Oleh: Abdurrachman Surjomihardjo, Ahli Peneliti Utama LIPI dan Pakar Sejarah
(FORUM KEADILAN, Nomor 16, Tahun II, 25 November 1993, “Catatan Sosial“)
Pergerakan nasional Indonesia, perang dan revolusi Indonesia, mencuatkan nama besar dan peristiwa besar, seperti kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, dan lain-lain. Pertempuran Surabaya yang diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan merupakan persepsi yang hidup bagi mereka yang mengalami peristiwa itu. Sebaliknya, bagi yang berada di luar peristiwa tersebut, itu merupakan upaya untuk mencari makna kejiwaan dan keteladanan.
Sejarah setiap bangsa disampaikan dengan cara memperkenalkan "orang besar", baik sebagai mitos maupun dalam kenyataan. Suku-suku bangsa di Indonesia mengenal tokoh-tokoh pendiri sukunya secara turun-temurun, yang semakin lama menjadi kisah yang berbau mitos. Setelah Indo- nesia merdeka dikenal pula para bapak pendiri republik ini, yang kemudian diperkaya dengan pengangkatan pahlawan-pahlawan resmi, jika tidak salah sudah mendekati jumlah 100 orang pahlawan. Banyaknya buku biografi para "orang besar" dalam sejarah Indonesia menjadikan persepsi dan pencarian makna kepahlawanan semakin marak. Tetapi, itu juga menumbuhkan pertanyaan kritis, apa sebenarnya pahlawan itu?
Sisi lain dari mencuatnya "orang besar" dalam sejarah bukan hanya merupakan masalah praktis, tapi juga menumbuhkan permasalahan teoritis dan analisis sejarah. Banyak yang menyatakan, tanpa "orang besar" pun gerakan-gerakan menuju masyarakat baru dari generasi ke generasi akan berjalan terus walaupun tidak dapat dihindari. Dalam sejarah politik, lapisan yang berkuasa lalu menganggap dirinya punya nilai lebih daripada yang digantikannya. Dalam masa sejarah seperti itu, apalagi yang timbul karena krisis yang tajam, harapan-harapan baru tumbuh dan kata demokrasi menjadi tumpuan untuk perbaikan moral, sosial, dan ekonomi. Tetapi, seperti kata seorang pemikir sejarah, "Bila suatu demokrasi bijaksana dan arif, kepercayaan untuk bekerja sama dengan para pemimpin pada waktu yang sama harus sejalan dengan keraguan mengenai kekuasaan yang dipercayakan kepada mereka." Contoh yang gamblang, yaitu kekerasan yang terjadi dan meminta korban jiwa dari sekelompok rakyat atau perorangan, misalnya Marsinah, yang menuntut hak-haknya sebagai warga negara.
Bagaimanapun minat terhadap "orang besar" juga ditimbulkan oleh alasan-alasan psikologis. Kenyataan bahwa banyak pemimpin menganggap dirinya sebagai bapak negara atau sebagai penyambung lidah rakyat, atau para pengikutnya menganggap pemimpin sebagai bapak. Itu tampaknya sesuai dengan pendirian Freud mengenai pencarian manusia kepada "kompleks" bapak atau ibu, yang memberikan rasa aman dan kestabilan perasaan di masa kanak-kanak mereka. Orangtua, guru, pemimpin, dan lain-lain memberi banyak orang untuk melengkapi kebutuhannya, menenangkan perasaannya, dan menjawab pertanyaan yang tersimpan dalam hati atau dalam pikiran yang semakin tumbuh. Untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri dan berpikir merdeka memerlukan pengalaman dan suasana kemasyarakatan tersendiri, yang dalam perpindahan dari generasi ke generasi akan sangat berpengaruh.
Beberapa hari lalu, kita memperingati Hari Pahlawan, 10 November 1945. Pada tanggal itu, sekarang, telah menjadi sejarah dan tinggal merupakan ungkapan ingatan bersama pada perjuangan rakyat dan pemimpinnya terhadap prinsip pengabdian, keberanian, dan rasa setia kawan untuk melaksanakan semboyan "merdeka atau mati". Sekarang, semboyan itu semestinya "merdeka atau hidup", berdasarkan kesadaran atas hak-hak serta kewajiban konstitusional, dan menjaga agar cita-cita perjuangan membangun masyarakat adil dan makmur tetap menjadi pedoman hidup dan perjuangan. Makna emosional Pertempuran Surabaya kini menjadi semangat agar tetap hidup dan berjuang di bidang-bidang yang sampai kini belum sempurna dalam hidup kenegaraan kita selama 48 tahun.
Makna sejarah Pertempuran Surabaya kini telah terekam dalam banyak historiografi atau penulisan sejarah. Peringatan menjadi berbobot bila dikaitkan dengan pemahaman nilai-nilai perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peringatan harus menjadi semacam refleksi diri, peneguhan tekad kepahlawanan dalam arti yang luas bagi generasi baru. Kini, generasi baru harus lebih baik, lebih ulet, dan lebih cerdas, menghadapi apa yang harus dipertahankan serta apa yang perlu di- ubah. Dilema itu juga dialami para pahlawan 10 November 1945, yang kini telah tiada… □
Sumber: FORUM KEADILAN, Nomor 16, Tahun II, 25 November 1993

0 komentar:
Posting Komentar