alt/text gambar

Sabtu, 21 Februari 2026

, ,

HU…!


Oleh: Mohamad Sobary

(Kompas, 12 Februari 1995, “Asal Usul”)


Ketika ketegangan hubungan Pajang-Jipang memuncak, Arya Penangsang memutuskan lebih baik persoalan negara diselesaikan dengan adu jago. Jago-jagonya jelas: Pajang diwakili rajanya, Sultan Hadiwijaya alias Jaka Tingkir; dan Jipang diwakili adipatinya, Arya Penangsang. Bayangan penyelesaiannya pun tuntas: siapa gugur, otomatis kehilangan hak atas tahta.


Ini basa-basi Penangsang agar tampak ksatria dalam menyelesaikan masalah. Dia sudah pernah mengirim pembunuh untuk menghabisi Sultan Hadiwijaya tapi gagal. Kemudian ia mengusulkan kepada gurunya—yang adalah juga guru Sultan Hadiwijaya—Sunan Kudus, untuk turun tangan sendiri membunuhnya.


"Boleh ya Romo?" bujuk Penangsang. Sunan Kudus menarik napas. Wali senior dan ahli strategi ini tersudut dalam dilema. Ia tahu Penangsang yang berhak atas tahta, tapi ia pun tahu Penangsang tak cocok menjadi raja.


la memang memihak Penangsang. Tapi Tingkir lebih menarik: ia murid juga, dan cerdas, dan pandangan ketatanegaraannya luas. Tingkir lebih becus memerintah. Lagi pula, kalau mereka berlaga, Sunan Kudus tahu Penangsang pasti kalah.


"Bagaimana Romo?" desak Penangsang.


Sunan Kudus mengiyakan dengan berdebar-debar. Maka, secara tersamar ia membolehkan Penangsang berlaku curang.


"Tapi begini, Penangsang," kata Sunan Kudus. "Kamu harus tanggap sasmita sandi."

"Baik Romo," Penangsang gembira.


                                          ***


Momentum pun mematangkan diri. Keduanya bertemu. Setelah saling sindir di pendapa Panti Kudus, dengan halus Tingkir mengejek,

"Dimas, aku kembalikan pisau dapur ini. Beberapa hari yang lalu ada penjahat ingin menusukku dengan benda tumpul ini. Ya terang tidak mempan. Bukankah ini milikmu?"


Penangsang tersentak. Ia merasa diremehkan. Keris Kiai Setan Kober, miliknya, bukan sembarang pusaka. Pembunuh tolol itu ternyata tak punya nyali. Dan Kiai Setan Kober dianggap pisau dapur? Kurang ajar. Trembelane, pikir Penangsang.


"Kangmas, ini pusaka sakti. Kalau aku yang menghunjamkan- nya ke dadamu, jebol, Kangmas,"

"Ah, ampuh ini, Kiai Crubuk ini," kata Tingkir.

"Ampuh ini," jerit Penangsang.


Keduanya sudah marah. Keris saling ditodongkan. Bau kematian mengambang di ruangan itu.


Dalam situasi kritis itu muncul guru mereka. Suaranya rendah, langsung menyusup ke ulu hati.


"Penangsang. Sarungno (sarungkan)."

"Tidak guru. Aku bunuh dia."'

"Sarungno!"

"Aku bunuh dia."

"Aku bilang, sarungno!"


Kiai Setan Kober disarungkan ke dalam rangkanya. Tingkir melakukan hal yang sama pada pusakanya.


                                                 ***


Setelah Tingkir pulang, Penangsang protes, mengapa gurunya melindungi Tingkir. Dan sang guru menjelaskan, bahwa "sarungno" tadi itu sasmita sandi. Bukan disarungkan ke dalam rangkanya, melainkan, seharusnya, langsung disarungkan ke dada Tingkir.


"Utekmu kuwi landep dengkul (otakmu lebih tumpul dari dengkulmu)," kata Sunan Kudus.


Kesalahan serupa terjadi antara ular dengan Sunan Kalijaga. Syahdan, menurut dongeng Mas Harry Tjan Silalahi, ada katak dicaplok ular. Katak menjerit-jerit. Sunan Kalijaga berteriak, 

"Hu...!"


Ular yang ketakutan melepas si katak. Ular protes pada Nabi Sulaiman, mengapa ia tak boleh makan katak? Lantas makan apa? 


"Mengapa kau larang dia makan katak? Itu sudah kodrat alam," tanya Nabi Sulaiman. 

"Siapa yang melarang? Saya bilang "hu", artinya "huntalen" (telanlah). Ular tolol," kata Sunan Kalijaga.


Katak, yang masih di situ protes, kenapa Kanjeng Sunan membiarkan dirinya ditelan ular. Itu tidak adil, karena katak lemah tak  berdaya.


"Saya tidak terima," kata si Katak.


"Husy, diam kamu," bisik Sunan Kalijaga. "Ular salah paham, dikiranya "hu" itu artinya "huculno" (lepaskan). Dia takut kepadaku  dan kau dilepaskan. Sudah pergi, yang penting kamu selamat, bukan?"


                                              ***


Dugaan saya, "hu" itu pada mulanya "sabda alam" yang netral. Alam tak punya kepentingan, tak punya pamrih. "Hu" pendeknya suara ilahiah buat menjaga perdamaian, atau upaya menjaga harmoni semua pihak., agar sesama titah tak saling menginjak, tak saling menindih.


Di tangan Sunan Kalijaga, "hu" masih berwarna alam. Ia tak dibebani kepentingan apa pun. Tapi dalam politik kita? Tergantung. Seorang pemimpin sejati akan berbuat seperti Sunan Kalijaga juga. Ia tak akan membiarkan yang kuat (ular) menelan yang lemah (katak). Ia tak tega membiarkan umatnya morat-marit, saling cakar, saling jegal. Keutuhan sebagaimana alam menghendaki, diwujudkan dalam kepemimpinannya.


Tapi pemimpin sejati tidak banyak. Yang banyak ialah pemimpin yang pandai "bermain". Kalau musuhnya ditelan orang, ia akan berkata: "hu", yaitu "huntalen" betul. Dengan begitu, satu lawan sudah tewas. Jalan kekuasaan makin lapang.


Kalau ada orang mendapat milik besar, atau menduduki posisi baik, dia berkata "hu" (huculno). Setelah dilepas, dia "huntal" sendiri berapa pun banyaknya.


Dalam percaturan politik kita, yang muncul bukan "hu" netral, melainkan "hu" yang memihak. Wasit yang berteriak "hu" pun memihak. Dia bisa memihak atasan, teman, saudara, orangtua, adik, keponakan, anak-anak, dan cucu-cucu.


Di masyarakat kita, "hu" sudah kotor. "Hu" sudah tercemar. Kita lengah. Kita tak bisa menjaga prinsip netralitas "hu". Maka, kita harus bekerja keras mencari kembali "hu" yang netral. Biarlah "hu" berdaulat di atas kita semua.


"Hu siapa? Huculno?"

"Bukan." 

"Huntalen?" 

"Bukan." 

"Lalu siapa?"

"Hukum."


Kita menghendaki kedaulatan hukum. Sekarang juga.***


Mohamad Sobary


Sumber: Kompas, 12 Februari 1995

, ,

 TEORI KONSPIRASI DAN KRISIS MONETER


Oleh:Muhammad Chatib Basri dan Rizal Mallarangeng *)

(D&R, No. 26/XXIX/14 Februari 1998)


Saat kerusuhan sosial merebak tahun lalu, kita mendengar munculnya banyak spekulasi yang mencoba menggambarkan adanya tangan-tangan tersembunyi yang ingin memojokkan kelompok tertentu atau ingin menjatuhkan pemerintah. Spekulasi ini bersumber pada sebuah teori yang sederhananya dapat disebut sebagai teori konspirasi. Kini, dalam menjelaskan gejala terpuruknya rupiah secara fantastis, teori semacam itu muncul lagi, mungkin dengan popularitas yang makin meningkat.


Peristiwa yang ingin dijelaskan berlainan, tetapi karakteristik penjelasannya sama saja. Dalam hal ini gejala yang obvious, yaitu kerusuhan sosial dan krisis moneter, dianggap bersumber pada sesuatu yang sama sekali berbeda, remang-remang, dan bersifat politik. Adanya unsur politik ini diyakini sebagai indikasi yang menunjukkan keterkaitan antara gejala yang ingin dijelaskan, explanandum, dan pergesekan kekuasaan di tingkat elite.


Salah satu contoh teori konspirasi demikian bisa dilihat pada tulisan Kwik Kian Gie di harian Kompas edisi 26 Januari yang berjudul "Utang Swasta atau Politik?" Di sini Kwik menyanggah penjelasan konvensional yang menyatakan bahwa merosotnya nilai rupiah diakibatkan oleh pemburuan dolar untuk membayar utang swasta yang sudah atau akan jatuh tempo dalam waktu dekat ini. Buat dia, dengan nilai dolar yang melonjat drastis, kaum swasta kita sudah tidak mampu dan tidak mau membayar utang mereka. Jadi, tidak benar kalau mereka sekarang memburu dolar. Dan karena itu tidak benar pula jika dikatakan bahwa besarnya jumlah utang swasta yang bermasalah berkorelasi langsung dengan proporsi jatuhnya rupiah.


Lalu, faktor apa yang menjatuhkan rupiah? Bagi Kwik, faktor ini harus dicari pada political invisible hands, “... Saya mulai curiga," tulisnya, "bahwa ada tangan jahil yang memang mau merusak ekonomi Indonesia dengan tujuan politik... Hanya apa sasarannya, dan siapa pelakunya, itulah yang sama sekali gelap buat saya.”


Selain pada Kwik, contoh lain dari teori konspirasi dapat pula dilihat pada penjelasan Anggito Abimanyu. Doktor ilmu ekonomi dari Universitas Gadjah Mada ini, dalam sebuah wawancara di harian Republika edisi 24 Januari ("Soal Permainan Politik di Balik Krisis Rupiah, Mereka Penghianat"), berbicara sedikit lebih teperinci ketimbang Kwik. la berpendapat bahwa aktor-aktor di balik krisis rupiah adalah "sekelompok konglomerat” yang “sengaja sengaja mempermainkan rupiah untuk tujuan politik.”


Siapa mereka itu? "Mereka... berasal dari para pengusaha domestik yang selama ini mendapat kemudahan dan perlindungan pemerintah.” Mereka, menurut Abimanyu, tidak bekerja sendiri, tetapi sudah menjalin semacam jaringan kerja sama dengan para fund managers di luar negeri.


Tujuan para konspirator itu, bagi Abimanyu, sudah terang- benderang. Mereka sedang memaksakan kehendaknya untuk mencalonkan seseorang untuk menjadi wakil presiden, bahkan kalau bisa calonnya bisa masuk menjadi presiden."


Buktinya?


Kalau teori konspirasi seperti itu benar, dalam banyak hal krisis moneter yang kini kita alami tidak lagi membingungkan. setidaknya secara konseptual. Masalahnya sudah jelas, dan untuk menyelesaikannya kita tinggal mencari para konspirator tersebut, cekal mereka, adili mereka. Selesai. Dan untuk itu pemerintah tentu tidak perlu minta bantuan Dana Moneter Internasional (IM- F) dan tidak perlu pula repot-repot melakukan reformasi ekonomi.


Tapi tentu saja akal sehat mengharuskan kita untuk bertanya: betulkah teori konspirasi itu? Sampai seberapa jauh "proposisi” yang dikandungnya memang bisa dianggap sebagai kebenaran?


Dalam soal pembuktian, kalau kita telusuri lebih jauh tulisan Kwik dan pendapat Abimanyu dalam wawancara itu, akan terlihat celah yang menganga lebar. Penjelasan mereka memang "maut", tapi sayangnya disertai oleh pembuktian yang nyaris nihil dan sangat bersifat sporadis.


Abimanyu, misalnya, begitu saja mengatakan bahwa ada "sekelompok konglomerat" yang bermain di belakang kemelut rupiah. Tapi, siapa mereka sebenarnya, kapan mereka melakukan semua itu, dengan apa, bagaimana, di mana? Dari mana ia tahu bahwa saat ini ada megaproyek politik dari sejumlah pengusaha domestik yang berkerja sama dengan para fund manager global?


Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, Abimanyu tidak memberi jawaban sedikit pun Pada Kwik kita tahu bahwa di salah satu bagian tulisannya ia telah terlebih dahulu mengakui bahwa ia sebenarnya masih tidak mengerti siapa dan apa tujuan para konspirator itu. Dia, dalam kata-katanya sendiri, masih berada, dalam "gelap". Dan, dengan cara ini Kwik sesungguhnya sudah menutup kemungkinan bagi kita untuk bertanya lebih jauh tentang bukti-bukti yang dia miliki.


Jadi, ibarat seorang penulis novel detektif, Kwik meminta para pembacanya mereka-reka sendiri berbagai fakta yang bisa dimasukkan ke dalam konstruksi teori konspirasi dia.


Ditinjau dari segi asumsi dasar, kualitas serta status penjelasan Kwik dan Abimanyu juga tidak jauh berbeda. Dalam hal ini yang paling menarik untuk kita perhatikan adalah teori Kwik.


Seperti yang terbaca dalam tulisannya, Kwik menjelaskan bahwa dalam melakukan aksinya, cara yang digunakan oleh sang Konspirator adalah dengan menjadi price leader bagi dolar di pasar valas di Jakarta dan Singapura. Dengan dana hipotetis sekitar 100 juta dolar, si "penggoyang politik" ini merontokkan nilai rupiah dengan mengontak agennya di sebuah bank Singapura untuk membeli dolar dengan nilai lebih tinggi daripada harga pasar.


Katakanlah harga di pasar Rp 13.000 per satu dolar. Dengan berani sang Konspirator memberi sinyal bahwa ia akan membeli dolar seharga Rp 14.000. "Harga ini," tulis Kwik, "kemudian diteruskan ke Reuters. Reuters meneruskannya ke seluruh dunia, sehingga semua pedagang valas di dunia melihat di monitorya bahwa kurs dolar sudah melonjak dari Rp 13.000 menjadi Rp14.000."


Jika sudah begini, sang Konspirator telah berhasil menciptakan kondisi keseimbangan pasar yang baru, dan orang pun ramai-ramai akan mengikutinya. Hal semacam itu, menurut Kwik, bisa dilakukan berkali-kali dalam jangka waktu yang cukup lama sebelum jumlah dolar yang hipotetis tadi terkuras habis. Dengan model penjelasan begini, memang terlihat kejelian Kwik dalam memahami bagaimana mekanisme pasar uang dan aktor-aktor di dalamnya bekerja. Namun, kita harus ingat bahwa model demikian hanya bisa masuk akal jika dua asumsi terpenuhi.


Yang pertama: volume pasar uang relatif kecil. Jika volume pasar uang relatif kecil, sang Konspirator memang bisa mempengaruhi pasar dengan basis modal yang tak terlalu besar. Kalau volume pasar relatif besar, modal yang dibutuhkan berjumlah terlalu fantastis sehingga akan sulit dibayangkan bahwa ada pengusaha domestik kita yang mampu melakukannya dalam kondisi seperti sekarang.


Yang kedua: ketidaknormalan kondisi pasar. Dalam hal ini para pelaku pasar bersedia membeli dolar—bukan hanya menjual—pada harga lebih tinggi sebagaimana yang "diminta" oleh sang Konspirator karena adanya kondisi ketidakpastian yang relatif cukup besar. Dalam kondisi ketidakpastian, bila para pelaku pasar mengambil sikap risk averse, mereka memang akan cenderung mengikuti begitu saja tindakan para pelaku lainnya. Dan ini tidak mungkin terjadi terus-menerus, terbukti dengan swap rate yang menjadi negatif ketika kurs dolar mencapai Rp 16.000. 


Katakanlah kedua asumsi demikian memang terpenuhi, pertanyaan yang harus segera dijawab adalah apakah kita serta merta bisa mengambil kesimpulan bahwa motif di balik semua itu adalah motif politik?


Dalam kondisi pasar uang yang volumenya relatif kecil, seperti yang juga ditekankan oleh Kwik, sang Konspirator tidak perlu meletakkan seluruh asetnya untuk mempengaruhi pasar. Jika harga telah mencapai titik keseimbangan baru yang dia inginkan, misalnya Rp 14.000, nilai aset dia akan meningkat karena menguatnya dolar. Jadi, bukan tidak mungkin bahwa kerugian yang diderita oleh sang Konspirator justru akan berjumlah lebih kecil ketimbang keuntungan yang diperolehnya. Artinya, ia, dengan berbuat sedemikian rupa untuk menurunkan rupiah, akan memperoleh keuntungan ekonomi yang riil. Jika memang demikian, motif para pelaku yang ingin merusak nilai rupiah menjadi sangat jelas, yaitu sekadar mencari keuntungan ekonomi.


Dengan kata lain, dalam model penjelasan Kwik, sang Konspirator—kalau ia betul-betul ada—sesungguhnya tidak harus bermotif politik. Jika ia bermotif politik, penjelasan yang diberikan haruslah spesifik Indonesia, lalu pertanyaan yang harus dijawab adalah mengapa pola yang sama—walaupun relatif sedikit lebih ringan—terjadi juga di Korea, Thailand, Malaysia bahkan sempat menyentuh Hong Kong dan Amerika Serikat sendiri.


Karena itu pula kita harus kembali lagi pada persoalan pembuktian. Model penjelasan Kwik tidak dengan sendirinya menggambarkan bahwa sang Konspirator memang bertujuan politik dan ingin menjatuhkan pemerintah. Tanpa bukti-bukti yang meyakinkan, dibutuhkan semacam leap of faith yang cukup dahsyat untuk mengambil kesimpulan seperti itu.


Di samping berbagai kelemahannya, teori konspirasi seperti yang terdapat pada tulisan Kwik dan wawancara Abimanyu memang memiliki daya tarik tersendiri. Dalam situasi krisis yang membingungkan, teori ini menawarkan sebuah kepastian dan kesederhanaan berpikir.


Apalagi, sejak tahun-tahun terakhir ini, kita agaknya tidak lagi mampu dan mau melihat bahwa masih banyak persoalan yang tidak harus bersangkut-paut dengan politik dan motif kekuasaan. Kita, dengan kata lain, sedang terjebak dalam sebuah situasi yang digambarkan dengan baik oleh sebuah film yang pernah populer beberapa tahun lalu. 


Dalam Forrest Gump, film itu, Forrest si Lugu memutuskan untuk berlari selama tiga tahun. Para wartawan pun bertanya kepada Forrest, "Apakah Anda berlari untuk perdamaian? Apakah Anda sedang mengejar suatu rekor?" Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada Forrest: tak seorang pun percaya bahwa ia berlari sekadar karena ia ingin berlari.


Seperti para wartawan itu, kita saat ini terlalu mudah untuk berwasangka terhadap berbagai macam hal. Akibatnya: segala macam gejala yang muncul dalam masyarakat dengan cepat kita masukkan dalam format skenario teori konspirasi, termasuk gejala krisis moneter yang saat ini kita hadapi.


*) Muhammad Chatib Basri adalah staf pengajar FEUI dan Rizal Mallarangeng adalah mahasiswa S-3 di Fakultas Ilmu Politik, Ohio State University, AS


Sumber: D&R, No. 26/XXIX/14 Februari 1998

,

Eksistensialisme, Apa Itu?


Sartre menegaskan bahwa manusia tidak dilahirkan dengan “hakikat” tetap—kita tidak punya blueprint moral atau esensi terdahulu. Justru karena “eksistensi mendahului esensi”, kita lahir dulu, lalu aktif menentukan diri kita melalui pilihan dan tindakan kita sendiri. Dengan kata lain, kita bukan sesuatu yang sudah ditentukan; kita menjadi sesuatu lewat keputusan kita. Ini berarti kebebasan bukan sekadar pilihan yang tersedia, melainkan fundamental bagi eksistensi manusia sehingga setiap tindakan adalah penegasan diri sendiri.

Sumber: 

Fb (Balai Buku Progresif) 

,

Anggap Saja Kita yang Salah Dengar


Oleh: Nadirsyah Hosen


Ada satu fase dalam hidup saya ketika perhatian saya terhadap bacaan al-Qur’an begitu tajam, bahkan mungkin terlalu tajam. Saya tahu, salah harakat bisa mengubah makna. Salah i‘rab bisa menggeser pesan ayat. Maka setiap kali ada yang membaca, telinga saya siaga.

Bukan untuk tenggelam dalam makna.

Bukan untuk meresapi getarannya.

Tapi untuk mengaudit: tajwidnya benar atau tidak? Makhrajnya tepat atau meleset? Nahwunya rapi atau berantakan?

Suatu maghrib, di sebuah masjid, saya menumpang shalat. Tapi tak ada imam tetap. Tiba-tiba seorang bapak berdiri di depan. Shalat pun dimulai.

Dan… bacaannya tidak sempurna. Ada yang kurang tepat. Ada yang terasa janggal di telinga saya yang waktu itu merasa “terlatih”.

Sepanjang jadi makmum, hati saya ngedumel. Fokus saya bukan pada Allah. Bukannpada shalat saya. Bukan pada makna ayat. Tapi pada “kesalahan” sang imam.

Begitu salam kanan-kiri selesai, saya langsung bangkit. Ke pojok masjid. Saya ulangi shalat saya.

Di rumah, dengan sedikit rasa bangga, saya cerita pada Abah. Bahkan sambil menirukan bacaan imam tadi dengan nada meremehkan.

Abah hanya tersenyum.

“Lain kali, nggak usah kamu ulangi shalat kamu.”

“Tapi bacaannya kan nggak benar, Abah….shalatnya gak sah”

Beliau menjawab pelan, hampir seperti berbisik:

“Anggap saja kamu yang salah dengar tadi.”

Jawaban itu sederhana. Tapi menampar halus ego saya.

Sejak itu saya belajar satu hal: tidak semua yang terdengar salah harus segera dihakimi. Tidak semua yang terasa kurang tepat harus langsung dikoreksi dengan rasa lebih suci.

Saya mulai fokus pada bacaan saya sendiri. Pada kekhusyukan saya sendiri. Pada makna shalat yang sering justru hilang karena sibuk menjadi “hakim” bagi orang lain.

Kini prinsip itu saya bawa ke banyak ruang kehidupan:

Kalau melihat orang lain salah,

anggap saja mungkin kita yang salah lihat.

Kalau mendengar orang lain keliru,

anggap saja mungkin kita yang salah dengar.

Bukan untuk membenarkan kesalahan.

Bukan untuk menormalisasi kekeliruan.

Tapi untuk melatih hati agar tidak tergesa-gesa menghakimi.

Untuk menjaga diri dari merasa lebih benar.

Dan untuk mengingat bahwa memperbaiki diri sendiri jauh lebih mendesak daripada sibuk mengaudit orang lain.

Kadang yang perlu kita luruskan bukan bacaan imam,

tapi cara pandang kita sendiri.

Bukankah cara syaitan menggoda itu seperti ini: ketika ia gagal membuat kita melakukan kesalahan, ia akan sukses membuat kita merasa paling benar sendiri?


Nadirsyah Hosenseorang kiai dari organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Pada 2005-2023, dipercaya sebagai Ra'is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru. Mengarang buku "Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era", (Republic of Letters Publishing, Dordrecht, The Netherlands, 2010); "Shari'a and Constitutional Reform in Indonesia" (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2007); dan menulis buku bersama Ann Black and Hossein Esmaeili yang bejudul" Modern Perspectives on Islamic Law" (Edward Elgar, UK, 2013 dan 2015)

Hatta Rajasa: Putra Kelahiran Palembang yang Sempat Kandas Jadi Dosen, Hingga Menjelma Jadi Tokoh Kunci Perekonomian Nasional


Dibalik sorot lampu panggung politik nasional yang mentereng, tidak banyak yang tahu bahwa Muhammad Hatta Rajasa adalah seorang pejuang keluarga sejati. Sosok yang lahir di Palembang pada 18 Desember 1953 ini merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Tumbuh dalam keluarga besar dengan disiplin tinggi dari sang ayah yang seorang tentara, Hatta sudah ditempa untuk hidup mandiri sejak usia SMP dan SMA dengan tinggal terpisah sejauh 100 km dari orang tuanya.

Titik awal karier Hatta Rajasa sebenarnya jauh dari hiruk-pikuk politik. Setelah berhasil menuntaskan pendidikan di Teknik Perminyakan ITB, impian terbesarnya hanyalah satu: menjadi seorang dosen. Ia ingin mendedikasikan hidupnya di dunia akademis. Namun, realita sebagai anak tertua kedua dengan 11 orang adik memaksanya mengubur dalam-dalam impian tersebut. Ia sadar bahwa kebutuhan ekonomi keluarga jauh lebih mendesak, sehingga ia harus memilih jalan yang lebih menantang di lapangan.

Ia mengawali langkah profesionalnya di usia 24 tahun sebagai seorang teknisi lapangan di PT Bina Patra Jaya. Tidak ada kemewahan di awal kariernya; ia harus berjibaku di lapangan pengeboran minyak, sebuah dunia yang keras dan penuh risiko. Namun, kedisiplinan yang diajarkan ayahnya membuat karier Hatta melesat. Hanya dalam waktu singkat, ia dipercaya menjadi wakil manajer teknis di PT Meta Epsi, hingga akhirnya menduduki kursi Presiden Direktur PT Arthindo selama 18 tahun (1982-2000).

Titik baliknya terjadi saat Indonesia memasuki gerbang Reformasi. Kesuksesannya di dunia bisnis perminyakan tidak lantas membuatnya lupa pada naluri aktivis yang ia miliki sejak di ITB dan Masjid Salman. Hatta memutuskan untuk terjun ke dunia politik melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Keputusannya ini menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas, di mana ia terpilih menjadi Ketua Fraksi Reformasi DPR RI hasil Pemilu 1999, membuktikan bahwa kemampuan komunikasinya sangat diperhitungkan.

Karier eksekutifnya kemudian meledak dengan menjadi menteri di berbagai era kepemimpinan. Mulai dari Menristek, Menteri Perhubungan, hingga Menteri Sekretaris Negara. Keahlian lobinya yang luar biasa membuatnya menjadi "jembatan" yang selalu diterima oleh setiap presiden yang berkuasa. Puncaknya, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2009-2014), sebuah posisi krusial yang menjadikannya arsitek utama kebijakan ekonomi negara di masa itu.

Kisah hidup Hatta Rajasa adalah potret nyata tentang sebuah pengorbanan. Dari seorang pemuda yang terpaksa melupakan cita-cita menjadi dosen demi menyekolahkan adik-adiknya, ia justru dibawa oleh takdir untuk menjadi pengambil kebijakan tertinggi bagi jutaan rakyat Indonesia. Perjalanannya mengajarkan kita bahwa tanggung jawab terhadap keluarga seringkali menjadi pembuka jalan menuju kesuksesan yang jauh lebih besar dari apa yang kita impikan.

Sumber: VIVA - "Muhammad Hatta Rajasa"


,

Tafakur menurut Tinjauan Atom Fisika

 

Di antara umat manusia terdapat sejumlah orang yang memiliki keinginan demikian keras untuk hidup suci dengan tujuan untuk memperoleh rahmat Tuhan. Keadaan yang demikian dinamakan aspirasi.

Mereka lupa akan diri sendiri. Selain pikirannya yang terputus dengan dunia luar, seluruh pribadinya pun memutuskan hubungannya dengan dunia luar dengan cara mengasingkan diri di puncak atau di lereng gunung. Dengan jalan tafakur (contemplatie) pikirannya dipusatkan ke arah yang mutlak. 

Pada suatu ketika, apabila dengan jalan tafakur pikirannya telah mencapai taraf mutmainah atau tenang dan damai (zielevdere), secara tiba-tiba pikirannya seolah-olah lenyap. Dengan lenyapnya pikiran maka lenyap pulalah perasaan dan Akunya. 

Keadaan yang demikian dikatakan oleh Imam Ghazali sebagai "De hoogste toestand is het weg zijn van de gedachte van weg zijn.” 

Adapun keterangan menurut atom fisika adalah sebagai berikut: 

Sebagaimana yang telah diuraikan, menurut pendapat Cartesius, elektron pada hakikatnya terdiri dari putaran aether, di mana tepinya masih berhubungan dengan bahan yang mengadakan putaran tersebut. Adapun bahan aether tersebut adalah zat mutlak. Dengan kata lain, setiap detik elektron dapat menambah dirinya dengan tenaga, atau dengan kata lain elektron selalu bergerak, bergetar dan berputar tanpa henti-hentinya. Jika putaran aether yang dinamakan elektron melakukan putaran berdasarkan kemauannya sendiri, maka elektron akan lenyap dan kembali menjadi aether, seperti juga halnya dengan putaran di dalam air yang kembali menjadi air jika air kembali menjadi tenang dan diam.

Pikiran kita tersusun dari elektron-elektron yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain melalui serat-serat saraf di dalam otak, lebih-lebih jika pikiran kita setiap detiknya selalu ditambah dengan rangsangan baru yang berupa tangkapan pancaindera. 

Apabila kita mulai dengan tafakur, mati raga dengan jalan menutup kesembilan lubang di dalam tubuh kita (di dalam bahasa Jawa: tafakur, pejah raga, nutupi babahan hawa sanga'' (R. Ng Ranggowarsito, Serat Wirid Idayat Jati, hlm. 18), dan dengan keras kita menuntut kehidupan suci, sedangkan seluruh pikiran kita bebaskan dari semua keinginan dan kemurkaan, serta kita pusatkan ke arah pangkal segala yang ada atau asas pusat (Het Centrale Beginsel), maka pada suatu ketika kita akan memperoleh ketenangan, ketenteraman dan rasa damai di batin kita, karena roh atau pikiran kita mencapai taraf mutmainah (roh dalam keadaan istirahat). Elektron-elektron di dalam otak yang menyusun pikiran kita berhenti berputar dan kembali menjadi aether. Dengan demikian lenyaplah semua elektron yang menjadi pikiran termasuk pikiran itu sendiri, terutama pikiran yang mengandung tangkapan pancaindera, yaitu pikiran yang berupa materi. Dengan berubahnya elektron-elektron menjadi aether, terlepas pulalah tenaga yang menggerakkan elektron-elektron, baik gerakan elektron yang berputar maupun gerakan elektron yang kian kemari. Tenaga yang dilepaskan ini diterima oleh otak sebagai sinar yang dinamakan sinar batin (inwendig licht) sebagaimana yang dimaksudkan oleh Dr. Bucke (Kosmisch Bewustzijn, hlm. 89), dan dinamakannya her subjectieve licht. 

Aether bekas elektron-elektron badan pikiran tadi (mentaal lichaam) lalu masuk ke dalam budi dengan menggunakan pancaindera batin (sensus interior). Dengan pancaindera batin ini kita dapat menyaksikan hakikat semesta alam secara langsung melalui peristiwa getaran (resonansi). Adapun hakikat semesta alam ini adalah intelek pertama dari Ibn' Al Arabi atau Brahman dalam Hiduisme. “Het Woord” menurut Evangelis Johannes dan Kun dalam Al Our'an. Pikiran yang pada mulanya terdiri dari elektron-elektron sekarang menjadi pikiran yang terdiri dari butir-butir aether di dalam budi. Butir-butir aether ini bergetar dan getarannya dapat dirasakan. Daya elektromagnetik menyampaikannya dengan perantaraan getaran yang juga membutuhkan zat pembawa. 

Seperti halnya pada daya elektromagnetik, di mana zat pembawanya terdiri dari zat yang lebih halus daripada elektron-elektron yang menjadi pangkal daya elektromagnetik itu sendiri, maka daya getaran aether pun harus mempunyai zat pembawa yang lebih halus daripadanya, yakni zat mutlak. -- Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, h. 266-268


TERBARU

MAKALAH