alt/text gambar

Selasa, 21 April 2026

, ,

Robohnya Surau Kami

Cover Robohnya Surau Kami


Oleh: A.A. Navis


Sebelum masuk ke isi cerpen, berikut sedikit review dari Kompasiana:

"Robohnya Surau Kami adalah salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Buku ini merupakan kumpulan cerpen karya A.A. Navis, seorang sastrawan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang lahir pada 1924 dan dikenal luas karena kepiawaiannya dalam menulis cerita-cerita dengan kritik sosial tajam. Navis bukan hanya penulis, tetapi juga seorang pemikir yang menggunakan tulisan sebagai sarana untuk menyuarakan kegelisahan terhadap realitas kehidupan bangsa. Melalui gaya satir dan narasi yang lugas, ia menyingkap kemunafikan masyarakat, terutama dalam hal keberagamaan yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan.

Cerpen utama dalam buku ini, Robohnya Surau Kami, mengisahkan seorang lelaki tua yang hidupnya dihabiskan untuk beribadah di surau, tanpa pernah peduli pada kesengsaraan orang-orang di sekitarnya. Ia dianggap suci oleh masyarakat semasa hidupnya. Namun, setelah meninggal, ia justru dikisahkan masuk neraka, karena selama hidupnya tidak pernah melakukan apa pun untuk menolong sesama. Cerita ini menjadi simbol kuat tentang bagaimana agama yang hanya dijalankan secara ritual tanpa aksi sosial justru kehilangan maknanya.

Di bawah ini cerita yang terdapat dalam novel Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. 

Selamat membaca! 


Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. 

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek. 

Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. la hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasihdan sedikit senyum. 

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. 

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. 

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya. 

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti 

saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?" 

“Ajo Sidi." 

"Ajo Sidi?" 

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak. 

Tiba tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?" 

"Siapa?" 

“Ajo Sidi." 

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab. 

"Kenapa?" 

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?" 

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal." 

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?" 

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?" 

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. 

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya 

2

bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji puji Dia. Aku baca Kitab Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk." 

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?" "la tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya." 

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi. 

"Pada suatu waktu, 'kata Ajo Sidi memulai, 'di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan 'selamat ketemu nanti”. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. 

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama. 

"Engkau?" 

'Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. 

“Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia." "Ya, Tuhanku.' 

'apa kerjamu di dunia?' 

'Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku." 

'Lain?' 

'Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut nyebut nama Mu." 'Lain.' 

'Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada berbadat menyembah Mu, menyebut nyebut nama Mu. Bahkan dalam kasih Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati Mu untuk menginsafkan umat Mu." 

'Lain?' 

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. la tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. la termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu. 


'Lain lagi?' tanya Tuhan. 


'Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.' Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya. 


Tapi Tuhan bertanya lagi: “Tak ada lagi?" 'O, 0, 000, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.' 'Lain?' 


'Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.' 


"Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?" "Ya, itulah semuanya, Tuhanku." "Masuk kamu.' 


Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. la tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. 


Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang orang itu pun, tak mengerti juga. 


"Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian, "Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkanNya ke neraka." 


'Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,' kata salah seorang diantaranya. 


"Ini sungguh tidak adil." 


'Memang tidak adil," kata orang orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. 


'Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita." 


'Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini." 


'Benar. Benar. Benar.' Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. 


3

“Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?" suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. 


"Kita protes. Kita resolusikan,' kata Haji Saleh. 


'Apa kita revolusikan juga?' tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner. 


'Itu tergantung kepada keadaan," kata Haji Saleh. 'Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan." 


'Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,' sebuah suara menyela. 


"Setuju. Setuju. Setuju." Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya, 'Kalian mau apa?' 


Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: 'O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap Mu ini adalah umat Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaranMu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab Mu." 


'Kalian di dunia tinggal di mana?' tanya Tuhan. 


“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.' 'O, di negeri yang tanahnya subur itu? 


"Ya, benarlah itu, Tuhanku.' 


'Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?" 


Episode 1 Robohnya Surau Kami 


“Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami." Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. 


“Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?' “Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami. 


'Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?' 


4

'Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami." 


"Negeri yang lama diperbudak negeri lain?" 


'Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku." 


“Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?" “Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa apa lagi. Sungguh laknat mereka itu." 


'Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?" 


'Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.' 


“Engkau rela tetap melarat, bukan? 'Benar. Kami rela sekali, Tuhanku." 'Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan? 


'Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab Mu mereka hafal di luar kepala.' 


“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?" “Ada, Tuhanku.' 


"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" 


Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. 


"Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?' tanya Haji Saleh. 


“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terialu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun." 


Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. 


"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget. 

"Kakek." 


"Kakek?" 


"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur." 


"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. 


Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia. 


"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi. 


"Tidak ia tahu Kakek meninggal?" 


"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis." 


"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?" 


"Kerja." 


"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa. 


"Ya, dia pergi kerja." 





,

Sastra Modern dan Aneka Perspektifnya


Oleh: Sophan Ajie


"If we value the freedom of mind and soul, ... then it's our plain duty to escape, and to take as many people with us as we can." (J.R.R.Tolkien) 

"A classic is a book that has never finished saying what it has to say." (Italo Calvino) 

"One literature differs from another...not so much because of the text as for the manner in which it is read." (Jorge Luis Borges) 

Sejak manusia mengenal tulisan dengan ditemukannya tulisan paku, bahasa sebagai teks berkembang pesat dan menjadi poros yang menggerakkan serta menumbuhkan peradaban manusia. Manusia memiliki kebutuhan untuk menuliskan apa yang telah mereka alami atau yang ingin mereka lakukan, terutama apa yang mereka pikirkan dan imajinasikan. Kodrat unik manusia terletak pada kemampuan nalar dan imajinasinya. Nalar dan imajinasi itulah yang membuat manusia selalu saja ingin menaklukkan kenyataan faktual yang terberi, dan kalau perlu mengubahnya menjadi sesuai dengan yang mereka kehendaki. Bahkan, seperti tersirat pada kutipan dari Tolkien di atas, pada hakikatnya ruh manusia itu bebas, ingin selalu melarikan diri dari faktualitas, terbang mengikuti kreativitas imajinasinya sendiri. Alat yang digunakan untuk menaklukan kenyataan, atau kendaraan untuk terbang melepaskan diri dari kerangkeng faktualitas itu, tiada lain adalah: bahasa, kata, terutama tulisan atau teks. 

Bahasa bisa digunakan untuk mengungkapkan apa pun juga, dan dengan banyak cara, namun bahasa yang dimainkan untuk semata-mata mengeksplorasi imajinasi, mengoptimalisasi kekuatan kata, dan menyeret ruh pada petualangan batinnya yang terdalam, itulah yang dalam arti luas dan filosofis biasa disebut “sastra”. Sastra adalah aneka penggunaan sistem bahasa yang serba terbatas untuk merumuskan banyak hal yang tak terbatas, bermacam upaya untuk merenungi realitas secara unik, personal dan imajinatif. Sastra memang bukan sekadar urusan memperindah kata seperti yang biasa dikira orang. Melalui sastra, penglihatan kita atas dinamika batin manusia terus-menerus diperdalam, dibimbing ke arah berbagai dimensi dan misterinya yang tak terduga, ke arah ceruk-ceruk pengalaman manusia yang biasanya tak kasat mata. Sastra berkomunikasi dengan hati dan imajinasi, sekaligus membukakan kesadaran, melalui caranya yang ganjil dalam memainkan kata, kalimat alur cerita dan karakter tokoh-tokoh dramatisnya. Tentu ada banyak bentuk sastra, dari sastra lisan hingga berbagai jenis sastra tulisan, dan keragaman itu erat terkait pada konteks budaya yang berbeda-beda, maupun pada perubahan zaman. Di sisi lain, suatu tulisan dianggap sastra atau bukan, dalam kenyataannya tergantung pada bagaimana dan dari perspektif mana kita membacanya, seperti yang diungkapkan penulis postmodern Jorge Luis Borges dalam kutipan di awal tulisan ini. 

Sejarah Sastra Modern 

Sastra tertulis yang kita kenal sekarang dalam bentuk modern-universalnya sebagian besar memang berasal dari khazanah dunia Barat. Banyak rekaman teks yang menunjukkan asal-muasal sastra jenis itu berupa teks-teks dalam bahasa Yunani, yang sebagian lantas - diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Bahasa Latin sendiri adalah akar dari bahasa-bahasa mayor di dunia Barat seperti Italia, Spanyol, Rumania, Portugis, dan Prancis. Hegemoni kultur Yunani dan Latin ini masih terasa jejaknya pada istilah-istilah kunci dalam dunia sastra maupun pemerintahan, administrasi, dan pendidikan modern. Syair-syair kepahlawanan dari Homeros (880 SM) misalnya, adalah salah satu bentuk awal sastra itu. Sedang pemikiran mendalam tentang hakikat sastra sudah dilakukan pula oleh filsuf Aristoteles (330 SM) dalam tulisannya, Poetica. Sebelumnya pun guru Aristoteles, yakni Plato, sudah mulai mendiskusikan hakikat sastra, hanya tidak sejauh dan semendalam Aristoteles. Horatio, penyair dari tahun 68-65 SM dengan karya fenomenalnya yaitu Ars Poetica (teknik bersajak), mengemukakan teori tentang persajakan yang sangat berpengaruh bagi perkembangan persajakan selanjutnya, dan teori ini sebenarnya sudah cukup “modern”. Ia mengutarakan mengenai tiga hal penting dalam proses bersajak, yaitu decorum (harmoni), ingenium (bakat), dan utile dulci (manfaat). Decorum, “Harmoni" dianggap perlu karena keserasian gaya bahasa yang diungkapkan akan berpengaruh pada jenis kelamin, usia, dan status sosial yang dituju oleh karya itu. Horatio memilih dan memilah pembacanya dan bagaimana cara menghadapi mereka agar sajak-sajaknya dapat diterima. Kedua, ingenium, “bakat”, adalah hal yang dianggap perlu oleh Horatio, gagasan yang masih bergema kembali jauh di kemudian hari di era Romantik Eropa abad ke-19. Dalam soal penulisan ia mengutamakan bakat bawaan. Bakat bawaan—kekuatan utama yang melahirkan karya sastra—akan memungkinkan sebuah karya menjadi karya tinggi atau karya rendah. 

Latar belakang pengarang menjadi nilai penting dalam hal ini. Pengarang dari golongan buruh, tidak mungkin memiliki warisan seni dari orang tuanya, maka juga tidak akan mungkin membuat karya seni yang agung. Terakhir, mengenai utile dulci: karya akan menjadi besar jika ia bermanfaat. Ketika karya itu hanya sebuah karya, tanpa membawa manfaat bagi masyarakat, karya itu tidak patut diperhitungkan.

Pada era Renaisans di abad ke-16, pemikiran Horatio kembali digunakan. Renaisans adalah era kelahiran kembali kultur Yunani, setelah Eropa Abad Pertengahan hancur akibat peperangan dan kebangkrutan moral. Budaya Yunani dianggap ideal karena menghargai keluhuran kehidupan dan martabat manusia. Karya-karya besar Yunani dikaji ulang. 

Di antaranya adalah Poetica karya Aristoteles yang coba dipelajari kembali dalam bahasa asli Yunaninya, bukan versi Latinnya. Di masa ini, prinsip penting dalam dunia sastra adalah mimesis (“meniru” realitas) dan catharsis (penjernihan kesadaran). Itu dua prinsip pokok dari ajaran Plato, Aristoteles, dan Horatio. Sastra dipandang penting sebagai mercusuar kemanusiaan untuk membantu kestabilan sosial. Itu juga sebabnya saat itu “sastra” disebut sebagai literae humanae (sastra berkemanusiaan). 

Tren mimesis terus berkembang hingga abad ke-18. Di abad ini peniruan diperbaiki dengan munculnya konsep “Aesthetica” dari Alexander Baumgarten. Estetika—studi mengenai persepsi, selera dan keindahan—membuat konsep “peniruan” tidak lagi sekadar menghadirkan kenyataan ke dalam media baru, melainkan harus juga mempertimbangkan keselarasan pikiran, rancangan kesan visual, dan cara pengungkapannya. Dengan “rancang visual" dimaksudkan bahwa sastra harus bisa melukiskan sesuatu dalam benak pembaca. Kesadaran ini membawa pengaruh penting bagi karya-karya roman terkemudian. Dalam hal ini, karya-karya Yunani klasik lagi-lagi digunakan sebagai acuan. Legenda klasik macam Odyssey karya Homerus, atau Lysystrata dari Aristhophanes, dikaji kembali karena keindahan rancang visualnya. Imajinasi visual dalam karya roman kembali dianggap penting. 

Kemunculan karya-karya roman ikut berpengaruh melahirkan era baru di abad ke-19, yakni era Romantik. Kekhasan dari masa ini terletak pada perhatiannya yang besar atas perasaan. Antusiasme abad ke-18 terhadap revolusi industri yang sempat menaikkan kesejahteraan hidup melalui modernisasi rasio dan kapital, di abad ke-19 justru dicurigai, karena orang akhirnya menyadari pentingnya hal-hal lain dalam hidup selain rasionalitas dan kesejahteraan material, yakni pentingnya imajinasi dan perasaan. Prioritas terhadap rasa dan imajinasi di era romantik ini membantu melahirkan karya-karya yang bisa bersentuhan lebih intim dengan pembacanya. Sastra menjadi lebih luwes, tidak kaku layaknya rasionalitas yang serba aksiomatik dan tak memberi ruang kompromi. William Wordsworth dengan lugas menyebut sajak sebagai 'the spontaneous overflow of the power of feelings'. Pernyataan Wordsworth memang sesuai dengan karyanya yang ia tulis bersama Coleridge, yaitu buku berjudul Lyrical Ballads. Buku ini dianggap sebagai salah satu tonggak permulaan sastra era romantik. Perpaduan antara imajinasi dan rasa nampak jelas dalam karya “Daffodils” dari Wordsworth. 

Meskipun demikian, fase romantik kemudian diimbangi oleh kelompok realisme yang menolak sastra hanya sebagai letupan-letupan perasaan semata. Istilah “Realisme” kemudian menjadi tren baru pada akhir abad ke-19. Pada masa itu realisme dimaksudkan sebagai mazhab kesusastraan yang tidak hanya mengikuti atau meniru seni tradisi, melainkan meniru realitas asli seperti yang disajikan alam. Dengan kata lain, aliran realisme menghadirkan kenyataan yang terjadi di alam sekeliling tanpa upaya berlebihan menciptakan aneka simbol seperti halnya mazhab romantik dan fase sebelumnya. Penulis realis berusaha “memotret' sejelas mungkin kenyataan yang terjadi, seperti dalam novel-novel historis Leo Tolstoy dari Rusia atau Victor Hugo dari Prancis. Karya realis mengonstruksikan kenyataan sebagai sebuah dunia yang serupa dengan kesehariannya. Artinya, dunia yang dikonstruksikan dengan dunia yang ada dalam karya (yang serupa dengan keseharian) memiliki hubungan sangat kuat. Diharapkan apresiator dapat melihat keterkaitan autentik antara bangunan cerita dengan kenyataan aslinya. Perspektif Abad 20-21 Pemahaman konvensional tentang apa itu sastra dan seluk-beluknya terus berubah-ubah dan berkembang sejak abad ke-20, sedemikian hingga pengertian tentang apa sesungguhnya sastra itu menjadi simpang siur dan semakin sulit diidentifikasi dengan pasti. Sempat “sastra” dimengerti sebagai “segala bentuk tulisan” termasuk jurnal, esai, orasi, dan refleksi. Keyakinan konvensional abad 17-an itu dianggap tidak memuaskan karena diyakini bahwa “sastra” memiliki teknik-teknik khasnya sendiri, dan karya-karya besar macam tulisan Shakespeare ataupun Cervantes misalnya, tak bisa disejajarkan dengan tulisan jurnal, esai ataupun orasi. 


Sumber

Sophan Ajie, "Sastra Modern dan Aneka Perspektifnya", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020, h. 251-255



Kamis, 16 April 2026

,

Seputar Postmodernisme

I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001


Sumbangan Husserl bagi Postmodernisme

Akibat dari refleksi Husserl yang jauh dan radikal, akhirnya persoalan epistemologi sendiri pun dengan sendirinya luruh. Bersama Husserl persoalan epistemologis sirna sebab gagasan tentang ”ilmu” atau "keilmiahan” itu sendiri dipertanyakan. Memang benar, bahwa awalnya, dalam Cartesian Meditations tujuan Husserl adalah juga: "hendak memperlihatkan kemungkinan konkret gagasan Cartesian tentang filsafat sebagai ilmu yang mampu merengkuh segala pengetahuan berdasarkan fondasi absolut”.

Jadi, Husserl memang berusaha untuk mencari fondasi absolut, suatu fundamentum inconcussum yang murni. Kemudian ia yakin telah menemukannya dalam subjektivitas transendental. Namun akhirnya pelacakan arkeologisnya atas medan pengalaman hidup transendental membawanya pada penemuan terpentingnya, yang kelak justru berbalik menggugat gagasan dasarnya tentang keilmiahan itu sendiri. Penemuan tersebut adalah gagasannya tentang Lebenswelt. 

Apa Itu Lebenswelt? 

Yang dimaksud dengan lebenswelt ini tiada lain adalah aliran kehidupan langsung sebelum direfleksikan, lapisan dasar yang kemudian memunculkan tematisasi dan teoretisasi ilmiah. Ini adalah dunia yang kita hayati sehari-hari secara konkret, dunia yang mendahului pemilahan modern Galilean menjadi subjektif dan objektif (atau juga kualitas sekunder dan kualitas primer). Dengan kata lain, ini adalah dunia prailmiah yang dihayati sehari-hari, yang sebenarnya melandasi segala konstruk ilmiah dan bahkan diandaikan olehnya. Sebagaimana ditekankan oleh Husserl sendiri berkali-kali, segala bentuk konstruk ilmiah hanyalah idealisasi, abstraksi dari dan penafsiran tentang dunia prareflektif kehidupan langsung ini. Dari sebab itu, konsepsi-konsepsi ilmiah haruslah dianggap semata-mata sebagai cara pandang tertentu saja atas dunia tersebut atau cara tertentu untuk menggauli dunia tersebut sesuai dengan tujuan tertentu pula. 

Dengan demikian yang disebut dunia ”objektif” sebetulnya hanyalah penafsiran tertentu saja atas dunia pengalaman hidup sehari-hari alias Lebenswelt yang mengatasi dan mendahului kategori-kategori objektivistik maupun subjektivistik. 

Gagasan tentang dunia-hidup tadi dengan demikian sudah menggerogoti klaim-klaim dari pihak ilmu yang menganggap dirinya bebas praduga dan memiliki fondasi tak tergoyahkan. Husserl sendiri kiranya tak menduga bisa muncul kesimpulan macam ini. Tapi para penerusnya ternyata memang menemukan lebih dari yang sempat terpikirkan olehnya. Konsekuensi radikal dari upaya Husserl untuk menjadikan filsafat sebuah ilmu keras (rigorous science) telah dirumuskan oleh Gadamer: "Pemikiran filosofis bukanlah ilmu sama sekali.....Tak ada klaim tentang pengetahuan definitif kecuali satu: pengakuan atas keterbatasan manusia itu sendiri”.

Dari pemikiran dasar macam ini timbullah beberapa konsekuensi. Jika segala teoretisasi ilmiah hanyalah soal idealisasi dan penafsiran pengalaman prailmiah, bagaimanakah kemudian nasib upaya-upaya ilmiah-filosofis yang berusaha mengungkapkan "kebenaran objektif hal-hal"? Kemudian pula Epistemologi, sebagai disiplin yang hendak menjamin kebenaran objektif setiap ilmu dan setiap wacana (discourse) manusia, haruskah ia didiskreditkan? Lalu segala hal menjadi soal penafsiran belaka? Pada titik inilah terbuka jalan, di satu pihak ke arah pluralisme ekstrem, yang membawa pada relativisme dan nihilisme (Derrida, Lyotard), dan di lain pihak ke arah pentingnya Hermeneutika yang membawa segala persoalan pada wilayah dialog. 

Jalur yang pertama—yang relativistik dan nihilistik—diolah terutama oleh Jacques Derrida. Sambil menarik kesimpulan-kesimpulan radikal dari Nietzsche, Husserl dan Heidegger, lewat post-Strukturalisme, ia sampai pada gagasan, bahwa pada akhirnya bahasa dan kata-kata adalah kosong belaka, dalam arti, mereka sebetulnya tidak menunjuk pada sesuatu apa pun selain pada "makna"-nya sendiri. Dan "makna” itu pun tiada lain hanyalah permainan pembedaan (differance): pembedaan arti yang dimungkinkan oleh sistem lawan-kata. Makna tiada lain hanyalah permainan semiologik, permainan tanda-tanda. Dengan cara ini maka yang biasa disebut “kenyataan”, "Ada” atau "kebenaran”, misalnya, lenyap. Raib pulalah dasar bagi segala jenis filsafat. Bagi Derrida, hermeneutik lalu hanyalah suatu peluang terbuka untuk men-demistifikasikan setiap pretensi filsafat yang menganggap diri memiliki dasar tak tergugat.

Catatan kaki: 

Husserl menguraikan soal "dunia kehidupan” dengan cara mengkontraskannya dengan dunia ilmiah matematis. Metode ilmiah adalah suatu konstruksi yang mengidealisasi, berdasarkan apa yang terlihat. Dan diyakini oleh para ilmuwan bahwa apa yang terlihat itu tetaplah sama kendatipun yang melihat itu bukan ilmuwan. "Dunia kehidupan” bukanlah sebuah dunia idealitas geometris, melainkan sebuah dunia yang bahkan karakter ruangnyapun sebetulnya tak pernah sedemikian jelas dan gamblang. Manakala dalam dunia ilmiah tadi peran intuisi coba dihindari, dalam dunia kehidupan intuisi justru berperan sentral. Dunia kehidupan adalah medan evidensi natural asali. Kepada dunia itulah para ilmuwan harus mengembalikan teorinya untuk diverifikasi. Dunia kehidupan adalah dunia pengalaman langsung sementara dunia ilmiah adalah dunia yang sudah termediasi. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 35-37) 

***

Metafor

Metafor adalah kondisi dasar antropologis manusia. Artinya, manusia hanya bisa memahami dunia dengan cara mempersamakannya dengan hal yang ia pahami, dengan simbol-simbol yang ia ciptakan sendiri alias dengan hal yang bukan dunia itu sendiri. Karena itulah hubungan antara manusia dan dunia pada dasarnya memang sudah selalu bersifat "metaforis”. Maka dalam artian luas ini segala bentuk wacana kebahasaan manusia, termasuk wacana filsafat, dengan sendirinya bersifat metaforis.

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 163) 

***





Selasa, 14 April 2026

,

Mengapa 1966 dan 1998 Berhasil, Sementara yang Lain Gagal?


(Bagian ke-2 dari 5 artikel)


Oleh: Pius Lustrilanang


Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia memperlihatkan sebuah pola yang tidak sepenuhnya konsisten. Mahasiswa berulang kali turun ke jalan, dari masa pergerakan nasional hingga era Reformasi dan sesudahnya. Namun, hanya pada momen-momen tertentu gerakan itu benar-benar menghasilkan perubahan politik yang mendasar. Tahun 1966 dan 1998 menjadi dua titik paling menentukan, ketika tekanan mahasiswa berkontribusi pada runtuhnya kekuasaan. Sementara itu, peristiwa lain—seperti Peristiwa Malari 1974, gerakan 1978, hingga gelombang Reformasi Dikorupsi 2019—meskipun besar, tidak mampu menghasilkan perubahan struktural yang setara. Pertanyaannya kemudian menjadi jelas: apa yang membedakan keberhasilan dari kegagalan itu?


Jawaban pertama terletak pada konteks krisis yang melingkupi gerakan tersebut. Tahun 1966 terjadi di tengah disintegrasi politik dan ekonomi yang parah pada akhir pemerintahan Soekarno. Inflasi melambung tinggi, stabilitas politik terguncang, dan konflik elite mencapai titik yang tidak lagi dapat dikelola. Demikian pula pada 1998, ketika krisis finansial Asia menghantam Indonesia dengan dampak yang sistemik: nilai rupiah jatuh, ekonomi runtuh, dan legitimasi pemerintahan Soeharto terkikis secara drastis. Dalam kedua kasus ini, demonstrasi mahasiswa bukanlah penyebab utama perubahan, melainkan katalis yang mempercepat runtuhnya sistem yang sudah rapuh.


Dalam kerangka Theda Skocpol melalui States and Social Revolutions (1979), revolusi atau perubahan besar tidak terjadi hanya karena mobilisasi massa, tetapi karena adanya krisis negara yang mendalam. Negara kehilangan kapasitas untuk mengelola konflik internalnya, sementara tekanan eksternal memperparah situasi. Dalam konteks ini, mahasiswa menjadi aktor yang mempercepat proses yang sudah berjalan, bukan pencipta kondisi itu sendiri.


Faktor kedua yang menentukan adalah fragmentasi atau kesatuan elite. Pada 1966 dan 1998, elite politik tidak berada dalam kondisi solid. Di akhir era Soekarno, terjadi pergeseran kekuatan antara militer dan kelompok politik lainnya. Pada 1998, dukungan terhadap Soeharto mulai terbelah, termasuk dari dalam lingkaran kekuasaan sendiri. Ketika elite terpecah, gerakan mahasiswa menemukan celah untuk masuk dan memperbesar tekanan. Sebaliknya, pada peristiwa seperti 1974 dan 2019, elite relatif lebih solid. Kritik mahasiswa tidak menemukan sekutu yang cukup kuat di dalam sistem, sehingga tekanan yang muncul tidak berkembang menjadi krisis kekuasaan.


Di sini, analisis Barrington Moore Jr. dalam Social Origins of Dictatorship and Democracy (1966) menjadi relevan. Perubahan politik besar sering kali terjadi bukan semata karena tekanan dari bawah, tetapi karena adanya perpecahan di tingkat elite. Tanpa perpecahan itu, gerakan sosial akan menghadapi tembok yang sulit ditembus.


Faktor ketiga adalah kesederhanaan dan kejelasan tuntutan. Gerakan 1966 dikenal dengan Tritura—tiga tuntutan rakyat yang jelas dan mudah dipahami. Tahun 1998 bahkan lebih sederhana: tuntutan untuk menurunkan Soeharto. Kesederhanaan ini memberikan fokus dan arah yang kuat. Sebaliknya, gerakan lain sering kali membawa banyak isu sekaligus. Pada 2019, misalnya, mahasiswa menolak berbagai rancangan undang-undang dalam satu waktu. Secara moral, tuntutan itu kuat, tetapi secara strategis menjadi terfragmentasi. Tekanan yang tersebar sulit menghasilkan dampak yang terpusat.


Faktor keempat adalah kemampuan membangun aliansi sosial. Pada 1966 dan 1998, gerakan mahasiswa tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan tekanan dari masyarakat luas, termasuk kelompok pekerja, kelas menengah, dan bahkan sebagian elite. Pada 1998, misalnya, krisis ekonomi membuat kemarahan publik meluas, sehingga gerakan mahasiswa menjadi representasi dari keresahan yang lebih besar. Sebaliknya, dalam banyak gerakan pasca-Reformasi, mahasiswa sering kali bergerak tanpa dukungan sosial yang cukup luas. Mereka menjadi suara yang lantang, tetapi tidak selalu menjadi representasi mayoritas.


Faktor kelima adalah karakter negara itu sendiri. Negara pada era Orde Lama dan Orde Baru memiliki kecenderungan represif, tetapi juga relatif kaku. Ketika tekanan mencapai titik tertentu, negara tidak memiliki fleksibilitas untuk beradaptasi, sehingga runtuh secara drastis. Sebaliknya, negara pasca-Reformasi memiliki kemampuan yang lebih adaptif. Seperti dijelaskan oleh Jeffrey Winters dalam Oligarchy (2011), kekuasaan modern cenderung menyerap tekanan, bukan menolaknya secara frontal. Demonstrasi dapat dibiarkan berlangsung, tuntutan dapat sebagian diakomodasi, tetapi struktur kekuasaan tetap bertahan.


Pada akhirnya, perbedaan antara keberhasilan 1966 dan 1998 dengan kegagalan relatif gerakan lainnya terletak pada pertemuan berbagai faktor: krisis negara, perpecahan elite, kejelasan tuntutan, luasnya aliansi sosial, dan karakter adaptif atau kaku dari kekuasaan itu sendiri. Mahasiswa bukanlah satu-satunya aktor, tetapi mereka menjadi penting ketika semua faktor itu bertemu dalam satu momentum.


Dari sini, kita dapat menarik satu kesimpulan yang tidak selalu nyaman: keberhasilan gerakan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh keberanian atau jumlah massa, tetapi oleh konteks yang melingkupinya. Tanpa krisis yang mendalam dan tanpa celah di dalam kekuasaan, gerakan sebesar apa pun cenderung hanya menghasilkan tekanan, bukan perubahan.


Pertanyaan ke depan bukan lagi apakah mahasiswa mampu turun ke jalan—itu sudah terbukti berulang kali. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah mereka mampu membaca konteks secara lebih strategis: kapan harus menekan, di mana celah kekuasaan terbuka, dan bagaimana mengubah energi moral menjadi kekuatan politik yang efektif. Tanpa kemampuan itu, sejarah mungkin akan terus berulang—dengan gerakan yang besar, tetapi hasil yang terbatas.

,

Doa Tarawih

Doa Tarawih :

Doa antar empat rakaat: allahumma inna nas aluka ridhaka wal jannah, wa na'u zubika min syakhatika wannar

Doa setelah tarawih (sebelum witir) : 

الّلهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اللهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ 

Allahumma rabbana taqabbal minna shalatana, wasiyamana, wa ruku'ana, wa sujudana, wa qu'udana, wa tadharru'ana, wa takhasysyu'ana, wa ta'abbudana, wa tammim taqshirana ya Allah ya rabbal 'alamin. 

 اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa wa liwaalidiinaa warhamhumaa kamaa rabbayaanaa soghiiraa. 

Walijami'il mu'minina wal mu'minat... 

Dan seterusnya..

,

BAHASA PEJABAT

TEMPO, No. 7, Tahun XX – 14 April 1990


Oleh: Slamet Djabarudi


Mulai akhir Maret, tarif kereta api disesuaikan. Seperti biasa, disesuaikan berarti dinaikkan. Sangat jarang sesuai berarti turun. Eufimisme seperti itu sudah lama dipakai untuk kata menciduk, menahan, dan yang sering tampil sebagai pengganti adalah mengamankan. Walau sudah sejak tahun 1965-an mengamankan berarti menciduk, makna yang "baru” itu tidak dijelaskan di kamus.

Bila kita rajin menyimak pidato, "bahasa pejabat" dapat ditandai dengan melihat kosakatanya. Kata-kata yang baku adalah pembangunan, tinggal landas, delapan jalur pemerataan, peran serta, swadaya, boleh mengkritik tapi kritik yang membangun, dengan mengabaikan apakah lawan bicaranya tahu maknanya atau tidak.

Sering kita dengar ucapan kita akan pertimbangkan dengan maksud kami akan mempertimbangkan. Kebiasaan memakai kata kita seolah-olah lawan bicara ikut di dalamnya akan tampil utuh bila ucapan dikutip langsung media elektronik. Namun, pemakaian kita belum sejauh remaja di kota besar, yang memakai kita untuk menunjuk saya.

Sejumlah pejabat belakangan juga terdengar mengucapkan meliputi daripada .... Biasanya yang bersangkutan tidak sadar akan kesalahannya mengucapkan daripada karena itu sudah lazim. Gejala serupa muncul di dalam ungkapan dalam rangka, yang oleh pemuka pers Rosihan Anwar digolongkan "kata-kata penat" lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Di dalam tema-tema kegiatan, dalam rangka tidak pernah kehabisan peminat. Malah ada pejabat yang dalam sebuah kalimat pendek memakai dua kali dalam rangka. 

Ada sementara orang yang berkeberatan atas pemakaian berkenan dengan alasan tidak demokratis. Karena bahasa sebagai alat komunikasi, pemakaian berkenan oleh pejabat yang lebih rendah sebagai penghormatan kepada pejabat yang lebih tinggi boleh-boleh saja. Begitu juga perkenan (izin, persetujuan). Yang aneh, bila ada pembawa acara berkata, "Bapak dan Ibu ... berkenan meninggalkan ruangan. Hadirin dimohon berdiri." Timbul kesan seolah-olah ada kejutan, tadinya Bapak dan Ibu... tidak berkenan, tetapi kemudian berkenan. Padahal sang pembawa acara sekadar menyampaikan pemberitahuan.

Karena melihat seringnya pejabat kurang cermat berbahasa, ada yang mengusulkan agar para pejabat tidak usah berbicara di radio dan televisi. Di dalam banyak kesempatan, misalnya Kongres Bahasa Indonesia V, 1988, orang mempersoalkan "bahasa pejabat".

Di Kongres Bahasa Indonesia V itu Menteri Sekretaris Negara Moerdiono diminta membawakan makalah "Berbahasa dengan Baik dan Benar Meningkatkan Citra Pejabat Negara". Atas izin panitia, Menteri mengubah judul itu menjadi "Bahasa Indonesia dalam Tugas Penyelenggaraan Pemerintahan" dengan alasan judul pertama agak teknis dan di luar kemampuannya. Adalah benar jika Moerdiono menulis bahwa masyarakat kita tidak sudi dipermalukan di depan umum.

Kalau kita amati, kritik mengenai "bahasa pejabat", yang notabene pejabat yang sudah lanjut, sebagian diwarnai keinginan mengolok-olok. Ada yang berdalih karena pemimpin jadi anutan, anak-anak akan mengikuti berbahasa secara salah. Memang banyak yang karena kebiasaan melafalkan akhiran kan menjadi ken. Toh anak-anak tetap melafalkan memberikan, misalnya. Kalau ada anak SMP atau SMA melafalkan memberiken, itu bukan karena terpengaruh, tetapi ingin mengolok-olok.

Ketika ada usul mengadakan "penertiban bahasa” di kalangan pejabat tinggi, usul itu "diredam" supaya paling tinggi sampai pada pejabat eselon I saja. Kalau disampaikan secara pribadi, empat mata mungkin, kritik itu lebih mengenai sasaran. Umpamanya di kalangan sesama menteri. Sayangnya, salah seorang pengusul "penertiban bahasa" ternyata bekas menteri.

Bila usul "penertiban bahasa" itu realistis, kritik tidak akan seramai yang ada selama ini. Harus diakui bahwa pembakuan lafal (atau yang mendekatinya) sangat sulit, lebih sulit daripada pembakuan ejaan, yang ternyata juga sangat amat susah. Orang yang sudah lama di Jakarta pun ada yang tetap melafalkan pendidi'an dan memili'i alih-alih pendidi-kan dan memili-ki. 

Tidak heran kalau ada penyiar TVRI yang selalu melafalkan mengena'kan dengan suara k rangkap seperti meletakkan. Bahkan ada penyiar lain yang selalu salah memberi tekanan pada kata juga, yakni juga lebih menempel pada subyek daripada menempel ke predikat. Umpamanya, "Presiden juga / mengadakan temu wicara" padahal yang lebih tepat "Presiden / juga mengadakan temu wicara", sebagai penjelas bahwa ada kegiatan lain, misalnya meresmikan proyek.

"Penertiban bahasa", khususnya lafal, untuk Angkatan 45 dapat tidak usah diprioritaskan. Yang lebih penting, dan lebih mungkin dilakukan, adalah "penertiban bahasa" untuk generasi penerus, dan menghindarkan pejabat dari suku lain mengikuti lafal yang salah hanya karena diucapkan oleh pejabat yang lebih tinggi. 

"Penertiban bahasa" untuk pejabat tentu tidak boleh diartikan bahwa semua pejabat berbahasa buruk. Menteri Moerdiono dalam makalah itu, untuk mengutarakan hasil mengamati, memunculkan kata amatan, yang selama ini sering kita pilih bentuk lainnya, pengamatan. Pilihan amatan itu benar, ada di kamus, dan mengilatkan seperti "bahasa pejabat bahasa", sejalan dengan Prof. Dr. Anton Moeliono yang lebih memilih simpulan (hasil menyimpulkan) daripada kesimpulan.

"Bahasa pejabat bahasa" sering menimbulkan kesan khas, resmi. Dalam kegiatan sehari-hari di Pusat Bahasa acap terdengar ucapan "rapat nanti pukul 10.00", yang kalau di kantor lain akan terdengar "rapat nanti jam 10.00".

Ada yang usul agar Pusat Bahasa dibubarkan. Bagaimana kalau dibesarkan? Kalau tidak organisasinya, ya kewenangan teknisnya. Penyuluhan kepada lembaga-lembaga tinggi memang perlu, tetapi yang tidak kalah penting adalah aktivitas secara praktis. Misalnya naskah pidato dan makalah yang akan disampaikan para menteri dan pejabat eselon I diserahkan ke Pusat Bahasa untuk disunting. Bila naskah sangat mendesak, pesawat facsimile telah ada. Dengan hasil suntingan itu, para staf dan pejabat yang bersangkutan lebih tahu "bahasa yang baik dan benar", dan makin terjaga bahasanya, paling tidak bahasa tulisnya.


Sumber: TEMPO, No. 7, Tahun XX – 14 April 1990


TERBARU

MAKALAH