alt/text gambar

Selasa, 31 Maret 2026

Ayat Populer dalam Shalat

 Imam sering membaca potongan ayat populer dari juz 30 (Amma) seperti Al-A'la, Al-Ghasyiyah, Al-Mulk, dan Al-Kafirun-Al-Ikhlas, serta ayat-ayat bertema perintah takwa atau kisah dalam surah Al-Baqarah, Ali 'Imran, dan Al-Ahzab. Ayat ini dipilih karena maknanya mendalam, pendek, dan sesuai sunnah.

Berikut adalah daftar potongan ayat dan surat yang sering dibaca imam saat shalat berjamaah:
1. Surat-Surat Populer dari Juz 30 (Paling Sering)
  • QS. Al-A'la (87): Sering dibaca pada shalat Jumat, Isya, atau Maghrib.
  • QS. Al-Ghasyiyah (88): Sering dipasangkan dengan Al-A'la.
  • QS. Al-Mulk (67): Sering dibaca pada shalat malam atau Maghrib/Isya.
  • QS. Asy-Syams (91) & At-Tin (95): Sering dibaca Nabi SAW saat shalat Isya.
  • QS. Al-Kafirun (109) & Al-Ikhlas (112): Sering dibaca pada shalat Qobliyah Subuh atau Maghrib.
  • Juz 30 (Al-Dhuha sampai An-Nas): Sering dibaca untuk shalat yang diringankan.
2. Potongan Ayat Panjang (Populer dalam Shalat Berjamaah)
  • QS. Al-Isra': 78-82: Ayat tentang perintah shalat dan tahajud.
  • QS. Al-Baqarah: 153-157: Ayat tentang kesabaran dan ujian.
  • QS. Ali 'Imran: 102-108: Ayat tentang perintah bertakwa.
  • QS. Al-Ahzab: 70-73: Ayat tentang takwa dan perkataan yang benar.
  • Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255): Sering dibaca dalam konteks kekuasaan Allah.
  • QS. Al-Hasyr: 18-24: Ayat tentang takwa dan keagungan Allah.
3. Surat Khusus Shalat Jumat
  • Al-Jumu'ah (62) & Al-Munafiqun (63)
  • Al-A'la (87) & Al-Ghasyiyah (88)

Senin, 30 Maret 2026

PAJAK DAN SEJARAH

(TEMPO, No. 5, Thn. XVI, 31 Maret 1984)


Oleh: Onghokham


Salah satu keputusan penting tahun lalu adalah undang-undang perpajakan.Pajak, yang dalam sejarah merupakan unsur dinamika yang sangat besar, juga unsur yang paling sukar  dilaksanakan.

Ada ilustrasi dari Gabriel Ardant, ahli pajak Eropa paling terkenal (yang antara lain menyusun sistem perpajakan Marokko merdeka). Kalau seorang gubernur di zaman kerajaan absolut di Prancis, setelah abad ke-15 dan sebelum Revolusi, mencium akan ada perlawanan dari daerahnya dalam hal penarikan pajak, ia akan mencari informasi dari mana oposisi ini akan datang, Kalau keempat golongan (bangsawan, kaum borjuis, para tukang, dan para petani) bersama sama akan menentang, maka masalahnya besar.

Sang gubernur lalu akan mencari sekutu. Kaum bangsawan pertama-tama akan diberi konsesi dan dinetralisasikan, dan bila perlu juga kaum borjuis besar. Terhadap golongan kelas bawahan kota dan desa, tidak ada kompromi. Pajak dalam sistem tradisional Prancis (Eropa) justru ditarik dari yang ekonomis dan politis lemah. 

Membicarakan suatu sistem pajak bagi keseluruhan Indonesia zaman lampau adalah sukar: Indonesia terdiri dari kepulauan besar dan tersebar, dan tiap daerah memiliki sistem sendiri. Di Jawa, di sekitar kekuasaan keraton, sejak dulu dikenal upeti. Tapi keraton tidak berhak atas hasil bumi bukan padi, misalnya palawija.

Teori tradisional Jawa adalah, semua adalah milik raja, atau milik pejabat yang menerima delegasi kekuasaan mutlak raja. Pada tingkat pedesaaan, kesatuan politis terendah, kepala desa juga berhak atas bagian setiap warga. Jadi, kalau ada pemotongan sapi, kerbau, kambing, bahkan ayam, ada bagian yang harus diserahkan kepada atasan. Dalam praktek, tentu banyak pelanggaran.

Pemasukan upeti dan kerja bakti sangat tergantung pada ketat tidaknya pengawasan dan kekuasaan atasan. Petani yang diwajibkan menyerahkan upeti dibagi dalam kesatuan-kesatuan pajak yang disebut cacah. Namun, ada banyak daerah, khususnya yang jauh dari keraton, atau di pegunungan, mempunyai ratusan petani yang mengolah tanah subur dan tetap terdaftar sebagai hanya punya empat atau lima cacah. Kesukaran pengumpulan pajak ini menyebabkan baik raja maupun pejabat tinggi menjual hak mereka dalam memungut pajak.

Raffles (1812-1816) adalah penguasa Barat pertama yang meletakkan dasar finansial negara kolonial baru di Indonesia. Bukan lagi penyerahan hasil bumi untuk ekspor yang dituju. Sebab Inggris, dengan koloni, menurut dia, harus dibiayai dari pajak. Konsep pajak dilahirkan olehnya.

Teori Raffles adalah, karena Inggris menjadi pengganti raja-raja Jawa yang memiliki semua tanah, maka petani yang mengerjakan tanah atau yang memiliknya harus membayar pajak tanah. Konsep ini memang mungkin tidak banyak berbeda dengan hak raja atau VOC sebelumnya akan hasil bumi dan tenaga kerja. Tapi prakteknya lain sama sekali. Pajak tanah Raffles adalah atas petani individual dan bukan atas desa atau wilayah. Dan akan terdiri dari uang.

Sayangnya, sistem ini tidak pernah berkembang secara sempurna di bagian terbesar Pulau Jawa, dengan kekecualian beberapa daerah, seperti Madura dan Banten. Raffles sendiri terlalu singkat pemerintahannya untuk melihat pelaksanaan sistem pajaknya. Belanda, yang menerima kembali koloni-koloninya setelah perang Napoleon (1816), sampai tahun 1830 mencoba sistem ini-dan-itu untuk perpajakan, dan pada umumnya mempertahankan pajak tanah Raffles tanpa pelaksanaan betul-betul. Kesukaran timbul, antara lain Perang Diponegoro (1825-1830).

Karena itu, pada 1830, J. van den Bosch, gubernur jenderal (1830-1832) dan kemudian menteri jajahan, merasa bahwa pajak saja tidak cukup. Van den Bosch adalah perencana Sistem Tanam Paksa  (1830-1870) yang menjadikan Pulau Jawa perkebunan kolonial. Dalam sistem rakyat petani diharuskan menyerahkan sebagian tanahnya untuk perkebunan ekspor, dan tenaganya untuk produksi itu. Para petani, untuk tenaganya di perkebunan, tidak diupah – tapi tidak perlu membayar pajak tanah. 

Kelebihan keuntungan akibat sistem itu, yang terkenal sebagai batig-slot, diserahkan kepada Nederland guna pembangunannya setelah menjadi miskin karena perang Napoleon dan perang dengan Belgia. Lebih dari 900 juta gulden diterima Nederland dari koloninya selama Sistem Tanam Paksa.

Lalu, dengan dihapuskannya Sistem Tanam Paksa (1870), sistem perpajakan Hindia Belanda juga dimodernisasikan: kecuali pajak tanah ada berbagai macam pajak perorangan, pajak usaha, dan lain- lain. Kewajiban penyerahan tenaga bakti atau heerendiensten, misalnya, dapat dibeli – dan disebut pajak perorangan. 

Dengan sendirinya, tidak semua pajak datang dari penduduk pribumi, tetapi juga dari golongan Eropa dan lain-lain. Malahan salah  seorang kawula Hindia Belanda yang membayar pajak terbesar secara pribadi adalah, katanya, "Raja Gula" Oei Tiong Ham. Tapi sampai kira-kira dasawarsa pertama abad ke-20, penduduk pribumi – sumber sebagian besar pajak tanah – membayar sekitar 60% penghasilan Hindia Belanda. 

Persentase itu memang makin menurun pada abad ke-20, dengan makin besarnya sektor perdagangan dan industri Hindia Belanda. Namun, sampai 1930-an, pajak pribumi tetap mendekati 40% dari keseluruhan. Lebih penting lagi, golongan Eropa hanya membayar 7% pajak atas pendapatannya, sedang pribumi membayar sampai 19% pendapatan. Malahan beberapa ahli perpajakan mengatakan, petani membayar sampai 25%. Sehingga, didirikanlah berbagai komisi untuk meneliti "apakah beban pajak atas pribumi terlalu berat". 

Persoalannya: pajak desa diserahkan kepada kepala desa dan dipungut per desa, sehingga persoalan administrasi tidak besar; sedangkan pajak di kota, khususnya di kalangan yang berpenghasilan rendah dan menengah, sangat sukar dipungut-- memerlukan hampir 15% pembiayaan, dan pada taraf paling rendah jumlah pembiayaan dan hasil pungutan hampir sama. Yang paling mudah ditarik di Hindia Belanda, seperti juga di Indonesia kini, adalah pajak tidak langsung atas barang-barang konsumsi. Pembiayaannya hanya 4%  dari hasil.

Pajak tanah memang merupakan sebagian besar penghasilan negara kolonial, tapi sebaliknya menumbuhkan banyak pemberontakan petani. Dari 1830 sampai 1908 (Berdirinya Boedi Oetomo) lebih dari 100 pemberontakan petani di Jawa saja – hampir satu kali setiap tahun. Belum di Sumatera – Aceh, misalnya: Kesadaran Politik Moh. Hatta muncul pertama kali dari peristiwa pemberontakan pajak di Sumatera Barat, yang melibatkan sepupunya sendiri. 

Tapi sering pembangkangan terhadap pajak dilakukan justru oleh kalangan kaya, orang-orang yang dapat membayar pajak jauh lebih banyak dari yang mereka bayar. Orang kaya biasanya lebih sadar: tidak akan menerima bahwa uang pajaknya dihamburkan negara tanpa dia menerima jasa setimpal.

Pajak, dalam negara modern, juga berubah fungsinya: dapat menjadi alat pemerataan, alat kesejahteraan keseluruhan penduduk, dengan sistem pajak progresif. Di Indonesia, kini konsep pajak juga berubah: sebagian besar rakyat petani, misalnya, tidak lagi membayar pajak tanah, tetapi Ireda dan Ipeda, yang sangat berbeda dengan konsep upeti. Entah bagaimana dengan undang-undang perpajakan yang baru.


Sumber: TEMPO, No. 5, Thn. XVI, 31 Maret 1984

Strategi Perang Sun Tzu

Kebanyakan orang mengira bahwa perdebatan adalah ajang adu argumen yang berisik, padahal di mata Sun Tzu, setiap kata yang keluar setelah perdebatan dimulai adalah tanda bahwa kamu gagal memenangkan situasi secara strategis. 


Kemenangan sejati dalam komunikasi bukan terletak pada seberapa telak kamu memukul mundur logika lawan, melainkan pada bagaimana kamu mengatur medan tempur mental sehingga lawan bicara merasa tidak punya pilihan selain setuju denganmu. "Seni berperang yang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran," dan prinsip ini berlaku mutlak dalam meja negosiasi maupun obrolan di tongkrongan.


Dalam interaksi sosial, kita sering melihat orang yang terlalu bernafsu membuktikan dirinya benar hingga akhirnya menciptakan resistensi emosional dari lawan bicaranya. Mereka menang secara teknis, tapi kalah secara hubungan—sebuah kemenangan semu yang menurut Sun Tzu sangat tidak efisien. Dengan mengadopsi taktik kuno ini, kamu sebenarnya sedang membangun otoritas yang tenang, di mana posisi kamu sudah tidak tergoyahkan bahkan sebelum kalimat pertama diucapkan.


1. Kenali Dirimu, Kenali Lawanmu (Intelijen Komunikasi)


Sun Tzu menekankan pentingnya informasi sebelum melangkah. Dalam percakapan, ini berarti kamu harus memahami motivasi, ketakutan, dan ego lawan bicara kamu. Jangan masuk ke dalam perdebatan tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka pertahankan—apakah itu kebenaran fakta, atau sekadar harga diri? Jika kamu tahu bahwa lawan bicaramu hanya ingin merasa dihargai, memberikan apresiasi di awal akan meruntuhkan seluruh benteng pertahanan mereka.

Gunakan teknik mendengarkan secara strategis untuk memetakan "medan tempur" pikiran mereka. Biarkan mereka bicara lebih dulu hingga mereka menghabiskan seluruh "peluru" argumennya. Saat mereka merasa sudah didengar, mereka akan secara psikologis menurunkan tamengnya, dan saat itulah ide kamu bisa masuk tanpa perlawanan yang berarti.


2. Menang di Atas Kertas (Pre-emptive Position)


"Prajurit yang menang, menang dulu baru pergi berperang." Dalam komunikasi, ini adalah tentang membangun kredibilitas dan framing sebelum topik sensitif dibahas. Jika kamu sudah memposisikan diri sebagai otoritas yang solutif dan tenang sejak awal pertemuan, lawan bicara akan merasa ragu untuk mendebat kamu karena bobot reputasi yang kamu bawa sudah terlalu berat untuk dilawan.


Atur suasana dan konteks percakapan agar berpihak pada tujuanmu. Gunakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah pasti "ya", sehingga kamu membangun momentum persetujuan (yes-set). Ketika arus percakapan sudah mengalir ke arahmu, mengajukan argumen utama hanyalah masalah waktu, dan lawan akan mengikutinya secara naluriah sebagai bagian dari konsistensi logika mereka sendiri.


3. Sediakan "Jembatan Emas" untuk Mundur


Salah satu strategi Sun Tzu yang paling brilian adalah jangan pernah mengepung musuh secara total; selalu sisakan jalan keluar. Jika kamu memojokkan lawan bicara hingga mereka merasa bodoh atau dipermalukan, mereka akan menyerang balik dengan emosi buta demi menyelamatkan muka. Perdebatan akan berubah menjadi perang harga diri yang tidak berujung.


Berikan mereka jalan keluar yang terhormat. Gunakan kalimat seperti, "Saya mengerti kenapa Anda berpikir begitu berdasarkan data lama, namun jika kita lihat variabel baru ini..." Dengan menyalahkan "data lama" atau "situasi yang berubah", kamu membiarkan mereka mengubah pendapat tanpa harus merasa kalah. Membiarkan lawan menjaga harga dirinya adalah cara tercepat untuk mendapatkan kesepakatan mereka.


4. Gunakan Kecepatan dan Ketidakterdugaan


"Cepat seperti angin, tenang seperti hutan." Dalam perdebatan, jangan biarkan lawan menebak arah serangan logikamu. Jika mereka menyiapkan argumen A, seranglah dari sudut pandang B yang tidak mereka antisipasi. Fleksibilitas intelektual ini membuat lawan bicara kehilangan keseimbangan mental karena mereka terpaksa berpikir ekstra keras untuk mengejar pola pikirmu yang adaptif.


Ketika lawan mulai emosional, tetaplah tenang seolah-olah serangan mereka tidak berdampak apa pun padamu. Ketenangan yang kontras ini adalah bentuk intimidasi halus yang menunjukkan bahwa kamu berada di level yang berbeda. Di mata Sun Tzu, emosi adalah kekacauan, dan siapa pun yang tetap tenang di tengah kekacauan dialah yang memegang kendali penuh atas hasil akhir.


5. Hindari Pertempuran yang Tidak Perlu


Sun Tzu tahu bahwa tidak semua perang layak dimenangkan. Jika perdebatan hanya akan membuang energi tanpa hasil yang produktif, strategi terbaik adalah menghindar. Memenangkan argumen dengan orang yang bebal atau tidak memiliki otoritas untuk membuat keputusan adalah pemborosan sumber daya yang fatal.


Pilihlah pertempuranmu dengan bijak. Terkadang, diam atau mengalihkan topik adalah bentuk kemenangan strategis karena kamu menjaga energi dan reputasi kamu untuk isu yang jauh lebih krusial. Seorang ahli strategi tahu kapan harus menarik pedang, dan kapan harus menyimpannya sambil tersenyum penuh makna.


"Kemenangan sejati adalah saat lawanmu merasa bahwa ide yang kamu tawarkan adalah ide mereka sendiri yang baru saja mereka temukan."


Apakah kamu merasa selama ini kamu lebih sering memenangkan argumen tapi kehilangan kawan, atau kamu sudah mulai belajar menaklukkan tanpa harus bertempur?

Jumat, 27 Maret 2026

, ,

Rukun Khutbah Jumat

Rukun Khutbah Jumat

Khutbah Pertama


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan din yang benar, sehingga menjadikannya menang atas semua din meskipun kaum musyrik membencinya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

 Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, maka berjayalah orang-orang yang bertakwa.

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

**

Bacaan sebelum duduk:

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

***

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ

Segala puji bagi Allah, seperti yang diperintahkan-Nya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, maka berjayalah orang-orang yang bertakwa.

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa. Wahai Yang Mengabulkan segala kebutuhan.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ اللهِ ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ  ،  وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

***

VERSI BAHASA ARAB FULL:

Rukun Khutbah Pertama


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

***

Bacaan sebelum duduk:

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

***

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ  إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ،  فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ اللهِ . اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ 

***


Rabu, 25 Maret 2026

,

Sejarah yang Dipelajari di Sekolah Versi Penguasa?


Sejarah yang kamu pelajari di sekolah ternyata cuma versi yang disetujui penguasa. Ada fragmen-fragmen penting yang sengaja disembunyikan atau terkubur karena tidak cocok dengan narasi resmi. Siapa yang berhak menentukan sejarah mana yang pantas diceritakan?


Fatimah Purwoko membongkar fakta mengejutkan dari empat periode besar nusantara. Buku ini membahas masa Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, dan Pasca-Kemerdekaan dengan sudut pandang yang jarang terexpos. Banyak peristiwa penting yang tidak masuk buku pelajaran karena dianggap terlalu kontroversial atau tidak mendukung kepentingan politik tertentu. Sejarah bukanlah catatan objektif, tapi rekonstruksi yang selalu dipengaruhi oleh siapa yang berkuasa.


Masa Hindu-Buddha menyimpan misteri yang lebih dalam dari sekadar candi dan kerajaan. Purwoko mengungkap bahwa Borobudur, Pawon, dan Mendut ternyata berada dalam satu garis lurus yang memiliki makna kosmik khusus. Konsep kekuasaan pada masa itu bersifat simbolik, raja bukan sekadar penguasa tapi bagian dari jagat raya. Ken Dedes dan ratu-ratu kerajaan mungkin memiliki peran lebih besar dari yang diceritakan dalam versi sejarah resmi yang didominasi oleh perspektif patriarkal.


Masa Islam menyimpan fakta tentang kejayaan maritim yang sengaja dikerdilkan. Kerajaan Islam di Papua dan berbagai wilayah nusantara menunjukkan penyebaran Islam jauh lebih luas dari yang diajarkan di sekolah. Peran Wali Songo dan para ulama dalam perlawanan terhadap kolonialisme sering dipotong atau diubah. Belanda sangat alergi dengan kata Islam dan sengaja menggunakan istilah Muhamaden untuk melemahkan identitas keagamaan. Sejarah ini disembunyikan karena menunjukkan kekuatan spiritual umat Islam yang mengancam kekuasaan penjajah.


Masa kolonial penuh dengan strategi licik yang masih berpengaruh sampai sekarang. Belanda menggunakan candu untuk melemahkan bangsawan Jawa dan merusak struktur sosial masyarakat. Panglima perang Diponegoro bahkan ada yang menyerah karena dibujuk dengan iming-iming candu. Regerings Reglement tahun 1854 menciptakan strata sosial yang membedakan kelas bangsa Eropa, Timur Jauh, dan pribumi. Hanya kelompok ulama dan guru tarekat yang menolak candu karena menganggapnya haram, itulah sebabnya mereka menjadi musuh utama Belanda.


Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa memiliki narasi yang lebih kompleks dari sekadar pahlawan nasional. Purwoko mengajukan pertanyaan provokatif, apakah pemberontakan Diponegoro sebenarnya dalih untuk memahkotai diri lepas dari takhta Mataram? Narasi besar sejarah nusantara masih didominasi oleh rekonstruksi kolonial Belanda yang menyederhanakan perlawanan sebagai pemberontakan pribadi. Padahal ada 112 perlawanan oleh kelompok Islam dalam kurun seratus tahun yang menunjukkan resistensi sistematis terhadap penjajahan.


Masa pasca-kemerdekaan juga tidak lepas dari penyembunyian sejarah. Pelarangan pesta Sinterklas oleh Soekarno adalah salah satu contoh kebijakan yang jarang dibahas dalam konteks lengkapnya. Akar pemikiran Bung Karno yang dikaitkan dengan ajaran teosofi Tarekat Mason dari ayahnya menimbulkan pertanyaan tentang ideologi pendiri bangsa. Letusan Tambora yang menyapu peradaban kesultanan Islam hingga tak berbekas juga menunjukkan bahwa bencana alam bisa menghapus jejak sejarah yang penting. Semua ini mengingatkan kita bahwa sejarah adalah diskontinu dan tidak pernah final.


Jadi menurut kamu, apakah sejarah yang tidak cocok dengan versi resmi harus tetap diajarkan atau dibiarkan terkubur? Coba ceritain pendapatmu di kolom komentar. Apakah kamu pernah menemukan fakta sejarah yang berbeda dari yang diajarkan di sekolah? Yuk diskusi, jangan cuma diem aja.

Minggu, 22 Maret 2026

,

Khutbah Jumat: Azas Hidup Taqwa


Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia. 

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita menyegarkan ingatan kita dan merenungkan tentang takwa. Takwa itu adalah tujuan dari seluruh ajaran Alquran. Oleh karena itu, kita baca dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah: 


الۤمّۤۚ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Alif Lam Mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Qs.Al Baqarah (2): 1-2)

Takwa itu ialah pola hidup atau gaya kita menempuh hidup, yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita.


"Sesungguhnya Allah bersama kita." (Qs. Al-Taubah (9): 40)

Seperti diucapkan Nabi kepada sahabatnya, Abu Bakar, pada waktu beliau berdua berada di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah. Kemudian Abu Bakar merasa ketakutan karena hampir diketahui musuh. Lalu Nabi dengan tenang mengatakan: 

لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

"Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS Al-Taubah (9): 40) 

Kesadaran bahwa Allah beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita. 

Pertama, kesadaran itu memberikan kemantapan dalam hidup, bahwa kita ini tidak pernah sendirian. Kita selalu bersama Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan takut menempuh hidup ini dan kita bersandar kepada-Nya. Maka, sikap bersandar kepada Allah itu disebut tawakal. Salah satu sifat Allah ialah Al-Wakil, artinya tempat bersandar. 

"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Qs. Ali Imran (3): 173) 

Kedua, (dampak yang kedua) bahwa dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah akhlaqul-karimah. Mengapa? Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Dia, tidak mendapat ridha Allah.

***

Sesuatu yang diridhai Allah itu ialah sesuatu yang bersesuaian dengan nurani kita. Karena dalam diri kita terdapat sesuatu sebagai mudhghah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi. Sebagai segumpal daging. Suatu perumpamaan segumpal daging ini menentukan seluruh hidup kita: 

Ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu (hidupmu) akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu (hidupmu) pun rusak, (daging) itu adalah kalbu.” (HR Bukhari) 

Itulah hati nurani yang diberikan kepada kita oleh Allah Swt., sebagai petunjuk pertama menempuh hidup yang benar. Maka, pertama kali di dalam mempertimbangkan akal perbuatan ialah hati nurani. Dari situ kemudian kita mendapatkan suatu rentangan garis lurus antara diri kita dengan Tuhan yang disebut as-shirathal-mustaqim (jalan lurus). 

Oleh karena itu, perbuatan baik tentu bersesuaian dengan hati nurani. Sehingga Rasulullah Saw. juga menggambarkan kepada seorang sahabatnya yang bernama Wabishah bin Ma'bad, seorang yang hidupnya sedikit kasar karena dia dari kampung. Wabishah bertanya kepada Nabi, tentang apa itu kebajikan dan kejahatan? Maka Nabi menjawab dengan meletakkan tangannya ke dada Wabishah bin Ma'bad dan mengatakan, “Wabishah, kebajikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram, sedangkan kejahatan adalah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.” Berikut sabda Nabi itu: 

Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu, wahai Wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR Ahmad) 

Maka kita mengetahui sesuatu itu diridhai oleh Allah, kalau kita berbuat dengan tulus dan jujur mendengarkan hati nurani kita. Karena itu, dalam hadis disebutkan bahwa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. 

"Nabi Saw. ditanya: Apakah yang paling banyak memasukkan orang ke surga?” Nabi menjawab, "Takwa dan akhlak yang baik.' Nabi juga ditanya, Apa yang paling banyak memasukkan orang ke neraka?' Nabi menjawab, “Dua lubang yaitu mulut dan kemaluan.” (HR Ibnu Majah) 

Hal itu pula yang menjadi dasar alasan, mengapa takwa itu merupakan asas hidup yang benar. 

Ketika Nabi kita menghadapi persoalan Masjid Dhirar, yaitu masjid yang didirikan oleh beberapa kalangan di Madinah dengan maksud yang kurang baik, bukan maksud untuk menanamkan takwa kepada Allah tapi untuk memecah belah, maka, oleh Allah, Nabi diberi wahyu melarang beliau memasuki masjid itu, yang memang kemudian masjid itu dibakar. 

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al-Taubah (9): 109) 

Dalam agama kita, asas hidup itu hanya dua. Yang satu benar dan yang lainnya salah. Azas hidup yang benar ialah at-taqwa minallahi wa ridwanan, bertakwa kepada Allah dan upaya mencari ridho Allah. 

Azas kedua, yang salah adalah semua azas hidup yang tidak berdasarkan taqwa dan tak bertujuan mencari ridha Allah. 

Menempuh hidup berasaskan takwa kepada Allah dan ridha-Nya tidak lain ialah, bagaimana kita menjalani hidup ini dengan terus-menerus waspada, agar semua tingkah laku kita dalam konteks pengawasan Tuhan. 

Karena itu di Al-Quran disebutkan dalam Surah Ya Sin, yang sering kita baca, bahwa pada manusia itu yang penting adalah amalnya. Dan amal itu akan dicatat oleh Tuhan beserta efeknya atau dampaknya. 

Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas. (Qs. Ya Sin (36): 12) 

Maka dari itu, yang kita bawa menghadap Allah adalah amal. Dan kalau seseorang sudah meninggalkan dunia ini, maka amal itu terwujud di dunia dalam bentuk reputasi. 

Seperti dikatakan dalam bahasa melayu, bahasa Indonesia, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal.” 

Amal yang menjadi reputasi. Yaitu ketika orang mengenang seseorang yang sudah meninggal itu apakah baik atau buruk. Dan, umur reputasi itu jauh lebih panjang daripada umur pribadi manusia tersebut. Sampai sekarang kita masih bisa menyebut dengan penuh penghargaan kepada Plato, kepada Aristoteles, apalagi kepada Nabi. 

Tapi kita juga bisa menyebut dengan penuh kutukan dalam hati, orang-orang seperti Fir'aun, Abu Lahab, Nero, dan lain-lain. 

Jadi reputasi itu, nama baik ataupun nama buruk, jauh lebih panjang daripada umur seseorang. 

Aristoteles tampil di dunia hanya sampai umur 40-50 tahun menurut perkiraan. Tetapi sampai sekarang orang masih mengenang dia dan mempelajari pengetahuan yang diwariskan. Inilah amal. Inilah yang dimaksud dalam Surah Ya Sin di atas. 

Maka dari itu, agar reputasi kita ini nanti baik, yang berarti mencerminkan apa yang kita alami di akhirat, maka hendaknya kita berusaha betul-betul menyadari Allah itu hadir. 

Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hadid (57): 4) 

Firman Allah:

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Mujadilah (58): 7) 

Tidak ada empat orang yang berbisik-bisik melainkan Allah yang kelima. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu melainkan Allah selalu beserta mereka di mana pun mereka berada. 

Kata imanuel dalam bahasa Ibrani, artinya Tuhan bersama kita. Imanu artinya beserta kita, el artinya Tuhan (Allah). 

Maka dari itu tidak heran, bahwa Al-Quran seperti yang saya kutip di atas, tidak lain tujuannya ialah membuat orang itu bertakwa. Dan seluruh ibadah kita ini pun akhirnya ialah agar membuat kita lebih bertakwa.

Barakallahu li wa lakum fil qur'anil 'azim, innahu huwal gafururrahim


Sumber: Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat, h. 360-367


Catatan tambahan:

Buya Hamka pernah mengutip kata bijak dari penyair Mesir, Ahmad Syauqi (1868–1932), yang dijuluki Amir al-Syu'ara (Pangeran Penyair). 

Syair Ahmad Syauqi yang terkenal mengenai reputasi, amal, dan kenangan baik yang ditinggalkan seseorang di dunia dapat memperpanjang usia mereka secara maknawi, bahkan setelah mereka wafat. 

Bunyi Pesan/Syair:

"Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia."

Makna dari Kata Bijak Tersebut:

Umur Kedua: Syauqi menekankan bahwa manusia memiliki dua umur: umur biologis (ketika bernapas) dan umur sosial (ketika namanya dikenang baik).

Memperpanjang Usia: Meskipun umur fisik manusia pendek, ia bisa "diperpanjang" dengan meninggalkan amal jariyah, karya, atau reputasi yang baik (sebutan dirimu yang dikenang).

Warisan: Apa yang ditinggalkan seseorang (amal dan nama baik) lebih bernilai daripada sekadar keberadaan fisiknya saat hidup. 

Pesan ini sering dikutip sebagai motivasi untuk terus berbuat kebaikan agar terus hidup dalam ingatan manusia dan mendapatkan pahala yang terus mengalir.



TERBARU

MAKALAH