menekankan pada adanya unsur ajaran (Taoisme) dalam karya sastra. Estetika sejajar dengan etika. 


Mestinya, Jawa juga punya poetika sendin. Namun, macam manakah poetika sastra Indonesia modern? Jawabnya baru dilacak – karenanya kritiknya pun masih perlu dicari jejaknya.


Untuk mencari sosok sastra Indonesia modern, tentu tidak bisa melepaskan dari sejarah kelahiran sastra Indonesia modern itu  sendiri.  Sejarah yang tak cukup mencakup periodisasi maupun angkatan-angkatan.


"Indisch"


Kelahiran sastra modern Indonesia tak bisa dilepaskan dengan kelahiran kelompok indisch yang dimungkinkan oleh adanya kolonisasi di Indonesia. Kelompok indisch, yang tercerabut dan akar budayanya namun tak diterima mutlak oleh kelompok budaya kulit putih, inilah yang kemudian menjadi kelompok sosial menengah Indonesia.


Sastra Indonesia modern, bagi kelompok ini merupakan media ekspresi, intensi, dan institusi sosial mereka. Itu sebabnya, dalam karya-karya mereka terlihat sikap anti tradisi subkultur daerah masing-masing.


Kalau kemudian, sekitar tahun 1960-an dan terutama dasawarsa 1980-an, tradisi subkultur atau warna lokal bermunculan dalam sastra Indonesia modern, kita harus arif melihatnya sebetapauntuk tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa para sastrawan Indonesia mengajak kembali ke tradisi daerah masing-masing – sebetapapun pun niatnya mau renaisans, umpamanya.


Dengan sedikit mengabaikan bahwa pelukisan tentang daerah daerah pelosok bisa saja sekadar dimaksudkan sebagai variasi atau bentuk eskapis dari hiruk-pikuknya kota besar sebagal setting kisah, fungsi dan intensi warna lokal itu belum tentu dimaksud kan sebagai tawaran nilai tradisi. 


Sebutlah sajak sajak Sutardji Calzoum Bachri yang bersemangat mantra itu Bukankah semangat untuk “membius” Tuhan agar menampakkan diri, mendaging dan mendarah, yang merupakan pencarian eksistensi diri itu bisa disejajarkan dengan filsafat eksistensialis, misalnya? 


Artinya begitu susah menggariskan batas-batas yang Barat atau yang non-Barat. Apalagi, kelahiran sastra Indonesia modern jelas-jelas bukan merupakan kelanjutan dari tradisi sastra Jawa, Minang atau wilayah etnis lain nya yang ada di Indonesia ini. Bahkan munculnya angkatan-angkatan dalam periodisai sastra Indonesia pun lebih menampak adanya keterpatahan sejarah itu. Angkatan-angkatan yang muncul bukan sebagai pengembangan dan atau pendalaman atas angkatan sebelumnya, melainkan cenderung pada penggulingan. Macam kudeta. 


Kecenderungan untuk mengguling-gulingkan inilah yang menjadikan trauma bagi para sastrawan mutakhir untuk mengembangkan dan memperdalam kemungkinan lain karya sastra yang berbau sosial. Masalahnya, karya sastra yang pernah dicengkeram oleh kekuatan panglima-politik, lewat slogan realisme sosialis, termasuk dalam jajaran karya sastra yang harus diganyang.


Keterpatahan sejarah sastra modern Indonesia ini justru makin mempersulit berkembangnya pemikiran sastra Indonesia modern, terutama untuk kritik sastranya. Alhasil yang dipakaikan, yang dikulak (beli untuk kembali dijual) dan kemudian disosialisasikan adalah teori dan kritik sastra dari belahan Barat yang mendasarkan diri pada karya setempat dan dilandasi oleh filsafat Barat.


Kesejarahan


Segi kesejarahan kritik inilah yang tak pernah menjadi pertim bangan untuk juga diketahui oleh pentransfernya. Dengan demikian, ada kesan bahwa sejumlah aliran sastra dan kritik sastra itu lahir bersamaan waktunya dan bersamaan pula tempatnya. Tidak pernah terpikirkan bahwa suatu aliran kritik tertentu merupakan pengembangan dari aliran kritik yang sudah ada sebelumnya. Minimal, kelahirannya dikarenakan adanya ketidakpuasan terhadap aliran sebelumnya tanpa harus menidakkan atau menafikan kritik yang lahir terlebih dulu dan mentradisi, mengingat aliran karya sastra tertentu, selain disebabkan oleh kondisi di luar diri sastra itu sendiri, juga lantaran membersitnya ketidakpuasan terhadap aliran yang ada sebelumnya yang kurang memungkinkan menam pung intensi-intensi lain.


Sebutlah empat macam kritik sastra yang paling konvensional macam kritik mimesis, kritik ekspresif, kritik pragmatik, dan kritik obyektif. Kritik mimesis mendasarkan diri pada anggapan bahwa karya seni tidak lebih dan tidak kurang hanyalah sebagai tiruan atau imitasi kehidupan. Jika ada karya yang tak memenuhi hal tersebut, maka karya bersangkutan dianggap buruk. Kritik mimesis ini akhirnya dipertanyakan kembali setelah muncul karya sastra yang tak sekadar sebagai imitasi. Pengarangnya merasa tak puas jika hanya sebatas memotret dengan cermin datar, apa adanya. Pengarang bersangkutan ingin melampiaskan segala emosinya, keinginannya, harapan harapannya, dan semua yang tersimpan dalam hatinya. Maka, lahirlah kritik ekspresif itu – setelah kritik pertama sudah mentradisi. Toh akhimya, muncul pula gugatan terhadap karya-karya yang dianggap sekadar memanjakan senimannya tanpa mempedulikan publiknya. Lahirlah, kritik pragmatik yang mencoba melibatkan pengaruh suatu karya terhadap penikmatnya. Semuanya, sebelum digugat terlebih dulu sudah mentradisi. Demikian juga denganmkritik obyektif yang merasa kesulitan melacak keakuratan, tiruan, emosi seniman, dan dampak karya seni 


Para akademisi sastra Indonesia  nampaknya begitu saja mencomot aliran kritik sastra tertentu itu untuk juga diterapkan begitu saja terhadap karya sastra yang belum tentu beraliran sama dengan lahimya kritik sastra yang dipakaikan.  


Menerapkan 


Persoalannya akhirnya saya kita bukanlah mencari sosok teori sastra yang khas Indonesia – mengingatkan kekhasan karya sastra Indonesia modern juga belum begitu luar biasa – melainkan menerapkan teori dan kritik sastra yang pas.    


Mengupas cerpen-cerpen dan novel Putu Wijaya tentu mempergunakan jurus yang berbeda dibandingkan saat membahas novelet Umar Khayam, demikian juga saat menganalisa sajak-sajak Rendra, tentunya tak akan menggunakan analisa yang sama saat menghadapi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, dan seterusnya. Itupun masih bisa diperpanjang dan dipersoalkan fungsi analisa itu. Bahkan akan ada yang bilang bahwa kritik baik buruk itu tidak dibutuhkan, sebab yang dipentingkan adalah menikmatinya – dan respon bisa bermacam- macam setelah membacanya. 


Kalaulah dalam kesusastraan Indonesia modern memang muncul fenomena yang berbeda dari sebelumnya, saya lebih cenderung untuk membaca fenomena itu katimbang langsung mencaricari pisau analisa lain untuk menguliti sosok yang juga belum jelas. Mempelajari atau mencari musabab fenomena, mungkin baru merupakan langkah awal sebelum melangkah ke kritik yang lebih "murni" sastra Namun, ternyata langkah awal ini pun rasa-rasanya belum pernah dirambah oleh para pakar dan akademisi sastra Indonesia.


Perbedaan sikap para pengarang Balai Pustaka yang mengagung-agungkan kultur kota dibandingkan dengan sinisme S. Sinansari Ecip terhadap kultur yang sama, lewat novel Pembayaran, misalnya: atau perbedaan simpati Umar Khayam (lewat novelet Sri Sumarah dan Bawuk) dan Ashadi Siregar (lewat novel Jentera Lepas) terhadap tokoh- tokoh yang “terlibat” partai komunis juga misalnya, merupakan ladang subur bagi kritik sastra Indonesia yang ternyata sampai sekarang belum begitu digubris Padahal, teorinya sudah ada. Namanya strukturalisme-genetik.  Dari Barat. Sepertingan namanya, strukturalisme genetik mencari asal-usul, gen, ekspresi tertentu, intensi tertentu, dan orientasi tertentu. 


Istilahnya bisa saja diubah-ubah. 


Atau ini bukan bagian dari kritik sastra? Atau yang namanya kritik sastra hanya melulu berkutat membahas gaya bahasa, jumlah kata tertentu yang dipakai, simbolisasi, dan tetek bengek teknis-keterampilan belaka. ***


Sumber: Kompas, 22 November 1987

https://www.facebook.com/share/1ScpFsak3h/

0 komentar:

Posting Komentar