 |
| Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni? |
Oleh: Bambang Sugiharto
“Art sings and shouts from the axis of truth to wake us up to who we are and where we are going; seni bernyanyi dan berteriak dari poros kebenaran untuk membangunkan kita akan siapa kita dan ke mana kita akan pergi.”
— Alex Grey
MEMBICARAKAN “seni” sebagai sesuatu yang penting, apalagi pokok, selalu terasa berlebihan. Sebabnya adalah karena seni umumnya dianggap sekadar sebagai hiburan dan hiasan. Scbagai hiburan, pentingnya seni hanyalah untuk membuat hati senang dan pikiran tenang, membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. Sebagai hiasan, seni diperlukan sekadar untuk membuat tampilan diri lebih menawan, atau membuat suasana terasa Iebih nyaman.
Begitulah, seni konon hanyalah urusan keindahan, kesenangan atau sekadar soal kemasan. Kalaupun perlu dipelajari, ia dianggap keterampilan tambahan saja. Artinya, kalaupun anak-anak diberi les menggambar atau musik misalnya, biasanya yang dimaksudkan adalah untuk membekali keterampilan cadangan. Siapa tahu kelak bila anak tak berhasil di bidang-bidang yang lebih jelas dan subur, seni bisa menjadi semacam skill darurat yang menyelamatkan. Karena itu sesungguhnyalah ia tak teramat penting, kebutuhan ketujuh atau kesepuluh, suatu kemewahan. Ia hanya berarti, bila segala kebutuhan pokok sudah tercukupi, atau bila keterampilan lebih mendasar telah dikuasai.
Repotnya, bahkan bagi mereka yang berkecimpung di bidang seni sekalipun, persoalannya kurang lebih sama juga: mendudukkan seni sebagai sesuatu yang penting dalam peradaban tetaplah terasa mengada-ada. Pasalnya, konon “seni sudah berakhir", kata Arthur Danto, Victor Burgin, Joseph Kosuth, Hal Foster atau Adorno.
Betapa tidak, dalam kehidupan yang kian dikelola oleh pasar, seni tak lebih dari sekadar desain, sekadar siasat komunikasi pemasaran, atau lebih gawat lagi, semacam strategi pembiusan demi meraih berbagai keuntungan (keuntungan ekonomi, politik, sosial, bahkan keagamaan). Sementara pada bentuknya yang paling serius pun—yang kini biasa disebut “Seni Kontemporer" misalnya—memang tak lagi jelas bedanya mana karya yang sungguh-sungguh 'seni', mana yang sekadar perilaku ganjil tak senonoh dari orang-orang yang frustrasi atau kehilangan identitas dan sakit jiwa, yang mencari perhatian secara kekanak-kanakan. Tak heran bila bagi sementara orang, kalaupun seni masih ada, itu hanya terdapat pada adikarya-adikarya zaman dulu yang 'adiluhung', “klasik” ataupun 'modern', yang bercita rasa keindahan tinggi dan halus (sublime). Dan di luar itu adalah sampah.
Ini menjadi lebih pelik lagi bila kita dengar perkataan sejarawan seni E. H. Gombrich. Setelah mengamati dan menganalisis demikian banyak karya sepanjang sejarah seni rupa Barat akhirnya ia mengatakan bahwa sesungguhnyalah tak ada itu yang namanya “seni” dalam artian umum, yang ada hanyalah para seniman. “There really is no such a thing as art, there are only artists", katanya. Artinya betapa sulit merumuskan secara tepat apa sesungguhnya mahluk yang bernama 'seni' itu, sebab pada karya setiap seniman seolah seni itu setiap kali dirumuskan kembali secara berbeda dan baru.
Tapi, semua cerita di atas itu hanyalah selintas kesan karikatural yang kadang naif ataupun terlampau sinis. Kesan macam itu tak sepenuhnya benar. Dari sisi tertentu, itu seringkali menunjukkan kedangkalan pemahaman, kesempitan wawasan ataupun kebingungan. Untuk memahami posisi seni dalam peradaban manusia, kita perlu melihat dahulu bagaimana manusia memaknai kehidupan, pengalaman dan dunianya.
Makna dan Pengalaman Real
Manusia memaknai pengalamannya melalui banyak cara: lewat sains, filsafat, seni, dan agama. Yang merupakan fokus utama di sini adalah “pengalaman” itu. Seni adalah cara yang sangat unik dalam menafsir dan memaknai pengalaman itu, yang berbeda dari sains, agama dan filsafat. Untuk mendalami di mana keunikan pemaknaan lewat seni, kita perlu mengkaji dulu hakikat 'pengalaman' itu melalui fenomenologi. Berkat fenomenologi Husserlian kini kita menyadari bahwa kenyataan pertama dan paling dasar kehidupan adalah “kehidupan yang dialami, dirasakan dan diimajinasikan" pada tingkat pra-reflektif dan pra-teoretis. Ini bukan dunia abstrak ala sains, bukan dunia dogmatis ala agama, bukan pula dunia ideal-normatif ala moralitas.
Rekaman pengalaman kehidupan konkret utama dan pertama yang langsung, mendalam dan padat itu terutama adalah “perasaan", ingatan, hasrat dan gairah, kata Merleau-Ponty. Dunia versi ilmu hanyalah salah satu tafsiran abstrak pragmatis saja atas dunia primer yang langsung dialami itu. Husserl menyebut dunia primer itu sebagai Lebenswelt, atau Life-world, dunia yang langsung dialami (lived world), dunia hidup-bersama konkret sebelum direfleksi, dunia yang bentuknya tak jelas (amorf), dan sangat kompleks. Ini dunia yang mengatasi kategori Subjek-Objek.
Dalam pengalaman asli ini, subjek dan objek berbaur campur aduk dengan segala kualitas lain, seperti: aneka perasaan yang kabur, kepekaan moral, imajinasi nilai, pengalaman persentuhan langsung, kesadaran, aspirasi ruh yang tak jelas, impian bawah sadar, dsb. Dunia dan kehidupan bukanlah “objek" di luar sana yang daripadanya bisa kita tarik “hukum-hukum"-nya. Dunia dan kehidupan adalah latar belakang dan medan segala pemikiran kita, sekaligus sesuatu yang senantiasa merupakan bagian intim di dalam diri kita sendiri juga. Kita sudah selalu demikian menyatu dengan dunia, dan dunia sudah selalu ada dalam diri kita. Kesatuan asasi itu muncul dalam “perasaan”, “imajinasi” dan “perilaku”.
Kita menyadari diri kita hanya lewat interaksi dengan dunia sekeliling itu, dan sebaliknya, dunia sekeliling kita pahami berdasarkan pengalaman kedirian kita. Tentang sesuatu yang kita sebut “air” misalnya, dalam hidup kita “apa" itu air maknanya sangatlah kompleks, erat terkait pada berbagai dan berlapis-lapis pengalaman kita dengan air. Ketika kita berbuka puasa, air kita alami sebagai minuman yang langsung merasuki seluruh tubuh, menyegarkannya dan memberi tubuh kehidupan baru. Saat berwudhu air tampil sebagai simbol ketulusan hati untuk membersihkan diri. Ketika kita sedang membuang air kecil atau meludah, kita sadari bahwa air bukanlah objek di luar sana, melainkan bagian penting yang ada di dalam tubuh kita sendiri: air 'adalah' diri kita. Begitu seterusnya. Itulah fenomena “air” yang sesungguhnya, yang muncul dalam pengalaman konkret di medan Lebenswelt. Artinya, “apa" itu air dalam kenyataannya sangatlah pelik, tebal dan kompleks. Dalam konteks ini pemaknaan sains atas air sebagai “H2O' misalnya, menjadi terasa terlalu tipis dan kerdil. Begitu pula pemaknaan agama dan moral yang langsung menarik segala pengalaman sehari-hari ke dalam kerangka konseptual doktrin teologis (air adalah lambang pembersih “dosa" agar kita menjadi “suci”, misalnya) ataupun ke dalam kerangka normatif moralitas (air tertentu, seperti minuman keras misalnya, adalah “buruk” untuk kesehatan tubuh dan jiwa). Pada titik ini, baik sains, agama maupun moralitas sebenarnya mereduksi, menyederhanakan atau menciutkan kompleksitas dan ambiguitas pengalaman real dari medan Lebenswelt itu. Kekayaan realitas air dalam kerumitan maknanya itu memang tidak bisa sepenuhnya di-“jelaskan” (erklaren), melainkan hanya bisa di-“lukiskan”, untuk kemudian dipahami (verstehen). Dan yang mampu melukiskan kompleksitas dan ketebalan pengalaman itu adalah seni: melalui lukisan dengan reka citranya; melalui puisi dengan pengolahan katanya, melalui musik dengan rajutan nada, dinamika dan iramanya, melalui tarian dengan olah cipta geraknya, melalui novel, teater dan film dengan konstruksi dramatiknya, dst.
Seni memberi bentuk pada pengalaman yang tak jelas bentuknya (amorf). Seni menampilkan yang tadinya tersembunyi, mengartikulasikan yang tak terartikulasikan. Itu sebabnya filsuf Heidegger menyebut seni pada dasarnya adalah poiesis (Yunani), dalam arti: menampilkan, membuat tampak dan berwujud. Dalam arti itu, setiap seni itu “puitik”.
Kekuatan seni adalah melukiskan kedalaman pengalaman yang sebenarnya tak tampak dan tak terlukiskan, memperkatakan hal yang tak terrumuskan, membunyikan hal yang tak tersuarakan, ataupun menarikan inti pengalaman batin yang tak terungkapkan.
Dari sisi ini, yang hendak dirogoh dan diungkapkan oleh seni sesungguhnya bukanlah sekadar “Keindahan" fisik seperti yang lazim dikira orang, melainkan “Kebenaran”. Dalam tradisi Estetika Barat, seni memang telah selalu dimengerti sebagai ars (keterampilan), tekhne (keahlian) dan berkaitan crat dengan “keindahan" (kalon). Yang sering terabaikan adalah bahwa seni terutama berkaitan dengan “penciptaan”, poein, dan akar kata “Estetika” adalah aisthenasthai, yang artinya adalah “persepsi. Maka seni terutama adalah soal 'menciptakan persepsi baru', persepsi tentang kebenaran yang lebih dalam dari realitas yang kita hadapi sehari-hari . Ia memang lebih terkait dengan “kebenaran" kehidupan, daripada dengan 'keindahan". The essence of art...is the setting-itself-into-work of truth', kata Heidegger. Pada hakikatnya seni adalah tampilnya kebenaran secara berefek (menyentuh). Di sini “kebenaran” bukanlah kebenaran ilmiah (kebenaran tentang pola-pola teratur kerja alam), bukan kebenaran religius (kebenaran sesuai wahyu dan hukum Tuhan), bukan pula kebenaran moral (kebenaran normatif ideal), melainkan “Kebenaran Eksistensial” (the truth of being).
Dengan kata lain, “kebenaran" ini bukan kebenaran dalam arti doktrin, dogma, rumus, keyakinan atau apa pun yang sifatnya konvensional, melainkan kebalikannya, justru munculnya realitas-realitas yang awalnya tersembunyi, yang tak disadari (namun ada), yang seringkali tidak konvensional, bahkan kadang bisa bertabrakan dengan dogma (dogma religius, ilmiah, moral, dsb.), namun nyata dan mungkin. Ini kebenaran kenyataan hidup yang kita alami seperti adanya, kenyataan yang hampir tak pernah bersifat hitam-putih, kenyataan yang pelik dan tumpang-tindih. Dengan kata lain, “kebenaran” yang diungkapkan dunia seni adalah juga aneka sisi lain dari realitas: bahwa “cinta” misalnya, tidak selalu indah, bisa juga absurd atau kejam: bahwa wajah manusia bila dilihat sebagai terbelah-belah ala lukisan kubisme akan menimbulkan kesan yang berbeda, dsb. “Kebenaran” versi filsuf Heidegger ini (inspirasi dari Nietzsche, kemudian diolah juga oleh filsuf Gadamer, Ricoeur, Derrida dan Badiou) dasarnya adalah keyakinan bahwa realitas (being) itu pada intinya misterius dan kompleks. “Apa" se-'benar'-nya realitas hidup ini hanya tersingkap secuil-secuil pada kesadaran kita dan tak akan pernah terkuras habis, selalu ada sisi baru yang kita temukan. Realitas ini adalah khazanah kemungkinan nyaris tanpa batas. Demikian, salah satu fungsi Seni yang penting adalah fungsi “disclosive' itu, yaitu: ia memungkinkan tersingkapnya (disclosure) aneka lapisan, kompleksitas, dan misteri realitas bagi kesadaran kita. Maka tak perlu heran bila sebuah film bercerita tentang seorang yang jahat namun sangat memesona, misalnya: atau atas nama cinta seseorang justru membunuh orang yang dicintainya: seorang psikopat dan busuk justru dirayakan sebagai pahlawan, seorang rohaniwan panutan ternyata bermoral bejat, dsb. Bermacam sisi realitas macam itu memang mungkin, dan bisa nyata. Sedang fungsi yang lain dari seni adalah fungsi "heraldic”: seni merintis, mengantisipasi, dan membimbing kita ke arah kemungkinan-kemungkinan baru untuk memahami dan menghayati realitas. Ini terlihat pada karya-karya seni yang memperkenalkan style-style baru atau cerita-cerita fiksi/fantasi ke arah masa depan. Cerita-cerita fiksi/fantasi ilmiah misalnya, selain isi tematiknya bisa membukakan kesadaran atas nilai-nilai tertentu, juga bisa membukakan kebenaran dalam arti “membukakan kemungkinan", yang awalnya musykil namun di kemudian hari menjadi nyata, misalnya bahwa manusia bisa berpindah tempat dengan sekejap ala film Star Trek, siapa tahu kelak itu sungguh-sungguh terwujud dalam teknologi teleportasi. Seperti juga hal-hal yang dulu hanya ada dalam komik fantasi, beberapa kini ternyata dapat terwujud. Dalam ranah pengalaman, “kebenaran" realitas-sebagai kenyataan dan kemungkinan memang seringkali serumit, se-absurd, sekaligus se-memesona dan se-tak terduga itu. Maka, seperti halnya makna hakiki “air”, demikian juga “kebaikan", “kejahatan”, “cinta”, “kepahlawanan”, dsb, kebenaran maknanya (kenyataannya) sangatlah kompleks dan pelik. "Benar” dalam arti:
“kenyataannya memang begitu" atau “sesuatu memang mungkin dilihat sebagai begitu"; kebenaran sebagai fakta nyata (das Sein) ataupun sebagai “kemungkinan” tersembunyi yang lantas kita sadari. Jadi, ini bukan kebenaran sebagai ideal seharusnya (das Sollen) atau kebenaran normatif. Maka lantas dalam konteks ini yang dimaksud dengan “kebenaran" juga tidak berkait dengan soal benar-salah, correct-incorrect, true-false, atau baik-buruk (moral), melainkan soal: dangkal atau mendalam, bermakna atau tidak bermakna, membuat kita melihat lebih jauh atau tidak. Manusia memang membutuhkan potret mendalam kenyataan dan kemungkinan real macam itu untuk memaknai pengalaman-pengalamannya, tidak hanya membutuhkan pegangan normatif ideal (moralitas dan agama) atau pun pegangan praktis untuk menyiasati kenyataan real (sains).
Pembicaraan di atas adalah pembicaraan tentang seni pada tingkat filosofis, semacam refleksi tingkat-dua yang lebih mendalam, lebih “generik" dan lebih “abstrak” daripada refleksi empiris. Maka bisa saja hal itu tidak langsung dialami oleh para pekerja seni sendiri. Refleksi filosofis melihat seni dalam kerangka lebih menyeluruh dan lebih jauh, yaitu: pada tingkat terdalamnya (ultimately) “seni" itu apa, dalam kerangka peradaban manusia secara keseluruhan (bukan hanya dalam “dunia seni" atau “medan sosial seni" yang spesifik). Wacana di dunia akademis seni sendiri umumnya berada pada tingkat pertama, pada level empiris-teknis, yakni ihwal bagaimana dinamika perubahan dan pertumbuhan di tiap cabang seni yang spesifik (seni rupa, musik, tari, dsb.) mengakibatkan perubahan-perubahan dalam pemahaman-diri masing-masing bentuk seni itu. Apa itu seni tari, seni rupa, seni musik, dsb. pengertiannya bisa berubah-ubah dan sangat spesifik bersama dengan perubahan konsep dan praktik teknis-konkret dari para seniman dan medan-sosial seninya. Uraian lebih rinci tentang hal yang terakhir itu ada pada bagian "Pergeseran paradigmatik" di belakang. Maka, seorang pelukis, misalnya, ketika melukis tentu tidak langsung merasa sedang menggarap “kebenaran”, karena lukisan memang bukan khotbah tentang kebenaran. Pada tingkat paling konkret, ketika melukis, si seniman lebih seperti bermain-main secara imajinatif dengan kemungkinan konseptual atau kemungkinan teknis bentuk, warna, bidang, dst, ketimbang berwacana. Akan tetapi ketika dia mulai bekerja dengan gagasan/tema/konsep tertentu, sudah muncul indikasi bahwa dia sedang menggarap sisi tertentu atau “makna” tertentu dari realitas, apa pun itu, baik yang “nyata” ataupun “yang mungkin”. Dan ketika kelak apresiator “menyadari sesuatu yang baru” tentang realitas saat menikmati karya itu, pada waktu itulah “disclosure” terjadi: sesuatu dari realitas tersingkap bagi kesadarannya, yang awalnya tersembunyi. “Penglihatan” atau “kesadaran” baru itulah yang dimaksud dengan “kebenaran”. Ini berlaku juga pada bidang seni lain seperti musik, teater, tari, sastra, dsb.
Seni memang memiliki kekhasan kodratinya sendiri, akan tetapi untuk melihat nilai seni lebih jauh perlulah kita juga melihat keterkaitan sekaligus perbedaan lebih rinci antara seni dengan jenis-jenis pemaknaan lain atas pengalaman manusia, yakni: sains, teknologi, agama, dan filsafat.
Seni, Sains, dan Teknologi
Ilmu empirik atau sains memang merupakan salah satu upaya untuk memaknai pengalaman-pengalaman juga. Tapi ia memaknai dengan mereduksi, menciutkan, menyederhanakan atau menyingkatnya ke dalam kepentingan pragmatis alias kepentingan untuk menggunakan dan memanfaatkannya. Dan bila unsur-unsur inti suatu fenomen telah tertangkap, sains akan memanipulasinya untuk berbagai kepentingan lain. Ketika unsur hidrogen dan oksigen telah terungkap dari fenomen “air” misalnya, air lantas bisa dimanipulasi untuk menciptakan tenaga listrik atau berbagai kemungkinan reaksi kimiawi baru lain. Cara pandang sains dan teknologi adalah cara pandang yang menantang (challenging), mengerangkeng (enframing), dan membedah-mengeksploitasi (revealing, exposing), kata filsuf Heidegger. Sains dan teknologi menantang dan menaklukkan alam, menghitung dan menggunakan segala yang ditemukan dalam pengalaman. Akibatnya, misalnya, air di sungai dilihat sebagai tak lebih dari stok atau pemasok energi, tanah menjadi sekadar deposit mineral, udara sekadar gudang nitrogen dan oksigen, dst.
Seni memandang alam secara berbeda. Ia tidak mengeksploitasi dan memanipulasinya, melainkan membantu menampilkan keindahan hakiki, the splendor, dari alam itu, kata filsuf Heidegger lagi. Jadi, kalau sains menyingkat realitas, seni justru menyingkap kekayaan realitas. Ketika marmer masih merupakan bagian dari bukit-bukit di Italia, misalnya, orang tidak menyadari keindahan hakiki marmer, sebab memang tersembunyi di bawah tanah, di bawah kaki. Namun, saat marmer itu digarap oleh Michaelangelo menjadi patung David atau Pieta yang amat memesona, atau dibentuk menjadi pilar-pilar basilika San Pietro oleh Bernini yang indah luar biasa, misalnya, di sana keindahan dan pesona, atau “kebenaran" realitas marmer, the splendor dari marmer, menjadi tampak, bersinar, mengagumkan. Pendekatan sains atau iptek cenderung melihat realitas dari sisi pola-pola abstrak yang berlaku umum. Itu sebabnya mengenai fenomena “manusia”, misalnya, bagi sains tidak terlalu penting apakah manusia itu bernama si Amir, si Leo, ataupun Rusdi. Yang penting mereka itu secara umum (abstrak) sama-sama “manusia”, yang dari sudut psikologi, kedokteran, ataupun sosiologi, memperlihatkan gejala yang serupa. Itu cukup. Seni melihatnya sangat lain. Fokusnya justru pada yang konkret-konkret dan unik. Kehidupan unik seorang Amir sangatlah berbeda dari kehidupan si Leo atau Rusdi. Keunikan itu penting sebagai bahan untuk cerita novel, teater ataupun film. Bagi seni yang penting bukan konsep manusia abstrak dan umum. Seni selalu hendak bicara tentang hidup manusia yang nyata, yang kompleks, rumit, tak terduga, dan lebih pelik daripada yang diperkatakan secara abstrak oleh sains. Namun, melalui kasus-kasus konkret itu orang dapat belajar tentang hal-hal yang universal juga. Melalui film percintaan tokoh konkret bernama Romeo dan Juliet, misalnya, kita dapat memahami lebih luas dan lebih pelik lagi konsep universal tentang “cinta”: bahwa selain indah dan menggebu, cinta juga bisa menjadi sangat konyol, misalnya. Sains ibarat gambar kerangka anatomi di ruang-ruang kelas. Tidak penting itu kerangka siapa. Seni adalah lukisan berbagai manusia yang berwajah unik, cantik atau buruk, berdaging, gemuk atau kerempeng, ompong atau bergigi indah, dst.
Sains menggunakan logika nalar, yang awalnya disistematisasikan oleh Aristoteles 2500-an tahun lalu ke dalam aneka bentuk silogisme. Di sana penalaran dimainkan melalui konsep-konsep verbal-literal (harfiah). Logika macam itu dipercanggih kemudian dalam sains dan teknologi melalui sistem simbol matematis. Dalam seni, logika yang digunakan bukan jenis logika itu, melainkan “logika perasaan”. Logika perasaan adalah permainan efek asosiasi bentuk, dan metafora tentang esensi sesuatu. Bentuk bulatan, misalnya, membawa imaji lucu, bentuk runcing tajam melahirkan perasaan tak aman, bentuk suara teriakan membuat kita takut, bunyi air mengalir membuat perasaan sejuk, dst.
Permainan efek bentuk itulah yang dikelola oleh para seniman: bentuk citra pada lukisan, kata pada sastra, nada dan ritme pada musik, gerak pada tarian, alur cerita, suasana dan karakter pada film dan drama, dst. Bentuk-bentuk yang dikelola oleh seni itu tak selalu indah, bahkan bisa juga buruk-menjijikkan (seperti pada banyak karya seni kontemporer), namun yang jelas bentuk-bentuk itu penuh makna, significant form, kata Clive Bell. Sewaktu menjelaskan fenomena seni, neuroscientist Ramachandran menggunakan istilah dalam bahasa sanskerta, “rasa”, yang dimaksudkannya sebagai “kemampuan menangkap esensi dari sesuatu dalam rangka menggugah emosi tertentu pada otak". Maka kalaupun seniman memainkan bentuk-bentuk, akhirnya yang dimainkan oleh mereka sebenarnya adalah '“esensi-esensi” atau makna-makna hakiki yang mendalam di balik aneka bentuk. Itu sebabnya, dalam banyak karya yang berbobot, makna yang dikandungnya seringkali bahkan bisa sangat mendalam dan filosofis. Artinya, bentuk-bentuk itu menyeret kita pada renungan-renungan filosofis. Meskipun begitu kita perlu hati-hati di sini. Bila “logika-nalar” sains bekerja melalui 'makna' harfiah-denotatif, “logika-rasa” seni meskipun di satu pihak mengandung 'makna' juga—makna simbolik-konotatif—namun sebenarnya ia bekerja terutama melalui “efek", efek pada rasa dan imajinasi. Pada karya seni yang penting pertama-tama bukanlah “what it means”, “maknanya apa", melainkan 'what it does”: dia melakukan apa pada kita, kita merasakan efek apa darinya, barulah kita dapat menemukan "makna"-nya.
Sains dan teknologi cenderung menganggap realitas sebagai objek, sesuatu yang "mati”. Bahkan manusia pun cenderung dilihat sebagai objek, objek untuk dibedah dan ditelaah. Seni agak sebaliknya, segala hal dilihat sebagai benda “hidup”. Bentuk karikatural perilaku seni adalah seperti dalam film kartun. Di sana bahkan segala benda pun dibuat seolah bernyawa (boneka mainan saling mengobrol, sepatu berlarian, pohonan tertawa-tawa, dst.). Bukan kebetulan bila orang biasa memberi komentar seperti: “lukisan kursi itu hidup sekali”. Begitulah, seni memberi nyawa pada segala, menghidupkan realitas sekeliling kita.
Sains membutuhkan sikap berjarak dan kritis, sebab tujuannya memang hendak menjelaskan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Seni bekerja justru dengan cara menyatu dengan objeknya. Ketika seorang sutradara atau aktor hendak melukiskan seorang gila dengan dunianya, ia akan mengikuti dan menyelami dunia orang gila itu. Sedangkan seorang psikiater akan mengamati perkembangannya atau mewawancarai dia secara berjarak dan kritis. Sains memang bermaksud hendak 'menjelaskan' realitas, sementara seni lebih bermaksud untuk 'melukiskan'-nya atau menyentuhkannya pada sensibilitas batin kita yang paling dalam. Sains berkomunikasi pada nalar, seni berdialog pada perasaan dan imajinasi, dan dengan cara itu menimbulkan perenungan.
Setelah kita melihat perbedaan paradigmatik antara dunia seni dan sains, kini ada perlunya juga kita melihat sebaliknya, yaitu kemiripannya: bahwa dalam sains pun terdapat unsur-unsur "seni” atau unsur perasaan, imajinasi dan kreativitas. Dalam sains pun ada unsur perasaan dan imajinasi yang ikut bekerja, meski seringkali tidak disadari. Dalam alam berpikir ilmiah-modern lama sekali “perasaan" dicurigai bahkan didiskreditkan sebagai unsur irasional yang bisa mengganggu objektivitas dan membutakan penalaran.
Adalah Michael Polanyi yang menyadarkan kita bahwa bahkan dalam kegiatan ilmiah pun selalu ada unsur perasaan, gairah, dan hasrat (passion, desire, emotion) yang demikian menentukan. Dalam kegiatan ilmiah, unsur perasaan itu berperan selektif, heuristik, dan persuasif. Selektif, artinya, perasaanlah (intuisi) yang memberi isyarat apakah suatu penelitian itu berharga atau tidak berharga, layak ditekuni atau tidak, data mana yang kira-kira relevan dan persoalan mana yang mungkin dipecahkan. Heuristik (penemuan cara baru untuk menyelesaikan masalah), artinya, penelitian yang mencari penemuan baru membutuhkan keberanian untuk menciptakan model-model ataupun metafor baru yang barangkali tak lazim. Dalam sosiologi, misalnya, masyarakat bisa dibayangkan dengan metafor mesin, tapi bisa juga dibayangkan dengan model mahluk hidup atau organisme. Masing-masing membawa konsekuensi penalaran yang sangat berbeda. Kreativitas dan keberanian menciptakan model/metafor baru ini adalah juga soal imajinasi dan perasaan. Persuasif, artinya, setiap temuan baru perlu dikomunikasikan, dibela, dan diperjuangkan agar dapat diterima dan diakui oleh komunitas ilmuwan. Dan di sini empati dan imajinasi pun penting untuk menentukan cara bagaimana temuan itu harus dikomunikasikan. Secara umum, sebuah pembaharuan konsep, teorema ataupun aksioma, seringkali baru bisa diterima karena ketepatan metafora yang digunakan, elegansa penalaran, serta korelasi imajinatif-rasawi dari model yang digunakan. Dan semua itu adalah soal seni (empati, ketepatan perasaan dan kreativitas imajinasi), seni menyiasati medan dan kenyataan, seni merumuskan dan melukiskan hal yang awalnya tak terrumuskan dan tak terbayangkan.
Namun relevansi paradigma estetik atau seni umumnya lebih terasa lagi pada ilmu-ilmu sosial-budaya atau ilmu-ilmu kemanusiaan (Human Sciences/Humaniora). Ketika di awal milenium ketiga ini ideologi-ideologi besar telah ambruk, dasar-dasar metafisik-transendental kehilangan kepercayaan, kerangka-kerangka makna tradisional tak lagi bergigi, sedang kanon-kanon kebenaran pun tak lagi pasti, maka ilmu-ilmu yang berurusan dengan manusialah yang justru harus berperan memegang kendali. Ilmu-ilmu yang dahulu disebut “Humaniora" (ilmu yang membuat manusia lebih manusiawi), yakni Filsafat, Sejarah, Studi Agama, Sastra, Seni dan Bahasa, perlulah diberikan sebagai kajian kritis atas riwayat panjang pergumulan batin manusia, serentak peluang terbuka ke arah penciptaan diri individu yang matang. Di sini pulalah paradigma estetik menjadi penting, namun dalam arti “Aesthetics of Existence", yaitu proses penciptaan diri dan kehidupan sebagai karya seni pribadi, proses mengelola perasaan, imajinasi dan hasrat untuk mengartikulasikan pengalaman dan merumuskan pemikiran personal, proses menjajagi secara kritis dan imajinatif berbagai kemungkinan menjelaskan dan memberi makna kenyataan. Dalam rangka itu, bahkan ilmu-ilmu pasti dan ilmu teknik pun bisa diajarkan sebagai “seni”, yaitu sebagai permainan imajinatif-kreatif dalam menjajagi bermacam kemungkinan untuk memahami dan merekayasa kenyataan, bukan proses penjejalan “hukum alam" dengan segala pretensi keniscayaannya yang pasti dan abadi. Bukankah pada tingkat paling fisik pun angka-angka matematis dan aneka simbol dalam dunia ilmu merupakan kreasi imajinatif artistik?
Akan halnya di bidang teknologi, seni berperan penting di sana karena teknologi selalu memerlukan aktivitas desain alias perancangan imajinatif artistik. Aktivitas perancangan dan rekayasa itu selalu berurusan banyak dengan olah-bentuk, olah-fungsi, olah-makna dan olah-efek. Tapi pada tingkat lebih dalam, teknologi berkait erat dengan seni terutama karena teknologi adalah sarana pembentuk dan penyampai substansi “isi” (pesan). Itu terutama terasa dalam teknologi komputer dan televisi di mana substansi isi itu (game, internet, acara TV, dsb) sangat ditentukan terutama oleh desain kemasan bentuk medianya, produk keterampilan dan visi artistik. “The medium is the message,” kata Marshall McLuhan.
Lebih jauh lagi, makna teknologi terutama terletak pada dampak praktisnya, yang telah mengubah tata-nilai, cara bersikap, cara merasa dan pola-pola hubungan dalam dunia manusia hingga ke tingkat yang teramat pelik. Sedemikian pelik dampak itu hingga untuk memahaminya, mengandalkan kajian teoretik ilmiah saja akan terlalu steril dan kerdil. Pada titik inilah karya-karya seni dalam bentuk novel, seni rupa, teater, film, dsb., seringkali lebih mampu melukiskan secara efektif bagi kesadaran, imajinasi dan hati, kepelikan dan kompleksitas dunia tekno-praksis tadi. Di sini seni dapat berperan sebagai testimoni, antisipasi, juga evaluasi, atas tekno-kultur atau atas peradaban teknokratis. Sebagai testimoni, seni (film, foto, novel) dapat melukiskan secara menyentuh berbagai kejadian buruk akibat teknologi, macam tragedi Chernobyl atau eksperimen ilmiah konyol Nazi, misalnya. Sebagai antisipasi, ia dapat melukiskan bayangan masa depan, yang baik maupun yang buruk, seperti krisis energi atau rusaknya ekosistem di masa depan misalnya. Sebagai evaluasi, ia dapat menyeret perenungan-perenungan kita tentang apa yang sesungguhnya berharga namun hilang dalam alam teknokratis, tentang kemungkinan-kemungkinan baru teknologi yang menjanjikan sekaligus menakutkan, tentang kemampuan teknologi mengubah tata nilai, perasaan, dan imajinasi, atau tentang konsekuensi-konsekuensi berat yang harus ditanggung karenanya, dsb. Banyak film bertutur tentang hal-hal terakhir itu, macam film Avatar, the Matrix, seri Star Wars, misalnya.
Bila tadi adalah peran seni bagi teknologi, sebaliknya pun perlu dilihat: peran teknologi bagi seni. Teknologi dapat berperan ekstensif, reflektif dan politis bagi seni. Ekstensif, artinya teknologi dapat memperluas kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh dunia seni. Akibat teknologi maka patung kini dapat bergerak (patung kinetik), seniman tak mesti terpatok oleh satu media melainkan dapat berkarya dengan multi-media, seni rupa berkembang menjadi seni video, dst., dst. Reflektif, artinya, aneka kemungkinan baru yang dibukakan teknologi akhirnya menantang dunia seni untuk setiap kali merumuskan kembali hakikat dirinya juga: ketika bentuk-bentuk seni kini berubah, seni itu sesungguhnya apa? Mana yang disebut seni dan mana yang bukan? Politis, artinya, melalui teknologi informasi, kini seni dimungkinkan untuk berperan “politis”, yaitu: melalui bermacam siasat desain dan pencitraan digital, bermacam komunitas kini dapat mengartikulasikan dan mengkomunikasikan dirinya sesuai budaya dan aspirasinya sendiri. Dengan “kata lain, melalui teknologi, kini seni menjadi cara micro-politics beroperasi. Berikutnya, kita akan melihat keterkaitan dan perbedaan antara seni dengan pemaknaan ala agama dan filsafat.
Seni, Agama, dan Filsafat
Seni adalah komunikasi pengalaman ruh, ruh pribadi yang bersentuhan dengan ruh semesta (Anima Mundi) saat kepekaan indra kita tiba-tiba tersapa, terpesona dan terbuka pada dimensi yang lebih dalam dan lebih tinggi di balik segala.
Ketika aneka membran indrawi kita menangkap pesona kuat dari bentuk-bentuk sekeliling kita, seperti warna matahari jingga, nyanyian burung-burung yang tak tampak, ataupun tarian butir-butir hujan yang ceria, ada keharuan, kegembiraan, keterpukauan yang misterius, yang tak terjelaskan namun sekaligus tak terelakkan.
Pada saat seperti itu rupanya batin kita terdalam bersentuhan dengan batin semesta. Pengalaman persentuhan dan komunikasi batin ini dialami setiap orang dan setiap saat, dalam kadar yang berbeda-beda.
Pada para seniman, kepekaan batin untuk menangkap misteri itu rupanya lebih tinggi. Juga kemampuan mereka untuk mengartikulasikan dan mengungkapkannya secara mengena.
Demikian, seni pada akhirnya adalah komunikasi pengalaman batin ruh sang seniman kepada semua ruh manusia lain, komunikasi misteri kehidupan yang terdalam, komunikasi tentang sang Maha Ruh (Tuhan, Dewa, dsb) di balik segala kejadian. Itu sebabnya pada tingkat terdalam seni itu selalu “religius", bahkan “mistis”.
Sebenarnya mistik dan religiusitas berakar pada pengalaman keseharian, pengalaman tentang keajaiban bentuk dan drama kehidupan. Tak heran bila filsuf John Dewey menyebut karya-karya seni besar sebagai “Paradigma Pengalaman”. Akar pengalaman estetik adalah pengalaman dramatik keseharian.
Kecemasan orang yang berkerumun saat melihat kecelakaan di jalanan. Ketegangan penonton saat mengikuti lompatan-lompatan bola dalam permainan sepakbola. Keharuan seseorang saat melihat bunga pertama menyeruak dari tanaman yang selalu disiraminya. Perasaan aneh saat melihat api membesar ketika kita siramkan minyak ke atas bara. Kepekaan atas keajaiban bentuk serta pengalaman atas drama kehidupan macam itulah akar dari kesadaran estetik dan kecenderungan berkesenian.
Itulah pengalaman-pengalaman yang membuka membran-membran indra manusia pada kaitan-kaitan halus terselubung antar berbagai kejadian, yang menggiringnya pada perenungan lebih mendalam ihwal misteri alam dan kehidupan, yang menjebaknya pada keharuan-keharuan tanpa alasan atas matahari, angin, tanaman ataupun hujan, tapi juga yang mendorongnya sampai pada pemikiran-pemikiran paling imajinatif dan brilian. Itu sebabnya seni sejak awal adalah bagian erat dari agama dan filsafat.
Pengalaman macam itulah yang akhirnya mengubah sikap reaktif (menjawab) menjadi kreatif (mencipta), kecenderungan reseptif (mencerap) menjadi formatif (membentuk). Dengan kata lain, pengalaman indrawi menyentuh intuisi dan membukakan imajinasi, imajinasi kreatif.
Imajinasi adalah alat manusia untuk membongkar segala yang mengungkungnya, untuk menjangkau yang tak terbatas, alat untuk mengubah realitas. Imajinasi adalah kemampuan tertinggi yang memungkinkan nalar bekerja dan perasaan menggeliat. Imajinasi adalah akar agama, sains, dan filsafat. Begitulah keyakinan kaum Romantik khususnya, tapi juga keyakinan banyak filsuf berabad-abad lamanya.
Dalam kerangka ini konon para senimanlah—yaitu mereka yang mempertajam sensibilitas reseptif dan mengelola imajinasi-kreatifnya secara optimal—yang paling mempunyai akses pada kebenaran hidup sesungguhnya.
William Blake—pelukis dan penyair abad ke-19—beranggapan bahwa imajinasi membawa manusia ke pembebasan diri dan keselamatan sejati. Bukan hanya menciptakan seni, imajinasi, katanya, juga menciptakan mitologi dan melahirkan agama.
Realitas sehari-hari pun selalu kita alami melalui imajinasi dan pada dasarnya memang “ciptaan” imajinasi. Mengikuti alur pikir Ibn 'Arabi, Blake meyakini bahwa seluruh alam semesta diciptakan lewat imajinasi, yang dimiliki baik oleh Tuhan maupun manusia.
Karena itu kunci menuju keselamatan adalah mengenali kekuatan imajinasi ini. Terinspirasi Jacob Boehme dan Paracelsus, Blake bahkan meyakini bahwa surga adalah imajinasi, dan manusia adalah apa yang diimajinasikannya sendiri juga.
Penyatuan diri kembali dengan Tuhan dimungkinkan oleh kemampuan imajinasi dan cinta. Kedua hal itu bekerja melalui simbol, terutama simbol-simbol dalam seni. Simbol menggabungkan manusia dengan idea Ilahi. Itu sebabnya Kitab Suci umumnya bicara dalam bahasa yang penuh simbol. Simbol mengungkapkan kompleksitas dan kedalaman kebenaran. Simbol adalah bahasa universal yang dapat ditangkap oleh semua manusia.
Kalau Berkeley pernah menyebut esse est percipi—kenyataan adalah apa yang kita cerap—penyair dan pemikir Shelley memodifikasikannya menjadi being is imaginary, kenyataan adalah apa yang kita imajinasikan.
Mirip Blake, Shelley beranggapan bahwa imajinasi manusia adalah bagian dari budi universal, sekaligus merupakan aspek ilahi dalam kodrat manusia. Imajinasi menyebarkan sinar tak terlihat yang menghubungkan dan menghidupkan segala hal.
Bahkan jiwa manusia, katanya, dihidupi oleh imajinasi, sementara akal adalah bagian tubuh (otak) semata. Imajinasi adalah kekuatan kreatif akal. Karena imajinasi lebih tinggi dari akal, maka hanya imajinasilah yang dapat menangkap kebenaran abadi. Imajinasi hanya dapat menghadirkan apa yang dilihatnya itu melalui simbol.
Dan bila simbol dianalisis oleh akal, maka kekuatan simbol akan terbunuh dan hilang. Dalam kerangka pikir filsuf Benedetto Croce, imajinasi menghubungkan kognisi dengan emosi, dan keduanya menyatu dalam ekspresi. Ekspresi adalah pikiran-hati manusia.
Ekspresi paling kuat dari pikiran-hati itu adalah simbol atau citra/imaji. Imaji adalah bahasa dasar dan paling “primitif” yang mengartikulasikan emosi. Kehidupan batin atau ruhani mulai dari bahasa citra ini.
Filsuf Schelling mempunyai pandangan yang sejalur dengan gagasan di atas. Kemampuan membentuk simbol, katanya, bersumber pada imajinasi Ilahi, yang menjembatani yang real dengan yang ideal. Alam material sendiri adalah simbol, simbol dunia ideal. Bila manusia dapat melihat alam melalui imajinasinya, maka ia akan menangkap yang ideal.
Sebagaimana alam semesta merupakan karya kreativitas imajinasi Tuhan, seni adalah karya kreativitas imajinasi manusia. Melalui seni atau melalui simbol-lah manusia menyatu dengan Tuhan dan mendapatkan keselamatan. Bagi Schelling, seni mampu menampilkan kebenaran lebih daripada filsafat, imajinasi lebih unggul dibanding intelek atau akal.
Semesta yang ditangkap oleh manusia lewat ketersentuhan rasa lantas dirayakan dan diungkapkannya melalui imajinasi kreatif dalam aneka ritual dan upacara, dalam aneka olah bentuk, olah rupa, kata, gerak, dan nada; diukirnya pada batu, kayu, tubuh ataupun dinding gua.
Bahkan perang pun dirayakannya dengan dekor misteri hidup dan mati: dihiasnya tubuh, tombak ataupun perisai dengan warna-warni. Itulah cara manusia mengaitkan ruh kecil individualnya dengan Maha Ruh semesta. Alhasil dunia manusia adalah dunia “bentuk" yang diciptakannya, yang biasa kita sebut “kebudayaan”, atau pada tingkat lebih umum dan kolosal, “peradaban".
Dalam arti luas, “Seni' adalah segala upaya untuk memberi bentuk batiniah pada hidup dan semesta, berbagai cara membiakkan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa. Dan dunia yang diciptakannya itu diubahnya kembali setiap kali, karena perubahan situasi dan kondisi, tapi juga karena hidup memang sebuah proses “menjadi”, proses pertumbuhan ruh ke tingkat lebih halus dan lebih tinggi.
Maka dalam rentang evolusi peradaban yang panjang, jingkrak-jingkrak spontan kebahagiaan yang tak terkoordinasi berubah menjadi tarian, gerak komunikasi tubuh tanpa bentuk menjadi perilaku santun terpolakan, seruan rasa yang kacau menjadi bahasa pelik sarat gagasan, pencerapan ukuran diberinya bentuk matematis-geometris demi penghitungan.
Sistem-sistem nilai pun ditata ulang kembali, apa yang dianggapnya penting dan tak penting, yang baik dan buruk, dirumuskannya kembali setiap kali.
Dalam evolusi keagamaan misalnya, kekerasan, dari simbol kekuatan berubah menjadi isyarat kelemahan; sedang mereka yang lemah, awalnya dianggap sebagai pihak yang kalah, perlahan berubah, menjadi pihak yang wajib dilindungi, bahkan dianggap wajah suci sapaan Ilahi. Kekejaman pedang harus berhenti di hadapan lawan yang tak berdaya. Memaafkan menjadi lebih mulia daripada balas dendam, dst.
Demikianlah, seni, sebagai kepekaan terhadap misteri dan tendensi kreatif untuk membentuk kehidupan agar menjadi lebih manusiawi, akhirnya menghasilkan rasa “keberadaban", suatu tolok ukur umum evolusi kemanusiaan.
Tak mengherankan bila filsuf macam Friedrich Schiller menyebut tingkat tertinggi peradaban sebagai Aesthetic State, suatu situasi hidup bersama yang dikelola oleh rasa “keindahan terdalam". Di sana, katanya, peradaban adalah situasi di mana manusia sebagai Ruh semakin mampu memandang lebih dalam aspek ke-Ruhaniannya, di mana kekuasaan berubah menjadi kepedulian, nafsu menjadi komitmen cinta, hasrat serakah menjadi solidaritas, sedang kerendahan hati dan belarasa menjadi sesuatu yang sangat mulia. Bukankah hal-hal semacam ini pula yang diperjuangkan agama-agama?
Seni akhirnya adalah soal makin tajamnya kesadaran makna dan nilai di balik “bentuk", bentuk alam semesta, bentuk perilaku manusia, tapi juga bentuk sistem dogma, bentuk kehidupan bersama, dsb. Imajinasi kreatif yang menggerakkannya adalah juga imajinasi yang melahirkan ilmu dan teknologi, segala sistem kepercayaan dan sistem-sistem gagasan filsafati, artinya, yang membentuk seluruh gerak kebudayaan dan peradaban.
Maka dalam arti luas, seni adalah berbagai siasat untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas pengalaman, kesemestaan dan kemanusiaan. Pada titik ini “keindahan” (Latin: pulchrum) hanyalah kata lain untuk “kebenaran" (verum) dan “kebaikan" (bonum).
Meskipun demikian, pemaknaan atas misteri hidup bukanlah privilese agama saja. Filsafat adalah cara lain untuk merenungi hakikat dan misteri kenyataan. Berikut ini kita akan melihat keterkaitan dan perbedaan antara seni dan filsafat.
Dalam arti luas itu, filsafat memang adalah seni juga, seni dalam memainkan imajinasi-konseptual untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan penjelasan rasional ihwal hakikat terdalam kehidupan, diri, semesta dan Tuhan—hal-hal yang tak mungkin dijawab oleh sains (karena sains terbatas pada yang terukur dan terindra).
Maka jangan heran, bila ada seribu filsuf, ada seribu jawaban dan seribu cara pula untuk menjelaskan tentang hakikat terdalam itu. Filsafat pada akhirnya memang semacam permainan. Bila seni adalah permainan logika-imaji dan rasa, filsafat adalah permainan logika-konseptual.
Maka dari sudut sebaliknya, seni pun pada tingkat yang paling serius selalu bersifat filsafati: novel, film, lukisan, musik ataupun tarian yang berbobot selalu mengandung perenungan mendalam ihwal manusia, kehidupan, semesta dan misteri Ilahi.
Namun, dalam arti ketat dan sempit, filsafat memang berbeda dari sains ) maupun seni. Filsafat memikirkan persoalan-persoalan mendasar dan besar yang tak mungkin dipikirkan oleh sains, misalnya: asal dan tujuan hidup; mengapa alam semesta ini ada: apakah Tuhan itu ada; apa artinya 'mati'; siapakah sesungguhnya manusia, dsb.
Meskipun seni adalah juga renungan-renungan filsafati, namun seni tak berambisi menerang-jelaskan. Ia cukup melukiskan dan mengkomunikasikannya secara menyentuh. Sementara filsafat adalah pemikiran-pemikiran spekulatif yang memang bermaksud untuk menerang-jelaskan kenyataan keseluruhan secara masuk akal. Dan kemungkinan penjelasan itu memang selalu banyak, tak hanya satu. Kendati kerap sangat spekulatif dan sering tidak didukung bukti empiris, dalam kenyataannya filsafat telah menentukan kiblat-kiblat peradaban manusia secara mendasar dan konkret.
Filsafat Marx telah melahirkan negara-negara sosialis; filsafat John Locke dkk. telah melahirkan masyarakat Liberal Barat; filsafat Taoisme dan Konfusianisme telah menciptakan mentalitas masyarakat Asia Timur, dst.
Filsafat terutama mempunyai nilai khas dalam kemampuannya: 1. memetakan kait-mengait berbagai sisi kehidupan manusia secara keseluruhan (yang juga tak mungkin dilakukan oleh sains, sebab sains bersifat sektoral); 2. menyingkap persoalan-persoalan mendasar dunia manusia yang sering tersembunyi, pelik, dan kompleks; 3. membantu memerkarakan terus-menerus keyakinan-keyakinan dasar manusia agar tidak membeku, kerdil bahkan menjadi destruktif, serta agar manusia tetap melihat kemungkinan kebenaran lebih luas.
Dalam hal ini, seni membantu filsafat dengan cara membukakan kemungkinan-kemungkinan imajinatif baru atau memperkenalkan metafor-metafor baru, untuk dikelola lebih lanjut dengan nalar-konseptual diskursif oleh filsafat. Keterkaitan dunia seni dan filsafat memang sangat erat, sedemikian hingga dalam sejarah peradaban Barat, posisi, hakikat dan pelembagaan seni de facto ditentukan oleh interaksi ketat antara seni dan filsafat. Berikut ini adalah uraian lebih rinci mengenai hal itu. Di kemudian hari interaksi itu pula yang pada akhirnya justru melahirkan krisis di dunia seni Barat.
Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika, lulusan Universita San Tomasso, Roma, Italia. Mengajar di Fakultas Filsafat Unpar
Sumber:
Bambang Sugiharto, "Seni dan Dunia Manusia", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020, h. 15-41.