![]() |
| Arief Budiman |
Oleh: Arief Budiman
Ketika saudara Budi Putra meminta saya menuliskan pengantar untuk bukunya tentang Soedjatmoko, meskipun saya sedang sangat sibuk dan saya belum membaca naskah lengkap yang dituliskannya, saya memutuskan menerimanya juga. Alasannya adalah karena saya merasa senang bahwa ada orang dari generasi lebih muda yang mau meneliti dan memahami buah pemikiran Soedjatmoko.
Budi Putra adalah seorang muda yang lahir pada tahun 1972 di Sumatera Barat. Dia berbeda generasi dengan saya (pada tahun 1972 saya sudah mengalami masuk penjara karena berdemonstrasi menentang Proyek Taman Mini), apalagi dengan Soedjatmoko yang sudah jadi orang besar ketika saya masih mahasiswa. Hal ini membuktikan bahwa pikiran-pikiran Soedjatmoko tampaknya masih terus berarti bagi generasi-generasi berikutnya.
Saya beruntung diberi kesempatan mengenal Soedjatmoko dari dekat. Berbeda dengan tokoh-tokoh intelektual senior lain yang ternama, Soedjatmoko selalu mau merendah untuk bergaul dan mendengarkan orang-orang yang lebih muda. Di rumahnya di Jalan Tanjung, Jakarta, sering diadakan diskusi bersama dengan para mahasiswa dan dosen muda. Ini terjadi pada permulaan tahun 1960-an.
Saya berkenalan dengan Soedjatmoko dalam konteks ini. Saya adalah salah seorang peserta diskusi. Saya sangat bangga bahwa saya bisa berkenalan dengan Soedjatmoko, seorang tokoh intelektual senior yang sudah aktif terlibat dalam perjuangan diplomasi di PBB untuk kemerdekaan Indonesia pada tahun 1940-an.
Pada suatu hari, saya memberanikan diri (lebih tepat lagi: nekat) untuk minta ketemu dengan dia berdua saja. Saya tidak banyak berharap. Kalau pada saat itu dia mengatakan “maaf, saya sibuk," saya tidak akan marah, meski mungkin akan sedikit kecewa. Tapi ternyata tidak, dia memandang saya, melihat ke buku agenda hariannya, dan kemudian menyebut sebuah hari beserta jamnya untuk saya datang.
Ketika saya menyatakan setuju, dia berkata: “Baik, saya tunggu Bung pada waktu itu.” Wah, saya juga jadi tambah bangga disebut Bung, begitu dia biasanya memanggil orang. Rasanya saya sudah “setara” dengan Soedjatmoko. Pada hari dan jam tersebut, yang tidak saya bisa lupakan, Soedjatmoko sudah menunggu saya di sofa ruang depan di rumahnya di Jalan Tanjung.
Ketika saya duduk, pembantunya datang membawakan teh. Saya mula-mula gugup, tapi karena sikap Soedjatmoko yang sama sekali memperlakukan saya sebagai sesamanya, saya jadi tambah tenang. Saya mulai bisa bicara dan bisa menyatakan pendapat-pendapat saya.
Ketika pulang dari kunjungan tersebut, ada sebuah pelajaran yang tidak dapat saya lupakan, dan saya terapkan dalam hidup saya sekarang, yakni: Hargailah orang-orang muda! Berilah waktu kepada mereka! Merekalah yang akan meneruskan ide-ide kita!
Saya juga mendapat kesan bahwa Soedjatmoko tampaknya senang dengan saya, meskipun pendapat-pendapat saya tidak banyak artinya. Ini kemudian terbukti, ketika ada tawaran dari International Association for Cultural Freedom yang berpusat di Paris untuk mengirim seorang muda dari Indonesia untuk belajar selama satu tahun di Belgia, Soedjatmoko dan P. K. Ojong mengusulkan nama saya. Maka, pada tahun 1964, saya dikirim ke sana.
Kemudian, pada tahun 1970-an ketika saya sedang belajar di Universitas Harvard di Amerika Serikat, tiba-tiba saya mendapatkan telepon dari Ford Foundation di New York. Mereka menanyakan apakah saya bersedia ikut dalam sebuah seminar di Guernavaca, Meksiko, untuk menggantikan Soedjatmoko yang tidak bisa datang. Beliau mengusulkan nama saya.
Seminar itu diselenggarakan oleh Ivan Illich, sehubungan dengan terbit bukunya yang baru: Medical Nemesis. Tentu saja, ini merupakan kehormatan bagi saya dan saya segera mengiyakannya.
Mungkin semua pengalaman inilah yang membuat saya tidak bisa menolak ketika saudara Budi Putra, seorang yang mewakili generasi muda yang sekarang, meminta saya menulis kata pengantar ini. Dengan begini saya merasa utang saya kepada Soedjatmoko saya bayar, meski secara kecil-kecilan.
Ini juga yang menjelaskan mengapa saya biasanya tidak menolak dan senang sekali kalau bisa memenuhi undangan para mahasiswa untuk berdiskusi dengan duduk di tikar dalam salah satu kamar kontrakan salah seorang dari mereka. Ya, saya sedang membayar utang.
Dengan cerita di atas, saya ingin menyatakan bahwa Soedjatmoko bukan sekadar intelektual salon yang berpikir di ruang perpustakaannya tentang ide-ide besar dan tentang cara-cara bagaimana menyelamatkan umat manusia di dunia ini. Dia juga “reach out” kata orang Amerika, keluar dari menara gadingnya dan menyentuh realitas.
Semakin saya menjadi dewasa dan terlibat dengan berbagai pemikiran tokoh-tokoh dunia selama studi saya di Amerika Serikat, saya merasa ada yang belum dicapai oleh Soedjatmoko sebagai pemikir. Ini barangkali harus diteruskan oleh yang muda-muda.
Sumber:
Arief Budiman, Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, Jakarta: Pustaka Alvabet, 2006, h. 346-349


0 komentar:
Posting Komentar