 |
Nietzsche dan Russell
|
Tahun 1882. Di sebuah studio foto di Naumburg, Jerman, seorang pria berusia 37 tahun duduk dengan tenang di depan kamera. Kumisnya tebal, dahinya lebar, dan matanya matanya itu menatap sesuatu yang tidak bisa kita lihat. Mungkin ia menatap masa depan di mana namanya akan menjadi kutukan sekaligus pujian. Mungkin ia menatap kekosongan yang akan menelannya tujuh tahun kemudian.
Foto nietzche, hanya 47 yang diketahui keberadaannya. Sebagian besar berasal dari masa akademisnya sebagai mahasiswa dan profesor di Universitas Basel. Setelah tahun 1889, tidak ada lagi foto. Tidak ada lagi tulisan. Yang ada hanya keheningan seorang jenius yang kehilangan pikirannya.
Enam puluh tiga tahun kemudian, di Inggris, seorang filsuf tua menulis kalimat yang akan menggetarkan dunia filsafat:
"Saya tidak menyukai Nietzsche karena ia senang merenungkan penderitaan, karena ia menjadikan kesombongan sebagai sebuah kewajiban, karena orang-orang yang paling ia kagumi adalah para penakluk, yang kemuliaannya terletak pada kepintaran mereka menyebabkan kematian."
Bertrand Russell, sang rasionalis humanis, baru saja menyatakan perang terhadap arwah Nietzsche. Dan dunia tidak akan pernah sama lagi.
Friedrich Nietzsche lahir pada tahun 1844 di Röcken, sebuah desa kecil di Prusia. Ayahnya, seorang pendeta Lutheran, meninggal ketika Nietzsche baru berusia empat tahun. Ia dibesarkan di rumah yang penuh wanita: ibu, saudari, nenek, dan dua bibi.
Mungkin di sinilah akar kejeniusannya dan lukanya. Nietzsche kecil adalah anak yang serius, cenderung menyendiri, dan luar biasa cerdas. Pada usia 24 tahun, ia telah menjadi profesor filologi klasik di Universitas Basel, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tapi karier akademisnya singkat. Kesehatannya memburuk: migrain parah, gangguan pencernaan, dan masalah penglihatan memaksanya pensiun dini pada usia 35 tahun.
Ia kemudian menjalani hidup sebagai pengembara, berpindah-pindah antara Swiss, Italia, dan Prancis, menulis buku-buku yang akan mengubah sejarah pemikiran manusia. Tapi selama hidupnya, ia nyaris tidak dikenal. Bukunya Thus Spoke Zarathustra ia terbitkan dengan biaya sendiri. Hanya sedikit yang membacanya. Ia kesepian, miskin, dan sakit-sakitan.
Hingga suatu hari di Turin, 3 Januari 1889. Nietzsche berjalan keluar dari apartemennya di Via Carlo Alberto. Di depan matanya, seekor kuda tua sedang dicambuk dengan kejam oleh kusirnya. Nietzsche, filsuf yang pernah menulis tentang "kehendak untuk berkuasa" dan manusia unggul, tiba-tiba berteriak. Ia berlari ke arah kuda itu, memeluk lehernya, lalu jatuh ke tanah. Ia tidak pernah bangkit kembali sebagai Friedrich Nietzsche.
Sepuluh tahun berikutnya ia habiskan dalam keadaan vegetatif, dirawat oleh ibunya, lalu saudarinya Elisabeth. Ia tidak lagi mengenali siapa pun. Filsuf yang pernah berkata, "Apa yang tidak membunuhku membuatku lebih kuat," akhirnya dikalahkan oleh kehidupan itu sendiri. Ironi yang pahit. Sang filsuf kekuatan, mati sebagai bayang-bayang dirinya sendiri.
Untuk memahami mengapa Russell begitu marah, kita harus menyelami kedalaman pemikiran Nietzsche yang gelap dan berani.
Nietzsche percaya bahwa peradaban Barat dibangun di atas fondasi yang keliru. Ia menyebutnya moralitas budak (slave morality).
Menurutnya, pada masa kuno kaum bangsawan “kaum tuan” menciptakan nilai mereka sendiri: kekuatan, keberanian, kebanggaan, kesehatan, dan vitalitas hidup. Nilai-nilai ini lahir dari rasa percaya diri dan kekuasaan atas hidup.
Sebaliknya, kelompok lemah yang tidak mampu menang dalam persaingan kekuasaan mengembangkan cara lain untuk melawan. Mereka tidak bisa mengalahkan yang kuat secara langsung, sehingga mereka membalikkan nilai-nilai itu secara moral.
Kerendahan hati dipuji, kebanggaan dicela. Belas kasihan diagungkan, sementara kekuatan dianggap kejam. Kesetaraan dijadikan slogan moral yang, menurut Nietzsche, sebenarnya berfungsi menahan orang-orang kuat agar tidak menonjol.
Pola yang sama ia lihat dalam cara masyarakat memandang kekayaan. Sesuatu yang dulu dianggap tanda keberhasilan atau kebajikan bisa dibalik menjadi sesuatu yang dicurigai atau dipandang buruk.
Narasi religius tentang buruknya orang kaya atau pemuliaan kemiskinan, misalnya, oleh Nietzsche sering dibaca sebagai ekspresi ressentiment rasa iri dan kebencian tersembunyi dari mereka yang tidak mampu mencapai posisi itu.
Agama Kristen, bagi Nietzsche, adalah puncak dari moralitas budak ini. Ia menulis bahwa agama ini menjadikan belas kasihan sebagai pusat moralitas.
Namun menurutnya, belas kasihan justru melemahkan energi kehidupan. Dalam kata-katanya:
“Agama Kristen adalah agama belas kasihan… belas kasihan adalah kebalikan dari emosi yang meningkatkan energi kehidupan; ia justru bersifat melemahkan.”
Sebagai gantinya, Nietzsche menawarkan visi yang menakutkan sekaligus membebaskan: Übermensch (Manusia Unggul). Sosok ini bukanlah tiran fasis, melainkan individu yang mampu menciptakan nilainya sendiri di tengah kehancuran semua nilai lama. Ia berkata "Ya!" pada kehidupan dalam segala aspeknya termasuk penderitaan. Ia didorong oleh "will to power" (kehendak untuk berkuasa), bukan untuk mendominasi orang lain, tetapi untuk menaklukkan diri sendiri, untuk berkembang, untuk melampaui batas-batas kemanusiaan.
Nietzsche memuji Napoleon, Goethe, Caesar tokoh-tokoh yang menurutnya mampu melampaui moralitas kawanan. Ia melihat penderitaan bukan sebagai kejahatan, tetapi sebagai syarat mutlak bagi keagungan.
Dan di sinilah letak sumbu yang akan dinyalakan oleh Russell.
Tahun 1945. Dunia baru saja terbakar. Perang Dunia II merenggut 60 juta jiwa. Kamp konsentrasi dibuka, memperlihatkan kengerian yang tak terbayangkan. Bom atom dijatuhkan.
Di tengah abu dan duka itu, Bertrand Russell, seorang pasifis seumur hidup, menulis A History of Western Philosophy. Ia bukan sekadar mencatat sejarah; ia sedang memberi peringatan.
Dan Nietzsche, dalam pembacaan Russell, adalah salah satu sumber racun itu.
Dalam bukunya, Russell melontarkan serangan bertubi-tubi:
1. Pemujaan Penderitaan yang Sadis
Russell membaca pernyataan Nietzsche tentang penderitaan sebagai jalan menuju keagungan sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika penderitaan itu baik, bukankah kita bisa membenarkan kekejaman? Russell, yang telah melihat langsung penderitaan massal, menjawab dengan tegas: penderitaan adalah tragedi yang harus dihapuskan, bukan dipuja.
2. Kesombongan sebagai Kewajiban
Etika Nietzsche, bagi Russell, adalah etika aristokratik yang paling kejam. Dengan membebaskan manusia unggul dari moralitas umum, Nietzsche memberi mereka izin untuk menindas. Russell, seorang sosialis sejati, menganggap ini sebagai dosa paling mendasar.
3. Mengagungkan Penakluk
Dengan sarkasme yang tajam, Russell menulis bahwa pahlawan Nietzsche adalah tipe orang yang "cerdik dalam membuat orang lain mati." Napoleon, Caesar bagi Russell, mereka bukan pahlawan, melainkan mesin pembunuh.
4. Penolakan terhadap Cinta Universal
Dan inilah jurang terdalam yang memisahkan mereka. Russell menulis:
"Saya pikir argumen pamungkas melawan filsafatnya... bukan terletak pada seruan pada fakta, tetapi pada seruan pada emosi. Nietzsche membenci cinta universal; saya merasakannya sebagai tenaga penggerak semua yang saya inginkan bagi dunia."
Tapi ada satu masalah besar, Nietzsche sendiri membenci apa yang dilakukan Nazi terhadap namanya.
Ia adalah kritikus keras nasionalisme Jerman. Ia memutuskan hubungan dengan komposer Richard Wagner sebagian karena sentimen anti-Semit Wagner. Ia menulis: "Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyerang anti-Semitisme; mereka adalah musuh bebuyutan dari naluri saya."
Namun sejarah kejam. Saudarinya, Elisabeth Förster-Nietzsche, adalah seorang nasionalis Jerman dan anti-Semit yang menikah dengan seorang tokoh anti-Semit terkemuka. Setelah Nietzsche jatuh sakit, Elisabeth mengambil alih warisan tulisannya. Ia memanipulasi karya-karya Nietzsche, menyunting, bahkan memalsukan bagian-bagian agar sesuai dengan ideologi Nazi yang sedang bangkit.
Ketika Hitler mengunjungi arsip Nietzsche di Weimar pada tahun 1930-an, Elisabeth menyambutnya sebagai tamu kehormatan. Nietzsche, yang telah diam selama empat dekade, tidak bisa lagi membela diri.
Empat belas tahun setelah kritik kerasnya, Russell menunjukkan kedewasaan intelektual yang langka. Dalam Wisdom of the West (1959), ia mengoreksi dirinya sendiri:
"Mungkin saja para tiran masa kini telah menarik inspirasi dari Nietzsche, tetapi tidaklah tepat untuk menjadikannya bertanggung jawab atas kejahatan orang-orang yang memahaminya secara dangkal. Karena Nietzsche akan sangat menentang perkembangan politik terakhir di negaranya sendiri, jika ia hidup cukup lama untuk menyaksikannya."
Pengakuan ini penting. Russell, meskipun tetap tidak setuju dengan Nietzsche, mengakui bahwa ia telah melebih-lebihkan. Bahwa sang filsuf Jerman telah dikhianati oleh sejarah.
Sejak 1960-an, di bawah pengaruh filsuf Jerman-Amerika Walter Kaufmann, terjadi upaya besar-besaran untuk merehabilitasi Nietzsche. Kaufmann berargumen bahwa kritik Nietzsche adalah kritik budaya dan psikologi, bukan program politik. Gaya tulisannya yang provokatif dan ambigulah yang membuatnya rentan disalahgunakan.
Namun Kaufmann sendiri, meskipun bersimpati pada kritik Nietzsche terhadap agama Kristen, mengakui bahwa "ketidaksetujuanku dengan [Nietzsche] sangat banyak."
Di sisi lain, para pemikir Marxis sering berdiri bersama Russell. Mereka melihat Nietzsche sebagai filsuf borjuis yang memuliakan ketidaksetaraan dan memberikan justifikasi filosofis bagi eksploitasi kelas.
Kaum eksistensialis dan postmodern, sebaliknya, merayakan Nietzsche sebagai pembebas sebagai filsuf yang menghancurkan belenggu moralitas konvensional dan membuka jalan bagi kebebasan individu.
Lalu, siapa yang benar?
Mungkin pertanyaannya bukan siapa yang benar, tetapi apa yang kita cari dari filsafat.
Nietzche selama hidupnya, ia nyaris tidak dikenal. Ketika Zarathustra-nya terbit, hanya sedikit yang membacanya. Ia menerima cek royalti yang sangat kecil. Ia menulis surat kepada temannya: "Aku menulis untuk generasi yang belum lahir."
Ia benar. Dua generasi setelah kematiannya, namanya dikenal di seluruh dunia. Buku-bukunya dibaca di kampus-kampus, di kafe-kafe, kutipan menyebar di sosmed maupun tiktok. Ia menjadi ikon kontra-budaya, filusuf bagi mereka yang merasa terkekang.
Tapi ia tidak pernah tahu semua itu. Ia meninggal pada 25 Agustus 1900, di Weimar, tanpa menyadari bahwa abad baru akan menjadi abadnya. Jenazahnya dikuburkan di Röcken, kampung halamannya, di samping makam ayahnya.
Perdebatan Russell vs. Nietzsche tidak akan pernah usai. Karena ia menyentuh pertanyaan paling fundamental tentang kondisi manusia:
Haruskah kita membangun dunia di atas fondasi cinta universal, dengan risiko menciptakan manusia yang lemah dan tergantung?
Atau haruskah kita merangkul semangat kekuatan dan keunggulan individu, dengan risiko menghidupkan kembali monster-monster tirani?
Russell memenangkan hati mereka yang percaya pada akal, empati, dan proyek pencerahan. Ia adalah suara peradaban yang mencoba membangun dunia di mana penderitaan diminimalisir dan cinta adalah hukum tertinggi. Ketika ia meninggal pada tahun 1970, pada usia 97 tahun, ia masih menulis tentang perdamaian.
Nietzsche, di sisi lain, berbicara kepada mereka yang merasa terkekang oleh moralitas yang nyaman. Ia menantang kita untuk jujur pada diri sendiri: Apakah nilai-nilai "baik" yang kita anut benar-benar membebaskan, atau justru menjadikan kita lemah?
Pada akhirnya, sejarah belum memilih pemenang. Dan mungkin, tidak akan pernah. Menurut Filusuf pragmatisme William James kita memilih filsafat yang benar karena sesuai jiwa kita, bukan karena kebenaran itu sendiri.
Tapi yang terpenting seperti yang ditulis Nietzsche sendiri: "Kamu hanya akan menjadi guru jika kamu bisa menjadi murid."
Dan seperti yang dijawab Russell dari seberang zaman: "Hal terbaik tentang hidup bukanlah bahwa ia abadi, tetapi bahwa ia memberi kita kesempatan untuk mencintai."
Dan mungkin, hanya mungkin, jawabannya bukan memilih salah satu. Mungkin jawabannya adalah menggunakan kekuatan Nietzsche untuk mencintai dengan cara Russell. Mungkin.
Sumber: Fb