alt/text gambar

Senin, 24 November 2025

Topik Pilihan:

Beberapa Kebiasaan Digital yang Dapat Memperlemah Ketahanan Mental

Kekuatan mental banyak orang runtuh bukan karena hidupnya berat, tetapi karena kebiasaan digitalnya yang pelan pelan mengikis fokus, ketenangan, dan kemampuan berpikir jernih. Riset neurosains menunjukkan bahwa paparan notifikasi berlebih dapat menurunkan kapasitas atensi hingga lebih dari dua puluh persen dalam hitungan minggu. Otak menjadi lebih gelisah, lebih impulsif, dan lebih sulit bertahan dalam tekanan. Ini menjelaskan mengapa banyak orang merasa mudah lelah secara mental meski tidak mengalami tekanan besar dalam hidupnya.


Ada orang yang bangun pagi dalam kondisi masih segar, tetapi begitu membuka ponselnya, moodnya langsung berubah. Timeline penuh drama, berita buruk, atau konten memicu perbandingan membuat mental terasa berat bahkan sebelum hari dimulai. Kebiasaan kecil ini tampak sepele, tetapi berdampak langsung pada kualitas pikiran.


Contoh lain ketika seseorang mencoba fokus bekerja tetapi setiap beberapa menit terpancing membuka pesan, menonton video pendek, atau mengecek feed tanpa sadar. Aktivitas ringan ini menghambat kemampuan otak masuk ke mode konsentrasi dalam, sehingga ketahanan mental melemah. Bukan karena ia tidak kuat, tetapi karena pikirannya terlalu sering dipotong oleh dunia digital.


1. Paparan notifikasi yang tidak pernah berhenti


Otak manusia tidak dirancang untuk menangani gangguan kecil secara terus menerus. Satu notifikasi mungkin tidak terasa, tetapi jika muncul puluhan kali dalam sehari, sistem saraf menjadi lebih mudah cemas. Seseorang menjadi reaktif, sulit menahan impuls, dan lebih cepat merasa lelah. Meski hari itu tidak berat, mentalnya terkuras duluan oleh gangguan digital yang tidak berkesudahan.


Mengurangi notifikasi terutama dari aplikasi yang tidak penting mengembalikan kapasitas otak untuk fokus. Banyak pembaca yang mengikuti konten eksklusif di Singgasana Kata melaporkan peningkatan ketenangan hanya karena membatasi notifikasi. Ketika gangguan berkurang, pikiran bisa kembali beroperasi pada ritme yang lebih stabil dan tahan tekanan.


2. Kebiasaan scroll tanpa tujuan


Scroll berjam jam membuat otak terus menelan informasi tanpa filter. Akibatnya, pikiran menjadi jenuh dan sulit fokus. Seseorang merasa lelah tetapi tidak tahu penyebabnya, padahal energinya terkuras karena konsumsi konten acak yang tidak memberi nilai. Kelelahan ini membuat mental lebih rentan terhadap stres kecil.


Membatasi sesi scroll dengan durasi pendek dan tujuan jelas membuat konsumsi digital lebih sehat. Ketika seseorang mulai membedakan antara hiburan dan pelarian, otaknya belajar untuk berhenti melarikan diri ke layar setiap kali ada sedikit ketidaknyamanan. Ini memperkuat ketahanan mental secara bertahap.


3. Membandingkan diri melalui media sosial


Media sosial memicu ilusi bahwa semua orang lebih berhasil, lebih bahagia, atau lebih menarik. Ketika seseorang terus terpapar perbandingan seperti ini, rasa percaya dirinya terkikis. Mentalnya menjadi rapuh karena standar hidup diambil dari highlight orang lain. Hari yang baik berubah menjadi berat hanya karena melihat pencapaian orang lain dalam format yang tidak realistis.


Mengikuti akun yang memberi perspektif realistis membantu menetralkan bias perbandingan ini. Mengurangi paparan konten yang memicu rasa tidak cukup juga membuat pikiran lebih stabil. Dengan begitu, seseorang bisa kembali menilai dirinya berdasarkan perjalanan nyata, bukan berdasarkan ilusi digital.


4. Mengonsumsi informasi di luar kapasitas otak


Informasi berlebih memicu stres karena otak dipaksa memproses lebih banyak dari yang mampu ditanganinya. Seseorang bisa merasa gelisah meski tidak terjadi apa apa karena otaknya belum sempat beristirahat. Ketika informasi masuk terlalu cepat, kemampuan otak menyaring yang penting melemah.


Menetapkan jam khusus untuk konsumsi berita atau konten edukatif memberi ruang bagi otak untuk memproses informasi secara sehat. Dengan ritme yang lebih pelan, seseorang bisa kembali menggunakan pikirannya secara lebih tajam tanpa dibebani overload digital.


5. Melarikan diri ke ponsel setiap merasa canggung atau bosan


Kebiasaan mengambil ponsel setiap merasa tidak nyaman membuat seseorang kehilangan kemampuan menghadapi emosi kecil. Lama kelamaan, mental menjadi rapuh karena ia tidak belajar duduk dengan ketidaknyamanan. Gangguan kecil seperti menunggu antrean atau menunggu teman terasa lebih berat karena otak terbiasa lari ke stimulasi cepat.


Melatih diri menahan beberapa menit tanpa ponsel mengembalikan kapasitas otak untuk menghadapi keheningan. Emosi kecil menjadi lebih mudah ditangani. Ketika seseorang mulai nyaman dengan ketenangan, ia tidak mudah dikalahkan oleh tekanan kecil dalam hidupnya.


6. Membiarkan konten negatif mengisi ruang pikiran


Konten negatif, drama, atau opini penuh kemarahan membawa energi yang mempengaruhi suasana hati. Terpapar hal seperti ini setiap hari membuat pikiran lebih mudah curiga, gelisah, atau defensif. Hari yang seharusnya berjalan stabil berubah tegang hanya karena konsumsi digital yang tidak sehat.


Mengganti sumber konsumsi dengan konten yang lebih menenangkan membuat mental lebih tahan terhadap tekanan. Bukan berarti menghindari realitas, tetapi memilih informasi yang membangun perspektif sehat. Ketika otak diberi nutrisi mental yang tepat, ketahanan mental meningkat dengan sendirinya.


7. Mengabaikan waktu istirahat dari perangkat


Tanpa jeda digital, otak tidak pernah masuk ke mode pemulihan. Hasilnya adalah kelelahan mental yang membuat seseorang mudah marah, sulit fokus, dan sulit berpikir jernih. Bahkan tidur bisa terganggu karena otak tetap aktif sampai larut malam. Ini melemahkan ketahanan mental secara perlahan.


Membiasakan waktu hening sebelum tidur atau periode tanpa layar beberapa kali sehari membantu sistem saraf kembali tenang. Rutinitas kecil seperti ini memberi ruang mental untuk memulihkan diri. Dengan ritme istirahat yang cukup, otak jauh lebih siap menghadapi tekanan hidup.


Kebiasaan digital tidak terlihat berbahaya, tetapi dampaknya nyata terhadap ketahanan mental. Ketika gangguan dikurangi, konsumsi informasi disehatkan, dan otak diberi ruang beristirahat, seseorang menjadi lebih stabil dalam menghadapi tantangan sehari hari. Ketahanan mental bukan hanya soal karakter, tetapi juga soal kebiasaan yang membentuk cara pikiran bekerja. Dengan mengelola dunia digital secara lebih bijak, hidup menjadi lebih ringan dan jauh lebih terkendali.

Sumber: 

https://www.facebook.com/share/1Ahvs7EPMW/

0 komentar:

Posting Komentar