 |
| Buku karya Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt. |
Rahasia Pidato yang Sukses:
CARA MENGUCAPKAN PIDATO
Apa yang Anda ingin ucapkan di hadapan umum, hendaknya Anda ucapkan secara biasa saja seolah-olah Anda mengatakannya kepada salah seorang pendengar secara pribadi.
Marilah kita ambil suatu contoh dari kebanyakan orang yang berpidato di depan umum. Pada suatu hari saya berlibur di Swiss, sambil berkunjung dan menginap di sebuah hotel, yang diusahakan oleh suatu perusahaan dari London. Setiap minggu diadakan ceramah oleh beberapa orang pembicara untuk menghibur para tamu. Salah seorang di antaranya adalah penulis roman wanita Inggris sangat terkenal. Judul pidatonya ialah: "Hari Depan Roma."
la mulai dengan mengatakan, bahwa acara itu bukan ia sendiri yang memilikinya. Jika kita bahas pidatonya, maka ternyata ia sangat bersungguh-sungguh ingin bercerita kepada para pendengarnya.
la membuat beberapa catatan-catatan dengan tergesa-gesa. Maka ia berdiri di depan para hadirin, seolah-olah tanpa menghiraukan mereka. Ya, bahkan ia tidak mengarahkan pandangannya kepada mereka, melainkan ke atas, sambil kadang-kadang melihat catatan-catatannya, dan sekali-kali juga memandang ke lantai. la mengucapkan pidato seolah-olah ingin mengisi ruang yang kosong, sambil memandang ke satu arah yang jauh sekali. Suaranya pun sayup-sayup jauh pula.
Sudah barang tentu, itu bukan cara pidato yang jitu. Pidatonya itu sebenarnya merupakan suatu percakapan sendiri (monolog) dan sama sekali tak dapat mempengaruhi pendengar, tanpa kehangatan sedikitpun.
Padahal, salah satu syarat berpidato yang bagus adalah: adanya sesuatu yang memancar dari dalam, ada kehangatan yang hidup. Para pendengar harus merasakan adanya amanat di dalamnya yang secara langsung keluar dari hati menuju ke dalam jiwa para pendengar. Pidato yang diucapkan semacam penulis wanita Inggris itu lebih baik diucapkan di gurun pasir Gobi. Ya, pidatonya lebih mirip dengan pidato di daerah demikian itu dari pada di depan sekelompok orang-orang hidup.
Masalah cara mengucapkan pidato adalah sederhana dan musykil sekaligus. Dan merupakan soal yang sering tidak dipahami atau sering menjadikan salah paham.
RAHASIA CARA MENGUCAPKAN PIDATO YANG BAIK
Dalam menyelenggarakan pidato, banyak sekali hal omong kosong ditulis. Terlalu banyak yang ditulis tentang ini sehingga masalah yang sesungguhnya sederhana, menjadi suatu soal yang sulit dan penuh rahasia dan kegaiban.
Cara pidato zaman dulu terlalu banyak aksi, sehingga sering ditertawakan. Segala sesuatu harus sesuai dengan tuntutan zaman.
Sekarang Ini kita bersikap lebih langsung, dari hati ke hati. Kita berbicara tanpa banyak ulah dan variasi. Kita bisa banyak belajar dari majalah-majalah modern. Kita harus lebih banyak menggunakan gaya telegram dari pada menggunakan gaya buku yang bertele-tele. Kita hidup dalam zaman jet, tak lagi di zaman gerobag atau pedati.
Kembang api berisi kata-kata, yang dulu sangat digemari, tak bisa diterima lagi oleh para pendengar modern sekarang ini yang menginginkan pembicaraan langsung menuju kepada jiwa dan pikiran mereka, seperti percakapan biasa.
Pendengar sekarang menginginkan suatu pidato yang tidak melebihi percakapan biasa. Hanya bedanya, dalam pidato harus diperlukan lebih banyak tenaga, supaya dapat didengar dengan baik dan jelas.
Jika Anda ingin secara wajar menghadapi empat puluh orang, hendaknya Anda mencurahkan lebih banyak energi ke dalamnya dari pada jika Anda berpidato di depan beberapa orang saja.
Ketika Mark Twain berpidato di Nevana, di depan beberapa orang pekerja tambang, datang seorang tua bertanya kepadanya: ''Itukah nada wajar Anda kalau berbicara?'' Pada hal justru inilah yang diinginkan oleh pendengar-pendengar Anda. Mereka ingin mendengarkan bahasa dan cara berbicara Anda biasa dan wajar, meskipun agak dikeraskan sedikit. Berbicaralah kepada sekelompok orang-orang seperti Anda berbicara kepada Bung A, sebab sesungguhnya sekelompok orang-orang itu tak lain tak bukan adalah kumpulan Bung A tadi. Apakah cara Anda dalam menghadapi orang-orang itu satu persatu, tidak perlu berhasil dalam menghadapi mereka bersama?
Kalau tadi saya telah melukiskan pidato seorang penulis tertentu, sekarang ada contoh lain. Di ruangan khusus suatu hotel di Swiss saya mendengarkan pidato Sir Oliver Lodge dengan thema: ''Atom-atom dan Dunia". la telah memikirkan soal itu lebih dari setengah abad. la telah mengadakan percobaan-percobaan dan penyelidikan yang mendalam. la menceritakan sesuatu yang keluar dari lubuk hatinya, bahkan keluar dari seluruh wujud hakekatnya lahir bathin. Ia lupa bahwa ia mengucapkan suatu pidato, dan justru inilah yang membuat pidatonya betul-betul bagus.
la sama sekali tidak menghiraukan apakah pidatonya sukses atau tidak. Yang paling penting bahwa orang-orang memahami apa yang ia bicarakan yaitu : Apakah Atom-atom itu, dan ia mau menceriterakan segala sesuatu tentang atom-atom itu kepada para pendengarnya, dan ia melakukannya dengan perasaan dan semangat yang sedemikian hidup, sehingga kami pun seolah-olah melihat atom-atom itu sebagaimana ia melihatnya, dan kami merasa bersama-sama dia apa dan bagaimanakah atom-atom itu.
Sumber:
Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 146-148
***
MENYIAPKAN PIDATO
Menyiapkan pidato itu apakah sama dengan menghimpun beberapa kalimat yang bagus-bagus, di mana sebelumnya telah Anda tulis dan kemudian secara luar kepala? Tidak, sama sekali tidak demikian.
Menyiapkan pidato adalah merupakan pengumpulan gagasan-gagasan serta pikiran-pikiran Anda sendiri. Ini adalah suatu ajakan-ajakan serta keyakinan-keyakinan dari Anda sendiri. Dan ini terjadi di semua saat asal Anda sedang dalam keadaan tidak tidur atapun sedang terbang dalam impian.
Seluruh jiwa raga Anda dipenuhi serta terisi dan diliputi akan perasaan-perasaan yang demikian. Kesemuanya itu masuk di dalam bawah sadar Anda, terkumpul ataupun berserakan di situ.
Yang diartikan persiapan: Berpikir, merenungkan, mengingat-ingat. Dan ini adalah berarti memilih serta mencari mutiara-mutiara yang bertebaran di mana ini tadinya telah hilang—terlupakan, dan kemudian Anda sendiri yang menggosoknya hingga mengkilap serta Anda susun sedemikian rupa, di mana pada akhirnya merupakan suatu mozaik yang bisa sesuai dengan selera Anda.
Pada abad lalu ada seorang pendeta Amerika terkenal, yaitu Dwight L. Moody. Pendeta ini sangat terkenal dengan pidato-pidatonya yang bagus. Sewaktu orang menanyakan kepadanya dengan cara bagaimana ia bisa berpidato demikian bagus serta sangat menarik, maka jawaban yang diberikan adalah:
"Inilah rahasia saya. Seandainya saya menjatuhkan pilihan pada suatu pokok yang harus saya bicarakan, maka saya menulisnya di atas amplop. Dan amplop yang demikian itu selalu saya bawa kemana-mana. Seandainya saya sedang asyik membaca serta menemukan sesuatu di mana ini cocok dengan suatu soal yang akan saya pidatokan, maka saya tulis di atas sepotong kertas kemudian saya masukkan kedalam amplop yang tertentu. Buku catatan saya selalu saya bawa, dan kalau saya mendengar sesuatu, yang ada hubungannya dengan salah satu soal saya, maka hal yang demikian itu saya catat, dan kemudian halaman itu saya sobek serta saya masukkan dalam amplop yang khusus untuk itu. Beberapa amplop itu kerap sekali dalam waktu satu tahun ataupun lebih tidak saya buka-buka. Kalau saya akan membuat sebuah pidato yang baru, maka saya memeriksa apa saja yang telah saya kumpulkan mengenai masalah tersebut. Dan segala apa yang telah saya temukan di sana, kemudian saya gabungkan dengan studi (penelaahan) saya sendiri, sehingga ini akan merupakan sesuatu yang lebih ataupun cukup. Ada yang saya tambah di sini, akan tetapi juga ada yang saya kurangi. Ini selalu berubah-rubah, berserak-serak serta selalu segar dan tidak kering-kering”.
Sumber:
Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 37-38
**
Cara Mengucapkan Pidato
"Apa yang Anda ingin ucapkan di hadapan umum, hendaknya Anda ucapkan secara biasa saja seolah-olah Anda mengatakannya kepada salah seorang pendengar secara pribadi." --Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 146
**
"Salah satu syarat berpidato yang bagus adalah: adanya sesuatu yang memancar dari dalam, ada kehangatan yang hidup. Para pendengar harus merasakan adanya amanat di dalamnya yang secara langsung keluar dari hati menuju ke dalam jiwa para pendengar." --Dr. Dale Carnegie, Teknik dan Seni Berpidato, Penerbit Nur Cahaya, tt, h. 147
***
Pidatolah seperti Bicara Biasa antar Individu: PIDATO DARI HENRY FORD
"Semua mobil-mobil Ford adalah sama, tiada bedanya.'' Kata Raja Mobil Ford, "Akan tetapi, tak ada dua orang yang sama. Setiap orang berbeda. Hendaknya kaum muda menyadari ini. Ia harus ingat, akan pribadinya, yang membikin dia berbeda dari siapapun. Hendaknya Anda banyak mengambil manfaat dari kepribadian itu."
Pergaulan masyarakat yang terlalu intens (mesra) sekarang ini, menyebabkan segala sesuatu cenderung menjadi seragam, sehingga sesuatunya menjadi dangkal. Kita semua mendapat pendidikan sama, berdiam di dalam rumah-rumah yang mirip satu sama lain, memakai baju yang sama, membeli barang-barang yang sama merknya, menelan makanan yang sama, dan bersama-sama menikmati rekreasi-rekreasi dan kita sendiri pun disiapkan untuk keperluan massa.
Kita hanya mengikuti mode belaka, tidak saja dalam memilih kata-kata, olah raga dan permainan, bacaan, dan lain-lainnya. Oleh karena itulah kita harus betul-betul tahu, bahwa kita hendaknya jangan membunuh kepribadian (individualitet ) kita.
Prinsip ini berlaku juga dalam hal berbicara di depan umum. Di dunia ini tak ada apa pun yang sama dengan Anda. Beratus-ratus juta manusia mempunyai dua mata, satu hidung dan satu Mulut. Akan tetapi, tak ada seorang pun yang sama bakatnya, sama gagasannya, dan sama cara hidupnya. Hanya beberapa gelintir orang saja menyatakan diri dan mengucapkan suara dengan cara yang sama seperti Anda, apabila berbicara sewajarnya.
Dengan kata lain, Anda mempunyai individualitet. Bagi Anda selaku pembicara, ini sangat penting. Di dunia ini tak ada seorang pun yang sama dengan Anda. Camkanlah ini baik-baik. Justru bersyukurlah karenanya, peliharalah kenyataan ini. Inilah tenaga, bunga api yang sesungguhnya yang mendorong kata-kata Anda. Inilah satu-satunya jalan bagi kecemerlangan Anda dalam berpidato.
Cara berpidato Sir Oliver Lodge lain daripada yang lain. Cara berpidato adalah ciri individualitet orang yang berpidato, tak ubahnya dengan janggut dan rambut kepalanya.
Jika Sir Oliver Lodge berusaha meniru cara Lloyd George, sudah tentu peniruan itu akan gagal. Mudah saja mengatakan kepada orang lain, bahwa ia harus bersikap wajar. Akan tetapi mudahkah menuruti nasehat ini? Tidak.
Marskal Foch berceritera tentang seni peperangan sebagai berikut: "Dasarnya sangat mudah, akan tetapi pelaksanaannyalah yang sangat sukar.'' Demikian pula halnya dengan berbicara dan berpidato. Anda harus berlatih sebelum pendengar-pendengar Anda menganggap Anda sudah berbicara dengan wajar. Aktor-aktris mengetahui hal ini. Ketika Anda masih kanak-kanak umur empat tahun, Anda mudah mengucapkan sajak. Akan tetapi setelah umur dua puluh tahun atau empat puluh tahun, Anda merasa canggung berdiri di atas podium di depan para pendengar. Lenyaplah kewajaran Anda yang Anda miliki tatkala berumur empat tahun. Ada kalanya Anda masih bisa seperti dulu, tetapi ini jarang sekali. Biasanya Anda akan merasa canggung dan kaku. Anda ingin bersembunyi seperti keong di dalam "rumahnya". Jika Anda mengajarkan teknik berbicara pada orang lain, tidak usah Anda menimbulkan sifat-sifat perangai-baru. Yang perlu ialah bagaimana cara mengatasi kecanggungan tersebut. Seorang pembicara harus membebaskan diri dari ikatan-ikatan yang menekan, bicaralah serta merta, seperti kalau kuping Anda baru dijewer orang.
Beratus-ratus -kali saya menyuruh siswa-siswa menghentikan pidatonya, dan minta supaya mereka berbicara secara wajar seperti manusia biasa.
Beratus-ratus kali saya lelah letih sesampainya di rumah karena tak henti-hentinya menganjurkan supaya mereka berbicara dengan cara wajar.
Oleh karena itu, percayalah bahwa berbicara dengan wajar itu tidak mudah. Methode satu-satunya di duni: di mana Anda bisa berdiri secara wajar di depan orang banyak dan menyusun pikiran-pikiran Anda sehingga menjelma menjadi kata-kata yang urut, hanya terjadi dengan latihan dan praktek.
Jika Anda berlatih sendiri, dan pada suatu saat mengetahui bahwa cara bicara Anda agak terpaksa dan kaku, berhentilah dahulu, dan berilah peringatan kepada diri sendiri: ''Ho. Salah, Bung! Bangunlah, dan jadilah manusia biasa!”
Jika Anda mengalami kekakuan dan sikap tidak wajar ketika Anda berbicara di depan umum, beristirahatlah satu sekon, sambil mencari obyek seseorang di barisan belakang dan tujukanlah pembicaraan Anda padanya. Lupakaniah bahwa masih ada orang lain dalam ruangan, dan bercakap-cakaplah dengan dia.
Dalam angan-angan, ajukanlah pertanyaan kepadanya, jawablah pertanyaan itu. Khayalkanlah bahwa seolah-olah orang itu berdiri dan mengatakan sesuatu pertanyaan pada Anda, sehingga Anda terpaksa menjawabnya. Dengan demikian, Anda akan terlibat dalam suatu percakapan yang wajar, dan Anda akan menjadi sadar bahwa kata-kata Anda lebih langsung tertuju kepada jiwa pendengar-pendengarnya.
Maka dari itu, bila setelah Anda berbicara secara tidak wajar, dan dirasakan sangat kaku, Anda harus mengkhayalkan seolah-olah ada orang yang bertanya pada Anda, dan Anda betul-betul menjawabnya. Misalnya di tengah-tengah sambil menunjuk ke belakang ruangan, Anda berkata: "Apakah saudara menginginkan bukti-bukti pernyataan saya itu? Saya cukup bukti-bukti yang akan saya kemukakan setelah ini,'' dan Anda berbicara terus sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan khayal itu. Ini dapat Anda lakukan untuk memberi kesegaran dalam pidato Anda. Pidato Anda akan lebih menyenangkan, tak lagi membosankan. Pertanyaan-pertanyaan khayal demikian akan membuat Anda lebih wajar dan lancar. Kesungguh-sungguhan dan semangat akan menolong Anda. Jika orang dihanyutkan oleh perasaan-perasaannya, kepribadiannya akan timbul. Tidak ada orang yang bisa menentangnya. Semua halangan akan lenyap dimusnahkan oleh nyala semangatnya. Gerak-gerik tangannya akan muncul sendiri dengan baik. Jadi kesimpulannya: suatu pidato akan berhasil bila Anda dapat bersikap wajar sesuai dengan kepribadian Anda.
Suatu contoh lagi pengalaman Ds. Brown yang menceriterakan demikian: ''Saya tak akan pernah bisa melupakan uraian pidato seorang kawan, tentang khotbah yang ia saksikan di London, pada suatu kuliah-kuliah berpidato di depan Fakultas Theologi Yale University. Pendeta yang berkhotbah adalah G. Mac Donald. Ia mula-mula membacakan suatu syair dari Bab XI surat kepada kaum Ibrani, kemudian dalam khotbahnya, ia berkata: ''Anda telah mengetahui banyak perihal mukmin-mukmin ini. Saya tak akan menguraikan, apakah iman dari mereka. Banyak profesor-profesor theologi (ilmu agama) yang jauh lebih pandai daripada saya dalam menguraikan kepercayaan mereka. Tetapi saya di sini semata-mata ingin membantu Anda dalam usaha membangkitkan iman." Kemudian keluarlah penjelmaan, ucapan dari keyakinan (iman) Pendeta Mac Donald sendiri, mengenai kebenaran-kebenaran abadi, yang membuat pendengar-pendengarnya menjadi yakin, baik dalam hati maupun dalam jiwanya.
Ini terjadi karena Ds. Mac Donald mencurahkan seluruh pribadinya ke dalam pidato yang ia ucapkan, dan kesan pidato ialah sangat mendalam, karena yang ia ucapkan bersumber kepada keyakinan sendiri.
Anda harus mengucapkan pidato Anda dengan segala keyakinan, semangat, dan roh yang ada dalam diri Anda. Itulah rahasia bicara dan pidato.
Akan tetapi, nasehat dan peringatan ini sering tidak dihiraukan. Dianggapnya terlalu kabur dan samar-samar. Pada umumnya, siswa-siswa yang berbicara di depan umum menginginkan aturan-aturan tetap, yang menjamin hasil-hasil yang memuaskan.
Mereka ingin tahu dengan saksama apa yang harus diucapkan, dilakukan, kalau bisa dengan menghafalkan peraturan-peratauran yang sederhana dan jelas. Mereka ingin dalam berbicara itu menerima semacam instruksi-instruksi, seperti dalam teknik memakai mobil.
Saya tahu bahwa Anda memang suka menerima resep-resep yang demikian itu, dan saya pun bisa pula memberikan resep tersebut, akan tetapi Anda tidak akan mendapat menfaat sedikitpun darinya.
Percayalah, resep-resep demikian itu baik sekali untuk memahami sebuah pesawat, akan tetapi untuk membahas hal-hal mengenai pidato, adalah tidak berguna. Karena dengan demikian hilanglah segala kewajaran dan keserta-mertaan dalam pidato, yang justru menjadi roh dan jiwanya. Makin teliti mengikuti peraturan-peraturan yang pasti, makin kaku dan tidak wajarlah pidato tersebut.
Saya di sini berbicara menuruti pengalaman sendiri. Ketika saya masih muda, saya telah memboroskan banyak waktu dan tenaga mencari rumus-rumus mengenai kerja pikiran dan jiwa. Saya tahu sekarang bahwa rumus-rumus itu tak dapat dilaksanakan. Rumus-rumus merupakan mata pelajaran mudah, sama dengan pembahasan sejarah. Mudah khususnya bagi guru yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan praktis tentang soal yang dibahasnya. Akan tetapi tak membawa siswa kepada tujuannya. Oleh karena itu Anda tidak akan menjumpai rumus-rumus dalam buku ini. Apa perlunya mengetahui banyak tentang hal-hal yang tidak bisa dipraktekkan? (h. 149-153).
0 komentar:
Posting Komentar