Allahumma haza minka wa ilaika fataqabbal aqiqah min... (nama anak / atau ahlil bait), ya Allah ya Rabbal alamin
Rabbana hablana min azwajina.... dst
Allahumma haza minka wa ilaika fataqabbal aqiqah min... (nama anak / atau ahlil bait), ya Allah ya Rabbal alamin
Rabbana hablana min azwajina.... dst
Membaca bukan sekadar melihat rangkaian kata, tetapi memahami makna yang terkandung di dalamnya. Kemampuan memahami bacaan merupakan dasar penting dalam belajar karena hampir semua ilmu diperoleh melalui proses membaca dan memahami informasi.
Secara filosofis, membaca adalah dialog antara pikiran pembaca dan gagasan penulis. Semakin baik seseorang memahami isi bacaan, semakin luas pula cara berpikirnya dalam melihat kehidupan dan memecahkan berbagai persoalan.
1. Terlalu cepat membaca tanpa berusaha memahami
Sebagian siswa dan mahasiswa terbiasa mengejar jumlah halaman yang dibaca, tetapi kurang memperhatikan makna setiap bagian. Akibatnya, mereka selesai membaca, tetapi sulit menjelaskan kembali isi bacaan dengan kata-kata mereka sendiri.
Secara filosofis, membaca bukan perlombaan kecepatan, melainkan perjalanan memahami makna. Pikiran yang sabar akan lebih mudah menangkap hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya.
2. Kurangnya penguasaan kosakata
Pemahaman bacaan sangat dipengaruhi oleh banyaknya kosakata yang dimiliki. Ketika seseorang sering menemukan kata atau istilah yang tidak dipahami, ia akan kesulitan mengikuti isi pembahasan secara utuh.
Karena itu, memperkaya kosakata melalui membaca berbagai jenis buku dan mencari arti kata yang belum dikenal merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan.
3. Konsentrasi yang mudah terpecah
Lingkungan yang bising, kebiasaan sering berpindah perhatian, atau membaca sambil melakukan banyak hal sekaligus dapat mengurangi kemampuan otak dalam memahami informasi.
Secara filosofis, perhatian adalah pintu masuk ilmu. Ketika pikiran terfokus pada satu tujuan, pemahaman akan tumbuh lebih baik daripada ketika perhatian terus-menerus terbagi.
4. Kurang menghubungkan bacaan dengan pengetahuan yang telah dimiliki
Otak lebih mudah memahami informasi baru apabila dapat menghubungkannya dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Tanpa hubungan tersebut, isi bacaan sering terasa sulit dipahami.
Orang yang terbiasa mengaitkan bacaan dengan pengalaman nyata biasanya lebih mudah mengingat dan menjelaskan kembali apa yang telah dipelajari. Proses ini membuat pengetahuan menjadi lebih bermakna.
5. Jarang melatih kemampuan berpikir kritis
Memahami bacaan tidak cukup hanya membaca kalimat demi kalimat. Pembaca juga perlu bertanya tentang tujuan penulis, gagasan utama, bukti yang digunakan, dan kesimpulan yang disampaikan.
Secara filosofis, pertanyaan yang baik membuka jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Berpikir kritis membantu pembaca tidak hanya mengetahui isi bacaan, tetapi juga memahami alasan di baliknya.
6. Kurangnya kebiasaan membaca secara teratur
Kemampuan memahami bacaan berkembang melalui latihan yang dilakukan secara konsisten. Jika seseorang jarang membaca, otaknya memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih pemahaman, daya ingat, dan kemampuan menganalisis.
Membaca secara teratur akan memperkuat kebiasaan berpikir yang terstruktur. Sedikit demi sedikit, kemampuan memahami teks yang lebih kompleks juga akan meningkat.
7. Tidak melakukan peninjauan kembali setelah membaca
Setelah selesai membaca, sebagian orang langsung berpindah ke kegiatan lain tanpa mencoba mengingat atau merangkum isi bacaan. Akibatnya, informasi yang telah dibaca lebih mudah terlupakan.
Secara filosofis, ilmu akan semakin kuat ketika direnungkan dan digunakan. Membuat ringkasan, menjelaskan kepada orang lain, atau menuliskan gagasan utama merupakan cara yang membantu memperdalam pemahaman.
Kesulitan memahami bacaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti membaca terlalu cepat, keterbatasan kosakata, kurangnya konsentrasi, tidak menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, kurang berpikir kritis, jarangnya membaca, dan tidak meninjau kembali isi bacaan. Semua kemampuan tersebut dapat ditingkatkan melalui latihan yang teratur dan kebiasaan belajar yang baik.
Membaca yang baik bukan sekadar menyelesaikan banyak halaman, tetapi mampu memahami makna, menghubungkan gagasan, dan menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membaca dengan penuh perhatian, berpikir secara kritis, dan terus belajar, ia sedang membangun pikiran yang lebih tajam, lebih bijaksana, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
#ilmufilsafat
Sumber: Fb
Otak adalah pusat pengendali pikiran, ingatan, pembelajaran, dan pengambilan keputusan. Semakin baik kita merawatnya, semakin besar pula kemampuannya untuk membantu kita memahami kehidupan, memecahkan masalah, dan membuat keputusan yang bijaksana.
Secara filosofis, otak yang sehat bukan hanya mampu mengingat banyak hal, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan dengan benar. Ketajaman berpikir tumbuh melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, bukan melalui perubahan yang terjadi dalam waktu singkat.
1. Biasakan belajar dan membaca setiap hari
Membaca buku, mempelajari keterampilan baru, dan mencari pengetahuan yang bermanfaat membantu menjaga otak tetap aktif. Aktivitas belajar merangsang berbagai bagian otak untuk membangun hubungan baru antarinformasi sehingga kemampuan berpikir terus berkembang.
Secara filosofis, ilmu adalah makanan bagi akal. Pikiran yang terus diberi pengetahuan akan menjadi lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih siap menghadapi perubahan dalam kehidupan.
2. Latih kemampuan berpikir kritis
Jangan menerima semua informasi tanpa memeriksanya. Biasakan bertanya, mencari bukti, membandingkan berbagai pendapat, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta yang dapat dipercaya.
Berpikir kritis membuat otak bekerja lebih aktif daripada sekadar menghafal. Kebiasaan ini membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih logis, adil, dan bertanggung jawab.
3. Tidur yang cukup dan berkualitas
Tidur merupakan waktu penting bagi otak untuk memulihkan diri, memperkuat ingatan, dan mengolah informasi yang dipelajari sepanjang hari. Kurang tidur dapat mengurangi konsentrasi dan kemampuan berpikir.
Secara filosofis, keseimbangan antara bekerja dan beristirahat adalah bagian dari kebijaksanaan. Pikiran yang diberi waktu untuk pulih akan lebih siap menghadapi tantangan dengan tenang.
4. Jaga kesehatan tubuh melalui pola hidup yang baik
Olahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan menjaga kecukupan cairan membantu mendukung fungsi otak. Tubuh yang sehat memberikan lingkungan yang lebih baik bagi otak untuk bekerja secara optimal.
Manusia adalah kesatuan antara tubuh dan pikiran. Merawat tubuh berarti juga menjaga kemampuan berpikir agar tetap kuat dalam menjalani kehidupan.
5. Kelola emosi dengan bijaksana
Tekanan hidup dan emosi yang tidak dikelola dapat memengaruhi fokus dan kemampuan mengambil keputusan. Melatih kesabaran, mengatur waktu istirahat, dan berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu menjaga kejernihan pikiran.
Secara filosofis, hati yang tenang memberi ruang bagi akal untuk bekerja dengan baik. Ketenangan bukan menghilangkan semua masalah, tetapi membantu melihatnya dengan lebih jernih.
6. Gunakan ingatan melalui latihan yang teratur
Cobalah mengingat kembali apa yang telah dipelajari, menulis ringkasan, atau menjelaskan suatu materi kepada orang lain. Aktivitas seperti ini membantu memperkuat pemahaman dan daya ingat.
Ilmu yang sering digunakan akan lebih mudah melekat dalam pikiran. Semakin sering otak dilatih untuk mengingat dan memahami, semakin baik kemampuannya dalam menyimpan serta menggunakan informasi.
7. Bangun kebiasaan baik secara konsisten
Ketajaman otak tidak dibentuk oleh satu tindakan besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Belajar, membaca, berpikir kritis, beristirahat, dan menjaga kesehatan akan memberikan manfaat apabila dilakukan secara berkelanjutan.
Secara filosofis, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter membentuk masa depan. Ketika seseorang tekun melatih pikirannya dengan kebiasaan yang baik, ia sedang membangun dasar bagi kehidupan yang lebih bijaksana dan bermakna.
Menjaga otak tetap tajam dan sehat dapat dilakukan melalui kebiasaan belajar, berpikir kritis, tidur yang cukup, menjaga kesehatan tubuh, mengelola emosi, melatih daya ingat, dan menjalankan kebiasaan positif secara konsisten. Berbagai kebiasaan tersebut saling melengkapi dalam mendukung kemampuan berpikir sepanjang kehidupan.
Otak yang sehat bukan hanya menghasilkan pengetahuan yang luas, tetapi juga keputusan yang lebih bijaksana dan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Ketika akal terus dilatih dengan ilmu, hati dijaga dengan ketenangan, dan kehidupan dijalani dengan disiplin, seseorang sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi pribadi yang terus bertumbuh, bermanfaat, dan membawa kebaikan bagi banyak orang.
Ilmu Filsafat
![]() |
| Kompas, 28 Juli 2012 |
Oleh: Sri-Edi Swasono
Kemiskinan adalah malapetaka sosial-kultural. Memang mengenaskan, mengapa di Tanah Air kaya raya rakyatnya miskin.
Almarhum Hartojo Wignjowijoto, ekonom jebolan Harvard, sering melempar cemohan "there are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics"‒ada tiga macam kebohongan: bohong, serba bohong, dan statistik. Kecurigaan atau kesalahpahaman menafsir angka-angka statistik adalah kasus klasik, sebagaimana ditulis Haff, How to Lie with Statistics (1954).
Di Indonesia, tingkat kemiskinan rata-rata nasional menurun, dari 13,3 persen (2010) menjadi 12,5 persen (2011). Penurunan jumlah penduduk miskin berlanjut tipis, dari 12,59 persen (Maret 2011) menjadi 12,36 persen (September 2011).
Provinsi-provinsi dengan angka kemiskinan sekitar separuh di bawah rata-rata nasional (September 2011) adalah DKI Jakarta 3,64 persen, Bali 4,59 persen, Bangka Belitung 5,16 persen, Kalimantan Selatan 5,35 persen, Banten 6,26 persen, Kalimantan Timur 6,63 persen. Semua menurun sangat tipis dibanding angka Maret 2011, kecuali Kalimantan Selatan.
Sebaliknya, provinsi-provinsi yang angka kemiskinannya lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional (September 2011) adalah Papua 31,24 persen, Papua Barat 28,53 persen dan lebih dari satu setengah yang kali lipat rata-rata nasional adalah Maluku 22,45 persen, Nusa Tenggara Timur 20,48 persen, Nusa Tenggara Barat 19,67 persen, dan Aceh 19,48 persen. Tingkat kemiskinan ekstrem provinsi-provinsi "tertinggal" ini menurun tipis dibanding angka-angka Maret 2011. Angka kemiskinan yang terus menurun tipis ini perlu kita hargai, meskipun persepsi masyarakat sering sebaliknya.
Pengangguran juga menurun dari 6,8 persen (2011) menjadi 6,32 persen (2012) menurun sebanyak 420.000 orang. Ini tidak berarti, andaikata tiap tahun dapat diciptakan 420.000 lapangan kerja, dalam 18 tahun terwujud angkatan kerja tanpa penganggur. Namun, Ketua Umum Kadin menegaskan sebaliknya, akibat kesenjangan antara angkatan kerja dan lapangan kerja, pengangguran justru meningkat 1,3 juta orang, pengangguran mencapai 9 juta orang.
Siapa termasuk orang miskin? Bank Dunia menetapkan "kemiskinan absolut" bila pendapatan per kapita di bawah 1 dollar AS per hari (Rp 280.000/bulan) dan "kemiskinan menengah" 2 dollar AS/hari. Sementara Indonesia menetapkan garis kemiskinan per kapita dengan angka tunggal Rp 243.729/bulan. Lalu apakah seseorang "tidak miskin absolut" bila pendapatannya Rp 250.000/bulan?
Garis kemiskinan adalah garis yang ditetapkan berdasarkan berbagai variabel, antara lain asupan kalori (2.000-2.500 kalori, angka Sajogyo). Suatu garis batas memang harus ditarik, seperti passing grade untuk meluluskan peserta ujian.
Kemiskinan ekonomi dan harkat
Miskin bukan lagi persoalan keberadaan pada garis atau di bawah garis kemiskinan yang dibuat ekonom dan sta- tistikus konvensional. Seorang dosen bisa "termasuk miskin" meskipun gajinya Rp 2,4 juta, ia keluarkan untuk pekerja rumah tangga (PRT) Rp 750.000, listrik Rp 500.000, iuran RT/RW Rp 200.000, cicilan laptop, pulsa, dan tetek-bengek.
Seseorang terpojok miskin tatkala ia melihat iklan-iklan di televisi menayangkan kemewahan yang tidak terjangkau daya belinya. Gebyar-gebyar kemewahan mengepung kemiskinannya, yang menjadikan nestapa dalam keperihan hati.
Pegawai-pegawai negeri dan swasta pun menjadi miskin oleh iklan-iklan rumah dan apartemen mewah metropolitan yang menggugah kecemburuan sosial dan menumbuhkan "minderisasi" (inferiorization), sementara cicilan rumah sederhana mereka menjadi beban berkepanjangan.
Capek menunggu bisa berujung pada apatisme kepasrahan atau sebaliknya malah membangkitkan protes brutal. Sikap beringas yang bangkit bisa menjadi awal disintegrasi sosial yang menakutkan.
Tragedi Markiah adalah contoh apatisme kepasrahan, fenomena self-disempowerment, pelumpuhan diri mengerikan yang melanda keluarga miskin ini. Janda tiga anak ini mengalami capek miskin berkepanjangan, tanpa harapan melihat cahaya di ujung kegelapan. Kemiskinan mendorongnya bunuh diri, terjun ke Sungai Cisadane sambil menggendong anaknya yang masih balita, meninggalkan dua anaknya menjadi yatim piatu.
Lalu, di mana peran RT dan RW, lurah dan camat, masjid, serta rumah-rumah ibadah. Di mana kebersamaan, solidaritas, dan ukhuwah agama? Di mana keberadaan institusi-institusi sosial dan negara tatkala anak-anak gawat gizi dan lumpuh layu, tatkala penduduk idiot (imbecile) tersebar di tiga kecamatan dalam empat desa di eks Karesidenan Madiun?
Pemberdayaan kilat
Kemiskinan dan pengangguran tidak seharusnya diatasi dengan semata-mata menunggu trickle-down effect atau kepyuran ke bawah dari investor besar. Merupakan kejahatan moral menganggap orang miskin hanya berhak atas rembesan. Memburuknya indeks Gini dari 38 persen (2010) menjadi 41 persen (2011) adalah peningkatan kesenjangan kaya-miskin yang mencemaskan. Paradigmatik kebijakan menggenjot pertumbuhan bukanlah jaminan terberantasnya kemiskinan dan pengangguran. Diperlukan pemikiran cerdas ekstraordiner-kontemporer, meninggalkan konvensionalisme. Direct attack on poverty‒pemberdayaan kilat di pos-pos daya meningkatkan kemampuan produktif, terampil mencipta atau menyambut pekerjaan menjadi pilihan.
Pembangunan dengan semangat pasar bebas dan perdagangan bebas yang memiskinkan kehidupan dan melumpuhkan semangat hidup rakyat harus distop. Sesuai paham strukturalisme ekonomi nasional kita harus banting setir beralih ke pemikiran: let us take care of employment, employment will take care of growth, tegas melaksanakan tujuan konstitusi: "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan". Statistika dan model-model ekonometri yang masih menimang-nimang paradigma-paradigma usang, yang tak sesuai dengan humanisme ekonomi konstitusi kita perlu diakhiri. Kemiskinan adalah masalah bersama, mari bekerja keras, ikut mengentaskan masyarakat miskin ekstrem di Papua, Maluku, NTT, dan NTB.
SRI-EDI SWASONO
Guru Besar UI dan Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa
Sumber: Kompas, 28 Juli 2012
Goenawan Mohamad
Banyak mithos, atau dongeng, tentang universitas. Terutama di Indonesia. Negeri ini (yakni negeri kita, NKRI) punya banyak sekali perguruan tinggi, tapi tak kunjung punya universitas yang bermutu tinggi, atau yang lazim disebut "kelas dunia".
Saya lihat di Wikipedia. NKRI punya 4500 buah perguruan tinggi. Sementra India, dengan penduduk sekitar empat kali lipat lebih besar -- atau 1.476 miliar -- hanya punya 1266. RRT, dengan penduduk 1.413 miliar, hanya punya 3167.
Dalam kualitas diunia, Univeraitas Indonesia berada dalam peringkat rendah, No. 191. UGM No. 206. Dibandingkan dengan itu, NUS (National University of Singapore): ada dalam perangkat ke-10. University of Malaya, ke-58.
Ada semacam kecenderungan "inflatoir" dalam pendidikan tinggi di Indonesia bersamaan dengan bertimbunnya jumlah lulusan yang sulit dapat kerja. Dengan kata lain, masuk ke universitas adalah menunda pengangguran. Apalagi jika harus bersaing dengan lulusan dari pergutuan luar negeri.
Tapi di NKRI mithos tetap bertahan tentang ampuhnya pendidikan universitas. Di Indonesia, lulusan perguruan tinggi disebut "sarjana", yang sebenarnya berlaku untuk padanan kata "scholar" -- sebutan yang dalam dunia keilmuan menunjukkan prestasi keilmuan yang puncak. . Di NKRI, gelar dan ijazah diunggul-unggulkan, bahkan jadi topik polemik nasional, sementara hampir tak ada karya ilmiah yang secara internasional dijadikan acuan.
Tapi memang sejak berpuluh tahun yang lalu, di NKRI prestasi keilmuan tampaknya tak sebermartabat punya kekuasaan. Universitas di Indonesia oleh Negara diresmikan dengan nama "Gajah Mada", "Airlangga", "Hasanuddin" -- nama-nama pemegang kekuasaan politik yang tak dikenal punya pemikiran cemerlang. (Universitas Mpu Tantular dan Ibnu Khaldun. nama para pujangga, pemikir, bukan penguaa, didirikan para pendidik swasta).
Saya kira itu "wajar". Tokoh-tokoh pemimpin politik kita sejak 1960-an umumnya tak pernah baca (apalagi menulis) buku. Paling-paling hanya berlagak suka baca.
Di Indonesia, syarat kepiawaian memang bisa ditawar dan "murah hati".
Berbeda dari di luar negeri. Bahkan syarat seorang perwira muda lulusan Akademi Militer di AS, misalnya, bisa lebih berat ketimbang di perguruan tinggi biasa. Di akademi militer West Point tiap kadet harus lengkap mengikuti kuliah kimia, fisika, kalkulus dan "engineering". Sementara di Harvard bisa lebih luwes dalam memilih -- dan calon PhD bisa berbaraing-baring santai, tak perlu latihan fisik, di Harvad Yard yang rindang.
Di Indeonsia, saya duga keluwean itu malah bisa direntang. apalagi jika si mahasiswa atau kadet datang dari keluarga "tinggi".. Tak mengherankan jika ada lulusan AKABRI yang tak mampu memecahkan soal 'berapa '10 + 6"'. dengan mencongak.
Kini ada rencana mendirikan 10 univeraitas baru. Rencana ini (sebagaimana ide MBG, Koperasi Merah Putih, Sekolah Rakyat, dll) tampaknya tak disertai riset, diskusi dan perencanaan, serta percobaan. Yang kini berlaku "kun-fayakunisme" -- seakan-akan mau meniru kemampuan Tuhan yang bisa menjadikan sesuatu hanya dengan sabda.
Dan dengan argumen yang salah. Dan dengan anggaran yang boros menjulang.
Saya dengar, ide universtas tambahan itu buat menyiapkan pemimpin bangsa. Tapi sejarah dunia -- juga sejarah kita -- tak melahirkan pemimpin bangsa dari universitas. Bung Karno memang lulusan ITB, tapi kepemimpinannya tak pakai ijazah insinyur. Ia lahir dari aktivitas di masyarakat, dengan segala risiko, pertarungan, dan kisah sukses dan kegagalan. Tanpa nepotisme.
Semua ini, tentu saja, cuma pendapat saya. Biasanya tak didengar. Dan biasanya ada orang-orang yang tak risih mendustai masyarakat seraya mengamini ide yang keliru.
Rasa takut sering kali muncul karena kita belum benar-benar memahami sesuatu. Ketika menghadapi hal yang asing, pikiran cenderung membayangkan kemungkinan terburuk sehingga ketakutan terasa semakin besar. Padahal, banyak kekhawatiran sebenarnya berasal dari ketidaktahuan, bukan dari kenyataan yang sesungguhnya.
Belajar adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi rasa takut. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin jelas kita memahami apa yang harus dilakukan dan bagaimana menghadapi berbagai tantangan. Pengetahuan memberikan arah, membangun rasa percaya diri, dan membantu kita mengambil keputusan dengan lebih tenang.
Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah untuk berkembang. Jadikan ketakutan sebagai alasan untuk mencari tahu, membaca, bertanya, dan terus belajar.
Keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut, tetapi mampu menghadapi ketakutan dengan bekal pengetahuan dan keyakinan yang terus bertambah.
Sumber: Fb