
Setelah bikin titik, masih banyak juga orang tidak bisa baca Al Qqur’an dengan benar. Maka, oleh Imam Kholil bin Ahmad al Farahidi (wafat 185 H), dibikinlah harakat (fathah, dammah, kasrah, tasydid, sukun).
Setelah dibikin harakat, ternyata belum juga bisa dibaca dengan baik. Oleh karena itu, seorang ulama yang bernama Abu Ubay Qasim bin Salam (wafat 224 H) membuat ilmu tajwid. Beliau hidup jauh setelah zaman Rasulullah. Beliaulah yang menciptakan istilah hukum idgam, iqlab, ikfah, kalkalah, mad jaiz, dsb).
Jadi, kita tidak bisa baca Al Qur;an dengan benar tanpa ilmu tajwid. Jika kita membaca Al Qur’an tidak benar, bukannya pahala, tetapi laknat Allah yang akan kita dapat. Padahal, yang membuat tajwid adalah ulama, bukan Rasulullah, bukan sahabat.
Catatan:
Maksud Said Aqil Siraj: kita beragama tidak bisa menafikan peran para ulama. Islam yang kita lihat saat ini banyak "disempurnakan" oleh para ulama, sehingga kita mudah menjalankannya. Maksud saya, bukan berarti Islam pada awalnya di masa Rasulullah tidak sempurna. Ia sudah sangat sempurna. Ulama hanya berkreativitas agar Islam lebih mudah dijalankan dan dipahami.
0 komentar:
Posting Komentar