alt/text gambar

Jumat, 12 Juni 2026

Topik Pilihan: ,

Kutbah Jumat: Dua Amanah Allah kepada Manusia

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,

 

Allah berfirman bahwa dulu Allah menawarkan sebuah kepercayaan, amanah kepada langit, gunung, dan bumi. Namun, mereka menolak untuk menerima kepercayaan dari Allah itu karena khawatir atau takut tidak mampu melaksanakannya.

 اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

(innâ ‘aradlnal-amânata ‘alas-samâwâti wal-ardli wal-jibâli fa abaina ay yaḫmilnahâ wa asyfaqna min-hâ wa ḫamalahal-insân, innahû kâna dhalûman jahûlâ)

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh." (Q.s. Al-Ahzab, Ayat 72)

 

Amanah yang ditolak oleh langit, bumi, dan gunung, karena takut tidak mampu menjalankan itu, kemudian diterima oleh manusia. Kita menerima.

Amanah apakah itu? Padahal manusia itu, “Innahuu kaana dzaluuman jahuula.” Manusia punya potensi zalim, menyimpang, atau bahasa kasarnya kurang ajar. Dan “jahula” itu berarti manusia punya potensi serba tidak tahu, serba bodoh, tapi menerima amal yang sangat berat itu.

Amanah apakah itu? Ada dua amanah.

Pertama, amanah diniyyah samawiyah, muqaddasah. Yaitu amal agama dari langit yang suci, yang mulia, ilahiyyah (atau bersifat Allah), dan merupakan monopoli Allah. Itulah amanah diniyyah, ilahiyyah, samawiyyah, muqaddasah.

Isinya ada dua, yaitu akidah dan syariah.

Akidah merupakan rukun iman yang enam, sedangkan syariah adalah rukun Islam yang lima, dan aturan-aturan ibadah yang lain. Itu amanah agama yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia setelah langit, bumi, dan gunung menolak.

Maka kita sebagai yang mempunyai amanah harus mengamalkan, mendakwahkan, mengajak manusia atau masyarakat lain agar berakidah dan bersyariah. Aqidah shahihah, syariah shahihah. Akidah yang benar harus kita dalami melalui pelajaran ilmu kalam. Syariah yang benar harus kita pahami melalui kitab-kitab yang kita baca.

Minimal, setara Fathul Qarib. Itu sudah lumayan standar, walaupun masih pas-pasan. Belum luas seperti Fathul Wahab, Mahalli, atau Majmu'. Tapi, minimal kita semua ini harus paham Fathul Qarib. Kalau akidah, minimal harus paham Fathul Majid atau Al-Iqtishad fi Al-I'tiqad, dlsb, itu suatu amanah.

Yang kedua, amanah yang diterima oleh manusia itu bersifat insaniyyah, ardliyah, ijtihadiyah. Bersifat manusia, profan, duniawi, dan bersifat kreatifitas.

Kecerdasan kita sebagai manusia ada dua. Pertama tsaqafah, dan kedua, hadlarah. Tsaqafah membangun kemajuan peradaban atau scientific, culture, humanity. Kita dituntut agar membangun kemajuan-kemajuan. Menciptakan umat yang maju, yang modern, yang tidak boleh ketinggalan, yang berperan. Kita harus membangun pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan seterusnya. Itulah yang disebut pembangunan dalam bidang tsaqafah. Tsaqafah bersifat manusiawi dan bersifat ijtihadiyah. Kita dituntut agar cerdas di sini. Bukan monopoli Allah, bukan hanya Allah, tetapi kita juga dituntut untuk berupaya keras menuntut ilmu dengan kecerdasan, agar kita mampu membangun ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan, dan membangun kemajuan-kemajuan yang lain. Itulah yang disebut tsaqafah.

Sementara hadlarah yaitu membangun kesejahteraan, membangun perdamaian, membangun kehidupan bersama satu sama lain. Makanya ada yang namanya akhlaqul karimah.

Apa itu akhlaqul karimah itu? Banyak isinya:

tawadhu”, ihtiramu al-walidain, birru al-walidain (menghormati orang tua, berbakti kepada orang tua), ihtiramu al-jiran (menghormati tetangga), ihtiramu al-dluyuf (menghormati tamu), taawun, ighatsatu al-lahfan (menolong orang yang lagi kesusahan), iyadatu al-mardla (menengok orang sakit), ta’ziyatwu al-mauta (takziyah orang yang meninggal dunia). Apalagi? Idkhalu al-surur (menggembirakan orang lain). Itu semua namanya akhlaqul karimah.

Tapi kalau semua itu diringkas menjadi satu kata, apa akhlaqul karimah itu? Adalah husnul muasyarah, al muasyarah bil husna. Bergaul yang baik, berinteraksi, bermuamalah, bersama-sama membangun kebersamaan, membangun masyarakat, membangun kehidupan yang ideal, yang bermartabat, yang baik. Bergaul dengan keluarga, bergaul dengan tetangga, bergaul dengan orang satu daerah, bergaul dengan orang dari daerah yang lain, negara satu dengan negara yang lain, itu namanya akhlaqul karimah. Yakni, tentang bagaimana kita pandai bergaul dengan siapapun secara baik dan benar. Bergaul dengan sesama umat Islam seperti apa, bergaul dengan non muslim seperti apa, bergaul dengan satu daerah dengan daerah lain seperti apa, bergaul negara satu dengan negara lain seperti apa, itu semua adalah akhlaqul karimah.

Kita di dunia ini tidak mungkin hidup sendirian. Umat Islam tidak mau bergaul dengan non-muslim, tidak akan bisa. Indonesia tidak mau berhubungan dengan negara lain, tidak bisa. NU tidak mau bergaul dengan ormas lain, tidak mau bekerja sama, tidak bisa. Harus membangun kerja sama dengan semua pihak, pandai-pandailah bekerjasama, berhubungan kerja, taawanu alal birri wat taqwa dengan siapapun. Nah itu namanya Akhlaqul karimah.

Kalau itu tercapai, kalau itu bisa kita kerjakan dengan baik, namanya hadlarah, maka kita ini namanya masyarakat atau umat yang muthadlir, berperadaban. Kalau berilmu, cerdas, pintar namanya mutsaqqaf, kita ini mutsaqqaf kalau berpendidikan. Kalau membangun kerja sama bermasyarakat, sama-sama gotong royong berbangsa bernegara dengan baik dengan benar namanya mutahadldlir.

Kalau dua-duanya berhasil, pendidikan berhasil ilmu berhasil cerdas dan membawa masyarakat yang kuat solid kokoh, dua-duanya berhasil, sejahtera, kaya, pandai, cerdas, dan solid namanya mutamaddin. Jadi, madinah mutamaddin tamaddun madaniyah madanii itu adalah al madinatul fadhilah, masyarakat yang ideal yang kita impi-impikan. Penduduk masyarakat Indonesia ini semuanya cerdas, semuanya berilmu, semuanya sejahtera, kaya, dan semuanya membangun kebersamaan dengan baik. Bermasyarakat, gotong royong satu sama lain, berhubungan satu sama lain dengan baik itu namanya, kalau sudah dua-duanya namanya mutammaddin.

Baru saja kemarin Mufti Damaskus Syekh Adnan 'Afyuni naik mobil boks. Ternyata di dalam mobil itu ada bom dan meledak. Allahu yarhamuh gugur, ulama besar mufti kota Damaskus. Ini namanya apa? Namanya masyarakat yang tidak pandai bergaul, gagal dalam pergaulan, gagal dalam kebersamaan, gagal dalam membangun hadlarah.

Kalau kita lihat satu per satu orang, orang Syiria, Irak, Mesir, Lebanon itu pintar-pintar. A pintar, si B pintar, si C pintar, ketua-ketua partai pintar-pintar tapi tidak mampu, gagal menjadi satu, gagal membangun kebersamaan.

Sementara itu kita, alhamdulillah di Indonesia ini walaupun pemimpin-pemimpin tokoh-tokohnya tidak begitu pintar, ulamanya tidak terlalu pintar, tapi berhasil membangun kebersamaan. Kiai-kiai tidak terlalu pintar, apalagi kiai desa, paling hanya menguasai Safinah, Tijan Darari, Sulam Munajat, Sulam Taufig, tapi mampu menciptakan masyarakat yang solid (rukun), membangun kebersamaan, membangun apa namanya? Hadlarah. Jadi kyai-kyai itu walaupun di kampung, tapi sukses membangun hadlarah. Kalau pendidikan namanya tsaqafah.

Alhamdulillah Indonesia ini walaupun terdiri dari tujuh ratus lebih suku, sudah selesai. Satu organisasi, satu kantor, satu kluster perumahan, Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Melayu, Ambon, Madura, tidak ada persoalan. Tetangga kita orang Sunda, tetangga sebelah kiri orang Dayak, sebelah depan orang Batak, tetangga sana orang Ambon, sudah tidak ada persoalan dan tidak ada sekat-sekat di Indonesia ini.

Di Timur Tengah masih ada sekat antar suku satu dengan suku yang lain, fanatisme kesukuan atau ashabiyah gabaliyah di Timur Tengah masih tebal. Jadi Timur Tengah itu, negara Suriah, Irak, Mesir itu, agamanya bagus, akidahnya bagus, syariatnya bagus, tapi yang gagal apanya? Hadlarah. Gagal membangun hidup bersama, gagal membangun kebersamaan, membangun husnul muasyarah. Artinya apa? Yang hancur apanya? Akhlaknya. Bukan akidahnya, bukan syariatnya. Yang rusak apa? Akhlaknya.

Martabat sebuah bangsa tergantung akhlaknya. Akhlaknya baik, martabatnya mulia. Akhlaknya buruk, martabatnya brengsek. Negara Eropa misalnya negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Swiss, itu teologinya atau akidahnya salah, syariatnya salah, tapi akhlaknya baik. Mengapa? Karena mereka sukses membangun husnul muasyarah, husnul musyarakah, husnul mu’amalah, artinya mereka sukses membangun hadlarah. Adil, makmur, tidak ada konflik tidak ada perang saudara, rukun, padahal bukan muslim itu, akidahnya jelek syariatnya jelek, yang bagus apanya? Akhlaknya hadlarah-nya yang bagus.

 

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Sumber:

Said Aqil Siradj, Khutbah Jumat Said Aqil Siradj, Mojokerto: Ulama Nusantara dan Penerbit Kalam, 2021, h. 24-30

 


0 komentar:

Posting Komentar