alt/text gambar

Kamis, 30 Juli 2026

, , ,

PENAMPILAN ABDURRAHMAN WAHID

Kompas, 30 Juli 2001


Oleh: Abd A'la


Saat-saat terakhir Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan dilengserkan oleh MPR dari jabatannya sebagai Presiden RI keempat, kritik atau lebih tepat lagi cercaan, makian dan hujatan terhadap dirinya masih terus berlanjut. Puncaknya adalah ketika Gus Dur mengeluarkan maklumat‒yang tidak lain adalah sebuah dekrit‒pada Senin dini hari tanggal 23 Juli 2001; maka ia dianggap sebagai seorang diktator dan tirani. Misalnya saja, pagi harinya seorang pengamat politik tampil di sebuah televisi swasta dengan baju hitam sebagai tanda berduka cita menyatakan bahwa Gus Dur telah berubah dari seorang demokrat menjadi seorang diktator. Siang harinya, fraksi-fraksi di MPR menyatakan hal yang serupa.

Belum reda kritik tentang hal itu, penampilan diri Gus Dur di sore hari itu (sesaat setelah di- cabut mandatnya sebagai Presiden RI oleh SI MPR) juga mendapat kecaman dari sebagian masyarakat. Saat itu ia keluar ke teras Istana untuk memberikan lambaian tangan kepada para pendukungnya dengan berpakaian kaus dan celana pendek. Sebagian orang meng- anggap bahwa penampilan dirinya yang seadanya tersebut tidak pantas dilakukan oleh (mantan) orang nomor satu di Indonesia. Maka lengkap sudah "kehinaan" Gus Dur dalam pandangan sebagian orang yang tidak senang atau tidak paham terhadap dirinya.

Berkaitan dengan itu, hal yang perlu dilakukan adalah menguak realitas yang sebenarnya dari adanya maklumat tersebut. Demikian pula kita perlu membaca secara bijaksana tentang sikap Gus Dur yang tampil seadanya di depan publik. Tulisan ini mencoba untuk membaca persoalan itu melalui pendekatan yang agak menyeluruh, sehingga kita diharapkan mampu melihat semua itu dari sisi yang lebih utuh dan positif; bukan dari dimensi negatifnya belaka.

                                          ***

Untuk menangkap secara lebih arif dan tanpa apriori terhadap apa yang dilakukan Gus Dur, tidak ada salahnya jika kita menjadikan dunia tasawuf sebagai pintu masuk untuk memahaminya. Dalam kehidupan yang sering dianggap bersifat esoteris tersebut, banyak tokoh sufi terkenal yang melakukan sesuatu yang secara mata telanjang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan pandangan yang dianut masyarakat umum.

Padahal dalam niatan mereka, mereka melakukan itu sebagai pengabdian kepada Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan yang perenial. Misalnya, hal seperti itu dapat ditelusuri dari sikap yang ditunjukkan oleh Al-Hallaj, tokoh sufi paling terkenal di abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Suatu ketika ia berjalan- jalan di Kota Baghdad sambil berteriak, "Wahai manusia, Tuhan telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku. Kalian semua akan beroleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk dirinya sendiri) dibunuh". Kemudian dia berdoa kepada Tuhan, "Ampunilah mereka, tetapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka" (lihat Bayat dan Jannia, 1997: 13). Karena sikapnya yang semacam itu, ia dianggap oleh sebagian orang sebagai Yesus-Muslim; penderitaannya diperuntukkan untuk kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan.

Akhirnya, sejarah mencatat bahwa al-Hallaj dihukum bunuh oleh penguasa saat itu dengan alasan ajarannya dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Padahal, ada sisi lain yang menyebabkan penguasa berang terhadap tokoh sufi itu. Sebagaimana dijelaskan Bayat dan Jannia (1997),  pernyataannya itu telah mengilhami masyarakat untuk menuntut perbaikan dalam kehidupan mereka terhadap penguasa. Mereka menuntut khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Mereka menuntut suatu pembaruan dan perubahan karena kondisi sosial dan politik waktu itu tidak memuaskan masyarakat luas. 

Untuk itu, al-Hallaj rela mengorbankan dirinya demi kesejahteraan, dan kedamaian umat manusia. Dia rela dicaci maki dan bahkan rela untuk dipancung demi terjadinya reformasi dalam kehidupan. Agama yang selama itu telah direduksi sebagai alat pencapaian kepentingan oleh penguasa diupayakan bisa kembali kepada peran sentralnya sebagai pembebas manusia dari segala ketertindasan. 

Bagi al-Hallaj, tuduhan bahwa ajarannya menyimpang, dan bahwa dia dituduh zindik bukanlah persoalan yang terlalu penting untuk dipikirkan. Hal yang lebih penting bagi dia adalah pencapaian keberagamaan yang mampu mengentaskan umat manusia dari segala macam bentuk penindasan. Melalui keberagamaan seperti itu, dia menerima untuk ditindas, asal manusia yang lain tidak tertindas lagi. Mereka diharapkan tidak dijadikan lagi sebagai alat kepentingan oleh segelintir manusia.

                                             ***

Tentunya kita tidak ingin menyamakan Gus Dur dengan al-Hallaj atau si Bahlul. Paparan di atas hanya sebagai upaya memahami suatu fenomena berdasarkan hermeneutik. Melalui pembacaan seperti itu, realitas yang dapat ditangkap akan lebih utuh dan jauh dari sifat menghakimi. Dalam konteks itu, sebagai suatu fenomena, apa yang dilakukan Gus Dur pada saat-saa tterakhir menjabat Presiden (dan juga seluruh perilakunya) tidak ada salahnya bila dibaca berdasarkan perspektif tafsir semacam itu.

Kita semua sudah tahu, Gus Dur merupakan seorang tokoh yang sudah lama memperjuangkan tegaknya demokrasi di Indonesia, dan bahkan di dunia internasional. Selama Orde Baru ia dengan tegar, kritis selalu membela kepentingan bangsa secara keseluruhan di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Hal itu terlihat dengan jelas, di antaranya melalui pembelaannya yang tidak kenal kompromi terhadap kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang yang tertindas meskipun untuk itu dia harus menerima hujatan dari kelompok mayoritas, atau bahkan dari kelompoknya sendiri.

Berdasarkan kenyataan itu, tuduhan bahwa jati diri Gus Dur telah berubah hanya karena dia mengeluarkan dekrit sangat kecil kemungkinan kebenarannya. Interpretasi yang lebih bijaksana dan aman dalam membaca dekrit Gus Dur adalah melalui pembacaan menyeluruh terhadap kehidupan dan pemikiran Gus Dur; pendekatan hermeneutik. Melalui tafsir ini, kita akan mengetahui bahwa keluarnya dekrit itu kemungkinan besar lebih merujuk kepada kepolosan Gus Dur dan husnuzzan-nya kepada orang-orang di sekelilingnya. Lebih dari itu, melalui tindakan tersebut dia sebenarnya tidak ingin mendapat pujian dalam menegakkan demokrasi di Tanah Air ini. Justru yang dia inginkan adalah menjadi martir demokrasi dalam arti yang senyatanya, tanpa seorang pun yang mengetahui dan mengenangnya. Maka, dia lalu mengeluarkan dekrit.

Untuk kian memperkukuh hal tersebut, ia pun sesudah itu tampil seadanya di depan publik dengan tanpa beban sedikit pun. Dengan demikian, ketika ia meninggalkan hiruk pikuk panggung politik, ia berharap tidak ada seorang pun yang mengenangnya. Bila itu telah terjadi, berarti semua yang ia lakukan dengan tujuan semata-mata untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan kemanusiaan universal benar-benar telah dicapainya.

Namun Gus Dur adalah seorang manusia seperti kita semua, bukan Nabi, apalagi seperti Tuhan. Ia pasti tidak lepas dari segala kekurangan dan kelemahan. Pada sisi itu kita harus melihat kegagalan Gus Dur dalam menggapai cita-citanya mengembangkan demokrasi secara utuh dan tuntas di negeri ini sebagai sesuatu yang lumrah. Demikian pula, kita hendaknya menerima kelemahan-kelemahannya yang lain, semisal ketidakmampuannya dalam merangkul elite-elite politik yang sangat beragam dalam kepentingan dan pemikiran. Semua itu muncul dari keberadaannya sebagai manusia biasa yang tidak akan menghilangkan sisi-sisi kekuatan yang dimilikinya.

Atas dasar itu, pendekatan hermeneutik terhadap perilaku Gus Dur menjadi sesuatu yang cukup signifikan untuk dilakukan. Melalui tafsir tersebut kita diharapkan tidak akan terperosok ke dalam sikap antipati atau apriori, sehingga kita menganggap Gus Dur tidak bernilai apa pun bagi negara, bangsa, maupun agama. Demikian pula, kita tidak akan terperangkap untuk memuji dan mengangkat Gus Dur setinggi langit, sehingga menganggapnya hampir setara dengan para Nabi.

Di atas semua itu, terlepas dari segala kelemahan yang dimiliki, Gus Dur telah hadir di tengah-tengah bangsa ini dan bangsa di dunia internasional sebagai seorang muslim yang menyebarkan dengan gigih Islam substansif yang pluralis dan humanitarianistik, serta tetap otentik untuk diabdikan kepada umat manusia. Karena itu, dia‒dan pemikirannya‒bukan hanya diperlukan oleh kelompok NU atau mayoritas umat Islam semata, tapi oleh seluruh (mayoritas) umat beragama di saat ini dan di masa depan.


* Abd A'la, pengasuh Pondok Pesantran Annuqayah Latee, Sumenep.


Sumber: Kompas, 30 Juli 2001



,

Doa Aqiqah

Allahumma haza minka wa ilaika fataqabbal aqiqah min... (nama anak / atau ahlil bait), ya Allah ya Rabbal alamin

Rabbana hablana min azwajina.... dst

Rabu, 29 Juli 2026

Mengapa Banyak Orang Kesulitan Memahami Isi Bacaan?



Membaca bukan sekadar melihat rangkaian kata, tetapi memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kemampuan memahami bacaan merupakan dasar penting dalam belajar karena hampir semua ilmu diperoleh melalui proses membaca dan memahami informasi.

Secara filosofis, membaca adalah dialog antara pikiran pembaca dan gagasan penulis. Semakin baik seseorang memahami isi bacaan, semakin luas pula cara berpikirnya dalam melihat kehidupan dan memecahkan berbagai persoalan.

1. Terlalu cepat membaca tanpa berusaha memahami

Sebagian siswa dan mahasiswa terbiasa mengejar jumlah halaman yang dibaca, tetapi kurang memperhatikan makna setiap bagian. Akibatnya, mereka selesai membaca, tetapi sulit menjelaskan kembali isi bacaan dengan kata-kata mereka sendiri.

Secara filosofis, membaca bukan perlombaan kecepatan, melainkan perjalanan memahami makna. Pikiran yang sabar akan lebih mudah menangkap hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya.

2. Kurangnya penguasaan kosakata

Pemahaman bacaan sangat dipengaruhi oleh banyaknya kosakata yang dimiliki. Ketika seseorang sering menemukan kata atau istilah yang tidak dipahami, ia akan kesulitan mengikuti isi pembahasan secara utuh.

Karena itu, memperkaya kosakata melalui membaca berbagai jenis buku dan mencari arti kata yang belum dikenal merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan.

3. Konsentrasi yang mudah terpecah

Lingkungan yang bising, kebiasaan sering berpindah perhatian, atau membaca sambil melakukan banyak hal sekaligus dapat mengurangi kemampuan otak dalam memahami informasi.

Secara filosofis, perhatian adalah pintu masuk ilmu. Ketika pikiran terfokus pada satu tujuan, pemahaman akan tumbuh lebih baik daripada ketika perhatian terus-menerus terbagi.

4. Kurang menghubungkan bacaan dengan pengetahuan yang telah dimiliki

Otak lebih mudah memahami informasi baru apabila dapat menghubungkannya dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Tanpa hubungan tersebut, isi bacaan sering terasa sulit dipahami.

Orang yang terbiasa mengaitkan bacaan dengan pengalaman nyata biasanya lebih mudah mengingat dan menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari. Proses ini membuat pengetahuan menjadi lebih bermakna.

5. Jarang melatih kemampuan berpikir kritis

Memahami bacaan tidak cukup hanya membaca kalimat demi kalimat. Pembaca juga perlu bertanya tentang tujuan penulis, gagasan utama, bukti yang digunakan, dan kesimpulan yang disampaikan.

Secara filosofis, pertanyaan yang baik membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Berpikir kritis membantu pembaca tidak hanya mengetahui isi bacaan, tetapi juga memahami alasan di baliknya.

6. Kurangnya kebiasaan membaca secara teratur

Kemampuan memahami bacaan berkembang melalui latihan yang dilakukan secara konsisten. Jika seseorang jarang membaca, otaknya memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih pemahaman, daya ingat, dan kemampuan menganalisis.

Membaca secara teratur akan memperkuat kebiasaan berpikir yang terstruktur. Sedikit demi sedikit, kemampuan memahami teks yang lebih kompleks juga akan meningkat.

7. Tidak melakukan peninjauan kembali setelah membaca

Setelah selesai membaca, sebagian orang langsung berpindah ke kegiatan lain tanpa mencoba mengingat atau merangkum isi bacaan. Akibatnya, informasi yang telah dibaca lebih mudah terlupakan.

Secara filosofis, ilmu akan semakin kuat ketika direnungkan dan digunakan. Membuat ringkasan, menjelaskan kepada orang lain, atau menuliskan gagasan utama merupakan cara yang membantu memperdalam pemahaman.

Kesulitan memahami bacaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti membaca terlalu cepat, keterbatasan kosakata, kurangnya konsentrasi, tidak menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, kurang berpikir kritis, jarangnya membaca, dan tidak meninjau kembali isi bacaan. Semua kemampuan tersebut dapat ditingkatkan melalui latihan yang teratur dan kebiasaan belajar yang baik.

Membaca yang baik bukan sekadar menyelesaikan banyak halaman, tetapi mampu memahami makna, menghubungkan gagasan, dan menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membaca dengan penuh perhatian, berpikir secara kritis, dan terus belajar, ia sedang membangun pikiran yang lebih tajam, lebih bijaksana, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


#ilmufilsafat


Sumber: Fb

Selasa, 28 Juli 2026

Cara Melatih Otak Tetap Cerdas

Otak adalah pusat pengendali pikiran, ingatan, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Semakin baik kita merawatnya, semakin besar pula kemampuannya untuk membantu kita memahami kehidupan, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang bijaksana.

Secara filosofis, otak yang sehat bukan hanya mampu mengingat banyak hal, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan dengan benar. Ketajaman berpikir tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan melalui perubahan yang terjadi dalam waktu singkat.


1. Biasakan belajar dan membaca setiap hari

Membaca buku, mempelajari keterampilan baru, dan mencari pengetahuan yang bermanfaat membantu menjaga otak tetap aktif. Aktivitas belajar merangsang berbagai bagian otak untuk membangun hubungan baru antarinformasi sehingga kemampuan berpikir terus berkembang.

Secara filosofis, ilmu adalah makanan bagi akal. Pikiran yang terus diberi pengetahuan akan menjadi lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih siap menghadapi perubahan dalam kehidupan.


2. Latih kemampuan berpikir kritis

Jangan menerima semua informasi tanpa memeriksanya. Biasakan bertanya, mencari bukti, membandingkan berbagai pendapat, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta yang dapat dipercaya.

Berpikir kritis membuat otak bekerja lebih aktif daripada sekadar menghafal. Kebiasaan ini membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih logis, adil, dan bertanggung jawab.


3. Tidur yang cukup dan berkualitas

Tidur merupakan waktu penting bagi otak untuk memulihkan diri, memperkuat ingatan, dan mengolah informasi yang dipelajari sepanjang hari. Kurang tidur dapat mengurangi konsentrasi dan kemampuan berpikir.

Secara filosofis, keseimbangan antara bekerja dan beristirahat adalah bagian dari kebijaksanaan. Pikiran yang diberi waktu untuk pulih akan lebih siap menghadapi tantangan dengan tenang.


4. Jaga kesehatan tubuh melalui pola hidup yang baik


Olahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjaga kecukupan cairan membantu mendukung fungsi otak. Tubuh yang sehat memberikan lingkungan yang lebih baik bagi otak untuk bekerja secara optimal.


Manusia adalah kesatuan antara tubuh dan pikiran. Merawat tubuh berarti juga menjaga kemampuan berpikir agar tetap kuat dalam menjalani kehidupan.


5. Kelola emosi dengan bijaksana


Tekanan hidup dan emosi yang tidak dikelola dapat memengaruhi fokus dan kemampuan mengambil keputusan. Melatih kesabaran, mengatur waktu istirahat, dan berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu menjaga kejernihan pikiran.


Secara filosofis, hati yang tenang memberi ruang bagi akal untuk bekerja dengan baik. Ketenangan bukan menghilangkan semua masalah, tetapi membantu melihatnya dengan lebih jernih.


6. Gunakan ingatan melalui latihan yang teratur


Cobalah mengingat kembali apa yang telah dipelajari, menulis ringkasan, atau menjelaskan suatu materi kepada orang lain. Aktivitas seperti ini membantu memperkuat pemahaman dan daya ingat.


Ilmu yang sering digunakan akan lebih mudah melekat dalam pikiran. Semakin sering otak dilatih untuk mengingat dan memahami, semakin baik kemampuannya dalam menyimpan serta menggunakan informasi.


7. Bangun kebiasaan baik secara konsisten


Ketajaman otak tidak dibentuk oleh satu tindakan besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Belajar, membaca, berpikir kritis, beristirahat, dan menjaga kesehatan akan memberikan manfaat apabila dilakukan secara berkelanjutan.


Secara filosofis, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter membentuk masa depan. Ketika seseorang tekun melatih pikirannya dengan kebiasaan yang baik, ia sedang membangun dasar bagi kehidupan yang lebih bijaksana dan bermakna.


Menjaga otak tetap tajam dan sehat dapat dilakukan melalui kebiasaan belajar, berpikir kritis, tidur yang cukup, menjaga kesehatan tubuh, mengelola emosi, melatih daya ingat, dan menjalankan kebiasaan positif secara konsisten. Berbagai kebiasaan tersebut saling melengkapi dalam mendukung kemampuan berpikir sepanjang kehidupan.


Otak yang sehat bukan hanya menghasilkan pengetahuan yang luas, tetapi juga keputusan yang lebih bijaksana dan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Ketika akal terus dilatih dengan ilmu, hati dijaga dengan ketenangan, dan kehidupan dijalani dengan disiplin, seseorang sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi pribadi yang terus bertumbuh, bermanfaat, dan membawa kebaikan bagi banyak orang.


Ilmu Filsafat

,

KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN

Kompas, 28 Juli 2012


Oleh: Sri-Edi Swasono


Kemiskinan adalah malapetaka sosial-kultural. Memang mengenaskan, mengapa di Tanah Air kaya raya rakyatnya miskin.


Almarhum Hartojo Wignjowijoto, ekonom jebolan Harvard, sering melempar cemohan "there are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics"‒ada tiga macam kebohongan: bohong, serba bohong, dan statistik. Kecurigaan atau kesalahpahaman menafsir angka-angka statistik adalah kasus klasik, sebagaimana ditulis Haff, How to Lie with Statistics (1954).


Di Indonesia, tingkat kemiskinan rata-rata nasional menurun, dari 13,3 persen (2010) menjadi 12,5 persen (2011). Penurunan jumlah penduduk miskin berlanjut tipis, dari 12,59 persen (Maret 2011) menjadi 12,36 persen (September 2011).


Provinsi-provinsi dengan angka kemiskinan sekitar separuh di bawah rata-rata nasional (September 2011) adalah DKI Jakarta 3,64 persen, Bali 4,59 persen, Bangka Belitung 5,16 persen, Kalimantan Selatan 5,35 persen, Banten 6,26 persen, Kalimantan Timur 6,63 persen. Semua menurun sangat tipis dibanding angka Maret 2011, kecuali Kalimantan Selatan.


Sebaliknya, provinsi-provinsi yang angka kemiskinannya lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional (September 2011) adalah Papua 31,24 persen, Papua Barat 28,53 persen dan lebih dari satu setengah yang kali lipat rata-rata nasional adalah Maluku 22,45 persen, Nusa Tenggara Timur 20,48 persen, Nusa Tenggara Barat 19,67 persen, dan Aceh 19,48 persen. Tingkat kemiskinan ekstrem provinsi-provinsi "tertinggal" ini menurun tipis dibanding angka-angka Maret 2011. Angka kemiskinan yang terus menurun tipis ini perlu kita hargai, meskipun persepsi masyarakat sering sebaliknya.


Pengangguran juga menurun dari 6,8 persen (2011) menjadi 6,32 persen (2012) menurun sebanyak 420.000 orang. Ini tidak berarti, andaikata tiap tahun dapat diciptakan 420.000 lapangan kerja, dalam 18 tahun terwujud angkatan kerja tanpa penganggur. Namun, Ketua Umum Kadin menegaskan sebaliknya, akibat kesenjangan antara angkatan kerja dan lapangan kerja, pengangguran justru meningkat 1,3 juta orang, pengangguran mencapai 9 juta orang.


Siapa termasuk orang miskin? Bank Dunia menetapkan "kemiskinan absolut" bila pendapatan per kapita di bawah 1 dollar AS per hari (Rp 280.000/bulan) dan "kemiskinan menengah" 2 dollar AS/hari. Sementara Indonesia menetapkan garis kemiskinan per kapita dengan angka tunggal Rp 243.729/bulan. Lalu apakah seseorang "tidak miskin absolut" bila pendapatannya Rp 250.000/bulan?


Garis kemiskinan adalah garis yang ditetapkan berdasarkan berbagai variabel, antara lain asupan kalori (2.000-2.500 kalori, angka Sajogyo). Suatu garis batas memang harus ditarik, seperti passing grade untuk meluluskan peserta ujian. 


Kemiskinan ekonomi dan harkat


Miskin bukan lagi persoalan keberadaan pada garis atau di bawah garis kemiskinan yang dibuat ekonom dan sta- tistikus konvensional. Seorang dosen bisa "termasuk miskin" meskipun gajinya Rp 2,4 juta, ia keluarkan untuk pekerja rumah tangga (PRT) Rp 750.000, listrik Rp 500.000, iuran RT/RW Rp 200.000, cicilan laptop, pulsa, dan tetek-bengek.


Seseorang terpojok miskin tatkala ia melihat iklan-iklan di televisi menayangkan kemewahan yang tidak terjangkau daya belinya. Gebyar-gebyar kemewahan mengepung kemiskinannya, yang menjadikan nestapa dalam keperihan hati.


Pegawai-pegawai negeri dan swasta pun menjadi miskin oleh iklan-iklan rumah dan apartemen mewah metropolitan yang menggugah kecemburuan sosial dan menumbuhkan "minderisasi" (inferiorization), sementara cicilan rumah sederhana mereka menjadi beban berkepanjangan.


Capek menunggu bisa berujung pada apatisme kepasrahan atau sebaliknya malah membangkitkan protes brutal. Sikap beringas yang bangkit bisa menjadi awal disintegrasi sosial yang menakutkan. 


Tragedi Markiah adalah contoh apatisme kepasrahan, fenomena self-disempowerment, pelumpuhan diri mengerikan yang melanda keluarga miskin ini. Janda tiga anak ini mengalami capek miskin berkepanjangan, tanpa harapan melihat cahaya di ujung kegelapan. Kemiskinan mendorongnya bunuh diri, terjun ke Sungai Cisadane sambil menggendong anaknya yang masih balita, meninggalkan dua anaknya menjadi yatim piatu.


Lalu, di mana peran RT dan RW, lurah dan camat, masjid, serta rumah-rumah ibadah. Di mana kebersamaan, solidaritas, dan ukhuwah agama? Di mana keberadaan institusi-institusi sosial dan negara tatkala anak-anak gawat gizi dan lumpuh layu, tatkala penduduk idiot (imbecile) tersebar di tiga kecamatan dalam empat desa di eks Karesidenan Madiun?


Pemberdayaan kilat


Kemiskinan dan pengangguran tidak seharusnya diatasi dengan semata-mata menunggu trickle-down effect atau kepyuran ke bawah dari investor besar. Merupakan kejahatan moral menganggap orang miskin hanya berhak atas rembesan. Memburuknya indeks Gini dari 38 persen (2010) menjadi 41 persen (2011) adalah peningkatan kesenjangan kaya-miskin yang mencemaskan. Paradigmatik kebijakan menggenjot pertumbuhan bukanlah jaminan terberantasnya kemiskinan dan pengangguran. Diperlukan pemikiran cerdas ekstraordiner-kontemporer, meninggalkan konvensionalisme. Direct attack on poverty‒pemberdayaan kilat di pos-pos daya meningkatkan kemampuan produktif, terampil mencipta atau menyambut pekerjaan menjadi pilihan.


Pembangunan dengan semangat pasar bebas dan perdagangan bebas yang memiskinkan kehidupan dan melumpuhkan semangat hidup rakyat harus distop. Sesuai paham strukturalisme ekonomi nasional kita harus banting setir beralih ke pemikiran: let us take care of employment, employment will take care of growth, tegas melaksanakan tujuan konstitusi: "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan". Statistika dan model-model ekonometri yang masih menimang-nimang paradigma-paradigma usang, yang tak sesuai dengan humanisme ekonomi konstitusi kita perlu diakhiri. Kemiskinan adalah masalah bersama, mari bekerja keras, ikut mengentaskan masyarakat miskin ekstrem di Papua, Maluku, NTT, dan NTB.


SRI-EDI SWASONO 

Guru Besar UI dan Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa


Sumber: Kompas, 28 Juli 2012

Senin, 27 Juli 2026

,

UNIVERSITAS

Goenawan Mohamad


Banyak mithos, atau dongeng, tentang universitas. Terutama di Indonesia. Negeri ini (yakni negeri kita, NKRI)  punya banyak sekali perguruan tinggi,  tapi tak kunjung punya universitas yang bermutu tinggi, atau yang lazim disebut "kelas dunia".  

Saya lihat di Wikipedia. NKRI  punya 4500 buah perguruan tinggi.  Sementra India, dengan penduduk   sekitar empat kali lipat lebih besar --  atau 1.476 miliar -- hanya punya 1266.   RRT, dengan penduduk  1.413 miliar, hanya punya 3167. 

Dalam kualitas diunia, Univeraitas Indonesia berada dalam peringkat rendah, No. 191. UGM No. 206.   Dibandingkan dengan itu, NUS (National University of Singapore): ada dalam perangkat ke-10.  University of Malaya, ke-58.  

Ada semacam kecenderungan "inflatoir" dalam pendidikan tinggi di Indonesia   bersamaan dengan  bertimbunnya jumlah lulusan yang sulit dapat kerja.  Dengan kata lain, masuk ke universitas adalah menunda pengangguran.  Apalagi jika harus  bersaing dengan lulusan dari pergutuan luar negeri.

Tapi di NKRI mithos  tetap bertahan tentang ampuhnya pendidikan universitas.   Di Indonesia, lulusan perguruan tinggi disebut "sarjana", yang sebenarnya  berlaku untuk padanan kata "scholar" -- sebutan yang dalam dunia keilmuan menunjukkan prestasi keilmuan yang puncak. . Di NKRI, gelar dan ijazah diunggul-unggulkan, bahkan jadi topik polemik nasional, sementara hampir tak ada karya ilmiah yang secara internasional dijadikan  acuan.

Tapi memang sejak berpuluh tahun yang lalu, di NKRI prestasi keilmuan tampaknya tak sebermartabat punya  kekuasaan.  Universitas di Indonesia oleh Negara diresmikan dengan nama "Gajah Mada", "Airlangga",  "Hasanuddin" -- nama-nama pemegang kekuasaan politik yang tak dikenal punya pemikiran cemerlang. (Universitas Mpu Tantular dan Ibnu Khaldun. nama para pujangga, pemikir, bukan penguaa, didirikan para pendidik swasta). 

Saya kira itu "wajar". Tokoh-tokoh pemimpin politik kita sejak 1960-an umumnya  tak pernah baca (apalagi menulis) buku. Paling-paling hanya berlagak suka baca.

Di Indonesia, syarat kepiawaian memang bisa ditawar dan  "murah hati".

Berbeda dari di luar negeri. Bahkan syarat seorang perwira muda lulusan Akademi Militer  di AS, misalnya, bisa lebih berat  ketimbang di  perguruan tinggi biasa. Di akademi militer West Point tiap kadet harus lengkap mengikuti kuliah  kimia, fisika, kalkulus dan "engineering".  Sementara di Harvard bisa lebih luwes dalam memilih -- dan calon PhD bisa berbaraing-baring  santai, tak perlu latihan fisik, di Harvad Yard yang rindang.

Di Indeonsia, saya duga keluwean itu malah bisa direntang. apalagi jika si mahasiswa atau kadet  datang dari keluarga "tinggi"..  Tak mengherankan jika ada lulusan AKABRI yang tak mampu memecahkan soal 'berapa '10 + 6"'.  dengan mencongak.

Kini ada rencana  mendirikan 10 univeraitas baru. Rencana ini (sebagaimana ide MBG, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dll) tampaknya tak disertai riset,  diskusi dan perencanaan, serta percobaan.  Yang kini berlaku "kun-fayakunisme" --  seakan-akan mau meniru kemampuan Tuhan yang bisa menjadikan sesuatu hanya dengan sabda.

Dan dengan argumen yang salah. Dan dengan anggaran yang boros menjulang.

Saya dengar, ide universtas tambahan itu buat menyiapkan pemimpin bangsa.  Tapi sejarah dunia -- juga sejarah kita -- tak melahirkan pemimpin bangsa dari universitas. Bung Karno memang lulusan ITB, tapi kepemimpinannya tak pakai ijazah insinyur. Ia lahir dari aktivitas di masyarakat, dengan segala risiko, pertarungan,  dan kisah sukses dan kegagalan. Tanpa nepotisme.

Semua ini, tentu saja, cuma pendapat saya.  Biasanya tak didengar. Dan biasanya ada orang-orang yang tak risih mendustai masyarakat seraya mengamini ide yang keliru.


TERBARU

MAKALAH