alt/text gambar

Selasa, 28 Oktober 2025

Topik Pilihan: ,

Sambutan Pramoedya Ananta Toer pada Pendirian Komite Persiapan Legalisasi PRD (Partai Rakyat Demokratik)

Pramoedya Ananta Toer menerima PRD Award dari Budiman Sudjatmiko, 22 Juli 1996. Foto: Dok PRD untuk JPNN

Salam Demokratik! 

Hormat dan penghargaan setinggi-tingginya kepada pimpinan dan seluruh anggota PRD karena ketegasan, kelugasan, dan keberanian demokratik menyelenggarakan acara ini. Mungkin peristiwa ini akan menjadi satu-satunya dalam sejarah Indonesia modern. 

Sudah sejak kalimat pertama saya gunakan kata demokratik dan modern karena dua kata tersebut menjadi cita-cita sekaligus tujuan para pejuang kita sudah sejak tahun belasan, baik di tanah air maupun di Eropa dalam rangka studi maupun pembuangan (externiran). 

Jadi bila angkatan muda, di sini PRD, berjuang, berupaya menjadikannya kenyataan, itu bukan saja hak PRD untuk menentukan sendiri hidupnya sekarang dan hari depannya, juga karena melakukan misi sejarah para pejuang yang telah mendahului kita. 

Memang, ada aksi ada reaksi. Kalian yang menggerakkan aksi adalah kaum aktivis. Mereka yang menentang dengan menghalalkan segala cara adalah kaum reaksioner. Jangan ragu menggunakan kata ini sekalipun mereka diperlengkapi segala alat dari seluruh penjuru dunia. 

Yang kalian perlukan cuma satu: keberanian. Tanpa keberanian kalian akan diperlakukan sebagai ternak, yang hanya menjadi perahan, malah bisa jadi sampai digiring ke tempat pembantaian. 

Para pendahulu menciptakan modernisme: lugas, jujur, bebas dari segala pretensi, bebas dari segala pajangan dan hiasan, bahkan juga bebas dari eufemisme alias peng-kromo-an kata-kata, yang sampai sekarang ini masih terus dibiakkan oleh Orba dan begundalnya. Dan demokratik: setiap orang sederajat di hadapan hukum, menghargai hak-hak asasi, menghormati pikiran dan sikap sesama, mengakui bahwa setiap orang berhak memberikan saham pada kemajuan, perikemanusiaan nasionnya dan kalau mungkin pada umat manusia di semua penjuru dunia. Dalam bernegara Bung Karno masih menambah tiga garis: Trisakti. Sakti kesatu: berdaulat di bidang politik. Sakti kedua: mandiri di bidang ekonomi. Sakti ketiga: berpribadi di bidang budaya. Dan itu sepenuhnya benar.

Budiman Sudjatmiko, pimpinan PRD dalam penjara, sepenuhnya tepat dan benar telah memberikan mandat untuk mendirikan Komite Persiapan Legalisasi PRD. Tapi kalau tujuannya hanya akan memperjuangkan pembebasan tapol PRD dan seluruh tapol lainnya, dan pencabutan SK pelarangan PRD, rasanya kurang tepat. Orba belum juga membebaskan seluruh tapol dan napol karena tidak punya keberanian dan kekuatan untuk itu. Orba dan jajaran begundalnya tangannya berlumuran darah pembantaian atas bangsa sendiri. Mulutnya belepotan dengan krim kue nasional, karenanya mereka sangat takut melihat pada cermin sejarah. Para tapol dan napol paling jelas memahami wajah, jantung dan hati Orba dan begundalnya, sampai-sampai pada kerak dan karatnya. PRD berhak mandiri sebagai partai politik. Dan saya bersedia menjadi anggota, kalau diterima. 

PRD berhak mandiri sebagai partai politik. Yang melarang adalah kaum reaksi, kaum reaksioner, hanya karena menganggap rakyat Indonesia hanya rakyat taklukan. Yang mereka butuhkan sekarang ini hanya satu: cermin untuk melihat dirinya sendiri. Di cermin mereka akan melihat bukan hanya tampang sendiri juga bahwa tanah air Indonesia bukanlah tanah tumpah darah dalam pendudukan agresor asing. 

Membangun sebuah koalisi demokratik dengan komitmen untuk reformasi total? Setuju seratus persen. Itulah justru yang dibutuhkan dalam vakum kepemimpinan nasional dewasa ini. 


Hidup PRD!

Hidup Budiman Sudjatmiko. 


Dan awalnya, bukan akhirnya: “Budiman Sudjatmiko, calon pemimpin nasional, calon presiden Republik Indonesia di waktu dekat mendatang.

Kalian semua angkatan muda berada dijalan yang benar. Yang dungu akan tersingkir tersipu-sipu. 


Jakarta, 13 Juli 1998 

Pramoedya Ananta Toer 


0 komentar:

Posting Komentar