alt/text gambar

Kamis, 06 Agustus 2026

,

Badiou: Filsuf yang Menolak Menyerah

Badiou


Ada satu jenis kesunyian yang kita kenal betul: kesunyian seseorang yang duduk di tengah sebuah seminar, atau sebuah acara bincang-bincang di layar kaca, mendengarkan orang-orang pintar bergiliran mengucapkan kata "kompleksitas" semacam deklarasi relativisme terhadap segala sesuatu dan  diam-diam ada orang ingin berdiri, menyela, mengatakan sesuatu yang di zaman ini terdengar hampir memalukan, bahwa ada yang benar, dan ada yang keliru.

Tentu saja ia tidak berdiri. Ia tahu, seperti kita semua tahu, bahwa kalimat semacam itu diucapkan begitu saja, tanpa tanda kutip, tanpa kualifikasi akan membuatnya terdengar seperti orang yang belum selesai membaca. Seperti orang yang lupa bahwa kebenaran, kata orang-orang pintar itu, selalu tergantung pada siapa yang bicara, dari mana ia bicara, dan bahasa apa yang ia pakai untuk bicara.

Filusuf Alain Badiou adalah orang yang berdiri.

Sejak Prancis tahun 1960-an, ketika ia masih muda dan dunia sedang gaduh oleh mahasiswa yang melempar batu ke arah masa lalu, sampai ke usianya yang hampir sembilan puluh sekarang, filsuf ini melakukan satu hal yang di kalangan sejawatnya nyaris dianggap tabu: ia terus bicara tentang kebenaran seolah-olah kata itu masih punya arti. Bukan kebenaranmu atau kebenaranku. Bukan kebenaran sebagai fungsi dari kekuasaan, atau efek dari wacana, atau sekadar nama lain untuk apa yang kebetulan disepakati orang banyak pada suatu masa. 

Melainkan kebenaran yang, dalam bahasa Badiou sendiri, datang menerobos yang memaksa dunia mengubah cara ia memandang dirinya.

Ia membayar harga untuk kekeraskepalaan ini. Sementara nama-nama seperti filusuf Derrida atau Foucault menjadi semacam mata uang yang beredar bebas di seminar-seminar sastra dan program studi budaya di seluruh dunia, nama Badiou lebih sering tinggal di pinggir dikutip oleh segelintir orang yang cukup sabar untuk mengikuti argumennya sampai ke ujung, yang sering kali panjang, berat, dan menolak untuk diringkas.

Peter Hallward, yang menulis buku paling tebal tentang dia dalam bahasa Inggris, memulai dengan sebuah pernyataan yang berani, karya utama Badiou, L'Être et l'événement, terbit 1988, adalah karya filsafat paling ambisius yang ditulis di Prancis sejak Sartre menulis Critique de la raison dialectique pada 1960. Di antara dua tanggal itu, hampir tiga puluh tahun, penuh dengan nama-nama besar tapi menurut Hallward tak satu pun yang berani mencoba apa yang dicoba Badiou: membangun sebuah sistem yang utuh, di zaman ketika kata "sistem" sendiri sudah dianggap sebagai dosa filsafat.

Kenapa orang seperti Badiou tak juga populer, padahal kata orang yang membacanya dengan serius ia mungkin filsuf hidup paling penting yang ditulis dalam bahasa Prancis?

Kita kira jawabannya sederhana, dan sedikit menggelikan, Badiou terlalu jujur untuk jadi populer.

Derrida bisa dipetik separuh-separuh. Kita bisa mengambil satu-dua istilahnya différance, dekonstruksi lalu memakainya untuk membongkar apa saja, dari iklan sampai undang-undang, tanpa harus membaca seluruh korpusnya. Foucault bisa jadi alat, sebuah cara membicarakan kekuasaan yang lentur, yang bisa ditempelkan ke topik apa pun. Tapi Badiou membangun sebuah bangunan. Dan bangunan tidak bisa dinikmati sepotong-sepotong; ambil satu ruangnya, dan yang tersisa hanya reruntuhan yang tak jelas maksudnya.

Ia sendiri tahu ini, dan tampaknya tidak keberatan. "Konsep-konsep filsafat harus dipahami secara perlahan," katanya suatu ketika. "Filsafat membutuhkan kesabaran." Ia bahkan, dengan agak jahil, sengaja membuat tulisannya berat bukan untuk mengusir pembaca, melainkan untuk mengusir pembaca yang tergesa-gesa. Ada perbedaan di situ, dan perbedaan itu, kita kira, adalah salah satu bentuk kesetiaannya yang paling konsisten.

Ia juga menolak masuk kubu mana pun yang tersedia. Bukan analis, bukan Heideggerian, bukan dekonstruksionis, bukan pula Marxis dalam pengertian lama yang gampang dikenali. Ia mengkritik Nietzsche dan Wittgenstein dengan tenaga yang sama besarnya dengan kritiknya terhadap Heidegger dan Derrida. 

Di dunia akademik yang, seperti dunia mana pun, suka pada label karena label memudahkan kita untuk berhenti berpikir, seseorang yang menampik semua label adalah seseorang yang sulit ditaruh di rak mana pun dan yang sulit ditaruh di rak, biasanya, dibiarkan berdiri sendiri di lorong.

Tapi ia bukan cuma filsuf kering yang menulis untuk filsuf lain. Ia menulis drama. Ia menulis novel. Ia turun ke jalan bersama gerakan Maois di Prancis pada usia muda, dan sampai sekarang masih ikut kampanye untuk hak-hak buruh migran. Ia mengagumi Mallarmé, mengagumi Beckett. Ia menguasai teori himpunan matematis bukan sebagai perhiasan intelektual, melainkan sebagai fondasi betul-betul fondasi dari cara ia memikirkan apa itu "ada". Filsafat, sastra, matematika, politik, bagi kebanyakan orang, empat dunia yang berbeda. Bagi Badiou, empat jalan menuju satu tujuan yang sama.

Ada satu pertanyaan yang, kalau kita boleh menebak, menghantuinya sepanjang hidup, dan yang ia kembalikan lagi dan lagi dalam berbagai buku dengan berbagai kosakata: bagaimana sesuatu yang benar-benar baru bisa masuk ke dalam dunia?

Bukan yang baru dalam pengertian mode baju baru, gawai baru, jargon baru yang menggantikan jargon lama tahun depan. Melainkan yang baru dalam pengertian yang lebih keras, sesuatu yang tak bisa diramalkan dari apa pun yang sudah ada sebelumnya, yang datang tanpa izin dari logika yang berlaku, dan yang, begitu datang, memaksa kita mengubah seluruh peta.

Bayangkan Prancis menjelang 1789. Berabad-abad, tatanan dunia disusun berdasarkan hierarki yang dianggap sealami hukum alam: raja di atas, rakyat di bawah, dan di antara keduanya sebuah tangga panjang hak yang diwariskan lewat darah. Tak ada dalam logika feodal itu tak satu inci pun yang bisa menyimpulkan bahwa petani dan raja, pada dasarnya, setara. Namun tiba-tiba gagasan itu ada. Liberté, égalité, fraternité. Ia tidak lahir dari perhitungan yang masuk akal dalam sistem lama; ia menerobos sistem lama, seperti kilat yang tak pernah bisa diramalkan cuaca sebelumnya.

Inilah yang oleh Badiou disebut l'événement atau peristiwa.

Dan pertanyaan berikutnya, yang menurut kita jauh lebih menarik daripada pertanyaan pertama: mengapa ada orang yang, setelah sebuah peristiwa terjadi, memilih untuk tetap setia padanya padahal peristiwa itu tidak menjamin apa-apa, tidak memberi bukti apa-apa, tidak menawarkan kepastian apa pun selain dirinya sendiri?

Mengapa Paulus, sesudah pengalamannya di jalan menuju Damaskus, tidak kembali saja ke kehidupan lamanya sebagai penyidik pengikut Kristus, melainkan menghabiskan sisa umurnya mengelilingi Mediterania untuk menyebarkan sesuatu yang belum tentu dipercaya siapa pun? Mengapa ada orang bersedia mati untuk sebuah gagasan yang, pada saat kematiannya, belum juga terbukti benar? Mengapa seorang ilmuwan mau mempertaruhkan seluruh kariernya pada sebuah hipotesis yang ditertawakan koleganya?

Jawaban Badiou, kalau kita tak salah tangkap, karena pada saat-saat itulah, dan hanya pada saat-saat itulah, manusia sungguh-sungguh menjadi subjek bukan sekadar individu yang menjalani hidupnya, mengikuti kebiasaan, menghitung untung-rugi, melainkan sesuatu yang bergerak dari kekuatannya sendiri, digerakkan bukan oleh kalkulasi, melainkan oleh apa yang ia sebut kebenaran.

Untuk mengerti kenapa ini penting, kita perlu mengerti apa yang sedang dilawannya.

Filsafat abad kedua puluh dalam tiga aliran besarnya yang tampak berbeda tapi diam-diam serupa, filsafat analitik yang lahir dari positivisme logis, hermeneutika yang berutang pada Heidegger, dan pascastrukturalisme ala Derrida serta Lyotard punya satu kesamaan yang jarang disebut orang, ketiganya, dengan cara masing-masing, menjadi sangat curiga pada kata "kebenaran". 

Ketiganya, dengan berbagai kosakata yang berbeda-beda kecanggihannya, sampai pada kesimpulan yang serupa: apa yang kita sebut kebenaran hanyalah konstruksi, konstruksi bahasa, konstruksi kekuasaan, konstruksi sudut pandang tertentu yang kebetulan sedang berkuasa.

Badiou menyebut ini sofisme dalam pengertian Platonis yang lama, filsafat yang melepaskan diri dari kebenaran dan menggantinya dengan opini, dengan retorika, dengan "apa yang berhasil" untuk sementara waktu, di tempat tertentu, bagi orang tertentu. Dan menurutnya, itulah yang sesungguhnya terjadi pada sebagian besar filsafat kontemporer, meski dibungkus kosakata yang jauh lebih rumit daripada sofisme Yunani kuno.

Ini bukan cuma soal akademik. Begitu "kebenaran" diturunkan derajatnya menjadi sekadar "perspektif", yang menang bukan lagi yang benar, melainkan yang paling pandai bicara. Yang menang adalah pasar opini dan pasar, seperti kita semua tahu dari pengalaman sehari-hari, tidak selalu memilih yang terbaik, melainkan yang paling ramai disukai.

Ada satu kisah kecil, yang dikutip Žižek, tentang dua seniman Soviet, Komar dan Melamid, yang pada awal 1990-an membuat survei besar-besaran: lukisan macam apa yang paling disukai orang Amerika? Jawabannya: pemandangan biru-hijau yang damai, dengan George Washington berjalan santai dan seekor rusa mengintip dari balik pohon persis seperti kalender murah yang tergantung di dapur. Dan lukisan yang paling tidak disukai? Sebuah komposisi abstrak yang tajam, mirip Kandinsky. Kalau selera mayoritas dijadikan ukuran keindahan, begitulah hasilnya: seni terbaik adalah seni yang paling tidak mengganggu siapa pun.

Badiou dalam filsafat, politik, seni, cinta menolak logika semacam ini sampai ke akar-akarnya. Baginya, justru hal-hal paling penting, paling nyata, paling benar, adalah hal-hal yang tak bisa diterima begitu saja oleh logika situasi yang sedang berlaku. Kebenaran, dalam pengertiannya, selalu muncul sebagai gangguan terhadap konsensus bukan hasil darinya.

Ini membawa kita pada gagasannya tentang subjek, yang barangkali paling orisinal di antara semua sumbangannya.

Dalam hidup sehari-hari, kita adalah individu: punya nama, kebiasaan, kepentingan, afiliasi produk dari keluarga, kelas, sejarah, kebetulan lahir di satu tempat dan bukan di tempat lain. Tak ada yang salah dengan ini. Tapi bagi Badiou, eksistensi semacam ini, betapapun sibuk dan penuhnya, belum menghasilkan apa yang ia sebut kebenaran.

Sekali-sekali, dalam hidup seseorang, terjadi sesuatu yang tak bisa diantisipasi, sebuah pertemuan, sebuah penemuan, sebuah momen ketika dunia lama tiba-tiba retak, sebuah karya seni yang memukul seperti petir di siang bolong. Sesuatu yang menolak dijelaskan dengan kosakata lama, yang tak mau dimasukkan ke laci mana pun yang sudah tersedia.

Di depan peristiwa semacam itu, kata Badiou, kita punya dua pilihan. 

Yang satu: menekannya, berpura-pura tak terjadi apa-apa, kembali ke rutinitas, pilihan yang, jujur saja, diambil oleh hampir semua orang, hampir sepanjang waktu. 

Yang lain: mengafirmasinya, menanggung konsekuensinya, mulai hidup berdasarkan peristiwa itu walau belum ada jaminan, walau dunia sekitar tak paham, walau kemungkinan gagal jauh lebih besar daripada kemungkinan berhasil.

Mereka yang memilih yang kedua itulah, bagi Badiou, subjek dalam pengertian penuh. Bukan karena mereka lebih pintar atau lebih baik dari yang lain, melainkan karena mereka setia pada sesuatu yang melampaui kepentingan mereka sendiri.

Paulus adalah salah satu contohnya. Sepasang kekasih yang memilih setia pada pertemuan yang rapuh dan tak terjamin, dan dari situ membangun kata Badiou sebuah "kebenaran berdua", sebuah cara memandang dunia yang tak mungkin ada seandainya hanya salah satu dari mereka yang ada. 

Ilmuwan yang keras kepala menggali hipotesis yang belum diterima siapa pun. Seniman yang setia pada satu jalur penemuan estetis meski pasar tak menghendakinya. Orang-orang yang turun ke jalan meski kemenangan masih jauh dari pandangan.

Semua ini, kata Badiou, adalah wajah-wajah berbeda dari satu struktur yang sama: subjek yang lahir dari kesetiaan.

Ia menyebut empat wilayah tempat kebenaran dalam pengertiannya yang keras ini bisa muncul: politik, cinta, sains, seni.

Dalam politik, contohnya bukan cuma revolusi-revolusi besar Prancis, Rusia, Tiongkok melainkan juga peristiwa-peristiwa yang lebih kecil dan sering terlupakan: Intifada di Palestina, gerakan mahasiswa Burma 1988, perjuangan petani tak bertanah di Brasil. Semua saat ketika orang-orang yang sebelumnya tak terlihat dalam tatanan yang ada tiba-tiba menjadi aktor yang tak bisa diabaikan lagi.

Dalam cinta, peristiwanya adalah pertemuan itu sendiri yang tak bisa direncanakan, tak bisa dihitung sebelumnya, dan kebenarannya adalah proses panjang membangun sebuah dunia berdua dari sesuatu yang, pada mulanya, hanya kebetulan.

Dalam sains, peristiwanya adalah penemuan yang memaksa kerangka lama dibongkar bukan sekadar tambahan pada apa yang sudah diketahui, melainkan cara memandang yang harus dibangun dari nol. Einstein tidak menambal fisika Newton; ia memaksa kita membangun ulang gagasan tentang ruang dan waktu.

Dalam seni, peristiwanya adalah karya yang membuka kemungkinan baru dalam bentuk dan persepsi yang tidak sekadar indah menurut ukuran lama, melainkan yang memaksa kita mendefinisikan ulang apa itu keindahan.

Dan filsafat sendiri, kata Badiou dengan rendah hati yang jarang kita duga dari seorang pembangun sistem, tidak menghasilkan kebenaran apa pun. Filsafat hanya merenungkan apa yang terjadi ketika kebenaran-kebenaran itu muncul di keempat wilayah tersebut, dan mencoba merumuskan bagaimana caranya kita bisa setia padanya. Filsafat, katanya, selalu berdiri di bawah bayang-bayang peristiwa yang datang dari luar dirinya sendiri.

Dan sampailah kita pada satu titik yang, kita kira, paling menggigit untuk zaman kita.

Dunia hari ini terutama dunia yang menyebut dirinya progresif sangat percaya pada satu jargon: hak untuk berbeda. Setiap kelompok mengklaim haknya berdasarkan identitas partikularnya: jenis kelamin, ras, agama, orientasi. Dan cara paling ampuh memenangkan perdebatan adalah dengan membuktikan diri sebagai korban yang paling menderita.

Badiou tidak menyangkal adanya penindasan yang nyata. Tapi ia menolak kerangka ini, dan penolakannya tajam.

Pertama, karena politik identitas, betapapun ia terdengar radikal, sebenarnya bermain di dalam logika yang sama dengan tatanan yang ingin dilawannya. Ia tak mempertanyakan prinsip dasar sistem; ia hanya meminta sistem itu mengakui kelompoknya sebagai sah. Ia tak menuntut dunia baru; ia menuntut pengakuan dari dunia lama. Dan pengakuan semacam itu, kata Badiou, pada akhirnya hanya bisa diberikan oleh pasar pasar budaya, pasar representasi, pasar simpati.

Kedua, dan ini lebih dalam, politik identitas beroperasi di ranah perbedaan, bukan kebenaran. Ia menyusun manusia berdasarkan apa yang memisahkan mereka, bukan apa yang bisa menyatukan mereka. Dan karena itu ia tak pernah bisa menjadi dasar bagi sebuah politik yang benar-benar universal.

Yang kita butuhkan, kata Badiou, bukan hak untuk berbeda, melainkan hak untuk sama kesetaraan yang tak bergantung pada dari komunitas mana kita berasal, atau seberapa besar penderitaan yang bisa kita tunjukkan. Sebuah kebenaran politik sejati harus bisa bicara kepada semua orang, bukan hanya kepada "kita" yang sudah sekubu.

Kritik ini menggigit ke kanan dan ke kiri sekaligus. Dan siapa pun yang hidup di negeri ini, di mana afiliasi etnis, agama, dan daerah semakin menentukan siapa memilih siapa, tahu betul betapa relevannya kegelisahan itu. 

Bukankah kita juga menyaksikan, hampir setiap hari, bagaimana cara termudah memenangkan sebuah argumen adalah dengan mengklaim kelompok kita yang paling terzalimi? Bukankah "perbedaan" di negeri ini juga lebih sering jadi senjata pembelah daripada jembatan penyatu?

Sarjana Hallward menulis dengan sebuah kalimat yaitu tak ada filsuf yang lebih mendesak dibutuhkan zaman ini daripada Badiou. Kita hidup di masa yang sangat reaksioner, katanya masa ketika politik yang berani berimajinasi telah digantikan oleh manajemen ekonomi, ketika pasar global muncul sebagai satu-satunya cara yang tersisa untuk mengoordinasikan kehidupan bersama.

Dan alternatif yang tersedia bagi keterasingan itu? Hampir semuanya adalah variasi dari identitas: ultranasionalisme, fundamentalisme, tribalisme etnis semua menawarkan "komunitas" sebagai pelarian dari kesepian pasar, tapi komunitas yang dibangun di atas pengecualian, bukan pelukan.

Badiou menolak keduanya. Ia menolak pasar sebagai satu-satunya logika yang tersisa. Ia menolak identitas sebagai jawabannya. Yang ia tawarkan jauh lebih sulit, dan jauh lebih menuntut: filsafat sebagai latihan kesetiaan pada kebenaran pada momen-momen langka ketika sesuatu yang benar-benar baru menjadi mungkin, dan seseorang memilih untuk tidak berpaling darinya.

Ini bukan optimisme yang naif. Ia tak pernah bilang dunia sedang membaik, atau revolusi sudah di ambang pintu. Yang ia katakan lebih sederhana, peristiwa bisa terjadi kapan saja, di mana saja dalam politik, sains, seni, cinta. Dan begitu ia terjadi, kita selalu punya pilihan: mengabaikannya dan kembali ke rutinitas yang aman, atau mengafirmasinya dan menanggung seluruh akibatnya, betapapun beratnya itu.

Ada satu ironi kecil, yang menurut kita cukup indah, dalam cara Badiou memilih berkomunikasi.

Di zaman yang menuntut kecepatan ringkasan tiga menit, kesimpulan tanpa proses, kebenaran yang bisa dibaca sambil menunggu bus ia justru menulis lambat, berat, berputar-putar, dengan kosakata yang harus dipelajari pelan-pelan, seperti belajar bahasa asing di usia tua.

Ini bukan keangkuhan seorang intelektual yang ingin dianggap sulit. Ini adalah pernyataan filosofis itu sendiri, bahwa ada hal-hal yang tak bisa diringkas tanpa kehilangan intinya, sebagaimana sebuah lagu tak bisa dinyanyikan dengan setengah nada dan tetap disebut lagu yang sama. 

Bahwa kebenaran jenis kebenaran yang dibicarakan Badiou hanya bisa diraih lewat proses yang panjang dan sering melelahkan. Bahwa kesabaran, bukan kelincahan, bukan kepandaian merangkum, adalah syarat pertama bagi pikiran yang sungguh-sungguh berpikir.

Di dunia yang dipenuhi orang-orang yang merasa sudah paham sesudah membaca satu alinea pertama, mungkin gestur paling radikal yang tersisa bagi kita adalah sesuatu yang sederhana sekali, duduk, membuka buku yang berat, membacanya perlahan-lahan dengan keyakinan bahwa di suatu halaman, kelak, ada sesuatu yang akan menghantam kita, memaksa kita berpikir ulang, dan mengundang kita untuk setia pada sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kita sendiri.

Itu, pada akhirnya, yang ditawarkan Badiou. Bukan jawaban yang gampang. Bukan peta jalan menuju kemenangan yang terjamin. Melainkan sesuatu yang mungkin lebih berharga daripada semua itu, keyakinan bahwa kebenaran masih mungkin, bahwa sesuatu yang benar-benar baru masih bisa terjadi kapan saja, dan bahwa kita siapa pun kita, betapapun kecilnya kita dalam sejarah bisa memilih untuk menjadi bagian dari peristiwa itu, alih-alih hanya menontonnya dari pinggir dan kemudian pulang.

Barangkali itu, dan bukan yang lain, satu-satunya alasan yang cukup untuk mulai membacanya.


Sumber: Fb


,

Camus tentang Topeng Manusia

Albert Camus


Di sebuah bar di Amsterdam, seorang pria bernama Jean-Baptiste Clamence bicara panjang lebar kepada orang asing. Dulunya, ia pengacara terhormat di Paris. Ia merasa dirinya nyaris sempurna. Suatu malam, saat berdiri di atas jembatan Seine, ia mendengar suara tawa di belakangnya. Tak ada siapa pun. Sejak itu, ia tak lagi percaya pada gambaran dirinya sendiri.

Kisah ini berasal dari novel pendek La Chute (The Fall) karya filusuf Albert Camus. Buku ini adalah pengakuan seorang lelaki yang sudah tidak peduli batas antara jujur dan bohong pada dirinya sendiri. Di tengah pengakuannya yang berliku, ada satu gagasan tajam: kadang lebih mudah memahami isi hati seorang pembohong, daripada memahami isi hati orang yang selalu berkata benar.

Ini bukan ajakan untuk berbohong. Camus ingin membongkar sesuatu yang lebih dalam: bahwa kejujuran sering hanya soal fakta. Dan fakta, seakurat apa pun, bisa menjadi topeng yang sangat rapi.

Bayangkan seseorang menceritakan harinya dengan lengkap dan akurat, jam berapa ia bangun, ke mana ia pergi, siapa yang ditemui, apa yang dibicarakan. Semua itu benar. Namun, bisa jadi Anda tetap tidak tahu apa yang sebenarnya ia takutkan, ia inginkan, atau ia benci. Fakta adalah permukaan yang tenang. Justru karena akurat, fakta tidak menimbulkan curiga. Di sinilah masalahnya, kebenaran faktual bisa menjadi tempat paling aman untuk bersembunyi.

Kebohongan bekerja dengan cara yang berbeda. Bohong selalu merupakan pilihan. Orang tidak memilih kebohongan secara acak. Dari banyak kemungkinan, ia memilih satu kebohongan tertentu. Pilihan itulah yang mengungkapkan sesuatu tentang dirinya.

Orang yang terus membual tentang kekayaannya, mungkin sedang mengaku bahwa ia haus pengakuan. Orang yang selalu menegaskan keberaniannya, mungkin sedang menyembunyikan rasa takut dianggap lemah. Orang yang bersikeras bahwa dirinya suci, bisa jadi paling sadar akan dosanya sendiri. Dengan kata lain, kebohongan adalah bentuk pengakuan yang tersamar. Ia tidak berbicara melalui klaimnya, tetapi justru melalui pilihannya. Dan karena itulah, ia membocorkan lebih banyak hal.

Clamence adalah bukti dari gagasan ini. Sepanjang novel, ia mencampur pengakuan dan dusta. Ia sendiri tampak bingung mana yang sungguh terjadi dan mana yang ia karang. Tetapi justru dari benang kusut antara fakta dan bohong itulah satu gambaran justru muncul dengan jelas, ia adalah lelaki narsistik, haus pujian, dihantui rasa bersalah, dan putus asa ingin dibenarkan oleh dunia yang ia rasa terus menghakiminya.

Fakta dalam ceritanya bisa saja meleset. Tapi watak aslinya tidak pernah benar-benar tersembunyi. Ini yang disebut Camus sebagai sandiwara yang kita mainkan untuk diri sendiri: kita menjadi hakim, terdakwa, sekaligus pembela yang paling lihai memelintir fakta demi menyelamatkan harga diri.

Ada satu perumpamaan lain dari novel ini: "Kebenaran itu seperti cahaya yang bisa membutakan, sedangkan kebohongan adalah cahaya senja yang indah." Ini gambaran yang tepat. Cahaya terlalu terang justru membuat kita tidak bisa melihat detail, karena silau. Sebaliknya, cahaya senja yang redup memaksa mata bekerja lebih keras untuk mengenali bentuk di balik bayangan.

Begitu pula dengan kebenaran. Pernyataan jujur yang terlalu gamblang sering membuat kita cepat puas. "Ia bilang begitu, berarti begitulah," pikir kita, lalu berhenti bertanya. Sebaliknya, sebuah kebohongan memancing rasa curiga. Dari rasa curiga itu, kita terdorong bertanya: "Mengapa ia berbohong tentang hal ini, dan bukan tentang hal lain?" Pertanyaan inilah yang justru membawa kita masuk lebih dalam ke dalam watak seseorang, melebihi ribuan fakta yang benar.

Gagasan ini selaras dengan pemikiran Freud. Bagi Freud, hal-hal yang "salah" seperti mimpi, salah ucap, atau candaan yang tidak sengaja, adalah celah di mana hasrat terpendam bocor. Yang salah secara logika sering kali paling benar secara psikologis. Seseorang yang tanpa sadar menyebut nama mantannya di depan pasangannya sekarang tidak sedang sengaja berbohong. Tapi "kesalahan" itu membongkar lebih banyak hal daripada permintaan maaf yang paling tulus sekalipun.

Camus memang bukan psikoanalis. Namun intuisinya lewat Clamence serupa: yang tidak akurat secara fakta, bisa jadi paling akurat dalam menggambarkan jiwa. Kebohongan Clamence bukan alat untuk menipu. Itu adalah caranya, tanpa sadar, memperlihatkan luka yang tak pernah sembuh: kesombongan yang rapuh, rasa bersalah yang tak selesai, dan dahaga tak berujung untuk dibenarkan.

Barangkali inilah sebabnya kita, hari ini, sangat piawai bercerita jujur secara fakta, namun sangat buruk dalam kejujuran yang sesungguhnya. Media sosial adalah panggung fakta-fakta akurat: foto ini benar di sini, makanan ini benar dipesan, perjalanan ini benar terjadi. Tak ada yang bohong secara data. Namun justru di situlah tirai paling tebal tergantung. Sebab kebenaran faktual, jika disusun dengan cermat, dapat menjadi kebohongan paling meyakinkan tentang siapa diri kita sebenarnya.

Seandainya Clamence hidup hari ini, ia mungkin akan menjadi pencerita paling fasih di media sosial. Jujur dalam setiap detail, dan justru karena itu, jati dirinya sepenuhnya tersembunyi.

Camus tidak memberikan jalan keluar yang rapi. Novel ini berakhir tanpa pertobatan. Clamence hanya terus bicara, malam demi malam, kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Barangkali itulah pesannya: menyadari kepalsuan diri sendiri bukanlah obat, melainkan hanya permulaan dari kejujuran yang sejati. Kejujuran yang jauh lebih sulit daripada sekadar tidak berbohong.

Yang tersisa bagi kita hanyalah sebuah kecurigaan yang berguna, orang yang paling meyakinkan kejujurannya, belum tentu paling terbuka jiwanya. Kadang, untuk benar-benar mengenal seseorang, kita perlu berhenti fokus pada "apakah yang ia katakan benar", dan mulai bertanya: "mengapa ia memilih kebohongan yang ini, dan bukan yang lain?"

Di sanalah, dalam cahaya senja yang tidak sepenuhnya terang, wajah asli seseorang sering kali baru benar-benar mulai terlihat.

Sumber: Fb

Rabu, 05 Agustus 2026

,

Žižek tentang Kebodohan Manusia di Zaman AI

Mengapa Kita Menjadi Semakin Bodoh?

Selamat Datang di Era Pasca-Manusia ala Slavoj Žižek


Dunia sedang tidak baik-baik saja tetapi bukan karena perang, inflasi, atau krisis energi yang biasa kita perbincangkan di televisi. Menurut filsuf paling unik hari ini, Slavoj Žižek, krisis yang kita hadapi jauh lebih dalam, krisis kemampuan manusia untuk berpikir sebagai manusia.

Di tengah euforia kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan jargon “kebebasan memilih”, Žižek justru mengajukan tesis yang terdengar seperti penghinaan kolektif, di interview terakhir dia, bahwa kita sedang menjadi semakin bodoh. Bukan karena kurang pendidikan, tetapi justru karena terlalu banyak teknologi yang berpikir menggantikan kita.

Žižek mengawali dengan data yang jarang dibicarakan secara serius, setelah puluhan tahun meningkat, rata-rata IQ global mulai menurun sejak sekitar tahun 2010. Fenomena ini dikenal sebagai reverse Flynn effect. Bagi Žižek, ini bukan kebetulan statistik, melainkan gejala kultural.

Masalahnya bukan karena manusia tiba-tiba kehilangan otak, tetapi karena kita berhenti menggunakannya secara aktif. Kita menyerahkan kerja berpikir menulis, menilai, menyimpulkan kepada algoritma.

Dengan gaya khasnya yang menjijikkan sekaligus jenius, Žižek memberi analogi ekstrem, bayangkan sepasang manusia berkencan. 

Sang pria membawa vagina plastik, sang perempuan membawa dildo elektrik. Kedua alat itu disambungkan, dibiarkan “berhubungan”, sementara mereka duduk minum teh dan berbincang santai. 

Mesin yang berhubungan seks, manusia menonton.

“Itulah dunia intelektual kita hari ini,” kata Žižek.

ChatGPT menulis teks.

ChatGPT mengulas teks.

ChatGPT meringkas hasil ulasan.

Ini sudah terlihat mahasiswa memakai Ai untuk mengerjakan tugas, dosen memakai Ai untuk mengoreksi paper, dan pembaca merangkum hasil karya jurnal pakai Ai, bahwa segala hal kehidupan kita sudah terkonversi entah ke mesin atau algoritma.

Bahkan kita berhubung sex dengan mesin, misalnya melihat porno di alat elektronik ketimbang dengan sesama manusia.

Manusia tidak lagi menjadi subjek berpikir kita hanya menjadi penonton dari proses yang meniru kita. Di sinilah kebodohan baru lahir, bukan kebodohan karena tidak tahu, melainkan kebodohan karena tidak lagi perlu tahu.

Žižek lalu membongkar mitos paling sukses kapitalisme kontemporer, kebebasan kerja. Ekonomi digital tidak lagi menjual eksploitasi secara kasar, melainkan menjual perasaan menjadi bos bagi diri sendiri.

Pengemudi ojek online, kurir, freelancer, content creator semua diyakinkan bahwa mereka adalah “mitra”, bukan buruh. Mereka disebut wirausaha kecil yang memiliki “alat produksi” sendiri: motor, laptop, ponsel.

Padahal, menurut Žižek, inilah bentuk eksploitasi paling canggih. Ketika Anda percaya diri sebagai kapitalis kecil, Anda tidak lagi melihat perusahaan sebagai penindas. Anda justru melihat sesama pekerja sebagai pesaing. Solidaritas kelas runtuh sebelum sempat lahir.

Anda “bebas” memilih jam kerja tetapi secara ekonomi dipaksa bekerja 14–16 jam sehari. Anda “bebas” keluar dari sistem tetapi tidak punya tabungan untuk benar-benar keluar. Inilah kebebasan yang berubah menjadi penjara tanpa penjaga.

Sebagai pemikir kiri, Žižek tidak menolak feminisme atau perjuangan kesetaraan. Yang ia kritik adalah versi woke culture yang kehilangan sasaran materialnya.

Menurut Žižek, banyak perdebatan publik hari ini terjebak pada simbol, bahasa, gestur, representasi. Kita sibuk memperdebatkan kata ganti, etika humor, atau perilaku di pesta elite sementara horor struktural sehari-hari dibiarkan utuh.

Gerakan seperti #MeToo, misalnya, sering kali berputar di sekitar dunia selebritas, aktor, sutradara, produser. Padahal kekerasan dan penindasan paling brutal justru dialami oleh perempuan kelas pekerja: petugas kebersihan, buruh pabrik, sekretaris, pekerja rumah tangga mereka yang tidak punya pilihan ekonomi untuk melawan atau pergi.

Bagi Žižek, ideologi sejati bukan soal apa yang kita katakan di media sosial, melainkan siapa yang mencuci piring, siapa yang mengasuh anak, dan siapa yang tidak punya uang untuk meninggalkan pasangan yang abusif. Jika kritik tidak menyentuh praktik material ini, ia hanya menjadi moralitas kosong.

Di titik ini, Žižek menyerang dogma modern yang hampir tak tersentuh, pengejaran kebahagiaan. Baginya, tidak ada ide yang lebih merusak manusia daripada keyakinan bahwa hidup harus diarahkan untuk “bahagia”.

Manusia, kata Žižek, adalah makhluk yang secara struktural menyabotase kebahagiaannya sendiri. Kita tidak dirancang untuk puas. Maka, ketika kebahagiaan dijadikan tujuan langsung, hasilnya justru frustrasi, kecemasan, dan rasa gagal permanen.

Kebahagiaan, jika pun datang, seharusnya hanya menjadi produk sampingan dari keterlibatan mendalam pada sesuatu: kerja intelektual, perjuangan politik, cinta, atau panggilan hidup. Žižek mengaku hanya merasa mendekati kebahagiaan ketika menyelesaikan sebuah buku bukan ketika mencarinya secara sadar.

Dalam masyarakat yang memerintahkan kita untuk bahagia, ketidakbahagiaan dianggap sebagai kegagalan moral. Dan di situlah manusia benar-benar hancur.

Jika semua ini terdengar suram, Žižek belum selesai. Ia memandang teknologi seperti Neuralink yang dikembangkan Elon Musk bukan sebagai kemajuan netral, tetapi sebagai ancaman ontologis.

Ketika otak terhubung langsung dengan mesin, pertanyaannya bukan lagi soal privasi data, melainkan, siapa yang mengontrol pikiran itu sendiri? Jika sinyal digital bisa memengaruhi impuls neural, maka kebebasan berpikir fondasi etika modern bisa menjadi artefak sejarah.

Di titik ini, manusia bukan hanya dibantu oleh mesin, tetapi diperluas dan dikolonisasi olehnya. Kita memasuki era pasca-manusia, makhluk yang masih hidup secara biologis, tetapi kehilangan otonomi simbolik.

Bagi Žižek, filsafat tidak hadir untuk memberi solusi instan atau panduan hidup bahagia. Filsafat justru berfungsi sebagai gangguan, mengacaukan cara kita merumuskan masalah.

Sumber: Fb

Sabtu, 01 Agustus 2026

,

Belajarlah Sepanjang Hidup


Ingatlah, belajarlah sepanjang hidupmu, karena pikiran yang dipenuhi pengetahuan dapat menjadi manfaat bagi banyak orang. Belajar bukan hanya tentang menambah informasi, tetapi juga tentang memperluas cara berpikir, memperdalam pemahaman, dan membentuk kebijaksanaan. Setiap ilmu yang dipelajari menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana dan penuh tanggung jawab.

Orang yang bijaksana menyadari bahwa proses belajar tidak berakhir pada usia atau pencapaian tertentu. Ia terus membaca, mendengarkan, bertanya, dan merenungkan setiap pengalaman sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Pengetahuan yang disertai karakter yang baik akan menjadi kekuatan yang mampu menguatkan, menginspirasi, dan membantu banyak orang.

Jadikan semangat belajar sebagai bagian dari perjalanan hidupmu. Peliharalah rasa ingin tahu, gunakan ilmu untuk menghadirkan kebaikan, dan teruslah mengembangkan dirimu dengan rendah hati. Ketika pikiranmu dipenuhi pengetahuan dan kebijaksanaan, hidupmu tidak hanya menjadi lebih bermakna, tetapi juga membawa terang, harapan, dan manfaat bagi banyak orang.

Sumber: Fb

Ilmu Filsafat

Kamis, 30 Juli 2026

, , ,

PENAMPILAN ABDURRAHMAN WAHID

Kompas, 30 Juli 2001


Oleh: Abd A'la


Saat-saat terakhir Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akan dilengserkan oleh MPR dari jabatannya sebagai Presiden RI keempat, kritik atau lebih tepat lagi cercaan, makian dan hujatan terhadap dirinya masih terus berlanjut. Puncaknya adalah ketika Gus Dur mengeluarkan maklumat‒yang tidak lain adalah sebuah dekrit‒pada Senin dini hari tanggal 23 Juli 2001; maka ia dianggap sebagai seorang diktator dan tirani. Misalnya saja, pagi harinya seorang pengamat politik tampil di sebuah televisi swasta dengan baju hitam sebagai tanda berduka cita menyatakan bahwa Gus Dur telah berubah dari seorang demokrat menjadi seorang diktator. Siang harinya, fraksi-fraksi di MPR menyatakan hal yang serupa.

Belum reda kritik tentang hal itu, penampilan diri Gus Dur di sore hari itu (sesaat setelah di- cabut mandatnya sebagai Presiden RI oleh SI MPR) juga mendapat kecaman dari sebagian masyarakat. Saat itu ia keluar ke teras Istana untuk memberikan lambaian tangan kepada para pendukungnya dengan berpakaian kaus dan celana pendek. Sebagian orang meng- anggap bahwa penampilan dirinya yang seadanya tersebut tidak pantas dilakukan oleh (mantan) orang nomor satu di Indonesia. Maka lengkap sudah "kehinaan" Gus Dur dalam pandangan sebagian orang yang tidak senang atau tidak paham terhadap dirinya.

Berkaitan dengan itu, hal yang perlu dilakukan adalah menguak realitas yang sebenarnya dari adanya maklumat tersebut. Demikian pula kita perlu membaca secara bijaksana tentang sikap Gus Dur yang tampil seadanya di depan publik. Tulisan ini mencoba untuk membaca persoalan itu melalui pendekatan yang agak menyeluruh, sehingga kita diharapkan mampu melihat semua itu dari sisi yang lebih utuh dan positif; bukan dari dimensi negatifnya belaka.

                                          ***

Untuk menangkap secara lebih arif dan tanpa apriori terhadap apa yang dilakukan Gus Dur, tidak ada salahnya jika kita menjadikan dunia tasawuf sebagai pintu masuk untuk memahaminya. Dalam kehidupan yang sering dianggap bersifat esoteris tersebut, banyak tokoh sufi terkenal yang melakukan sesuatu yang secara mata telanjang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan pandangan yang dianut masyarakat umum.

Padahal dalam niatan mereka, mereka melakukan itu sebagai pengabdian kepada Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan yang perenial. Misalnya, hal seperti itu dapat ditelusuri dari sikap yang ditunjukkan oleh Al-Hallaj, tokoh sufi paling terkenal di abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Suatu ketika ia berjalan- jalan di Kota Baghdad sambil berteriak, "Wahai manusia, Tuhan telah menghalalkanmu untuk menumpahkan darahku, bunuhlah aku. Kalian semua akan beroleh pahala, dan aku akan datang dengan suka rela. Aku ingin si terkutuk ini (menunjuk dirinya sendiri) dibunuh". Kemudian dia berdoa kepada Tuhan, "Ampunilah mereka, tetapi hukumlah aku atas dosa-dosa mereka" (lihat Bayat dan Jannia, 1997: 13). Karena sikapnya yang semacam itu, ia dianggap oleh sebagian orang sebagai Yesus-Muslim; penderitaannya diperuntukkan untuk kebahagiaan umat manusia secara keseluruhan.

Akhirnya, sejarah mencatat bahwa al-Hallaj dihukum bunuh oleh penguasa saat itu dengan alasan ajarannya dianggap sesat dan menyimpang dari ajaran Islam. Padahal, ada sisi lain yang menyebabkan penguasa berang terhadap tokoh sufi itu. Sebagaimana dijelaskan Bayat dan Jannia (1997),  pernyataannya itu telah mengilhami masyarakat untuk menuntut perbaikan dalam kehidupan mereka terhadap penguasa. Mereka menuntut khalifah menegakkan kewajiban yang diembankan Allah dan Islam atas dirinya. Mereka menuntut suatu pembaruan dan perubahan karena kondisi sosial dan politik waktu itu tidak memuaskan masyarakat luas. 

Untuk itu, al-Hallaj rela mengorbankan dirinya demi kesejahteraan, dan kedamaian umat manusia. Dia rela dicaci maki dan bahkan rela untuk dipancung demi terjadinya reformasi dalam kehidupan. Agama yang selama itu telah direduksi sebagai alat pencapaian kepentingan oleh penguasa diupayakan bisa kembali kepada peran sentralnya sebagai pembebas manusia dari segala ketertindasan. 

Bagi al-Hallaj, tuduhan bahwa ajarannya menyimpang, dan bahwa dia dituduh zindik bukanlah persoalan yang terlalu penting untuk dipikirkan. Hal yang lebih penting bagi dia adalah pencapaian keberagamaan yang mampu mengentaskan umat manusia dari segala macam bentuk penindasan. Melalui keberagamaan seperti itu, dia menerima untuk ditindas, asal manusia yang lain tidak tertindas lagi. Mereka diharapkan tidak dijadikan lagi sebagai alat kepentingan oleh segelintir manusia.

                                             ***

Tentunya kita tidak ingin menyamakan Gus Dur dengan al-Hallaj atau si Bahlul. Paparan di atas hanya sebagai upaya memahami suatu fenomena berdasarkan hermeneutik. Melalui pembacaan seperti itu, realitas yang dapat ditangkap akan lebih utuh dan jauh dari sifat menghakimi. Dalam konteks itu, sebagai suatu fenomena, apa yang dilakukan Gus Dur pada saat-saa tterakhir menjabat Presiden (dan juga seluruh perilakunya) tidak ada salahnya bila dibaca berdasarkan perspektif tafsir semacam itu.

Kita semua sudah tahu, Gus Dur merupakan seorang tokoh yang sudah lama memperjuangkan tegaknya demokrasi di Indonesia, dan bahkan di dunia internasional. Selama Orde Baru ia dengan tegar, kritis selalu membela kepentingan bangsa secara keseluruhan di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Hal itu terlihat dengan jelas, di antaranya melalui pembelaannya yang tidak kenal kompromi terhadap kelompok-kelompok minoritas dan orang-orang yang tertindas meskipun untuk itu dia harus menerima hujatan dari kelompok mayoritas, atau bahkan dari kelompoknya sendiri.

Berdasarkan kenyataan itu, tuduhan bahwa jati diri Gus Dur telah berubah hanya karena dia mengeluarkan dekrit sangat kecil kemungkinan kebenarannya. Interpretasi yang lebih bijaksana dan aman dalam membaca dekrit Gus Dur adalah melalui pembacaan menyeluruh terhadap kehidupan dan pemikiran Gus Dur; pendekatan hermeneutik. Melalui tafsir ini, kita akan mengetahui bahwa keluarnya dekrit itu kemungkinan besar lebih merujuk kepada kepolosan Gus Dur dan husnuzzan-nya kepada orang-orang di sekelilingnya. Lebih dari itu, melalui tindakan tersebut dia sebenarnya tidak ingin mendapat pujian dalam menegakkan demokrasi di Tanah Air ini. Justru yang dia inginkan adalah menjadi martir demokrasi dalam arti yang senyatanya, tanpa seorang pun yang mengetahui dan mengenangnya. Maka, dia lalu mengeluarkan dekrit.

Untuk kian memperkukuh hal tersebut, ia pun sesudah itu tampil seadanya di depan publik dengan tanpa beban sedikit pun. Dengan demikian, ketika ia meninggalkan hiruk pikuk panggung politik, ia berharap tidak ada seorang pun yang mengenangnya. Bila itu telah terjadi, berarti semua yang ia lakukan dengan tujuan semata-mata untuk dipersembahkan kepada Tuhan dan kemanusiaan universal benar-benar telah dicapainya.

Namun Gus Dur adalah seorang manusia seperti kita semua, bukan Nabi, apalagi seperti Tuhan. Ia pasti tidak lepas dari segala kekurangan dan kelemahan. Pada sisi itu kita harus melihat kegagalan Gus Dur dalam menggapai cita-citanya mengembangkan demokrasi secara utuh dan tuntas di negeri ini sebagai sesuatu yang lumrah. Demikian pula, kita hendaknya menerima kelemahan-kelemahannya yang lain, semisal ketidakmampuannya dalam merangkul elite-elite politik yang sangat beragam dalam kepentingan dan pemikiran. Semua itu muncul dari keberadaannya sebagai manusia biasa yang tidak akan menghilangkan sisi-sisi kekuatan yang dimilikinya.

Atas dasar itu, pendekatan hermeneutik terhadap perilaku Gus Dur menjadi sesuatu yang cukup signifikan untuk dilakukan. Melalui tafsir tersebut kita diharapkan tidak akan terperosok ke dalam sikap antipati atau apriori, sehingga kita menganggap Gus Dur tidak bernilai apa pun bagi negara, bangsa, maupun agama. Demikian pula, kita tidak akan terperangkap untuk memuji dan mengangkat Gus Dur setinggi langit, sehingga menganggapnya hampir setara dengan para Nabi.

Di atas semua itu, terlepas dari segala kelemahan yang dimiliki, Gus Dur telah hadir di tengah-tengah bangsa ini dan bangsa di dunia internasional sebagai seorang muslim yang menyebarkan dengan gigih Islam substansif yang pluralis dan humanitarianistik, serta tetap otentik untuk diabdikan kepada umat manusia. Karena itu, dia‒dan pemikirannya‒bukan hanya diperlukan oleh kelompok NU atau mayoritas umat Islam semata, tapi oleh seluruh (mayoritas) umat beragama di saat ini dan di masa depan.


* Abd A'la, pengasuh Pondok Pesantran Annuqayah Latee, Sumenep.


Sumber: Kompas, 30 Juli 2001



,

Doa Aqiqah

Allahumma haza minka wa ilaika fataqabbal aqiqah min... (nama anak / atau ahlil bait), ya Allah ya Rabbal alamin

Rabbana hablana min azwajina.... dst

TERBARU

MAKALAH