alt/text gambar

Selasa, 03 Februari 2026

Topik Pilihan: , , ,

Pluralitas Penafsiran Alquran: Suatu Kajian Hermeneutik


Oleh: Yusuf Rahman


KALAU kira perhatikan dan pelajari secara kritis tafsir-tafsir Alquran yang ada saat ini ataupun pengajian-pengajian yang diberikan oleh para ustaz, maka tidak jarang kita temukan perbedaan pemahaman para penafsir atau ustadz-ustadz tersebut terhadap makna ayat-ayat Alquran. Pertanyaannya kemudian penafsiran yang manakah yang paling benar? Adakah metode yang dapat digunakan untuk memperoleh dan juga menilai penafsiran yang benar? Mengapa ayat yang sama bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda bahkan kadang bertolak belakang? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang lainnya. 

Dari Komunikasi Lisan ke Tulisan 

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita perlu memahami esensi Alquran itu sendiri. Sebagaimana diyakini oleh umat Islam di seluruh dunia, Alquran merupakan firman-firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Firman-firman tersebut yang pada awalnya dikomunikasikan secara lisan kepada Nabi Muhammad, pada perkembangannya kemudian dibukukan dalam suatu mushaf sehingga umat Islam dapat mengaksesnya dengan mudah. Akan tetapi, pentransformasian Alquran dari komunikasi lisan ke dalam tulisan membawa berbagai macam konsekuensi lain, terutama di dalam usaha memahami dan menafsirkan Alquran. 

Di dalam beberapa tulisannya Paul Ricoeur (lahir 1913) menulis bahwa suatu diskursus yang telah ditetapkan dalam tulisan mengalami tiga macam proses distansiasi/pen-jarak-an (distanciation). Sebelum menjelaskan ketiga macam proses tersebut, Ricoeur terlebih dahulu membuktikan bahwa suatu teks adalah merupakan suatu diskursus dari komunikasi lisan yang telah dibentuk ke dalam tulisan (discourse fixed into writing). Akan tetapi Ricoeur melihat adanya perbedaan yang sangat menyolok antara komunikasi lisan dan tulisan. 

Pertama, berbeda dengan komunikasi lisan di mana si pembicara dan pendengar sama-sama berada antara satu dengan lainnya sehingga dapat menghasilkan suatu komunikasi dua arah, di dalam komunikasi tekstual sering terjadi di mana si pengarang tidak hidup dalam satu masa atau satu tempat yang sama dengan si pembaca sehingga komunikasi yang terjadi di antara keduanya adalah dialog satu arah (one way communication), yaitu komunikasi antara si pengarang dengan suatu teks atau si pembaca dengan teks. 

Ada juga yang menyebut komunikasi yang terakhir ini dengan komunikasi impersonal karena kita tidak berbicara langsung kepada seseorang (person) tetapi hanya kepada teks. Konsekuensi dari perbedaan ini, ketika terdapat kekaburan atau ketidakjelasan di dalam memahami suatu teks, kita sebagai pembaca tidak dapat secara langsung menanyakan kepada penulisnya/pengarangnya, baik karena ia sudah tidak ada (meninggal) atau susah untuk ditemui. Inilah salah satu bentuk distansiasi yang terjadi pada suatu teks: kita dijauhkan dari si pengarang (distanciated from the author). 

Di dalam berhadapan dengan suatu teks, proses penjarakan tidak hanya terjadi antara si pengarang dan pembaca, akan tetapi juga dengan konteks. Jika di dalam suatu dialog lisan, masing-masing pihak (pembicara dan pendengar) mengetahui konteks pembicaraan dan bila terjadi kesalahpahaman di antara keduanya mereka dapat merujuk secara langsung kepada konteks apa yang sedang dibicarakan, sebaliknya ketika membaca suatu teks kita sering kali mengalami kesulitan di dalam mengetahui apa konteks awal dari pembicaraan, walaupun kadang-kadang si pengarang telah mencoba menyelipkan konteks tersebut ke dalam teks tersebut. Oleh karena itu adalah sangat mungkin terjadinya kesalahpahaman di dalam membaca suatu karya tulis kalau kita tidak mengetahui konteks pembicaraan (distanciated from the contest). 

Memahami Alquran 

Proses penjarakan ini juga terjadi dalam mushaf Alquran yang tentu saja bisa mengakibatkan kesalahpengertian kita di dalam memahami makna Alquran. Distansiasi pertama adalah adanya jarak yang sangat jauh antara kita dengan Allah SWT sehingga, secara kasarnya, kita tidak dapat menanyakan secara langsung kepada-Nya untuk mengetahui maksud dari firman-firman-Nya. Maka adalah sesuatu yang naif bagi kita untuk mengatakan misalnya “maksud Allah dari ayat ini adalah begini dan bukan begitu”. Dari mana kita bisa mengetahui atau mengklaim bahwa yang kita katakan adalah yang dimaksudkan/diinginkan oleh Allah. Kalau pendapat ini yang kita pegang maka kita akan selalu mengklaim bahwa kitalah yang paling benar karena kita mengklaim untuk mengetahui maksud dan kehendak Allah. 

Ada juga yang berpendapat bahwa untuk memahami Alquran kita harus membiarkan Alquran berbicara sendiri (istanthiq Alquran). Di dalam teori dan kritik sastra, teori yang pertama disebut penafsiran yang berpusat pada pengarang (author-centered interpretation), sedangkan teori yang kedua adalah text-centered interpretation, yaitu penafsiran yang bersandar hanya kepada teks dengan menganalisa arti bahasanya, gaya bahasanya, strukturnya dll. Akan tetapi, teori ini juga dikritik dengan dalih bahwa suatu teks adalah suatu barang yang diam, ia sangat bergantung kepada manusia untuk dibaca dan dipahami. Khalifah Ali bin Abi Thalib (wafat 661) pernah berkata: al-Qur'aanu khaththun masthuurun bayna daffatayn laa yanthuqu, innamaa yatakallamu bihi al-rijaal, yang artinya “Alquran adalah suatu tulisan yang ditulis di antara dua kover, ia tidak berbicara. Manusialah yang berbicara dengannya.” 

Kritik sastra yang berkembang saat ini adalah reader-centered interpretation yang menekankan pentingnya peran pembaca di dalam mencari dan memberikan makna dari suatu teks. Memang terdapat banyak kritikan yang dilontarkan atas teori penafsiran ini karena dikhawatirkan si penafsir akan seenaknya saja memberikan makna yang sesuai dengan latar belakang ideologisnya. 

Biarpun demikian, tidak dapat dipungkiri adanya peran pembaca, atau lebih tepatnya, peran pra-suposisi pembaca di dalam memberikan makna suatu teks. “Tidak ada satu pun yang dapat disebut sebagai penafsiran yang bebas dari praanggapan,” demikian R. Bultmann (1884-1967) menulis dalam “Is Exegesis without Presupposition Possible?” Pra-anggapan ini berbeda dengan prasangka ideologis. Yang terakhir sering membutakan dan mentulikan kita ketika berhadapan dengan teks karena tidak mau mendengarkan apa yang dikatakannya kecuali yang mendukung dan sesuai dengan ideologi kita. Sebaliknya, pra-anggapan adalah asumsi awal yang bersifat terbuka dan bisa dikritisi atau diperbaiki oleh teks ketika kita membacanya. 

Tampaknya yang menyebabkan perbedaan penafsiran para penafsir adalah beragamnya pra-anggapan ini. Masing-masing melakukan aktifitas penafsirannya, secara sadar atau tidak, atas dasar ini. Itulah sebabnya kita dapatkan penafsiran yang bernuansa spiritual, teologis, politis, legal, dll. Terhadap pertanyaan: “interpretasi yang manakah yang paling benar?” kita tidak dapat menjawabnya secara pasti karena masing-masing berusaha memahami Alquran atas dasar asumsi mereka terhadap Alquran. Namun kita tidak bisa menganggap bahwa penafsiran spiritual-lah, misalnya, yang paling benar dibanding dengan penafsiran teologis, atau sebaliknya. 

Di samping mewaspadai peran ideologi dan pra-anggapan yang dapat mempengaruhi penafsiran kita, sebagaimana diterangkan sebelumnya tentang terjadinya proses distansiasi suatu teks dari konteks, untuk mendapatkan penafsiran yang valid si penafsir hendaknya berusaha untuk memahami konteks ayat-ayat Alquran yang sedang dikaji. Kita beruntung bahwa di dalam disiplin ilmu-ilmu Alquran, kita memiliki banyak literatur tentang asbab al-nuzul, makki wa madani, nasikh wa mansukh, dll., yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk memahami konteks ayat. 

Tetapi yang patut diingat ialah bahwa literatur di atas, sebagaimana juga karya-karya yang lain, seperti tafsir, ilmu kalam, tasawuf dll., merupakan produk para ulama terdahulu yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh konteks sosio-historis dan latar belakang pengarangnya, sehingga tidak begitu saja harus diterima tanpa dikritisi terlebih dahulu. Mudah-mudahan dengan menyadari bahwa pemahaman dan penafsiran kita selalu bersifat subyektif ditambah juga dengan merujuk kepada karya-karya terdahulu untuk mengetahui konteks awal ayat Alquran, kita akan dapat memahami Alquran yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini.

Yusuf Rahman, dosen Fakultas Ushuluddin dan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Menyelesaikan S3 di Institute of Islamic Studies McGill University, Montreal, Canada. 

Sumber

Abd, Moqsith Ghazali (peny.), Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Penerbit Jaringan Islam Liberal, 2005, h. 11-14.

0 komentar:

Posting Komentar