![]() |
| Richard Nixon (mantan Presiden AS ke-37) |
Kutipan-kutipan berikut ini saya ambil dari buku karya mantan Presiden Amerika Serikat ke-37, Richard Nixon, berjudul Tokoh-Tokoh Pemimpin Dunia [judul asli: Leaders. Diterjemahkan oleh: Ermas], Jakarta: Pustaka Jaya, 1986.
Karena saya anggap penting, berguna, dan menarik, maka saya publis di-blog pribadi saya ini. Semoga ada manfaatnya, terutama bagi para pemimpin maupun calon-calon pemimpin.
Berikut hal-hal menarik dan saya anggap penting untuk pelajaran kepemimpinan yang saya ambil dari buku karya Nixon:
Para pemimpin yang sukses mewujudkan keinginannya dalam sejarah, kadang-kadang bisa benar, kadang-kadang salah, tetapi jarang sekali ragu. Mereka mengikuti suara hatinya sendiri. Mereka mengumpulkan nasihat dari orang lain, atau bertindak atas pertimbangannya sendiri. Para pemimpin yang saya bahas dalam buku ini bisa saja kadang-kadang berbuat salah tetapi mereka sangat yakin bahwa mereka akan lebih sering lebih dekat kepada kebenaran apabila menuruti pandangan sendiri dan bertindak menurut suara hatinya. Mereka yakin berada di puncak karena ada alasan: karena merekalah yang terbaik untuk tugas itu. Dan, karena yang terbaik, tidak akan tunduk kepada yang nomor dua terbaik.
Para pemimpin sudah terbiasa kepada suara hati itu. Pelaksanaan kekuasaan melatihnya demikian. Sejalan dengan kian terbiasanya melihat akibat besar yang timbul dari keputusan yang dibuatnya, sang Pemimpin kian terbiasa pula membuat keputusan dan kian siap menanggung risiko dari kesalahannya sendiri daripada harus menanggung akibat dari kesalahan orang lain.
Mungkin saja seorang pemimpin harus melalui kepedihan dalam memutuskan apa yang harus diperbuatnya. Tetapi hanya sedikit pemimpin yang sukses membuang-buang waktu memikirkan keputusan-keputusan yang sudah lewat, menimbang-nimbang lagi apakah mereka benar atau keliru. Keputusan-keputusan terberat yang harus saya buat dalam mencoba mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat di Vietnam seringkali merupakan keputusan yang cermat. Bila para penasihat yang turut terlibat dalam pengambilan keputusan itu secara pribadi menyatakan keraguan setelahnya, apakah mereka benar atau salah, sering saya menenangkannya dengan, "Ingatlah istri Lut. Jangan melihat ke belakang.” Apabila pemimpin terlalu banyak memikirkan apakah keputusannya benar atau salah, ia bisa lumpuh. Satu-satunya jalan supaya bisa memberikan perhatian yang sepadan kepada keputusan yang harus dibuat esok hari, hanyalah dengan tegas melupakan yang dibuat kemarin.
Ini bukan berarti ia tidak belajar dari kesalahannya. Ini berarti bahwa pemikirannya tentang itu haruslah analitik, tidak merasa terpaksa atau dibebani rasa salah, dan melakukannya pun haruslah dibatasi hanya pada saat ia mempunyai waktu untuk memikirkannya. De Gaulle dalam masa "keterasingannya”, Adenauer di penjara dan di biara, Churchill pada saat tidak berkuasa, de Gasperi di perpustakaan Vatikan, semuanya mempunyai waktu untuk berpikir dan mereka menggunakannya dengan baik. Saya sendiri merasa bahwa tahun-tahun yang paling berharga bagi saya adalah tahun-tahun antara menjadi wakil Presiden dan menjadi Presiden. Ketika itu saya bisa mundur dari pusat peristiwa-peristiwa dan merenung ke masa silam dan masa depan dengan cara teratur. Semua pemimpin besar yang saya kenal, jauh di dalam hatinya, sangatlah emosional, dengan kata lain, sangat manusiawi. Sebagian, seperti Churchill, suka menunjukkan emosi-emosinya secara terbuka. Yang lain, seperti Khrushchev, memanfaatkannya tanpa malu. De Gaulle, Adenauer, Mac Arthur, Zhou Enlai dan Yoshida adalah contoh pemimpin yang dapat mengendalikan diri, memiliki disiplin pribadi sehingga bisa tampil di muka umum sambil menyembunyikan perasaan pribadinya. Tetapi yang mengenal mereka lebih dekat, di antara dinding-dinding kebebasan pribadinya yang paling leluasa, akan menemukan dawai emosi yang sangat peka.
Salah satu sebab mengapa seringkali sukar memisahkan mitos dari kenyataan ketika membaca biografi pemimpin-pemimpin politik ialah, karena sebagian dari kepemimpinan politik diciptakan oleh mitos. Churchill sangat mahir dalam hal ini. Ia senantiasa berada di pentas. Bagi de Gaulle, misteri, kehormatan, sikap terpengaruh dari para pengikut, tempik-sorak rakyat, semuanya adalah alat negarawan untuk digunakan mencapai tujuan Perancis. Genggaman emosional luar biasa yang seringkali ada pada raja-raja yang turun-temurun terhadap rakyatnya, lebih banyak disebabkan karena romantikanya mitos daripada karena kepribadian raja itu sendiri. Kita sudah biasa membungkus bintang film, bintang rock dan sekarang bintang televisi dengan hiasan mitos, dan itulah yang menyebabkan orang banyak pingsan dan berjubel membeli karcis.
Politisi, tidak beda dengan aktor atau pembuat film, mengetahui bahwa membuat jemu para pengagum berarti kehilangan pengagum. Jadi, hanya sedikit sekali pemimpin politik yang membosankan. Mereka tidak boleh membosankan. Kepemimpinan politik harus dapat tampil menyentuh akal, tetapi juga harus dapat menyentuh hati. Pendidikan yang paling bijak pun mungkin sekali akan gagal kecuali kalau pemimpin yang memberikannya dapat menyentuh emosi pengikutnya.
Kita tidak akan dapat menemukan unsur-unsur kepemimpinan dari halaman-halaman kering sebuah buku pelajaran sejarah. Untuk menemukannya kita harus melihat ke dalam jiwa orangnya, untuk melihat apa sebenarnya yang menopang dan mendorongnya dan yang memungkinkannya dapat meyakinkan orang lain. Di dalam diri seorang MacArthur, seorang Churchill kita melihat: kebanggaan, keangkuhan, paradoksal, selalu berpose namun secara brilyan, berpandangan menukik ke dalam dengan mata menuju ke bentangan panjang sejarah; orang-orang yang seperti didera, yang mendorong orang lain, yang pandangannya mengenai takdirnya sendiri lebih sering sama daripada tidak dengan pandangannya mengenai takdir negerinya. Kita pun harus melihat ke legenda. Legenda seringkali merupakan jalinan seni daripada fakta dan mitos, dibuat untuk memperdayakan, memberi kesan, memberi ilham, atau kadang-kadang hanya untuk menarik perhatian belaka. Tetapi legenda merupakan bumbu yang sangat penting bagi kepemimpinan.
Beberapa aspek kepemimpinan berlaku juga untuk kepemimpinan di segala lapangan: bisnis, olahraga, seni, masyarakat akademi. Sebagian lagi khusus berlaku dalam proses politik saja, atau setidak-tidaknya berperanan lebih besar dalam proses politik.
Keterbukaan sendiri bukanlah kepemimpinan, demikian juga keunggulan. Keunggulan bisa dicapai dalam lapangan yang terpencil tanpa perlu ada pelaksanaan kepemimpinan. Penulis, pelukis, atau musisi dapat melaksanakan keahliannya tanpa memimpin. Para penemu, ahli kimia atau ahli matematika juga dapat berkarya sambil mengucilkan diri. Tetapi pemimpin-pemimpin politik harus memberi semangat kepada para pengikutnya.
Gagasan besar bisa merubah sejarah, tetapi hanya bisa terjadi kalau ada kepemimpinan besar yang dapat memberikan kekuatan kepada gagasan-gagasan itu. Begitu pula, pemimpin "besar” tidak selalu harus baik. Adolf Hitler bisa menggerakkan satu bangsa. Joseph Stalin walau brutal sekali sangat efektif dalam menggunakan kekuasaan. Ho Chi Minh bisa menjadi pahlawan rakyat bagi jutaan manusia di luar batas-batas Vietnam. Yang baik dan yang tidak baik sama-sama bisa didorong oleh cita-citanya, sama-sama bisa mempunyai keteguhan hati, bisa sama-sama mahir, bisa sama-sama mempunyai daya meyakinkan. Secara moral, kepemimpinan itu sendiri netral. Ia bisa digunakan untuk yang baik dan juga untuk yang buruk.
Jadi, bukan kebajikan yang bisa mengangkat pemimpin-pemimpin besar lebih tinggi dari yang lain. Ungkapan "orang baik selesai paling akhir” berlaku jauh lebih tepat pada politik ketimbang pada olahraga. Apa yang mengangkat para pemimpin besar lebih tinggi dari yang lain ialah, karena mereka lebih kuat, lebih banyak akal, dan memiliki kelihaian membuat pertimbangan sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan yang fatal dan yang memungkinkan mereka dapat cepat mengenali kesempatan yang lewat.
Demikian juga kecemerlangan, dalam arti intelektual, bukan merupakan karakteristiknya yang mutlak. Semua pemimpin besar yang dibahas dalam buku ini memiliki kecerdasan yang tinggi. Semuanya memiliki kemampuan analitik yang tajam. Semuanya pemikir yang dalam. Tetapi mereka cenderung berpikir kongkrit daripada abstrak, untuk menilai konsekuensi-konsekuensi, bukan untuk membangun teori-teori. Kebanyakan profesor, melihat dunia ini dengan kacamata nilai-nilainya sendiri dan karena itu mereka sangat mengagung-agungkan teori. Bagi seorang pemimpin, teori itu bisa merupakan batu loncatan yang berguna untuk membuat analisa. Tetapi sama sekali tidak boleh menggantikan analisa.
Salah satu pertanyaan yang paling wajar mengenai kepemimpinan juga merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab: Karakteristik terpenting mana yang harus dipunyai oleh seorang pemimpin yang sukses? Tentu saja jawabannya bukan hanya satu. Kualitas-kualitas yang diperlakukan tergantung kepada suasananya. Tetapi yang pasti, kecerdasan yang tinggi, keberanian, kemauan kerja keras, ketenangan, pertimbangan, dedikasi kepada tujuan besar dan daya tarik yang memadai, semuanya merupakan bumbu-bumbu utama kepemimpinan. Dalam kampanye politik saya sudah biasa mengatakan bahwa untuk mengalahkan lawan kita harus senantiasa "bekerja lebih keras, berpikir lebih matang, dan berjuang lebih ulet.” Pemimpin besar memerlukan pandangan ke dalam, pandangan ke depan dan kesediaan untuk mengambil risiko besar namun yang diperhitungkan. Ia pun memerlukan nasib baik. Di atas segala-galanya, ia harus tegas. Ia harus menganalisa pilihan-pilihan yang ada dengan lihai dan obyektif, kemudian bertindak, Ia tidak boleh menjadi seorang Hamlet. Ia tidak boleh menjadi "lumpuh karena analisa”. Ia pun harus menyukai pekerjaan itu, dan harus bersedia membayar harganya.
Ada sebuah mitos yang masih juga secara kukuh dipercaya bahwa kalau seseorang memenuhi semua persyaratan, pekerjaan bagaimanapun juga akan atau harus mencari dia. Tidak, tidak begitu. Mitos mengenai "calon yang segan-segan” ini lebih tepat untuk kalangan dunia intelektual, bagian dari daya tarik Adlai Stevenson. Tetapi, tunjukkan kepada saya seorang calon yang segan-segan dan saya akan menunjukkan calon yang kalah. Seorang calon yang segan-segan tidak akan berkampanye dengan intensitas usaha yang memadai, juga tidak akan bersedia memberikan pengorbanan yang dituntut oleh kepemimpinan: getirnya kehilangan kebebasan pribadi, jadwal kerja yang sangat meletihkan, busuknya kelicikan dan sering kejinya lawan, karikatur-karikatur yang kejam, Kalau seseorang tidak siap menerima semua ini dan tidak lagi bersemangat memperjuangkan kedudukan itu, maka Kalaupun memperolehnya ia tidak akan mempunyai penopang yang kuat.
Calon pemimpin harus selalu memberikan perhatian kepada hal-hal yang sering dilupakan tetapi bisa menjadi batu sandungan bagi calon itu dalam perjalanannya ke puncak. Winston Churchill menulis tentang salah seorang pemimpin besar Inggris yang potensial di abad kesembilan belas bahwa "dia tidak mau membungkuk, walaupun dia kalah.”
Di Amerika, Thomas E. Dewey dan Robert A. Taft kekurangan kualitas ini, dan kekurangan itu berakibat sangat merugikan bagi mereka. Dalam sebuah jamuan makan malam politik di New York tahun 1952 saya duduk bersebelahan dengan Dewey ketika seorang tamu setengah mabuk menepuk punggung Dewey dan menyalaminya dengan cara yang oleh Dewey dirasakan sebagai terlalu akrab. Dewey mendorongnya dan bertanya kepada saya, "Siapa keledai dungu itu?” Ternyata ia seorang pemilik beberapa surat kabar kecil namun penting di Upstate New York. Dalam pemilihan pendahuluan di New Hampshire tahun 1952, seorang gadis kecil meminta tandatangan Taft. Taft menolak dan dengan kaku menerangkan lebih suka berjabat tangan, sebab kalau memenuhi semua permintaan tandatangan, tidak akan bisa melakukan kampanye. Sial bagi Taft, kejadian itu tertangkap televisi dan disiarkan berulang-ulang di rumah-rumah di seluruh Amerika. Betapapun benarnya logika Taft, tetapi akibatnya secara politik sangat menghancurkan.
Karena pemimpin itu sibuk, karena keakuannya sangat besar, karena tidak menyukai gangguan dan selingan, karena menganggap dirinya super, akibatnya ia tidak mempunyai kesabaran menghadapi orang yang dirasanya lebih rendah dari dirinya sendiri. Kesulitan dari ketidakmampuan "menenggang si bodoh” ini ada tiga. Pertama, para pemimpin memerlukan pengikut—dan banyak dari para pengikutnya yang ia perlukan itu mempunyai pikiran-pikiran yang bisa dia anggap sebagai tolol. Kedua, orang yang hendak diusirnya itu, tidak ada. Ketiga, kalaupun orang itu ada, pemimpin itu bisa belajar daripadanya. Kepemimpinan menuntut terjalinnya ikatan mistik antara dirinya dengan rakyat, apabila pemimpin menunjukkan sikap meremehkan terhadap pengikutnya, ikatan itu mungkin sekali terputus. Dalam pada itu, kita harus selalu ingat bahwa para pemimpin bukan orang biasa. Dan mereka tidak seharusnya mencoba tampil sebagai orang biasa. Kalau mereka mencobanya juga, maka akan tampil tidak wajar—bukan saja palsu, tetapi juga merendahkan harga diri.
Orang bisa saja menyukai tetangga di sebelah, tetapi itu tidak berarti menghendakinya menjadi Presidennya, atau wakilnya di Kongres. Pemimpin yang sukses tidak pernah berbicara kepada pengikut dengan tinggi hati. Dia justru mengangkat mereka. Ia tidak boleh bersikap sombong. Ia harus mau dan bisa "menenggang si bodoh”. Ia harus menunjukkan bahwa ia menghargai para pengikut yang ia harapkan dukungannya. Tetapi ia juga harus-tetap mempertahankan kelebihannya yang membuat para pengikut menghargainya. Kalau ia meminta kepercayaan pengikut, ia harus membangkitkan rasa kesetiaan pada mereka. Pendekatan seperti ini bukan saja jujur—kalau ia orang biasa tidak bakal ia menjadi pemimpin—tetapi juga sangat perlu untuk membangun mistik kepemimpinan dalam sebuah masyarakat demokratis.
Pemimpin perlu belajar bukan saja bagaimana harus berbicara, tetapi juga—dan ini sama pentingnya—kapan harus berhenti berbicara. Carlyle pernah berkata "diam adalah unsur tempat sesuatu yang besar memperlihatkan dirinya sendiri,” De Gaulle mengatakan dengan tegas sekali bahwa diam bisa menjadi alat yang sangat dahsyat bagi seorang pemimpin. Juga dalam diam ketika mendengarkan, bukan dalam berbicara, kita bisa banyak belajar.
Berulang-ulang kali saya menyaksikan pendatang-pendatang baru di Washington mempesonakan media massa, bahkan juga rekan-rekannya sendiri dengan kehebatannya berbicara jelas dan panjang-lebar mengenai apa saja. Tetapi dalam waktu singkat pesona baru itu memudar lagi, dan mereka mulai merasakan bahwa mereka dinilai orang bukan bagaimana mereka berbicara tetapi apa yang mereka katakan. Kemudian mereka tersisih lagi karena yang disebut orang Perancis bukanlah hommes serieux, manusia sungguh-sungguh. Seringkali terbukti pembicara yang fasih hanyalah seorang pemikir yang paling dangkal. Ketentuan yang baik bagi seorang calon pemimpin, bila dia mempunyai pilihan, lebih baik melatih otak lebih banyak daripada melatih lidah.
Dalam esainya mengenai Lord Rosebery, Churchill menulis: Apa pun pendapat seseorang mengenai pemerintahan demokratis, lebih baik lagi bila dia mempunyai pengenalan praktis mengenai dasar-dasarnya yang keras dan penuh liku-liku. Bagian pendidikan politik yang paling diperlukan, lebih dari bagian-bagian lainnya, adalah perjuangan dalam pemilihan.”
Churchill mengetahui betul apa artinya menang dan bagaimana pula rasanya kalah, dan dihajar habis-habisan sebelum betul-betul masuk ke dalam gelanggang politik. Ia benar sekali mengenai nilai-nilai edukatifnya dari melancarkan sebuah kampanye. Pemilihan itu "keras dan banyak liku-likunya, namun sangat esensial baik bagi sistem demokrasi itu sendiri maupun bagi interaksi antara pemimpin dan yang dipimpin.
(Richard Nixon, Tokoh-Tokoh Pemimpin Dunia [judul asli: Leaders. Diterjemahkan oleh: Ermas], Jakarta: Pustaka Jaya, 1986, h. 468-474).
***
"Yang membedakan antara anak kecil dengan orang dewasa dalam dunia politik ialah, seorang anak kecil menghendaki jabatan yang tinggi supaya bisa disebut orang besar, sedangkan orang dewasa menghendaki jabatan tinggi supaya ia bisa berbuat sesuatu. Charles De Gaulle (Mantan Presiden Perancis) menghendaki kekuasaan, bukan mencari apa yang bisa diberikan kekuasaan kepadanya, melainkan mencari apa yang ia bisa lakukan dengan kekuasaan itu."
(Richard Nixon, Tokoh-Tokoh Pemimpin Dunia [judul asli: Leaders. Diterjemahkan oleh: Ermas], Jakarta: Pustaka Jaya, 1986, h. 74)
**
Tentang Public Speaking, ada tulisan Nixon berikut ini:
Dalam melakukan fungsi-fungsi sosialnya pun Charles de Gaulle tidak kurang cermat. Ketika mengadakan jamuan makan malam kenegaraan untuk menghormati delegasi kami yang berkunjung pada tahun 1969 ia mengucapkan pidato sambutan yang lancar dan bagus, seakan-akan tidak dipersiapkan lebih dahulu. Setelah upacara selesai, salah seorang ajudan saya memuji de Gaulle karena kemahirannya berpidato panjang tanpa teks. De Gaulle menjawab, ”Saya menuliskannya lebih dahulu, menghafalkannya lalu membuang kertas itu. Churchill juga berbuat begitu, hanya saja ia tak pernah mengaku.”
**
Tokoh berkarakter sama sekali tidak mencari kepuasan dengan menyenangkan atasan, melainkan lebih banyak bersikap jujur kepada dirinya sendiri. Kepribadiannya yang kasar dan tindakannya yang kadang-kadang seperti kurang ajar membuatnya kurang populer di mata atasannya yang tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka memerlukan orang dengan kemauan yang keras sebagai bawahannya. Rupanya, tanpa sadar de Gaulle melukiskan dirinya sendiri ketika ia menulis, ”Abdi negara yang terbaik, baik militer maupun politisi, jarang sekali merupakan orang yang lembut-lunak. Para penguasa harus memiliki pemikiran dan saraf penguasa, dan adalah merupakan politik yang sangat buruk menyisihkan orang-orang dengan karakter yang kuat dari jabatannya dengan alasan yang tidak lebih dari sebab mereka merupakan orang-orang yang sulit. Hubungan yang mesra akan baik-baik saja selama keadaan berjalan baik, tetapi pada saat-saat kritis hubungan semacam itu dapat menimbulkan bencana.”
De Gaulle sering sekali memberikan nasihat kepada pemimpin-pemimpin lain yang memerlukan kekuatan, kepercayaan diri, dan di atas segala-galanya, memerlukan kebebasan. Kepada Shah Iran yang sangat mengaguminya, de Gaulle berkata, "Saya hanya mempunyai satu saran yang dapat ditawarkan kepada Anda, namun sangat penting. Kerahkan semua kekuatan Anda untuk tetap dapat merdeka.” Dalam tahun 1961 ia menasihati Presiden Kennedy untuk memegang erat prinsip yang selamanya menuntun perilakunya sendiri: "Hanya kata hati sendiri yang harus Anda dengar!” Ketika bermobil bersama menuju Paris dari bandar udara, tahun 1969, ia berpaling kepada saya, kemudian memegang tangan saya, dan berkata, "Anda masih muda, penuh semangat dan sedang memegang tampuk kekuasaan. Ini sangat penting. Pertahankanlah itu.”
Kepemimpinan de Gaulle di masa perang melambangkan citra karakternya. Ia mempertunjukkan semangat yang luar biasa ketika kesulitan-kesulitan dalam Perang Dunia II menghadangnya. Dalam hal ini de Gaulle mempunyai persamaan dengan Mao. Keduanya seperti memiliki kehidupan yang baru kalau sedang menghadapi cobaan yang sangat berat. Perbedaannya, kalau Mao mengacaukan ketertiban untuk menghidupkan perjuangannya, sedangkan de Gaulle berjuang keras untuk menciptakan ketertiban. (h. 88)
**
Pada suatu saat ketika Zhou dan saya semobil menuju bandar udara Peking, Zhou berbicara tentang syair yang ditulis oleh Mao ketika berhasil kembali ke kampung halamannya setelah ditinggalkannya selama tiga puluh dua tahun. Katanya, syair itu melukiskan betapa kesengsaraan dan kepahitan merupakan guru besar. Saya menyatakan persetujuan saya, lalu menekankan bahwa kekalahan dalam pemilihan terasa lebih pahit dan memedihkan daripada terluka dalam peperangan. Yang terakhir melukai jasad, yang pertama melukai jiwa dan semangat. Tetapi kekalahan dalam pemilihan itu dapat menolong mengembangkan kekuatan dan karakter yang sangat penting untuk perjuangan masa datang. Saya jelaskan pula bahwa masa dua belas tahun de Gaulle tersingkir dari kekuasaan, telah memberinya kesempatan membentuk karakternya. Zhou setuju dan ia menambahkan bahwa seseorang yang senantiasa berjalan di atas jalan yang mulus tidak akan dapat mengembangkan kekuatannya. Seorang pemimpin besar dapat mengembangkan kekuatannya karena ia berenang melawan arus, bukan mengikuti arus.
Sebagian dari para pemimpin politik tidak pernah bertemu dengan kesengsaraan dan kepedihan, sebagian lagi kalau menemukannya tidak pernah berhasil mengatasinya. Sebagian kecil saja yang berhasil membangun di atasnya. De Gaulle salah seorang dari yang sedikit itu. Dia sangat mengenal kesengsaraan dan kepedihan. Dalam Perang Dunia I ia pernah terluka parah sehingga ditinggalkan di medan perang karena dianggap tak mungkin tertolong lagi. Namun ajal belum tiba dan ia menghabiskan sebagian besar dari waktu perang itu sebagai tawanan perang. Dalam Perang Dunia II ia berjuang untuk mengembalikan kehormatan Perancis melawan rintangan dan halangan terpanjang, dan kemudian didepak oleh bangsanya sendiri segera setelah ia berhasil memenangkan perjuangannya. Baru dua belas tahun kemudian ia kembali memperoleh tampuk pimpinan.
Ketika de Gaulle mengundurkan diri dari kehidupan politik, ia masuk ke dalam ”belantara”. Kebanyakan dari kaum politisi yang pernah mengecap kekuasaan tidak sanggup meninggalkannya. Banyak Senator dan anggota DPR merasa enggan kembali ke kampung halamannya setelah tidak terpilih lagi atau memasuki masa pensiun. Mereka lebih suka memilih tinggal di Washington, di dekat-dekat wilayah kekuasaan. De Gaulle tidak pernah melupakan desa tempat ia berasal. la selalu kembali ke sana dan menggariskan kekuatannya dari sana pula. Desa Colombey-les-Deux-Eglises adalah cagar alam de Gaulle — "belantara”, baik dalam arti kiasan dan dalam arti harfiah. Colombey berjarak 120 mil dari Perancis arah tenggara, terletak di lereng Plateau de Langes, provinsi Champagne. Dengan penduduknya yang berjumlah 350 orang, tempat itu tidak tercantum dalam kebanyakan peta jalan. Tempat tinggal de Gaulle yang berkamar empat belas, bernama La Boisserie, berupa sebuah gedung putih dengan atap genting berwarna coklat, dengan menara bersegi enam di salah satu ujungnya. Gedung itu terlindung dari pandangan oleh pepohonan dan semak-semak. Dengan tempat terpencil di desa kecil ini, de Gaulle tidak dapat memilih tempat yang lebih sesuai lagi untuk meningkatkan misteri dirinya.
Di Colombey de Gaulle berpendapat, kalau kita merasa terasing di puncak kekuasaan, kita akan merasa lebih terasing lagi di mana pun juga. Tetapi di sana tak ada penyesalan yang mendalam. "Dalam gejolak manusia dan peristiwa,” tulisnya, "kesunyian sungguh merangsang: sekarang ia menjadi sahabatku. Kepuasaan apalagi yang mungkin kita cari setelah kita berhadapan dengan sejarah?”
Churchill dan de Gaulle keduanya tumbang setelah Perang Dunia II, sekalipun sumbangannya dalam masa perang itu sangat besar dan brilyan. Keduanya mencoba meraih kembali kekuasaannya namun dengan jalan yang berbeda. Kekalahan Partai RPF mengajar de Gaulle, bahwa dalam politik jarak terdekat antara dua titik jarang sekali merupakan garis yang lurus. Setelah mengumumkan pengunduran dirinya dari politik dalam sebuah konferensi pers dalam tahun 1955, ia langsung mengambil sikap tidak memihak, adil kepada semua pihak, hampir-hampir tidak berupaya sedikit pun untuk menarik perhatian masyarakat. Ia seorang aktor besar dan sebagaimana lazimnya aktor besar ia mengetahui kapan harus turun dari panggung.
Ia pun seorang empu dalam politik. Intuisinya mengatakan, jabatan tinggi harus dirayu seperti wanita. Ia setia mengikuti sikap yang tercermin dalam sebuah pepatah Perancis, "Kejarlah wanita itu dan ia akan lari; mundurlah, dan ia akan mengikutimu.” Seperti halnya Eisenhower, secara intuitif ia mengetahui bahwa kadang-kadang jalan terbaik untuk meraih kekuasaan itu tidak memperlihatkan diri sedang memperjuangkannya. Tetapi, menunggu di pinggir, bukanlah sifat Churchill. (h. 89-90)
***
Pada masa-masa pertama jabatan saya sebagai presiden saya mengutus Menteri Keuangan John Connaly melakukan perjalanan keliling dunia mengumpulkan fakta-fakta. Ketika kembali ke Gedung Putih, laporannya tentang kunjungannya ke Singapura diawali dengan komentar pendek, tidak samar atau bermakna ganda. ”Singapura,” katanya, "adalah negeri yang paling baik pemeritahannya di dunia.” (h. 445).
***
Dalam bukunya Great Contemporaries, Churchill menulis bahwa, ”Salah satu ciri orang besar adalah kekuatannya untuk menciptakan kesan yang abadi pada orang-orang yang dijumpainya.” Sebagian melakukannya melalui kehadiran pribadinya, sebagian lagi melalui kekuatan inteligensianya. Dan saya pun berpendapat bahwa bukanlah suatu hal yang kebetulan bila semua pemimpin besar yang pernah saya jumpai benar-benar luar biasa mahir dalam seni bercakap-cakap secara langsung, suatu seni yang hampir punah. Memimpin adalah meyakinkan orang, dan seorang pemimpin yang tidak berhasil meyakinkan orang berarti gagal pula sebagai pemimpin. (h. 447)
***
"Apabila pemimpin menyuruh stafnya berpikir untuk dia, maka menjadilah ia pengikut dan bukan yang diikuti." h. 478
***
"Pemimpin yang sukses harus mengetahui kapan harus bertempur, kapan harus mundur, kapan harus kompromi, kapan harus bertindak, kapan harus bungkam." h. 476
**
Pemimpin tentu saja harus berada di depan para pengikutnya. Ia harus mempunyai pandangan yang lebih jelas dari pengikut tentang ke mana negeri harus dibawa dan mengapa, dan pengorbanan-pengorbanan apa pula yang harus diberikan agar bisa sampai di sana. Tetapi ia harus membawa pengikut-pengikut itu bersamanya. Sama sekali tak ada artinya meniup terompet keras-keras untuk memberi perintah, tetapi ketika menoleh ke belakang ternyata tak seorang pun mengikutinya. Ia harus bisa meyakinkan. Ia harus bisa merebut persetujuan para pengikutnya untuk pandangan-pandangannya. Di dalam prosesnya—di dalam cumbu-rayu yang mendahului perebutan persetujuan itu ia bisa belajar banyak sekali tentang keinginan-keinginan para pengikutnya, tentang keberatan-keberatannya, tentang harapan-harapannya dan ketakutan-ketakutannya. Semua itu adalah hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang pemimpin. Di dalam proses yang sama ia bisa mendapatkan gagasan yang lebih baik tentang macam-macam kompromi yang harus dibuatnya. h. 475
***
Pemimpin harus mengorganisasikan hidup dan konsentrasinya dengan satu tujuan yang pasti di benaknya: membuat permainan besar. Inilah hal-hal yang memungkinkan ia meletakkan jejak-jejaknya dalam sejarah. Ia bisa mencari yang rata-rata dan menjadi rata-rata, tetapi tidak dilakukannya, Apabila ia terlalu keras berusaha menjalankan semua hal dengan baik, ia tidak akan pernah dapat melakukan yang benar-benar penting secara amat baik sekali. Ia tidak akan menjulang dari yang umum. Apabila ingin menjadi pemimpin besar, ia harus memusatkan perhatian kepada pembuatan keputusan-keputusan besar. h. 480
***
Pemimpin adalah manusia pemikir dan manusia aksi
Sebelum menjadi Presiden, dalam salah satu pidatonya, Woodrow Wilson menerangkan perbedaan antara manusia pemikir dan manusia aksi. Menurut pengamatan saya, dalam politik sering sekali terdapat manusia pemikir yang tidak dapat beraksi dan manusia aksi tidak berpikir. Idealnya harus seperti Wilson sendiri, yang di satu pihak sebagai pemikir besar, dan di lain pihak, ketika masih dalam keadaan terbaiknya, juga seorang manusia aksi yang meyakinkan. Pada umumnya, pemimpin-pemimpin besar yang efektif yang saya kenal adalah manusia aksi sekaligus manusia pemikir. Jumlahnya tidak banyak. Ahli filsafat Perancis, Henri Bergsom, pernah menasihatkan, "Bertindak sebagai manusia pemikir. Berfikir sebagai manusia aksi.”
Pemimpin adalah pembaca
Saat-saat selagi keseimbangan yang benar antara berfikir dan bertindak terpelihara dengan baik ialah pada waktu kepemimpinan mencapai puncak prestasinya. Churchill, de Gaulle, MacArthur, Yoshida, de Gasperi, Nehru dan Zhou Enlai tidak diragukan lagi merupakan manusia pemikir sekaligus manusia aksi yang sangat meyakinkan. Penilaian selewat akan menggolongkan Adenauer kepada manusia aksi yang sangat meyakinkan. Penilaian selewat akan menggolongkan Adenauer kepada manusia aksi yang mengesankan, tidak ke dalam manusia pemikir. Sebenarnya, mereka yang mengenal Adenauer akan segera mengetahui kekeliruan penilaian seperti itu. Adenauer tidak menonjolkan intelektualitasnya yang tinggi. Tetapi mereka yang tidak melihat intelektualitas itu semata-mata karena tidak mengenal segi pribadinya di balik permukaan yang tampak sebagai tokoh masyarakat. Bahkan Khrushchev yang impulsif biasa berfikir dahulu sebelum bertindak, sekalipun seperti Brezhnev, tidak menunjukkan kedalaman falsafi atau intelektual. Namun, mereka yang memimpin Revolusi Komunis di Rusia—Lenin, Trotsky dan Stalin—semuanya manusia pemikir sekaligus manusia aksi. Stalin tidak memperoleh reputasi itu, tetapi mereka yang mempelajari latar belakangnya akan mengetahui bahwa paling sedikit Stalin seorang pembaca yang lahap. Walau sebaiknya dunia ini terbebas dari prestasi mereka, namun harus diakui ketiga orang ini menjulang tinggi di antara tokoh-tokoh yang membuat sejarah.
Apa yang sebaiknya dibaca pemimpin?
Robert Menzies pernah mengaku kepada saya, secara teratur ia mengambil waktu setengah jam setiap hari kerja dan satu jam pada hari Sabtu dan Minggu untuk membaca demi kesenangan. Tetapi yang dibacanya bukan bacaan hiburan, melainkan buku sejarah, sastra, filsafat. Dengan cara demikian bisa melepaskan diri dari gerogotan laporan, analisa dan bacaan yang mengalir deras setiap hari ke otak seorang pemimpin. Meski tidak seteratur seperti Menzies saya pun membiasakan diri menyisihkan waktu untuk melakukan hal seperti itu, bahkan juga pada saat-saat gawat. Kalau pemimpin menghendaki bisa mempertahankan pandangannya jauh ke masa depan, sewaktu-waktu ia harus mundur dari keadaan masa kini. Kadang-kadang kebutuhan untuk ini terasa lebih mendesak lagi pada saat-saat yang amat kritis, oleh karena pada saat-saat itulah pandangan jauh ke masa depan jauh lebih diperlukan lagi.
Bacaan bagi anak muda yang ingin menjadi pemimpin politik
Bila ada anak muda yang bertujuan mencari kepemimpinan politik bertanya kepada saya bagaimana sebaiknya ia mempersiapkan diri, saya tidak pernah menganjurkannya mempelajari ilmu politik. Saya lebih suka menasihatkan supaya membenamkan diri ke dalam buku sejarah, filsafat, dan sastra, supaya dapat melenturkan pikirannya dan meluaskan cakrawalanya.
Seluk-beluk politik atau pemerintahan lebih baik dipelajari dari pengalaman. Tetapi kebiasaan membaca, disiplin berpikir, teknik menganalisa secara tajam, kerangka nilai-nilai, dasar-dasar falsafi merupakan hal-hal yang oleh si calon pemimpin harus diserap sejak awal proses pendidikannya dan harus tetap dan terus diserap sepanjang hidupnya.
Bahkan pada usia sembilan puluh tahun sahabat dan mentor saya, mendiang Elmer Post, pikirannya masih setajam pisau cukur dan mempunyai daya ingat yang amat luar biasa. Pernah saya bertanya bagaimana mungkin ia bisa mengingat-ingat segala sesuatu dengan baik. "Daya ingat saya, saya latih dengan keras,” jawabnya. Daripada membuat catatan ia lebih suka memaksa diri mengingat-ingat sampai ke soal detil-detil semua percakapan yang dilakukan sehari sebelumnya. Ia juga mengingatkan saya, otak itu tak ubahnya seperti otot yang besar. Semakin dilatih semakin kuat. Bila tidak digunakan, akan menjadi beku.
Ada satu persamaan ciri pada para pemimpin yang pernah saya kenal dan benar-benar besar. Semuanya pembaca yang lahap. Membaca bukan saja meluaskan dan menantang pikiran, tetapi juga mengandung latihan bagi otak. Generasi muda masa kini yang setiap hari terpikat duduk di muka layar televisi tidak bakal menjadi pemimpin di masa depan. Menonton televisi itu pasif, membaca aktif.
Pemimpin dan refresing
Persamaan ciri lainnya, mereka semua pekerja keras, banyak dari jenis yang suka bekerja enam belas jam sehari. Salah satu perangkap berbahaya bagi seorang pemimpin, ialah bekerja terlalu lama setiap hari. Untuk sebagian bekerja lama itu baik. Sebagian lagi memerlukan menghindar sebentar, mencari perubahan suasana dan perubahan irama hidup, supaya ia dapat kembali berada dalam keadaan puncak pada saat diperlukan. Truman pergi ke Key West, Eisenhower ke Colorado dan Georgia, Kennedy ke Hyannis Port, Johnson ke peternakannya di Texas. Semuanya dikritik karena hal itu, tapi sebenarnya tidak selayaknya dikritik. Yang terpenting bagi seorang pemimpin bukan terletak pada berapa lama sehari ia bekerja, atau di mana ia bekerja, melainkan betapa baik keputusan-keputusan besarnya dibuat. Apabila permainan golf yang dapat membantunya menyusun kerangka berpikir yang baik, sepatutnyalah ia mengesampingkan semua berkas dan pergi ke lapangan golf. h. 480-483
**
Penilaian Publik terhadap Pemimpin
Pemimpin besar membangkitkan kontroversi besar. Mereka mendapatkan sahabat-sahabat yang kuat dan musuh-musuh yang keras. Tidak perlu diherankan kalau orang-orang berbeda pandangan mengenai pemimpin yang sama, atau penilaiannya bertentangan, atau bahwa penilaian bisa berubah-ubah. Pemimpin selalu bertindak dengan permukaan ganda. Satu sisi sebagai tokoh masyarakat, satu sisi lagi sebagai dirinya pribadi, ada wajah yang dilihat jutaan manusia, dan ada wajah yang hanya dikenal oleh sekelompok kecil manusia, kelompok melalui siapa ia memerintah. Kelompok itu bisa melihat diri si pemimpin sebagai dirinya pribadi, bisa juga tidak, seringkali ia harus menjadikan segala-galanya sebagai usaha untuk meyakinkan baik kelompok dalam maupun masyarakat luas. Kawan dan lawan bisa melihat aspek-aspek yang berbeda dari dirinya, seperti juga wakil-wakil dari sejumlah pemilih yang begitu banyak dan berbeda-beda yang harus ia jangkau. Perumpamaan tentang tiga orang buta dan seekor gajah tepat sekali untuk diterapkan kepada para pemimpin yang dinilai orang banyak. Masing-masing orang buta itu menyentuh satu bagian saja dari tubuh gajah yang besar itu dan memperkirakan bentuk seluruh tubuh gajah berdasarkan apa yang disentuhnya. Sama seperti itu, setiap penentang, setiap komentator, setiap lawan, setiap kawan mengenal satu aspek saja dari seorang pemimpin dan cenderung menilai pemimpin itu berdasarkan aspek yang dikenalnya.
Sadat pernah mengutip sebuah aphorisme Arab yang mengatakan bahwa seorang penguasa sudah sifatnya ditentang oleh setengah dari pengikutnya kalau kebetulan ia benar. Semua pemimpin hidup dengan penentangan. Semuanya berharap penentangan itu akan dibersihkan oleh sejarah. Reputasi dari sebagian pemimpin membaik setelah ia meninggalkan jabatan. Reputasinya yang lain lagi memburuk. Penilaian sejarah terkadang membuat raksasa-raksasa menjadi orang-orang kerdil. Dan terkadang lagi orang yang sudah lebih dahulu dijatuhkan sebagai orang kerdil berubah menjadi raksasa. Ketika meninggalkan jabatan kepresidenan tahun 1953 Harry Truman dicacimaki, tetapi hari ini ia mendapat angka-angka tinggi sebagai seorang pemimpin.
Putusan akhir dari sejarah tidak dijatuhkan dalam waktu cepat. Bukan hanya mengambil beberapa tahun saja, melainkan beberapa dekade atau lewat beberapa generasi. Hanya sedikit pemimpin yang masih sempat mendengar putusan itu. Herbert Hoover merupakan perkecualian. Tidak ada seorang pun pemimpin dalam sejarah Amerika yang difitnah sekejam yang dialaminya. Setelah ditinggalkan oleh kawan-kawannya dan difitnah oleh lawan-lawan, akhirnya ia berjaya. Di usia senjanya ia berdiri tegak mengatasi para pemfitnahnya. Hidupnya menggambarkan kebenaran dari baris puisi karya Sophocles yang sangat digemari de Gaulle: "Orang harus menunggu sampai malam untuk mengetahui betapa indahnya siang tadi.”
Semua pemimpin dalam buku ini masing-masing mempunyai keberhasilan dan kegagalan, kekuatan dan kelemahan sifat buruk dan sifat baik. Kita hanya bisa menebak bagaimana para ahli sejarah akan menilai warisan masing-masing seabad sejak sekarang. Ini, sebagiannya, akan tergantung kepada siapa yang menang dalam perjuangan dunia dan siapa yang menulis sejarah. Tetapi pemimpin-pemimpin ini tidak merasa segan berjuang. Mereka memasuki arena. Dan, seperti dikatakan Theodore Roosevelt dalam pidatonya di Sorbonne tahun 1910:
Bukan si Pengeritik yang masuk hitungan: bukan orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat tersandung, atau di mana si Pelaksana bisa melakukannya lebih baik. Pujian adalah milik orang yang benar-benar berada di arena, yang wajahnya kusam karena debu dan keringat dan darah; yang bekerja keras membanting tulang, yang berbuat kesalahan, keliru dan keliru lagi; karena tidak ada usaha tanpa kesalahan dan kekurangan, tetapi siapa sebenarnya yang bekerja keras, siapa sebenarnya yang mengenal antusiasme yang menggelora, kesetiaan yang besar, yang mengabdikan dirinya kepada sesuatu yang sangat berharga, yang mengetahui dengan sangat baik bahwa akhirnya prestasi yang tinggilah yang akan berjaya atau yang seburuk-buruknya apabila ia gagal, setidak-tidaknya ia gagal dalam keberanian, sehingga kedudukannya tidak pernah akan bisa disejajarkan dengan jiwa-jiwa yang dingin dan penakut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan. h. 492.
***
Pemimpin dan Usia
Dalam pandangan selayang yang pertama tampaknya memang mengagetkan bahwa begitu banyak pemimpin besar dalam periode ini sudah pada lanjut usia. Tetapi kalau dipikirkan kembali, sebenarnya tidaklah aneh. Banyak dari mereka pernah mengalami masa "keterasingan”. Pandangan mendalam dan kearifan yang mereka peroleh dalam masa-masa itu dan kekuatan yang terkembang karena perjuangannya merebut kembali posisi, merupakan unsur-unsur kunci dari kebesaran yang mereka tunjukkan di masa kemudiannya. Churchill, de Gaulle, dan Adenauer ketiganya memberikan sumbangan terbesarnya setelah mereka melampaui apa yang kita anggap sebagai masa beristirahat yang normal. Churchill sudah berusia enam puluh enam tahun ketika ia memulai kepemimpinan perang untuk Britania Raya, de Gaulle enam puluh tujuh ketika membentuk Republik Kelima, dan Adenauer sudah berusia tujuh puluh tiga tahun ketika mulai memegang kendali sebagai Kanselir. De Gaulle menjadi Presiden pada usia tujuh puluh delapan tahun, Churchill masih menjadi Perdana Menteri ketika berusia delapan puluh tahun.
Dalam abad dua puluh telah terjadi revolusi dalam bidang kedokteran. Kita bisa hidup lebih lama dalam keadaan lebih sehat. Tetapi selain itu, semangat dan stamina yang menggerakkan pemimpin besar sering kali membuat ia tahan lama, padahal yang lain yang sebaya telah memasuki masa pensiun yang tenang. Seringkali kita menjadi tua karena kita membiarkan diri menjadi tua. Kita menjadi tua karena kita menyerah, atau karena hanya duduk-duduk saja, atau karena membiarkan diri tidak aktif. Mereka yang ingat akan detik-detik kematian Churchill, Eisenhower dan MacArthur yang seperti diulur-ulur akan ingat pula betapa keras kepalanya tubuh mereka menolak agar menyerah, bahkan setelah mereka masuk ke alam tidak sadar. Pemimpin-pemimpin besar membuat aturan sendiri, dan mereka bukan dari jenis yang mau menyerah begitu saja kepada kalender, semata-mata hanya karena begitulah lazimnya. h. 486-487.
***
Salah satu keunggulan Adenauer (Kanselir Jerman) yang paling berharga adalah, ia kelihatan tidak mengenal lelah sekalipun usianya tujuh puluhan. Politisi yang baik, katanya suatu ketika kepada saya, yaitu orang yang "sanggup duduk lebih lama dari yang lainnya.” Sanggup mengikuti rapat sampai larut malam kalau perlu, duduk dengan sabar sementara lawan-lawannya yang sudah mengantuk satu demi satu akhirnya menyetujui pandangannya.” — Nixon, h. 211
***


0 komentar:
Posting Komentar