alt/text gambar

Minggu, 14 Juni 2026

Topik Pilihan: ,

Khutbah Jumat: Kehidupan yang Sejati

Hidup yang kekal, yang menjadi tujuan dari segala kita yang hidup ini, hidup yang dikejar oleh orang yang sadar akan arti hidup ini, yang orang-orang berlomba menempuhnya, ialah hidup sesudah mati. Itulah yang diserukan oleh kitab-kitab yang diturunkan oleh Tuhan. Itulah yang disampaikan oleh nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan. 


وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (Q.s. Al-'Ankabut, ayat 64) 


Kehidupan di dunia ini hanyalah main-main. Hanya senda gurau. Hidup di akhirat itulah hidup yang sejati kalau sekiranya kita pikirkan dan kita renungkan betul-betul. 

Hidup yang sekarang ini dibandingkan dengan kehidupan yang kemudian itu adalah seperti tidur saja. 

Hidup yang sejati, hidup yang di akhir, hidup akhirat. Dengan demikian, kita dapat membuat supaya kehidupan yang sekarang ini menjadi kebun. 


الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

(Addun-ya mazra'atul akhirah). 

Dunia ini seperti perkebunan untuk mengambil hasilnya di akhirat. Mendorong kita supaya berbuat baik banyak-banyak di dunia ini. 

Jadi kehidupan di dunia ini sudah menentukan kehidupan akhirat nanti. Kalau di sini, di dunia ini, baik yang kita kerjakan, maka lepas dari kehidupan di dunia ini, kita menerima kebahagiaan, kesenangan. 

Nabi Muhammad SAW pernah memisalkan. Apa kata beliau: "Kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, hanyalah seperti seorang yang mencelupkan ujung telunjuknya ke dalam laut, kemudian dia cabut kembali. Basah. Nah, basah yang sedikit di tangan itulah hidup di dunia ini. Berapa luas lautan lagi tak dapat kita tentukan dalam dan luasnya, dibandingkan air yang tinggal di ujung telunjuk kita tadi. 

Hari akhir itu menafaskan jiwanya. Jadi, seperti kita mengambil ribuan nafas sehari-hari. Satu di antara nafas yang ribuan kali kita nafaskan siang dan malam itulah perbandingan kehidupan dunia, dibandingkan dengan akhirat.

Maka orang yang pandai memanfaatkan nafas yang sejenak itu dapat dipakainya dengan baik: dia beramal. 

Apa yang terjadi bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh ketika nyawanya bercerai dengan badan, ketika lepas dari penjara dunia ini? Pada zahirnya kelihatan tubuh dimasukkan ke dalam bumi. Asal tanah pulang ke tanah. Air pulang ke air. Tapi ruh itu terlepas dari ikatannya. Seperti kata Suhrawardi, seorang sufi yang besar, yaitu seperti burung di dalam sangkar: ia berkicau. Ia ingin keluar. Kemudian sangkar terbuka, burung pun terbang. Sangkar kosong, burung bernyanyi di tempat yang luas. Begitulah ruh apabila keluar dari badan. 

Setelah mendapat kelapangan di alam barzah, bagaimana lagi keadaan di darunna'im? Di negeri yang indah? Dikatakan bahwa yang menjadi inti kebahagiaan di dalam surga jannatunna'im itu ialah melihat wajah Tuhan. 


وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ​ ۚ‏

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (karena) memandang Tuhannya. (Q.s. Al-Qiyamah, ayat 22-23).


Muka pada waktu itu berseri-seri. Karena pada hari itu kita dapat memandang Tuhan. Tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada itu. 

Sehingga pernah ditanyakan kepada Rabi'ah al Adawiyah, seorang sufi perempuan: bagaimana pandangannya tentang neraka dan tentang surga. "Pandangan saya cuma satu: memandang wajah Allah. Mau ditempatkan di mana pun yang saya melihat wajah Allah, itu seribu kali lebih daripada surga."

Tapi timbul pertanyaan: mengapa kebanyakan manusia takut menghadapi kehidupan yang sejati itu? Mengapa manusia lengah daripadanya? Mengapa kehidupan dunia saja yang dicintai orang? Padahal dunia ini seperti khayal atau bayangan saja? 

Apakah karena salah menggambarkannya di dalam hati? Atau karena perasaan sendiri yang tumpul? Atau karena tidak percaya kepada kehidupan akhirat itu? Atau karena akal kita sendiri tidak memahami? 

Atau karena tertarik dengan barang-barang duniawi yang pasti lepas dari diri manusia ini? Banyak manusia menjawab: ya. Itu sebabnya. 

Pertama karena salah menggambarkannya. Yang kedua karena tidak mau percaya. Yang ketiga, akal yang tidak mampu menjangkau. Yang keempat karena pengaruh barang yang ada di dunia dan tak tahu bahwa penggantinya jauh lebih baik. 

Dan, sebab yang utama itu adalah: lemah iman. 

Iman inilah yang mesti diperkuat. Karena iman itulah yang menjadi ruh dari segala amal. Iman itulah yang membangkitkan semangat kita untuk bekerja yang lebih baik (berbuat kebajikan). Dan iman juga yang mencegah kita melakukan hal yang buruk. Dengan kekuatan imanlah kita tidak merasa payah melakukan perintah Allah. 

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Iman kepada kehidupan akhirat bukan artinya kita menolak hidup. Bukan menyuruh kita shalat saja dari pagi sampai malam sehingga tidak tidur lagi. 

Apabila kita bekerja di kantor, misalnya, ataudi ladang, berdagang di pasar, dan lain sebagainya, pasangkanlah niat kita itu dengan iman. Nah, dengan begitu, itu nanti akan menjadi amal untuk persediaan kita di akhirat kelak. 

Misalnya, orang menjadi pegawai negeri, dipasangnya niat dari hati: saya menjadi pegawai ini supaya saya dapat memberikan pelayanan pada masyarakat dengan baik, mencari harta yang halal untuk rumah tangga saya, untuk menyekolahkan anak saya, bair sedikit asalkan amal saya ini amal yang saleh. 

Jadi, bekerja di kantor itu menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat--hidup yang sejati itu. 

Kita mencari makan, berdagang, misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:

"Makanlah segala yang baik rezeki yang Kami berikan kepada kamu.. "

Karena ada perintah Allah "makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat. 

Atau seperti menjadi pedagang: apa kata Rasulullah? 

"Pedagang yang jujur itu tempatnya sama dengan para syuhada (orang yang mati syahid), di hari kiamat."

Jujur! Ucapan yang mudah betul, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan kita pada akhirat kelak. 

Atau yang lain-lain. Dalam al Qur'an banyak perintah:

-Makanlah buah-buahan itu. Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah Allah itu. 

-berjalanlah di muka bumi. Injak bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu. 

Jadi, segala amalan kita di dunia ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat. 

Bukan "ah saya tidak mau lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja. Bukan saleh namanya. 

Jadi, itulah maksud perkataan Rasulullah:

"Addun-ya mazra'atul akhirah."


Dunia itu suatu "mazra'ah"; suatu kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat. 

Kaum muslimin sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Sebab kedua yang menjadikan kita lengah, karena hanya memandang kehidupan yang ini saja. Karena kelalaian telah masuk ke dalam hati kita. Lalai itu sama dengan tidur. Lalai itu tidur hati. Karena itu banyak orang yang matanya nyalang, tapi hatinya tidur. Lain dengan Nabi: matanya tidur tapi hatinya nyalang. 

Orang yang terbiasa bangun shalat tahajud jam 3 malam, misalnya, walaupun kondisi baru tertidur jam 2, misalnya, tetap terbangun jam 3. Ini menandakan kesadaran batin. Sehingga lebih dulu bangun hatinya daripada matanya. Tapi orang yang hatinya tertidur tak ingat lagi waktu shalat. Jangankan shalat sunat, shalat wajib pun dilalaikan. Karena ia tidak ingat kehidupan yang sejati bukan di sini. 

Kesimpulannya: kehidupan yang sejati itu, itulah tujuan daripada perjalanan kita di dunia ini. 


***

Ctt: 

Wasiat takwa: 

marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan cara apa? Dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah formal kita. Dan memperbanyak berbuat kebajikan bagi manusia. Jadi, tak cukup hanya ibadah formal saja, tapi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Manfaatkanlah tubuh kita ini untuk bersedekah (berbuat yang benar. Sedekah dari kata "sidq; sidik" atau "shadaqta": artinya benar). Apa saja yang kita lakukan dengan benar maka ia sudah bernilai sedekah. Bahkan membuang duri di jalan pun disebut "sedekah". Karena ia merupakan perbuatan yang benar. 


Sumber: Tausyiah Buya Hamka



0 komentar:

Posting Komentar