alt/text gambar

Selasa, 10 Februari 2026

BIROKRASI & PEGAWAI NEGERI



Oleh: Umar Kayam

(TEMPO, 8 Februari 1993)


Barangkali pegawai negeri adalah suatu fenomena ajaib. la, pegawai negeri itu, adalah bagian dari institusi yang tidak kurang ajaib pula, birokrasi. Waktu Belanda memperkenalkan birokrasi di Hindia Belanda tentulah ia ingin memperkenalkan suatu sistem mesin administrasi rasional, yang kemudian oleh Weber dikatakan sebagai salah satu tonggak modernitas Eropa.


Belanda, yang mungkin mengira akan dapat membangun suatu mesin birokrasi modern yang efisien untuk menjalankan roda pemerintahannya yang terutama akan menguras sumber alam jajahannya, segera melihat bahwa suatu birokrasi jajahan pada tempatnya yang pertama adalah suatu mesin politik. Artinya suatu mesin birokrasi yang mesti memperhitungkan realita politik di negeri jajahannya itu kalau ia ingin melihat kekuasaannya efektif. Maka ia melihat kepulauan ini diperintah oleh berbagai macam kerajaan besar dan kecil serta kepala-kepala daerah dan suku. Suatu mosaik dari kekuasaan absolut dari raja dan sultan, dari kekuasaan kepala suku dan tua-tua suku dan entah berapa macam sistem kekuasaan tersebut. Itu berarti bahwa suatu birokrasi yang "murni" rasional, modern seperti yang sudah dikenal di Eropa tidak akan terlaksana, setidaknya untuk sementara. Ia mesti membuat berbagai penyesuaian. Nepotisme, favoritisme dengan orang-orang yang dekat dengan elite kekuasaan feodal, dijalankan demi efektifnya birokrasi jajahan. Agaknya ada beberapa perhitungan dan pertimbangan praktis yang mesti dijalankan. Pertama, jumlah yang terbatas dari orang Belanda di kepulauan ini. Kedua, sistem kekuasaan yang sudah berakar kuat pada sistem sosial dan budaya di berbagai kawasan. Maka yang direkrut untuk mengisi birokrasi adalah para sanak keluarga bangsawan, kepala suku dan tua-tua desa yang bersedia setia kepada Belanda. Kemudian di Jawa, misalnya para priayi, elite birokrasi, yang semula hanya mereka yang berada di dekat aura kekuasaan raja diperluas dan diperlebar dengan mereka yang berjasa kepada raja dan Belanda dan bersedia mengabdikan dirinya pada birokrasi Belanda. Birokrasi jajahan menjadi birokrasi yang efektif, meskipun tidak selalu efisien. Kecenderungan hedonistik dari para pemegang kekuasaan feodal serta "kerukunan" anggota keluarga jaringan tidak mungkin memberikan peluang kepada efisiensi. Suatu mitos elite birokrasi, priayi, yang menjadi sokoguru pemerintahan jajahan sudah terbentuk. Suatu kelas yang menikmati status sosial yang terhormat dan disangga oleh perlindungan pemerintah jajahan. Dan birokrasi jajahan itu sendiri juga kemudian berkembang menjadi suatu tipologi birokrasi modern sendiri yaitu birokrasi dari, yang oleh Belanda disebut beambtenstaat, suatu negara birokrasi, suatu negara pegawai. Mungkin ini dapat juga digolongkan sebagai variant kerdil dari negara mandarin Cunfukian di Cina dan Vietnam dulu. Birokrasi dari suatu beambtenstaat adalah unik dalam arti modern, bertakuk-takuk dalam jenjang kerucut dengan pembagian bidang tugas yang jelas, namun bergelimang oleh nepotisme dan favoritisme demi menjaga efektivitas dukungan pemimpin-pemimpin lokal.


Pada tahun 1945 kita mulai dengan revolusi kita, kita mewarisi suatu perangkat beambtenstaat yang sudah jadi sosoknya. Yaitu suatu barisan pangreh-praja, yang memerintah negara, dengan dukungan barisan profesional yang biarpun kecil jumlahnya (para dokter, insinyur, meester, para menteri pertanian dan kesehatan, guru) ikut memberi warna yang menentukan pada budaya elite birokrasi yang di Jawa disebut priayi itu. Sesungguhnya warisan tersebut merupakan suatu ironi buat revolusi kita. Bagaimana tidak. Inilah suatu revolusi yang ingin membangun suatu masyarakat egaliter, yang rakyatnya dibayangkan akan mempunyai hak sama dalam menentukan pemerintahannya sendiri. Soekarno, Hatta, Sjahrir, trio hari-hari pertama revolusi itu, tahu benar masalah dan kondisi ironis waktu itu. (Bukan hanya Tan Malaka, yang revolusioner dan sangat kritis terhadap pimpinan revolusi, yang tahu masalah itu).


Supaya revolusi roda pemerintahan utuh dan berjalan, mesin beambtenstaat diputar lagi menjalankan fungsinya sebagai pengatur negara. Soekarno mengajari rakyat yang mendengarkannya di alun- alun Solo pada hari-hari pertama revolusi itu untuk berteriak "all is running well, all is running well..." Teriakan dalam bahasa Inggris itu tentulah ditujukan kepada dunia internasional untuk meyakinkan bahwa republik kita bukanlah suatu republik chaos, melainkan republik yang teratur dan mulus. All is running well atau tidak, birokrasi kita berjalan terus meski tertatih-tatih, bahkan tumbuh bagaikan suatu behemoth yang godabak dan gedabyah, begitu menjadi sangat besar mesin birokrasi itu. Harapan agar mesin itu menjadi ramping tidak kunjung terlaksana karena ia agaknya masih terus terjerat oleh feodalisme, nepotisme, sistem sosial, dan budaya tradisi. Seperti dulu juga birokrasi beambtenstaat kita masih akan terus efektif meskipun tidak usah harus efisien. Dari Sabang hingga Merauke (bahkan Dili juga) para pegawai negeri masih taat mengenakan baju safari dan Korpri, ikut upacara bendera pada tanggal 17, dan anak-anak sekolah dari SD hingga SMA di ujung-ujung kepulauan kita juga patuh mengenakan baju seragam dan mengikuti upacara bendera. All is running well dari Pusat hingga Daerah. Dan bila pada hari-hari ini para pegawai negeri itu membawa pulang amplop gajian mereka yang cokelat itu dengan harap-harap cemas, mereka akan menghitung (untuk sekian kali) kenaikan gaji mereka apakah kali ini (akhirnya) mereka akan dapat mengejar kenaikan harga-harga di luar kantor mereka.


Sumber: TEMPO, 8 Februari 1993



MENJADI KUPU-KUPU

Oleh: AS Laksana

(Jawa Pos, 10 Februari 2019)


DARI sebuah artikel pendek di internet, saya menemukan cerita tentang mistikus sufi Bayazid. Konon di dalam otobiografinya Bayazid menulis: “Ketika saya masih muda, saya berdoa kepada Tuhan: ‘Ya Tuhan, beri saya kekuatan sehingga saya dapat mengubah seluruh dunia.’ Dengan doa itu, saya menjadi penuh semangat, revolusioner, dan betul-betul ingin mengubah dunia menjadi lebih baik.” 


Yang terjadi selanjutnya mudah diduga. Bayazid bergairah melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya mengubah dunia. Ia mendedikasikan diri untuk membuat perubahan besar. Ia membayangkan tindakan-tindakan besar.


Umurnya terus bertambah dan tenaganya makin berkurang, sampai akhirnya ia mendapatkan kesadaran baru bahwa mengubah seluruh dunia tampaknya terlalu berlebihan. Itu pekerjaan yang amat berat dan ia tidak mungkin melakukannya. 


Lalu, ia berdoa lagi kepada Tuhan, “Ya Tuhan, saya sudah melakukan segala sesuatu dalam separo usia saya. Tetapi selama itu, yang saya lakukan sepertinya hanya meninju-ninju angin. Jangankan dunia, bahkan satu orang pun kelihatannya tidak ada yang berubah. Sekarang, keluarga sudah cukup bagi saya. Izinkan dan beri saya kekuatan untuk mengubah keluarga saya.” 


Ketika makin tua, ia menyadari bahwa rupanya mengubah anggota keluarga sendiri pun sangat sulit. Akhirnya ia berdoa lagi kepada Tuhan, “Ya Tuhan, sekarang saya sudah tiba pada titik yang tepat untuk menyadari kekeliruan diri sendiri dan sanggup membuat kesimpulan yang benar. Sepanjang hidup saya ingin mengubah orang lain dan semua upaya saya gagal. Tetapi, saya bersyukur setidaknya masih memiliki kesempatan untuk melakukan satu hal lagi. Dalam sisa umur saya, sepertinya sudah cukup bagi saya sekiranya bisa mengubah diri sendiri. Maka, izinkan saya melakukannya dan tolonglah beri saya kekuatan untuk mengubah diri sendiri.” 


Cerita dengan plot seperti itu muncul dalam berbagai versi, dengan tokoh-tokoh rekaan, dan dengan berbagai variasi di dalam detailnya, tetapi semuanya menyampaikan pesan yang sama: Untuk mengubah dunia, jika Anda ingin mengubah dunia, yang perlu Anda lakukan adalah membuat perubahan pada diri sendiri. 


Anda mengubah diri sendiri dan sisanya adalah urusan sebab-akibat yang bekerja sesuai hukum alam. Kata Edward Lorenz: Kepak sayap kupu-kupu di Brasil memicu tornado di Texas. Edward Lorenz (1917-2008) adalah matematikawan dan ahli meteorologi dan pelopor teori chaos. Dengan metafora tersebut dan dengan persamaan matematika yang tentu saja rumit bagi awam, ia ingin menyatakan bahwa hal-hal kecil bisa memicu terjadinya perubahan besar. 


Jadi, kalaupun tidak memiliki cita-cita mengubah dunia, Anda mungkin juga perlu mengubah diri sendiri—menjadi kupu-kupu bagi kehidupan Anda sendiri. Anda perlu memeriksa beberapa aspek di dalam kebiasaan sehari-hari: Mungkin ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlu distop, mungkin ada beberapa hal yang perlu disingkarkan jauh-jauh, mungkin Anda perlu merumuskan cara hidup yang lebih simpel sehingga kehidupan tidak melulu berisi kumpulan hal-hal rumit. 


Di sebuah tempat minum, pada suatu malam, saya mendengar ucapan seseorang dari meja lain: Hidup adalah seni mewujudkan kebahagiaan. 


Orang boleh membuat definisi apa pun tentang hidup. Ada banyak kutipan tentang hidup yang bisa Anda dapatkan dan Anda baca sambil lalu saja. Tetapi, kalimat yang saya dengar dari meja sebelah itu rupanya betul-betul mengganggu. Ia melekat di dalam pikiran dan muncul lagi ketika saya bangun tidur besok paginya. 


Jika ucapan itu benar, berarti saya harus memeriksa diri sendiri, mencari tahu apakah selama ini segala yang saya lakukan, kebiasaan-kebiasaan saya sehari-hari, membawa saya ke arah kebahagiaan. Dan apa sebetulnya yang paling membuat saya bahagia? Orang-orang yang menggunakan untuk meratap di media sosial saya pikir sama saja—mereka juga orang-orang yang ingin bahagia. Mereka melakukan apa yang mereka lakukan sekarang demi menjadikan diri bahagia. 


Begitu pula dengan orang-orang yang menjadi pecandu narkoba. Mereka mencari kebahagiaan dengan jalan yang bisa mereka temukan pada saat pikiran mereka gelap. Ketika realitas menjadi terlampau rumit untuk dijalani dan tidak membahagiakan, mereka memerlukan situasi lain untuk menghindar  demi mendapatkan kebahagiaan, yakni ketidaksadaran. 


Dalam satu waktu, saya pernah juga memiliki perasaan seperti Bayazid. Ingin membuat perubahan besar dan menjadikan diri serevolusioner yang bisa saya lakukan. Apakah itu cara saya mewujudkan kebahagiaan? Mungkin. 


Barangkali Anda juga pernah seperti itu. Masalahnya, jika hal itu ternyata tidak membawa kebahagiaan, apa lagi yang harus kita lakukan? Saya tidak pernah memikirkannya. 


Ada sejumlah hal yang membuat jalan kita tersendat-sendat. Kita tidak memerlukan segala sesuatu yang membuat perjalanan kita tersendat-sendat. Kita hanya memerlukan apa yang bermanfaat untuk melancarkan perjalanan. Dan jika mengibaratkan hidup adalah sebuah perjalanan, kita perlu menetapkan tujuan perjalanan itu. Dengan demikian, kita bisa mengevaluasi apakah kita sudah menempuh jalan yang tepat yang akan membawa kita ke tempat tujuan, atau kita bergerak menjauh. 


Pada akhirnya kita selalu akan kembali ke hal yang sangat simpel, seperti Bayazid kembali kepada diri sendiri. Kita memerlukan jeda. Kita memerlukan kesunyian untuk merenung dan menguji diri sendiri dengan satu pertanyaan: Jika hanya ini yang saya kerjakan terus-menerus, akan jadi apa saya? (*)


Sumber: Jawa Pos, 10 Februari 2019

TAKHTA RAJA DI PANGKUAN RAKYAT





Petruk duduk termenung, memandang sebidang tanah luas, yang datar membentang. Pikiran Petruk melayang ke mana-mana. la geli, mengingat lagi kisahnya ketika ia menjadi raja di

Kerajaan Lojitengara.


(BASIS, Nomor 1-2, Tahun Ke-45, Januari-Februari 1996, “Obrolan Ki Petruk) 


Waktu Petruk menjadi raja, banyak orang menertawakannya. Menurut banyak orang, Petruk dadi Ratu itu hanyalah lakon impian, lakon lamunan rakyat bawahan yang tak dapat memperbaiki keadaan. Mana mungkin rakyat miskin dan bodoh menjadi raja kaya dan bijaksana? Ada pula yang bilang, lakon itu adalah pasemon (sindiran) tentang kere munggah bale (gelandangan yang menjadi kaya dan lupa daratan), Lainnya lagi mengejek lakon itu hanya dagelan untuk menghibur orang miskin. Dan sebagian lagi berpendapat, Petruk Dadi Ratu itu kisah aji mumpung, di mana orang miskin menggunakan kesempatan dalam kesempitan


Di zaman Belanda dulu, lakon Petruk Dadi Ratu juga hanya dipandang sebagai guyonan. Petruk disebut sebagai Opper-bevelhebber, jenderal berkuasa, yang memerintah semua balatentara. Sebagai penguasa, Petruk menjungkirbalikkan segala pranatan. Di negaranya, Loji- tengara, mengisap candu dihalalkan, main judi dinaikkan derajatnya menjadi sport utama, yang dipopulerkan bagi semua warga negara.


Dari dulu sampai sekarang, entah orang Jawa entah orang Belanda, mereka semua ternyata tidak mengerti wayang. Mereka memikirkan wayang secara wadag. Pantas, jika mereka menganggap saya, hamba sahaya yang kecil dan miskin ini menggunakan kesempatan, berpesta ria menjadi raja. Petruk Dadi Ratu itu bukan lakonnya orang bodoh jadi raja, atau lakon orang kecil beraji mumpung, tapi lakon mencoke wahyu marang kawula (hinggapnya wahyu pada diri rakyat)", kata Petruk


Petruk mengenang, bagaimana ia sampai menjadi raja. Alkisah tuannya, Abimanyu menderita sakit. Abimanyu adalah perantara, yang nantinya akan mewariskan dampar (takhta) Palasara, pendiri Astina, kepada Parikesit, anaknya. Bersamaan dengan sakitnya, pergilah ketiga wahyu, yang dimilikinya, yakni wahyu maningrat, yang menebarkan benih keratuan, wahyu cakraningrat, yang menjaga keberada annya sebagai ratu dan wahyu widayat, yang melestarikan hidupnya sebagai ratu.


Ketiga wahyu itu hinggap pada diri Petruk. Kemudian Petruk pun dapat menjadi raja di negara yang dinamainya Loji- tengara. la menggelari dirinya Prabu Wel-Geduwel-Beh! Untuk kukuh menjadi raja, ternyata ia membutuhkan dampar kerajaan Astina, warisan Palasara. Petruk memerintahkan kedua patihnya, Bayutinaya, yang titisan Anoman dan Patih Wisandhanu, yang titisan Wisanggeni, anak Arjuna, mencuri tahta Palasara itu.


Kedua utusan itu berhasil membawa pulang takhta Palasara. Prabu Wel-Geduwel-Beh mencoba duduk di atasnya. Begitu duduk, ia terjungkal. Supaya tidak terjungkal, Sang Prabu harus memperoleh boneka yang bisa dililing (dilihat dan ditimang). Kedua utusannya, Bayutinaya dan Wisandhanu berhasil membawa boneka itu. Ternyata boneka itu adalah Abimanyu, yang sedang sakit itu.


Ketika dipangku Prabu Wel-Geduwel-Beh, Abimanyu sembuh. Dan Abimanyu berkata, "Kamu takkan dapat menduduki takhta itu, jika kamu tidak memangku aku". Sang Prabu memangku Abimanyu, dan ia pun dapat duduk di dampar Palasara.


"Pada waktu itulah saya mengalami, bahwa saya ini hanyalah kawula. Dan saya sadar, saya akan tetap tinggal sebagai kawula, tak mungkinlah saya bisa duduk sebagai raja. Tugas saya hanyalah memangku raja, agar ia dapat menduduki takhtanya. Tuanku Abimanyu dapat duduk di takhta raja karena saya memangkunya. Jadi raja itu takkan bisa menjadi raja, kalau tidak dipangku kawula, rakyat seperti saya ini", kata Petruk sambil memandang tanah datar di hadapannya.


Dulu Petruk tidak tahu, mengapa ketiga wahyu itu pergi meninggalkan tuannya dan hinggap padanya. Sekarang ia paham, wahyu sebenarnya hanya pergi untuk sementara. la pergi hanya untuk nitik, menengok, siapakah yang memangku orang yang kedunungan (dihinggapi) wahyu Wahyu itu tidak asal hinggap, dia akan hinggap pada orang yang layak dihinggapi, dan orang yang layak itu haruslah orang yang dipangku Petruk, Sang Rakyat dan Sang Kawula ini. Maka, setelah tahu, bahwa memang Petruklah yang memangku Abimanyu, wahyu itu pun berhenti menitik, dan ketiganya kembali kepada Abimanyu.


Di hadapan tanah datar itu, pikiran Petruk melayang lagi. Ia sedih teringat gugurnya Abimanyu dalam perang Bharatayudha. Petruklah yang menggendong jenazah Abimanyu. Petruk pula yang membakar mayat Abimanyu menuju alam mokshaya. "Saya ini hanyalah rakyat. Betapa pun hina diri saya, hanya sayalah yang bisa mengantarkan sang raja menuju alam kesempurnanaannya. Sampai ke moksha pun, raja itu tergantung pada kawula. Hanya rakyatlah yang dapat menyempurnakan hidup raja, bahkan ketika ia berhadapan dengan akhiratnya", kata Petruk


"Memang, kawula, Sang Rakyat ini ada sepanjang zaman. Sementara raja itu tidaklah abadi. Ia bertahta hanya dalam masa tertentu. Ketika masa itu lewat, ia harus turun atau binasa. Sementara rakya terus ada. Buktinya, saya ini ada sepanjang zaman, menjadi punakawan, hamba, yang me nemani penguasa dari masa ke masa, sampai hari ini. Kawula iku ana tanpa wates, ratu kuwi anane mung winates (Rakyat itu ada tanpa batas, sedangkan raja itu hanya ada secara terbatas)", kata Petruk


Petruk makin menyadari, siapa diri rakyat itu sebenarnya. Hanyalah rakyat yang dapat membantu penguasa untuk menuliskan sejarahnya. "Maka seharusnya penguasa itu menghargai kawula. Penguasa itu harus berkorban demi kawula, tidak malah ngrayah uripe kawula (menjarah hidup rakyat). Kwasa iku kudu ana lelabuhane (Kuasa itu harus mau berkorban). Kuasa itu bahkan hanyalah sarana buat lelabuhan. Kalau penguasa tak punya lelabuhan, kendati ia masih berkuasa, ia tidak akan di-petung (dianggap) oleh rakyat. Raja itu bukan raja lagi, kalau sudah ditinggal kawula. Siapa yang dapat memangkunya, agar ia dapat menduduki takhta, kalau bukan rakyat? Raja yang tidak dipangku adalah raja yang koncatan (ditinggalkan) wahyu", kata Petruk


Tapi Ki Petruk mengapa banyak penguasa yang tak memperhatikan kawula, menginjak-injak dan menghina kawula toh tetap dapat duduk di takhtanya?


"Dalam wayang pun ada penguasa yang tak dipangku rakyat seperti saya. Dia adalah Dasamuka yang lalim. Dia adalah Duryadhana yang serakah. Seperti halnya hanya ada satu takhta Palasara, demikian pula hanya ada satu takhta rakyat. Duryadhana berkuasa, tapi tak pernah ia berhasil menduduki takhta Palasara. Banyak penguasa berkuasa, tapi mereka sebenarnya tidak bertakhta di dampar yang sebenarnya, yakni dampar rakyat ini", jawab Petruk


Tiba-tiba Petruk mendengar, tanah datar di hadapannya itu bersenandung, makin lama tanah itu bahkan menjadi senandung Panitisastra: dulu tanah itu adalah hutan lebat yang bersinga. Singa bilang, kalau hutan tak kujaga, tentu ia akan dibabat habis oleh manusia. Dan hutan bilang, kalau singa tak kunaungi, dan pergi dariku, pasti ia akan ditangkap manusia. Akhirnya, singa dan hutan sama- sama binasa. Singa yang tak berhutan dibunuh manusia, hutan yang tak bersinga habis dibabat manusia.


"Raja dan rakyat itu harus wengku winengku rangkul merangkul, pangku memangku, seperti singa dan hutan, seperti Abimanyu dan Petruk", kata Ki Petruk menyenandungkan tembang Panitisastra. 


I KuntaraWiryamartana

Sindhunata


Sumber: BASIS, Nomor 1-2, Tahun Ke-45, Januari-Februari 1996

Senin, 09 Februari 2026

INDONESIA YANG ANTIFASIS

(Kompas, 16 Juli 1998)

Oleh: YB Mangunwijaya


REFORMASI total yang dicanangkan selaku agenda pasca-Soeharto seperti lazimnya akan dan sudah ditafsir macam-macam. Praktis tergantung sekali pada pribadi atau kelompok yang bekepentingan. Dengan skala gradasi dari ekstrem yang sungguh ingin reformasi total betul, dan ekstrem lain yang “total” –tetapi-tetap-seperti dulu. Maka bertanyalan esei ini: siapakah yang beruntung dan karenanya dari kodratnya suka Orde Baru ? Dan tentu saja sebaliknya, siapakah yang dirugikan dan dengan sendirinya ingin Orba diakhiri saja untuk membangun Indonesia Serba Baru? Jawabannya sangat mudah ditemukan, meski belum tuntas  dan belum cukup untuk memberi jalan keluar ke Indonesia-Serba-Baru itu. 


Oleh karena itu ada baiknya kita merefleksi dulu sendi-sendi historis atau apa yang riil dan esensial terjadi di zaman Orde Baru, sehingga kita tidak terjebak lagi di dalam suatu sistem bernama lain yang indah tapi sama hakikatnya. Namun itu harus dikerjakan, seperti yang sudah sering penulis kemukakan, mirip yang dikerjakan seorang dokter yang mengobati penyakit dalam. Dokter tidak menganalisis melalui foto berwarna biasa yang hanya menampakkan kulit pasien, akan tetapi lewat Roentgen—foto hitam-kelabu transparan yang biarpun tidak cantik gambarnya, tetapi mampu mengungkapkan di mana letak akar-akar kanker si pasien. 


Orde Baru

Bermanfaat diketahui bahwa istilah Orde Baru aslinya dicipta oleh Hitler serta partai Nazinya demi yang Hitler sebut Orde Baru Eropa dan yang kemudian dioper oleh Jepang kaum jenderal fasis dalam ideologi Orde Baru Asia Timur Raya. Pertanyaan menyusul, apakah Orde Baru Indonesia berwatak fasis juga alias ekstrem kanan? Jawabannya tidak enak, tetapi sudah 30 tahun lebih kita rasakan sendiri, sehingga sulit untuk mengingkarinya. Ya, fasis, ekstrem kanan. 


Lahir dari kekerasan dan berakhir dalam kekerasan. Mental, sikap, perangai, sepak-terjang, taktik, strategi, sarananya, metodenya dan sebagainya dan seterusnya sungguh fasis. Dengan dan oleh ancaman, kekerasan, paksaan, penggusuran, teror, fitnah, vonis tanpa proses, pemenjaraan sesuai tafsir penguasa, siksaan pukul hantam setrum para terdakwa, penculikan, penghilangan, pembunuhan, keroyokan, korupsi, keras, kejam, okol, nakal, urik, tega, hukum rimba siapa-kuat-dialah-menang-dialah-benar-dialah-harus-ditaati-dialah-tuhan-hidupmu dan sebagainya dan seterusnya.  Dan yang khas fasis, itu semua atas nama negara, nasionalisme, pembangunan Negara Raya (Jerman Raya, Italia Raya, Jepang Raya, Asia Timur Raya, Indonesia Raya dan seterusnya). Dengan pertolongan suatu birokrasi  mahakuasa dan ancaman senjata atau siksaan tubuh yang sakit menakutkan, itulah pelukisan umum fasisme. Bila kita paham itu, maka tidak teramat sulitlah untuk menguraikan keruwetan segala macam tali dan kaum reformis bunglon dan togog yang bermunculan begitu banyak akahir-akhir ini. 


Logika sehat memberi petunjuk mudah: mereka yang amat beruntung dari Ordo Soeharto secara alamiah otomatis pasti menggolongkan diri, dengan gradasi macam-macam, dalam posisi kaum konservatif  (conservare = mempertahankan, mengawetkan dan sebagainya) atau status quo (kedudukan mandek, statis, jangan bergerak). Sederhana saja, karena mereka memang beruntung dengan dan di dalam sistem dan iklim Ordo Baru. 


Banyaklah macam orang, profesi dan kedudukan yang beruntung seperti itu. Jelaslah bahwa tidak nalar bila mereka menghendaki reformasi, apalagi total. Mosok meninggalkan ordo yang begitu amat menguntungkan demi suatu orde yang belum jelas, kendati mereka gagah mengangkat kepal dan berteriak: Hidup Reformasi! dan sebagainya dan seterusnya. Ada pepatah Belanda yang bijak: een vos verliest wet zijn haren, maar niet zijn streken (musang bisa saja kehilangan bulu-bulunya, tetapi perangainya tidak). 


Tetapi itu soal orang, pribadi. Penting kita perhatikan juga, tetapi lebih berguna dan menentukan nasion ialah pembicaraan tentang sistem, struktur dan sebagainya. Oleh karena itu seandainya pun di sini kita masih membicarakan orang atau memakai kata: siapa dan sebagainya, maka bukan orang-perorangan yang dimaksud, akan tetapi sistem, struktur, aliran, mazhab, kaum, kecenderungan, perangai, watak dan tindakan, kebiasaan, perilaku, trend, ideologi, paradigma, dan sebagainya. Jadi yang amat berkait dengan konstruksi, mekanisme, hukum dasar, undang-undang dasar dan sebagainya. Dalam bahasa Jawa barangkali: thek-kliwer. 


Jawab pertama, kita harus mencapai suatu Republik Indonesia yang sungguh-sungguh merdeka dari segala bentuk fasisme tadi. Fasisme adalah paham dan sistem negara/masyarakat yang didominasi paksaan oleh/dari yang berkuasa dan ketakutan dari yang dikuasai. Fasisme dapat berbentuk macam-macam, bahkan dalam negara yag terkenal demokrasi pun dapat timbul suatu bentuk fasisme oleh/dari pihak yang satu paksaan, dan di pihak lain ketakutan. Paksaan dapat brutal dapat juga halus. Ketakutan dapat juga tampak gamblang, terungkap, dapat juga hanya menggerogoti di dalam hati. 


Siapa yang menderita ketakutan? Biasanya dan yang paling merasa penderitaannya tentulah kaum dina lemah miskin. Tetapi gubernur atau bupati maupun profesor atau anggota MPR pun dapat dirundung ketakutan juga. Lain sifatnya dari yang dirasakan kaum kecil, tetapi hakikatnya sama. Itu di zaman Orba (sekarang berkurang sedikit) amat tampak mencolok sekali. Manusia atau masyarakat yang masih didominasi ketakutan belumlah merdeka, bahagia, damai. 


Kita tentulah dapat menganalisis bentuk ketakutan kaum atas, cendekiawan dan ulama, akan tetapi yang lebih minta perhatian dan paling urgen memerlukan pembebasan ialah ketakutan kaum dina lemah miskin di bawah. Yakni kaum yang digusur diusir disingkir dikalahkan dicap didiskriminasi dilupakan dihilangkan dan sebagainya dan seterusnya pendek kata dalam istilah Soetan Sjahrir dalam “Renungan Indonesia”-nya di Bandaneira: the underdogs atau yang dianjingkan.


Motivasi asli mengapa RI diproklamasikan

Republik Indonesia dulu dirintis diperjuangkan diproklamasikan justru untuk membela dan mengangkat the underdogs bangsa kita. Tidak untuk memberi nikmat lebih banyak kepada kaum pribumi apalagi asing yang sudah dan mudah kaya kuasa menang dan jagoan. Tetapi atas dasar solidaritas kepada yang paling menderita oleh kapitalisme kolonialisme imperialisme asing maupun (nah, ini biasanya dilupakan dalam P4) feodalisme keserakahan harta-kuasa pemuka-pemuka pribumi juga yang memeras dan menakut-nakuti kawula kecil sama-sama pribumi. Justru karena itulah yang dipilih ialah sistem republik, res publica, artinya segala yang mengangkat dan menyejahterakan publik banyak atau kebanyakan bahkan semua orang dalam suatu bangsa, bukn cuma segelintir atau selapis orang. 


Maka amat logislah dan alamiah juga, bila para perintis dan pendobrak Res Publica Indonesia itu antipenjajahan, penghisapan, kapitalisme, imperialisme, fasisme dan sebagainya, dan memihak kepada the underdogs. Melawan kaum elte di waktu itu (Belanda plus pribumi) yang jahat keras tega kejam fasis manipulator eksploator. Yang tentu saja alamiah konservatif, bersikukuh status-quo, tidak suka reformasi-berpredikat-total; dan yang dalam kamus politik sehari-hari disebut kaum kanan. Maka logis lagi apabila para pendekar pemerdekaan dan pembela kaum dina lemah miskin itu lalu disebut kaum kiri. 


Jika kita mendengar istilah kiri, sudilah berpikir terpelajar, jangan serta merta diidentikkan dengan komunisme. Komunis itu amat kejam ketat represif sentralistis, maka (silakan melihat ciri-ciri kaum kanan di atas) adalah ekstrem kanan. Sehingga mudah dimengerti, mengapa di mana-mana, termasuk di Indonesia, selalu bentrokan terus dengan kaum yang benar-benar kiri, sampai melawan tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta dan Soetan Sjahrir yang dari awal sampai akhir hayat pejuang kiri. Jangan terkejut, Hatta dan Soekarno-Muda dan hampir semua perintis kemerdekaan Indonesia dulu itu kiri, sekali lagi: kiri. 


Kembali kiri anti fasis

“Tetapi awas, komunis itu marxis, dan marxis itu komunis,” kata para penatar P4 dengan mata melotot dan jari telunjuk ke atas. Lagi sudilah terpelajar: Komunisme leninis stalinis musois aiditis adalah murid-murid Karl Marx yang paling menyeleweng. Karl Marx bukan guru yang selalu benar dan banyak tesis-tesisnya atau ramalan-ramalannya keliru. Tetapi esensi dan jasa paling berharga dari Marx kepada para perintis kemerdekaan RI (dan kita juga) ialah bahwa ia membuka mata tentang seluk beluk obyektif mengapa terjadi yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin. Untuk pertama kali dalam sejarah Marx menerangkan gejala itu secara sistematis dan menlenjangi dewa kapitalisme yang menelurkan kolonialisme, imperialisme yang memperbudak dan menghisap rakyat negeri jajahan menjadi tumbal dan underdogs. Tentu saja wajar dalam setiap wacana ilmiah, tidak semua tesis Karl Marx benar dan betul. Banyak yang salah dan perlu dikoreksi. Sama juga Adam Smith, Ricardo, Malthus dan sebagainya. Tetapi Indonesia sebagai nasion dan rakyat Indonesia sebagai pribadi-pribadi tidak pernah merdeka apabila para pemimpin mereka tidak pernah mempelajari Karl Marx dan menjadi kaum kiri. Termasuk yang beragama. 


Sebab, jangan mengira yang antikapitalisme itu hanya Karl Marx. Gereja Katolik pun sudah dini pagi-pagi. (Ajaran Rerum Novarum (1891), Quadragesimo Anno (1931) Populorum Progressio (1967) resmi melawan sistem-sistem eksploitif kapitalisme liberal kanan itu, sekaligus komunisme yang faktual kanan juga. Pak Sjafruddin Prawiranegara almarhum maupun Pak Baswedan almarhum yang muslim-muslim saleh itu pun terbuka berkata kepada saya, bahwa kaum beragama yang sungguh beriman dan takwa tidak bisa lain kecuali berhaluan kiri. Kiri dalam arti di atas, bukan dalam tafsiran P4, seolah kaum kiri itu GPK buas, pembunuh, perampok tanah dan milik pribadi dan sebagainya. Haluan kiri sekali lagi tidak identik dengan komunisme, bahkan melawannya. Saya pun akan amat menderita batin bila disebut rohaniwan kanan alias gadungan. Seluruh Mukadimah UUD ’45, termasuk Pancasila dan khususnya pasal 27, 33, 34 batang-tubuhnya sungguh-sungguh kiri tulen. 


Demikianlah mudah dipahami mengapa yang membela keadilan dan kaum dina-lemah-miskin pasti dicap kiri dan diuber-uber secara kasar maupun halus sebagai kaum kiri bahkan dicap komunis. Oleh siapa? Logislah oleh kaum kanan tega-kejam, manipulator-eksploator rakyat dina/lemah/miskin. Atau oleh mereka yang mengklaim diri formal anti-komunis tetapi riil dalam segala sikap serta sepak terjangnya bermetode dan bertindak persis komunis. Sebagai dalih dan “legitimasi”. 


Maka semakin teranglah sekarang, ke mana kira-kira arah kita bila kita ingin membarui Indonesia sehingga dapat bebas dari segala yang negatif dalam rezim Orde Baru yang (sadar tidak sadar) kodratnya memang ordo kaum kanan. Yang didominasi oleh kaum dan paham kapitalis-koncois/borjuis/feodalis/priyayi-mapan/koruptor-uang-rakyat/penghisap-si-kecil dan sebagainya dan seterusnya; biasanya kaya-kuasa-mentang-mentang-mental-ndoro-tuan-nyonya-besar-nepotis-egois-fasis-keji-tega-brutal-maupun halus dan sebagainya dan seterusnya dan sering..... jangan lupa kemungkinan ini: formal anti-komunis-tetapi-riil-cara-kerjanya-persis-komunis. 


Maka jelaslah pembaruan Indonesia adalah pembaharuan berhaluan kiri dalam arti di atas tadi (bukan menurut P4), yakni manusiawi-solider-membela-kaum-dina-lemah-miskin-yang-digusur-diuber-dikalahkan-dianak tiri-diakali-ditipu-dieksploitasi-diculik-dihilangkan dan sebagainya, antifasis-antiteror-antikekerasan/antieksploitasi dan sebagainya dan seterusnya.


Itulah prinsipnya. Lalu praktis bagaimana diterjemahkan dalam sistem-tata-negara? Pertama,tinggalkan seluruh sistem Orde Baru. SELURUH. Apakah itu mungkin? Politik ialah seni meraih yang masih mungkin, sekaligus mempersiapkan yang sekarang belum mungkin menjadi mungkin dan akhirnya riil.


* YB Mangunwijaya, budayawan tinggal di Yogyakarta.


Sumber: Kompas, 16 Juli 1998

SOEDJATMOKO, ‘PSI’, INTELIGENSIA

(TEMPO, 30 Desember 1989)


Oleh: Goenawan Mohamad


Generasi-generasi saling melupakan di Indonesia. Maka, ketika Soedjatmoko meninggal, saya tak tahu pasti: Bisakah kita jelaskan apa arti orang ini kepada kawan-kawan kita yang kini berumur 20 dan 30-an?


Dia bukan seorang yang telah meninggalkan sejumlah buku tebal dan satu wujud pemikiran yang utuh. Dia bukan seorang ahli di satu bidang dengan riset yang mendalam. Dia bahkan selama 20 tahun terakhir ini lebih banyak bicara ke forum di luar negeri dalam bahasa Inggris. Buah pikirannya tidak radikal dan sering tak mengejutkan dan cara menyampaikannya seperti tak menyentuh tanah. Lalu, kenapa ia begitu dihormati?


Seorang pujangga Jawa pernah mengatakan, mungkin sebagai cerminan sikap pragmatis dari suatu peradaban para petani, bahwa ngelmu iku kalakone kanti laku, apa yang kita ketahui dan kita hayati, mendapatkan wujudnya dari apa yang kita jalankan. Soedjatmoko, bagi saya, lebih merupakan teladan laku ketimbang hanya ngelmu. Kalau orang memandangnya sebagai seorang pemikir penting, itu bukanlah karena sebuah sistem filsafat yang diperkenalkannya kepada dunia, tapi karena ia hidup sebagai seorang pemikir.


Betapa bisa besarnya arti seseorang yang seperti dia bisa dilihat dalam diri seorang lain yang, meskipun juga tak pernah menulis satu buku tebal, tetap dianggap meletakkan dasar filsafat sejak zaman Yunani Kuno: Socrates. Socrates tak menulis. Ia bicara, Socrates tak membangun satu mashab. Ia menjelajah dan menyelusuri terus segala ihwal hidup. Socrates tak mengeluarkan fatwa. Ia mementingkan dialog dengan siapa saja. Ia tak habis-habisan mendapatkan hasil. Ia mengutamakan proses.


Dalam perbandingan itu, akan tampak betapa Soedjatmoko adalah contoh terbaik, seorang cendekiawan, seorang inteligensia par excellence. Yang membentuk watak dan kecenderungannya bukanlah kecemerlangan berpikirnya, bukan banyaknya buku yang dibaca dan ditulis, melainkan keprihatinannya yang dalam tentang keadaan, yang menyebabkan ia menganalisa, menelaah, bergumul dengan pelbagai pendapat dan gagasan, dan kemudian berbicara, dengan suara keras atau sopan, tegas atau gemetar. Ia tahu apa yang dikemukakannya mungkin tak ada dampaknya kini atau esok. Tapi ia percaya manusia punya kemampuan untuk menerima ide. "Ide itu punya kaki", saya ingat Soedjatmoko bicara suatu kali. Ide tidak mandek di depan meja tulis kita (Soedjatmoko yakin akan hal ini) karena manusia bukan hanya seonggok kemajenunan.


Generasi-generasi saling melupakan di Indonesia, dan saya ragu bisakah kebanyakan kita kini mengerti apa artinya semua ini, 40 tahun yang lalu, 30 tahun yang lalu, di Indonesia ada banyak orang yang meskipun tak sepenuhnya terpelajar bicara dengan gairah tentang novel, membaca dan mengutip baris-baris puisi Chairil atau Sitor, dan dengan kantung kosong datang menonton teater Usmar atau Utuy. Ya, 30 tahun lebih yang lalu itu – ketika pendapatan per kapita kita masih sepertiga sekarang – ada majalah seperti Konfrontasi, Zenith, Budaja, Siasat Baru, yang berbicara tentang dunia keindahan dan ide-ide dengan bersungguh-sungguh. Dan kita dengar orang berdebat, walaupun terbatas, tentang soal-soal seperti Marxisme atau ekistensialisme, dan kita bisa baca tulisan seperti yang dihasilkan Soedjatmoko, Asrul Sani, atau Boejoeng Saleh, yang memperkaya dunia intelektual dan artistik kita dan memberi bekal bagi kaum inteligensia Indonesia berikutnya.


Kini, apa yang ada? Soedjatmoko tetap berbicara tentang ide-ide. la melintasi bukan saja beberapa disiplin ilmu, tapi juga pelbagai kelompok sosial politik. Ia tak pernah mengambil jarak bahkan dengan yang paling muda, mereka yang kadang tak tahu bagaimana memanggilnya (harus dipanggil apakah dia: "Pak"? "Mas"? "Oom", atau "Bung Koko", seperti ia dipanggil teman dekat dan sopirnya?). Tapi saya merasa suaranya terdengar jauh. 


Ada yang mengatakan bahwa itu karena Soedjatmoko sebetulnya tak cukup terbiasa dengan khalayak di tanah airnya. Ia "Barat". Ia tak "berakar", meskipun bagi orang Barat ia justru menarik karena ia juga "Timur". Ada pula vang mengatakan bahwa suara Soedjatmoko terasa jauh karena ia adalah pemikir dengan kanvas besar: waktu baginya "Zaman", tempat baginya "Dunia", orang baginya "Manusia". Mungkin. Tapi saya kira bila suara Soedjatmoko tak seperti yang terasa di masa 30 tahun yang lalu, itu adalah karena ada yang berubah kini: kita hidup dengan suasana anti-inteligensia yang berkembang kian kuat sejak masa "demokrasi terpimpin" dulu.


Suasana "ogah intelektuil" itu punya simptom yang beragam. Di kalangan yang lebih gemar akan tindakan dan kekuasaan, inteligensia Indonesia dengan segera dikaitkan dengan "PSI". Singkatan ini sebetulnya berasal dari nama Partai Sosialis Indonesia, yang memang dipimpin oleh banyak kaum inteligensia, dan orang seperti Soedjatmoko boleh dibilang bagian dari mereka. Tapi cap "PSI" sudah sama artinya dengan selapis elite yang suka berdiskusi, gagal berpolitik dengan menggunakan massa, dan sebab itu "main dari belakang" dan punya anggota "rahasia". Dan kaum inteligensia pun, yang umumnya tak jelas kelompok politiknya, yang memang suka diskusi dan tak becus berhubungan dengan massa – apalagi bila mereka tak ingin bermain politik – dengan mudahnya dapat label "PSI". Mereka pun diejek, dan tak jarang dicurigai, dan kadang ditakuti lebih dari kapasitas Partai Sosialis yang rudin itu sendiri.


Tapi penampikan tak cuma datang dari arah itu. Zaman ini pun menampik inteligensia dari dua arah lain.


Dari arah pertama datang pembawa panji-panji "yuppiisme", yang omong tentang Porche atau BMW lebih asyik ketimbang tentang ide-ide – suatu sikap materialistis yang belum ada tolok bandingnya dalam sejarah Indonesia. Dari arah lain datang mereka yang berhimpun dalam kelompok peribadatan atau kelompok "perjuangan", dan hanya mau dengar jawaban (hasil) sebelum berikhtiar dengan pertanyaan (proses). Bagi yang pertama, inteligensia hanya membawa hal kosong pengganggu kenikmatan. Bagi yang kedua, inteligensia cuma membawa kesangsian, dan malah pengkhianatan.  


Soedjatmoko pergi. Tokoh yang salah tempat dan salah waktukah dia? Tidak, justru dalam suasana anti-inteligensia kini. Sebab siapa yang mengenalnya akan tahu bahwa di dekatnya orang tak perlu curiga atau gentar atau merasakan omong kosong. Dialah seorang yang kritis tapi tak pernah bisa sinis, seorang yang mempertahankan kejujuran tanpa jadi penuding orang lain, seorang di mana pengetahuan telah jadi kearifan dan keterbukaan pikiran sama dengan keterbukaan hati. Dia, sekali lagi, adalah sebuah teladan.


Goenawan Mohamad 


Sumber: TEMPO, 30 Desember 1989

Sabtu, 07 Februari 2026

MEMBACA ULANG PUISI “AKU INGIN” SAPARDI DJOKO DAMONO

 

Oleh Narudin Pituin


AKU INGIN  


aku ingin mencintaimu dengan sederhana: 

dengan kata yang tak sempat diucapkan  

kayu kepada api yang menjadikannya abu 


aku ingin mencintaimu dengan sederhana: 

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan 

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 


(1989) 


Kata-kata “aku ingin” merupakan gabungan subjek dan predikat yang belum tuntas dari judul puisi, diambil dari baris pertama. Gabungan bunyi vokal dan bunyi konsonan atau asonansi dan aliterasi pada baris “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” terdengar merdu akibat bunyi-bunyi vokal /a/ dan /u/, juga terdapat gabungan bunyi-bunyi konsonan merdu semacam /n/, /m/, dan bunyi nasal /ng/. 


Kata “kata” dan kata “sempat”, lalu kata “isyarat” dan kata “sempat” membentuk rima dalam dengan aliterasi dan asonansi yang saling bersahutan. Kata “dengan” dengan kata “diucapkan” serta “disampaikan” pun membentuk rima dalam yang merdu. Lalu, bunyi kata “kayu” harmonis dengan bunyi kata “abu”, bunyi kata “awan” harmonis dengan bunyi kata “hujan”.   


Semua huruf kecil yang digunakan dalam puisi ini mulai dari kalimat pembuka baris pertama merupakan muslihat poetic license (kebebasan penyair) yang dikerjakan dengan kesadaran bahasa Sapardi.  Tanda baca titik dua ( : ) pun merupakan jeda sintaksis untuk lebih memusatkan perhatian kepada baris-baris dengan kalimat panjang dalam puisi ini, yakni berupa kalimat legato yang berirama dan berima dalam.  


Puisi ini pendek, hanya terdiri dari 2 bait, setiap bait terdiri dari 3 baris. Seluruhnya disusun dengan kesejajaran panjang baris—tampak apik secara sekilas pandang.  


Makna utuh, “aku ingin mencintaimu….” menandakan peristiwa belum terjadi karena baru sebatas “ingin” (secara mental), belum terjadi dengan tindakan subjek secara langsung (secara behavioral).  Makna tambahan, “tak sempat” menandakan bahwa sesuatu tak terjadi. 


Makna pusat, metafora atau kiasan api menjadi abu dan hujan menjadi tiada ialah penyelesaian dari suatu proses atau akhir dari sesuatu. Jika sesuatu ini cinta, puisi ini ialah cinta yang menuju akhir atau titik penghabisan.  


Hubungan “aku—kamu” atau “aku dan –mu” itu tak jelas siapa, mungkin aku-lirik atau Sapardi sendiri. Akan tetapi, bisa jadi ini isyarat cinta umum, yakni aku-publik dan kamu-publik, semua kita terlibat dan merasakan pengalaman dalam puisi cinta sampai titik penghabisan ini.  


Kata keterangan “dengan sederhana” menandakan secara tak langsung bahwa kita sering luput terhadap keadaan alam yang biasa terjadi, tetapi memiliki hakikat makna yang luar biasa semacam peristiwa kefanaan kayu menjadi abu, lalu awan kepada hujan lalu tiada. 


Ketiadaan ini ialah kefanaan hidup yang digambarkan secara kias oleh Sapardi dalam puisi ini dengan suatu fenomena yang sederhana karena peristiwa semacam ini lazim kita hadapi dalam kegiatan sehari-hari: kayu—abu, awan—hujan—tiada. 


Persoalannya ialah ada dikotomi spasial (tempat) tercipta di sini, yakni peristiwa kayu menjadi abu terjadi di atas bumi, sedangkan peristiwa hujan menjadi tiada terjadi di udara, atau di langit. Secara tak langsung, puisi ini mengingatkan kita kepada dunia ini, yaitu hubungan mesra antara langit dan bumi dan di antara keduanya.  


Kemudian, jika sudah menyebut bumi, langit, dan di antara keduanya, termasuk fenomena proses alamiah yang membumi (kayu, abu) dan yang melangit (awan, hujan), tentu saja “aku” di sana siapa? Dan “kamu” di sana siapa pula sesungguhnya? Tuhan tengah menegur kita secara sederhana untuk memberi cinta-Nya lewat peristiwa sehari-hari, baik di bumi maupun di langit.  


Tuhan ternyata sedang berbicara tanpa kata kepada kita selama kita masih hidup—seraya menunjukkan cinta-Nya yang demikian melimpah. Salah satunya terwakilkan kebesaran-Nya lewat kekecilan proses alamiah keseharian: “kayu kepada api yang menjadikannya abu” dan “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”. 


Hanya dua hal sederhana ini cukup mewakili keistimewaan-Nya bagi para insan yang berpikir dengan akal sehat dan merasa dengan hati mulia. Bukankah dengan merenungkan segala ciptaan-Nya, manusia akan sampai kepada Sang Pencipta yang Maha Tak Terjangkau?


***


2023—2026

TERBARU

MAKALAH