alt/text gambar

Minggu, 14 Juni 2026

,

"Kesesuatuan dari Ketiadaan" (The Somethingness of Nothingness)


Barangkali ada yang tertarik mendengarkan pandangan Heidegger mengenai ketiadaan (das Nichts). Ini adalah rekaman webinar Circle Indonesia pada Sabtu, 8 Juni 2024 lalu.

Ketiadaan adalah struktur terdasar realitas. Ketiadaan menyingkapkan dirinya melalui pengalaman kecemasan (Angst, anxiety). Kecemasan itu menyangkut keberadaan kita di dunia (In-der-Welt-sein), maksudnya dunia yang bermakna. Dunia adalah struktur kebermaknaan. Itulah pengertian dunia dalam fenomenologi.

Dalam kecemasan, dunia yang sebelumnya bermakna (meaningful), tampak tidak bermakna (meaningless). Kecemasan menyingkapkan ketidakbermaknaan dunia. Itulah yang dimaksud oleh Heidegger dengan ketiadaan.

Kecemasan yang menghadirkan ketiadaan itu bagaikan disrupsi ontologis (ontological disruption) dari dunia keseharian yang kita akrabi. Melalui kecemasan kita seakan-akan dibawa ke titik nol, atau ke "situasi batas" (Grenzsituation, menurut Karl Jaspers). Kita melihat bahwa keseluruhan realitas, bahkan diri kita sendiri, ternyata ditopang oleh ketiadaan.

Respons orang terhadap situasi batas itu bermacam-macam. Misalnya bunuh diri, karena ia mengalami bahwa dunia ini tidak lagi bermakna. Tapi bisa juga pengalaman eksistensial di situasi batas itu mendorongnya melakukan leap of faith (lompatan iman), berpegang pada Tuhan atau pegangan lainnya, misalnya tradisi, sains, dll. Keluar dari situasi batas menghasilkan "hidup baru".

Ketiadaan itu lebih primordial dibandingkan ke-ada-an (keseluruhan realitas yang kita lihat dan kita akrabi dalam keseharian). Pada mulanya adalah ketiadaan. Melalui/dari ketiadan itulah ada muncul sebagaimana ada-nya mereka. Ex nihilo omne ens qua ens fit -- "dari ketiadaan semua yang ada menjadi ada."


Sumber: Fb Fitzerald Kennedy Sitorus

,

Khutbah Jumat: Kehidupan yang Sejati

Hidup yang kekal, yang menjadi tujuan dari segala kita yang hidup ini, hidup yang dikejar oleh orang yang sadar akan arti hidup ini, yang orang-orang berlomba menempuhnya, ialah hidup sesudah mati. Itulah yang diserukan oleh kitab-kitab yang diturunkan oleh Tuhan. Itulah yang disampaikan oleh nabi-nabi yang diutus oleh Tuhan. 


وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui. (Q.s. Al-'Ankabut, ayat 64) 


Kehidupan di dunia ini hanyalah main-main. Hanya senda gurau. Hidup di akhirat itulah hidup yang sejati kalau sekiranya kita pikirkan dan kita renungkan betul-betul. 

Hidup yang sekarang ini dibandingkan dengan kehidupan yang kemudian itu adalah seperti tidur saja. 

Hidup yang sejati, hidup yang di akhir, hidup akhirat. Dengan demikian, kita dapat membuat supaya kehidupan yang sekarang ini menjadi kebun. 


الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ

(Addun-ya mazra'atul akhirah). 

Dunia ini seperti perkebunan untuk mengambil hasilnya di akhirat. Mendorong kita supaya berbuat baik banyak-banyak di dunia ini. 

Jadi kehidupan di dunia ini sudah menentukan kehidupan akhirat nanti. Kalau di sini, di dunia ini, baik yang kita kerjakan, maka lepas dari kehidupan di dunia ini, kita menerima kebahagiaan, kesenangan. 

Nabi Muhammad SAW pernah memisalkan. Apa kata beliau: "Kehidupan di dunia ini, jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat, hanyalah seperti seorang yang mencelupkan ujung telunjuknya ke dalam laut, kemudian dia cabut kembali. Basah. Nah, basah yang sedikit di tangan itulah hidup di dunia ini. Berapa luas lautan lagi tak dapat kita tentukan dalam dan luasnya, dibandingkan air yang tinggal di ujung telunjuk kita tadi. 

Hari akhir itu menafaskan jiwanya. Jadi, seperti kita mengambil ribuan nafas sehari-hari. Satu di antara nafas yang ribuan kali kita nafaskan siang dan malam itulah perbandingan kehidupan dunia, dibandingkan dengan akhirat.

Maka orang yang pandai memanfaatkan nafas yang sejenak itu dapat dipakainya dengan baik: dia beramal. 

Apa yang terjadi bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh ketika nyawanya bercerai dengan badan, ketika lepas dari penjara dunia ini? Pada zahirnya kelihatan tubuh dimasukkan ke dalam bumi. Asal tanah pulang ke tanah. Air pulang ke air. Tapi ruh itu terlepas dari ikatannya. Seperti kata Suhrawardi, seorang sufi yang besar, yaitu seperti burung di dalam sangkar: ia berkicau. Ia ingin keluar. Kemudian sangkar terbuka, burung pun terbang. Sangkar kosong, burung bernyanyi di tempat yang luas. Begitulah ruh apabila keluar dari badan. 

Setelah mendapat kelapangan di alam barzah, bagaimana lagi keadaan di darunna'im? Di negeri yang indah? Dikatakan bahwa yang menjadi inti kebahagiaan di dalam surga jannatunna'im itu ialah melihat wajah Tuhan. 


وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ​ ۚ‏

Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. (karena) memandang Tuhannya. (Q.s. Al-Qiyamah, ayat 22-23).


Muka pada waktu itu berseri-seri. Karena pada hari itu kita dapat memandang Tuhan. Tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada itu. 

Sehingga pernah ditanyakan kepada Rabi'ah al Adawiyah, seorang sufi perempuan: bagaimana pandangannya tentang neraka dan tentang surga. "Pandangan saya cuma satu: memandang wajah Allah. Mau ditempatkan di mana pun yang saya melihat wajah Allah, itu seribu kali lebih daripada surga."

Tapi timbul pertanyaan: mengapa kebanyakan manusia takut menghadapi kehidupan yang sejati itu? Mengapa manusia lengah daripadanya? Mengapa kehidupan dunia saja yang dicintai orang? Padahal dunia ini seperti khayal atau bayangan saja? 

Apakah karena salah menggambarkannya di dalam hati? Atau karena perasaan sendiri yang tumpul? Atau karena tidak percaya kepada kehidupan akhirat itu? Atau karena akal kita sendiri tidak memahami? 

Atau karena tertarik dengan barang-barang duniawi yang pasti lepas dari diri manusia ini? Banyak manusia menjawab: ya. Itu sebabnya. 

Pertama karena salah menggambarkannya. Yang kedua karena tidak mau percaya. Yang ketiga, akal yang tidak mampu menjangkau. Yang keempat karena pengaruh barang yang ada di dunia dan tak tahu bahwa penggantinya jauh lebih baik. 

Dan, sebab yang utama itu adalah: lemah iman. 

Iman inilah yang mesti diperkuat. Karena iman itulah yang menjadi ruh dari segala amal. Iman itulah yang membangkitkan semangat kita untuk bekerja yang lebih baik (berbuat kebajikan). Dan iman juga yang mencegah kita melakukan hal yang buruk. Dengan kekuatan imanlah kita tidak merasa payah melakukan perintah Allah. 

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Iman kepada kehidupan akhirat bukan artinya kita menolak hidup. Bukan menyuruh kita shalat saja dari pagi sampai malam sehingga tidak tidur lagi. 

Apabila kita bekerja di kantor, misalnya, ataudi ladang, berdagang di pasar, dan lain sebagainya, pasangkanlah niat kita itu dengan iman. Nah, dengan begitu, itu nanti akan menjadi amal untuk persediaan kita di akhirat kelak. 

Misalnya, orang menjadi pegawai negeri, dipasangnya niat dari hati: saya menjadi pegawai ini supaya saya dapat memberikan pelayanan pada masyarakat dengan baik, mencari harta yang halal untuk rumah tangga saya, untuk menyekolahkan anak saya, bair sedikit asalkan amal saya ini amal yang saleh. 

Jadi, bekerja di kantor itu menjadi amal yang saleh, menjadi pangkal kebahagiaan kehidupan di akhirat--hidup yang sejati itu. 

Kita mencari makan, berdagang, misalnya, itu pekerjaan duniawi. Tapi pasanglah niat: mengapa engkau mencari makan? Karena ada perintah Allah dalam al Qur'an:

"Makanlah segala yang baik rezeki yang Kami berikan kepada kamu.. "

Karena ada perintah Allah "makanlah!", maka segala usaha mencari makan tadi karena berdasar kepada ayat itu ia akan menjadi amal buat akhirat. 

Atau seperti menjadi pedagang: apa kata Rasulullah? 

"Pedagang yang jujur itu tempatnya sama dengan para syuhada (orang yang mati syahid), di hari kiamat."

Jujur! Ucapan yang mudah betul, tetapi dalam praktiknya sangat sulit. Tapi itu suatu alat untuk membahagiakan kita pada akhirat kelak. 

Atau yang lain-lain. Dalam al Qur'an banyak perintah:

-Makanlah buah-buahan itu. Artinya, kita diperintahkan untuk menanam supaya dapat melaksanakan perintah Allah itu. 

-berjalanlah di muka bumi. Injak bahu bumi. Makan rezeki dari bumi itu. 

Jadi, segala amalan kita di dunia ini bisa jadi sumber kebahagiaan di akhirat. 

Bukan "ah saya tidak mau lagi bekerja duniawi, saya mau jadi orang saleh saja. Bukan saleh namanya. 

Jadi, itulah maksud perkataan Rasulullah:

"Addun-ya mazra'atul akhirah."


Dunia itu suatu "mazra'ah"; suatu kebun, yang akan kita ambil hasilnya nanti di akhirat. 

Kaum muslimin sidang shalat Jumat yang berbahagia, 

Sebab kedua yang menjadikan kita lengah, karena hanya memandang kehidupan yang ini saja. Karena kelalaian telah masuk ke dalam hati kita. Lalai itu sama dengan tidur. Lalai itu tidur hati. Karena itu banyak orang yang matanya nyalang, tapi hatinya tidur. Lain dengan Nabi: matanya tidur tapi hatinya nyalang. 

Orang yang terbiasa bangun shalat tahajud jam 3 malam, misalnya, walaupun kondisi baru tertidur jam 2, misalnya, tetap terbangun jam 3. Ini menandakan kesadaran batin. Sehingga lebih dulu bangun hatinya daripada matanya. Tapi orang yang hatinya tertidur tak ingat lagi waktu shalat. Jangankan shalat sunat, shalat wajib pun dilalaikan. Karena ia tidak ingat kehidupan yang sejati bukan di sini. 

Kesimpulannya: kehidupan yang sejati itu, itulah tujuan daripada perjalanan kita di dunia ini. 


***

Ctt: 

Wasiat takwa: 

marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Dengan cara apa? Dengan cara meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah formal kita. Dan memperbanyak berbuat kebajikan bagi manusia. Jadi, tak cukup hanya ibadah formal saja, tapi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya. Manfaatkanlah tubuh kita ini untuk bersedekah (berbuat yang benar. Sedekah dari kata "sidq; sidik" atau "shadaqta": artinya benar). Apa saja yang kita lakukan dengan benar maka ia sudah bernilai sedekah. Bahkan membuang duri di jalan pun disebut "sedekah". Karena ia merupakan perbuatan yang benar. 


Sumber: Tausyiah Buya Hamka



Jumat, 12 Juni 2026

 Sidang shalat Jumat yang berbahagia. 


Dalam kesempatan khutbah yang pendek ini, mari kita merenungkan sedikit mengenai apa yang disebut sebagai fitrah atau kesucian asal. Manusia, menurut agama kita, diciptakan oleh Allah Swt. dalam keadaan fitrah. Sebuah hadis yang sering sekali dikutip oleh para mubalig ialah: 


£ £ 90 0. - 2 al dis S3 alas! JG 33 ala IS 


“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (HR Bukhari) 


Adanya fitrah adalah sebagai kelanjutan dari perjanjian kita dengan Allah Swt. ketika kita masih berada di alam ruhani. Oleh karena itu juga disebut sebagai perjanjian azali, perjanjian di masa yang tak terhingga di masa lalu, from all eternity. Yang digambarkan oleh sebuah ayat suci, bahwa kita sebelum lahir dipanggil oleh Allah Swt. secara 

bersama-sama menghadap dan dimintakan kesaksian, bahwa kita akan ber-Tuhan-kan Allah, ber-Pangeran-kan Tuhan, dan ber-Rabb yang lebih tinggi yaitu Allah: 


' 0. oto 2x NN An 7, " LL “3, w .. daa Aga IIS UI Gay oo Ig Sp Sudi — alas Nia GE US UI 


“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (OS Al-A'af (7): 172) 


Jadi, kita ini terikat dalam perjanjian itu. Maka dari itu, agama pun sebetulnya memangadalah perj anjian, yang dalam bahasa Arab disebut mitsag atau 'ahdun, perjanjian dengan Allah Swt. Seluruh hidup kita merupakan realisasi atau pelaksanaan untuk memenuhi perjanjian kita dengan Allah. Yang intinya ialah ibadah, artinya memperhambakan diri kepada Allah. Karena Allah telah kita akui sebagai Rabb, sebagai Pangeran kita. Maka implikasinya, akibat dari beribadah kepada Allah itu adalah, bahwa kita harus menempuh jalan hidup yang benar. Inilah yang pernah dimintakan juga kepada Adam. 


3 In A3 Lea IS Ia pol JI Uas 33 


Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi 


dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat: padanya. (OS Tha Ha (20): 115) 

2

Adam pun melanggar perjanjian itu. Sebagaimana yang kita baca di Al-Ouran mengenai kisah bagaimana dia melanggar larangan mendekati pohon di surga. Akibatnya ialah, Adam pun diusir dari surga. Jatuh tidak terhormat. Mengapa Adam dan Hawa itu sampai melanggar, sebetulnya tidak lain karena tidak tahan terhadap dorongan keserakahan, thama' dalam bahasa Arabnya. Yaitu, nafsu memiliki sesuatu lebih dari keperluan yang wajar. Apalagi kalau pemilikan tadi tidak benar Oleh karena itu, dosa pertama manusia ialah karena keserakahan itu. 

Dan karena kita ini adalah anak cucu Adam, maka kita semuanya punya potensi untuk jatuh seperti itu. Kita semuanya punya kemungkinan untuk melanggar larangan Allah, melupakan janji kita dengan Allah, dan kemudian kita akan jatuh tidak terhormat. Sebab, itulah yang dialami oleh Adam. Manusia dilahirkan dalam fitrah yang suci, maka dia sebetulnya lahir dalam Kebahagiaan, dalam surga, dalam paradiso. Tapi karena melanggar larangan-larangan Allah, dia jatuh masuk ke neraka (interno). 

Jadi, kita semuanya pernah di surga. Kalau surga itu intinya ialah cinta kasih, maka sebetulnya surga kita yang paling dekat ialah, ketika kita masih berada dalam perut ibu. Maka tempatnya itu disebut rahim, yang artinya cinta kasih. Cinta kasih Allah Swt. Karena perkataan rahm itu satu akar kata dengan rahmatun, rahman, dan rahim, oleh kerena itu kita kemudian harus menyucikan diri. Menyucikan diri dalam arti, membersihkan diri, yaitu masuk bulan Ramadhan, masuk alam purgatorio itu, yang kalau sukses, maka 1 Syawwal kita kembali ke fitrah. Fitri itu kembali ke paradiso, 

ke surga. Tentu saja kita harus menjaga keadaan kita alan surga itu, yaitu dengan jalan menjaga kesucian kita sendir!: Tazkiyatun-nafs dalam bahasa Arabnya. 


PEG NP NN NN GT PAPAN SI DNAN PAI ITN PSN C3a Ia lal 38 Wpgaig Lengan La Megia Lag yag 


kem uya Oles a89 Sy 


Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (OS Al-Syams (91): 7-10) 


Kalau diri sendiri itu sudah suci atau berusaha menjadi suci, maka dia harus berbuat suci kepada orang lain. Oleh karena itu, takwa harus menghasilkan amal saleh atau budi pekerti luhur yang sudah kita ketahui semuanya. Jadi, di sini kita bertemu dengan suatu hal yang sangat nyata untuk kebahagiaan kita sendiri. Kita harus hidup dalam salim, dalam kedamaian. Tetapi sebetulnya, perkataan saltim itu lebih mendalam daripada damai dalam arti peace dalam bahasa Inggris. Karena salim adalah suatu keadaan diri kita yang bersih, yang utuh, yang integral. Salim itu artinya adalah sana dalam bahasa Inggris. 

Oleh karena itu, moto olimpiade men sana in corporisano diterjemahkan menjadi al-'aglus-salim fi-jismis-salim, akal yang "bersih" (utuh) ada dalam badan yang "bersih" (utuh). Di Al-Ouran, digambarkan bahwa nanti kalau kita menghadap 

3

Allah di Hari Kiamat, maka seluruh harta dan anak kita itu tidak berguna: 


sala oli ll saj. 2 Je j3 2 ang 


(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (OS Al-Syu'ara (261: 88-89) 


Memang, salah satu wujud dari hati yang bersih—wujud integralitas—itu ialah kedamaian. Bahkan juga kelapangan dada. Oleh karena itu, Rasulullah dalam sekian banyak definisi beliau, mengenai sebaik-baik agama itu disebutkan: 


Gang Jodo 


o& 01 0 —. 


3, 229 ia 


“Seseorang bertanya pada Nabi, Ajaran Islam yang mana yang lebih baik?" Nabi menjawab, “Kamu memberi makan orang yang - memerlukan dan mengucap salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal.” (HR Nasa'i) 


Oleh karena itu, Nabi selalu mengucapkan salam pada siapa pun. Kepada yang dikenal dan kepada yang tidak dikenal. Memang dalam suasana yang kadang-kadang tegang di Madinah, ada semacam krisis dalam soal salam itu, misalnya ada sekelompok orang Yahudi yang datang kepada Nabi



,

Kutbah Jumat: Dua Amanah Allah kepada Manusia

Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,

 

Allah berfirman bahwa dulu Allah menawarkan sebuah kepercayaan, amanah kepada langit, gunung, dan bumi. Namun, mereka menolak untuk menerima kepercayaan dari Allah itu karena khawatir atau takut tidak mampu melaksanakannya.

 اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

(innâ ‘aradlnal-amânata ‘alas-samâwâti wal-ardli wal-jibâli fa abaina ay yaḫmilnahâ wa asyfaqna min-hâ wa ḫamalahal-insân, innahû kâna dhalûman jahûlâ)

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh." (Q.s. Al-Ahzab, Ayat 72)

 

Amanah yang ditolak oleh langit, bumi, dan gunung, karena takut tidak mampu menjalankan itu, kemudian diterima oleh manusia. Kita menerima.

Amanah apakah itu? Padahal manusia itu, “Innahuu kaana dzaluuman jahuula.” Manusia punya potensi zalim, menyimpang, atau bahasa kasarnya kurang ajar. Dan “jahula” itu berarti manusia punya potensi serba tidak tahu, serba bodoh, tapi menerima amal yang sangat berat itu.

Amanah apakah itu? Ada dua amanah.

Pertama, amanah diniyyah samawiyah, muqaddasah. Yaitu amal agama dari langit yang suci, yang mulia, ilahiyyah (atau bersifat Allah), dan merupakan monopoli Allah. Itulah amanah diniyyah, ilahiyyah, samawiyyah, muqaddasah.

Isinya ada dua, yaitu akidah dan syariah.

Akidah merupakan rukun iman yang enam, sedangkan syariah adalah rukun Islam yang lima, dan aturan-aturan ibadah yang lain. Itu amanah agama yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia setelah langit, bumi, dan gunung menolak.

Maka kita sebagai yang mempunyai amanah harus mengamalkan, mendakwahkan, mengajak manusia atau masyarakat lain agar berakidah dan bersyariah. Aqidah shahihah, syariah shahihah. Akidah yang benar harus kita dalami melalui pelajaran ilmu kalam. Syariah yang benar harus kita pahami melalui kitab-kitab yang kita baca.

Minimal, setara Fathul Qarib. Itu sudah lumayan standar, walaupun masih pas-pasan. Belum luas seperti Fathul Wahab, Mahalli, atau Majmu'. Tapi, minimal kita semua ini harus paham Fathul Qarib. Kalau akidah, minimal harus paham Fathul Majid atau Al-Iqtishad fi Al-I'tiqad, dlsb, itu suatu amanah.

Yang kedua, amanah yang diterima oleh manusia itu bersifat insaniyyah, ardliyah, ijtihadiyah. Bersifat manusia, profan, duniawi, dan bersifat kreatifitas.

Kecerdasan kita sebagai manusia ada dua. Pertama tsaqafah, dan kedua, hadlarah. Tsaqafah membangun kemajuan peradaban atau scientific, culture, humanity. Kita dituntut agar membangun kemajuan-kemajuan. Menciptakan umat yang maju, yang modern, yang tidak boleh ketinggalan, yang berperan. Kita harus membangun pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan seterusnya. Itulah yang disebut pembangunan dalam bidang tsaqafah. Tsaqafah bersifat manusiawi dan bersifat ijtihadiyah. Kita dituntut agar cerdas di sini. Bukan monopoli Allah, bukan hanya Allah, tetapi kita juga dituntut untuk berupaya keras menuntut ilmu dengan kecerdasan, agar kita mampu membangun ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan, dan membangun kemajuan-kemajuan yang lain. Itulah yang disebut tsaqafah.

Sementara hadlarah yaitu membangun kesejahteraan, membangun perdamaian, membangun kehidupan bersama satu sama lain. Makanya ada yang namanya akhlaqul karimah.

Apa itu akhlaqul karimah itu? Banyak isinya:

tawadhu”, ihtiramu al-walidain, birru al-walidain (menghormati orang tua, berbakti kepada orang tua), ihtiramu al-jiran (menghormati tetangga), ihtiramu al-dluyuf (menghormati tamu), taawun, ighatsatu al-lahfan (menolong orang yang lagi kesusahan), iyadatu al-mardla (menengok orang sakit), ta’ziyatwu al-mauta (takziyah orang yang meninggal dunia). Apalagi? Idkhalu al-surur (menggembirakan orang lain). Itu semua namanya akhlaqul karimah.

Tapi kalau semua itu diringkas menjadi satu kata, apa akhlaqul karimah itu? Adalah husnul muasyarah, al muasyarah bil husna. Bergaul yang baik, berinteraksi, bermuamalah, bersama-sama membangun kebersamaan, membangun masyarakat, membangun kehidupan yang ideal, yang bermartabat, yang baik. Bergaul dengan keluarga, bergaul dengan tetangga, bergaul dengan orang satu daerah, bergaul dengan orang dari daerah yang lain, negara satu dengan negara yang lain, itu namanya akhlaqul karimah. Yakni, tentang bagaimana kita pandai bergaul dengan siapapun secara baik dan benar. Bergaul dengan sesama umat Islam seperti apa, bergaul dengan non muslim seperti apa, bergaul dengan satu daerah dengan daerah lain seperti apa, bergaul negara satu dengan negara lain seperti apa, itu semua adalah akhlaqul karimah.

Kita di dunia ini tidak mungkin hidup sendirian. Umat Islam tidak mau bergaul dengan non-muslim, tidak akan bisa. Indonesia tidak mau berhubungan dengan negara lain, tidak bisa. NU tidak mau bergaul dengan ormas lain, tidak mau bekerja sama, tidak bisa. Harus membangun kerja sama dengan semua pihak, pandai-pandailah bekerjasama, berhubungan kerja, taawanu alal birri wat taqwa dengan siapapun. Nah itu namanya Akhlaqul karimah.

Kalau itu tercapai, kalau itu bisa kita kerjakan dengan baik, namanya hadlarah, maka kita ini namanya masyarakat atau umat yang muthadlir, berperadaban. Kalau berilmu, cerdas, pintar namanya mutsaqqaf, kita ini mutsaqqaf kalau berpendidikan. Kalau membangun kerja sama bermasyarakat, sama-sama gotong royong berbangsa bernegara dengan baik dengan benar namanya mutahadldlir.

Kalau dua-duanya berhasil, pendidikan berhasil ilmu berhasil cerdas dan membawa masyarakat yang kuat solid kokoh, dua-duanya berhasil, sejahtera, kaya, pandai, cerdas, dan solid namanya mutamaddin. Jadi, madinah mutamaddin tamaddun madaniyah madanii itu adalah al madinatul fadhilah, masyarakat yang ideal yang kita impi-impikan. Penduduk masyarakat Indonesia ini semuanya cerdas, semuanya berilmu, semuanya sejahtera, kaya, dan semuanya membangun kebersamaan dengan baik. Bermasyarakat, gotong royong satu sama lain, berhubungan satu sama lain dengan baik itu namanya, kalau sudah dua-duanya namanya mutammaddin.

Baru saja kemarin Mufti Damaskus Syekh Adnan 'Afyuni naik mobil boks. Ternyata di dalam mobil itu ada bom dan meledak. Allahu yarhamuh gugur, ulama besar mufti kota Damaskus. Ini namanya apa? Namanya masyarakat yang tidak pandai bergaul, gagal dalam pergaulan, gagal dalam kebersamaan, gagal dalam membangun hadlarah.

Kalau kita lihat satu per satu orang, orang Syiria, Irak, Mesir, Lebanon itu pintar-pintar. A pintar, si B pintar, si C pintar, ketua-ketua partai pintar-pintar tapi tidak mampu, gagal menjadi satu, gagal membangun kebersamaan.

Sementara itu kita, alhamdulillah di Indonesia ini walaupun pemimpin-pemimpin tokoh-tokohnya tidak begitu pintar, ulamanya tidak terlalu pintar, tapi berhasil membangun kebersamaan. Kiai-kiai tidak terlalu pintar, apalagi kiai desa, paling hanya menguasai Safinah, Tijan Darari, Sulam Munajat, Sulam Taufig, tapi mampu menciptakan masyarakat yang solid (rukun), membangun kebersamaan, membangun apa namanya? Hadlarah. Jadi kyai-kyai itu walaupun di kampung, tapi sukses membangun hadlarah. Kalau pendidikan namanya tsaqafah.

Alhamdulillah Indonesia ini walaupun terdiri dari tujuh ratus lebih suku, sudah selesai. Satu organisasi, satu kantor, satu kluster perumahan, Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Melayu, Ambon, Madura, tidak ada persoalan. Tetangga kita orang Sunda, tetangga sebelah kiri orang Dayak, sebelah depan orang Batak, tetangga sana orang Ambon, sudah tidak ada persoalan dan tidak ada sekat-sekat di Indonesia ini.

Di Timur Tengah masih ada sekat antar suku satu dengan suku yang lain, fanatisme kesukuan atau ashabiyah gabaliyah di Timur Tengah masih tebal. Jadi Timur Tengah itu, negara Suriah, Irak, Mesir itu, agamanya bagus, akidahnya bagus, syariatnya bagus, tapi yang gagal apanya? Hadlarah. Gagal membangun hidup bersama, gagal membangun kebersamaan, membangun husnul muasyarah. Artinya apa? Yang hancur apanya? Akhlaknya. Bukan akidahnya, bukan syariatnya. Yang rusak apa? Akhlaknya.

Martabat sebuah bangsa tergantung akhlaknya. Akhlaknya baik, martabatnya mulia. Akhlaknya buruk, martabatnya brengsek. Negara Eropa misalnya negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Swiss, itu teologinya atau akidahnya salah, syariatnya salah, tapi akhlaknya baik. Mengapa? Karena mereka sukses membangun husnul muasyarah, husnul musyarakah, husnul mu’amalah, artinya mereka sukses membangun hadlarah. Adil, makmur, tidak ada konflik tidak ada perang saudara, rukun, padahal bukan muslim itu, akidahnya jelek syariatnya jelek, yang bagus apanya? Akhlaknya hadlarah-nya yang bagus.

 

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

 

 


Kamis, 11 Juni 2026

,

IGNAS KLEDEN


22 September 2023/in Kronik Budaya dan Sejarah/by Borobudur Writers & Cultural Festival BWCF


Oleh: Riwanto Tirtosurdarmo*

 

Dalam sebuah percakapan dengan Salman Rushdie, mungkin menjadi wawancara terakhir sebelum wafat karena penyakit leukemia yang dideritanya, Edward Said, mengkritik penggunaan istilah intelektual publik – yang menurutnya “redundance”. Edward Said mengatakan bahwa seorang intelektual sudah dengan sendirinya publik, tidak ada seorang intelektual yang tidak publik.

Daniel Dhakidae, Mochtar Pabottingi dan Ignas Kleden adalah tiga orang intelektual yang saya kagumi. Hidup mereka sederhana, tidak saya dengar mereka memiliki rumah atau mobil mewah. Tidak pernah saya dengar mereka menjadi konsultan politik partai, menerima pemberian jabatan, seperti menjadi dirjen atau wamen, komisaris perusahaan ini atau itu, duta besar negeri ini atau itu; sebagai balas budi dari seorang presiden yang barangkali pernah didukungnya.

Ketiga intelektual yang saya kagumi itu berpengaruh karena pikiran jernih yang dituliskan dalam teks-teks berupa esai, kolom, makalah dan buku-buku; bukan karena tampangnya yang sering nongol di berbagai acara “talk show” di TV, atau menjadi populer di sosial media karena komentar nyinyir tentang apa saja yang menurutnya jelek di negeri ini. 

Secara akademik mereka juga telah membuktikan diri meraih gelar doktor, sebuah pencapaian tertinggi seorang yang mengaku sebagai akademisi, dari universitas terkenal di dunia.

Saat ini, jagad intelektual Indonesia telah melebar dan meluas sejalan dengan perubahan sosial yang cepat pasca lengsernya Presiden Suharto pada tanggal 21 Mei 1998. 

Dalam waktu kurang dari tiga dekade Jakarta perlahan-lahan meleleh tidak lagi bisa dikatakan sebagai pusat intelektual lagi. Mungkin munculnya generasi baru kelompok intelektual yang pertumbuhannya berjalan seiring dengan berkembangnya dunia aktivisme di berbagai ranah sosial politik itu berhubungan dan berjalan paralel dengan desentralisasi politik pasca Orde Baru.

Peran media sosial yang antara lain memudahkan mobilisasi pendapat dan gerakan sosial sangat besar dalam memperluas dan memperbesar jumlah kaum intelektual di Indonesia. 

Mungkin menarik melihat perubahan dan pergeseran yang terjadi antara generasi intelektual yang tumbuh pada periode Orde Baru dan Pasca Orde Baru sekarang ini.

Kita tahu sejak awal tahun 1970-an telah ditandai oleh kemunculan kaum intelektual kritis terhadap Orde-Baru. Dalam konteks ini kita tidak boleh melupakan peran Gubernur Jakarta Ali Sadikin, seorang Sukarnois, yang dalam kapasitasnya sebagai seorang gubernur menjadi patron bagi elit intelektual Jakarta dengan membentuk berbagai lembaga kebudayaan, seperti Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta, disamping membangun Gelanggang Remaja sebagai ruang pengembangan anak-anak muda di bidang kesenian dan olahraga.

Ali Sadikin yang antara lain didampingi Ciputra seorang arsitek sekaligus pengusaha yang visioner, mendorong berkembangnya media-media tempat intelektual berkiprah seperti Majalah Budaya Jaya, Tempo dan Prisma. 

Perlu dicatat juga peran tokoh media yang penting saat itu Jacob Oetama, PK Oyong dan Swantoro; yang bekerja di balik Harian Kompas, sebuah harian yang berhasil mengkombinasikan bisnis berita dan intelektualitas.

Ignas Kleden yang dibesarkan di Pulau Flores dan menempuh pendidikan di Seminari/ Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, memilih meninggalkan perjalanan karirnya sebagai calon Romo Katolik, dan pindah ke Jakarta menjadi intelektual. 

Modal dasarnya yang diperolehnya baik dari ayahnya seorang guru, maupun dari seminari yang dikenal luas memiliki tradisi “liberal arts” yang kuat terbukti telah menjadikannya sebagai pemikir yang tangguh di Jakarta, pusat dari segalanya saat itu di negeri tropis ini. 

Pekerjaan yang ditekuninya tidak jauh dari dunia pemikiran dan perbukuan, sebagai editor, penulis kolom; hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas. Dalam waktu relatif cepat Ignas Kleden menjadi bagian dari elite intelektual Jakarta.

Tulisan-tulisannya, baik yang berbentuk esai maupun makalah, tidak terhitung jumlahnya, terbit di berbagai media, baik yang mainstream maupun yang pinggiran. 

Saya ingat, mungkin pertengahan tahun 1970-an, bertemu Ignas Kleden di kantin Asrama Mahasiswa UI Daksinapati Rawamangun. Saat itu dia sedang asyik berbincang dengan Pamusuk Eneste, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UI. Rupanya mereka sedang membicarakan isi jurnal sastra yang diterbitkan mahasiswa sastra UI dimana Ignas sering mengirimkan tulisannya.

Saat itu saya sudah sering membaca tulisan-tulisannya, dan seingat saya, saya baru saja membaca esainya yang terbit di Majalah Basis, kalau tidak salah judulnya “Sebuah Esai tentang Cinta”. Esai itu tidak panjang tetapi menurut saya indah, dan saya sampaikan hal itu kepadanya. Saya lihat Ignas senang dengan pujian saya itu. Seperti Pamusuk Eneste yang esai-esainya sudah sering dimuat di Harian Kompas, esai-esai Ignas Kleden juga telah mewarnai jagad intelektual tahun 197O-an, ketika usia mereka masih tergolong muda dan sebagian masih menjadi mahasiswa.

Pada tahun 1980-an ketika saya mulai bekerja di Leknas-LIPI yang kantornya masih berada di Jalan Gondangdia Lama 39, tulisan-tulisan Ignas, seperti halnya Daniel Dhakidae dan Mochtar Pabottingi, selain bisa ditemukan di Harian Kompas, Majalah Tempo, juga mewarnai Jurnal Pemikiran Prisma, yang kalau tidak salah kantornya masih di Jalan Jambu di Menteng, tidak jauh dari Gondangdia. 

Saat itu dunia ilmu-ilmu sosial boleh dikatakan identik dengan dunia intelektual. 

Para intelektual yang mewarnai jagad intelektual saat itu boleh dikatakan adalah para ahli ilmu sosial yang kolom-kolomnya mendominasi tulisan-tulisan dalam gaya ilmiah populer di Kompas, Tempo dan Prisma.

Dalam jajaran ini bisa disebutkan penulis-penulis seperti Umar Kayam, Onghokham, Taufik Abdullah, Thee Kian Wie, Alfian, Melly G. Tan, Juwono Sudarsono, Dorodjatun Kuntjorojakti, Toeti Heraty Noehadi, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Nurcholish Madjid, Nono Anwar Makarim, Ismid Hadad dan Farchan Bulkin. 

Di atas semua itu Soedjatmoko yang dari segi usia memang paling tua dianggap dikalangan para intelektual sekaligus ahli-ahli ilmu sosial itu sebagai dekannya. 

Kala itu, para ahli ilmu sosial itu juga mendirikan organisasi, Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu sosial Indonesia yang disingkat HIPIIS. 

Ignas Kleden bisa dikatakan salah satu bintang dalam jajaran bintang-bintang intelektual dan sekaligus tokoh ilmu sosial saat itu.

Posisinya sebagai ahli ilmu sosial terkemuka telah dikukuhkannya dengan gelar doktor yang diperolehnya dari Universitas Bielefeld di Jerman, setelah sebelum mendapatkan gelar master di bidang filsafat di Universitas Muenchen, juga di Jerman. 

Barangkali latar belakang pendidikannya yang hampir semuanya berasal dari daratan Eropa, sejak masih mendalami filsafat di Seminari Ledalero, di kampungnya di Flores, yang kuat mencerap tradisi pemikiran Barat dengan bahasa latin itu, membuatnya sedikit berbeda dengan para kolega seangkatannya seperti Daniel Dhakidae, Mochtar Pabottingi dan Farchan Bulkin yang memperoleh gelar doktornya dari universitas-universitas di Amerika Serikat.

Barangkali hanya dengan Daniel Dhakidae, Ignas Kleden bisa disetarakan karena keduanya berangkat tradisi pendidikan Katolik yang kuat dengan latar belakang filsafat Yunani yang masih diajarkan melalui bahasa latin di Flores tempat mereka dididik untuk menjadi Romo tapi keduanya kemudian memilih menjadi orang biasa. 

Ketika memilih topik disertasi sosiologinya di bawah bimbingan Hans Dieter Evers, tentang karya-karya dan pemikiran Clifford Geertz, antropolog Amerika terkenal yang mengawali karirnya dengan menulis tentang agama dalam masyarakat Jawa. 

Ignas Kleden ibarat seorang pemburu muda yang memilih untuk membidikkan panahnya, tidak tanggung-tanggung, pada binatang buruan yang paling besar di hutan belantara ilmu-ilmu sosial dan humaniora di tingkat dunia.

Disana tidak dapat disembunyikan keinginan dan ambisinya untuk menjadi ilmuwan sosial yang besar, dan saya kira itu telah dicapainya. Ignas Kleden juga saya kira tidak bermaksud menyombongkan diri ketika mengaku sebagai seorang yang mungkin paling dekat dengan Soedjatmoko, dekan fakultas pemikiran bebas Indonesia. 

Dalam sebuah kesempatan Ignas menceritakan, mungkin juga tidak hanya kepada saya, bahwa Soedjatmoko bilang bahwa dia bisa menemuinya sewaktu-waktu tanpa perlu melalui sekretarisnya.

Kedekatan Ignas dengan Soedjatmoko saya kira dibuktikannya ketika Ignas bersama-sama dengan Daniel Dhakidae, Vedi Hadiz, Hilmar Farid dan Benny Subianto mendirikan Yayasan SPES (Society for Political Economic Studies) semacam pecahan dari LP3ES (Lembaga Pendidikan Penelitian Pelatihan Ekonomi dan Sosial) yang salah satu kegiatannya antara lain membuat seri diskusi tentang berbagai isu sosial politik dengan salah satu narasumber tetap, Soedjatmoko. SPES adalah sebuah lembaga diluar kampus yang memulai kegiatannya dengan mengupas habis karya-karya ahli Indonesia mancanegara tentang Indonesia. 

Vedi Hadiz misalnya mengupas habis karya-karya Ben Anderson, dan Ignas Kleden tentang karya-karya Clifford Geertz yang kemudian menjadi awal tesis doktornya.

Tesis doktornya yang sangat tebal, bisa dikatakan telah menganalisa tuntas buku-buku Clifford Geertz, dan merupakan kritiknya terhadap tesis involusi Geertz yang dinilainya sebagai involutif. 

Sayang sampai sekarang para peminat ilmu sosial di Indonesia belum dapat membaca terjemahan tesis doktor Ignas Kleden yang sesungguhnya sangat penting ini. 

Dalam sebuah kesempatan Ignas kalau tidak salah mengatakan bahwa ada bagian dari disertasinya yang menurutnya mungkin cukup sensitif bagi pembaca Indonesia. 

Menurut hemat saya tesis doktor Ignas Kleden perlu diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sehingga bisa dibaca oleh para peminat ilmu sosial dari generasi yang lebih muda yang saya yakin telah cukup dewasa dalam menerima perbedaan pendapat dan juga apa yang dianggap sensitif oleh Ignas Kleden sendiri dalam disertasinya.

Di saat dunia intelektualitas dipenuhi oleh para demagog yang hanya pandai bersilat lidah, dunia kampus dipenuhi akademisi yang bangga dengan ke-profesor-an yang bukan rahasia penuh percaloan, universitas yang pragmatis dan menjadi penampung ledakan bonus demografi dan pengangguran terselubung; tak ada yang lebih baik bagi orang seperti Ignas Kleden untuk mewariskan buku-bukunya bagi segelintir anak-anak muda yang masih mau berpikir kritis, di dalam atau di luar kampus.

Mungkin saja Indonesia sedang menyongsong zaman yang besar namun sayangnya yang ada hanya orang-orang yang kecil. Ketika mereka yang menyebut diri pemimpin politik hanya terlatih untuk berdebat kusir, berkelit ketika ditanyakan masalah pokok negeri ini yaitu ketimpangan yang menganga dan semakin menjauhnya cita-cita proklamasi kemerdekaan, keadilan sosial dan kemakmuran bagi seluruh warganegara.


Mataram, Lombok 20 September 2023


*Riwanto Tirtosudarmo merupakan seorang peneliti.

https://borobudurwriters.id/kronik-budaya-dan-sejarah/ignas-kleden/


I.Sandyawan Sumardi

Sumber:

https://www.facebook.com/share/p/1B8MLcA5Qm/


,

INTEGRITAS

 


Oleh: Mohamad Sobary

(Kompas, 10 Juni 2007, “Asal Usul”) 


Seorang tokoh masyarakat yang setiap saat gigih menyuarakan kepentingan publik lebih-lebih bila ia juga kelihatan berani menyimpang arus-di masyarakat kita mudah segera menjadi pujaan massa.


Orang macam ini dipahlawankan" sebagai suara hati nurani publik yang membisu. Publik kita haus akan tokoh yang memiliki integritas macam itu.


Dari mana integritas muncul? Kelihatannya dari dalam keluarga, Seorang anak dididik orangtuanya mengenali dan menerapkan di dalam hidupnya secara konsisten nilai-nilai yang kelak bisa menjadi basis bagi tumbuhnya pribadi kukuh, tulus dan utuh.


Nilai macam ini diperkuat didikan guru di sekolah atau pergaulan dalam masyarakat di lingkungan tetangganya. Bisa juga dipertegas hasil pergaulan di dalam berbagai macam organisasi. Dan juga oleh proses belajar dari tokoh-tokoh di dalam buku: tokoh imajiner dalam novel, tokoh sejarah, dan tokoh lain yang biografinya dibaca publik secara luas.


Tentu saja kaum rohaniwan dapat memberi sumbangan besar bagi pembentukan integritas seorang tokoh. Maka, integritas di dalam pribadi seseorang dapat dilihat dari banyak sudut pandang. Secara psikologis kita menyebutnya integritas pribadi. Tetapi, dari dimensi lain kita menybutnya integritas moral, integritas sosial, dan bisa juga in- tegritas politik.


Meskipun begitu, kita bisa menyebutnya integritas begitu saja. Bila seseorang dengan integritas yang sudah teruji‒tulus, jujur, dan utuh‒dan dari tahun ke tahun, termasuk ketika atau sesudah menduduki posisi publik yang tinggi dan penting, ia tetap tak berubah, maka kurang lebih berlakulah hukum ilmu pasti kepadanya: dia tak mungkin menyimpang. dia tak mungkin korup, dia tak mungkin selingkuh.


Mentalitas yang teruji macam ini‒biarpun tentu saja ia bukan orang suci‒akan tetap dipelihara untuk mempertahankan puritansi hidupnya. Ia sangat berhati-hati agar tak tercemar hal-hal yang bisa mencoreng integritasnya.


Ketulusan, kejujuran, dan keutuhan pribadi yang sudah telanjur terlalu lama dipelihara akan menjadi terlalu mulia untuk dinodai korupsi uang, selingkuh, pelanggaran-pelanggaran susila dan moral atau hukum yang akan menghancurkan semuanya. Harga diri orang macam itu tak bisa dinilai dengan miliaran rupiah.


Namun, dalam zaman gila-gilaan macam ini bisa saja orang dengan integritas seperti itu difitnah. Bisa saja musuh politik yang menyelinap dalam gelap bekerja diam-diam untuk merusak namanya. Bisa saja bahkan dibantu media dan orang media yang secara lahiriah juga bicara kebenaran. Tetapi, integritasnya‒kejujuran dan ketulusannya‒telah menjadi kebaikan dan amal nyata yang bisa menyelematkannya melalui banyak mekanisme‒juga mekanisme alam‒yang tak bisa dipahami akal sehat. 


Patut diingat, orang dengan integritas macam itu biasanya juga orang yang secara moral saleh dan meyakini hukum-hukum Tuhan sebagai bagian dari mekanisme yang mengatur secara dekat hidup keseharian kita, kini dan hari esok. Orang macam ini meyakini surga-neraka bukan sekadar memberi iming-iming dan menakut-nakuti manusia. Ia meyakini janji Tuhan tak mungkin bohong.


Integritas macam inilah‒kira-kira‒yang kita adopsi sekarang dalam "pakta integritas" untuk secara intern menjaga kebersihan sosial, kebersihan moral dan hukum, dan tertib administrasi di suatu birokrasi atau suatu kantor. Ini kita anggap sebagai bagian dari cara membangun apa yang kita sebut good governance itu.


Banyak orang skeptis, bahkan mungkin tak bisa lagi menaruh kepercayaan bahwa good governance bisa menjadi resep manjur menata kembali kebersihan dan ketertiban birokrasi kita. Mereka mungkin menganggap good governance hanya omong kosong. Dan saya paham mengapa sikap frustrasi itu sampai begitu.


Meski demikian, pengalaman yang saya peroleh secara pribadi, dari fenomena birokrasi di kabupaten-kabupaten di negeri kita, membuat saya pelan-pelan membuang baju skeptisisme itu karena sikap skeptis itu terasa begitu masokhis dan mematikan harapan, seolah negeri kita ini bakal gulung tikar menjelang matahari terbenam esok hari.


Dua minggu lalu teman-teman dari Partnership merumuskan strategi melawan korupsi dengan merumuskan "pakta integritas" macam ini di Bogor. Kita bicara bukan perkara penindakan, tetapi lebih pada pencegahan korupsi agar kita melawan korupsi bukan lewat satu jalan belaka.

Menciptakan iklim disiplin, tertib, taat aturan, dan jauh dari kecenderungan menyimpang‒pendeknya good governance‒yang mengondisikan birokrasi hanya memanggul mandat dasarnya secara konsisten, kita kembangkan agar korupsi terdesak makin jauh.


Dibutuhkan konsistensi dan keteguhan mengamalkan pendekatan yang sudah terbukti di banyak kabupaten kita. Lagi pula, bila bangsa lain bisa, mengapa kita tidak?


Pakta integritas‒seperti integritas pribadi tadi‒kita hidupkan di dalam organisasi agar tiap pihak bicara ketulusan institusional dan kebersihan institusional.


Kemudian diperlukan suatu reward bagi pemimpin organisasi yang berhasil mengamalkan gagasan itu menjadi kenyataan. Dan selebihnya, diperlukan pula stimulan bagi pihak lain untuk menirunya sebagai cara mewujudkan gagasan mengenai "ilmu" yang amaliah dan berbuat amal-amal "ilmiah" untuk kebaikan hidup keduniaan kita.


Integritas pribadi kita transformasikan bukan hanya ke dalam birokrasi pemerintahan, tetapi juga ke dalam birokrasi dunia bisnis dan masyarakat sipil, supaya ketiganya saling membantu mewujudkan integritas itu dalam hidup nasional kita.


Sumber: Kompas, 10 Juni 2007

TERBARU

MAKALAH