alt/text gambar

Rabu, 08 April 2026

,

"Kehadiran Makna Selalu Tertunda”, Trace, dan Absence: Memahami Filsafat Dekonstruksi Derrida

Derrida


“Kehadiran Makna Selalu Tertunda”: Filsafat Dekonstruksi Derrida

Artinya, kita tidak bisa menghadirkan atau mendeskripsikan makna secara utuh atau lengkap. Sejauh kita menjelaskan suatu makna, maka sejauh itu juga kita terjebak dalam kata-kata lain untuk menjelaskannya. Selalu ada saja yang kurang. Contohnya ketika kita mendeskripsikan tentang “cantik”. Apakah cuma putih seperti bulan purnama, hidung mancung, tubuh tinggi semampai, atau rambut panjang bagai mayang mengurai, mata biru bagai Samudera Hindia, bibir merah bagai delima, apa cuma segitu? Pasti ada teks-teks lain yang menggambarkan cantik itu seperti apa. Artinya, kita itu tak bisa mendeskripsikan makna cantik secara utuh dan lengkap. Pasti ada teks-teks yang tertinggal. Nah, konsep makna yang tertunda inilah Derrida menjelaskan konsep lain, yakni trace (jejak).

Apa itu trace?

Sejauh kita menjelaskan kata-kata yang lain, maka sejauh itu pula kita menyusuri jejak-jejak makna yang tercecer di mana-mana. Dengan menelusuri jejak makna, maka secara tidak langsung kita juga belajar tentang apa yang tidak pernah terungkap. Derrida menyebutnya absence (ketidakhadiran).

Apa itu absence?

Absence adalah cara menampilkan makna yang tidak pernah ditampilkan. Contoh: Ketika kita mendefinisikan perempuan cantik itu putih, langsing, nyatanya yang hitam juga cantik, yang gemoy juga cantik. Contoh lain: orang kaya pasti bahagia, nyatanya kebahagiaan bukan hanya milik orang kaya. Yang tak kaya juga ada yang bahagia. Yang kaya juga ada yang tak bahagia. Dari konsep absence ini, Derrida ingin memberitahu kita bahwa semua serba paradoks. Tak ada yang benar-benar utuh. Cinta itu membahagiakan, sekaligus menyakiti. Oksigen itu memberikan kehidupan, sekaligus menuakan sel-sel manusia dan mematikan manusia.

Lalu apakah dekonstruksi itu penting? Dekonstruksi menjadi penting karena ia mengajarkan kita lebih berhati-hati dalam memahami teks. Dan pemikiran ini membuka pintu untuk mempertanyakan apa yang dianggap sebagai kebenaran dan stabilitas dalam pemikiran dan bahasa. Pentingnya dekonstruksi juga terlihat dalam bidang sastra, seni, dan budaya. Banyak kritikus sastra dan seniman menggunakan dekonstruksi untuk mengungkapkan kompleksitas dalam karya seni dan budaya.

Dekonstruksi adalah konsep filsafat yang rumit. Tapi intinya, ia mengajarkan kita untuk melihat arti dalam teks dan bahasa dengan lebih kritis, dan menyadari kompleksitasnya. Derrida ingin mengubah cara kita memahami dunia dan membuka pikiran kita untuk berpikir lebih dalam tentang bagaimana bahasa dan pemikiran kita bekerja. Ini adalah ide yang telah mempengaruhi banyak aspek kehidupan kita dan terus menjadi sumber diskusi dalam dunia filsafat dan budaya.  

 

Sumber: Dekonstruksi Derrida: Kehadiran Makna Selalu Tertunda (Menit ke 6); Satu Kata Banyak Makna

Selasa, 07 April 2026

,

KANTUNG KACAMATA PARA ILMUWAN SOSIAL

(FORUM KEADILAN, No. 26, Tahun V, 7 April 1997)


Lembaga penelitian dan pakar ilmu-ilmu sosial cukup berkembang. Tak sedikit yang bebas. Ada pula yang punya patron politik. Kacamatanya pun lain-lain.

Menjadi ilmuwan sosial memang butuh nyali ekstra. Ilmunya sendiri sering dibilang kering, dalam arti tak banyak menghasilkan uang. Proses penelitian ilmu-ilmu sosial pun memiliki kerumitan tersendiri di lapangan. Butuh izin ini-itu, terutama dari aparat keamanan. Dan, hasil penelitiannya pun kerap bikin sejumlah pihak "kerepotan". Banyak pula terjadi, lembaga pendana penelitian sosial akhirnya geram pada hasil temuan para peneliti tersebut.

Itulah keluhan yang kerap terdengar dari kalangan ilmuwan sosial. Toh, dengan segala keterbatasan itu, perkembangan ilmu sosial di Indonesia boleh bilang lumayan. Para ilmuwan sosial yang cukup andal tersebar di pelbagai perguruan tinggi, terutama di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga (Unair) adalah gudang-gudang ilmuwan sosial yang menonjol. Belum lagi Universitas Hasanuddin (Ujungpandang), Universitas Padjadjaran (Bandung), dan Universitas Diponegoro (Semarang).

Sejumlah ilmuwan yang menonjol dari UI, misalnya, adalah Selo Soemardjan yang biasa disebut sebagai perintis sosiologi, Miriam Budiardjo (ilmu politik), Koentjaraningrat (antropologi), dan Harsja W. Bachtiar. Kemudian, untuk generasi yang lebih muda, ada nama-nama seperti Parsudj Suparlan dan Sardjono Jatiman, yang keduanya menekuni bidang sosiologi.

Tapi, belakangan ini, muncul kabar buruk tentang ilmu sosial di UI. Penelitian-penelitian sosial agak menyusut. Hambatannya, apalagi kalau bukan soal dana. Soalnya, dana penelitian untuk ilmu sosial memang kian terbatas. "Banyak dana penelitian diberikan kepada ilmu eksakta ketimbang ilmu sosial," kata Harsono Suwardi, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Ul. "Kalaupun ada penelitian, kualitasnya jauh sekali," katanya. Tak heran, melihat fenomena di UI itu, Harsono menyimpulkan, telah terjadi erosi dalam perkembangan ilmu sosial saat ini.

Bagaimana di UGM, Yogyakarta? Dari kam pus itu telah lahir sejumlah ilmuwan beken seperti Loekman Soetrisno (sosiolog), serta Sejarawan Sartono Kartodirdjo dan Kuntowijoyo, dan sebagainya. Di lingkungan UGM, juga berdiri sejumlah lembaga penelitian yang cukup produktif. Sebut saja misalnya, Pusat Penelitian dan Pembangunan Pedesaan dan Kawasan (P3PK) UGM.

Pusat penelitian itu pernah diminta meneliti masalah Timor Timur pada 1990. Hasil penelitian itu sudah menghasilkan rekomendasi agar pendekatan keamanan dikendurkan dari kawasan tersebut. Kalau tidak, akan timbul persoalan di kemudian hari. Hasil penelitian yang dipimpin Mubyarto itu, sayangnya, tak terlalu ditanggapi oleh pemerintah. Orang baru mau menengok hasil penelitian itu setelah terjadi peristiwa penembakan di Santa Cruz tahun 1991.

Banyak sekali masalah yang diteliti P3PK. Toh, Loekman Soetrisno, Guru Besar Sosiologi UGM, yang kini mengepalai P3PK UGM, membatasi penelitian mereka untuk jumlah kecil saja, tapi terjamin komprehensifnya. Meski banyak mengerjakan penelitian pesanan dari sejumlah pemda di berbagai provinsi, lembaga itu tetap berupaya berkibar berdasarkan obyektivitas. 

Masih di Yogyakarta, di luar UGM, juga ada LP3Y (Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan Yogyakarta) yang dipimpin Ashadi Siregar. Lembaga itu khusus mengamati masalah media massa. Kemudian ada Lembaga Studi Realino yang khusus mengamati masalah kebudayaan. Di samping itu juga ada komunitas LKIS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) yang mengkaji dunia Islam modern dan Interfidei (Institut Dialog Antariman) yang mengkaji masalah keagamaan.

Semua itu menunjukkan, penelitian-peneli- tan ilmu sosial cukup berkembang. Belum lagi di kota-kota lain. Di Bandung, misalnya, Yayasan Akatiga, di bawah pimpinan Juni Thamrin, adalah sosok dari sedikit lembaga perburuhan. Publikasi yang teratur untuk masalah perburuhan banyak keluar dari para peneliti Akatiga. Dan, yayasan itu memang memiliki sejumlah nama besar yang menjadi penasihatnya, seperti Prof. Sayogjo, Guru Besar IPB.

Di luar kantong-kantong besar para ilmuwan sosial tersebut, masih banyak pakar yang secara pribadi mempunyai kapasitas intelektual yang diakui masyarakat. Intelektual macam Arief Budiman (sosiolog) atau Ariel Heryanto (antropolog) adalah sekadar contoh. Kedua nama itu, setelah "dibredel" dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, malah lebih laku di luar negeri. Arief kini sudah teken kontrak untuk menjadi associated professor di sebuah universitas di Australia. Sedang Ariel menjadi pengajar di National University of Singapore.

Tapi, harus juga dicatat, peran LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), lembaga penelitian milik pemerintah dalam pengembangan ilmu sosial. Dengan tradisi puluhan tahun, LIPI yang berkantor di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, itu adalah salah satu lembaga yang memiliki reputasi tersendiri. Sejumlah peneliti yang mempunyai kredibilitas tinggi muncul dari LIPI, seperti Taufik Abdullah dan Abdurrahman Surjomihardjo. Dan, kini generasi Mochtar Pabottingi.

Di Ibu Kota juga menjamur lembaga-lembaga penelitian di luar kampus. Sudah lama di- kenal nama LP3ES, terutama sejak lembaga itu menerbitkan jurnal ilmiah Prisma. Kendati belakangan agak merosot, harus diakui, jurnal itu hingga kini belum tergantikan posisinya sebagai salah satu barometer perkembangan penelitian dan teori ilmu-ilmu sosial. Kelompok LP3ES awalnya dekat dengan birokrat yang berpikiran maju, seperti Emil Salim. Setelah Emil melepaskan posisi menteri lingkungan hidup, akhirnya kelompok itu harus mengakui pamor mereka perlahan-lahan mulai menurun. Tapi, mereka bisa bangga bahwa sejumlah nama besar peneliti ilmu sosial adalah alumni LP3ES. Sebut saja Dawam Rahardjo, Ignas Kleden, Didik J. Rachbini, Daniel Dhakidae, atau Vedi Hadiz, yang kini menjadi peneliti di Universitas Murdoch, Australia.

Selain itu, dikenal pula kantong-kantong cendekiawan yang memiliki afliasi kepada kelompok politik tertentu. Kelompok cendekiawan yang demikian itu turun-naik pamornya sesuai turun naiknya pamor sang patron politiknya. Menyebut beberapa di antaranya, adalah CSIS (Centre for Strategic and International Studies) yang kerap disebut Grup Tanah Abang III, kemudian kelompok CIDES (Centre for Information and Development Studies), serta CPDS (Centre for Policy and Development Studies) yang berkantor di Jalan Suwiryo, Jakarta Pusat.

Kendati secara politis pengaruhnya telah merosot, akibat surutnya patron politik mereka, CSIS masih sangat kuat sebagai lembaga pengkajian. Di bawah CSIS memang terdapat sejumlah nama besar yang diakui peranannya saat ini. Sejumlah ekonom tangguh seperti Mari E. Pangestu, Hadi Soesastro, Djisman Simandjuntak, dan Pande Raja Silalahi termasuk di antaranya. Untuk bidang politik saat ini ada nama-nama seperti J. Kristiadi, juga A.M.W. Pranarka, Soedjati Djiwandono, dan Harry Tjan Silalahi.

Nama CSIS saat ini pun tak dapat dipisahkan dari para pendiri dan mereka yang membesarkannya pada awal Orde Baru. Mereka adalah sejumlah jenderal yang menjadi asisten pribadi Presiden, seperti Ali Moertopo yang juga mantan menteri penerangan, serta Soedjono Hoemardani, seorang penasihat bidang ekonomi yang memiliki banyak lobi ke pengusaha Jepang.

Tak heran jika CSIS sering didekatkan dengan citra Golkar pada awalnya, yang sekali gus menjadi pusat penggodokan konsep-konsep pembangunan Orde Baru pada 20 tahun awalnya. Namun, kiprahnya hari ini dianggap sudah mulai menurun dan kini lembaga itu mengkonsentrasikan diri pada penelitian dan publikasi, yang memiliki tradisi cukup panjang di lembaga itu.

Belakangan, nama CIDES, yang berdiri di bawah payung ICMI, semakin sering disebut orang. Tokoh-tokoh di balik lembaga pengkajian itu bisa disebut, seperti Adi Sasono, Sekjen ICMI, kemudian Jumhur Hidayat, lalu Dewi Fortuna Anwar, dan sejumlah nama lainnya. Para cendekiawan yang masuk dalam CIDES itu banyak yang sebelumnya sudah memiliki akar di tempat lain.

CIDES menonjol namanya pada dekade 1990-an karena seminar-seminar yang mereka selenggarakan erat kaitannya dengan masalah kebijakan, baik itu ekonomi, politik, iptek, maupun masalah luar negeri. Misalnya saja, CIDES berhasil menggalang komunitas bisnis dengan pengusaha Malaysia dan penggarapan isu soal kawasan Singapura-Johor-Riau (Sijori). Maklumlah, Ketua Umum ICMI, B.J. Habibie, adalah patron politik mereka.

Belakangan, yang juga naik daun adalah kelompok CPDS. Di bawah CPDS, berkumpullah sejumlah ilmuwan, seperti Dien Syamsudin, Amir Santoso, juga Afan Gaffar, Salim Said, Bachtiar Effendi, Jimly Asshiddiqie, dan Anwar Nasution. Kelompok itu memang tak pernah mempublikasikan hasil pemikiran mereka walau mereka kerap mengadakan diskusi-diskusi terbatas. Kelompok itu rupanya cenderung untuk menjadi policy research, yaitu mengkaji masalah kebijakan, walau hasil kajiannya tak pernah diedarkan ke kalangan lain.

Memang, kerap terlontar kritik terhadap lembaga-lembaga yang mempunyai patron politik seperti CIDES, CPDS, dan CSIS itu. Apalagi kalau bukan soal obyektivitas mereka. Th. Sumartana, Direktur Interfidei Yogyakarta, misalnya, termasuk orang yang menyoroti hal itu. Kata Sumartana, itu adalah salah satu kesalahan yang dilakukan para ilmuwan sosial. "Mereka itu terkotak-kotak dalam berbagai kelompok, dan dimanfaatkan oleh kalangan elite kekuasaan. Akibatnya, posisi ilmu-ilmu sosial jadi tidak bebas," ujarnya.

Ya, itulah memang, salah satu problem ilmuwan sosial. Bila mereka berupaya menjauhi kekuasaan, risikonya eksistensi mereka dan hasil penelitiannya jarang ditengok orang. Mereka juga bakal kekurangan dana. Tapi, untuk ilmuwan yang nyantol pada kelompok politik tertentu, sudah pasti ada jaminan keuangan yang lebih mantap. Sayangnya, karena itu pula, obyektivitas hasil penelitian mereka kerap diragukan.

Yang menjadi soal sekarang adalah, apakah obyektivitas itu ditentukan oleh ilmunya, para pakarnya, penyandang dananya, metodologinya, atau oleh paduan semua unsur itu sekaligus? Untuk menjawab hal itu, agaknya para ilmuwan sosial itu perlu juga membuat penelitian khusus, tentang sejauh mana manfaat mereka, baik bagi masyarakat, pemerintah, maupun bagi diri dan ilmu mereka sendiri. Soalnya, Presiden Soeharto sudah memberi peringatan. Dan, kini, tinggal bagaimana para pakar ilmu-ilmu sosial itu mampu mengkaji permasalahan yang terjadi di Indonesia, dengan "kacamata" bangsa sendiri. Mungkin bisa lebih menyejukkan, bisa pula justru lebih menggelapkan pemandangan. Bisa plus, bisa juga minus. Silakan pilih.


Ign, Haryanto, Yusi A. Paranom (Jakarta), Moch Faried Catyono (Yogyakarta)


Sumber: FORUM KEADILAN, No. 26, Tahun V, 7 April 1997

Minggu, 05 April 2026

SKRIPSI FIKSI UNTUK GENGSI



Oleh: Andi Hakim Nasoetion

(TEMPO, No. 6, Tahun XVI, 5 April 1986)


Pengalaman pertama saya membuat skripsi adalah ketika ujian akhir sarjana pertanian. Guru besar saya pada tahun 1957 itu, Prof. Dr. Ir. Jan van Schuylenborgh, meminta saya menulis suatu telaah pustaka mengenai masalah pengikatan nitrogen oleh berbagai jasad renik di tanah-tanah tropis. Dia tidak mengatakan apa yang harus diperbuat dan bagaimana bentuk skripsi itu. Tetapi dari berbagai diskusi dengannya saya tahu bahwa tugas itu diberikan kepada saya agar setelah menjadi sarjana saya siap mengadakan penelitian menuju gelar Doktor dalam Ilmu-ilmu Pertanian bidang Ilmu Tanah.


Dari situ saya simpulkan bahwa skripsi yang dimaksudkannya adalah suatu tinjauan kepustakaan mengenai perkembangan pengetahuan tentang fiksasi nitrogen di tanah-tanah tropis yang penting diketahui agar dapat menghemat penggunaan pupuk nitrogen, seperti sulfat amonium dan urea, pada lahan-lahan pertanian. Kemampuan membuat percobaan diujikannya melalui suatu masa praktikum di laboratorium. Tugas yang diberikannya kepada saya adalah mencoba suatu alat baru, yang ketika itu termasuk canggih, yaitu polarograf, untuk mengukur kadar unsur mikro di daun yang telah diperabukan. 


Di samping menulis makalah untuk mata pelajaran Ilmu Tanah, saya juga harus membuat tiga makalah lagi, masing-masing dalam Pemuliaan Tanaman, Bercocok Tanam, dan Statistika. Selain itu, saya juga harus menulis dua laporan praktek, yang dilakukan masing-masing selama tiga bulan di suatu perkebunan dan pada Dinas Pertanian. Antara satu tulisan dan tulisan lain boleh dikatakan tidak ada hubungannya, kecuali barangkali antara skripsi dan laporan praktikum Ilmu Tanah.


Sewaktu menulis makalah Ilmu Tanah, saya merasa gugup karena banyak teman yang naskahnya diulang-alikkan oleh Prof. Van Schuylenborgh tanpa memberitahukan kesalahannya. Ia menyuruh mahasiswa mencari sendiri apa yang salah. Petunjuknya hanya bahwa makalah bukan disusun seperti mengumpulkan guntingan berita surat kabar. Untung sekali saya tidak mengalami hal itu. Dalam waktu kurang dari tiga bulan saya telah lulus ujian, dan beberapa minggu kemudian ia pun pulang ke Negeri Belanda.


Dari keberuntungan itu saya kemudian sadar bahwa yang dimak- sudkan dengan skripsi adalah suatu telaah kepustakaan mengenai suatu permasalahan tertentu di berbagai majalah ilmiah yang berkenaan dengan masalah tersebut. Telaahan itu harus diakhiri dengan kesimpulan mengenai permasalahan tersebut. Dan, ia juga menguraikan rencana penelitian yang dapat dilakukan untuk mencoba memecahkan permasalahan tersebut. Atas dasar itulah nanti mahasiswa yang telah menjadi sarjana bekerja menyusun disertasi Doktornya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Tampak persyaratan pembuatan skripsi itu sebenarnya diperuntukkan bagi pendidikan sarjana yang diarahkan menjadi ilmuwan peneliti, seperti yang dahulu berlaku dalam pendidikan universitas di Eropa.


Faktor apa di Indonesia yang dapat menghambat pembuatan skripsi? Pertama, langkanya dosen pembimbing yang tetap giat dalam usaha penelitian, dan, karena itu, tetap menguasai perkembangan ilmu dalam bidangnya melalui pengkajian kepustakaan mutakhir. Kedua, kurang tersedianya kepustakaan mutakhir dari semua pusat perkembangan bidang ilmu itu. Ketiga, kekurangmampuan mahasiswa menguasai dasar-dasar bidang ilmunya, dan bahasa asing yang menjadi sarana komunikasi dalam bidang ilmunya itu. Pada zaman dahulu, untuk bidang ilmu pengetahuan alam dan biologi orang paling sedikit harus menguasai dua di antara empat bahasa-bahasa Jerman, Prancis, Inggris, dan Spanyol. Sekarang, kalau mereka dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik, maka itu sudah banyak menolong dalam pembuatan skripsi.


Apa jadinya kalau ketiga faktor itu tidak dipenuhi? Kalau pekerjaan dosen pembimbing sehari-hari bukan bersifat akademis, melainkan bersifat administrasi, hingga ia tidak berkesempatan mengikuti perkembangan kemajuan ilmu dalam kepustakaan, bagaimana ia dapat menyarankan judul permasalahan yang baik kepada mahasiswa bimbingannya? Bagaimana pula ia dapat mengetahui tulisan mahasiswanya itu belum pernah ditulis orang lain?


Kalau kepustakaan mutakhir tidak terdapat di perguruan tinggi, bagaimana mahasiswa dapat menemukan bahan-bahan mutakhir, kecuali menganggap skripsi rekannya yang lebih dahulu tamat sebagai kepustakaan mutakhir, walaupun isinya mungkin sudah berkapang? Kalau kepustakaan mutakhir ada di  perguruan tinggi, tetapi tersurat dalam bahasa asing, bagaimana ia dapat memahaminya jika yang diketahuinya hanya bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia yang belum tentu baik dan benar? 


Sudah tentu akan ada yang mengatakan itulah jadinya kalau kita tidak mengadakan program penerjemahan buku-buku pelajaran. Andaikan kita mempunyai dana cukup untuk menerjemahkan semua buku teks atau buku daras yang penting, siapa yang akan menerjemahkannya? Pasti yang memenuhi syarat bukanlah seorang ahli bahasa karena ada kemungkinan ia akan menerjemahkan animal husbandry sebagai ilmu bersuamikan binatang. Kalau semua buku daras sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, persoalan membuat skripsi akan menjadi lebih pelik. Makin banyak mahasiswa Indonesia yang tidak pernah membaca buku daras dalam bahasa asing, makin ditulissulit bagi dia untuk mencoba memahami kepustakaan mutakhir yang dalam bahasa asing. 


Gejala-gejala kesulitan membuat skripsi, karena kepustakaan tidak memadai dan penguasaan bahasa asing yang kurang, sudah yang pernah diamati di Institut Pertanian Bogor, akhir tahun enam puluhan. Karena itulah disusun kurikulum baru berdasar tiga peringkat pendidikan. Tahap pertama dilaksanakan pendidikan peringkat S₁ yang berakhir dengan gelar sarjana. Setelah peringkat ini, sebagian lulusannya dapat diterima meneruskan pelajaran untuk peringkat S₂ menuju gelar Magister Sains. Sebagian mahasiswa program S₂ ini dapat diizinkan melompati tugas penelitian program Magister Sains dan memasuki program S₃, yang diakhiri dengan penganugerahan gelar Doktor.


Apa keuntungan sistem ini? Faktor pertama tidak dapat ditawar-tawar lagi. Untuk menjalankan program yang mana saja tenaga akademis yang menyelenggarakannya harus memiliki kelayakan akademis sebagai peneliti, dan harus masih berkecimpung dalam bidang ilmunya. Faktor kedua masih dapat ditawar, karena dengan kepustakaan yang kurang lengkap, seorang mahasiswa masih dapat menulis suatu tugas akhir asal saja skripsi langsung diganti oleh suatu karya penelitian berdasarkan pengamatan dan mungkin juga percobaan. Faktor ketiga adalah yang paling menentukan dalam hal perubahan sistem pendidikan tinggi menjadi tiga lapis itu.


Kalau dahulu, pada zaman "studi bebas", dari setiap 100 orang yang masuk ke perguruan tinggi tidak lebih dari 25 orang yang menyelesaikan pelajaran. Tetapi, sekarang kalau ada perguruan tinggi yang berani melaksanakan itu, maka ia akan berurusan dengan kritik masyarakat, karena masyarakat ingin melihat perguruan tinggi itu mempunyai tingkat keefisienan yang tinggi. Kalau boleh dari setiap 100 orang yang diterima harus dihasilkan 100 sarjana.


Karena itu, kalau dari setiap 100 orang yang diterima di perguruan tinggi kita misalnya ingin meluluskan tidak kurang dari 85 sarjana, maka sistem pendidikan yang berdasarkan "studi bebas" mungkin lebih baik diganti namanya menjadi "studi bebas bimbingan", dan harus ada sistem yang memungkinkan bimbingan yang lebih mengarah bagi mereka yang "mekar lebih lambat". Itulah yang diharapkan dari pembagian jalur akademis pendidikan tinggi menjadi tiga lapisan itu. Pembagian tugas bergantung pada jenis masalah yang harus diteliti.


Dalam garis besar penelitian dapat dibagi menjadi lima jenis berikut:

• Penelitian Operasional, mencakup pemecahan permasalahan yang bersifat lokal. Misalnya penentuan sistem beternak atau bertanam yang bagaimana akan menghasilkan keuntungan terbesar di suatu lahan tertentu dengan menggunakan sarana produksi tertentu pula.


• Penelitian Taktis, mencakup, misalnya, penentuan jenis tanaman atau ternak yang baik untuk diadaptasikan di suatu daerah tertentu mengingat hubungan yang terdapat antara berbagai sistem pertanian serta kehidupan sosial di daerah tersebut.


• Penelitian Strategis, yang tujuannya ialah menciptakan dan menyebarluaskan teknologi serta pengetahuan pada taraf nasional dan internasional. Penemuan galur-galur baru padi yang tahan nyakit, misalnya, termasuk penelitian strategis.


• Penelitian Pendukung, yang memiliki sasaran yang ditentukan sebelumnya. Misalnya, untuk menemukan galur padi yang tahan penyakit tertentu, sebelumnya harus dilakukan penelitian dasar dalam bidang genetika tentang pewarisan sifat tahan penyakit tersebut. 


• Penelitian Dasar, berbeda dari penelitian pendukung, dilakukan tanpa sesuatu tujuan awal. Bahwa akhirnya hasil penelitian itu ada juga penerapannya memang sering terjadi.


Seorang sarjana diharapkan dapat melaksanakan dan merancang penelitian operasional dan taktis. Untuk itu, ia tidak perlu terlalu banyak mengetahui perkembangan bidang ilmunya secara menyeluruh. Dengan beberapa kepustakaan dasar ia dapat merancang dan melaksanakan percobaan untuk menjawab permasalahan yang diselidikinya. Akhirnya, selain mendapat hasil penelitian, ia juga menciptakan kepustakaan baru dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, karya ilmiah sebagai tugas akhir seorang sarjana berlandaskan penelitian operasional atau taktis. 


Penelitian strategis dimaksudkan sebagai bahan tesis bagi mahasiswa pascasarjana yang akan menuntut gelar Magister Sains. Untuk ini, ia harus mampu menelaah kepustakaan dari daerah asal yang lebih  luas. Penelitian pendukung dan penelitian dasar disediakan sebagai bahan disertasi Doktor. Mahasiswa program Magister dan Doktor harus membaca lebih banyak kepustakaan, dan harus melakukan serangkaian penelitian yang lebih rumit. Hal itu tidak akan terlalu mengagetkannya, karena sebelumnya ia telah dilatih membuat penelitian yang sederhana sewaktu melakukan tugas akhir kesarjanaan. 


Dengan demikian, dapat disimpulkan, penulisan skripsi sebagai tugas akhir pendidikan sarjana berupa telaah pustaka, yang sebenarnya adalah persiapan untuk menyusun suatu disertasi, sudah tidak sesuai lagi dengan permintaan zaman. Tidak semua sarjana dimaksudkan menjadi pemburu ilmu, sehingga bagi sarjana yang demikian lebih penting menguasai beberapa metodologi bagi profesinya. Dan, kenyataannya hanya sebagian kecil lulusan perguruan tinggi akan diperlukan sebagai pemburu ilmu. Bagian terbesar diperlukan sebagai pengelola kegiatan pembangunan. Sayang sekali masih ada peraturan yang memintakan bahwa suatu program sarjana harus diakhiri dengan suatu skripsi sebagai tugas akhir.


Kalau hal itu masih akan tetap dipertahankan, harus pula dipertahankan semua tenaga akademis perguruan tinggi harus berkelayakan peneliti, dan masih tetap berkecimpung dalam kegiatan memburu ilmu. Selain itu, perguruan tinggi harus dilengkapi dengan laboratorium, dan kepustakaan mutakhir dari seluruh penjuru dunia.


Sekarang ini kita sangat keranjingan membuka perguruan tinggi baru. Tapi, yang kita pikirkan hanya bangunan tempat menampung kuliah saja. Dengan keadaan seperti ini, kalau kita masih tetap mempertahankan tugas akhir kesarjanaan berbentuk skripsi, kita tidak boleh kaget, demi gengsi orang berani menulis skripsi fiksi. Dan, kalau kita juga masih tetap berpendapat bahwa sistem pendidikan tinggi berlapis tiga itu menurunkan mutu pendidikan, maka bersiap-siaplah untuk menerima skripsi jiplakan sebagai produk utama perguruan tinggi kita. Kita sendiri yang meminta mala petaka ini.


Sumber: TEMPO, No. 6, Tahun XVI, 5 April 1986

KERINDUAN

 

(Kompas, Rubrik “Asal Usul”,  4 April 1999)

Dan semoga kerinduan ini bukan hanya mimpi di atas mimpi 

(Ebiet G Ade)


Oleh: Mohammad Sobary 


Orang-orang tersayang, dan mereka yang dekat dengan kita, sering mengundang kerinduan bila pertemuan lama tak terjadi. Kerinduan itu anugerah Tuhan yang disematkan ke dalam jiwa umat-Nya. Saya kira kerinduan itu mahkota jiwa kita. Sungguh berbahagia orang yang jiwanya masih memakai mahkota kerinduan. Termasuk rindu pada tatanan, atau keadaan, yang penuh rasa damai, tertib, aman, tenteram.

Orang-orang miskin masih mudah bersikap kalem, menghadapi kemiskinannya. Tetapi bila dari jiwa mereka rasa damai, tertib, aman, tenteram tadi direngguti, dan hidup tinggal diliputi rasa cemas dan ketakutan, mereka akan menjeritkan rasa cemas dan ketakutan itu ke langit.

Jeritan ke langit lambang rasa putus asa sebab berjuta-juta jeritan kepada penguasa di Bumi telah sia-sia belaka. Para penguasa di Bumi -- yang hidup tetap dalam kemewahan di tengah zaman malaise sekarang -- tak lagi peka. Rata-rata bahkan tak paham lagi apa arti buah jerit keputusasaan sebab jerit putus asa tak ada dalam kamus yang dicetak buat para penguasa Bumi ini.

Apakah mereka lain dari orang-orang biasa? Intinya sama. Mereka pun memakai mahkota. Bedanya, mereka memakai mahkota di kepala, dan bukan di dalam jiwa.

                                       ***

Tiap kali ingat drama mini karya Mas Danarto, Mengembaikan kegembiraan berpolitik, jiwa saya digedor-gedor kerinduan akan kedamaian, kerukunan, dan rasa adil dalam politik.

Drama yang dipentaskan dekat sebelum pemilu 1997 itu menampilkan adegan kampanye pemilu yang teduh, dan nyaman ibarat sebuah pesta keluarga. Tiga kontestan -- Golkar, PPP dan PDI -- tampil bersama. Tak ada adegan saling memaki atau menyudutkan. Mereka saling membantu.

“... pem-pem... bangunan" seru jurkam Golkar, sambil melenggang di depan massa yang penuh suka-cita. Tepuk tangan pun membahana.

“... de... de demokrasi... " teriak jurkam PDI. 

"Beb... beb... bebas SPP..." jerit wakil PPP.

Panitia seusai kampanye kekeluargaan itu membagi makanan dan minuman kepada massa rakyat. Terdorong oleh keheranan melihat begitu baik hati orang-orang partai, spontan massa menari bersama sambil menggumamkan rasa heran tadi. 

"Lho..., kok dilayani...? Lho kok dilayani...” berulang-ulang. 

                                       ***

Diam-diam Mas Danarto pun tengah dirundung kerinduan akan suasana di mana rakyat hidup dengan penuh tawa. Juga Bung Karno. Lewat Di bawah Bendera Revolusi kerinduan Bung Karno terungkap:

“... marilah kita jaga nama kita terhadap diri sendiri dan terhadap luar negeri. Marilah kita semua, tua-muda, di kota-kota, di kampung-kampung, di desa-desa, menghabisi keadaan tiada keamanan ini. Dengarkanlah ratap-tangis bapak tani meminta keamanan, ratap-tangis orang kecil meminta ketenteraman. Janganlah ada orang lain dapat berkata: Inikah bangsa Indonesia, yang tak dapat mengadakan keamanan di dalam rumahnya sendiri?"

Saya ingin betul mendengar presiden sekarang, atau para penggede lain, berpidato dengan kerisauan yang begitu dalam memikirkan kaum tani dan semua wong cilik yang rindu akan rasa damai dan ketenteraman.

Keinginan saya ini mungkin terlalu mewah. Kita tengah menyaksikan sebuah ironi sejarah: ironi yang getir. Di bawah revolusinya Bung Karno, kitá berteriak bahwa masa depan yang jaya-sentosa terletak pada persatuan bangsa. Idiom revolusi dulu: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Di bawah bendera pembangunan -- juga bendera reformasi  -- sebaliknya: masa depan terletak pada perpecahan. Sebagian propinsi kita berkata, pisah dari Indonesia menjadi sarana memenuhi impian kemerdekaan dan keadilan. 

Ironi ini -- sekali lagi -- terasa betapa getirnya. Dapatkah kita lepas dari kegetiran psiko-sosio-politik demikian ini? Mari kita duduk dalam ketenangan. Mari kita lepas mahkota yang bikin kepala cepat panas. Dan mari kita pindah mahkota itu ke dalam jiwa kita.

Dengan mahkota di dalam jiwa kita semoga mampu memahami tuntutan minta cerai itu cuma sikap merajuk, karena di dalam jiwa mereka masih bersemi rasa cinta pada Indonesia Kalau kita bersatu, dan kompak-- karena masing-masing mengakui kelemahannya -- lalu kita bisa kuat. Rasa aman, damai, tenteram, tentu bisa kita ciptakan. Ini, saya kira bukan hanya mimpi di atas mimpi, seperti kata Ebiet di awal tulisan.

Di Slawi, Jawa Tengah ada bukti kuat. Tanggal 20 Maret lalu, pengurus Daerah Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) yang baru malam sebelumnya dilantik, menggelar atraksi kolosal partai-partai politik di "Monumen Gerakan Banteng Nasional". Acaranya disebut "Gelar Budaya".

Warga Slawi, "tumpah” di situ. Para wakil partai tukar bendera dengan rasa damai. Dalam pawai keliling kota yang meriah, partai A memanggul bendera partai B, partai C memanggul bendera partai F dan seterusnya. Keadaan aman tenteram damai. Tak ada pelemparan, tak ada pembakaran.

Kegembiraan berpolitik terdapat bukan cuma dalam impian Mas Danarto, tetapi juga dalam kenyataan hidup di Kodya Slawi, kota industri, pengolahan teh yang terkenal itu. Sejarah yang adil tentu tak lupa mencatat bahwa kedamaian politik macam itu tidak jatuh dari langit.

Di balik kedamaian massal itu ada tangan-tangan yang mengatur. Pertama, tangan Pak Harmoko, ketua PKKB dan stafnya. Kedua, tangan Pak Umar Dhanu, Dandim 0713 Tegal. Kolonel ini matanya tajam, tegas, tetapi ramah. Mahkota kemiliterannya saya kira dipakai bukan di kepala, melainkan dalam jiwa. la paham akan kerinduan orang-orang di bawahnya. (Mohamad Sobary) 


Sumber: Kompas, 4 April 1999


Sabtu, 04 April 2026

Tidur Cukup dan Kecerdasan

Banyak orang tua modern terjebak dalam perlombaan mengisi jadwal anak dengan les matematika, bahasa asing, hingga koding, namun abai terhadap satu variabel yang paling krusial: durasi dan kualitas tidur. Kita sering menganggap tidur hanyalah waktu istirahat pasif, padahal bagi otak anak yang sedang berkembang, tidur adalah "laboratorium kognitif" di mana semua informasi yang dipelajari di tempat les diproses, disaring, dan dikunci ke dalam memori jangka panjang.

Memaksa anak belajar hingga malam dan bangun terlalu pagi untuk les tambahan sebenarnya adalah tindakan kontraproduktif yang merusak sirkuit saraf. Tanpa tidur yang cukup, investasi jutaan rupiah untuk les tambahan hanya akan menguap begitu saja karena otak anak kehilangan kemampuan untuk menyerapnya.

Berikut adalah 7 alasan ilmiah kenapa tidur adalah penentu utama kecerdasan anak melampaui kursus apa pun:


1. Proses Konsolidasi Memori (Penyimpanan Data)

Saat anak tidur, otak melakukan proses yang disebut konsolidasi memori. Informasi yang diterima saat les siang hari (memori jangka pendek) dipindahkan ke neocortex (memori jangka panjang). Jika anak kurang tidur, "jalur pemindahan" ini terputus. Akibatnya, materi sesulit apa pun yang dipelajari di tempat les tidak akan menetap di otak; mereka hanya akan menghafal untuk sesaat lalu lupa esok harinya.

2. Pembersihan "Sampah" Otak (Sistem Glimfatik)

Selama tidur, sistem glimfatik di otak bekerja 10 kali lebih aktif untuk membuang protein racun dan sisa metabolisme yang menumpuk selama anak beraktivitas. Jika anak kurang tidur, "sampah" ini menumpuk dan menciptakan kabut otak (brain fog). Anak yang otaknya "kotor" akan lambat dalam berpikir, sulit menangkap instruksi, dan memiliki daya konsentrasi yang sangat rendah sekeras apa pun mereka mencoba belajar.

3. Neurogenesis dan Plastisitas Otak

Tidur adalah waktu utama bagi otak untuk memproduksi sel saraf baru (neurogenesis) dan memperkuat koneksi antar sinapsis. Otak anak sangat plastis, artinya ia bisa dibentuk. Namun, pembentukan sirkuit kecerdasan ini hanya terjadi secara optimal saat fase tidur dalam (deep sleep). Kurang tidur membuat otak menjadi kaku, sehingga anak sulit mempelajari keterampilan baru atau beradaptasi dengan materi pelajaran yang lebih kompleks.

4. Aktivasi "Prefrontal Cortex" (Pusat Logika)

Area otak yang paling terdampak oleh kurang tidur adalah prefrontal cortex, bagian yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif: pemecahan masalah, perencanaan, dan kontrol emosi. Anak yang kurang tidur akan lebih impulsif, mudah menyerah saat menghadapi soal sulit, dan sulit fokus. Les tambahan tidak akan berguna jika mesin utama pengolah logikanya sedang dalam kondisi "low battery".

5. Hubungan Antara Tidur dan Kreativitas

Dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement), otak melakukan asosiasi ide secara acak dan kreatif. Di sinilah kemampuan berpikir out-of-the-box terbentuk. Anak yang cukup tidur cenderung lebih solutif dalam menghadapi tantangan. Sebaliknya, anak yang hanya difokuskan pada les tanpa tidur cukup akan tumbuh menjadi "penghafal" yang kaku, bukan inovator yang kreatif.

6. Regulasi Hormon Pertumbuhan (HGH)

Hormon pertumbuhan (Human Growth Hormone) dilepaskan secara maksimal saat anak tidur nyenyak. Hormon ini tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan, tapi juga pada perkembangan fisik otak. Perkembangan otak yang terhambat secara fisik akibat kurang tidur akan membatasi kapasitas kognitif anak secara permanen, sesuatu yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan menambah jam les di akhir pekan.

7. Keseimbangan Emosi sebagai Dasar Belajar

Anak yang cukup tidur memiliki stabilitas emosi yang lebih baik. Belajar membutuhkan rasa aman dan ketenangan. Saat anak lelah karena kurang tidur, mereka lebih mudah cemas dan stres. Dalam kondisi stres, otak melepaskan kortisol yang justru merusak sel-sel di hippocampus (pusat memori). Jadi, kurang tidur bukan hanya menghambat belajar, tapi secara aktif "merusak" perangkat keras memori anak.

"Tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas, melainkan fondasi biologis tempat kecerdasan dibangun. Jangan menukar masa depan intelektual anak hanya demi satu jam tambahan di kelas bimbingan belajar."

Apakah kamu merasa selama ini jadwal les anak sudah mulai menggerus waktu istirahat mereka, atau kamu punya aturan ketat soal jam tidur di rumah?

Sumber: Fb

Jumat, 03 April 2026

,

Derrida: Metafisika Kehadiran, Logosentrisme, Trace

 

Dalam filsafat Jacques Derrida, metafisika kehadiran (metaphysics of presence) adalah kecenderungan tradisi Barat untuk menganggap bahwa "makna" bisa hadir secara penuh dan seketika dalam pikiran atau ucapan, tanpa ada distorsi. 

Contoh paling jelas dari konsep ini adalah Fonosentrisme (pengutamaan suara di atas tulisan): 

Privilese Ucapan: Tradisi filsafat (mulai dari Plato) menganggap ucapan lebih tinggi daripada tulisan. Mengapa? Karena saat seseorang berbicara, si pembicara "hadir" di sana. Maknanya dianggap murni, langsung, dan tidak bisa disalahpahami karena ada kehadiran subjek secara fisik.

Tulisan sebagai "Anak Yatim": tulisan, sebaliknya, sekadar wakil atau tiruan yang lemah. Tulisan bisa dibaca tanpa kehadiran penulisnya, sehingga maknanya berisiko melenceng.

Dalam filsafat dekonstruksi, Derrida membongkar ini dengan menunjukkan bahwa ucapan pun sebenarnya bekerja seperti tulisan. Makna sebuah kata tidak pernah "hadir" sepenuhnya di saat itu juga, melainkan selalu bergantung pada perbedaannya dengan kata lain dan jejak (trace) dari konteks yang sudah lewat atau yang akan datang. 

Singkatnya, metafisika kehadiran adalah ilusi bahwa kita bisa menangkap makna absolut yang diam, tetap, dan hadir secara total tanpa melalui proses interpretasi yang tanpa akhir. 

***

Logosentrisme

Logosentrisme adalah istilah yang dipopulerkan oleh Jacques Derrida untuk mengkritik tradisi filsafat Barat yang selalu mencari "pusat" atau kebenaran absolut yang stabil. Istilah ini berasal dari kata Yunani Logos, yang berarti kata, nalar, atau hukum universal. 

Berikut adalah poin-poin utama untuk memahami logosentrisme dalam pandangan Derrida:

Pencarian Pusat (Kebenaran Absolut): Logosentrisme merujuk pada keyakinan bahwa ada sebuah makna pusat, asal-usul, atau kebenaran mendasar yang berada di luar bahasa dan tidak bisa diganggu gugat.

Hierarki Bahasa (Lisan vs Tulisan): Derrida berpendapat bahwa logosentrisme sangat terkait dengan fonosentrisme, yaitu kecenderungan untuk menganggap bahasa lisan lebih utama daripada tulisan. Bahasa lisan dianggap lebih "dekat" dengan pikiran dan kebenaran, sementara tulisan dianggap hanya sebagai wakil yang bisa menyesatkan.

Oposisi Biner: Budaya logosentris bekerja melalui pasangan berlawanan di mana satu sisi dianggap lebih unggul, seperti:

Lisan > Tulisan

Kehadiran > Ketidakhadiran

Pria > Wanita

Akal > Emosi

Tujuan Dekonstruksi: Melalui metode dekonstruksi, Derrida mencoba membongkar logosentrisme ini dengan menunjukkan bahwa "pusat" tersebut sebenarnya tidak stabil. Ia berargumen bahwa makna selalu tertunda dan bergantung pada perbedaan (diffĂ©rance) antar tanda, sehingga tidak pernah ada satu makna tunggal yang benar-benar menetap. 

Secara singkat, logosentrisme bagi Derrida adalah ilusi tentang adanya makna yang hadir secara utuh dan tetap yang selama ini mendominasi cara berpikir manusia. 

***

Trace

Dalam filsafat dekonstruksi Jacques Derrida, trace (jejak) adalah konsep yang menyatakan bahwa makna sebuah kata atau tanda tidak pernah benar-benar "hadir" secara utuh di satu tempat. 

Sebaliknya, makna selalu mengandung "jejak" dari hal-hal lain yang bukan dirinya sendiri.

Sederhananya begini:

Derrida berpendapat bahwa kita memahami sesuatu justru karena hubungannya dengan hal lain yang tidak ada di sana. Makna tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari jaringan perbedaan. 

Contoh:

Kata "Dingin":Kamu tidak bisa memahami sepenuhnya apa itu "dingin" tanpa adanya jejak ingatan atau konsep tentang "panas". Meskipun kata "panas" tidak diucapkan, maknanya tetap hadir sebagai "jejak" di dalam kata "dingin". Jadi, "dingin" selalu membawa sisa-sisa makna dari lawannya.

Tanda Tangan:Sebuah tanda tangan dianggap sah karena mewakili kehadiranmu. Namun, tanda tangan itu sendiri hanyalah sebuah "jejak" (tulisan di kertas). Ia berfungsi justru saat kamu sedang tidak ada di sana. Maknanya bergantung pada sesuatu yang absen.

Teks Masa Lalu:Saat membaca buku, setiap kata yang kamu baca membawa jejak dari cara kata itu digunakan dalam sejarah, budaya, dan kalimat-kalimat sebelumnya. Makna sebuah kalimat hari ini selalu "terkontaminasi" oleh jejak penggunaan di masa lalu. 

Intinya: Trace menunjukkan bahwa tidak ada identitas yang murni. Segala sesuatu selalu terhubung dengan "yang lain" yang tidak tampak.

Sumber: AI

TERBARU

MAKALAH