alt/text gambar

Kamis, 19 Februari 2026

Khutbah Idul Adha

 

KHUTBAH   IDUL ADHA  1439 H/2018M

 

Kaum muslimin  sidang  shalat  Idul Adha yang berbahagia,

Pada hari ini, kita kembali mengumandangkan kalimat-kalimat takbir dan tahmid,  mengagungkan dan memuji asma Allah, Tuhan semesta alam. Pada hari yang berbahagia ini, kaum muslimin dianjurkan, selain memuji Allah dalam bentuk shalat Idul Adha, dzikir, takbir, dan tahmid, juga melaksanakan penyembelihan hewan qurban.

Qurban, artinya "pendekatan". Dengan menyembelih hewan qurban, berarti kita telah berbuat sesuatu yang mendekatkan diri kita (taqarrub) kepada Allah dan rahmat ampunan-Nya. Hari raya Idul Adha yang mulia ini mengajarkan kita akan semangat pengorbanan, supaya timbul rasa kepedulian kita terhadap sesama, dan dengan rela hati serta ikhlas untuk selalu membantu orang lain.

Jika pada hari raya ldul Fithri kita mengeluarkan zakat fitrah yang tujuannya untuk menyantuni kehidupan masyarakat yang tidak mampu, maka penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq berikutnya, juga dalam semangat menyantuni kepentingan hidup masyarakat yang tidak mampu.

Agama Islam mempunyai pendirian, bahwa kehidupan yang aman, adil, dan   sejahtera di dunia ini, tidak mungkin akan terwujud apabila kaum mustadh'afin (orang-orang tertindas) dan kaum du'afa' (orang-orang yang lemah dan miskin), tidak mendapatkan layanan dari golongan masyarakat yang mampu.

Para du'afa' atau orang-orang miskin adalah sendi dan tulang punggung kekuatan suatu masyarakat. Karena segala hal yang menyangkut kehidupan manusia di dunia  ini, banyak sekali tergantung kepada peran rakyat jelata dan masyarakat miskin. Baik itu petani, buruh, nelayan, dan lain sebagainya. Mereka ini termasuk golongan  orang-orang yang menderita. Mereka merupakan golongan yang harus mendapatkan  perhatian yang  utama dan  pertama.  Sebagaimana  sabda  Rasulullah saw:

"Carilah (keridhaan)-Ku melalui kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong dengan sebab kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian." (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)

Oleh karena itu, Rasulullah saw telah menggariskan suatu sikap yang jelas  terhadap masyarakat yang lemah dan miskin, yaitu kepada mereka haruslah diberi pelayanan dan santunan yang memadai demi kehidupan dunia yang aman, sejahtera, dan berkeadilan.

 

Allahu  Akbar  3 x  walillahil  hamd

Kalau kita perhatikan secara saksama, setiap kali timbul pergolakan sosial dalam kehidupan, baik dalam suatu negara ataupun dalam kelompok masyarakat, senantiasa ditimbulkan oleh rasa tidak puas antara golongan yang lemah, yang tidak mempunyai kecukupan dalam hidup dan yang menderita kelaparan, terhadap golongan yang  berkecimpung dalam kemewahan dan kesenangan hidup.

Dan setiap pergolakan sosial, betapapun kecilnya, senantiasa menimbulkan malapetaka dan akibat yang mengerikan. Oleh karena itu, kewajiban kita umat Islam untuk senantiasa memikirkan dan memperhatikan nasib rakyat miskin, mengikis kesenjangan sosial, sehingga tercipta rasa keadilan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat kita. Inilah inti pertama dari hikmah penyembelihan hewan qurban pada hari raya Idul Adha.

Bagi seorang muslim yang sudah mampu, dianjurkan untuk berkorban. Sedangkan  yang tidak mau melakukan, akan mendapatkan sanksi, sebagaimana peringatan Rasulullah :

"Barang siapa yang sudah mampu untuk berqurban, tetapi tidak mau melaksanakan, janganlah ia mendekati tempat  shalat  kami." (Hadis riwayat  Ibnu  Majah  dan Ahmad)

Di bulan ini, empat belas abad yang lalu, setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah membeli dua ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Beliau mengimami shalat Idul Adha, setelah itu beliau mengambil seekor domba dan meletakkan kakinya di sisi tubuh domba seraya berkata: "Ya Allah, terimalah ini kurban dari Muhammad dan umat Muhammad."  Lalu beliau menyembelih  hewan  kurban dengan  tangannya sendiri. 

Setelah itu, Rasulullah membaringkan domba yang lain seraya berdo'a: "Terimalah ini kurban dari umatku yang tidak mampu berkurban.” Kemudian daging  tersebut dibagikannya kepada semua umat Islam yang miskin pada waktu itu. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmizi. Berdasarkan hadits inilah maka ahli fiqih menetapkan kurban itu sunnah muakkad (artinya: sunnah yang sangat dianjurkan).

Ibadah korban dalam Islam berbeda dengan korban yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Kaum musyrikin menyembelih korban untuk disajikan pada para dewa dan untuk dijadikan sebagai sesajen. Seperti dalam kepercayaan agama Mesir kuno, misalnya. Dalam Islam, korban berbeda dengan upacara persembahan dalam agama-agama non-Muslim. Dalam Islam, daging kurban tidak disajikan kepada Tuhan, tapi daging kurban justru dinikmati  oleh sebagian besar orang-orang  miskin di muka bumi.

Melaksanakan ibadah korban adalah bukti keikhlasan dan ketakwaan manusia kepada Allah. Firman Allah:

LAYYANALALLAHA LUHUMUHA WA LA DIMA UHA, WALAKIYYANALUHUTTAQWA MINGKUM

“Tidak akan sampai daging dan darah binatang korban itu kepada Allah, melainkan yang akan sampai kepada Allah itu ialah takwa dari kamu semua.” (Qur’an surat AI Hajj ayat 37)

Ibadah qurban mencerminkan pesan Islam betapa Islam memperhatikan nilai-nilai keadilan dan kepedulian sosial. Ibadah korban merupakan bentuk puji syukur manusia kepada Allah atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Firman Allah:   

INNA A’ TAY NA KAL KAUSAR, FASAL LILI ROBBI KA WAN HAR, INNASYA NI AKA HUWAL ABTAR.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka kerjakanlah shalat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Qur’an surat Al-Kausar ayat 1-3)

Salah satu hikmah ibadah korban adalah untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat kikir, tamak, rakus, dan bakhil, dalam diri manusia. Agar tumbuh sikap dermawan, sifat belas kasih terhadap sesama, dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk membeli dan menyembelih hewan korban, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang berhak menerimanya.

 

Allahu  Akbar  3x walillahil  hamd

Nabi Ibrahim as, setelah selesai membangun Ka'bah di  kota Makkah, ia  mendapat perintah untuk berkorban dengan jalan menyembelih putra kesayangannya sendiri, putra tunggal yang sangat disayangi dan telah lama didambakan. Sekalipun berat untuk melaksanakannya, Nabi Ibrahim dengan rela hati menjalankan perintah Allah, sedangkan Isma'il sendiri dengan kesadaran dan tawakkal, pasrah atas perintah itu.

Peristiwa itu diceritakan dalam AI Qur'an:

“Maka  tatkala  anak  itu  sampai  pada  umur  yang sanggup  berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Ia menjawab: "Hai bapakku,  kerjakanlah  apa  yang  diperintahkan  kepadamu. Insha  Allah kamu   akan  mendapatiku  termasuk  orang-orang   yang  sabar." (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 102)

Nabi Ibrahim telah rela akan kematian anaknya atas perbuatan  tangannya sendiri, dan sang anak  telah pula rela akan kematian dirinya demi patuh kepada orang tua dan taat kepada Allah. Perintah pun dilaksanakan. Setelah itu, Allah berseru memanggil Ibrahim:

“Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini suatu ujian yang nyata. Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim."  (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 104-109).

Peristiwa inilah yang kemudian oleh Nabi Muhammad SAW diabadikan setiap  tahun pada hari Raya Idul Adha menjadi ibadah korban sebagaimana yang kita kenal saat ini. Seorang mukmin menjadikan peristiwa di atas sebagai cermin dalam mengorbankan segala sesuatu yang dikehendaki Allah. Peristiwa pengorbanan itu menjadi simbol kesetiaan yang tinggi seorang manusia kepada Tuhannya, yang tidak ada bandingannya sepanjang sejarah  kehidupan manusia. 

Firman Allah:

LAN TANALULLBIRRA HATTA TUNFIQU MIMMA TUHIBBUN

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Qur’an surat Al-Imran ayat 92).

 

Allahu  Akbar  3 x  walillahil  hamd

kaum  muslimin  sidang  shalat  Idul Adha  yang  berbahagia,

Pada  hari  ini,  berjuta-juta  kaum  muslim dari seluruh dunia berkumpul bersama-sama di tanah suci untuk melaksanakan rukun Islam yang ke lima, yakni ibadah Haji. Ibadah haji dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit banyak telah mengalami  perubahan,  namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ibadah haji berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagaimana  isi  khutbah Rasulullah  pada  Haji  Wada'  (Haji  Perpisahan) yang intinya menekankan persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan manusia, serta  larangan melakukan pemerasan dan penindasan terhadap kaum yang lemah, baik di bidang ekonomi, sosial, dan politik, maupun dalam bidang lainnya. Makna-makna dalam praktek ibadah haji pada akhirnya akan mengantarkan jamaah haji untuk hidup dengan pengalaman dan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ibadah  haji  dimulai  dengan  niat,  sambil  menanggalkan  pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tidak dapat disangkal, fungsi pakaian, antara lain, ialah sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain, kepada  perbedaan  status  sosial, ekonomi, profesi, dan prestise. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis (kejiwaan) kepada pemakainya.

Di Miqat Makani, (yakni tempat dimulainya ritual ibadah haji), perbedaan dan pembedaan itu harus ditinggalkan. Semua orang harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian harus ditinggalkan. Sehingga semua orang merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. Tidak ada kaya dan miskin. Tidak ada raja dan rakyat jelata. Semuanya sama sebagai manusia biasa.

Di Miqat, apa pun ras dan sukumu, lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari! Baik sebagai serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan; tikus yang melambangkan kelicikan; anjing yang melambangkan tipu daya; atau domba yang melambangkan penghambaan. Tinggalkan semua itu! Di Miqat makani, berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya.

Dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih—sebagaimana kain yang akan membalut tubuh kita ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini—seseorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Jamaah seharusnya merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban individu yang akan dihadapinya  kelak  di  hadapan  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa—yang di sisi-Nya  tiada  perbedaan  antara  seseorang  dengan  yang  lain, kecuali atas dasar takwa kepada Allah.

Dari segi kemanusiaan, Ka'bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga. Di sana, misalnya, ada Hijir Isma'il yang arti harfiahnya adalah "pengakuan  Isma'iI". Di sanalah, Isma'il putra Ibrahim—pembangun  Ka'bah—pernah berada  dalam  pangkuan ibunya yang bernama Siti Hajar. Siti Hajar adalah seorang wanita hitam, miskin, bahkan budak, yang kuburannya berada di tempat itu. Budak wanita ini ditempatkan Allah kuburannya di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan berdasarkan keturunan, harta, pangkat, jabatan, atau status sosial lainnya, tetapi semata-mata karena tingkat ketakwaan kepada Allah.

Setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia yang lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang  sama,  yakni   berada   dalam lingkungan Allah SWT, maka dilakukanlah sa'i.

Di sini muncul lagi Siti Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi   Ibrahim ‘alaihissalam. Diperagakan bagaimana pengalaman Siti Hajar mencari air untuk putranya. Keyakinan Siti Hajar terhadap kekuasaan Allah sangat kokoh. Ia bersedia ditinggalkan bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu kuat tidak menjadikannya berpangku tangan. Ia tidak hanya menunggu turunnya hujan dari  langit.  Tapi,  ia berusaha, mondar-mandir berkali-kali, demi mencari kehidupan.

Siti Hajar memulai  usahanya  dari  Bukit  Shafa,  yang  arti  harfiahnya adalah “kesucian dan ketegaran”, sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan ketegaran dan niat yang suci. Kemudian diakhiri di Marwa yang berarti "ideal manusia”, “sikap menghargai”, “bermurah hati”, dan “memaafkan orang lain".

Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya  manusia dalam hadirat Ilahi, yang dalam istilah tasawuf disebut: fana' fillah, maka sa'i menggambarkan usaha manusia mencari kehidupan dunia, yang dilakukan begitu selesai thawaf untuk melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan yang tak terpisah—yang tidak boleh kita abaikan salah satunya.

Dengan thawaf, disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sa'i yang menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin. Hasil usaha akan diperoleh, baik melalui usaha maupun melalui anugerah Tuhan. Itulah yang dialami oleh Siti Hajar bersama putranya, Isma'il dengan ditemukannya mata air zamzam. Namun, perlu dicatat bahwa mengenal Allah itu baru datang setelah ada upaya maksimal yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Di 'Arafah, padang  yang  luas  lagi  gersang  itu,  seluruh  jamaah wuquf  (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah jamaah seharusnya menemukan ma'rifat (pengetahuan sejati) tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya di dunia. Di sana pulalah jamaah semestinya menyadari langkah-langkahnya selama ini. Kesadaran-kesadaran inilah yang mengantarkan jamaah haji di Padang Arafah untuk menjadi 'arif (bijaksana) dan memahami.

Kaum  muslimin  sidang  shalat  Idul Adha  yang  berbahagia,

Demikianlah nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah korban dan ibadah haji. Semoga  ibadah  korban dan ibadah haji yang dilaksanakan oleh  kaum muslimin pada Idul Adha ini dapat  menjadikan  kita manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.

 

BARAKALLAHULI WALAKUM FIL QUR’ANIL’AZIM, INNAHU HUWAL GAFURURRAHIM

 

KHUTBAH KEDUA

 

ALLAHUAKBAR 7X

 

-ALHAMDULILLAHI HAMDAN KASIRAN KAMA AMAR

-ASYHADUALLA ILAHA ILLALLAH WAH DAHULA SYARIKALAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUH

-ALLAHUMMASALLI WA SALLIM WA BARIK ‘ALA MUHAMMAD, WA ‘ALA ALIHI WA ASHABIHI AJMA’IN, AMMA BA’DU

-FAYA AYYUHANNAS, USIKUM WA IYYA YA BITAQWALLAH FA KOD FA ZAL MUTTAQUN

-KO LALLAHUTA’ALA FIL QUR’AN NIL ‘AZIM: “INNALAHAWA MALAIKATAHU YUSALLUNA’ALAN NABIY, YA AY YUHALLAZINA AMANU SOLLU ‘ALAIHI  WASALLIMU TASLIMA.

-ALLAHUMMASALLI’ALA MUHAMMAD WA’ALA ALI MUHAMMAD

KAMA SOLLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM

WABARIK ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMA BARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM

FIL ‘ALAMIN INNAKA HAMIDUMMAJID

-ALLAHUMAGGFIRLILMUSLIMINNA WAL MUSLIMAT WAL MU’MININA WAL MU’MINAT AL AHYA IMINHUM WAL AMWAT

INNAKA SAMI’UN QORIBUMMUJIBUD DA’AWAT YA KODIYAL HAJAT.

RABBANA ATINA FIDDUN YA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH WA QINA ‘AZABANNAR

-‘IBADALLAH. INNNALLAHA YAKMURU BIL ‘ADLI WAL IHSAN

WA ITA IZIL QURBA WA YANHA ‘ANIL FAHSYA IWAL MUNKAR WAL BAG.

YA ‘IZUKUM LA’ALLAKUM TAZAKKARUN, WA LA ZIKRULLAHI AKBAR.


Khutbah Idul Fitri: MEMPERKUAT TALI SILATURRAHMI DAN KEPEDULIAN SOSIAL

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,


Marilah kita sambut Hari Raya ldul Fitri 1 Syawal 1439 H ini dengan penuh khusyuk dan khidmat, serta rasa syukur yang mendalam karena taufik dan hidayah-Nyalah kita telah selamat sampai menamatkan puasa Ramadhan sebulan penuh. Dengan penuh iman dan keyakinan. Semoga Allah memberikan ampunan-Nya kepada kita semua sebagaimana sabda Rasulullah:

MAN SHOMA ROMADO NA IMANAN WAH TISABAN, GUFIRALAHU MA TAKADDAMA MIN ZANBIH

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh iman dan muhasabah (menghitung diri), maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu.”

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kalimat takbir dan tahmid ini membawakan getaran jiwa yang meliputi rasa bahagia dan syukur, yakni rasa yang kita nikmati setelah sebulan menunaikan ibadah puasa sebagai jawaban atas panggilan llahi:

YA AYYUHALLAZI NA AMANU KUTIBA’ALAIKUMUSSIYAM, KAMA KUTIBA’ALALLAZI NAMINGKOBLIKUM LA’ALLAKUM TATTAKUN

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Baqarah ayat 183)

Sebagai seorang mukmin, menjalankan ibadah puasa bukanlah suatu penyiksaan diri karena mengharapkan suatu pamrih, melainkan sebagai wujud pembaktian diri kita kepada Allah Subhanahuwata'ala.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang disinyalir oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:

KAMMIN SAIMIN LAISALAHU MIN SIYAMIHI ILLAL ATASA WAL JU'

Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.

Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Salah satu hikmah puasa yang kita lakukan sebulan penuh pada bulan Ramadhan di antaranya adalah supaya kita dapat merasakan penderitaan lapar yang dialami oleh saudara-saudara kita para fakir miskin. Berapa banyak orang yang sudah diberikan Allah rezeki yang berlimpah-limpah, tetapi tak terasa olehnya betapa pahitnya penderitaan orang-orang miskin.

Dengan turutnya kita merasakan tidak makan sehari suntuk, maka dapatlah kita merasakan bagaimana penderitaan para fakir miskin. Dengan berpuasa, orang-orang yang kaya atau orang-orang yang berkecukupan akan mempunyai rasa santun dan kasihan kepada para fakir miskin. Dengan itu, ia akan selalu mengulurkan tangannya untuk menyantuni dan membantu para fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang tidak mampu. Dan akan menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial dengan memberikan sebagian rezeki yang dianugerahkan Allah kepada kita baik dalam bentuk zakat, infaq maupun sadaqah.

Menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah itulah tujuan puasa yang kita lakukan. Seorang yang muttaqin memberikan sebagian hartanya untuk membersihkan diri, bukan untuk mengharapkan pujian atau balas budi seseorang tetapi semata-mata ikhlas karena mengharapkan ridho AllahSubhanahuwata'ala.

Di antara ciri-ciri orang yang bertakwa ialah, pertama, mereka yang beriman kepada Allah dengan aqidah tauhid yang bersih dan kokoh. Kedua, menegakkan shalat sebagai sarana pencegah perbuatan keji dan munkar. Ketiga, menyedekahkan sebagian rezeki yang dikaruniakan Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Kemudian beriman kepada Al Qur'an dengan mengamalkan nilai-nilai lslam dalam kehidupan sehari-hari. Melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Mampu menahan nafsu amarah. Bersedia memaafkan kesalahan orang lain. Serta selalu berbuat kebajikan.

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Romantika kehidupan selalu bergerak antara pasang naik dan pasang surut. Silih berganti antara suka dan duka, senang dan susah, bahagia dan derita, sehat dan sakit. Kekurangan harta, kehilangan, penderitaan, adalah warna suram dari kehidupan. Semua itu adalah bagian dari ujian hidup yang harus kita hadapi dengan sikap syukur dan sabar. Puasa melatih kesabaran dalam menghadapi segala hal.

Ramadhan adalah bulan kesabaran. AS SHIYAMU NISHFU SHABRI.

Dengan membiasakan diri untuk sabar dan tabah dalam menghadapi kesukaran-kesukaran, seorang muslim akan mempunyai kemauan yang keras dan tak mengenal putus asa, serta tahan menghadapi godaan hawa nafsu. Jiwa yang sabar dipuji Allah dalam surat Al Baqarah ayat 155-156.

WALANAB BLUWANNAKUM BI SYAI IMMINAL KHAUF FI WAL JU’ WANAKSIM MINAL AMWAL LIWAL ANFUS SIWASSAMARAT. WABASSIRI SOBIRIN. ALLAZI NA IZA ASABAT HUM MUSIBAH, QOLU INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan innalillahiwainnailaihi raji'un. (Sesungguhnya kami datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah).

Tidak semua gelap itu gulita, fajar subuh akan segera memancar. Tidak semua mendung itu kelabu, hujan rahmat akan segera menyusul. Adakalanya kamu membenci sesuatu padahal itu lebih baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. (Al Baqarah: 216).

Jika ada yang memberi racun, balaslah dengan madu. Kepada yang mengumpat, ucapkanlah salam. Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik (Al Mukmin: 96)

Dan kebaikan itu tidaklah sama dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan dengan kebaikan, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dengan dia ada permusuhan akan menjadi teman setia (Fushshilat 34). Hal ini diamalkan oleh jiwa yang bersih dan ikhlas serta sabar, sehingga pribadinya tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Tidak menjadikan hawa nafsu sebagai panglima. Puasa melatih kita untuk menundukkan hawa nafsu yang merupakan musuh kita yang paling kuat dan paling besar. Nafsulah musuh manusia yang tak pernah lalai setiap saat dan setiap detik selalu mengajak manusia ke lembah kehancuran dan hidup nista.

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Pada hari ini kita telah kembali kepada fitrah kesucian. 'ld artinya kembali, fithrah artinya kesucian. Fitrah membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada kebenaran (hanif). Dengan demikian, setiap yang ber'idul fithri harus sadar bahwa setiap kita melakukan kesalahan. Dan dari kesadaran itu, kita harus bersedia untuk memberi dan menerima maaf.

Seseorang yang beridul fithri berarti kembali kepada kesuciannya. Ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelekan dan keburukan orang lain. Ia akan memberikan maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan.

Oleh karena itu, pada hari yang suci ini marilah kita bukakan pintu maaf. Marilah kita saling maaf-memaafkan di antara kita. Antara anak dengan orang tua, suami dengan istri, antara adik dengan kakak, tetangga dengan tetangga, antara menantu dengan mertua, antara kerabat dengan kaum kerabat yang lain, antara masyarakat dengan pemimpin, antara atasan dengan bawahan.

Marilah kita selalu perkokoh tali silaturrahmi di antara kita. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

LA YADKHULUL JANNATA QOTI’URRAHIM

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.”

Oleh karenanya, marilah kita hilangkan rasa iri dan dengki, perasaan mau menang sendiri, mau benar sendiri orang lain serba salah. Hilangkan dendam kesumat. Hilangkan segala perasaan khianat, hasad dan hasud, angkuh dan sombong, cerdik membuang kawan, menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan. Janganlah kita saling menggibah, memfitnah, menghujat, dan menyalahkan antara satu dengan yang lain. Janganlah kita mengambil yang bukan hak kita, memakan hak anak yatim, hak fakir miskin dan mengambil hak masyarakat.

Dengan hati yang terbuka, muka yang jernih dan tangan yang diulurkan marilah kita saling memaafkan antara kita pada hari yang fitri ini.

Kata maaf berasal dari bahasa Al Qur'an “al- afwu” yang berarti menghapuskan. Memaafkan berarti menghapuskan bekas-bekas luka di hati kita. Tidaklah memaafkan namanya bila masih ada dendam yang membara.

Seorang yang bermaaf-maafan harus mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru. Karenanyalah, mari kita buka lembaran baru dan kita tutup lembaran lama. Yang lalu, biarlah berlalu. Kita wujudkan sikap ihsan, karena itulah yang paling disukai oleh Allah swt.

Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Pada hari raya ldul Fithri ini kita merasakan kenikmatan dan kegembiraan. Kita saksikan sebagian besar anak-anak kita bersuka ria dengan riang gembira dan bangga memakai pakaian baru dan segala perlengkapan yang serba baru. Akan tetapi, marilah sejenak kita layangkan pandangan kita kepada saudara-saudara kita para fakir dan miskin.

Bagi mereka ldul Fithri ini mereka rayakan tidak dengan mengenakan pakaian baru. Tidak dengan menghidangkan makanan yang enak. Tidak dengan hati yang gembira. Mereka sambut hari raya ini dengan perasaan pilu. Dengan hati duka dan perasaan sedih. Karena semuanya serba tiada .

Lihat pulalah anak-anak kita yang sudah menjadi yatim dan piatu. Yang tak berbapak dan tak beribu lagi. Tiada keluarga tempat meminta. Tak ada orang tempat mengadu. Fajar lebaran yang menyingsing di pagi ini mereka sambut dengan isak tangis dan kesedihan.

Mereka tak punya baju baru pemberian ibu. Tak ada pakaian baru dari ayah. Dengan hati yang pilu mereka saksikan anak-anak orang lain berhari raya, bersuka ria, dan bergembira pada hari ini.

Dengan perasaan pedih dan hati yang teriris serta air mata yang berlinang mereka saksikan orang lain berhari raya. Kepada siapa mereka akan mengadukan nasib? Ayah bunda telah tiada. Keluarga tiada yang peduli. Tak ada orang yang mendukung. Tak ada tangan yang menjinjing. Orang tua tempat mengadu kini telah tiada.

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Pada hari ini, mari kita bukakan pintu nurani kita. Kita renungkan nasib anak-anak yatim dan fakir miskin. Kita tanyakan hati nurani kita: tidakkah kita merasa berdosa membiarkan dan menutup mata menyaksikan anak-anak yatim terombang-ambing dalam gelombang kesedihan dan tenggelam dalam lautan air mata.

Mereka adalah tanggung jawab kita. Tempatkanlah mereka dalam khasanah kalbu kita dengan menyisihkan sebagian harta yang diberikan Allah kepada kita. Masing-masing kita bertanggung jawab di hadapan Allah terhadap nasib anak-anak yatim dan para fakir miskin.

***

Suatu peristiwa pada hari raya, Rasulullah keluar rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan. Tetapi tampak ada seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan kawan-kawannya. Dengan pakaian yang sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.

Melihat fenomena ini, Rasulullah segera menghampiri anak kecil itu dan bertanya:

“Nak, mengapa kau menangis? Kau tak bermain bersama mereka?”

Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya itu adalah Rasulullah, dengan sedih ia menjawab,

“Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah  dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Dan ayahku gugur dalam perang itu.”

Rasulullah terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Rasulullah mendengarkan dengan saksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak kecil itu.

“Kini saya tak memiliki apa-apa,” kata anak itu, “saya tak punya makanan dan minuman, saya tak punya pakaian dan tempat tinggal. Sekarang saya seorang yatim. Tapi hari ini, saya melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Karena itulah saya menangis.”

Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah runtuh. Ternyata di hari raya ada anak-anak yatim mengalami nasib malang begini. Rasulullah segera menguasai diri. Rasul menggenggam lengan anak itu dan bertanya:

“Nak, dengarkanlah baik-baik. Apakah kau sudi bila Rasulullah menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?”

Mendengar tawaran ini, anak itu mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Perasaan yang sedih pun menjadi riang gembira.

Begitulah Rasulullah mencintai dan memperlakukan anak-anak yatim. Karena ia sendiri pada masa kecilnya dulu juga merupakan seorang yatim piatu. Itulah sebabnya Rasulullah selalu melindungi dan mencintai anak-anak yatim.

ALAM YAJID KAYATIMAN FA AWA

Bukankah Dia mendapatimu (hai Muhammad) sebagai seorang (yang) yatim, lalu Dia melindungimu. (Quran surat Ad Duha ayat 5).

 

ARO AY TALLAZI YUKAZZIBU BIDDIN. FA ZA LIKALLAZI YA DU ‘UL YATIM WA LA YAHUDDU’ALA TO ‘AMIL MISKIN

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? ltulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin ( Al Mauun:1-2).

Allah menamakan orang yang menyia-nyiakan anak yatim dan fakir miskin sebagai pendusta-pendusta agama. Dusta saja kita shalat, dusta saja kita puasa jika kita masih tidak peduli dengan nasib anak-anak yatim dan fakir miskin.

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Itulah sebabnya Allah SWT mewajibkan kita untuk membayar zakat, baik zakat fitrah maupun zakat harta. Zakat fitrah merupakan peringatan simbolik tentang kewajiban untuk berbagi kebahagiaan dengan kaum yang kurang beruntung, yaitu para fakir miskin. Zakat fitrah merupakan simbol solidaritas sosial dan rasa perikemanusiaan antar sesama.

Sementara zakat harta bertujuan untuk menghilangkan jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Mengikis kesenjangan sosial. Sehingga tercipta rasa keadilan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat.

Firman Allah:

WA FI AMWA LIHIM HAQQULLISSAILI WAL MAHRUM

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian.” (Qs. Az Zaariyaat: 19).

Marilah kita pertebal rasa kepedulian kita terhadap fakir miskin dan anak-anak yatim dan kita tanamkan rasa senasib dan sepenanggungan. Itulah salah satu hikmah kita berpuasa di bulan Ramadhan, yakni untuk menumbuhkan perasaan belas kasih terhadap sesama, sebagaimana sabda Rasulullah:

LA YU’MINU AHADUKUM  HATTA YUHIBBU LI AKHI HI MA YUHIBBU LI NAFSIHI

Tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. (HADIS RIWAYAT Imam al Bukhari).

Dalam hadits yang lain dijelaskan:

"Belumlah dikatakan seorang muslim sejati orang yang tidur dalam perut kenyang, sementara tetangganya merintih dalam kelaparan."

Dalam harta milik orang-orang kaya terdapat hak anggota masyarakat yang tidak mampu. Allah mengancam orang-orang yang suka mengumpul-ngumpulkan harta dan tidak mau menafkahkannya di jalan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Al Qur'an surat At Taubah ayat 35:

Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, (FABA SYIRHUM BI ‘AZABIN ALIM) maka beri kabar gembiralah mereka dengan azab yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak di dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka, lalu dikatakan kepada mereka, "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kaum Muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia, 

Sepantasnyalah kita mensyukuri nikmat Allah dengan memberikan sebagian harta kepada yang berhak menerimanya, karena masih banyak orang-orang yang harus disantuni.

Firman Allah:

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Surat Al lsraa' ayat 26)

Janganlah kedudukan yang tinggi, kehidupan yang mewah dan bahagia, serta harta yang melimpah, membuat kita lalai dan lupa diri menjadi bakhil dan tamak, angkuh, dan sombong, telinga tuli dari ratapan fakir miskin dan anak yatim, mata buta melihat keluarga yang sengsara. Padahal, harta adalah amanah dan titipan Allah. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang pasti suatu saat kita akan berpisah dengannya.

Tidak ada yang dapat menolong kita di Hari Kiamat kecuali perbuatan baik kita sendiri, dan salah satunya adalah amal zakat atau sedekah yang pernah kita berikan di dunia ini.

Rasulullah bersabda:

“Setiap orang (pada Hari Kiamat) berada di bawah naungan sedekahnya....” (HR. Al Baihaqi-Al Hakim-Ibnu Kuzaimah)

Jika kepedulian kita terhadap fakir miskin dan yatim belum tumbuh dalam hati kita masing-masing, berarti kita belum mendapatkan derajat takwa sebagaimana tujuan puasa itu sendiri.

ALLAHUAKBAR 3X, WA LILLA HILHAMD

Kaum muslimin sidang shalat ldil Fithri yang berbahagia,

Pada hari yang penuh kedamaian ini marilah sejenak kita mengenangkan para arwah kedua orang tua kita, keluarga kita, kaum kerabat kita, dan orang-orang yang kita cintai, yang mungkin pada tahun-tahun yang lalu mereka masih sempat berhari raya bersama-sama dengan kita, tapi kini mereka telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya menghadap Allah Sang Khaliknya.

Tidak ada yang dapat menolong mereka selain dari amal perbuatan mereka sendiri serta doa anak-anak yang shaleh. Marilah kita doakan semoga mereka mendapatkan ampunan dan tempat yang layak di sisi Allah. Di samping itu, kepada keluarga kita yang tidak sempat bersama-sama dengan kita pada hari raya ini, seperti mereka yang sekarang sedang berada di rantau orang, atau sekarang sedang terbaring karena sakit, kita do'akan saja semoga mereka diberikan kekuatan iman, diberikan rezeki dan kesehatan lahir maupun bathin.

Kaum muslimin sidang shalat ldul Fithri yang berbahagia,

Sebagai uraian penutup, khatib mengingatkan kita semua, dalam menghadapi perkembangan zaman hari ini marilah kita perkuat benteng pada keluarga kita masing-masing dengan iman dan ketakwaan kepada Allah. Mari kita bekali anak-anak kita dengan pendidikan dan pengetahuan agama yang baik dan benar. KU ANFUSAKUM WA AHLIKUM NAAR, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka.

Di samping itu, selalulah kita tingkatkan persatuan, dengan memperkuat tali silaturrahmi di antara kita. Karena bersatu adalah rahmat Allah, sedangkan berpecah belah memanggil azab Allah segera datang. Marilah kita songsong hari esok yang lebih baik: YAKHRUJU MINAZZULUMATI ILANNUR. Keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang-benderang. Semoga bangsa dan negeri kita menjadi bangsa dan negeri yang aman, makmur dan penuh ampunan. BALDATUN THOYYIBATUN WARABBUN GHAFUR.

BARAKALLAHULIWALAKUM FIL QUR’ANIL AZIM, INNAHU HUWAL GAFURURRAHIM


 ***


MEMPERKUAT TALI SILATURRAHMI DAN KEPEDULIAN SOSIAL


Khutbah pada Shalat Hari Raya 'Idul Fithri di Masjid Nurul Iman

Hamparan Pugu Semurup

1439 H/2018 M


Oleh:

 

NANI EFENDI








TERBARU

MAKALAH