![]() |
| Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni? |
Oleh: Bambang Sugiharto
Seni adalah komunikasi pengalaman ruh, ruh pribadi yang bersentuhan dengan ruh semesta (Anima Mundi) saat kepekaan indra kita tiba-tiba tersapa, terpesona dan terbuka pada dimensi yang lebih dalam dan lebih tinggi di balik segala.
Ketika aneka membran indrawi kita menangkap pesona kuat dari bentuk-bentuk sekeliling kita, seperti warna matahari jingga, nyanyian burung-burung yang tak tampak, ataupun tarian butir-butir hujan yang ceria, ada keharuan, kegembiraan, keterpukauan yang misterius, yang tak terjelaskan namun sekaligus tak terelakkan.
Pada saat seperti itu rupanya batin kita terdalam bersentuhan dengan batin semesta. Pengalaman persentuhan dan komunikasi batin ini dialami setiap orang dan setiap saat, dalam kadar yang berbeda-beda.
Pada para seniman, kepekaan batin untuk menangkap misteri itu rupanya lebih tinggi. Juga kemampuan mereka untuk mengartikulasikan dan mengungkapkannya secara mengena.
Demikian, seni pada akhirnya adalah komunikasi pengalaman batin ruh sang seniman kepada semua ruh manusia lain, komunikasi misteri kehidupan yang terdalam, komunikasi tentang sang Maha Ruh (Tuhan, Dewa, dsb) di balik segala kejadian. Itu sebabnya pada tingkat terdalam seni itu selalu “religius", bahkan “mistis”.
Sebenarnya mistik dan religiusitas berakar pada pengalaman keseharian, pengalaman tentang keajaiban bentuk dan drama kehidupan. Tak heran bila filsuf John Dewey menyebut karya-karya seni besar sebagai “Paradigma Pengalaman”. Akar pengalaman estetik adalah pengalaman dramatik keseharian.
Kecemasan orang yang berkerumun saat melihat kecelakaan di jalanan. Ketegangan penonton saat mengikuti lompatan-lompatan bola dalam permainan sepakbola. Keharuan seseorang saat melihat bunga pertama menyeruak dari tanaman yang selalu disiraminya. Perasaan aneh saat melihat api membesar ketika kita siramkan minyak ke atas bara. Kepekaan atas keajaiban bentuk serta pengalaman atas drama kehidupan macam itulah akar dari kesadaran estetik dan kecenderungan berkesenian.
Itulah pengalaman-pengalaman yang membuka membran-membran indra manusia pada kaitan-kaitan halus terselubung antar berbagai kejadian, yang menggiringnya pada perenungan lebih mendalam ihwal misteri alam dan kehidupan, yang menjebaknya pada keharuan-keharuan tanpa alasan atas matahari, angin, tanaman ataupun hujan, tapi juga yang mendorongnya sampai pada pemikiran-pemikiran paling imajinatif dan brilian. Itu sebabnya seni sejak awal adalah bagian erat dari agama filsafat.
Pengalaman macam itulah yang akhirnya mengubah sikap reaktif (menjawab) menjadi kreatif (mencipta), kecenderungan reseptif (mencerap) menjadi formatif (membentuk). Dengan kata lain, pengalaman indrawi menyentuh intuisi dan membukakan imajinasi, imajinasi kreatif.
Imajinasi adalah alat manusia untuk membongkar segala yang mengungkungnya, untuk menjangkau yang tak terbatas, alat untuk mengubah realitas. Imajinasi adalah kemampuan tertinggi yang memungkinkan nalar bekerja dan perasaan menggeliat. Imajinasi adalah akar agama, sains, dan filsafat. Begitulah keyakinan kaum Romantik khususnya, tapi juga keyakinan banyak filsuf berabad-abad lamanya.
Dalam kerangka ini konon para senimanlah—yaitu mereka yang mempertajam sensibilitas reseptif dan mengelola imajinasi-kreatifnya secara optimal—yang paling mempunyai akses pada kebenaran hidup sesungguhnya.
William Blake—pelukis dan penyair abad ke-19—beranggapan bahwa imajinasi membawa manusia ke pembebasan diri dan keselamatan sejati. Bukan hanya menciptakan seni, imajinasi, katanya, juga menciptakan mitologi dan melahirkan agama.
Realitas sehari-hari pun selalu kita alami melalui imajinasi dan pada dasarnya memang “ciptaan” imajinasi. Mengikuti alur pikir Ibn 'Arabi, Blake meyakini bahwa seluruh alam semesta diciptakan lewat imajinasi, yang dimiliki baik oleh Tuhan maupun manusia.
Karena itu kunci menuju keselamatan adalah mengenali kekuatan imajinasi ini. Terinspirasi Jacob Boehme dan Paracelsus, Blake bahkan meyakini bahwa surga adalah imajinasi, dan manusia adalah apa yang diimajinasikannya sendiri juga.
Penyatuan diri kembali dengan Tuhan dimungkinkan oleh kemampuan imajinasi dan cinta. Kedua hal itu bekerja melalui simbol, terutama simbol-simbol dalam seni. Simbol menggabungkan manusia dengan idea Ilahi. Itu sebabnya Kitab Suci umumnya bicara dalam bahasa yang penuh simbol. Simbol mengungkapkan kompleksitas dan kedalaman kebenaran. Simbol adalah bahasa universal yang dapat ditangkap oleh semua manusia.
Kalau Berkeley pernah menyebut esse est percipi—kenyataan adalah apa yang kita cerap—penyair dan pemikir Shelley memodifikasikannya menjadi being is imaginary, kenyataan adalah apa yang kita imajinasikan.
Mirip Blake, Shelley beranggapan bahwa imajinasi manusia adalah bagian dari budi universal, sekaligus merupakan aspek ilahi dalam kodrat manusia. Imajinasi menyebarkan sinar tak terlihat yang menghubungkan dan menghidupkan segala hal.
Bahkan jiwa manusia, katanya, dihidupi oleh imajinasi, sementara akal adalah bagian tubuh (otak) semata. Imajinasi adalah kekuatan kreatif akal. Karena imajinasi lebih tinggi dari akal, maka hanya imajinasilah yang dapat menangkap kebenaran abadi. Imajinasi hanya dapat menghadirkan apa yang dilihatnya itu melalui simbol.
Dan bila simbol dianalisis oleh akal, maka kekuatan simbol akan terbunuh dan hilang. Dalam kerangka pikir filsuf Benedetto Croce, imajinasi menghubungkan kognisi dengan emosi, dan keduanya menyatu dalam ekspresi. Ekspresi adalah pikiran-hati manusia.
Ekspresi paling kuat dari pikiran-hati itu adalah simbol atau citra/imaji. Imaji adalah bahasa dasar dan paling “primitif” yang mengartikulasikan emosi. Kehidupan batin atau ruhani mulai dari bahasa citra ini.
Filsuf Schelling mempunyai pandangan yang sejalur dengan gagasan di atas. Kemampuan membentuk simbol, katanya, bersumber pada imajinasi Ilahi, yang menjembatani yang real dengan yang ideal. Alam material sendiri adalah simbol, simbol dunia ideal. Bila manusia dapat melihat alam melalui imajinasinya, maka ia akan menangkap yang ideal.
Sebagaimana alam semesta merupakan karya kreativitas imajinasi Tuhan, seni adalah karya kreativitas imajinasi manusia. Melalui seni atau melalui simbol-lah manusia menyatu dengan Tuhan dan mendapatkan keselamatan. Bagi Schelling, seni mampu menampilkan kebenaran lebih daripada filsafat, imajinasi lebih unggul dibanding intelek atau akal.
Semesta yang ditangkap oleh manusia lewat ketersentuhan rasa lantas dirayakan dan diungkapkannya melalui imajinasi kreatif dalam aneka ritual dan upacara, dalam aneka olah bentuk, olah rupa, kata, gerak, dan nada; diukirnya pada batu, kayu, tubuh ataupun dinding gua.
Bahkan perang pun dirayakannya dengan dekor misteri hidup dan mati: dihiasnya tubuh, tombak ataupun perisai dengan warna-warni. Itulah cara manusia mengaitkan ruh kecil individualnya dengan Maha Ruh semesta. Alhasil dunia manusia adalah dunia “bentuk" yang diciptakannya, yang biasa kita sebut “kebudayaan”, atau pada tingkat lebih umum dan kolosal, “peradaban".
Dalam arti luas, “Seni' adalah segala upaya untuk memberi bentuk batiniah pada hidup dan semesta, berbagai cara membiakkan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa. Dan dunia yang diciptakannya itu diubahnya kembali setiap kali, karena perubahan situasi dan kondisi, tapi juga karena hidup memang sebuah proses “menjadi”, proses pertumbuhan ruh ke tingkat lebih halus dan lebih tinggi.
Maka dalam rentang evolusi peradaban yang panjang, jingkrak-jingkrak spontan kebahagiaan yang tak terkoordinasi berubah menjadi tarian, gerak komunikasi tubuh tanpa bentuk menjadi perilaku santun terpolakan, seruan rasa yang kacau menjadi bahasa pelik sarat gagasan, pencerapan ukuran diberinya bentuk matematis-geometris demi penghitungan.
Sistem-sistem nilai pun ditata ulang kembali, apa yang dianggapnya penting dan tak penting, yang baik dan buruk, dirumuskannya kembali setiap kali.
Dalam evolusi keagamaan misalnya, kekerasan, dari simbol kekuatan berubah menjadi isyarat kelemahan; sedang mereka yang lemah, awalnya dianggap sebagai pihak yang kalah, perlahan berubah, menjadi pihak yang wajib dilindungi, bahkan dianggap wajah suci sapaan Ilahi. Kekejaman pedang harus berhenti di hadapan lawan yang tak berdaya. Memaafkan menjadi lebih mulia daripada balas dendam, dst.
Demikianlah, seni, sebagai kepekaan terhadap misteri dan tendensi kreatif untuk membentuk kehidupan agar menjadi lebih manusiawi, akhirnya menghasilkan rasa “keberadaban", suatu tolok ukur umum evolusi kemanusiaan.
Tak mengherankan bila filsuf macam Friedrich Schiller menyebut tingkat tertinggi peradaban sebagai Aesthetic State, suatu situasi hidup bersama yang dikelola oleh rasa “keindahan terdalam". Di sana, katanya, peradaban adalah situasi di mana manusia sebagai Ruh semakin mampu memandang lebih dalam aspek ke-Ruhaniannya, di mana kekuasaan berubah menjadi kepedulian, nafsu menjadi komitmen cinta, hasrat serakah menjadi solidaritas, sedang kerendahan hati dan belarasa menjadi sesuatu yang sangat mulia. Bukankah hal-hal semacam ini pula yang diperjuangkan agama-agama?
Seni akhirnya adalah soal makin tajamnya kesadaran makna dan nilai di balik “bentuk", bentuk alam semesta, bentuk perilaku manusia, tapi juga bentuk sistem dogma, bentuk kehidupan bersama, dsb. Imajinasi kreatif yang menggerakkannya adalah juga imajinasi yang melahirkan ilmu dan teknologi, segala sistem kepercayaan dan sistem-sistem gagasan filsafati, artinya, yang membentuk seluruh gerak kebudayaan dan peradaban.
Maka dalam arti luas, seni adalah berbagai siasat untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas pengalaman, kesemestaan dan kemanusiaan. Pada titik ini “keindahan” (Latin: pulchrum) hanyalah kata lain untuk “kebenaran" (verum) dan “kebaikan" (bonum).
Meskipun demikian, pemaknaan atas misteri hidup bukanlah privilese agama saja. Filsafat adalah cara lain untuk merenungi hakikat dan misteri kenyataan. Berikut ini kita akan melihat keterkaitan dan perbedaan antara seni dan filsafat.
Dalam arti luas itu, filsafat memang adalah seni juga, seni dalam memainkan imajinasi-konseptual untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan penjelasan rasional ihwal hakikat terdalam kehidupan, diri, semesta dan Tuhan—hal-hal yang tak mungkin dijawab oleh sains (karena sains terbatas pada yang terukur dan terindra).
Maka jangan heran, bila ada seribu filsuf, ada seribu jawaban dan seribu cara pula untuk menjelaskan tentang hakikat terdalam itu. Filsafat pada akhirnya memang semacam permainan. Bila seni adalah permainan logika-imaji dan rasa, filsafat adalah permainan logika-konseptual.
Maka dari sudut sebaliknya, seni pun pada tingkat yang paling serius selalu bersifat filsafati: novel, film, lukisan, musik ataupun tarian yang berbobot selalu mengandung perenungan mendalam ihwal manusia, kehidupan, semesta dan misteri Ilahi.
Namun, dalam arti ketat dan sempit, filsafat memang berbeda dari sains ) maupun seni. Filsafat memikirkan persoalan-persoalan mendasar dan besar yang tak mungkin dipikirkan oleh sains, misalnya: asal dan tujuan hidup; mengapa alam semesta ini ada: apakah Tuhan itu ada; apa artinya 'mati'; siapakah sesungguhnya manusia, dsb.
Meskipun seni adalah juga renungan-renungan filsafati, namun seni tak berambisi menerang-jelaskan. Ia cukup melukiskan dan mengkomunikasikannya secara menyentuh. Sementara filsafat adalah pemikiran-pemikiran spekulatif yang memang bermaksud untuk menerang-jelaskan kenyataan keseluruhan secara masuk akal. Dan kemungkinan penjelasan itu memang selalu banyak, tak hanya satu. Kendati kerap sangat spekulatif dan sering tidak didukung bukti empiris, dalam kenyataannya filsafat telah menentukan kiblat-kiblat peradaban manusia secara mendasar dan konkret.
Filsafat Marx telah melahirkan negara-negara sosialis; filsafat John Locke dkk. telah melahirkan masyarakat Liberal Barat; filsafat Taoisme dan Konfusianisme telah menciptakan mentalitas masyarakat Asia Timur, dst.
Filsafat terutama mempunyai nilai khas dalam kemampuannya: 1. memetakan kait-mengait berbagai sisi kehidupan manusia secara keseluruhan (yang juga tak mungkin dilakukan oleh sains, sebab sains bersifat sektoral); 2. menyingkap persoalan-persoalan mendasar dunia manusia yang sering tersembunyi, pelik, dan kompleks; 3. membantu memerkarakan terus-menerus keyakinan-keyakinan dasar manusia agar tidak membeku, kerdil bahkan menjadi destruktif, serta agar manusia tetap melihat kemungkinan kebenaran lebih luas.
Dalam hal ini, seni membantu filsafat dengan cara membukakan kemungkinan-kemungkinan imajinatif baru atau memperkenalkan metafor-metafor baru, untuk dikelola lebih lanjut dengan nalar-konseptual diskursif oleh filsafat. Keterkaitan dunia seni dan filsafat memang sangat erat, sedemikian hingga dalam sejarah peradaban Barat, posisi, hakikat dan pelembagaan seni de facto ditentukan oleh interaksi ketat antara seni dan filsafat. Berikut ini adalah uraian lebih rinci mengenai hal itu. Di kemudian hari interaksi itu pula yang pada akhirnya justru melahirkan krisis di dunia seni Barat.
Sumber:
Bambang Sugiharto, "Seni dan Dunia Manusia", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020, h. 24-28.






