alt/text gambar

Rabu, 22 Oktober 2025

Topik Pilihan: ,

Ali Sadikin: Penguasa yang Tahan Kritik

Arief Budiman (memakai kaos kerah putih dan berdiri di tengah) 


Oleh: Arief Budiman


Nama Ali Sadikin masuk ke dalam perhatian saya pada saat demonstrasi mahasiswa tahun 1966. Ketika itu, oleh Sukarno, Ali Sadikin diangkat menjadi gubernur ibu kota Jakarta. Segera dia menjadi pembicaraan di kalangan mahasiswa. Yang menjadi sorotan utama ialah kerjanya ketika dia menjadi panglima daerah maritim Pelabuhan Tanjung Priok. Ada yang mengatakan dia keras dan tegas dalam menjalankan tugasnya. 

Seorang tokoh perjuangan mahasiswa yang sudah tua dan dianggap tahu banyak persoalan Indonesia menyatakan bahwa Ali Sadikin bukanlah seorang yang baik; dia seorang yang korup; dan banyak lagi keterangan lain. Tapi umumnya, para mahasiswa menganggap diangkatnya Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta akan merugikan mereka. Bahwa dia adalah seorang jenderal KKO AL (pada waktu demonstrasi, KKO tidak populer di kalangan mahasiswa) membuat pandangan mahasiswa terhadap Ali Sadikin semakin negatif. Rata-rata mereka beranggapan bahwa Ali Sadikin diangkat Sukarno supaya dia bisa bertindak keras terhadap para demonstran. 

Karena itu saya tidak terkejut ketika salah satu pamflet stensil yang beredar di kalangan mahasiswa menganjurkan kita tidak percaya kepadanya. Dikatakan dalam pamflet itu bagaimana kita bisa percaya kepada orang yang sudah gagal mengurus sebagian kecil daerah Jakarta (yakni Tanjung Priok) untuk sekarang mengurus seluruh kota Jakarta. 

Kesan negatif ini kemudian mencapai puncaknya ketika dalam sidang MPRS, Ali Sadikin dalam pidatonya termasuk orang yang tetap mempertahankan Sukarno sebagai presiden. Dia segera didemo mahasiswa yang tergabung dalam KAMI Jaya. Saya sendiri sudah mulai gatal tangan untuk membuat tulisan yang akan menyerang isi pidatonya. Hanya karena kesibukan ketika itu, tulisan tersebut tidak sempat saya buat. 

***

Kehidupan politik berjalan terus. Sukarno digulingkan, kabinet Ampera terbentuk, Front Pancasila segera menghilang, pecah menjadi partai-partai dan golongan-golongan yang saling berkelahi. Bentrokan-bentrokan di dalam tubuh apa yang dinamakan Orde Baru menjadi semakin nyata. Dan selama itu, Ali Sadikin seakan-akan mundur ke belakang pentas. Tak ada lagi yang memperhatikan dia. Namanya mulai kedengaran lagi ketika apa yang disebut Lotere Totalisator muncul di Jakarta. “Lotto”, harganya sangat murah, hadiahnya besar dan permainannya sangat menarik. Dalam waktu singkat, penduduk Jakarts kelihatan terkena demam Lotto. 

Bersamaan dengan majunya Lotto, mulai tampak adanya perbaikan-perbaikan fasilitas bagi penduduk Jakarta: stasiun bis, gedung sekolah, dibangun dengan cepat dalam jumlah yang cukup besar. Segera terasa ada sesuatu yang tumbuh di Jakarta ini, meski perlahan tapi terus tumbuh. Dan figur Ali Sadikin, kali ini dengan wajah yang lain, mulai tampak membayang di balik semua kesuksesan itu. Tapi pengalaman pahit ketika masa-masa demonstrasi membuat saya sangat reserved untuk mengakui ini sebagai suatu sukses. 

Kemudian, dari beberapa teman wartawan, saya mendengar tentang keadaan di kantor gubernur—kerjanya yang cepat dan sikap terbuka kepada kritik, khususnya dari kalangan pers. Saya tetap saja masih skeptis. 

Pertemuan saya dengan Ali Sadikin terjadi pada permulaan tahun 1968. Ketika itu, gubernur DKI itu memperingatkan para pemuda yang berambut gondrong untuk segera mencukur rambutnya, “demi kepribadian bangsa”. Kalau ini tidak dilakukan maka akan dilakukan tindakan oleh aparatur negara. Memang ketika itu, para petugas ABRI serta Hansip sudah dikerahkan di tempat-tempat tertentu di Jakarta untuk mencegat para pemuda dan mereka yang dianggap berambut gondrong; digunting pada saat itu juga. 

Di antara teman-teman saya, para seniman secara skeptis dan sinis menerima perkataan kepribadian nasional. Kami tak pernah percaya dengan kepribadian nasional, apalagi bila dirumuskan oleh para penguasa; kepribadian nasional menjadi suatu rumus mati, yang sering dipakai untuk menolak ide-ide pembaruan yang datang dari luar.

Juga, dipandang dari sisi psikologi, kepribadian selalu memiliki pengertian yang dinamis, yang selalu berkembang. Maka saya segera menjadi “panas” ketika gubernur dalam bentuk instruksi, menolak sesuatu atas nama “kepribadian nasional.” Apalagi “kepribadian nasional” itu mau dibentuk dengan bantuan anggota ABRI dan Hansip. 

Dengan nada sedikit agresif, saya lalu menulis sebuah artikel tentang persoalan tersebut di harian Kompas. Akibatnya, beberapa hari kemudian, saya mendapat surat panggilan untuk menghadap sang gubernur. 

Ketika itu, wartawan sering juga dipanggil penguasa dan biasanya diancam secara halus supaya lain kali berhati-hati atau kalau mungkin meralat tulisannya. 

Tapi saya juga mendengar, dalam hal ini, Ali Sadikin agak berbeda dengan para penguasa lainnya. Saya teringat akan tulisan saya yang agak sinis dan tajam. Tapi saya putuskan untuk datang dan menanggung segala konsekuensinya. 

Demikianlah pada suatu pagi, ketika hujan turun agak lebat, saya pergi ke kantor gubernur dengan sebuah becak. Dalam waktu cepat saya sudah berhadapan dengan Ali Sadikin—seorang muda yang tampan. Dia dikelilingi para pembantunya yang lebih tua darinya. 

***

Kesan pertama saya, dia adalah seorang yang angkuh. Dia menjabat tangan saya, atau lebih tepat lagi sayalah yang menjabat tangannya, karena dia tidak bereaksi ketika tangannya saya genggam. Dalam psikologi, ini adalah ciri orang yang tidak mau involved dengan lawannya, biasanya karena merasa lebih tinggi. 

Saya diam saja. Kemudian Ali Sadikin dengan nada sinis (itulah kesan saya pada saat itu) mengambil koran Kompas yang ada tulisan saya dan bertanya: “Ini saudara yang menulisnya, ya?” Saya jawab ya. 

Kemudian dia menerangkan bahwa sebagai gubernur, dia harus memperhatikan para pemuda di Jakarta. Dia menceritakan bagaimana para ibu mengeluh tentang anak-anaknya yang tidak mau cukur dan kerjanya bergerombol naik motor atau mobil untuk kemudian berkelahi dengan gerombolan pemuda lain. “Rambut gondrong yang satu mencari rambut gondrong yang lain untuk kemudian menjadi gerombolan pemuda berambut gondrong. Karena itulah mereka saya tindak.” Demikian Ali Sadikin. 

Setelah dia selesai bicara, saya kemudian menjelaskan pendapat saya. Saya katakan bahwa saya secara pribadi adalah orang yang tidak suka dengan rambut gondrong. Tapi masalahnya, dari sudut ilmu jiwa, para pemuda adalah manusia yang berada dalam masa pemberontakan. 

Ada dua macam pemberontakan: yang membahayakan kepentingan umum seperti ngebut, dan yang umum seperti pakai celana sempit dan rambut gondrong. Kalau mereka, pada masa-masa seperti itu terlalu ditekan oleh orang yang lebih berkuasa dari mereka (tokoh otoriter), maka perkembangan mereka akan terganggu. Atau mereka akan menjadi pemuda-pemuda “banci,” semacam “mama's boy", atau mereka akan menurut sementara untuk pada suatu saat meletus dalam bentuk pemberontakan yang lebih hebat. 

Jadi saya berpendapat, pemberontakan-pemberontakan yang sifatnya tidak membahayakan kepentingan umum sebaiknya dibiarkan, bahkan kalau perlu dirangsang, demi perkembangan sehat dari pemuda itu untuk menjadi orang yang dewasa. 

Tentang para pemuda yang menggunakan rambut gondrong sebagai simbol identifikasi mereka untuk bergerombol, saya berpendapat alasan gubernur sangat tidak tepat. Kalau simbol identifikasi rambut gondrong ditindak, mudah saja mereka mencari simbol identifikasi lain, misalnya rambut botak atau celana yang digulung sebelah kakinya.

Jadi tindakan gubernur akan sia-sia saja; mereka akan terus bergerombol, hanya simbol identifikasinya yang berubah-ubah. Dan simbol identifikasi ini memang akan berubah-ubah tanpa ada tindakan gubernur. Jadi tindakan menggunting rambut gondrong untuk tujuan menghapuskan suatu simbol identifikasi supaya para pemuda tidak bergerombol adalah tindakan yang sama sekali tidak tepat. 

Berdasarkan keterangan saya itu, gubernur kemudian menyatakan agar dibentuk sebuah tim psikologi yang akan membahas persoalan ini. Dan rupanya, tindakan pengguntingan rambut gondrong ini tidak dilanjutkan oleh Ali Sadikin. 

Dari pertemuan yang berlangsung kurang dari setengah jam itu, kesan saya ialah Ali Sadikin adalah seorang yang terbuka terhadap kritik. Secara formal, berhubungan dengan dia menarik sekali, pembicaraan langsung to the point. Tapi sebagai pribadi, dia kurang hangat, agak angkuh. Dia memang bergurau, tertawa, tapi terasa dia memelihara suatu jarak. Sampai sekarang, setelah beberapa kali bertemu, saya masih tetap berpendapat demikian. 

***

Sementara itu, pembangunan di Jakarta semakin mencolok. Sesuatu yang dulu secara diam-diam berkembang, kini sudah seperti anak Krakatau yang tumbuh besar. Dan dia masih terus berkembang. 

Ali Sadikin semakin populer. Apalagi ketika persoalan Hwa Hwee muncul dan dia diserang secara hebat oleh orang-orang yang tidak menyetujuinya. Apa yang diyakininya benar, secara gigih ia pertahankan. Yang membuat posisi para penyerangnya sulit ialah karena pembangunan di Jakarta secara konkret terus tumbuh. Dan ini memang senjata Ali Sadikin untuk menyerang balik para penyerangnya. 

Dari sudut sosiologi, “pertarungan” antara Ali Sadikin dan para penyerangnya merupakan hal yang sangat menarik. Masyarakat Indonesia sampai saat ini adalah sebuah masyarakat tertutup yang mendasarkan dirinya pada nilai-nilai tradisional yang “sudah diatur oleh alam semesta.” Dia menjelma dalam bentuk kebudayaan feodalistis, di mana seorang anak raja akan tetap dihormati betapapun buruknya tingkah lakunya. 

Dia juga menjelma dalam bentuk penghayatan nilai-nilai agama yang dipertahankan tanpa sikap terbuka kepada kenyataan dunia di sekelilingnya. Di negara-negara modern, krisis agama yang terjadi adalah karena agama tumbuh secara tertutup hingga dia menjadi asing bagi kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pemuda yang karena masa perkembangannya, bersikap terbuka dan selalu mencari nilai-nilai yang dapat dipertanggung-jawabkan bagi kehidupannya. 

Demikian juga Ali Sadikin dalam usahanya mengadakan pembangunan Jakarta, dia bertabrakan dengan sistem nilai sebuah masyarakat tertutup, yang cenderung selalu menolak apa yang tidak dikenalnya, yang menimbulkan perasaan asing baginya. Tepat sekali bila usaha-usaha Ali Sadikin ini disebut sebagai usaha yang inkonvensional. 

Dalam masyarakat tertutup, betapapun berhasilnya usaha tersebut, dia pasti akan ditentang, justru karena inkonvensionalnya itu. Sebaliknya, dalam masyatakat modern yang terbuka, sebuah usaha inkonvensional mendapat penghargaan tinggi dan dianggap sebagai sesuatu yang kreatif. 

Maka segera dapat diramalkan siapa pembela Ali Sadikin—kaum intelektual dan para mahasiswa (termasuk mereka yang dulu berdemonstrasi menentangnya ketika dia mempertahankan Sukarno dalam sidang MPRS). Gejala ini menunjukkan pula sikap modern para mahasiswa, yang tidak terikat oleh nilai-nilai apriori, tapi selalu terbuka untuk merumuskan lagi sikapnya sesuai dengan perkembangan konkret di sekelilingnya. 

Saya merasa bahwa Ali Sadikin bisa mencapai sukses seperti ini “karena dia ada di Jakarta”. Karena Jakarta sebagai ibu kota merupakan kota paling intensif dalam menerima pengaruh luar, hingga sedikit banyak masyarakat Jakarta bukan lagi masyarakat tertutup seperti halnya masyarakat di kota-kota lainnya. Ali Sadikin, bagaimanapun juga, sangat diuntungkan oleh kondisi yang ada dalam masyarakat Jakarta. 

Suatu kali, dalam suatu percakapan bersama Frans Seda, menteri perhubungan ini menceritakan kesulitannya sebagai salah seorang pemimpin. 

Dia berkata bahwa sangat sulit sekali menggerakkan pembantu-pembantunya untuk mengemukakan ide-idenya yang berlawanan dengan sang menteri. 

Mereka cenderung selalu menurut dan menyetujui apa yang dikatakan sang menteri. Jelas sekali yang dikemukakan Frans Seda adalah manifestasi dari kebudayaan kita yang feodalistis, di mana orang yang berkuasa dianggap sebagai seseorang yang harus diabdi perintah-perintahnya. 

Seorang Amerika menceritakan kepada saya tentang salah satu kehebatan Presiden Kennedy. Katanya, dia bisa mendorong pembantu-pembantunya mengemukakan ide-idenya dan berdebat dengan dia. Demikian juga halnya dengan MacNamara, bercakap dengan MacNamara selalu berarti berdebat. Dalam setiap percakapan, dia selalu seakan-akan berkata: “This is my point. Now, what is yours?" 

Menggerakkan orang-orang di sekeliling kita, memberikan pendapatnya yang lain, bukanlah sesuatu yang mudah di Indonesia. Pendapat yang berlainan atau secara lebih kasar dinamakan kritik, merupakan sesuatu yang asing bagi suatu kebudayaan feodalistis. Dalam suatu masyarakat tertutup di mana suasana kekeluargaan dan kolektivitas lebih tinggi daripada nilai-nilai individual, berbeda pendapat atau kritik dianggap sebagai sesuatu yang bisa meretakkan nilai tersebut. 

Adalah tidak benar untuk mengkritik pendapat “orang yang lebih tua, karena mereka lebih tahu tentang segalanya. Dan “orang-orang tua itu merasa tersinggung bila mendapat kritik, karena merasa kewibawaannya dinodai. Maka terjadilah hubungan penguasa-pengabdi. Penguasa memberikan kebijaksanaannya, pengabdi melaksanakan kebijaksanaan tersebut. Tidak ada tempat untuk kritik. 

Ali Sadikin tampaknya dapat menembus pola kebudayaan ini. Kritik dari koran-koran diperhatikannya baik-baik, bahkan orang dirangsang untuk memberikan kritik-kritiknya. Surat-surat pembaca yang memberikan kritik terhadap pekerjaan-pekerjaannya, segera dibalas secara pribadi dan kritiknya bila memang konstruktif untuk kebaikan masyarakat segera dilaksanakan. 

Tanpa terasa, sebenarnya Ali Sadikin telah melahap rakus ide-ide brilian yang muncul dalam masyarakat untuk kemudian dilaksanakan dengan sukses. Apalagi kalau kita ingat bagaimana keadaannya ketika dia ditunjuk menjadi gubernur, dia tidak tahu “binatang” macam apa yang namanya gubernur itu. Dan kini, saya kira tak akan ada yang membantah kalau saya katakan dia adalah gubernur paling sukses selama ini. 

Ali Sadikin barangkali adalah pemimpin satu-satunya di Indonesia yang paling memanfaatkan kemerdekaan pers yang muncul kembali sejak tahun 1966. Melalui pers bebas, dia menggerakkan masyarakat Jakarta untuk berpikir baginya. 

Kalau Ali Sadikin telah berhasil mengadakan hubungan yang modern antara dirinya dan masyarakat, barangkali tidak demikian dengan orang-orang yang bekerja di sekitarnya. Barangkali bagi orang-orang yang melihat Ali Sadikin dari jauh dan pada suatu kali masuk ke dalam suasana kerja di DKI, dia akan terkejut melihat kenyataan bagaimana “Pak Gub” (istilah paling populer untuk Ali Sadikin di lingkungan DKI) merupakan pusat dari segala kegiatan. Bagian-bagian terasa kurang berkembang dengan inisiatifnya sendiri, segalanya seakan-akan baru berjalan setelah Pak Gub turun tangan. Seakan-akan bila nanti Pak Gub pergi, DKI akan kembali menjadi benda-benda arca di sebuah museum. Inilah yang mengerikan saya. 

Kalau kita renungkan, faktor-faktor apa saja yang membuatnya sukses, saya akan cenderung menyebutkan adanya dua sifat yang menjadi kunci suksesnya itu. Kedua sifat itu adalah keterbukaan disertai kesanggupan mengenali kritik yang baik dan keberanian. 

Ali Sadikin terbuka dalam menerima kritik, bahkan dia merangsang adanya kritik. Sikapnya yang terbuka telah berhasil memenuhi tugas pertama bagi seorang pemimpin yang baik, yakni to make people move. Kecerdasan mengenali mana kritik yang baik mana yang bukan, membuat masyarakat bergerak ke arah yang tepat. 

Kemudian sifat kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah keberanian. Dia berani menentang pendapat umum yang menekannya, bila dia merasa apa yang dijalankannya benar. Barangkali kenyataan bahwa dia adalah seorang militer, membantu adanya sifat seperti ini. Tapi tentu saja ini bukan menjadi suatu ketentuan kalau kita ingat betapa banyak pemimpin militer yang tidak punya keberanian seperti itu—lebih baik menyerah kepada tekanan massa dan tetap memegang jabatannya daripada melawannya, meskipun merasa apa yang dijalankannya benar. 

Tapi sukses utama dibangun Ali Sadikin bukanlah karena dia telah berhasil membangun kota Jakarta dengan gedung-gedung sekolah, stasiun-stasiun bis, taman-taman kota dan lainnya. Sukses utamanya adalah dia telah berhasil menghancurkan pola-pola kebudayaan dari suatu masyarakat tradisional yang tertutup dan mengembangkannya kepada pola kebudayaan baru yang modern. Ini merupakan prasarana yang penting sekali bagi terlaksananya pembangunan di seluruh Indonesia. Karena pembangunan, tanpa didukung suatu pola kebudayaan yang sesuai, tidak akan pernah berhasil. 

Arief Budiman, intelektual publik

Kompas, 12 Desember 1969 


Sumber

Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006



0 komentar:

Posting Komentar