alt/text gambar

Sabtu, 06 Juni 2026

Topik Pilihan: , ,

Seputar Fragmen Sejarah Intelektual dalam Pandangan Ignas Kleden

Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2024


INTELEKTUAL DAN ILMUWAN, APA BEDANYA? 


Bagaimana pun juga, intelektual tidaklah harus seorang genius. Pada dasarnya semua orang adalah intelektual, kata Gramsci, karena tiap orang dikaruniai akal budi. Namun demikian, hanya beberapa orang yang menjalankan peran intelektual. Maka pertanyaannya: apa fungsi seorang intelektual? Edward Said menjawab: intelektual adalah seorang yang terpanggil untuk tugas representasi, yaitu merepresentasikan suatu posisi dan pandangan yang diartikulasikannya untuk suatu publik, entah dengan menulis, berbicara di radio dan televisi, mengajar di universitas atau membina kelompok-kelompok tersisih dalam masyarakatnya. 

Tugas representasi itu mengandung komitmen dan risiko, menuntut keberanian, dan kesediaan berkorban. Yang membedakan seorang intelektual dari seorang pengajar atau presenter televisi ialah bahwa apa yang diucapkan atau diajarkannya bukan sekadar buah pikiran dan informasi, tetapi juga suatu keyakinan yang mengejawantahkan apa yang diucapkan atau diajarkan agar menjadi testimoni yang dihadirkan untuk sebuah publik.

Ditinjau dalam renungan yang sederhana saja, akan segera terlihat bahwa seorang ilmuwan alam, dalam kerjanya, berusaha untuk mengubah kenyataan-kenyataan alam (baik alam mati maupun alam hidup) menjadi pengetahuan dan informasi. Hal yang sama dilakukan oleh ilmuwan sosial terhadap tingkah laku orang di pasar, dalam pabrik atau dalam perusahaan besar. Perilaku orang dalam mengadakan barang dan jasa diubah menjadi informasi ilmu ekonomi. Seterusnya, usaha orang dalam merebut dan mempergunakan kekuasaan dicatat sebagai informasi ilmu politik. Sosiologi mengamati organisasi sosial masyarakat, bentuk-bentuk pengelompokan, mobilitas dari strata yang satu ke strata yang lain, dan menyusunnya menjadi informasi dan pengetahuan tentang suatu kelompok sosial. Selanjutnya, nilai-nilai dan kepercayaan sekelompok orang dicatat dalam ilmu-ilmu budaya menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari oleh kelompok budaya lainnya. 

Dalam perbandingan dengan tugas seorang ilmuwan akan menarik mempertanyakan apa yang dilakukan oleh seorang intelektual, khususnya oleh seorang intelektual publik. 

Menurut pendapat saya, seorang intelektual juga bekerja dengan informasi dan pengetahuan, tetapi dia tidak menjadikan informasi dan pengetahuan sebagai tujuan kerjanya, melainkan sebagai sarana, sebagai jalan, sebagai fasilitas. 

Seorang ilmuwan mengubah kepercayaan dan nilai menjadi informasi dan pengetahuan, sementara seorang intelektual mengubah pengetahuan dan informasi menjadi nilai, komitmen politik, keyakinan ideologis atau sikap moral. 

Seorang ilmuwan membatasi kerjanya dalam disiplin yang menjadi bidang keahliannya, sementara seorang intelektual menerobos disiplin keilmuannya, karena tujuan yang menggerakkan dia bukanlah suatu arsitektur pengetahuan yang harus dibangunnya, melainkan suatu masalah publik yang harus dipikirkan dengan segera, atau kepentingan publik yang harus diselamatkan atau dibela. 

Ralph Waldo Emerson, pemikir dan penyair transendentalis dari New England di Amerika pernah menulis sebuah pidato yang selalu diingat kembali oleh kalangan akademis Amerika Serikat, khususnya oleh para sarjana Universitas Harvard. Dalam pidato berjudul The American Scholar itu dia mengatakan antara lain bahwa tak mungkin ada sarjana tanpa pikiran heroik—there can be no scholar without the heroic mind.

Emerson menyebut sarjana dalam tuntutan dan harapannya, tetapi harapan itu lebih tertuju kepada sarjana yang berperan sebagai intelektual publik. Pikiran yang heroik dan jiwa yang aktif adalah sifat-sifat yang harus ada pada seorang intelektual. Keterlibatannya dalam ilmu hanyalah bagian dari keterlibatannya dalam kehidupan publik, bahkan keterlibatan dalam hidup itu sendiri. 


(Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2024, h. 11-12)


***

PILIHAN HIDUP PARA INTELEKTUAL

Intelektual, seperti setiap orang lain, adalah anak zamannya yang bertumbuh dewasa dalam semangat zamannya. Akan tetapi ilmu-ilmu sosial dan psikologi sudah memberi banyak penjelasan bahwa zaman dan tempat seseorang hidup dan berkembang, bukanlah suatu determinisme baginya. Zaman dan tempat seorang hidup tidak menjadi takdir untuk hidup, nasib dan perkembangannya, karena respons seseorang terhadap setiap stimulus adalah respons yang mengandung kebebasan. 

Ada hubungan yang bersifat terbuka dan penuh kemungkinan di antara stimuli yang diberikan oleh waktu dan tempat seseorang hidup, dan respons yang diberikan oleh tiap orang terhadap berbagai stimuli itu. 

Pendidikan Barat di zaman penjajahan Belanda, diberikan dengan maksud agar ada tenaga-tenaga terpelajar dengan kepandaian teknis, yang dapat direkrut untuk berbagai pekerjaan teknis atau administratif. Orang-orang yang menamatkan pendidikan tinggi di universitas yang didirikan di Hindia Belanda atau universitas di Eropa, sudah mempunyai prospek yang relatif pasti mengenai pekerjaan dan karier yang menantinya. Soekarno yang lulus sebagai Insinyur di Sekolah Teknik Tinggi Bandung, mempunyai kesempatan dan pilihan luas untuk bekerja sebagai arsitek dan membuka kantornya sendiri. Hatta yang lulus dari Sekolah Tinggi Dagang di Rotterdam, merupakan salah seorang pribumi yang mendapat pendidikan paling tinggi, di samping Sam Ratulangi, yang mendapat gelar Dr. der Naturphilosophie untuk ilmu-ilmu alam dan matematik dari Universitas Zurich di Swiss. Di samping itu, mereka yang tidak meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi, sudah mendapat dasar pengetahuan yang cukup kuat di sekolah menengah HBS atau AMS, sehingga mereka mampu mengembangkan diri dan pengetahuannya dengan inisiatif sendiri. Dua contoh saja untuk golongan terakhir ini adalah Haji Agus Salim, yang tamat dari sekolah menengah HBS (Hoogere Burgerschool) dan Rajeng Ajeng Kartini yang pendidikan resminya hanya Sekolah Dasar berbahasa Belanda (Europeesche Lagere School/ELS) yang berlangsung tujuh tahun dengan mata pelajaran yang sama dengan Sekolah Dasar di negeri Belanda. 

Sekali pun mendapat pendidikan baik seperti pada kasus Soekarno, Hatta dan Sam Ratulangi, dan sekali pun karier yang dimungkinkan oleh kecakapan mereka terbuka lebar, stimulus untuk lapangan kerja itu telah mendapat respons yang sangat berbeda dari yang diharapkan. Soekarno tidak membuka kantor arsitek, Hatta tidak menjadi konsultan perdagangan atau perbankan, dan Sam Ratulangi tidak menjadi Profesor matematik atau fisika di ITB Bandung atau Perguruan Tinggi lainnya. Ketiga-tiganya memilih menjadi aktivis politik dan memimpin perjuangan politik untuk Indonesia merdeka. Dalam kasus lainnya, Haji Agus Salim, seorang lulusan terbaik dari HBS di seluruh Hindia Belanda pada masanya, menolak beasiswa untuk meneruskan studi di Belanda. Dia kemudian membuktikan bakatnya yang luar biasa dalam bidang bahasa, dan barangkali menjadi polyglot pertama di Hindia Belanda, yang menguasai dengan baik bahasa-bahasa Barat dan Timur. Dengan kepandaian bahasanya, dia pasti dapat membuka Sekolah Bahasa Asing, baik untuk pribumi maupun untuk orang-orang Eropa masa itu. Hal ini tidak dilakukannya, karena dia menceburkan dirinya dalam gerakan dan perjuangan politik untuk membebaskan Hindia Belanda dari cengkeraman penjajahan Belanda. 

Raden Ajeng Kartini, menjadi kasus khusus dalam perjuangan kaum intelektual pribumi sebagai inteligensia Indonesia pada awal abad 20. Lahir dalam lingkungan bangsawan Jawa, karena ayahnya R.M. Adipati Ario Sosroningrat adalah bupati Jepara, statusnya sebagai anak bangsawan, memungkinkannya mendapat pendidikan Eropa di ELS, selama tujuh tahun. Kartini mengalami hidup yang singkat, hanya 25 tahun, namun masa hidupnya, khususnya setelah dia mendapat pendidikan Eropa di ELS membuat masa remaja dan masa mudanya penuh pergolakan batin dan pemikiran dengan gagasan-gagasan modern yang bertentangan dengan adat kebiasaan masa itu, tetapi mendapat jalan keluar melalui surat-suratnya kepada suami-istri Abendanon. 

(Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2024, h. 64-65) 


***



0 komentar:

Posting Komentar