Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia,
Allah berfirman bahwa dulu Allah menawarkan sebuah
kepercayaan, amanah kepada langit, gunung, dan bumi. Namun, mereka menolak
untuk menerima kepercayaan dari Allah itu karena khawatir atau takut tidak
mampu melaksanakannya.
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ
عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ
مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ
(innâ ‘aradlnal-amânata ‘alas-samâwâti wal-ardli
wal-jibâli fa abaina ay yaḫmilnahâ wa asyfaqna min-hâ wa ḫamalahal-insân,
innahû kâna dhalûman jahûlâ)
"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada
langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat
itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu
oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh."
(Q.s. Al-Ahzab, Ayat 72)
Amanah yang ditolak oleh langit, bumi, dan gunung, karena
takut tidak mampu menjalankan itu, kemudian diterima oleh manusia. Kita
menerima.
Amanah apakah itu? Padahal manusia itu, “Innahuu kaana
dzaluuman jahuula.” Manusia punya potensi zalim, menyimpang, atau bahasa
kasarnya kurang ajar. Dan “jahula” itu berarti manusia punya potensi serba
tidak tahu, serba bodoh, tapi menerima amal yang sangat berat itu.
Amanah apakah itu? Ada dua amanah.
Pertama, amanah diniyyah samawiyah,
muqaddasah. Yaitu amal agama dari langit yang suci, yang mulia, ilahiyyah
(atau bersifat Allah), dan merupakan monopoli Allah. Itulah amanah diniyyah,
ilahiyyah, samawiyyah, muqaddasah.
Isinya ada dua, yaitu akidah dan syariah.
Akidah merupakan rukun iman yang enam, sedangkan syariah
adalah rukun Islam yang lima, dan aturan-aturan ibadah yang lain. Itu amanah
agama yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia setelah langit, bumi, dan
gunung menolak.
Maka kita sebagai yang mempunyai amanah harus mengamalkan,
mendakwahkan, mengajak manusia atau masyarakat lain agar berakidah dan
bersyariah. Aqidah shahihah, syariah shahihah. Akidah yang benar
harus kita dalami melalui pelajaran ilmu kalam. Syariah yang benar harus kita
pahami melalui kitab-kitab yang kita baca.
Minimal, setara Fathul Qarib. Itu sudah lumayan
standar, walaupun masih pas-pasan. Belum luas seperti Fathul Wahab, Mahalli,
atau Majmu'. Tapi, minimal kita semua ini harus paham Fathul Qarib.
Kalau akidah, minimal harus paham Fathul Majid atau Al-Iqtishad fi
Al-I'tiqad, dlsb, itu suatu amanah.
Yang kedua, amanah yang diterima oleh manusia
itu bersifat insaniyyah, ardliyah, ijtihadiyah. Bersifat manusia,
profan, duniawi, dan bersifat kreatifitas.
Kecerdasan kita sebagai manusia ada dua. Pertama tsaqafah,
dan kedua, hadlarah. Tsaqafah membangun kemajuan peradaban atau scientific,
culture, humanity. Kita dituntut agar membangun kemajuan-kemajuan.
Menciptakan umat yang maju, yang modern, yang tidak boleh ketinggalan, yang
berperan. Kita harus membangun pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan seterusnya.
Itulah yang disebut pembangunan dalam bidang tsaqafah. Tsaqafah bersifat
manusiawi dan bersifat ijtihadiyah. Kita dituntut agar cerdas di sini. Bukan
monopoli Allah, bukan hanya Allah, tetapi kita juga dituntut untuk berupaya
keras menuntut ilmu dengan kecerdasan, agar kita mampu membangun ilmu
pengetahuan, ekonomi, kesehatan, dan membangun kemajuan-kemajuan yang lain. Itulah
yang disebut tsaqafah.
Sementara hadlarah yaitu membangun kesejahteraan,
membangun perdamaian, membangun kehidupan bersama satu sama lain. Makanya ada
yang namanya akhlaqul karimah.
Apa itu akhlaqul karimah itu? Banyak isinya:
tawadhu”, ihtiramu al-walidain, birru al-walidain (menghormati
orang tua, berbakti kepada orang tua), ihtiramu al-jiran (menghormati
tetangga), ihtiramu al-dluyuf (menghormati tamu), taawun, ighatsatu
al-lahfan (menolong orang yang lagi kesusahan), iyadatu al-mardla
(menengok orang sakit), ta’ziyatwu al-mauta (takziyah orang yang meninggal
dunia). Apalagi? Idkhalu al-surur (menggembirakan orang lain). Itu semua
namanya akhlaqul karimah.
Tapi kalau semua itu diringkas menjadi satu kata, apa akhlaqul
karimah itu? Adalah husnul muasyarah, al muasyarah bil husna.
Bergaul yang baik, berinteraksi, bermuamalah, bersama-sama membangun
kebersamaan, membangun masyarakat, membangun kehidupan yang ideal, yang
bermartabat, yang baik. Bergaul dengan keluarga, bergaul dengan tetangga,
bergaul dengan orang satu daerah, bergaul dengan orang dari daerah yang lain,
negara satu dengan negara yang lain, itu namanya akhlaqul karimah. Yakni,
tentang bagaimana kita pandai bergaul dengan siapapun secara baik dan benar.
Bergaul dengan sesama umat Islam seperti apa, bergaul dengan non muslim seperti
apa, bergaul dengan satu daerah dengan daerah lain seperti apa, bergaul negara
satu dengan negara lain seperti apa, itu semua adalah akhlaqul karimah.
Kita di dunia ini tidak mungkin hidup sendirian. Umat Islam
tidak mau bergaul dengan non-muslim, tidak akan bisa. Indonesia tidak mau
berhubungan dengan negara lain, tidak bisa. NU tidak mau bergaul dengan ormas
lain, tidak mau bekerja sama, tidak bisa. Harus membangun kerja sama dengan
semua pihak, pandai-pandailah bekerjasama, berhubungan kerja, taawanu alal
birri wat taqwa dengan siapapun. Nah itu namanya Akhlaqul karimah.
Kalau itu tercapai, kalau itu bisa kita kerjakan dengan baik,
namanya hadlarah, maka kita ini namanya masyarakat atau umat yang muthadlir,
berperadaban. Kalau berilmu, cerdas, pintar namanya mutsaqqaf, kita ini mutsaqqaf
kalau berpendidikan. Kalau membangun kerja sama bermasyarakat, sama-sama gotong
royong berbangsa bernegara dengan baik dengan benar namanya mutahadldlir.
Kalau dua-duanya berhasil, pendidikan berhasil ilmu berhasil
cerdas dan membawa masyarakat yang kuat solid kokoh, dua-duanya berhasil, sejahtera,
kaya, pandai, cerdas, dan solid namanya mutamaddin. Jadi, madinah
mutamaddin tamaddun madaniyah madanii itu adalah al madinatul fadhilah,
masyarakat yang ideal yang kita impi-impikan. Penduduk masyarakat Indonesia ini
semuanya cerdas, semuanya berilmu, semuanya sejahtera, kaya, dan semuanya
membangun kebersamaan dengan baik. Bermasyarakat, gotong royong satu sama lain,
berhubungan satu sama lain dengan baik itu namanya, kalau sudah dua-duanya
namanya mutammaddin.
Baru saja kemarin Mufti Damaskus Syekh Adnan 'Afyuni naik
mobil boks. Ternyata di dalam mobil itu ada bom dan meledak. Allahu yarhamuh
gugur, ulama besar mufti kota Damaskus. Ini namanya apa? Namanya masyarakat
yang tidak pandai bergaul, gagal dalam pergaulan, gagal dalam kebersamaan,
gagal dalam membangun hadlarah.
Kalau kita lihat satu per satu orang, orang Syiria, Irak,
Mesir, Lebanon itu pintar-pintar. A pintar, si B pintar, si C pintar,
ketua-ketua partai pintar-pintar tapi tidak mampu, gagal menjadi satu, gagal
membangun kebersamaan.
Sementara itu kita, alhamdulillah di Indonesia ini walaupun
pemimpin-pemimpin tokoh-tokohnya tidak begitu pintar, ulamanya tidak terlalu
pintar, tapi berhasil membangun kebersamaan. Kiai-kiai tidak terlalu pintar,
apalagi kiai desa, paling hanya menguasai Safinah, Tijan Darari, Sulam
Munajat, Sulam Taufig, tapi mampu menciptakan masyarakat yang solid (rukun),
membangun kebersamaan, membangun apa namanya? Hadlarah. Jadi kyai-kyai
itu walaupun di kampung, tapi sukses membangun hadlarah. Kalau
pendidikan namanya tsaqafah.
Alhamdulillah Indonesia ini walaupun terdiri dari tujuh
ratus lebih suku, sudah selesai. Satu organisasi, satu kantor, satu kluster
perumahan, Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Melayu, Ambon, Madura, tidak ada
persoalan. Tetangga kita orang Sunda, tetangga sebelah kiri orang Dayak,
sebelah depan orang Batak, tetangga sana orang Ambon, sudah tidak ada persoalan
dan tidak ada sekat-sekat di Indonesia ini.
Di Timur Tengah masih ada sekat antar suku satu dengan suku
yang lain, fanatisme kesukuan atau ashabiyah gabaliyah di Timur Tengah masih
tebal. Jadi Timur Tengah itu, negara Suriah, Irak, Mesir itu, agamanya bagus,
akidahnya bagus, syariatnya bagus, tapi yang gagal apanya? Hadlarah.
Gagal membangun hidup bersama, gagal membangun kebersamaan, membangun husnul
muasyarah. Artinya apa? Yang hancur apanya? Akhlaknya. Bukan akidahnya,
bukan syariatnya. Yang rusak apa? Akhlaknya.
Martabat sebuah bangsa tergantung akhlaknya. Akhlaknya baik,
martabatnya mulia. Akhlaknya buruk, martabatnya brengsek. Negara Eropa misalnya
negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Swiss, itu teologinya atau akidahnya
salah, syariatnya salah, tapi akhlaknya baik. Mengapa? Karena mereka sukses membangun
husnul muasyarah, husnul musyarakah, husnul mu’amalah, artinya mereka
sukses membangun hadlarah. Adil, makmur, tidak ada konflik tidak ada
perang saudara, rukun, padahal bukan muslim itu, akidahnya jelek syariatnya
jelek, yang bagus apanya? Akhlaknya hadlarah-nya yang bagus.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ