alt/text gambar

Senin, 24 November 2025

Topik Pilihan:

Catatan Penerjemah

Buku karya Rudolf Mrazek


Oleh: Endi Haryono


SEJAK di sekolah dasar saya telah membacai novel dan buku-buku cerita. Saya mengagumi semua penulis buku-buku cerita tentang manusia dan kehidupan, dari mpu dan pujangga yang menuliskan kekawin dan penggalan cerita pewayangan hingga penulis-penulis novel kontemporer. Para penulis ini, dalam pandangan saya, adalah orang-orang yang hebat, yang berkontribusi terhadap kemanusiaan dalam jalan yang sepi. 

Menuliskan cerita kehidupan adalah memberikan inspirasi bagi pembacanya untuk berefleksi dan menjalani kehidupan secara lebih baik, lebih bermakna dan lebih berkontribusi terhadap sesama manusia. Jiwa, perasaan, angan, dan imaji manusia adalah tak terbatas dan cerita-cerita dari para penulis besar bagi pembacanya adalah 'inspirasi dan stimulan' memanfaatkan yang tak terbatas itu untuk hidup yang lebih baik, yakni hidup yang berguna bagi sesama manusia. 

Dalam deretan nama-nama penulis yang hebat dan saya kagumi adalah Pramoedya Ananta Toer, penulis yang pernah dinominasikan sebagai calon penerima Nobel Sastra dari Indonesia. Pram, menurut saya, adalah penulis yang paling mengilhami dan paling banyak dibaca karyanya, terutama oleh generasi yang menjadi mahasiswa di tahun 1980-an dan 1990-an. 

Saya sendiri adalah bagian dari generasi tersebut, menjalani masa mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, membacai novel tetralogi Buru karya Pram mulai dari edisi foto kopi hingga buku. Memang, kekaguman saya kepada Pram sebagai penulis dan sastrawan dengan novel-novel dengan cerita kehidupan manusia yang kuat dan menginspirasi, mendorong saya menerjemahkan artikel ini, atas seizin penulisnya. 

Buku ini diterjemahkan dari tulisan Rudolf Mrazek, dosen dan profesor sejarah di Universitas Michigan, tentang Pram. Tulisan Mrazek pertama kali diterbitkan dalam Indonesia edisi 61 (April 1996), Only the Deaf Hear Well. Sebuah tulisan pendek dan ringan yang menarik. Tulisan yang memberikan pembelajaran. 

Setiap cerita dan kisah tentang kehidupan—baik fiksi atau biografi—adalah sumber pelajaran berharga, sehingga layak untuk diterbitkan agar dibaca lebih banyak orang untuk mengambil pelajaran darinya. 

Buku ini menuliskan tentang penggalan dari masa-masa Pram menjalani pengasingan di Pulau Buru, masa pembuangan yang berat, tetapi tak pernah membuatnya surut dari menulis dan surut dari meyakini potensi kemanusiaan tiap-tiap pribadi yang merdeka dan mau mendengarkan suara hati nuraninya. 

Dari tempat pembuangan di Pulau Buru ini, dengan larangan menulis dan kemudian dibolehkan menulis dengan ketersediaan bahan terbatas, Pram melahirkan empat novel yang kuat, tetralogi, yang dibaca lebih banyak oleh mahasiswa dan remaja Indonesia, lebih daripada karya-karya Pram yang sebelumnya. 

Empat novel dalam tetralogi ini—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah—bukan hanya dibaca oleh lebih banyak pembaca remaja Indonesia, tetapi juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan beberapa bahasa asing lainnya. 

Empat karya ini juga lebih banyak didiskusikan dan disitir oleh mahasiswa dan aktivis sosial dalam wacana sosial di Indonesia, dengan tokoh-tokohnya yang lekat dalam benak pembaca. Namun harus dicatat juga, Pram tak hanya melahirkan tetralogi yang kuat dan berpengaruh ini selama pembuangan di Pulau Buru, dia juga melahirkan karya-karya yang lain, termasuk buku tentang RM Tirto Adhi Soeryo, pemula wartawan Indonesia. 

Meski gagal memenangkan Nobel Sastra, karya Pulau Buru ini tetap novel-novel yang paling berpengaruh dalam jagad sastra Indonesia hingga saat ini, sekaligus paling kuat mengilhami penulis dan pembaca yang lahir kemudian. 

Jakarta, Agustus 2017 

Endi Haryono 

Sumber: 

Endi Haryono, "Catatan Penerjemah", dalam Rudolf Mrazek, Pramoedya Ananta Toer dan Kenangan Buru, Yogyakarta: Matabangsa, 2017.

0 komentar:

Posting Komentar