alt/text gambar

Jumat, 24 April 2026

,

KESADARAN KRITIS

(TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992)

Oleh: Mudji Sutrisno, S.J.


Ada tiga pertanyaan "mengapa" perlu direnungkan. Pertama, mengapa ramalan dan pendapat Marx mengenai kapitalisme akan runtuh oleh gelombang massa buruh yang tertindas sistem monopoli kapitalistis tak terwujud. Kedua, mengapa massa buruh yang semakin tertekan oleh struktur hubungan ekonomi kapitalistis tak memberontak kaum kapitalis. Dan terakhir, mengapa sistem Marxisme komunisme yang dianut di Uni Soviet dan Eropa Timur runtuh.

Tulisan ini mencoba membawa dua renungan untuk menjawab "mengapa" tadi. Renungan pertama lebih memusatkan perhatian pada kesadaran orang, dan yang kedua mencoba menganalisa secara kritis untuk membuka sisi-sisi ideologis sebuah sistem politik yang kerap menumpulkan kesadaran kritis warganya.

Mengapa ramalan revolusi yang dicanangkan Marx tak terwujud? Gyorgy Lukacs-lah yang menjawab tajam persoalan ini. Revolusi tak terjadi dalam hubungan sosial ekonomis masyarakat kapitalistis lantaran Marx lupa pada "proses reifikasi". Ini suatu proses impersonalisasi dan materialisasi buruh oleh majikan di masyarakat borjuis kapitalistis. Hubungan kerja cuma didasarkan pada nomor dan kartu absensi sebagai "sekrup" dalam mekanisme masyarakat industri kapitalistis. 

Reifikasi adalah proses menumpulnya kesadaran para buruh yang diperlakukan secara impersonal. Mereka sekadar menjadi robot dalam pabrik. Ini persis seperti para babu di rumah Anda bila mereka diperlakukan sebagai robot yang harus menurut kehendak dan instruksi majikan dalam bekerja. Mereka bisa menjadi robot untuk memasak, mengepel, mencuci, melayani, dan sasaran kemarahan si majikan.

Sistem politik dan ekonomi kapitalistik telah menciptakan suasana hidup reifikasi begitu rupa. Bilamana perlu, digunakan manipulasi kebutuhan psikologisnya untuk menumpulkan kesadaran kritisnya sehingga tak berdaya untuk memprotes atau unjuk rasa.

Untuk itu, Gyorgy Lukacs memperkenalkan resep untuk menghancurkan robotisasi akibat reifikasi ini dengan membangkitkan kesadaran kritis kaum buruh. Lukacs tak hanya menulis teori untuk membangkitkan kesadaran kritisnya yang tidur, tapi juga mengikhtiarkan praktek-praktek untuk "memanusiakan kembali" lewat drama, sastra, atau kesenian. Ini dimaksudkan agar para buruh sadar akan dirinya yang bukan sekadar robot suatu pabrik. 

Gagasan ini kemudian dikembangkan dalam model pendidikan penyadaran, misalnya di Amerika Latin oleh Paulo Freire. Ia beken dengan metode konsientisasi atau penyadarannya. Lewat proses penyadaran ini, buruh atau rakyat kecil kemudian mampu bersuara, merumuskan protes, dan menjadi berdaya. 

Dengan proses "alfabetisasi", yang bukan cuma berarti membebaskan orang kecil dari buta huruf, Freire membangkitkan orang yang bisu dan tumpul kesadarannya akibat tekanan penguasa atau struktur budaya. Mereka menjadi mampu mengartikulasikan sikapnya dan berani berbicara atas namanya sendiri, meski dengan risiko besar.

Dalam merenungkan semua itu, sejauh mana reifikasi terjadi sebagai iklim ideologis di sini. Tampaknya hal itu bisa diuji dalam sistem politik atau budaya yang dimanipulasi untuk pembenaran kepentingan pembicara yang "kuat" untuk membungkam kesadaran kritis orang lain. Ambil contoh pembangunan lapangan golf di atas tanah petani sayur. Dalam pernyataan ideologis disebutkan akan menampung ratusan tenaga kerja penduduk di sekitarnya. Untuk itu, beberapa orang yang menggarap tanah diminta rela mengorbankan ladangnya "demi kepentingan orang lebih banyak" dengan ganti rugi berdasarkan "musyawarah kekeluargaan".

Pernyataan ideologis yang dimaksud, yakni "demi kepentingan orang lebih banyak", memberikan lapangan kerja bagi penduduk sekitar yang menganggur dan "musyawarah kekeluargaan" dalam ganti rugi. Pernyataan ideologis semacam itu mampu membius rakyat sehingga tumpul kesadaran kritisnya. Proses penggusuran pun berjalan mulus. Padahal, siapa sebenarnya yang bakal untung? Penduduk yang tertampung menjadi pencabut rumput di lapangan golf, pemuda yang akan menjadi caddy atau pengusaha lapangan golf dan orang yang akan main?

Sejalan dengan pemikiran itu, proses reifikasi atau penumpulan kesadaran kritis bisa dilihat dalam fenomena sebagai berikut:

• Pertama, ada sikap ketidakberdayaan. Misalnya orang menjadi cuek menghadapi korupsi yang meluas atau malah ikut terlibat sekalian. Dalam hal ini tampak telah terjadi proses reifikasi massal. Mereka menjadi tak berdaya membangkitkan kesadaran kritisnya untuk mengatakan bahwa korupsi harus diberantas atau tak berani bertindak mencegahnya.

• Kedua, adanya fenomena reifikasi berupa tiadanya keberanian untuk menampilkan kekhasan atau keunikannya demi ideologi ke-eka-an. Hak hidup mereka yang kecil dalam kemajemukan hampir tak ada.

• Ketiga, penumpulan kesadaran kritis menyeruak dalam model pendidikan atau rekayasa sosial politis yang tak toleran, membungkam artikulasi-artikulasi kesadaran kritis dalam hal beda pendapat. Setiap proses pencerahan kesadaran kritis selalu mengandaikan terjadinya diskusi, beda pendapat, atau dialog sehat untuk melahirkan ide yang kreatif. Bagaimana ide yang cemerlang bisa muncul kalau soal beda pendapat saja diharamkan?

Kesadaran kritis bagaimanapun merupakan penentu kecerdasan dan perkembangan bangsa. Setelah mengerti betul apa itu reifikasi dan bagaimana menangkalnya, alangkah mulianya apabila kita lebih tenang mengikhtiarkan dan mengusahakan agar pelumpuhan kesadaran kritis itu tak menjadi akut.


Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992


Kamis, 23 April 2026

, ,

KANT DAN HEGEL: PERANG ABADI MENUJU PERDAMAIAN ABADI



Oleh: Fitzerald Kennedy Sitorus


Kant dan Hegel berada pada kutub yang berseberangan mengenai perang. Kant dikenal sebagai filsuf perdamaian (philosopher of peace), Hegel sebagai filsuf perang (philosopher of war). Kant filsuf “pencinta damai (pacifis), Hegel filsuf „penghasut perang” (war-monger). 

Dalam tulisan-tulisan mereka, Kant berbicara mengenai Perdamaian Abadi, Hegel berbicara mengenai ketidakmungkinan menghindari perang. Hegel menilai perang sebagai „kejahatan yang penting“ (necessary evil) bagi kesehatan etis sebuah bangsa. Perang adalah vaksin yang akan memperkuat solidaritas, kebangsaan, identitas diri. Karena itu perang tidak semata-mata negatif. 

Kant sebaliknya: perang adalah kekejaman dan kekerasan di mana keputusan diambil berdasarkan kekuasaan dan kekuatan.“ Karena itu perang harus diatasi melalui pendirian federasi bangsa-bangsa untuk menjamin Perdamaian Abadi berskala global. 

Perbedaan pendapat demikian penting karena akan memperkaya dan memperdalam pemahaman tentang perang. 

Hegel menolak gagasan Perdamaian Abadi Kant. Itu adalah utopia yang tidak mungkin terwujud, katanya. Hegel mengambil sikap realistis, historis sekaligus dialektis terhadap perang. Bangsa yang terlalu tenang, tanpa tantangan, akan stagnan. Orang tidak menyadari secara konkret pentingnya negara, masyarakat dan sesama. Perang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan kesadaran etis itu. 

Gagasan yang mungkin sekarang kedengaran asing ini terjangkarkan dalam konsep negara organik Hegel: semua unsur negara berelasi secara organik satu sama lain, saling mengandaikan dalam sebuah totalitas. Karena itu, relasi organik yang saling mengandaikan ini sekali-sekali perlu disentak agar orang menyadari signifikansi negara. Ini yang membuat Hegel dituduh sebagai filsuf pemberi justifikasi filosofis bagi negara totaliter dan perang. Tapi tuduhan itu tidak sepenuhnya benar.

Negara mirip dengan individu. Sama-sama punya keinginan, kepentingan dan kebutuhan akan pengakuan. Pengakuan-diri (self recognition) juga diperoleh melalui perang, kata Hegel. Karena itu, perang dan konflik berada dalam struktur kesadaran manusia. Itu yang membuat sejarah umat manusia tidak pernah sungguh-sungguh bersih dari perang.

Sekalipun kita berharap bahwa perang harusnya tidak ada, karena bersifat destruktif, tapi perang akan selalu ada dalam sejarah, dari dulu hingga hari ini. Hegel tidak mengharapkan dan tidak menginginkan Perdamaian Abadi.

Sebaliknya, Kant mengandaikan Perdamaian Abadi. Perang terjadi dalam state of nature, dalam negara dan antar-negara. Semua perang itu tentu saja negatif, tapi bukannya tanpa tujuan. Itu adalah karya Alam untuk menantang manusia mengembangkan kapasitas-kapasitasnya. 

Perang dalam state of nature memaksa manusia untuk berpikir mendirikan negara. Perang dalam negara memaksa manusia membentuk negara republik. Perang antar-negara memaksa bangsa-bangsa untuk membentuk perserikatan bangsa-bangsa, kalau mereka tidak ingin saling menghancurkan satu sama lain. Itu dikatakan Kant dalam bukunya Perdamaian Abdi (Zum ewigen Frieden, 1795). Dan ia tiba pada kesimpulan itu hanya berdasarkan refleksi rasional.

Tapi 150 tahun kemudian, spekulasi rasional Kant itu terbukti dalam kenyataan bersamaan dengan pendirian PBB (1945), sebagai buah dari Perang Dunia II.  Kant dianggap filsuf yang menginspirasi pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Federasi bangsa-bangsa ini bertujuan untuk menjaga atau menciptakan kondisi bagi tercapainya Perdamaian Abadi.

Apakah Perdamaian Abadi itu akan sungguh-sungguh terwujud? Mungkinkah mewujudkan surga di dunia? 

Bagi Kant, itu tidak penting. Perdamaian Abadi adalah sebuah ide regulatif. Yang penting bukanlah bahwa gagasan ini kelak sungguh-sungguh terealisasi dalam kenyataan, melainkan implikasi gagasan tersebut dalam kenyataan. Kant mengatakan, kita harus bertindak sedemikian rupa seolah-olah gagasan ini dapat terwujud. 

Sangat mungkin bahwa Perdamaian Abadi memang tidak akan terwujud dalam kenyataan tapi cara-cara untuk mencapainya bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Cara-cara itu antara lain bahwa kita harus lebih memilih bentuk negara republik ketimbang diktator, lebih memilih kebebasan/kedamaian ketimbang penjajahan, lebih memilih diplomasi ketimbang kekerasan, lebih memilih damai ketimbang perang, lebih memilih pengurangan persenjataan ketimbang meningkatkannya, tidak mencampuri urusan negara lain secara paksa, dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak kepercayaan bangsa lain, dan lain-lain. 

Karena itu sekalipun perang itu abadi, akan selalu ada (Hegel), itu justru mendorong kita untuk semakin aktif mempromosikan usaha-usaha untuk mencapai Perdamaian Abadi sekalipun kita tahu bahwa hal itu tidak mungkin dicapai (Kant). 

______________________

🗓 Jumat, 8 Mei 2026 

🕗 08.00 – 16.00 WIB 

📍 Ruang D501 UPH (tersedia juga online) 

💳 Rp.50.342 🏷 Sertifikat + makan siang & snack (bagi peserta onsite) 


Daftarkan diri Anda melalui: 

📌 Link : https://bit.ly/2026shortcourse 

🗓 Batas pendaftaran: 

* Onsite: 6 Mei 2026 

* Online: 7 Mei 2026 

📲 Informasi lebih lanjut: 0856-9330-7695 (Enggar) 

📩 Email: center.education@uph.edu

🔗 https://bit.ly/2026shortcourse



Rabu, 22 April 2026

,

Ketika Hidup Terasa Tidak Masuk Akal, Menyelami Filsafat Absurd Albert Camus

Sisyphus


Albert Camus adalah seorang penulis dan filsuf asal Aljazair-Prancis yang hidup di era perang dunia 2, kolonialisme, dan kehancuran moral umat manusia. Ia menulis novel-novel legendaris seperti The Stranger dan The Plague, dan pada usia 44 tahun memenangkan Hadiah Nobel Sastra. 

Terlepas Anda setuju atau tidak dengan filsafat ya, ia adalah seorang filusuf besar dan pemikiran ya, bisa kita ambil pelajaran, meski harus tak menyetujui semuanya. 

Salah satu karyanya yang paling berpengaruh adalah esai filosofis berjudul The Myth of Sisyphus sebuah karya yang memulai perjalanannya dengan kalimat yang menggemparkan:

"Hanya ada satu pertanyaan filosofi yang benar-benar serius: apakah hidup layak untuk dijalani?"

Bukan pertanyaan tentang Tuhan. Bukan tentang kematian. Tapi tentang "bunuh diri" lebih tepatnya, mengapa kita tidak melakukannya meski hidup sering terasa tidak masuk akal. Ini berkenaan dengan gagasan Absurd.

Apa Itu Absurd? 

Dalam bahasa sehari-hari, kata "absurd" sering kita pakai untuk sesuatu yang konyol atau tidak logis. Tapi dalam filsafat Camus, absurd memiliki makna yang jauh lebih dalam dan lebih serius.

Bayangkan skenario ini:

Seorang pria berjalan ke tengah lapangan perang, hanya berbekal pedang, menghadapi puluhan tentara bersenjata mesin. Kita akan spontan berkata: Itu absurd. Tapi kenapa? Bukan karena tindakannya salah secara moral  melainkan karena ada jurang besar antara niatnya dan realitas yang dihadapinya. Keinginannya (menang atau bertahan hidup) bertabrakan keras dengan kenyataan (ia pasti kalah).

Di sinilah inti dari konsep Camus: absurd bukan ada di dalam diri manusia, bukan juga ada di dalam dunia tapi lahir dari benturan antara keduanya.

Kita, sebagai manusia, punya kehausan yang luar biasa terhadap kejelasan, makna, dan kepastian. Kita ingin tahu mengapa kita ada, untuk apa kita hidup, dan ke mana kita pergi setelah mati. 

Tapi dunia? Menurut Camus, dunia diam saja. Alam semesta tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia terus berputar, bintang-bintang terus meledak dan mati, dan tidak ada suara dari langit yang menjelaskan apa pun.

Absurd adalah perceraian antara manusia dan dunia.Sebuah hubungan yang gagal bukan karena salah satu pihak jahat, tapi karena keduanya memang tidak berbicara dalam bahasa yang sama.

Camus mengatakan bahwa perasaan absurd bisa muncul kapan saja, dalam momen yang paling biasa sekalipun. Mungkin kamu pernah mengalaminya tanpa menyadarinya:

1. Rutinitas yang tiba-tiba terasa aneh

Kamu berangkat kerja, duduk di depan layar, mengetik, rapat, pulang, tidur  lalu besoknya diulang lagi. Dan di suatu Senin pagi, tiba-tiba kamu bertanya: "Mengapa aku terus melakukan ini?" Bukan karena kamu malas. Tapi karena kamu sebentar menyadari betapa mekanisnya hidupmu dan betapa dunia tidak pernah memintamu untuk menjelaskannya.


2. Kehilangan orang yang dicintai

Saat seseorang yang kamu sayangi meninggal, dunia di luar terus berjalan seperti biasa. Orang-orang tetap tertawa, matahari tetap terbit, kafe-kafe tetap ramai. Perasaan itu bahwa alam semesta tidak peduli dengan kesedihanmu itulah absurd.


3. Pertanyaan besar yang tidak terjawab

Apakah ada kehidupan setelah mati? Apakah ada tujuan tertinggi dari keberadaan kita? Semakin keras kamu mencari, semakin besar kediamannya. Dan diam itu terasa mencekik.


Menurut Camus, ketika seseorang berhadapan dengan absurd  dengan kenyataan bahwa hidup tidak memiliki makna yang sudah ditetapkan ada tiga kemungkinan respons:


Respons Pertama: Bunuh Diri Fisik

Jika hidup memang tidak bermakna, mengapa harus dilanjutkan? Ini adalah "jalan keluar" yang paling literal. Tapi Camus menolaknya. Baginya, mengakhiri hidup justru adalah pelarian dari absurd, bukan jawaban atasnya.Kamu tidak menyelesaikan masalah  kamu hanya kabur darinya.


Respons Kedua: "Bunuh Diri Filosofis"

Inilah yang paling menarik dan paling sering dilakukan orang tanpa sadar. Bunuh diri filosofis bukan berarti mati secara fisik tapi mematikan kemampuan berpikir dan merasakan absurd dengan cara berlindung di balik keyakinan tertentu.


Camus mengkritik para filsuf eksistensialis seperti Kierkegaard yang, setelah mengakui absurd, kemudian melompat ke keyakinan religius. "Ah, kalau hidup ini tidak bermakna, pasti ada Tuhan yang memberi makna lebih tinggi!" Bagi Camus, ini adalah pengkhianatan terhadap kejujuran intelektual. Kamu mengakui masalahnya, lalu segera melarikan diri ke solusi yang justru menghapus masalah itu.

Ini seperti seseorang yang mengakui bahwa hubungannya bermasalah, lalu bukannya menghadapinya ia malah berpura-pura masalah itu tidak ada dengan terus senyum setiap hari.


Respons Ketiga: Pemberontakan (Revolt)

Inilah jawaban Camus. Dan ini yang paling sulit tapi juga paling jujur, paling manusiawi, dan paradoksnya, paling membebaskan.

Pemberontakan bukan berarti kamu marah pada dunia dan memukul-mukul tembok. Pemberontakan dalam pengertian Camus adalah keputusan untuk tetap hidup, tetap sadar, tetap merasakan absurd  dan menolak untuk menyerah padanya.

Kamu tidak mencari makna yang sudah jadi. Kamu tidak berlari ke pelukan agama atau ideologi untuk menenangkan dirimu. Kamu berdiri tegak di tengah kekosongan itu dan berkata: "Ya, aku tahu hidup ini tidak memberikan jawaban. Dan aku tetap akan hidup sepenuhnya."

Ada satu poin perlu dicatat dari Camus yang sering terlewat, absurd tidak bisa ada tanpa manusia yang hidup dan sadar.

Kalau kamu mati, absurd juga mati. Kalau dunia hancur, absurd juga lenyap. Absurd adalah makhluk yang hanya bisa hidup dalam ketegangan antara kamu (dengan segala pertanyaanmu) dan dunia (dengan segala kebisuannya).

Ini berarti, setiap kali kamu memilih untuk terus hidup dan terus berpikir, kamu sedang mempertahankan absurd itu sendiri.

Dan bagi Camus, itu bukan beban itu adalah bentuk kebebasan tertinggi. Karena kamu tidak butuh alam semesta untuk melegitimasi eksistensimu. Keberadaanmu sah karena kamu ada, karena kamu merasakan, karena kamu melawan.

Pemikiran Albert Camus memang cenderung sekuler serta ateis dan pengalaman World War II jelas ikut memengaruhi filsafatnya terutama dalam memperkuat kesadarannya tentang absurditas, kekerasan, dan bahaya ideologi absolut namun tidak tepat jika perang dianggap sebagai satu-satunya sumber pemikirannya, karena gagasan absurd sudah mulai ia rumuskan sebelum perang melalui karya seperti Nuptials dan The Myth of Sisyphus, sementara akar lainnya juga berasal dari masa kecil miskin di Algeria kolonial, kematian ayahnya dalam World War I, pengalaman sakit tuberkulosis, serta krisis spiritual barat modern pasca Friedrich Nietzsche.

Dan Camus menegaskan bahwa untuk benar-benar hidup dalam pemberontakan terhadap absurd, ada tiga hal yang tidak boleh hilang:

1. Tidak Ada Harapan (tapi bukan putus asa)

Ini terdengar keras, tapi Camus tidak sedang menyuruh kita menjadi nihilis. Ia membedakan antara hope (harapan akan solusi permanen, akan makna yang sudah tersedia) dan despair (keputusasaan yang pasif). Yang ia tolak adalah harapan palsu, harapan bahwa suatu hari semua pertanyaan akan terjawab. Yang ia pegang adalah semangat untuk terus hidup tanpa jaminan itu.


2. Penolakan yang Terus-Menerus (tapi bukan pengabaian)

Kita harus terus-menerus menolak untuk menerima absurd sebagai sesuatu yang "biasa saja" atau "tidak apa-apa." Bukan karena kita harus terus marah  tapi karena kesadaran akan absurd harus dijaga agar tetap hidup. Begitu kita berdamai dan berhenti merasakannya, kita sudah mulai melakukan bunuh diri filosofis.


3. Ketidakpuasan yang Sadar (tapi bukan kegelisahan remaja)

Ada bedanya antara ketidakpuasan yang matang dan kegelisahan yang dangkal. Ketidakpuasan yang dimaksud Camus adalah kesadaran dewasa bahwa dunia tidak sempurna, hidup tidak sempurna dan kita terus bergerak bukan karena sudah puas, tapi karena kita memilih untuk bergerak.

Camus dengan gambaran yang sangat terkenal: Sisifus, tokoh mitologi Yunani yang dikutuk untuk mendorong batu besar ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya menggelinding kembali ke bawah  selamanya.

Bagi kebanyakan orang, ini terdengar seperti hukuman yang mengerikan. Tidak ada kemajuan. Tidak ada tujuan akhir. Hanya pengulangan yang abadi dan sia-sia.

Tapi Camus berkata sesuatu yang mengejutkan: "Kita harus membayangkan Sisifus bahagia."

Mengapa? Karena Sisifus  sadar akan kondisinya. Ia tidak tertipu oleh harapan palsu. Ia tidak menyerah. Ia tahu bahwa batu itu akan selalu menggelinding ke bawah, dan ia tetap mendorongnya bukan karena terpaksa, tapi karena itulah pilihannya. Itulah pemberontakannya. Itulah hidupnya.

Dan dalam kesadaran itu dalam pemberontakan yang sadar terhadap takdir yang absurd ada sesuatu yang menyerupai kebahagiaan. Bukan kebahagiaan yang naif atau yang dipaksakan. Tapi kebahagiaan yang lahir dari kejujuran total terhadap kondisi manusia.

Hidup memang tidak selalu masuk akal. Kadang kerja keras tidak menghasilkan apa yang kita inginkan. Kadang orang baik menderita, dan orang jahat hidup makmur. Ya itulah kehidupan menurut Albert Camus: Absurd.



,

DAOED JOESOEF TENTANG MAHASISWA DAN MISINYA

(TEMPO, No. 8, Thn. VIII, 22 APRIL 1978)


Menteri P & K Doed Joesoef nampaknya sudah lama merenungkan masalah kehadiran mahasiswa di masyarakat. Sarjana ekonomi yang menyatakan perlunya penggabungan antara kecakapan teknis dengan filosofi ini siap betul menjelaskan pandangannya tentang hal itu seperti terdapat dalam jawabnya kepada TEMPO di bawah ini:


Kekuatan Individuil Akalbudi

Mahasiswa harus mampu membangkitkan kekuatan pemikiran. Nah, kalau pun di samping itu mereka mau menjadikan dirinya kekuatan moral, itu harus dalam arti mereka harus bertanggungjawab kepada masyarakat. Sebab masyarakat 'kan sudah memanjakan mereka. Mereka boleh menolak disebut golongan elite, tapi mereka itu elite dibanding misalnya dengan masyarakat pedesaan. Mereka harus bisa mempertanggungjawabkan bahwa misi mereka telah dijalankan. Misi mahasiswa itu adalah membangkitkan kekuatan pemikiran tadi. Bukan kekuatan politik, tapi kekuatan individuil dalam akalbudi (the individual power of the reason).

Mengapa individuil, ini penting. Karena yang kita hendak bangkitkan adalah suatu masyarakat demokrasi, bukan suatu masyarakat kolektif otoriter, di mana manusia-manusianya mau didikte. Nah, syaratnya harus setiap orang itu bisa berpikiran sendiri. Dan juga kenapa individuil, karena kalau jalan pemikirannya itu individuil, itu sumber kreatifitas. Tidak akan ada kreasi kalau orang itu jalan pikirannya tidak individuil. Dan kalau tak ada kreasi hari ini, besok kita tak punya tradisi. Dan suatu masyarakat tanpa tradisi akan ambruk. Tradisi hari ini adalah kreatifitas kemarin.

Yang harus dijaga melalui pendidikan adalah supaya kekuatan individuil dalam pemikiran itu tak tercermin dalam aktifitas sosial. Dalam aktifitas sosial, individu itu di bawah ketentuan masyarakat. Jadi ada kontak sosial terus menerus.

Kita Perlu Politisi, Tapi...

Mahasiswa selama ini melupakan misi pokoknya. Mereka mengklaim dirinya mahasiswa tapi mereka bertindak sebagai politisi. Itu bukan buruk. Kita memerlukan politisi. Tapi kalau mereka benar politisi, mereka harus bersedia mendefinir dirinya sebagai politisi. Jadi jangan di satu pihak berteriak sebagai mahasiswa tapi yang mereka lakukan politik, sementara ketika mau ditindak mereka menyebut mahasiswa lagi. Ini tidak satria.

Mahasiswa juga harus berusaha menjadi seorang gentleman, bukan hero. Sebab lebih sulit menjadi gentleman dari pada hero. Di masyarakat demokrasi paling mudah jadi hero. Kritik saja pemerintah, maka orang akan jadi hero.

Ya, kurikulum tidak mendorong ke arah menjadikan mereka manusia penganalisa. Mahasiswa 'kan harus jadi the man of analysis, bukan manusia rapat umum. Itu bukan berarti mereka tak boleh berpolitik. Tapi, kalau politik tanpa didasarkan pada konsep yang teratur, kacau balau. Kalau misalnya mereka mengatakan demokrasi, mereka harus bisa mengatakan apa itu demokrasi.

Maka dalam kurikulum bakal ada perubahan. Akan saya usulkan dan saya perjuangkan supaya bisa diterima agar mahasiswa lebih aktif dalam bentuk kegiatan tulisan, tidak hanya kuliah. Ini tentu akan minta waktu lebih banyak. Yang saya bayangkan, pada tingkat pertama, mahasiswa sudah harus digiring untuk mencari data. Sebab mencari data dan mengumpulkan data adalah langkah pertama berpikir secara ilmiah.

Pada tahun kedua, mereka sudah harus diajak membuat analisa. Analisa secara rudimenter atau membuat tabel. Pada tahun ketiga, membuat skripsi singkat. Ini pengantar ke arah tradisi tulisan. Skripsi kecil ini tak perlu dipertahankan, hanya perlu dikoreksi. Skripsi ini bisa diperluas pada waktu dia mau lulus sebagai sarjana. Maka itu penting pelajaran mengarang di sekolah menengah. Anak saya sekolah di SMP. Selama itu setahu saya dia hanya tiga atau empat kali diajar mengarang. Dan kalau kita sebut di Indonesia pelajaran mengarang, itu mengarang roman dalam rangka pelajaran bahasa Indonesia. Saya tak menganggap pelajaran mengarang roman itu jelek. Tapi 'kan perlu anak-anak itu mengarang analitis. 

SK 028

Dalam keadaan kondisi sekarang, saya kira tidak perlu diterapkan peraturan semacam SK 028. Tapi dalam kampus yang akan datang, kampus betul-betul akan kita kondisikan untuk bisa menghasilkan orang yang mempunyai kekuatan individuil dalam akal-budi. Itu stereotip mahasiswa yang saya bayangkan.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. VIII, 22 APRIL 1978



Selasa, 21 April 2026

, ,

Post-Strukturalisme

Sophan Ajie


Jika mazhab-mazhab sebelumnya yang sangat dipengaruhi oleh Strukturalisme cenderung meyakini bahwa karya sastra adalah sesuatu yang struktur maknanya dapat kita analisis dan kita tangkap secara sistematik, mazhab post-strukturalisme, kendati berasal dari akar yang sama, justru meyakini kebalikannya: bahwa “struktur” dan “makna” adalah sesuatu yang tak pernah bisa ditangkap secara pasti. 

Keyakinan ini di kemudian hari sangat berpengaruh pada kiprah penulisan karya-karya sastra kontemporer, yang acapkali mempermainkan struktur secara semena-mena, mencampuradukkan antara fiksi dan fakta, ataupun mengacak-acak bahasa dan logika. 

Post-strukturalisme adalah kritik dan sekaligus radikalisasi atas strukturalisme. Strukturalisme awalnya digagas oleh Ferdinand de Saussure yang meyakini bahwa makna bahasa terletak dalam sistem bahasa itu sendiri, tidak di luarnya, tidak di wilayah 'extralinguistic'. Artinya, makna tidak mengacu pada subjek yang menulisnya, tidak pada budaya yang melingkupinya, apalagi pada wilayah metafisika tentang 'Logos' abadi misalnya—yang oleh filsuf Derrida dijuluki sebagai kecenderungan “logosentrisme”. 

Bagi Saussure, “makna" adalah produk hubungan-hubungan diferensial saja antar kata-kata (makna kata “putih” kita dapatkan karena ada kata “hitam”). 

Jacques Derrida—tokoh utama post-strukturalisme—setuju terhadap Saussure, namun lebih radikal lagi, baginya makna itu tidak tetap: saat kita menafsir, diam-diam kita mengaitkan teks pada kata-kata lain di benak kita, akibatnya “makna" teks itu pun akan berubah terus. 

Kata “bebek” ketika dikaitkan dengan kata “motor" (motor bebek), maknanya berbeda dengan bila kita kaitkan dengan nama tokoh kartun “Donald” (Donald bebek), atau dengan kata “sendok" (sendok bebek), misalnya. 

Persis seperti saat kita mencari makna suatu kata di kamus, yang akan kita temukan adalah penjelasan melalui kata-kata lain. Bila kita tidak mengerti kata-kata lain itu, kita akan mencari terus dan menemukan kata lainnya lagi, dst. 

Itu sebabnya, bagi Derrida bahasa adalah rantai kata-kata yang maknanya tak akan pernah final, selalu tertunda (deferred, delayed), yang ada adalah rangkaian “differance” (Prancis) yang dalam bahasa Inggris adalah kombinasi antara “difference” dan “deferment", perbedaan dan penundaan. 

Dengan dasar berpikir seperti itu, lalu Derrida bahkan memperkenalkan siasat “Dekonstruksi”: siasat yang memperlihatkan bahwa bila suatu teks dicermati baik-baik, yang akan ditemukan bukanlah “kesatuan organik” seperti yang dibayangkan oleh New Criticism, melankan unsur-unsur yang justru saling bertentangan dan bisa menggerogoti, bahkan menyangkal dan membongkar, makna keseluruhan teks tersebut. 

Dalam setiap teks terkandung sedemikian banyak potensi makna tersembunyi, yang bila dibukakan akan merusakkan teks itu sendiri. “Makna” bukanlah sesuatu yang tetap dan stabil, selalu rentan, tak pernah final.

Kerangka pikir dekonstruktif Derrida sangat kuat berpengaruh pada cara manusia abad 20-21 melihat sastra. Roland Barthes, misalnya, mencanangkan bahwa sesungguhnya kini yang namanya "pengarang” sudah mati, 'The Death of the Author', artinya, sebuah karya ketika menjadi publik, maknanya akan menjadi centang-perenang dan berkeliaran secara bebas sesuai publik penafsirnya. Itu sudah kodratnya demikian. 

Juga setiap teks, disadari ataupun tidak, sebenarnya selalu merupakan semacam tisu, jaringan teks, yang terdiri dari aneka kutipan dari segala sumber lain di luarnya, ia selalu bersifat intertekstual, tidak pernah semata-mata personal-subjektif. Tokoh lain, Julia Kristeva, melihat karya sastra bukan pada 'makna'-nya atau “petandanya (the signified), melainkan pada 'penanda'-nya (the signifier), pada kata-kata yang tertulisnya. 

Baginya setiap proses penciptaan tulisan/teks memang selalu ambigu: ia memproduksi makna sekaligus menggerogotinya; sementara “subjek" pengarang pun selalu terbelah, terbagi dengan subjek lain, dengan sang “Liyan”, yaitu dengan si pembacanya. Sedangkan Paul de Man, tokoh sastra dari Yale yang terpengaruh Derrida, melihat bahwa dalam suatu karya sastra, yang khas dan perlu dilihat adalah permainan antara struktur bahasa logis gramatikalnya dengan aspek-aspek 'retorik'-nya. Pada titik itu, “makna" yang sesungguhnya dari karya tersebut sebetulnya tak pernah bisa dikatakan dengan tepat dan pasti, undecidable

Sumber:

Sophan Ajie, "Sastra Modern dan Aneka Perspektifnya", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020, h. 260-261

, ,

Robohnya Surau Kami

A.A. Navis, Robohnya Surau Kami


Sebelum masuk ke isi cerpen, berikut sedikit review dalam Kompasiana tentang novel Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis:

"Robohnya Surau Kami adalah salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern. Buku ini merupakan kumpulan cerpen karya A.A. Navis, seorang sastrawan asal Padang Panjang, Sumatera Barat, yang lahir pada 1924 dan dikenal luas karena kepiawaiannya dalam menulis cerita-cerita dengan kritik sosial tajam. Navis bukan hanya penulis, tetapi juga seorang pemikir yang menggunakan tulisan sebagai sarana untuk menyuarakan kegelisahan terhadap realitas kehidupan bangsa. Melalui gaya satir dan narasi yang lugas, ia menyingkap kemunafikan masyarakat, terutama dalam hal keberagamaan yang kering dari nilai-nilai kemanusiaan.

Cerpen utama dalam buku ini, Robohnya Surau Kami, mengisahkan seorang lelaki tua yang hidupnya dihabiskan untuk beribadah di surau, tanpa pernah peduli pada kesengsaraan orang-orang di sekitarnya. Ia dianggap suci oleh masyarakat semasa hidupnya. Namun, setelah meninggal, ia justru dikisahkan masuk neraka, karena selama hidupnya tidak pernah melakukan apa pun untuk menolong sesama. Cerita ini menjadi simbol kuat tentang bagaimana agama yang hanya dijalankan secara ritual tanpa aksi sosial justru kehilangan maknanya.

Berikut cerita yang ditulis sastrawan A.A. Navis, dalam Robohnya Surau Kami. 

Selamat membaca! 


ROBOHNYA SURAU KAMI

Oleh: A.A. Navis


Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. 

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek. 

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. 

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. 

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi. 

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya. 

Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti 

saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?" 

“Ajo Sidi." 

"Ajo Sidi?" 

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak. 

Tiba tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?" 

"Siapa?" 

“Ajo Sidi." 

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab. 

"Kenapa?" 

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?" 

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal." 

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?" 

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?" 

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. 

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk." 

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?" "la tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya." 

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi. 

"Pada suatu waktu, 'kata Ajo Sidi memulai, 'di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan 'selamat ketemu nanti”. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. 

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama. 

"Engkau?" 

'Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku. 

“Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia." "Ya, Tuhanku.' 

'apa kerjamu di dunia?' 

'Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku." 

'Lain?' 

'Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut nyebut nama Mu." 'Lain.' 

'Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada berbadat menyembah Mu, menyebut nyebut nama Mu. Bahkan dalam kasih Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu." 

'Lain?' 

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. la tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu. 

'Lain lagi?' tanya Tuhan. 

'Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.' Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya. 

Tapi Tuhan bertanya lagi: “Tak ada lagi?" 'O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.' 'Lain?' 

'Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.' 

"Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?" "Ya, itulah semuanya, Tuhanku." "Masuk kamu.' 

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. la tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. 

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang orang itu pun, tak mengerti juga. 

"Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian, "Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka." 

'Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,' kata salah seorang di antaranya. 

"Ini sungguh tidak adil." 

'Memang tidak adil," kata orang orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. 

'Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita." 

'Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini." 

'Benar. Benar. Benar.' Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. 

“Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?" suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. 

"Kita protes. Kita resolusikan,' kata Haji Saleh. 

'Apa kita revolusikan juga?' tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner. 

'Itu tergantung kepada keadaan," kata Haji Saleh. 'Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan." 

'Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,' sebuah suara menyela. 

"Setuju. Setuju. Setuju." Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya, 'Kalian mau apa?' 

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: 'O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap Mu ini adalah umat Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab Mu." 

'Kalian di dunia tinggal di mana?' tanya Tuhan. 

“Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.' 'O, di negeri yang tanahnya subur itu? 

"Ya, benarlah itu, Tuhanku.' 

'Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?" 

“Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami." Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. 

“Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?' “Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami. 

'Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?' 

'Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami." 

"Negeri yang lama diperbudak negeri lain?" 

'Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku." 

“Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?" “Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa apa lagi. Sungguh laknat mereka itu." 

'Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?" 

'Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.' 

“Engkau rela tetap melarat, bukan? 'Benar. Kami rela sekali, Tuhanku." 'Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan? 

'Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab Mu mereka hafal di luar kepala.' 

“Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?" “Ada, Tuhanku.' 

"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!" 

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. 

"Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?' tanya Haji Saleh. 

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terialu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun." 

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. 

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget. 

"Kakek." 

"Kakek?" 

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur." 

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. 

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia. 

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi. 

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?" 

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis." 

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?" 

"Kerja." 

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa. 

"Ya, dia pergi kerja." 


Sumber

A.A. Navis, Robohnya Surau Kami, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010, h. 1-13.


TERBARU

MAKALAH