alt/text gambar

Kamis, 16 April 2026

Topik Pilihan: ,

Seputar Postmodernisme

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001


Sumbangan Husserl bagi Postmodernisme

Akibat dari refleksi Husserl yang jauh dan radikal, akhirnya persoalan epistemologi sendiri pun dengan sendirinya luruh. Bersama Husserl persoalan epistemologis sirna sebab gagasan tentang ”ilmu” atau "keilmiahan” itu sendiri dipertanyakan. Memang benar, bahwa awalnya, dalam Cartesian Meditations tujuan Husserl adalah juga: "hendak memperlihatkan kemungkinan konkret gagasan Cartesian tentang filsafat sebagai ilmu yang mampu merengkuh segala pengetahuan berdasarkan fondasi absolut”.

Jadi, Husserl memang berusaha untuk mencari fondasi absolut, suatu fundamentum inconcussum yang murni. Kemudian ia yakin telah menemukannya dalam subjektivitas transendental. Namun akhirnya pelacakan arkeologisnya atas medan pengalaman hidup transendental membawanya pada penemuan terpentingnya, yang kelak justru berbalik menggugat gagasan dasarnya tentang keilmiahan itu sendiri. Penemuan tersebut adalah gagasannya tentang Lebenswelt. 

Apa Itu Lebenswelt? 

Yang dimaksud dengan lebenswelt ini tiada lain adalah aliran kehidupan langsung sebelum direfleksikan, lapisan dasar yang kemudian memunculkan tematisasi dan teoretisasi ilmiah. Ini adalah dunia yang kita hayati sehari-hari secara konkret, dunia yang mendahului pemilahan modern Galilean menjadi subjektif dan objektif (atau juga kualitas sekunder dan kualitas primer). Dengan kata lain, ini adalah dunia prailmiah yang dihayati sehari-hari, yang sebenarnya melandasi segala konstruk ilmiah dan bahkan diandaikan olehnya. Sebagaimana ditekankan oleh Husserl sendiri berkali-kali, segala bentuk konstruk ilmiah hanyalah idealisasi, abstraksi dari dan penafsiran tentang dunia prareflektif kehidupan langsung ini. Dari sebab itu, konsepsi-konsepsi ilmiah haruslah dianggap semata-mata sebagai cara pandang tertentu saja atas dunia tersebut atau cara tertentu untuk menggauli dunia tersebut sesuai dengan tujuan tertentu pula. 

Dengan demikian yang disebut dunia ”objektif” sebetulnya hanyalah penafsiran tertentu saja atas dunia pengalaman hidup sehari-hari alias Lebenswelt yang mengatasi dan mendahului kategori-kategori objektivistik maupun subjektivistik. 

Gagasan tentang dunia-hidup tadi dengan demikian sudah menggerogoti klaim-klaim dari pihak ilmu yang menganggap dirinya bebas praduga dan memiliki fondasi tak tergoyahkan. Husserl sendiri kiranya tak menduga bisa muncul kesimpulan macam ini. Tapi para penerusnya ternyata memang menemukan lebih dari yang sempat terpikirkan olehnya. Konsekuensi radikal dari upaya Husserl untuk menjadikan filsafat sebuah ilmu keras (rigorous science) telah dirumuskan oleh Gadamer: "Pemikiran filosofis bukanlah ilmu sama sekali.....Tak ada klaim tentang pengetahuan definitif kecuali satu: pengakuan atas keterbatasan manusia itu sendiri”.

Dari pemikiran dasar macam ini timbullah beberapa konsekuensi. Jika segala teoretisasi ilmiah hanyalah soal idealisasi dan penafsiran pengalaman prailmiah, bagaimanakah kemudian nasib upaya-upaya ilmiah-filosofis yang berusaha mengungkapkan "kebenaran objektif hal-hal"? Kemudian pula Epistemologi, sebagai disiplin yang hendak menjamin kebenaran objektif setiap ilmu dan setiap wacana (discourse) manusia, haruskah ia didiskreditkan? Lalu segala hal menjadi soal penafsiran belaka? Pada titik inilah terbuka jalan, di satu pihak ke arah pluralisme ekstrem, yang membawa pada relativisme dan nihilisme (Derrida, Lyotard), dan di lain pihak ke arah pentingnya Hermeneutika yang membawa segala persoalan pada wilayah dialog. 

Jalur yang pertama—yang relativistik dan nihilistik—diolah terutama oleh Jacques Derrida. Sambil menarik kesimpulan-kesimpulan radikal dari Nietzsche, Husserl dan Heidegger, lewat post-Strukturalisme, ia sampai pada gagasan, bahwa pada akhirnya bahasa dan kata-kata adalah kosong belaka, dalam arti, mereka sebetulnya tidak menunjuk pada sesuatu apa pun selain pada "makna"-nya sendiri. Dan "makna” itu pun tiada lain hanyalah permainan pembedaan (differance): pembedaan arti yang dimungkinkan oleh sistem lawan-kata. Makna tiada lain hanyalah permainan semiologik, permainan tanda-tanda. Dengan cara ini maka yang biasa disebut “kenyataan”, "Ada” atau "kebenaran”, misalnya, lenyap. Raib pulalah dasar bagi segala jenis filsafat. Bagi Derrida, hermeneutik lalu hanyalah suatu peluang terbuka untuk men-demistifikasikan setiap pretensi filsafat yang menganggap diri memiliki dasar tak tergugat.

Catatan kaki: 

Husserl menguraikan soal "dunia kehidupan” dengan cara mengkontraskannya dengan dunia ilmiah matematis. Metode ilmiah adalah suatu konstruksi yang mengidealisasi, berdasarkan apa yang terlihat. Dan diyakini oleh para ilmuwan bahwa apa yang terlihat itu tetaplah sama kendatipun yang melihat itu bukan ilmuwan. "Dunia kehidupan” bukanlah sebuah dunia idealitas geometris, melainkan sebuah dunia yang bahkan karakter ruangnyapun sebetulnya tak pernah sedemikian jelas dan gamblang. Manakala dalam dunia ilmiah tadi peran intuisi coba dihindari, dalam dunia kehidupan intuisi justru berperan sentral. Dunia kehidupan adalah medan evidensi natural asali. Kepada dunia itulah para ilmuwan harus mengembalikan teorinya untuk diverifikasi. Dunia kehidupan adalah dunia pengalaman langsung sementara dunia ilmiah adalah dunia yang sudah termediasi. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 35-37) 

***

Metafor

Metafor adalah kondisi dasar antropologis manusia. Artinya, manusia hanya bisa memahami dunia dengan cara mempersamakannya dengan hal yang ia pahami, dengan simbol-simbol yang ia ciptakan sendiri alias dengan hal yang bukan dunia itu sendiri. Karena itulah hubungan antara manusia dan dunia pada dasarnya memang sudah selalu bersifat "metaforis”. Maka dalam artian luas ini segala bentuk wacana kebahasaan manusia, termasuk wacana filsafat, dengan sendirinya bersifat metaforis.

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 163) 

***

Hermeneutika dan Epistemologi, Apa Bedanya? 


Hermeneutika ilmu berbeda dengan epistemologi ilmu dalam artian tradisionalnya. Epistemologi ilmu atau bisa juga disebut filsafat ilmu umumnya adalah disiplin meta-ilmiah yang berusaha mencari dasar bagi keabsahan klaim-klaim ilmiah atas "kebenaran”. 

Sedangkan hermeneutika tidak pertama-tama berurusan dengan nilai kebenaran ilmu, melainkan semata-mata meneropong bagaimana terjadinya dan bekerjanya pola pemahaman ilmiah, yaitu misalnya bagaimana penafsiran dan idealisasi pengalaman yang mewujud dalam teori-teori ilmiah itu diajukan, disanggah ataupun diterima dan dipercayai sebagai benar. 

Hampiran hermeneutik macam ini tampak misalnya pada Thomas Kuhn, meskipun baru belakangan saja dia sendiri menyadari, bahwa karyanya layak diberi label "hermeneutik”. Kuhn dapat dilihat sebagai salah seorang tokoh yang pemikirannya, seperti dikatakan Richard Bernstein, "ikut andil bagi runtuhnya Cartesianisme yang telah mendominasi sebagian besar pemikiran modern”! 

Kuhn telah menarik perhatian kita pada fakta, bahwa para filsuf ilmu umumnya tak menghiraukan persoalan hermeneutik yang pokok seperti persoalan tentang apa sebenarnya yang dilakukan oleh seorang ilmuwan. Mereka biasanya malah sibuk dengan urusan tentang kriteria mana saja yang perlu agar ilmu dapat dianggap ”representasi” murni realitas atau "keyakinan yang telah teruji”. Kuhn mengingatkan kita, bahwa ada soal penilaian dalam rasionalitas ilmiah itu yang sebetulnya sangat ambigu. Baginya, rasionalitas ilmiah itu akhirnya bukanlah semata-mata perkara induksi atau deduksi atau juga rasionalitas demonstratif yang berkulminasi pada representasi teoretis kenyataan "objektif”, melainkan pada dasarnya lebih perkara interpretasi dan persuasi. 

Dengan kata lain, lebih berkaitan erat dengan retorika. Itu sebabnya pula kini retorika menjadi persoalan aktual kembali. Segala yang dikatakan oleh ilmu tentang dunia dan kenyataan sebetulnya erat terkait pada paradigma dan model atau skema interpretasi tertentu yang digunakan oleh ilmuwannya. Singkatnya, cara ilmuwan itu memandang dunia menentukan dunia macam apa yang dilihatnya itu. 

Segala yang dikatakan oleh ilmu tentang dunia dan kenyataan sebetulnya erat terkait pada paradigma dan model atau skema interpretasi tertentu yang digunakan oleh ilmuwannya. Singkatnya, cara ilmuwan itu memandang dunia menentukan dunia macam apa yang dilihatnya itu. Jadi, pengetahuan ilmiah sama sekali bukanlah jiplakan realitas melainkan realitas hasil konstruksi manusia. Dan paradigma atau skema penafsiran yang mendasari konstruksi itu diterima dan dipercayai oleh komunitas para ilmuwan bukan terutama karena para ilmuwan itu tahu bahwa itu benar, melainkan karena mereka percaya, bahwa itu yang terbaik, yaitu yang paling memberi harapan bila digunakan dalam riset-riset selanjutnya. Dan kepercayaan itu de facto sebagian besarnya juga dibentuk lewat persuasi. 

Rasionalitas ilmiah itu terutama dimengerti hanya oleh sekelompok orang yang diikat oleh suatu tradisi historis dan kultural ilmiah tertentu yang sama. Dalam kerangka tradisi itulah segala pembicaraan dan wacana mereka bermakna. Ilmu hanyalah salah satu cara bercerita tentang hal-ihwal dunia dan merumuskan ulang makna pengalaman-pengalaman sehari-hari. Dan aturan dalam permainan bahasa tersebut lebih ditentukan oleh kultur ketimbang oleh nature atau kenyataan alamiah.

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 39-40) 

***

Bagi hermeneutik, relativisme hanyalah sekedar sudut perversi dari objektivisme modern. Hermeneutik tidaklah pertama-tama menolak gagasan tentang rasionalitas beserta pretensi universalnya, melainkan hendak merekonstruksi secara radikal gagasan kita tentang apa artinya bersikap ”rasional” itu. Bagi hermeneutika, bicara tentang ”rasionalitas” hanyalah cara tak langsung untuk menunjuk pada linguistikalitas setiap pengalaman manusia, yang berarti, bahwa bila saja dikehendaki, manusia dapat selalu menjembatani segala perbedaan melalui dialog yang mencari persetujuan dan pengertian bersama. (h. 41) 


***

Hermeneutika sebagai Dialog Mencari Pengertian Bersama

Bagi hermeneutik, relativisme hanyalah sekedar sudut perversi dari objektivisme modern. Hermeneutik tidaklah pertama-tama menolak gagasan tentang rasionalitas beserta pretensi universalnya, melainkan hendak merekonstruksi secara radikal gagasan kita tentang apa artinya bersikap "rasional” itu. Bagi hermeneutika, bicara tentang ”rasionalitas” hanyalah cara tak langsung untuk menunjuk pada linguistikalitas setiap pengalaman manusia, yang berarti, bahwa bila saja dikehendaki, manusia dapat selalu menjembatani segala perbedaan melalui dialog yang mencari persetujuan dan pengertian bersama. 

Oleh sebab sifat kebahasaan itu, yaitu oleh sebab nyatanya tak ada suatu bahasa ideal yang dapat dijadikan tolok-ukur untuk segala wacana, pemahaman manusia itu pun jadinya senantiasa terbatas dan selalu beragam. Meskipun demikian, seorang hermeneutisis macam Gadamer tidak lantas meyakini relativisme kultural atau pun mengakui gagasan bahwa tiap pemahaman itu terkait pada paradigmanya sendiri yang tak mungkin dikomunikasikan dengan paradigma lainnya. 

Kebalikan dari kaum relativis epistemologis dan kultural, Gadamer mengingatkan kita bahwa kendati tiap pemahaman itu terikat pada bahasa, tidaklah lantas kita mesti jatuh ke dalam relativisme. 

”... adalah salah menyimpulkan, bahwa rasio itu terpecah-belah akibat adanya beragam bahasa. Sebaliknyalah yang benar. Justru karena keterbatasan kita itulah, yang memang jelas dalam keragaman bahasa, dialog yang tak terbatas terbuka ke arah kebenaran sejati kita.”

Tugas utama hermeneutika sebagai upaya kritis dan emansipatoris adalah juga terletak pada kecenderungannya merawat keterbukaan wacana manusia tadi. Hanya melalui percakapan yang berkesinambunganlah pemahaman diri baru dimungkinkan. Percakapan, seperti kata Rorty, adalah ”konteks terdasar yang memungkinkan pengetahuan dipahami.” 

Maka kewajiban filsafat pun, sebagai hermeneutika, adalah mengulur dan memajukan percakapan antarmanusia.

Dengan cara ini, sebenarnya hermeneutika bergabung dengan atau menampilkan diri sebagai penerus tradisi dialektika, namun dalam artian yang sama sekali nonPlatonik. Sebetulnya sejak Protagoras, para Sofis dan Retorisi, dialektika dimengerti justru sebagai penolakan atas filsafat yang bercorak monolog atau atas filsafat platonik yang menganggap diri sebagai persatuan antara roh pribadi dengan esensi-esensi objektif, maupun atas wacana metafisik yang otoriter. Itu pula sebabnya filsafat postmodern, khususnya hermeneutika, menganggap retorika bukan sebagai lawan dari dialektika. Retorika bahkan kini bangkit pula menjadi karakter kuat filsafat abad ini.

Ctt kaki:

Bahwa perbedaan kultural maupun linguistik itu pada dasarnya tak terjembatani dan tak terkomunikasikan adalah persis tesis dari kaum Dekonstruksionis seperti Derrida dan khususnya Lyotard. Bagi Lyotard itu akibat kenyataan bahwa setiap bahasa itu dikuasai oleh suatu sistem aturan tersendiri yang tak bisa diterjemahkan ke dalam sistem lainnya. Setiap permainan-bahasa adalah suatu sistem tertutup.  h. 41-42

Hermeneutika dan Komunikasi menurut Habermas

Komunikasi, bagi Habermas, adalah perkara lebih mendasar, maka persoalan hermeneutika pun haruslah ditarik ke dalam konteks komunikasi. Hermeneutika selalu berada dalam konteks komunikasi di mana suatu subjek menyampaikan gagasan dan subjek lain harus menafsirkannya. Maka ini bukanlah sekedar soal pernyataan tentang fakta, sebab si penyampai tadi menawarkan makna tertentu yang memberi arah tertentu pula bagi penafsirnya. h. 63

***

Dekonstruksi

Dekonstruksi biasanya dirumuskan sebagai cara atau metode membaca teks (itu sebabnya metode ini telah dikembangkan pula di bidang susastra seperti di Universitas Yale). Suatu hal yang khas dalam pembacaan dekonstruktif atas teks-teks filosofis adalah bahwa unsur-unsur yang dilacaknya bukanlah pertama-tama inkonsistensi logisnya, argumen-argumen lemahnya ataupun premis-premisnya yang tidak meyakinkan, melainkan unsur yang secara filosofis sangatlah menentukan, atau unsur yang menjadikan sebuah teks itu filosofis. Jadi, kemungkinan berfilsafat itu sendirilah yang dipersoalkan di sana. 

Dalam konteks itu, filsafat dilihat pertama-tama sebagai tulisan. Maksudnya adalah bahwa sebagai tulisan maka filsafat itu tak pernah merupakan ungkapan transparan pemikiran secara langsung. Di situ pemikiran selalu mewujud dalam sistem-sistem tanda yang berkarakter material, baik berupa substansi grafik maupun fonik (tinta ataupun bunyi). Dan sebetulnya tandatanda yang digunakan itu telah digunakan pula dalam berbagai konteks lain. Sebagai tulisan, filsafat lalu juga selalu bersifat tekstual. Maksudnya, satuan makna primernya bukanlah kata ataupun kalimat melainkan kumpulan kalimat-kalimat, sebuah teks, yang pada gilirannya ditentukan pula maknanya oleh keterkaitannya dengan teks-teks lain. (I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 44) 

***

Bahasa Bukan Representasi Murni Kenyataan? 


Akar dari primas bahasa literal pada akhirnya adalah prinsip bahwa akalbudi itu merupakan alat yang sangat memadai untuk mencerminkan realitas persis seperti adanya secara murni. Nah, manakala, meminjam istilah Rorty, cermin itu telah pecah, maka ambruk pula prinsip kesaktian akalbudi tadi. Maka lantas perlulah kita melihat kemungkinan gambaran antropologis lain, yaitu antropologi yang mendasarkan diri justru pada prinsip insufisiensi atau tidak memadainya akalbudi sebagai cermin persis itu. Antropologi ini meyakini bahwa tak ada hubungan sedemikian langsung otomatis antara manusia dan alam. 

Dari sudut antropologi macam ini mau tak mau dunia manusia harus dilihat sebagai sebuah "dunia artifisial”, dunia simbol, dunia ”metafor”. "Manusia mencari orientasi lewat tatanan dunia, dan memahami perilaku segala hal berdasarkan dimensi-dimensi dirinya sendiri,” kata Merleau-Ponty. 

Dengan kata lain, manusia memahami segala sesuatu dengan cara mempersamakannya dengan hal-hal lainnya yang lebih ia kenal. Bukankah ini proses metaforis? Maka Merleau-Ponty pun mengatakan bahwa segala pengetahuan kita tiada lain adalah ”perayaan tentang lalulintas metafor”. Tentu dari perspektif positivistis titik pandang macam di atas itu merangsang orang untuk menyimpulkan bahwa pengetahuan kita hanyalah ”fiksi” belaka, tanpa dasar ontologis murni, atau sekedar ”ilusi” produk keyakinan epistemologis tertentu. 

Tetapi bukankah sebetulnya positivisme itu sendiri, dengan keyakinannya bahwa seolah kenyataan ontologis murni dapat ditangkap, yang lebih layak dianggap sebagai ilusi? Sebab di samping akalbudi kita memang tak pernah sedemikian adekuat, juga linguistikalitas kita senantiasa mengkondisikan kita sedemikian sehingga segala bentuk pemahaman kita tentang kenyataan memang senantiasa bersifat linguistik pula. 

Kenyataan yang bisa dimengerti adalah bahasa, kata Gadamer. Tentu saja ini tidak berarti bahwa dunia dan segala hal tidaklah nyata. 

Bahwa terdapat kenyataan "di luar sana” lepas dari bahasa tentu saja tak mungkin disangkal. Kita mengetahuinya secara intuitif lewat yang disebut Whitehead ”prehensi”. Prehensi (prehension) adalah pengetahuan yang didapat lewat pergaulan, semacam pengetahuan perseptual langsung. Tetapi pengetahuan macam ini belumlah terartikulasikan dengan jelas, karenanya tak terpahami betul. 

Nah, manakala yang kita bicarakan adalah "pemahaman”, maka mau tak mau kita baru dapat memahami secara penuh realitas itu lewat bahasa. 

Dari penalaran macam itu menjadi jelas bahwa sejauh menyangkut pemahaman realitas, maka bahasa nyaris tak mungkin dianggap sebagai representasi murni kenyataan. 

Linguistikalitas kita, atau keterikatan dasar kita pada bahasa, senantiasa menjadikan proses pemahaman kita itu suatu proses transformasi kreatif kenyataan, bukan proses ”pencerminan” kenyataan. 

Dan transformasi ini berarti transformasi ke dalam sistem simbol alias ke dalam kerangka metaforis bikinan kita sendiri. 

Dari sudut ini pulalah pemikiran Nietzsche tentang metaforisitas filsafat lebih dapat dimengerti, bukan sekedar dari kenyataan bahwa kosakata filosofis de facto digenangi oleh metafor sebagai bentuk semantik tertentu (arti sempit metafor). 

Dalam konteks ini dekonstruksi Derrida melalui sistem pembedaan atau lawan kata dalam teks hanyalah mengukuhkan secara radikal kefanaan setiap teks, dan karenanya mengukuhkan metaforisitas (dalam artian terdalam) setiap pernyataan. 

Sekarang manakala metaforisitas adalah kodrat dasar antropologis kita, maka tentu konsekuensinya pembedaan antara yang metaforis dan yang literal tidak ada artinya. Tetapi bila metafor hanya dianggap sebagai suatu bentuk semantik saja, maka pembedaan itu masih bisa diterima. Dan pemikiran Heidegger yang menolak pemilahan "yang metaforis” dan "yang literal” sebetulnya masih berada pada taraf yang terakhir itu, alias masih berada pada tataran semantik, belum menyentuh tataran antropologis. 

(Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 140-141)

***

Metafor dan Literal

Bila dari sudut "metafilosofis” tadi perbedaan antara yang literal dan metafor hanyalah soal kebiasaan/konvensi saja, maka dari sudut semantik Ricoeur melihatnya secara lebih rumit. Bila kita sederhanakan: baginya metafor lebih berada di wilayah imaginatio, sedangkan konsep literal atau wacana spekulatif berada di wilayah intellectio. 

Perbedaannya adalah bahwa yang pertama hanya mengusulkan makna, yaitu, sesuatu itu ”mirip” sesuatu yang lain, sedang yang kedua memastikan atau memutuskan makna, yaitu, sesuatu itu "sama” dengan ini atau itu, ”berarti” begini atau begitu. 

Lebih jauh, pada yang pertama (imaginatio) penafsiran logis hanya berperan ”pendukung” sebab yang diutamakan adalah "penggambaran”, sedang pada yang kedua (intellectio) penafsiran logis itu berperan utama. Pendeknya, dalam metafor realitas itu hanya ”dilukiskan”, sedang dalam konsep literal realitas itu coba dijelaskan”, kaitan sebab-akibat logisnya dipaparkan. 

Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 143

***

LOGIS TAK BERARTI PERSIS DENGAN REALITAS

Bahwa suatu pernyataan itu "logis” tidak mesti langsung berarti "realistis” dalam arti: sesuai persis dengan realitas murninya. Sesuai atau tidak dengan kenyataan murni itu soal lain, tetapi bila suatu pernyataan itu dianggap logis, itu berarti bahwa pernyataan itu: atau sesuai dengan pola logika "khas tertentu" yang mungkin saja hanya dianut oleh sekelompok orang tertentu (mis. kelompok elite ilmuwan peneliti yang menggunakan terminologi logika yang sangat khas dan teknis), atau pun bisa juga sesuai dengan pola "logika umum". Dengan kata lain, pernyataan itu bersesuaian dengan terminologi yang digunakan dalam kelompok partikular tertentu atau pun dengan kosa kata yang dimiliki masyarakat umum. Bila yang belakangan itu yang terjadi, maka lantas bisa disebut sebagai sesuai dengan "akal sehat", cocok dengan "common sense", atau sesuai dengan konvensi. Dalam kerangka ini pulalah omongan Davidson bisa dimengerti, yaitu bahwa konsep literal itu lebih akrab, lebih dapat diduga dan lebih gampang dimengerti ketimbang metafor. Dan itu hanyalah karena konsep literal lebih sesuai dengan konvensi atau kodifikasi leksikal konvensional. Itu saja. 

Sistem logika itu sangat beragam dan karenanya bisa dipilih. Dengan ini jelas bahwa saya menolak Scientisme yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang sungguh-sungguh berkorespondensi dengan kenyataan ”real” hanyalah pengetahuan yang didapat melalui sains empiris. Ada banyak cara untuk mendekati realitas dan memahami hubungan sebab-akibat kenyataan, dan karenanya ada banyak sistem logika. Filsafat spekulatif, mistisisme, berbagai bentuk pendekatan paranormal, sistem pengobatan tradisional, dst. memiliki cara-cara khasnya masing-masing untuk memahami hubungan sebab-akibat kenyataan, memiliki sistem terminologinya sendiri, dan karenanya memiliki logikanya sendiri. Masing-masing itu sangat ditentukan oleh gambaran dasarnya tentang dunia, manusia dan kehidupan yang saling berbeda juga. Dalam istilah Stephen Pepper, itu ditentukan oleh ”metafor-akar”-nya. Dalam istilah Thomas Kuhn, itu ditentukan oleh "paradigma dasar”-nya. 

Di sisi lain, memang benar bahwa orang tetap bisa bicara tentang derajat korespondensi terhadap kenyataan alias derajat "kebenaran” atau ketepatan, yang berbeda juga di antara berbagai sistem logika itu. Asal dicatat selalu bahwa manakala suatu sistem logika dianggap lebih tepat dari sistem logika lain, itu dengan sendirinya tidak berarti bahwa logika lainnya itu sepenuhnya omong kosong alias takhayul mandul. Di balik kecenderungan orang untuk terlalu cepat memberi cap ”takhayul” dengan mengatasnamakan ”akal sehat” atau ”rasionalitas” seringkali sebenarnya terdapat kepercayaan berlebihan yang tak disadari terhadap kehebatan dunia ilmiah empiris. Dan kepercayaan berlebihan macam itulah sebenarnya yang justru merupakan "takhayul” itu. Atas nama "rasionalitas" yang mereka anggap canggih, seringkali mereka justru bersikap sangat emosional, dangkal dan tidak bermutu. Bahwa suatu sistem logika dianggap lebih tepat ketimbang sistem logika lain, itu cuma berarti bahwa sistem logika tersebut dapat lebih membantu kita dalam memahami sebab-akibat kenyataan yang kita alami dan karenanya dapat pula membantu kita dalam menyiasati kenyataan atau persoalan yang kita hadapi kelak. Tetapi, lagi, ini tak berarti bahwa segala bentuk logika atau pendekatan lain lantas tak memiliki relevansi dan keabsahan sama sekali. Apalagi bila de facto sistem-sistem logika itu hingga kini memang dapat bertahan, bahkan seperti tak bisa hilang, tentulah ini mengisyaratkan adanya korespondensi yang khas pula antara sistem-sistem itu dengan kenyataan real. 

Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 144-145

***

Metafor dalam Pandangan Davidson


Masih ada pendapat lain yang perlu diperhitungkan, yaitu dari Donald Davidson. Perspektif Davidson memang agak lain, yaitu yang telah kita sebut perspektif "metafilosofis”. Bagi Davidson memahami metafor dari sudut semantik belaka akan menyesatkan kita. Di wilayah semantik istilah ”makna” cenderung dipersempit ke pola perilaku linguistik yang baku. Padahal, menurut Davidson, "makna” adalah terutama soal "penggunaan”, yang medan kemungkinannya sangatlah luas dan rumit, dan senantiasa bergerak meluas ataupun menyempit. Jadi, bertentangan dengan Ricoeur, bagi Davidson metafor justru berada secara khusus di wilayah ”penggunaan” bahasa. Metafor, karena tak mungkin diterjemahkan secara literal persis, justru berada di luar medan semantika ”makna”. Metafor karena itu harus dilihat lebih sebagai "peristiwa aneh”, peristiwa yang menyebabkan kita terpaksa mengubah keyakinan dan keinginan serta merangsang kita untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia. Metafor bukanlah pertama-tama "ungkapan” pengetahuan tentang dunia melainkan "sumber” yang melahirkan pengetahuan itu. Namun di sini metafor bukanlah hanya dalam bentuk pernyataan linguistik lengkap. Ia bisa juga berupa sobekan sebuah puisi yang menggetarkan jiwa, rangkaian kata tak lengkap yang senantiasa mengiang-ngiang tak kunjung hilang, beberapa adegan film yang diam-diam mengubah pandangan hidup dan perilaku kita, dsb. 

Itulah sebabnya, bagi Davidson, metafor tak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa literal. Berhadapan dengan metafor kita tak sepenuhnya memiliki sarana yang memadai untuk memahaminya. Bahkan bila memahami itu berarti ”menafsirkan ke dalam skema yang telah ada sebelumnya”, maka metafor tak bisa dipahami atau pun ditafsirkan. Tetapi kalau "memahami” berarti menggunakan skema pengertian yang ada sekedar sebagai alat bantu, maka memahami metafor bisa dilihat seperti memahami suatu fenomena alam yang tidak biasa. Di sini kita memahaminya justru dengan mencari kemungkinan untuk merevisi skema-skema pengertian awal tadi.

Nah, karena metafor bisa juga dalam bentuk-bentuk nonlinguistik, maka bagi Davidson metafor tak bisa dianggap memiliki "isi kognitif” dalam artian tegas. Metafor tidak mengatakan sesuatu secara langsung, melainkan secara tak langsung ia menyebabkan kita menyadari sesuatu dan berpikir ke arah tertentu. Jadi metafor pada dirinya sendiri tak memiliki "isi kognitif” melainkan merangsang kegiatan-kegiatan kognitif yang penting.

Karena itu pula kalaupun metafor dianggap dapat melegitimasikan suatu keyakinan maka itu hanya bisa dilakukannya dengan cara metaforis juga, ibarat kalau orang menyodorkan sebuah foto dan mengatakan: "Nah, sekarang kamu percaya?” Demikian maka yang terjadi hanyalah proses ”menjadi”, dari tak disadari menjadi disadari, dari tak diketahui menjadi diketahui. Maka dalam hal ini tidak diperlukan penjelasan metafisik tentang bagaimana kata-kata dalam metafor itu bekerja atau bagaimana ”kebenaran” muncul dari metafor. Davidson mengatakan: "Pada saat kita memahami suatu metafor, kita dapat saja menyebut hal yang kita tangkap itu 'kebenaran metaforis' dan mengatakan bahwa makna metaforis adalah ini atau itu.”

Kini sudah saatnya untuk membuat refleksi kritis atas semua pendapat tadi. Kita mulai saja dengan konsep tentang "realitas” dan bahasa. Saya setuju dengan Madison bahwa konsep kita tentang realitas pada dasarnya tergantung pada bahasa itu sendiri. Konsep kita tentang struktur kategorial realitas pada dasarnya memang dimungkinkan oleh bahasa. Tetapi anggapan dasar semacam ini tidaklah mesti melahirkan suatu kesimpulan bahwa pada akhirnya kenyataan "ekstralinguistik” itu tidak ada sama sekali. Dalam peristilahan tradisional, di sini ada kerancuan berlebihan antara ordo cognoscendi dengan ordo essendi, katakanlah antara tatanan pengetahuan dengan tatanan kenyataan aslinya. Dalam hal ini Ricoeur mungkin lebih proporsional, sebut baginya kenyataan ekstralinguistik itu bagaimana pun memang ada meskipun tidak kita ketahui persis "apa”-nya. Bahwa kenyataan itu "ada” kita tahu oleh sebab memang ada sesuatu yang dikatakan oleh bahasa. Sedang tentang "apa"-nya yang "ada” itu memang benar amat erat terajut dalam bahasa, sehingga yang kita tahu hanyalah kenyataan sejauh dikatakan. 

Bagi saya kenyataan bahwa kita "tahu” bahwa realitas itu ada sebetulnya lebih muncul dari pengalaman primordial kita, yaitu berupa "pengetahuan-lewat-pergaulan” dan bukannya berupa ”pengetahuan-lewat-penyimpulan”. Dengan istilah Whitehead, ini adalah pengetahuan melalui "prehensi”, yang lebih bersifat intuitif. Jalan yang dipakai Ricoeur melalui penelitian atas kemampuan reflektif bahasa, saya anggap komplementer terhadap hal ini. Lebih lanjut tampaknya keyakinan kita tentang adanya kenyataan ekstralinguistik ini memang hanya dapat dianggap sebagai kategori terakhir dalam horizon konseptual kita. Tanpa kategori itu fungsi dan nilai bahasa tak bisa dimengerti samasekali. Sedang kenyataan murni yang sesungguhnya pada dirinya sendiri memang tak bisa kita ketahui. Dalam hal ini, meskipun atas dasar alasan yang berbeda, omongan Kant memang masih berbunyi, dalam arti bahwa klaim tentang adanya realitas ekstralinguistik itu hanya memiliki status sebagai postulat saja. Karenanya masih dapatlah dikatakan bahwa ordo essendi tetaplah ada, meski yang dapat kita bicarakan selalu terbatas pada apa yang dapat dikatakan saja alias terbatas pada ordo cognoscendi saja. Yang dapat kita perbincangkan memang hanyalah "kenyataan yang diperkatakan” dalam bahasa. 

Keyakinan macam di atas itu pada gilirannya mengimplikasikan bahwa segala pernyataan tentang "apa”-nya kenyataan memang jadi bersifat kontingen, serba terbatas. Namun wacana pengetahuan tidak lantas tidak bernilai, sebab wacana itu meski terbatas toh menampilkan pula aspek-aspek tertentu setiap kali dari kenyataan, atau memiliki korelasi tertentu dengan kenyataan. Pengetahuan yang serba dibatasi perspektif linguistik kita sendiri itu, karenanya, tetaplah bernilai sekurang-kurangnya untuk merumuskan pengalaman pergaulan kita dengan dunia, memahami kekuatan dan keterbatasannya, menyiasati keberadaan kita, dan akhirnya memperluas wawasan kita tentang dunia manusia dan posisi kita dalam alam semesta. 

Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 151-153

***

Imajinasi Bersifat Sentral

Kini manakala paradigma epistemologi modern telah dibongkar, manakala keyakinan tentang adanya keterhubungan alamiah antara kata dan benda, antara les mots et les chose telah putus, seperti kata Foucault, maka bahasa harus dilihat secara lain. Maka Gadamer mengatakan bahwa "Kenyataan yang dapat dipahami adalah bahasa”. Untuk menariknya lebih jauh mungkin kita bahkan dapat berkata bahwa "Kenyataan yang dapat diimajinasikan adalah bahasa”. 

Tetapi bagaimanakah sebaiknya hubungan antara imajinasi dan bahasa itu sekarang dilihat? Bagi Casey, yang titik pandangnya dari sudut epistemologis itu, imajinasi mengandaikan adanya persepsi. Saya tidak bisa berimajinasi bila pertama-tama saya bukan makhluk yang berpersepsi. Tetapi dari perspektif hermeneutik, seperti dikatakan Madison, persepsi itu sendiri sudah selalu bersifat linguistik. Tanpa bahasa, segala sesuatu tak akan dipersepsi sebagai sesuatu atau sebagai ini atau itu. Dengan kata lain tindakan mempersepsi adalah selalu merupakan tindakan menginterpretasi kedalam permainan bahasa tertentu. Maka anggapan tentang adanya "fakta murni” memang perlu disingkirkan bersama dengan Representasionalisme epistemologis yang mendasarinya. 

Perlu ditekankan lagi bahwa secara hermeneutik, melihat sesuatu memang selalu berarti melihatnya "sebagai ini atau itu". Dari sini dapat dikatakan bahwa melihat sesuatu secara imajinatif berarti melihatnya sebagai sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya dan mengintegrasikannya ke dalam konteks semantik yang baru pula. Maka, seperti dikatakan Madison, ketimbang mengatakan bahwa imajinasi mengandaikan persepsi lebih baiklah mengatakan sebaliknya, yaitu: persepsi mengandaikan imajinasi. Persepsi dimungkinkan oleh imajinasi yang memainkan bahasa dengan bebas, yang karenanya dapat membayangkan kenyataan sebagai ini atau itu, bahkan dapat menganggap bahwa kenyataan ”murni” adalah sama dengan konstruk interpretatif yang dibuatnya itu.

Nah, peran utama imajinasi linguistik atau semiologis itu (imajinasi yang berfungsi dalam tiap tindakan kreatif) adalah untuk menggabung-gabungkan medan-medan semantik atau semiologis yang berbeda-beda. Dalam istilah Arthur Koestler, peran utamanya adalah membentuk tindakan bisosiatif. Untuk apa? Yaitu untuk setiap kali memperbaiki cara kita memikirkan, mengkategorisasikan dan menafsirkan kenyataan. Tindakan bisosiatif itu persisnya adalah tindakan yang mencoba memperlihatkan hubungan antara dua hal yang tadinya biasa dianggap tak ada hubungannya. Misalnya, menghubungkan antara gamelan Jawa dengan makanan gudeg, antara mandi dengan ilmu Fisika, antara supermarket dan teologi, dst. Pemikiran-pemikiran kreatif dari para genius besar muncul dari kemampuan bisosiatif macam itu. Hal itu dimungkinkan tiada lain oleh imajinasi, bukan pertama-tama oleh persepsi. Nah kegiatan imajinasi yang bersifat bisosiatif itu terutama muncul, sekurang-kurangnya pada taraf awalnya, dalam bentuk metafor. Tak heran bila Max Black, misalnya, mengatakan bahwa ”suatu metafor yang kuat memiliki kemampuan untuk menggabungkan dua medan yang berbeda ke dalam suatu hubungan emosional dan kognitif, dengan menggunakan bahasa dari yang satu sebagai lensa untuk melihat yang lainnya, implikasi dan sugesti yang disarankan oleh ungkapan metafor itu memungkinkan kita melihat inti masalah secara baru.” 

Ricoeur juga membuat penilaian serupa - ketika ia katakan bahwa ”Imajinasi secara tepat dapat dianggap produktif oleh sebab, melalui perluasan polisemi, ia membuat istilah yang awalnya heterogen menjadi serupa terhadap satu sama lain dan karenanya homogen. Konsekuensinya, imajinasi adalah kemampuan untuk memproduksi jenis logika baru melalui assimilasi predikatif, kendati dan berkat perbedaan awalnya yang justru menolak asimilasi itu.

Jadi, dapatlah kita katakan bahwa berkat imajinasi yang bermetaforlah fakta-fakta bisa dikategorisasi, ide-ide dan teori dirajut secara baru untuk melahirkan teori baru lagi, teori dan pengalaman dikaitkan sedemikian sehingga kita mendapatkan yang biasa kita sebut “pengetahuan” baru. Karena itu menjadi jelas bahwa imajinasi itu bersifat sentral. Imajinasi adalah kemampuan primer, bukan sekunder, untuk memahami ”realitas”. Imajinasilah yang bertanggungjawab atas tekstur pengalaman aktual kita dan yang menyebabkan hidup kita menjadi seperti sebuah teks pula. Maka dalam imajinasi yang bermetaforlah sebenarnya wacana filosofis dan metafor (sebagai bentuk semantik khas) bertemu.

Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 159-161

***

Filsafat: Sebuah Refleksi atas Keterbatasan Setiap Klaim Manusia tentang Kebenaran

Bila dengan "filsafat" dimaksudkan "sistem-sistem pemikiran besar", maka kini paling banter ia hanya bisa dilihat sebagai konstruksi tentatif tentang dunia atau dalam peristilahan Stephen Pepper, suatu "World Hypothesis". Meskipun demikian, dibandingkan dengan wacana metaforis dalam arti sempit, wacana filosofis masih bisa dianggap memiliki perbedaan tegas oleh sebab ia lebih memiliki "kekuatan penjelasan” (explanatory power) ketimbang wacana metaforis. Itu adalah berkat kecenderungannya yang kuat ke arah ”univositas” konsep. Tetapi di sisi lain ”univositas” tidaklah sama dengan ”transparansi” dalam merepresentasikan realitas murni, bagai cermin. Univositas hanyalah strategi untuk membangun ruang-logika, yang penting untuk "menjelaskan” realitas. 

Persoalannya kemudian apakah univositas itu memang selalu tercapai? Ini soal lain. Dalam kenyataannya hasil dari berbagai tegangan tadi umumnya adalah sebuah "wacana hibrida” dengan terminologi yang licin dan selalu mengelak. Dan itulah filsafat, ia adalah wacana hibrida, antara ekuivositas dan univositas, namun toh masih dapat dikatakan memiliki kemampuan ”penjelasan” lebih ketimbang "pelukisan”, sebab memang betapapun juga ia berintensi besar untuk bergerak dengan logika dan univositas. 

Betapapun ekuivokalnya filsafat, ia toh tidak sama dengan puisi ataupun novel. Filsafat selalu dibangun atas dasar keinginan untuk "menjelaskan” kenyataan dan bukan sekedar melukiskan. Dan kendati memang membawa ambiguitas, ditambah lagi statusnya yang "hipotetis” saja (yang notabene tak bisa diverifikasi ataupun difalsifikasi secara ketat), toh filsafat masih sangat berguna terutama untuk mengorganisasikan dan memperluas pemahaman kita tentang dunia, manusia dan kehidupan itu sendiri dari sudut berbagai kemungkinan penafsirannya.

Namun dari sudut hermeneutik, filsafat tak selalu mesti berarti "sistem pemikiran besar yang menyeluruh”, melainkan dapat pula berarti sekedar "refleksi kritis yang hendak memahami berbagai cara manusia memahami dunianya”. Dari sini kita masuk ke tataran ketegangan yang kedua. 

Pada tataran yang kedua, filsafat sebagai hermeneutik berurusan lebih dengan berbagai bentuk manifestasi pemahaman manusia tentang dunianya. ltu berarti ia berurusan terutama dengan berbagai permainan-bahasa yang digunakan manusia untuk memahami kenyataan hidupnya. Permainan-bahasa di sini dapat berarti: berbagai ilmu, sistem nilai, sistem logika, bahkan berbagai ideologi, dst. Pada tataran ini filsafat mengalami tegangan di antara beragam permainan-bahasa itu. Namun di antara berbagai permainan-bahasa itu filsafat dapat dilihat sebagai ”netral” dalam artian bahwa ia tidak pertama-tama berurusan dengan nilai-kebenaran dari berbagai permainan bahasa itu, melainkan berurusan pertama-tama dengan pola atau model yang digunakan oleh berbagai pemahaman dalam beragam permainan-bahasa itu. Kalaupun kemudian filsafat bicara juga tentang nilai-kebenaran, itu lebih merupakan implikasi dari proses hermeneutik tadi. 

Yang khas dalam filsafat sebagai hermeneutik adalah bahwa pada akhirnya ia merupakan pengenalan reflektif atas keterbatasan setiap klaim manusia tentang pengetahuan, dan atas aspek relatifitas historiko-kultural dari setiap bentuk wacana manusiawi. Kesadaran atas keterbatasan-keterbatasan ini adalah kunci untuk dialog dan kerjasama antarmanusia. Itu sebabnya filsafat sebagai hermeneutik dapat berperan sangat penting dalam memajukan dialog antar permainan-bahasa yang berbeda demi terciptanya saling pemahaman timbal-balik dan saling memperkaya satu sama lain dengan konsep yang makin luas tentang dunia, manusia dan kehidupan ini. Dengan kecenderungannya untuk berhati-hati terhadap segala klaim tentang kriteria ”universal”, hermeneutik memajukan rasa hormat atas keunikan dan otonomi setiap budaya dan nasion. Namun dalam kenyataan, antara yang partikular dan yang universal sebenarnya tak perlu dipertentangkan secara diametrikal pula. Bukankah semakin kita mengenal dan menghormati yang partikular kita justru dapat melihat dan memahami yang universal juga? Semakin kita memahami yang banyak kita justru semakin mengerti yang satu? Tetapi keyakinan macam ini barangkali hanya bisa dianggap sebagai horizon eskatologis saja. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 165-166) 

***





0 komentar:

Posting Komentar