alt/text gambar

Kamis, 19 Maret 2026

ISLAM ITU ISLAM


Oleh: Emha Ainun Nadjib

(TEMPO, NO. 3 TAHUN XIX – 18 MARET 1989)


Ribut-ribut soal Salman Rushdie membuat saya kangen kepada Kiai Sudrun. Alangkah menarik kalau kiai sinting dari Mojoagung itu saya wawancarai.


la antinorma, kurang tahu adat dan tata krama. Wajahnya kacau, meski istrinya jelita. Tak pernah pakai sandal, kalau masuk masjid tak cuci kaki dulu. Kencing di sembarang tempat. Untung. air kencingnya langsung sirna dari tanah dan udara.


la tahu persis berapa duit di kantung kita. Suka menirukan apa yang kita pikirkan. Muncul di mana-mana bak pendekar bayangan yang mendemonstrasikan kesanggupannya, bebas dari jarak ruang dan rentang waktu. Suka menyanyi dan tertawa tanpa sebab. Suka menggoda orang, bahkan menteror mental, meskipun, alhamdulillah, masyarakat sekitarnya memiliki pola kearifan tertentu untuk memaafkannya. Yakni dengan cara menganggapnya gila. 


Lama sekali saya tak diludahi oleh Kiai Sudrun. Itulah hobinya kalau ketemu. Saya tidak tersinggung. Mending saya anggap ludah itu sebagai pertanda rezeki di esok hari.


Dengan naik bis Millah, saya menuju rumahnya. Tapi baru saja kaki sebelah saya naik, puncratan ludah menyongsong wajah saya. Gila! Kiai Sudrun dia!


"Mau wawancara, ya?" sapanya sambil tertawa cekikikan. Tawa yang sama sekali tak cocok dengan nada dan takaran kata-katanya. "Ya, Kiai," jawab saya, "Soal Salman Rushdie, apa pendapat Kiai?"


la lebih cekikikan lagi, bikin semua orang di bis menoleh tak mengerti. "Kok tumben, tanya soal pendapat? Sejak kapan orang di sini boleh berpendapat?"

"Ini soal luar negeri, Kiai, tidak apa-apa berpendapat." 


"Mendadak kamu dan teman-temanmu menjadi empu soal kemerdekaan berpendapat, ya? Soal fakta di kampungmu sendiri, kamu diam terus. Soal imajinasi orang planet, kamu riuh rendah dan memamerkan kearifan."

"Terserah apa pendapat Kiai tentang kami. Tapi soal Ayat-Ayat Setan itu bagaimana?"


Tiba-tiba saja kami sudah tak berada di bis lagi. Kami berjalan menuju rumahnya.


"Salman Rushdie itu zakarnya bengkok dan sejak muda selalu mengalami ejakulasi dini...”

"Itu sanepa, Kiai? Metafor?" saya memotong. 

"Tidak. Itu benar-benar. Begitulah hasil penglihatan batin saya. Penglihatan batin itu faktual, beda dengan imajinasi. Beda dengan khayal . . . .”

"Tapi sama subyektifnya, Kiai," saya memotong lagi. 

"Subyektivitas itu sah, dijamin undang-undang. Tapi kata-kata saya tentang Salman itu obyektif. Karena dia inferior di bidang seks, maka dia jadi bandar buntutan. Istrinya ia jual sebagai pelacur, digermoinya sendiri. Setiap lelaki silakan menyetubuhinya, asal wanita itu tetap menjadi milik Salman . . . .”


"Itu ngawur, Kiai!" saya memprotes, "dan lagi tidak sopan!" 

"Silakan menyensor pendapat saya, karena kamu bebas berpendapat bahwa sensor itu perlu. Bahkan kamu boleh berpendapat bahwa saya pantas dibunuh, tapi kata-kata saya tak bakalan bisa kamu sirnakan. Kata-kata saya sudah menjadi frekuensi dalam kosmos, menjadi bagian dari keabadian."

"Tapi koran saya tak bisa memuat hasil wawancara yang demikian. Itu tidak etis, melanggar tata krama, mengancam toleransi, menghina privacy orang lain!"

"Bodoh kamu," ia terus cekikikan, "Muatlah. Koranmu akan laris. Biar Salman nanti bikin sayembara berhadiah untuk membunuh saya. Kemudian orang lain akan juga membunuh Salman. Boleh saja. Bebas. Orang bebas berpendapat bahwa saya pantas dilenyapkan . . . .”


Untung, segera saya ingat bahwa ini kiai kenthir.


Segera saya belokkan pembicaraan, "Bagaimana membandingkan Ayat-Ayat Setan dengan Gatholoco, Dharmogandhul, atau Langit Makin Mendung?"


Sambil kencing di pojok ruangan, Sudrun menjawab "Gatholoco itu dagelan orang frustrasi. Anggap gila saja. Juga kelep kultural Jawa kan luwes. Kalau Langit Makin Mendung itu tak salah apa-apa, kecuali bahwa ia diungkapkan. Seperti zakar kamu itu, jangan dikeluarkan dari celana di tengah jalan besar. Zakar itu suci, privat, kesucian dan hakikatnya terjaga dengan cara tak dipamer-pamerkan."


Saya betul-betul pusing. "Koran saya tak mungkin memuat kata zakar, Kiai! Pasti disensor oleh redaktur saya."

"Lho, kan tidak menyinggung siapa-siapa. Tema zakar adalah tema tentang kesucian ciptaan Allah dan tentang peranti utama sejarah kemanusiaan. Tulisan tentang sesuatu yang menyinggung perasaan orang saja boleh dimuat demi kemerdekaan kreatif, kok malah soal zakar yang suci tidak boleh!"


"Kiai," kata saya dengan nada yang lebih bersungguh-sungguh, "berbicaralah agak sedikit serius. Kasus ini menyangkut kepercayaan, iman, akidah, dan perasaan manusia. Kiai boleh kencing seenaknya, tapi hendaklah kita mengontrol lidah ketika berbicara tentang agama. Agama kita cintai sama dengan cinta kita kepada istri dan anak. Saya sungguh-sungguh tidak akan bisa memuat wawancara ini kalau Kiai ngomong seenaknya seperti ini...." 


"Soal Ayat-Ayat Setan ini," suara keras Kiai Sudrun mengagetkan saya, "makin menunjukkan bahwa dunia tidak makin beritikad baik terhadap Islam. Iklim itu juga menaburi banyak kalangan kaum muslimin sendiri. Tak apa. Itu bukan urusan Islam. Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silakan orang di seluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Pengaruhilah dunia sehingga tak seorang pun lagi memeluk Islam. Hasilnya, Islam ya tetap Islam. Islam tak berubah karena disalahpahami. Islam tak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan tak menjadi lebih rendah karena dibenci. Silakan orang "curigation" terus kepada Islam, silakan menyelewengkan, silakan memfitnah, silakan memanipulasi: pada dirinya sendiri Islam tak pernah berubah. Laa raiba fiih, tak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dialah. Islam tak rugi. Islam bebas dari untung-rugi. Islam baqa kebenarannya. Manusia sajalah yang terikat untung rugi. Manusia sudah tiba di abad ke-20 yang mahacerdas. Mereka menentukan untung ruginya sendiri tanpa bisa menentukan nasib Islam. Islam tak pernah tertawa karena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tak punya kepentingan terhadap manusia, manusialah yang berkepentingan terhadapnya . . . .”


Tiba-tiba lenyap Kiai Sudrun. Tiba-tiba pula saya berada di serambi sebuah masjid. Terdengar suara khatib berapi-api menginformasikan bahwa Muhammad adalah rasul terakhir – seolah-olah ia dinobatkan menjadi nabi kemarin lusa.


Sumber: TEMPO, NO. 3 TAHUN XIX – 18 MARET 1989

Rabu, 18 Maret 2026

7 Tips Memutus Rantai Kemiskinan Mental yang Diwariskan Lingkunganmu


Kemiskinan yang paling mematikan bukan terletak pada angka di saldo rekening, melainkan pada cara berpikir yang merasa selalu menjadi korban keadaan. Banyak orang lahir dalam lingkungan yang merayakan keluhan dan mencurigai kesuksesan, sehingga mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa nasib sudah digariskan dan usaha adalah kesia-siaan. 


Rantai ini tidak akan putus hanya dengan bantuan modal finansial, karena mentalitas yang rusak akan selalu menemukan cara untuk menghabiskan sumber daya tanpa pernah membangun pondasi masa depan yang kokoh.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat pola di mana seseorang mendapatkan rezeki nomplok namun habis dalam sekejap untuk konsumsi barang mewah demi pengakuan status sosial sesaat. Lingkungan yang toksik sering mengajarkan bahwa menabung adalah perilaku pelit dan belajar hal baru dianggap sebagai gaya yang sok tahu atau ingin terlihat berbeda. Dengan memutus kebiasaan untuk selalu mencari pembenaran atas ketidakmampuan diri, kamu sebenarnya sedang mengambil langkah pertama untuk keluar dari penjara pikiran yang diwariskan secara turun-temurun.


1. Berhenti Menyalahkan Silsilah dan Keadaan


Menyalahkan orang tua atau lingkungan tempat tinggal hanya akan memberikan kelegaan sesaat namun tetap membiarkan kamu terjebak dalam lubang yang sama. Mentalitas korban adalah candu yang membuat kamu merasa berhak untuk gagal hanya karena tidak memiliki fasilitas yang sama dengan orang lain yang lebih beruntung. Selama kamu masih menuding faktor eksternal sebagai penyebab utama kegagalan, kamu sedang menyerahkan kunci kendali hidup kamu kepada orang lain yang bahkan tidak peduli.


Mulailah menerima kenyataan pahit bahwa meskipun kamu tidak bisa memilih tempat lahir, kamu bertanggung jawab penuh atas tempat di mana kamu akan mati. Ambil tanggung jawab atas setiap keputusan kecil yang kamu buat hari ini, mulai dari cara kamu menghabiskan waktu luang hingga cara kamu mengelola uang recehan. Sikap ksatria dalam mengakui kesalahan pribadi adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki arah hidup secara permanen dan bermartabat.


2. Melakukan Kurasi Ketat Terhadap Lingkungan Sosial


Lingkungan yang terbiasa dengan kemiskinan mental biasanya memiliki daya tarik magnetis yang sangat kuat untuk menarik siapapun yang mencoba melompat keluar. Jika kamu tetap menghabiskan waktu dengan orang-orang yang hobinya bergunjing dan meratapi nasib tanpa solusi, maka perlahan tapi pasti pikiran kamu akan teracuni oleh pesimisme mereka. Memutus rantai berarti kamu harus berani dianggap sombong atau tidak setia kawan demi menjaga kesehatan mental dan fokus pada pertumbuhan diri.


Cari lingkungan baru yang membicarakan ide, peluang, dan pertumbuhan jangka panjang daripada sekadar membicarakan keburukan orang lain atau gosip selebriti. Tidak perlu memusuhi teman lama, cukup kurangi durasi interaksi dan alihkan perhatian kamu pada komunitas yang memaksa kamu untuk berpikir lebih keras dan bekerja lebih cerdas. 


Perubahan frekuensi pergaulan ini akan secara otomatis mengubah cara kamu memandang dunia dan peluang yang tersedia di depan mata.


3. Mengubah Pola Konsumsi Menjadi Investasi Pengetahuan


Orang dengan kemiskinan mental sering kali sangat royal untuk urusan gaya hidup namun sangat pelit saat harus mengeluarkan uang untuk membeli buku atau mengikuti pelatihan. Mereka lebih memilih mencicil ponsel terbaru yang nilainya turun setiap bulan daripada menginvestasikan waktu untuk menguasai keterampilan yang permintaannya tinggi di pasar kerja. Pola konsumsi yang terbalik ini adalah alasan utama mengapa kemiskinan terus berputar dalam lingkaran yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Tahan keinginan untuk terlihat kaya di depan orang-orang yang sebenarnya tidak menyukai kamu dengan cara menunda pembelian barang-barang yang tidak produktif. Alihkan anggaran tersebut untuk memperdalam keahlian teknis atau literasi keuangan yang bisa membantu kamu menghasilkan lebih banyak pendapatan di masa depan. Memiliki otak yang berisi jauh lebih keren dan menguntungkan secara strategis daripada sekadar memiliki penampilan luar yang mentereng namun dompet kosong melompong.


4. Menghapus Kata Tidak Mungkin dari Kosakata Harian


Penyakit mentalitas miskin yang paling kronis adalah kecenderungan untuk langsung menyerah sebelum mencoba dengan dalih bahwa hal tersebut mustahil dilakukan oleh orang sepertinya. Batasan-batasan semu ini sering ditanamkan sejak kecil lewat kalimat-kalimat yang mengecilkan ambisi dan memuji rasa cukup yang sebenarnya hanyalah kemalasan yang dibungkus agama atau tradisi. Kamu harus mulai meragukan setiap keraguan yang muncul di kepala kamu dan mulai menguji batasan kemampuan diri secara berkala.


Coba selesaikan satu tantangan kecil setiap minggu yang selama ini kamu anggap sulit atau di luar jangkauan kemampuan kamu saat ini. Keberhasilan-keberhasilan kecil ini akan membangun rasa percaya diri bahwa dunia ini jauh lebih luas dan fleksibel bagi mereka yang berani mencoba dengan tekun. Dengan membuktikan pada diri sendiri bahwa kamu mampu melampaui ekspektasi lingkungan, kamu sedang merobek batasan mental yang selama ini mengurung potensi terbaik kamu.


5. Membangun Literasi Keuangan Sejak Dini


Banyak orang terjebak kemiskinan bukan karena kurangnya pendapatan, melainkan karena buta total terhadap cara kerja uang dan sistem bunga yang menjerat. Lingkungan yang miskin secara mental biasanya hanya mengenal uang sebagai alat untuk membeli barang, bukan sebagai benih yang harus ditanam agar tumbuh menjadi pohon penghasilan. Memahami perbedaan antara aset yang menghasilkan uang dan liabilitas yang menyedot uang adalah ilmu wajib yang harus kamu kuasai secara mandiri.


Pelajari bagaimana cara mengelola arus kas pribadi dan mulailah berinvestasi dalam instrumen yang paling kamu pahami meskipun jumlahnya sangat kecil di awal. Kedisiplinan dalam mengatur keuangan akan memberikan kamu rasa aman dan kebebasan untuk mengambil keputusan karier yang lebih berani tanpa dihantui ketakutan tidak bisa makan esok hari. Uang yang dikelola dengan bijak adalah alat pembebasan paling ampuh untuk memutus ketergantungan kamu pada sistem atau orang lain yang menindas.


6. Melatih Kedisiplinan di Atas Motivasi Sesaat


Motivasi adalah perasaan yang datang dan pergi, namun kedisiplinan adalah jangkar yang membuat kamu tetap bergerak maju saat suasana hati sedang memburuk. Orang yang terjebak kemiskinan mental biasanya bekerja hanya saat mereka merasa bersemangat, sehingga hasil kerja mereka menjadi tidak konsisten dan sulit dipercaya. Padahal, kesuksesan yang berkelanjutan hanya bisa dibangun lewat rutinitas membosankan yang dikerjakan dengan standar kualitas yang sama setiap harinya.


Buatlah jadwal harian yang ketat dan patuhi itu seolah-olah hidup kamu bergantung padanya, karena pada kenyataannya memang demikian adanya. Abaikan keinginan untuk bermalas-malasan atau menunda pekerjaan hanya karena kamu merasa sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk berkarya. Ketangguhan untuk tetap produktif di bawah tekanan adalah ciri utama dari mereka yang sudah berhasil keluar dari zona nyaman yang mematikan dan menuju puncak kesuksesan.


7. Berfokus pada Pemberian Nilai Bukan Sekadar Mencari Uang


Keinginan untuk cepat kaya tanpa memberikan kontribusi nyata adalah ciri khas dari pola pikir instan yang sering diajarkan di lingkungan yang kurang berkembang secara ekonomi. Kamu harus memahami bahwa uang hanyalah efek samping dari nilai manfaat yang kamu berikan kepada orang lain atau perusahaan tempat kamu bernaung. Jika kamu hanya fokus mencari uang, kamu akan mudah tergoda pada jalan pintas yang berisiko merusak reputasi dan integritas kamu dalam jangka panjang.


Berusahalah untuk menjadi orang yang paling kompeten dan paling membantu di manapun kamu berada, sehingga orang lain merasa rugi jika tidak bekerja sama dengan kamu. Tingkatkan kualitas layanan atau produk yang kamu tawarkan hingga melampaui apa yang diharapkan oleh pasar saat ini dengan dedikasi penuh. Fokus pada manfaat yang berkelanjutan ini akan membangun kekayaan yang jauh lebih stabil dan terhormat dibandingkan hasil dari manipulasi atau keberuntungan sesaat.


Menurut kamu apakah faktor lingkungan lebih kuat dalam membentuk nasib seseorang ataukah kekuatan tekad pribadi yang bisa mengubah segalanya? Silakan tuliskan pendapat atau pengalaman inspiratif kamu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar semakin banyak orang yang berani memutus rantai kemiskinan mental dalam hidupnya.

,

Tips Khutbah Jumat

Faktanya, jamaah menilai kesan khutbah Anda dalam hitungan menit.

Gaya penyampaian, struktur isi, dan dalil yang kuat menentukan apakah khutbah Anda terasa bermakna, menginspirasi, atau malah datar dan terlupakan. Berikut cara cepat membuat khutbah yang langsung berdampak:

Buka dengan masalah nyata – Mulailah khutbah dengan persoalan sehari-hari yang dekat dengan jamaah. Koneksi awal membuat perhatian mereka tetap tertahan.

Sisipkan ayat & hadits relevan – Hadirkan satu ayat atau hadits sebagai tulang punggung khutbah; ini memberi bobot dan otoritas.

Gunakan struktur jelas: Masalah → Solusi → Doa – Jamaah lebih mudah mengikuti jika alur khutbah runtut dan berujung pada aplikasi praktis.

Gunakan bahasa yang mengalir, bukan retorika berbelit – Pilih kalimat singkat, mudah dimengerti, dan contoh nyata agar pesan menyentuh hati.

Variasikan intonasi & jeda – Nada turun naik dan jeda yang tepat membuat poin penting terserap dan mencegah kebosanan.

Akhiri dengan seruan aksi & doa – Tutup dengan langkah konkret yang bisa dilakukan jamaah dan doa yang menyentuh.

sumber: FB

✅ Ingin langsung siap tampil?

Dapatkan 1001 Teks Khutbah Jumat Siap Tampil — ratusan teks lengkap dengan ayat, hadits, dan penutup siap cetak.

https://bintang.buat.io/1001-teks-khutbah-siap-cetak-1

Selasa, 17 Maret 2026

, ,

Jürgen Habermas Menentang Ide-Idenya Sendiri Terkait Gaza

Oleh: Hairus Salim


Salah seorang filsuf paling berpengaruh di dunia telah memberikan pendapatnya tentang perang di Gaza. Seorang cendekiawan Timur Tengah menjelaskan mengapa pendapatnya salah.

Asef Bayat//Penulis dan Profesor Sosiologi dan Kajian Timur Tengah di Universitas Illinois Urbana-Champaign

-----

Catatan dari saya (HS): tulisan ini ditayangkan pertama kali di New Line Magazine, 8 Desember 2023. Saya membaca tulisan ini beberapa tahun lalu dan terima kasih telah diingatkan lagi oleh bro Hassan Basri. Penerjemahan ini dilakukan sehubungan dengan meninggalnya sang filsuf, yang bukan kebetulan, di Indonesia cukup banyak penggemarnya. Mungkin akan lebih baik untuk mengenangnya dengan membaca surat Asep Bayat ini, berkaitan juga dengan penyerangan AS-Israel terhadap Iran sekarang ini dan juga untuk merenungkan bagaimana antara pemikiran dan tindakan bisa demikian berjarak.  Dalam dunia yang tidak baik-baik saja, komitmen moral yang jelas jauh lebih diperlukan. Penerjemahan ini untuk kepentingan diskusi. Penerjemahan ini dilakukan melalui mesin dengan sedikit penyuntingan tambahan dari saya. Buku Asep Bayat Islam Post-Islamisme sudah pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh LKIS, tahun 2011, dan mungkin akan diterbitkan ulang dalam waktu dekat.

-----

Catatan editor: Jürgen Habermas dan Asef Bayat adalah pemikir global yang sangat berpengaruh. Buku-buku mereka telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diajarkan di universitas-universitas di seluruh dunia. Habermas adalah bagian dari jajaran tokoh legendaris Mazhab Frankfurt dalam teori kritis, bersama dengan mendiang Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse. Namun, ia mungkin paling dikenal karena gagasannya tentang "ruang publik" — sebuah ranah di mana warga negara berkumpul untuk memperdebatkan masalah-masalah yang menjadi perhatian umum dan "opini publik" terbentuk, yang ia telusuri kembali ke kedai kopi dan salon sastra di Eropa abad ke-18 — dan sebagai pembela demokrasi liberal dari para kritikusnya, baik dari kiri maupun kanan. Ia tidak asing dengan tantangan yang diajukan Bayat dalam surat terbuka ini; debat publik dan pertempuran intelektualnya selama beberapa dekade telah membuatnya menjadi nama yang dikenal luas di Jerman.

Bayat adalah seorang sosiolog Timur Tengah kontemporer yang terkenal dengan konsepnya tentang "pasca-Islamisme" dan kajian-kajiannya yang mendalam tentang politik jalanan, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana orang biasa mengubah Timur Tengah (judul tambahan bukunya tahun 2013, "Kehidupan sebagai Politik"). Habermas telah banyak dikritik atas pernyataan-pernyataannya baru-baru ini tentang perang Gaza, tetapi yang membedakan surat terbuka ini adalah kritik imanennya: Bayat berupaya menunjukkan bagaimana Habermas gagal menerapkan ide-idenya sendiri pada kasus Israel-Palestina. Kritik ini berangkat dari dalam logika pemikiran Habermas ini. Hal ini memberikan kekuatan yang akan—atau seharusnya—beresonansi dengan Habermas dan para pembelanya. Ini lebih merupakan undangan alih-alih polemik. Ini adalah upaya untuk terlibat, dan kami menerbitkannya di sini dengan harapan bahwa hal itu akan terjadi.

-------------------------

Yang terhormat Profesor Habermas,

Anda mungkin tidak ingat saya, tetapi kita pernah bertemu di Mesir pada Maret 1998. Anda datang ke Universitas Amerika di Kairo sebagai profesor tamu terhormat untuk berinteraksi dengan fakultas, mahasiswa, dan masyarakat. Semua orang antusias untuk mendengarkan Anda. Gagasan Anda tentang ruang publik, dialog rasional, dan kehidupan demokratis bagaikan hembusan udara segar di saat kaum Islamis dan otokrat di Timur Tengah membungkam kebebasan berekspresi dengan dalih "melindungi Islam". Saya ingat percakapan menyenangkan yang kita lakukan tentang Iran dan politik agama saat makan malam di rumah seorang kolega. Saya mencoba menyampaikan kepada Anda munculnya masyarakat "pasca-Islamis" di Iran, yang kemudian tampaknya Anda alami dalam perjalanan Anda ke Teheran pada tahun 2002, sebelum Anda berbicara tentang masyarakat "pasca-sekuler" di Eropa. Kami di Kairo melihat dalam konsep inti Anda potensi besar untuk memupuk ruang publik transnasional dan dialog lintas budaya. Kami menghayati inti filosofi komunikasi Anda tentang bagaimana konsensus kebenaran dapat dicapai melalui perdebatan terbuka dan bebas.

Sekarang, sekitar 25 tahun kemudian, di Berlin, saya membaca pernyataan "Prinsip Solidaritas" yang Anda tulis bersama tentang perang Gaza dengan sedikit kekhawatiran dan kecemasan. Semangat pernyataan tersebut secara luas menegur mereka di Jerman yang berbicara, melalui pernyataan atau protes, menentang pemboman tanpa henti Israel terhadap Gaza sebagai tanggapan atas serangan mengerikan Hamas pada 7 Oktober. Pernyataan itu menyiratkan bahwa kritik terhadap Israel ini tidak dapat ditoleransi karena dukungan terhadap negara Israel adalah bagian mendasar dari budaya politik Jerman, "di mana kehidupan Yahudi dan hak Israel untuk eksis merupakan elemen sentral yang layak mendapat perlindungan khusus." Prinsip "perlindungan khusus" berakar pada sejarah luar biasa Jerman, pada "kejahatan massal era Nazi."

Sungguh patut dipuji bahwa Anda dan kelas intelektual politik negara Anda bersikeras untuk mempertahankan ingatan akan kengerian bersejarah itu agar kengerian serupa tidak menimpa orang Yahudi (dan saya berasumsi, dan berharap, juga terhadap bangsa-bangsa lain). Tetapi formulasi Anda tentang, dan obsesi Anda pada, keistimewaan Jerman praktis tidak memberi ruang untuk percakapan tentang kebijakan Israel dan hak-hak Palestina. Ketika Anda mencampuradukkan kritik terhadap "tindakan Israel" dengan "reaksi anti-Semit," Anda mendorong orang untuk diam dan membungkam debat.

Sebagai seorang akademisi, saya terkejut mengetahui bahwa di universitas-universitas Jerman—bahkan di dalam ruang kelas, yang seharusnya menjadi ruang bebas untuk diskusi dan penyelidikan—hampir semua orang tetap diam ketika topik Palestina muncul. Surat kabar, radio, dan televisi hampir sepenuhnya kosong dari debat terbuka dan bermakna tentang masalah ini. Bahkan, banyak orang, termasuk orang Yahudi yang menyerukan gencatan senjata, telah dipecat dari jabatannya, acara dan penghargaan mereka dibatalkan, dan dituduh sebagai "antisemitisme." Bagaimana orang dapat berdiskusi tentang apa yang benar dan apa yang salah jika mereka tidak diizinkan untuk berbicara secara bebas? Apa yang terjadi pada gagasan Anda yang terkenal tentang "ruang publik," "dialog rasional," dan "demokrasi deliberatif"?

Faktanya adalah bahwa sebagian besar kritikus dan protes yang Anda tegur tidak pernah mempertanyakan prinsip melindungi kehidupan Yahudi — dan mohon jangan samakan para kritikus rasional pemerintah Israel ini dengan neo-Nazi sayap kanan yang memalukan atau anti-Semit lainnya yang harus dikutuk dan dihadapi dengan keras. Memang, hampir setiap pernyataan yang saya baca mengutuk kekejaman Hamas terhadap warga sipil di Israel dan anti-Semitisme. Para kritikus ini tidak memperdebatkan perlindungan kehidupan Yahudi atau hak Israel untuk eksis. Mereka memperdebatkan penyangkalan kehidupan Palestina dan hak Palestina untuk eksis. Dan inilah sesuatu yang secara tragis tidak Anda sebutkan dalam pernyataan Anda.

Tidak ada satu pun referensi dalam pernyataan tersebut yang menyebut Israel sebagai kekuatan pendudukan atau Gaza sebagai penjara terbuka. Tidak ada yang membahas tentang ketidakseimbangan yang menyimpang ini. Ini belum termasuk penghapusan kehidupan sehari-hari warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki. “Tindakan Israel”, yang Anda anggap “pada prinsipnya dibenarkan”, telah mencakup menjatuhkan 6.000 bom dalam enam hari kepada penduduk yang tidak berdaya; lebih dari 15.000 orang tewas (70% di antaranya perempuan dan anak-anak); 35.000 orang terluka; 7.000 orang hilang; dan 1,7 juta orang mengungsi — belum lagi kekejaman karena menolak akses penduduk terhadap makanan, air, perumahan, keamanan, dan sedikit pun martabat. Infrastruktur penting kehidupan telah lenyap.

Meskipun, seperti yang Anda nyatakan, hal-hal ini secara teknis mungkin tidak termasuk dalam "niat genosida," para pejabat PBB telah berbicara dengan tegas tentang "kejahatan perang," "pengusiran paksa," dan "pembersihan etnis." Kekhawatiran saya di sini bukanlah tentang bagaimana menilai "tindakan Israel" dari perspektif hukum, tetapi bagaimana memahami sikap dingin dan ketidakpedulian moral yang Anda tunjukkan dalam menghadapi kehancuran yang begitu dahsyat. Berapa banyak lagi nyawa yang harus binasa sebelum mereka layak mendapat perhatian? Apa arti "kewajiban untuk menghormati martabat manusia" yang digarisbawahi dengan tegas dalam pernyataan Anda pada akhirnya? Seolah-olah Anda takut bahwa berbicara tentang penderitaan warga Palestina akan mengurangi komitmen moral Anda terhadap kehidupan orang Yahudi. Jika demikian, betapa tragisnya bahwa perbaikan kesalahan besar yang dilakukan di masa lalu harus dikaitkan dengan melanggengkan kesalahan mengerikan lainnya di masa kini.

Saya khawatir kompas moral yang menyimpang ini terkait dengan logika keistimewaan Jerman yang Anda junjung tinggi. Karena keistimewaan, menurut definisinya, tidak memungkinkan satu standar universal, melainkan standar yang berbeda. Beberapa orang menjadi manusia yang lebih berharga, yang lain kurang berharga, dan yang lainnya lagi tidak berharga. Logika itu menutup dialog rasional dan menumpulkan kesadaran moral; ia membangun blok kognitif yang mencegah kita melihat penderitaan orang lain, menghambat empati.

Namun, tidak semua orang menyerah pada hambatan kognitif dan mati rasa moral ini. Pemahaman saya adalah bahwa banyak anak muda Jerman secara pribadi mengungkapkan pandangan yang sangat berbeda tentang konflik Israel-Palestina dari pandangan kelas politik negara itu. Beberapa bahkan ikut serta dalam protes publik. Generasi muda terpapar media alternatif dan sumber pengetahuan serta mengalami proses kognitif yang berbeda dari generasi yang lebih tua. Tetapi sebagian besar tetap diam di ranah publik, karena takut akan pembalasan.

Tampaknya semacam "lingkaran tersembunyi" sedang muncul, ironisnya di Jerman yang demokratis, mirip dengan Eropa Timur sebelum tahun 1989 atau di bawah pemerintahan despotik di Timur Tengah saat ini. Ketika intimidasi membungkam ekspresi publik, orang cenderung menciptakan narasi alternatif mereka sendiri tentang masalah sosial penting secara pribadi, bahkan ketika mereka mengikuti pandangan yang disetujui secara resmi di depan umum. Lingkaran tersembunyi semacam itu dapat meledak ketika kesempatan muncul.

Saya khawatir bahwa sekadar pengetahuan dan kesadaran mungkin tidak cukup. Lagipula, bagaimana seorang intelektual dapat "mengetahui" tanpa "memahami" dan memahami tanpa "merasakan," seperti yang dipertanyakan Antonio Gramsci? Hanya ketika kita "merasakan" penderitaan satu sama lain, melalui empati, mungkin ada harapan untuk dunia kita yang bermasalah ini.

Mari kita ingat kembali kata-kata penyair Persia abad ke-13, Saadi Shirazi:

Mari kita ingat kata-kata penyair Persia abad ke-13, Saadi Shirazi:

         Manusia adalah bagian dari satu kesatuan,

         Dalam penciptaan satu esensi dan jiwa.

         Jika satu bagian menderita kesakitan,

         Bagian lain akan tetap gelisah.

         Jika Anda tidak memiliki simpati terhadap penderitaan     manusia,

         Anda tidak dapat mempertahankan nama manusia!


Dengan hormat,


Asef Bayat


8 Desember 2023


Sumber: Fb Hairus Salim

Minggu, 15 Maret 2026

 WARISAN HABERMAS: 

„PAKSAAN YANG TIDAK DIPAKSAKAN DARI ARGUMEN YANG LEBIH BAIK“


Jürgen Habermas, sang filsuf pembela Pencerahan itu, meninggal dalam usia lanjut, 97 tahun (18 Juni 1929 – 14 Maret 2026). 


Selama sekitar 40 tahun, mulai sekitar tahun 1980-an, pemikirannya mempengaruhi perjalanan filsafat kontemporer dengan konsep-konsep seperti komunikasi, pengetahuan dan kepentingan, teori dan praksis, diskursus, deliberasi, ruang publik, postmetafisika, postsekularisme, demokrasi global, relasi agama dan ilmu, dan lain-lain. Konsep-konsep ini kemudian masuk ke dalam kesadaran publik global. Habermas membentuk wajah dunia intelektual kontemporer pada skala global. 


Habermas juga terlibat aktif dalam persoalan-persoalan sosial, baik pada level nasional dan global. Para politisi mendengarkannya. Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier masih mengunjungi Habermas di rumahnya pada Januari lalu.


Saya sendiri masih sempat menghadiri beberapa seminar dan ceramah dia dulu di Frankfurt. Memahami ceramah atau kuliah Habermas membutuhkan perjuangan tersendiri. Bibirnya yang sumbing membuat artikulasi kata-katanya tidak jelas. Sewaktu anak-anak Habermas telah mengalami beberapa kali operasi bibir sumbing. Dia mengakui, pengalaman ini turut membentuknya sehingga memberi perhatian khusus pada masalah-masalah dalam komunikasi. Ia mengalami sendiri bagaimana sulitnya untuk dipahami orang lain. Habermas berhasil mentransformasi kelemahannya menjadi keunggulannya.


Apakah warisan Habermas yang paling berharga untuk kita? Tentu banyak. Tapi ada satu warisan yang menurut saya sangat penting dan sangat praktis, terutama bagi kita masyarakat Indonesia sekarang. Warisan ini sangat berguna dan penting dipraktikkan dalam pembicaraan atau diskusi di WA-WA group, di media-media sosial lainnya, di warung kopi, di jalanan atau di mana saja. 


Warisan itu adalah sebuah prinsip dalam komunikasi yang rasional, yakni „Der zwanglose Zwang des besseren Arguments“ – „Paksaan yang tidak dipaksakan dari argumen yang lebih baik“. Frase ini adalah ciptaan Habermas sendiri, dan muncul dalam sejumlah bukunya, terutama buku terpentingnya Teori Tindakan Komunikatif (1981). Frase ini sangat padat dan memiliki arti mendalam.


Komunikasi disebut rasional jika para partisipannya berpegang pada prinsip tersebut. Dalam komunikasi, para partisipan mengajukan argumen masing-masing, saling membantah dan mengkritik. Semua bebas dan setara dalam berpendapat. 

Dalam diskusi demikian, argumen yang lebih baiklah yang harus diterima. 


Kalau orang rasional, maka ia harus menerima argumen yang lebih baik, sekalipun ia tidak dipaksa untuk menerima argumen tersebut. Argumen yang lebih baik itu sendirilah yang memaksa kita untuk menerimanya. Dan kita taat. Itu tanda kita manusia rasional: artinya kita menggunakan rasio kita, dan bukan emosi kita, dalam berdiskusi.


Dalam komunikasi yang rasional, sikap ngeyel dan keras kepala tidak berlaku. Sering terjadi, terutama dalam diskusi di media sosial kita, orang tahu bahwa argumen lawan diskusinya lebih baik, tetapi tetap tidak bersedia menerimanya. Orang tetap ngotot mempertahankan pendapatnya yang lebih lemah, dengan prinsip „pokoknya”, “emang gua pikirin,“ „masa bodo,“ lain-lain. Karena itu, sering diskusi di media-media sosial berakhir dalam emosi, pertengkaran atau permusuhan. Itulah pertanda orang yang tidak rasional, tidak menggunakan rasio, dalam berdiskusi. Tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang seperti itu.


Komunikasi yang rasional tidak berorientasi kalah menang. Orientasinya adalah pemahaman bersama atau kesepakatan berdasarkan argumen yang lebih baik. Karena itulah, setiap partisipan harus bebas mengajukan pendapat dan kritik untuk menyeleksi argumen mana yang lebih baik. Juga, setiap orang harus bersedia mendengarkan.


Dalam komunikasi yang rasional, orang menerima sebuah pendapat karena sadar bahwa pendapat itu lebih baik. Bukan karena pendapat itu diucapkan oleh temannya, kelompoknya, teman seagamanya, teman sesukunya, atau ikatan-ikatan sosial lainnya. Ikatan-ikatan demikian tidak berperan dalam penerimaan atau penolakan sebuah argumen.


Perlu dicatat, Habermas mengatakan „argumen yang lebih baik“ (besserer Argument), dan bukan misalnya „argumen yang lebih benar“ (richtigerer Argument). Distingsi ini perlu dipahami dengan tepat. 


Dengan mengatakan „argumen yang lebih baik“, Habermas mau menekankan dimensi sosial atau komunitas komunikasi. Acuannya adalah kepentingan para partisipan komunikasi. Argumen yang lebih baik berarti lebih baik dilihat dari sudut kepentingan bersama.


Habermas tidak mengatakan lebih benar, misalnya, karena istilah benar selalu menyangkut fakta dalam realitas. Argumen yang lebih benar belum tentu lebih baik untuk kepentingan bersama. Diskusi mau membicarakan kepentingan bersama, dan bukan kebenaran faktual.


Kalau beberapa orang berdiskusi untuk memutuskan apakah mau liburan ke gunung atau ke pantai, misalnya, maka yang hendak diputuskan adalah argumen yang lebih baik (untuk kelompok tersebut), dan bukan yang lebih benar. Berdasarkan argumen yang lebih baik itulah konsensus kemudian diambil.


Ini salah satu ajaran Habermas yang sangat relevan untuk kita.

 Jürgen Habermas (1929 - 2026)


Jürgen Habermas meninggal kemarin Sabtu, 14 Maret 2026, di usia 96 tahun. Bagi banyak pembelajar, ia adalah salah satu filsuf teori kritis dan intelektual publik paling berpengaruh dalam kurun 100 tahun terakhir.


Sejak di bangku kuliah dulu hingga kini ketika saya memberi kuliah yang bersinggungan dengan nalar kritis, demokrasi, legitimasi, komunikasi, ruang publik, modernitas dan bencana kemanusiaan, pikiran-pikiran Habermas niscaya membayangi secara langsung atau tidak langsung.


Pada Mei 2014 ketika saya masih mahasiswa PhD di Harvard, Habermas diundang menyampaikan kuliah umum di Boston College. Saya hadir dengan seorang kawan, mahasiswa filsafat dari Jerman. Kemungkinan ia hadir 50-50, canda teman saya. Pada tahun itu pun usia Habermas sebenarnya sudah cukup sepuh untuk perjalanan lintas benua. Kawan tersebut bercerita saat masih belajar di Jerman pernah ditugaskan kampusnya untuk menjemput Habermas di stasiun tapi tidak berhasil menemukannya di hall kedatangan. Mereka kembali ke kampus dengan rasa frustrasi. Ketika pembawa acara mengatakan bahwa acara ditunda sementara menunggu sang filsuf tiba karena ada miskomunikasi, tiba-tiba Habermas berdiri dari tengah audiens dan berjalan ke arah podium. Ternyata ia sudah ada di sana, mungkin tiba sendiri dengan menumpang taxi.


Syukur pada sesi kuliahnya di Boston College itu kami semua bisa melihat Habermas muncul di Higgins Hall sesuai ekspektasi. Orang-orang sudah bersiap, mendengar pidato dan nanti mengerumuni minta tanda tangan di atas buku-buku karangan sang filsuf yang mereka bawa. 


Pidatonya yg bertajuk “transnationalizing democracy” hampir tidak bisa saya ikuti. Habermas menyampaikan kuliahnya dengan suara yang sengau dan kadang mendesis yang seolah-olah hanya ditujukan untuk dirinya sendiri. Jauh memang dari penampilan yang memukau dan karisma seorang teoritikus agung. Tetapi saya sungguh bahagia hanya karena bisa berada di sana, menyaksikan secara langsung seseorang yang gagasannya telah membentuk banyak lanskap intelektual yang saat itu sedang saya coba masuki. Beberapa tahun kemudian, tepatnya fall semester 2019 saya hadir kembali di lokasi yang sama ketika digelar simposium merayakan 90 tahun usia Habermas, namun kali ini tanpa kehadiran sang filsuf. Beberapa professor dari New School and Frankfurt menjadi penyaji makalah. Boston College memang punya David Rasmussen yang jadi salah seorang interpreter tekun bagaimana membaca karya-karya Habermas.


Habermas merupakan bagian dari Mazhab Frankfurt, generasi kedua setelah tokoh-tokoh seperti Theodor Adorno, Walter Benjamin dan Max Horkheimer. Ia pernah bekerja sebagai asisten langsung Adorno. Jika generasi pertama terkesan membawa pesimisme dan nujum gelap tentang budaya orang banyak, industri, dan nasib rasionalitas di bawah kapitalisme, maka Habermas berusaha meretas kemungkinan dan harapan lain: bahwa kehidupan demokratis, betapapun rapuh dan tidak sempurnanya, tetap dapat dipertahankan melalui komunikasi rasional, debat publik, dan institusi yang mampu melakukan kritik serta koreksi atas dirinya sendiri.


Karya awalnya The Structural Transformation of the Public Sphere menelusuri kemunculan, potensi, dan kemunduran ruang publik dalam masyarakat demokratis modern. Buku itu membantu banyak akademisi dan aktivis memikirkan konstruksi opini publik, masyarakat sipil, media, dan syarat-syarat yang memungkinkan warga hadir satu sama lain bukan sebagai penonton tapi sebagai partisipan aktif yang bersandar pada nalar.


Kemudian, dalam karya monumentalnya dua jilid yang berjudul Theory of Communicative Action, Habermas mengajukan argumennya yang mungkin paling ambisius: bahwa bahasa dan komunikasi bukanlah hanya unsur penunjang dalam kehidupan sosial, melainkan fondasinya. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa dipahami hanya melalui kekuasaan, kerja, birokrasi, atau pasar. Masyarakat juga harus dipahami melalui tindakan komunikatif mereka, yakni cara manusia memperoleh pengertian, membangun klaim, berdebat, dan menyepakati norma bersama. Bagi Habermas rasio tidak hanya hidup dalam abstraksi, tetapi dalam komunikasi itu sendiri, dalam upaya sehari-hari yang rapuh dan tak sempurna untuk mencapai saling pengertian dengan orang lain. Ada yang mengatakan argumen itu adalah wujud dari kontemplasi Habermas sendiri atas keterbatasan komunikasinya akibat terlahir dengan bibir sumbing dan upaya terus menerusnya untuk membuat orang memahami apa yang ingin dia sampaikan.


Namun yang membuat Habermas terus relevan bukan hanya karena ia menghasilkan teori besar, tetapi juga karena ia tetap menjadi intelektual publik dalam arti yang sesungguhnya. Pada 2015 masa yang kerap disebut migrant crisis atau krisis pengungsi dimana gelombang pencari suaka membanjiri Eropa, dominannya dari Timur Tengah, ia membela hak atas suaka bagi mereka yang terusir dari tanah kelahirannya termasuk manusia-manusia perahu Syiria yang terkatung-katung di laut karena ditolak masuk oleh otoritas negara-negara di Eropa. Ia juga secara konsisten mendukung Eropa yang lebih bersatu di tengah tekanan populisme sayap kanan dan kelompok ultra-nasionalis. Ia berkomitmen pada cita-cita kosmopolitan: sebuah demokrasi terbuka yang dipersatukan bukan oleh keseragaman etnis atau represi otoriter tapi oleh argumen, hukum, solidaritas, dan saling mengakui.


Hidupnya sangat dibentuk oleh trauma sejarah dan bayang-bayang Nazi. Pengalaman itu membentuk kegelisahan intelektualnya sepanjang hayat tentang bagaimana mencegah barbarisme tidak kembali hadir dalam bentuk modern. Sebagian besar karya Habermas, secara langsung maupun tidak, bertanya bagaimana masyarakat demokratis dapat belajar dari malapetaka kemanusiaan, alih-alih mengulanginya. Dalam pengertian itu, filsafatnya tidak pernah semata-mata akademik. Habermas sepanjang karirnya terlibat dalam perdebatan tentang memori Jerman, demokrasi, Uni Eropa, migrasi, nasionalisme, dan kewajiban moral masyarakat pasca terjadinya kejahatan kemanusiaan. 


Bahkan pernyataan-pernyataan publiknya di usia lanjut tetap menunjukkan beban sejarah itu. Konsekuensinya kadang mengejutkan bagi publik yang mengikuti pemikirannya. Habermas dalam sebuah pernyataan berjudul “Principle of Solidarity” yang ditulis bersama Rainer Forst, Klaus Günther dan Nicole Deitelhoff dan diterbitkan pada November 2023, secara prinsip membenarkan agresi Israel ke Gaza sebagai bentuk pembalasan atas tindakan Hamas 7 Oktober. Salah satu poinnya adalah menepis konsekuensi dari pembalasan itu sebagai genosida. Mereka berpendapat bahwa prinsip “Never again” terutama harus mendorong komitmen Jerman untuk melindungi kehidupan orang Yahudi dan hak Israel untuk tetap eksis sebagai negara. 


Tentu mereka yang selama ini terinspirasi dari karya-karya Habermas tentang critical theory kecewa dengan adanya nama Habermas sebagai salah satu signatori pernyataan tersebut. Beberapa menganggap itu adalah wujud ekspresi “guilt and defense”-nya orang Jerman yang terus menanggung beban tragedi Holocaust. 


Sikap Habermas dkk itu langsung mendapat tentangan terbuka dari kalangan intelektual dunia, termasuk di dalamnya filsuf New School Nancy Fraser, sejarawan Columbia University Adam Tooze, sosiolog politik Oxford Amia Srinivasan, dan 100 lainnya yang menulis pernyataan sanggahan bahwa “principles of solidarity” sebagai satu sikap yang rancu dan tidak adil ketika penekanan bahwa yang harus dilindungi hanya mereka yang keturunan Yahudi karena dipandang kembali terancam menjadi korban antisemit di Jerman, sementara solidaritas tersebut tidak berlaku sama bagi sipil di Gaza yang mengalami penghancuran total atas agresi Israel, begitu juga bagi muslim di Jerman yang sehari-hari semakin menerima dampak dari Islamofobia.


Ia manusia biasa kadang keliru dan bias. Dirayakan dan dicaci sebagian orang ketika membela pengungsi Timur Tengah yang mencari suaka ke Eropa, begitu juga ketika menyatakan sikap merespon peristiwa 7 Oktober dan yang mengikutinya. Di luar perdebatan itu, substansi kajian-kajian Habermas sejatinya masih terus penting. Bahkan untuk Indonesia mungkin ini saat yang paling relevan. Kalau dibaca dengan kacamata Habermas, masalah kita bukan cuma bahwa demokrasi “melemah,” tetapi bahwa syarat-syarat komunikasi rasional dalam demokrasi sedang rusak. Habermas percaya demokrasi tidak hidup hanya dari pemilu, partai, dan lembaga formal, tetapi dari public sphere yang memungkinkan warga berdebat secara terbuka, setara, dan masuk akal.


Kalau ditarik lebih konkret ke Indonesia, ada setidaknya empat pelajaran Habermasian. Pertama, demokrasi perlu membela ruang publik yang otonom. Kampus, media, masyarakat sipil, dan forum warga agar tidak sepenuhnya ditelan negara dan kapitalisme pasar. Kedua, hukum harus dilihat bukan sebagai alat pengaman rezim, tetapi sebagai medium keadilan yang lahir dari partisipasi publik. Ketiga, kritik, demonstrasi, dan perbedaan pendapat bukan ancaman bagi negara, melainkan unsur sehat demokrasi. Keempat, warga bukan massa yang harus dikelola, tetapi subjek politik aktif dengan nalar yang harus didengar.


Dengan kondisi ruang publik yang kini dipenuhi buzzer, disinformasi, polarisasi identitas, dan komunikasi satu arah dari elite, masihkah mungkin publik menghasilkan opini dan masih mungkinkah tata kelola negara mengacu pada opini publik? Jika Habermas dari generasi kedua Mazhab Frankfurt lebih optimis dari pendahulunya, mestinya kita juga menjaga kemungkinan tersebut.


Reza Idria


Photo: tanialu.co

Sumber: fb

TERBARU

MAKALAH