![]() |
| GATRA, 21 Oktober 1995, Nomor 49, Tahun I |
Nurcholish Madjid memandang, jika dulu eks tokoh Masyumi menerima Parmusi, mereka akan memperoleh posisi terhormat.
Ketika tokoh-tokoh Masyumi mengupayakan rehabilitasi partainya, Dr. Nurcholish Madjid adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), organisasi yang dianggap anak Masyumi. Sebagai pimpinan HMI, Nurcholish termasuk pendukung rehabilitasi.
Dosen Pasca-Sarjana IAIN Jakarta, pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan peneliti pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, Kamis pekan lalu diundang GATRA untuk sebuah diskusi di seputar pemberian penghargaan kepada Prawoto Mangkusasmito dan Kasman Singodimedjo. Juga mengenai Masyumi, partai Islam terbesar yang dibubarkan Soekarno pada 1960 itu. Petikannya:
Tokoh Partai Masyumi, seperti Prawoto Mangkusasmito dan Kasman Singodimedjo, memperoleh bintang penghargaan dari Pemerintah. Apakah itu bisa disebut sebagai pergeseran sikap Pemerintah terhadap eks tokoh Masyumi?
Bila Pak Prawoto dan Pak Kasman sekarang mendapat giliran diakui jasanya, menurut saya, wajar saja. Selama ini ada anggapan dalam jajaran orang-orang yang diakui jasanya dalam republik ini, Masyumi paling tak terepresentasikan. Banyak sekali nama jalan di negeri ini yang menggunakan nama tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Muhammadiyah pun sudah terwakili. Misalnya ada nama jalan KH Mas Mansyur dan KH A. Dahlan. Tapi orang Masyumi belum ada yang menjadi nama jalan. Saya iri mengapa begitu T.B. Simatupang meninggal – memang harus diakui jasanya –langsung menjadi nama jalan. Sedangkan Moh. Roem belum dikutak-katik.
Menurut Anda, mengapa Prawoto dan Kasman diberi bintang penghargaan, sementara Roem belum? Padahal jasa Roem tak kalah dengan T.B. Simatupang atau Prawoto.
Bahwa Pak Kasman sangat berjasa, itu jelas sekali. Kita tahu riwayatnya. Ia, misalnya, bekas Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Prawoto adalah seorang yang pernah menjadi wakil perdana menteri dan memainkan peran penting dalam Konstituante. Di samping itu, Prawoto adalah tokoh Masyumi yang relatif dekat dengan Bung Karno. Ia menjadi jembatan antara M. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara (tokoh Masyumi yang masuk hutan bersama pemberontak PRRI/Permesta-Red.) yang ada di Sumatera waktu itu dengan Bung Karno.
Prawoto adalah tokoh Masyumi yang bersama Kasman dan Moh. Roem sempat membuat pernyataan bahwa PRRI itu tidak konstitusional. Memang yang dituntut Bung Karno lebih dari itu, Yakni mengutuk. Dalam bahasa Arab artinya sama dengan melaknat. Tapi itu tak mereka lakukan, karena dalam Islam, apalagi sesama muslim, tak boleh orang melaknat sesama manusia.
Roem?
Saya sendiri heran, mengapa Moh. Roem tak didahulukan. Roem itu jasanya luar biasa. Dia adalah orang ketiga yang paling berjasa setelah Bung Karno dan Bung Hatta. Ia amat berperan dalam finalisasi fase revolusi fisik lewat perundingan Roem-Royen, yang kemu- dian menghasilkan Konferensi Meja Bundar (KMB) – saat Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Pemerintah Indonesia.
Keputusan Pemerintah memberikan bintang itu, apakah bisa ditafsirkan sebagai kelanjutan sikap Pemerintah Orde Baru merangkul kekuatan Islam?
Segala interpretasi bisa kita buat, termasuk interpretasi semacam itu. Tapi Pak Harto sendiri selama ini tak penah melakukan sesuatu tanpa pre-meditation, perenungan yang lama. Artinya, bukan keputusan mendadak. Tentu sudah beliau perhitungkan matang-matang. Dan saya kira, keputusan itu tak semata-mata karena adanya desakan jangka pendek, misalnya pemilu. Melainkan dalam rangka menuju keseimbangan baru Indonesia. Secara mental, setiap kelompok merasa terepresentasikan dengan baik. Kalau sekian besar jumlah orang Indonesia merasa terus-menerus mengalami penyingkiran, itu bisa menjadi sumber gangguan.
Di satu pihak, adanya pengakuan jasa- jasa itu menunjukkan makin memudarnya trauma-trauma yang terjadi. Dan itu saya kira baik sekali. Di lain pihak, sebenarnya itu sudah terlambat. Tapi itu lebih baik daripa- da tidak sama sekali.
Bagi Anda, apa yang menarik dari Masyumi?
Masyumi ini menarik karena merupakan pemunculan ke atas di bidang politik dari orang-orang yang latar belakangnya sebetulnya priayi tapi kelak mempunyai komitmen kuat kepada Islam. Saya sebut priayi karena kenyataannya begitu, buktinya Anda bisa lihat sendiri dari namanya, Jawa, bahasa Sanskerta. Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, Jusuf Wibisono, Sjafruddin Prawiranegara, dan sebagainya. Di zaman Belanda, mereka termasuk kelas istimewa di kalangan penduduk pribumi karena dapat menikmati pendidikan tinggi. Mereka dididik secara sekuler tapi memiliki komitmen terhadap Islam. Waktu itu, para priayi biasanya masuk PNI atau PSI.
Apa pengaruh latar belakang pendidikan itu bagi perkembangan Masyumi di kemudian hari?
Karena berasal dari lingkungan priayi, sebenarnya dari segi simbol-simbol keislaman mereka tak memenuhi syarat. Mereka kebanyakan tak fasih mengucapkan salam atau mengutip ayat. Meski begitu, berkat pendidikan dan pengetahuan modernnya, mereka lebih mampu mengangkat esensi ajaran agama daripada yang tak punya latar belakang pendidikan modern. Karena itu, dalam artikulasi tentang ajaran agama, terutama menyangkut masalah politik setelah kemerdekaan, Masyumi tampak dominan. Dalam Konstituante, misalnya, artikulasi cita-cita Islam di bidang politik sebagian besar diungkapkan oleh orang Masyumi. Mereka menjadi juru bicara dari mereka yang mempunyai aspirasi Islam sehingga timbul kesan seolah-olah Masyumi-lah yang punya obsesi negara Islam. Padahal mereka hanya artikulator para wakil organisasi Islam di Konstituante, yang hampir semuanya memiliki ide negara Islam.
Selain menjadi artikulator ide Islam, orang Masyumi juga artikulator ide-ide politik modern, termasuk demokrasi, HAM, konstitusi, tertib hukum, dan sebagainya. Karena itu, orang-orang Cornell University, pimpinannya George McTurne Kahin, menganggap Masyumi golongan liberal.
Ada yang mengatakan bahwa secara anatomis ICMI mirip Masyumi. Di antara pengurusnya, misalnya, banyak yang berpendidikan tinggi dan priayi. Menurut Anda?
Kalau istilah Masyumi ditujukan untuk orang yang memiliki latar belakang sekuler tapi memiliki komitmen terhadap Islam, ICMI memang seperti itu. Namun secara politis kan berbeda.
Dari hasil Pemilu 1955, Masyumi menjadi salah satu partai terbesar.
Kalau mau jujur – jujur menurut saya – merekalah yang paling representatif untuk pemikiran Indonesia. Maksudnya begini, tahun 1955 ketika diadakan pemilu, terbukti Masyumi adalah partai yang paling tersebar di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Masyumi-lah yangpaling Indonesia. Sedangkan NU, PKI, dan PNI cenderung partai Jawa. Itulah, antara lain yang membuat Masyumi waktu itu sangat berperan. Setelah penyerahan kedaulatan lewat Konferensi Meja Bundar tanggal 27 Desember 1949, di Den Haag, M. Natsir adalah orang pertama yang menjadi perdana menteri.
Tapi sejumlah tokohnya terlibat PRRI/Permesta.
Begini. Umumnya tokoh Masyumi berpikir legal-formal. Mereka yang sangat legal-formal itu terutama Pak Prawoto dan Pak Roem. Sjafruddin Prawiranegara yang ikut ke hutan bersama PRRI, masih menunjukkan sikap seperti itu. Beliau berontak karena melihat Bung Karno itu melanggar hukum. Misalnya, dengan membubarkan Konstituante. Itu yang dianggap sebagai perbuatan melanggar hukum. Menurut anggapan Masyumi waktu itu, kalau saja Soekarno tak tergesa-gesa membubarkan Konstituante,yang menurut Masyumi dilakukan karena dorongan PKI, semua anggota Konstituante akan menerima Pancasila.
Di awal Orde Baru, tokoh-tokoh Masyumi mengupayakan rehabilitasi Masyumi. Namun Pemerintah menolaknya dan mengajukan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) dengan syarat eks tokoh Masyumi tak boleh jadi pimpinan. Tarik-menarik terjadi. Pemerintah tetap pada sikapnya.
Waktu itu, saya sebagai Ketua Umum PB-HMI, juga berada di pihak yang menginginkan rehabilitasi. Namun akhirnya saya mendukung berdirinya Parmusi. Saya mengerti mengapa Pemerintah tak bersedia merehabilitasi Masyumi. Ini masalah psikologi politik waktu itu. Alamsjah Ratu Perwiranegara (Sekretaris Negara RI waktu itu – Red.), dengan tepat melukiskan begini: "Bagaimana mungkin kita merehabilitasi Masyumi? Tentara-tentara itu masih berlumuran darah, janda-jandanya belum kawin lagi (janda tentara yang tewas dalam menumpas PRRI/Permesta-Red.), anak-anaknya masih yatim dan belum ketahuan nasibnya." Waktu itu, tumpasnya PRRI memang baru berlalu delapan tahun. Jadi wajar masih segar dalam ingatan.
Menurut sejarah, faktor trauma pada negara Islam merupakan hambatan terbesar untuk rehabilitasi. Komentar Anda?
Saya kira ada benarnya, yaitu adanya faktor Islam phobia, atau trauma dengan ide negara Islam. Seperti yang saya katakan tadi, di Konstituante wakil-wakil Masyumi-lah yang mengartikulasikan keinginan organisasi Islam untuk mendirikan negara Islam. Mungkin itu yang menyebabkan adanya trauma pada Masyumi. Tapi kalau kita menempatkan diri sebagai orang Masyumi, tentu kita akan mengeluarkan argumen begini: Ide negara Islam itu diajukan karena Konstituante memang memberi kesempatan untuk perdebatan berbagai ide tentang dasar negara. Bukankah sejak semula – tahun 1945 – semua orang termasuk Bung Karno menyadari, UUD 45 itu darurat, dibuat secara tergesa-gesa dengan harapan suatu saat akan disempurnakan. Konstituante adalah lembaga yang dibentuk untuk itu. Jadi dengan adanya Konstituante, semuanya dimulai lagi dari nol.
Orang-orang PSI seperti Sumitro Djojohadikusumo dan Soedjatmoko memperoleh peranan di pemerintahan. Padahal PSI juga dibubarkan dan tak pernah direhabilitasi. Sebaliknya, orang-orang Masyumi tampak tersudut.
Soalnya, Sumitro mewakili siapa? Hanya partai kecil, dalam arti jumlah anggota. Roem itu mewakili suatu kelompok yang amat besar. Ini suatu psikologi politik yang amat terasa sekali sewaktu saya masih ikut-ikut dulu.
Andaikan waktu itu eks tokoh Masyumi langsung menerima Parmusi, tanpa harus tarik-menarik, mungkinkah ceritanya akan lain?
Itu yang tak diperhitungkan eks tokoh Masyumi waktu itu. Pihak lain dengan cepat membaca situasi, termasuk PNI. Mereka yang bukan Masyumi dengan cepat berdiri di pihak Orde Baru, sehingga ruang kosong yang disediakan buat Masyumi telah terisi, terutama oleh mereka yang punya trauma kepada Masyumi. Tarik-menarik Masyumi dengan Pemerintah terlalu lama sehingga memberikan kesempatan kepada orang lain masuk. Kalau dulu mereka langsung menerima Parmusi, saya kira lain lagi jadinya. □
Sumber: GATRA, 21 Oktober 1995, Nomor 49, Tahun I


0 komentar:
Posting Komentar