alt/text gambar

Minggu, 03 Mei 2026

,

7 Cara Mempertajam Fungsi Otak

Otak manusia memiliki potensi yang besar, tetapi potensi itu hanya berkembang jika dilatih dengan sadar. Kecerdasan bukan sekadar bakat, melainkan hasil dari kebiasaan berpikir yang terus diasah.

Secara filosofis, akal adalah alat untuk memahami kebenaran. Jika digunakan dengan baik, ia menjadi tajam; jika diabaikan, ia menjadi tumpul. Karena itu, diperlukan cara yang tepat untuk mempertajam fungsi otak.


1. Melatih berpikir reflektif setiap hari


Berpikir reflektif berarti meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang telah dialami. Dari refleksi, kita memahami makna di balik peristiwa.

Kebiasaan ini melatih otak untuk tidak hanya menerima, tetapi juga mengolah. Dari sinilah lahir pemikiran yang lebih dalam dan jernih.


2. Membaca secara aktif dan mendalam

Membaca bukan sekadar melihat kata, tetapi memahami isi dan maknanya. Otak dilatih untuk menghubungkan ide dan menarik kesimpulan.

Dengan membaca aktif, kemampuan analisis meningkat. Pikiran menjadi lebih tajam karena terbiasa mengolah informasi.


3. Mengajukan pertanyaan kritis

Setiap informasi perlu diuji melalui pertanyaan. Bertanya “mengapa” dan “bagaimana” membantu membuka pemahaman yang lebih luas.

Dengan kebiasaan ini, otak tidak mudah menerima sesuatu tanpa berpikir. Ini melatih kemampuan berpikir kritis secara alami.


4. Melatih fokus dan konsentrasi

Fokus adalah dasar dari berpikir yang baik. Tanpa fokus, pikiran mudah terpecah dan sulit memahami secara mendalam.

Dengan melatih konsentrasi, otak bekerja lebih efektif. Pikiran menjadi lebih jernih dalam menghadapi masalah.


5. Mengelola emosi saat berpikir

Emosi yang tidak terkendali dapat mengganggu kejernihan pikiran. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan emosi.

Dengan emosi yang stabil, otak dapat bekerja secara objektif. Ini membantu menghasilkan keputusan yang lebih bijaksana.


6. Belajar dari berbagai sudut pandang

Kecerdasan tumbuh ketika kita mampu melihat sesuatu dari banyak sisi. Ini memperluas cara berpikir.

Dengan memahami berbagai perspektif, otak menjadi lebih fleksibel. Pemikiran tidak sempit, tetapi terbuka dan mendalam.


7. Konsistensi dalam melatih pikiran

Kecerdasan tidak terbentuk secara instan. Ia membutuhkan latihan yang terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan konsistensi, otak terbiasa berpikir secara kritis dan terarah. Dari kebiasaan ini, lahir kecerdasan yang nyata.

Mempertajam fungsi otak adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan disiplin. Setiap kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa perubahan besar.

Otak yang terlatih adalah otak yang mampu berpikir jernih, memahami dengan dalam, dan bertindak dengan bijaksana dalam setiap aspek kehidupan.

Sumber: Fb

,

LEBIH JAUH DENGAN GOENAWAN MOHAMAD

(Kompas, 2 Mei 1999)


PENGANTAR REDAKSI

Goenawan Mohamad (58)—lengkapnya Goenawan Susatyo Mohamad—rasanya masih seperti 13 tahun lalu, ketika diwawancara untuk rubrik ini. Dia masih menyediakan perangkat tidur di ruang kerjanya, yang dipakainya bila menghadapi tenggat penerbitan majalah berita mingguan Tempo, yang dipimpinnya kembali, setelah sempat dihentikan penerbitannya di periode Orde Baru. Rubrik Catatan Pinggir juga kembali muncul secara teratur, dan mungkin akan menambah jilid penerbitannya yang sudah mencapai empat jilid.


Ucapannya saat pembukaan seminar tentang kemerdekaan media massa akhir Maret lalu di Istana Merdeka, juga mengingatkan kita bahwa ada yang tetap. Katanya, "...kekerasan yang terjadi di Ambon dan di Sambas tidak akan terhenti karena pers bebas. Tetapi, konflik sosial yang brutal di sana akan mudah terhindar seandainya sejak mula ada tempat untuk mendengarkan akal sehat yang dapat dipercaya, karena ia tidak berdusta dalam ketakutan, seandainya ada tempat untuk menimbulkan dialog yang jujur, ada sumber informasi yang andal untuk melawan kabar angin yang beracun..."


Sebuah ucapan dari sebuah wacana yang dirindukan dalam lingkungan kepemimpinan negara, tetapi tak kunjung terwujud. "Karena para pemimpin kita tidak pernah bicara dari hati," katanya.


Kesamaan bisa dibenarkan, tetapi juga benar bahwa banyak yang berubah. Selama Tempo belum terbit, ada perubahan sikap yang lebih jelas dalam dirinya dibanding sebelumnya, lebih-lebih dalam sikap—untuk mudahnya—menghadapi kesewenang-wenangan. "Perlawanannya" diwujudkan dalam banyak gerakan.


Ia ikut "membidani" Aliansi Jurnalis Independen, mendirikan Komite Independen Pemantau Pemilu, menyusun Institut Studi Arus Informasi. Goenawan bersama sejumlah tokoh reformasi, seperti Amien Rais, bergabung dalam Majelis Amanat Rakyat (Mara) yang ikut berjuang menuntut Soeharto turun dari jabatan kepresidenannya. Ia juga ikut serta membidani kelahiran Partai Amanat Nasional dan menyusun kepengurusan partai berlambang matahari bersinar itu, meski menolak duduk dalam kepengurusan.


“Sebagai wartawan, saya tidak bisa duduk dalam ertai, karena saya akan mengoreksi kalau PAN Jelek atau mendorong kalau PAN baik," tuturnya.


Kini, Goenawan juga terlibat dalam penulisan libretto untuk dua opera yang musiknya ditulis oleh Tony Prabowo yang dipesan oleh dua lembaga berlainan di Amerika Serikat, yaitu Calon Arang, dan Kali. "Sebetulnya saya menulis puisi saja. Mau dipakai boleh, tidak dipakai juga tidak apa-apa," Katanya.


Masa "gerilya" bagi Goenawan, adalah masa-masa indah. Di situ ia menemukan sosok-sosok manusia dalam keasliannya. Ketika harus kembali ke dunia "normal", dengan jabatan lamanya sebagai pemimpin redaksi, ia butuh waktu penyesuaian yang cukup. Toh, ia tetap berangan-angan melewati masa tuanya sebagai orang "bebas". Bebas dari segala obligasi yang rutin. la hanya ingin menjadi seorang penulis. Rencananya, tahun ini ia akan mengundurkan diri.


Dulu Anda pernah menyatakan tidak berminat lagi jadi pemimpin redaksi. Tetapi kenyataannya Anda tetap menjabat sebagai Pemred. Apakah Anda enjoy?


Ketika diputuskan untuk terbit lagi, saya sebenarnya tidak mau. Ini serius. Sebelum Tempo dibredel, saya sudah mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi. Apalagi setelah Tempo dibredel. Saya makin tua, kontak-kontak saya juga semakin habis. Saya sendiri ingin kembali menulis. Jadi sebenarnya ada keengganan bagi saya untuk memimpin Tempo lagi. Tetapi teman-teman meminta paling tidak dua tahun saya memimpin Tempo. Supaya ada kelanjutan. Saya bilang satu tahun. Tahun ini saya akan mengundurkan diri. 


Tugas sebagai pemimpin redaksi yang paling membuat saya muak ada dua. Pertama keharusan hadir dalam resepsi. Itu membuat capek. Harus bertemu pejabat, tersenyum-senyum. Kedua, mengurus personalia, karena setiap kantor ada konflik pribadi. Dulu Tempo punya Fikri. Yang resepsi dia. Yang ketemu pejabat, Margono atau Susanto. Saya, kalau bisa, tidak. Sekarang, karena reformasi, keharusan menemui pejabat dan resepsi tidak penting lagi. Jadi kami tidak perlu ketakutan dan harus tersenyum saat resepsi.


Saya pernah diundang almarhum Janer Sinaga waktu menjabat Dirjen PPG. Dia berbicara panjang lebar yang menurut saya nonsense, tetapi kami harus mendengarkan. Ibnu Sabil dari The Jakarta Post yang duduk di samping saya bilang, kita ini dosanya apa kok dihukum Tuhan mendengarkan percakapan seperti itu. Istri saya juga ada di situ. Ia bilang, masak hidup harus begini, harus ketakutan dan tidak bisa membantah omongan yang tidak bisa diterima. Sekarang ketakutan seperti itu tidak ada.


Setelah sekian lama tidak terbit, ada kecanggungan?


Ada. Kami sekarang ini latihan kembali. Bagi saya pribadi, kecanggungan itu ada. Di masa "gerilya" dulu, organisasi yang efektif lebih penting daripada organisasi yang rapi. Timnya juga lebih kecil. Mutu penulisan tidak sepenting efektivitas penulisan. Kalau Anda menyebarkan pamflet, yang penting asal menggugah pikiran. Bahasanya tidak teratur asalkan dapat menjadikan sebuah gerakan. Kini kami harus memperhatikan masalah-masalah yang tidak ada dalam "gerilya".


Dalam menulis Catatan Pinggir, kecanggungan itu ada juga, Selama tidak menulis di Tempo, saya banyak menulis di Kalam. Di Teater Utan Kayu (TUK), ide-ide dipergulatkan benar dan tidak harus populer. Di situ ada ketekunan, ada ketajaman yang mutlak. Menulis Catatan Pinggir kembali, rasanya seperti mempopulerkan beberapa hal yang mengurangi kebiasaan di Majalah Kalam atau diskusi-diskusi di TUK. Itu yang membuat saya canggung. Saya harus belajar kembali. Saya harus beradaptasi. Sekarang pun masih dalam proses. Banyak yang mengatakan bahwa Catatan Pinggir sekarang terlalu panjang, kurang puitis, membingungkan. Saya pikir betul juga. Saya memantau pendapat itu, tetapi saya belum menemukan bagaimana caranya. 


Di mana Anda merasa lebih "at home", di Tempo atau TUK?


Saya sekarang merasa at home di kedua tempat itu, karena tim anak-anak baru di Tempo ternyata chemistry-nya pas. Membentuk mereka dalam tim yang satu spirit ternyata lebih mudah. Saya tidak perlu membangun tim itu dengan extra effort. Sudah berjalan sendiri.


Setelah memasuki masa normal, apakah Anda tidak merindukan suasana selama "gerilya"?


Kerinduan itu ada. Di waktu "gerilya", kita menemukan manusia-manusia yang baik. Orang yang mau berkorban, meriskir hidupnya, kariernya, dan keselamatannya, justru di zaman Soeharto yang mau menunjukkan bahwa manusia bisa dibeli. Suatu rezim yang sangat sinis, rezim yang menganggap manusia rendah betul. Di masa "gerilya", saya menemukan pengorbanan yang tidak terbayangkan dalam organisasi bisnis. Mereka tidak berpik karier, tidak berpikir gaji, bahkan keselamatan.


Pernah suatu ketika malam. Lebaran, saya datang di kantor di Mampang. Malam-malam mereka menggoreng kacang mete. Menggoreng kacang mete kan lama sekali, bergantian. Saya tanya kenapa tidak beli saja. Mereka membeli yang mentah dan digoreng sendiri, karena harganya lebih murah, agar bisa dibawa ke penjara keesokan harinya waktu Lebaran.


Di masa "gerilya" kita menemukan mutu baik dari manusia Harapan itu tidak didapat dari luar diri kita atau dari masa depan yang tidak jelas. Harapan dibangun dengan perbuatan seperti itu. Setiap kali putus asa, saya ingat banyak orang baik. 


Apakah suasana itu masih terpelihara sekarang?


Masih terpelihara. Mungkin mereka yang tidak pernah “bergerilya, tidak pernah mengalami perjuangan mengubah karier mereka. Ahmad Taufik sudah melampui itu dan tanpa menjadi pahlawan.  


Bagaimana mengadakan diri sendiri dari suasana "gerilya” ke suasana normal merupakan suatu persoalan. Ada film yang baik untuk melukiskan suasana  itu, Lewat Jam Malam. Dalam film itu diceritakan bagaima seorang pejuang masuk di kantor tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa asing, merasa tidak bisa berbuat apa pun. Merasa mengalami alienasi. Saya pun melihat saat ini beberapa teman begitu. Masih belum mengadaptasi diri ke suasana normal.


Suasana "gerilya” adalah suasana tidak normal dan jangan dianggap normal. Kalau tidak…., moderasi, proses tawar-menawar, dan berembuk dengan “musuh”, tidak bisa dilakukan. Keharusan seperti itu belum sepenuhnya kami lewati. Misalnya, banyak yang masih sakit hati dengan mereka yang ada di Gatra dan Gamma. Saya sendiri tidak. Setelah Tempo terbit, semua soal itu selesai, meski saya bisa mengerti mereka yang sakit hati.


Pertemuan Goenawan dengan Presiden Habibie 23 Maret lalu bisa menjadi catatan. Pembredelan Tempo tahun 1994 ada kaitannya dengan pemberitaan yang menyangkut pembelian sejumlah kapal perang bekas Jerman Timur. Pemberitaan itu membuat Habibie marah. Namun, tak ada dendam pada Goenawan. Katanya, perbedaan pendapat tak perlu dibarengi dengan permusuhan. Yang ia lawan pada waktu itu bukanlah pribadi-pribadi, tetapi kesewenangan terhadap kemerdekaan pers.


Pertemuan Anda dengan Habibie punya makna khusus?


Tidak


Apakah itu bukan rekonsiliasi? 


Rekonsiliasi itu 'kan suasana kalau saya berperang dengan Habibie. Saya tidak berperang dengan Habibie, tetapi berperang melawan pembredelan. Kalau Ha-bible saat itu tidak melakukan pembredelan, tidak perlu saya lawan. Saya gunakan untuk berbicara (di Istana, Red), karena perjuangan itu tidak sama dengan jothakan, bermusuhan , dan tidak saling ngomong. Perjuangan termasuk di dalamnya negosiasi. Seak Orba, kemampuan untuk bernegosiasi telah dihilangkan. Pilihannya: Anda dikooptasi atau melawan habis-habisan. Itu dalam suasana tidak normal. Dalam suasana normal harus ada perundingan, negosiasi. Jadi anggap saja saya berunding dengan Belanda... 


Apakah Anda sudah memaafkan Habibie?


Tidak jelas apakah Habibie (yang waktu itu) membredel. Menurut apa yang sudah saya dapatkan dan telah saya katakan, yang membredel Tempo adalah Soeharto. Bahwa Habibie marah dan ingin membawa perkara ini ke pengadilan dan Tempo harus didenda—sehingga karena itu bangkrut—memang iya. Namun yang membredel Soeharto, bahkan Harmoko tidak. Akan tetapi problemnya bukan pribadi-pribadi. Saya tidak ada permusuhan pribadi dengan Soeharto, terutama karena dia juga tidak kenal sama saya. 


Kembali soal kemampuan bernegosiasi dan jothakan tadi? 


Penyebabnya soalnya pribadi, mempersonalkan perbedaan pendapat, dan permusuhan dalam prinsip. Kultur itu berkembang karena pemerintahan mengalami personalisasi. Misalnya, kalau Soeharto datang dalam suatu perkawinan, Ali Sadikin dicegah. Padahal perkawinan adalah bukan ruang publik untuk berdebat atau bermusuhan. Namun Soeharto menganggap itu bagian kehidupan, menjadi semacam l'etat c'est moi. Semua jadi pribadi. Yang publik jadi pribadi. Kita harus mulai meniadakan itu. Harus dimulai.


Kemampuan bernegosiasi itu tampaknya sudah tidak ada pada bangsa ini?


Perlu waktu untuk meniadakan keadaan selama 32 tahun tanpa negosiasi. Pemilu 1955 tidak ada perkelahian. Saya pernah ingat pada awal Orba, beberapa pemimpin PNI dan bMasyumi yang dulu bermusuhan makan bersama, bersilaturahmi. Itu yang tidak ada sekarang. Kepahitan ini yang harus dibetulkan. Bersikap pahit pada pengorbanan-pengorbanan politik, saya kira itu penting. Itulah yang kadang-kadang saya sesalkan ketika berbicara Lekra atau Pramoedya. Kita ini semuanya, seperti di dalam skripsi Soe Hok Gle, bahwa yang kiri yang kanan semua bekerja untuk Tanah Air. Mencari yang terbaik bagi rakyat.


Mengapa dalam soal ini peradaban kita tidak maju-maju?


Yang saya sayangkan dari Orde Baru, di antara yang banyak saya sayangkan, adalah rendahnya perdebatan. Hilangnya inspirasi dari ka- ta-kata. Mutu perdebatan rendah karena, pertama, birokrasi yang berkuasa cenderung mengulangi klise-klisenya sendiri. Kedua, kalau ada perdebatan mereka diam atau menindas, sehingga tidak terjadi suatu perdebatan. Akibatnya, bukan saja pemerintah menjadi bisu dan kaku, tetapi juga yang mengritik harus mengulangi apa yang dikatakan berhari-hari. Tap repetisi ide-ide tidak mengembangkan ide-ide itu, karena kata-kata tidak diucapkan dari hati dan untuk hati.


Soeharto pidato, teksnya dibikinkan, kadang-kadang hanya menerima pesanan saja. Ia tidak berbicara. Kalau begitu bagaimana ia menumbuhkan keyakinan dan inspirasi kepada orang lain? Pidato hanya bagian dari bunyi-bunyian upacara, sama dengan gong, keplok, kadang-kadang nyanyian. Sekarang ini kombinasi. Kadang-kadang Habibie lepas dari teks. Hal ini sebenarnya menyenangkan, tetapi sering mencemaskan, karena ia cenderung tidak mau mendengarkan pendapat orang.


Suasana di pemerintahan Orde Baru tidak ada perdebatan. Di zaman Soeharto sidang kabinet adalah paseban (seperti suasana menghadap raja—Red). Para menteri seba, melapor, sesudah itu selesai. Di masa Habibie saya dengar ada perdebatan, meski perdebatan itu belum sampai melembaga dengan ada parlemen dan pengadilan yang bagus.


Bagaimana kebebasan pers saat ini?


Saya kira pada akhirnya akan ada seleksi. Paling tidak dari seleksi pasar. Kita tahu bahwa media massa pada akhirnya tidak hanya diciptakan oleh redaktur, tetapi juga pembacanya.Tidak mungkin pembaca tidak ikut bergabung dalam menciptakan media massa. Bagaimana pembaca dan pasar membentuk media massa di masa depan itu tergantung dari distribusi pemasaran, dan kehidupan ekonomi di masa depan. Setiap minggu, ada majalah yang dipilih oleh pembaca. 


Mengenai mutu pers, sangat tergantung dari beberapa hal. Pertama, kecerdasan pembaca Kalau oplah seluruh penerbitan pers 10 juta, pembaca 50 juta, bisa diasumsikan pembacanya masih merupakan elite dalam masyarakat. Maka, seleksi mutu lebih terjaga terjadi. Pembaca Indonesia umumnya kritis pada yang dibacanya.


Faktor kedua yang menentukan mutu pers adalah tradisi pengelolaan pers itu sendiri. Sebetulnya kita berbangga karena tradisi pers di Indonesia adalah tradisi pers yang cerdas, bagian dari perjuangan, dan bertolak dari komitmen untuk membentuk suatu masyarkat yang lebih baik. Sebagian besar pers Indonesia didirikan oleh bekas wartawan bukan bisnis. 


Di bawah Undang Undang Pokok Pers, yang dimaksudkan untuk melindungi pers, justru intrusi orang-orang bisnis ke dunia pers terjadi. Namun itu karena ada kolusi waktu itu, dengan Harmoko. Sekarang, kita lihat banyak orang menerbitkan pers. Pertimbangan bisnisnya sangat sedikit. Karena kalau dilihat dari pertimbangan bisnis, tidak ada orang berani menerbitkan pers. Pada umumnya pertimbangannya adalah eforia kebebasan berpendapat. 


Apakah Anda tidak khawatir kebebasan pers yang ada sekarang akan berakhir seperti pada awal Orde Baru?


Supaya jangan kembali seperti Orba institusi harus diperkuat. Cara memperkuat institusi, mutu personal harus diperbaiki. Harus ada latihan-latihan jurnalistik,harus ada media watch yang strict melaksanakan etik. Setiap surat kabar mempunyai pengawas etik ke dalam. Ada kejujuran dalam memberitakan. Dengan begitu, kemerdekaan bukan semacam kemewahan, Pers ditugaskan untuk merdeka.


Wartawan juga harus menuntut kepada partai-partai politik yang akan bertanding, ada tertulis atau tidak, komitmen mereka pada kebebasan pers. Kalau tidak, perlu dicurigai. Ini perlu untuk meyakinkan bahwa kemerdekaan pers adalah untuk manfaat semua orang, bukan untuk pers sendiri.


Bagaimana dengan ancaman kebebasan pers dalam bentuk pengerahan massa?


Itu yang harus dihadapi. Ignas Kleden pernah mengatakan, problem dari civil society bukan hanya menyangkut negara, tetapi menghendaki juga toleransi masyarakat. Kalau somasi bisa saja dihadapi. Kalau demonstrasi mengancam, membakar bahkan merusak, itu sudah teror. Sama buruknya dengan tentara-tentara yang mengepung kantor redaksi. Dan untuk itu harus ada penyadaran dan perlawanan.


Untuk melawan, kita harus berani. Kedua, harus punya teman. Ketiga, kita harus ikut memperkuat proses yang normal hukum dan parlemen. Memang tidak semuanya akan bergabung dalam aliansi melawan permusuhan/kebencian, tetapi ada yang mau bergabung. Ini yang belum diusahakan.


Solidaritas itu biasanya hanya di tingkat perusahaan, pemimpin redaksinya. Padahal yang perlu justru wartawannya. Solidaritas wartawan kuat, tetapi mereka tidak melakukan organisasi. Kalau hanya lobi antar Pemred, tidak akan berarti. Yang diperlukan justru solidaritas wartawan Dan untuk itu harus ada penyadaran dan perlawanan. Yang membahayakan kalau kita tunduk pada ketakutan. Pada akhirnya kita harus melawan.


Pengalaman selama "gerilya" mengajarkan, kehilangan pekerjaan juga tidak apa-apa. Bahkan masuk penjara juga tidak apa-apa,  asalkan tidak luka parah. Demo ke redaksi memang akan jadi problem namun mudah-mudahan menjadi rutin. Kalau sudah rutin, akan dianggap sebagai protes biasa saja. Tetapi itu berarti perjuangan kebebasan pers tidak bisa dilakukan sendirian. 


Pewawancara:


P Bambang Wisudo 

JB Kristanto 

Myra Ratna M 


Sumber: Kompas, 2 Mei 1999

, ,

Seputar Hermeneutika

Bambang Sugiharto, Hermeneutika

Hermeneutika dalam Sastra 


Dalam perkembangan seni rupa, khususnya, orang akhirnya menyadari bahwa seni pada akhirnya adalah soal tafsir. Di dunia teater dan sastra pun, pada awalnya, yang dianggap penting adalah si penulis atau seniman itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, dalam kajian sastra, reaksi pembaca menjadi hal yang juga penting. Ini tidak lagi disebut sebagai writerly text, tetapi readerly text, atau lebih tepatnya, efek yang ditimbulkan pada pembaca. 

Dalam aliran pos-strukturalisme, yang muncul adalah pemahaman bahwa pembaca memiliki peran penting dalam menafsirkan karya, bahkan bisa dikatakan pembaca itu menulis ulang teks tersebut. Dengan kata lain, saat kita membaca sebuah cerpen atau novel, kita secara tidak langsung menulis ulang cerita tersebut dalam pemahaman kita sendiri. Ini mengubah tekanan yang semula pada penulis menjadi pentingnya interaksi pembaca dengan teks. Pembaca, dalam hal ini, bukan hanya menerima apa yang ditulis, melainkan juga berperan aktif dalam menafsirkan dan menghidupkan teks itu. Bahkan, pembaca disebut sebagai pihak yang menulis ulang, atau dalam pos-strukturalisme disebut sebagai writerly reading. Dalam hal ini, pembaca juga menjadi hal yang sangat penting. 

Pemikiran hermeneutika, yang awalnya berfokus pada metodologi, berkembang menjadi hermeneutika filosofis yang membawa perubahan besar dalam cara berpikir. Hermeneutika filosofis ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Martin Heidegger, HansGeorg Gadamer, dan Jean Paul Gustave Ricoeur, yang menyelami tafsir tidak hanya dalam teks, tetapi dalam seluruh cara kita memahami dunia. 

Ini adalah revolusi besar yang memengaruhi hampir setiap bidang pemikiran, memperkenalkan pemahaman baru tentang bagaimana makna dibentuk dan ditafsirkan.

Bambang Sugiharto, Hermeneutika: Pengantar Ringkas, Bandung: Mizan, 2025, h. 33-34

***

Hermeneutika sebagai Proses Pembebasan dari Ilusi Keyakinan 

Menurut berbagai pandangan, berpikir kritis bisa dilihat sebagai hal positif bagi zaman sekarang. Manusia menjadi lebih sadar akan kemampuannya, semakin mengetahui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak. Ini bisa mengurangi kesombongan. 

Melalui perenungan kritis, manusia juga mulai menyadari kerumitan dan kompleksitas dirinya. Kesadaran akan hal inilah yang biasa disebut sebagai kedewasaan. Ketika seseorang semakin dewasa, dia semakin menyadari bahwa meskipun merasa hebat dalam beberapa hal, dalam sisi-sisi lain dia pun lemah. Ini adalah bagian dari kematangan, yaitu kemampuan untuk melihat banyak sisi diri yang lebih rumit dan ambigu, termasuk sisi-sisi yang mungkin buruk. Manusia dan kehidupan memang mengandung banyak paradoks: ia pada dasarnya baik sekaligus buruk, bahkan bisa menjadi jahat. 

Hal ini juga berlaku dalam pandangan kita terhadap orang lain. Kita bisa saja mengagumi seseorang, tapi seiring dengan perjalanan waktu, kita mungkin menyadari bahwa orang yang kita kagumi ternyata memiliki sisi yang sangat negatif. Sebaliknya, seseorang yang kita anggap buruk bisa saja menjadi menarik jika kita melihat sisi-sisi lain dari dirinya. 

Kemampuan untuk melihat banyak sisi ini adalah tanda kedewasaan, karena kita mulai menyadari bahwa dunia ini tidak hanya hitam dan putih. Sebelumnya, kita mungkin melihat dunia sebagai sesuatu yang sederhana—sesuatu yang jelas dibagi menjadi yang baik dan buruk, suci dan dosa. Namun, semakin lama hidup, semakin banyak yang kita alami. Kita menyadari bahwa dunia ini jauh lebih kompleks dan sering kali sangat sulit untuk menilai sesuatu dengan tegas. 

Hermeneutika, dengan cara tertentu, mencerminkan proses kematangan ini. Ini adalah sebuah bentuk evolusi kesadaran yang membawa kita ke tingkat pemahaman lebih dalam, baik sebagai individu maupun sebagai peradaban.

Hermeneutika mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dengan lebih terbuka, memahami relativitas, serta mengklarifikasi ilusi-ilusi yang sebelumnya kita yakini sebagai kepastian. 

Orang yang telah mencapai tahap kematangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun perjalanan spiritual, tidak lagi melihat dunia dengan pola pikir yang sederhana. Banyak orang yang telah mencapai tahap makrifat—seperti para sufi atau mistikus justru terkesan menjadi lebih permisif dalam menilai, tidak mudah menyatakan ini baik atau buruk. Mereka mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih longgar terhadap norma-norma yang selama ini kita anggap sebagai aturan yang pasti. Orang-orang yang lebih fundamentalis sering kali tidak bisa memahami hal ini dan justru marah terhadap pandangan semacam itu. Mereka mungkin bahkan menganggap pandangan seperti itu “rusak" atau “kehilangan prinsip”. 

Sebenarnya secara ilmiah, menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral juga menggambarkan proses pendewasaan yang serupa. Dalam teori moralitasnya, tahap yang paling tinggi adalah tahap universalis, yaitu saat seseorang tidak lagi terjebak dalam norma-norma yang kaku dan tidak lagi sibuk menilai atau mengkritik. Mereka melihat dunia dengan pemahaman yang lebih luas dan lebih longgar. 

Ini adalah tahap yang dicapai oleh tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Jalaluddin Rumi, yang melihat dan bertindak di luar kerangka norma yang terbatas. Dari perspektif ini, tahap tersebut bisa dianggap sebagai puncak kematangan individu, dan dalam konteks peradaban, mungkin ini adalah tahap menuju kematangan yang lebih luas. 

Sains, agama, seni, dan seluruh bidang lainnya kini dipaksa untuk mempertanyakan apa mereka sebenarnya dan apa pentingnya mereka dalam konteks dunia yang semakin berubah. Ini adalah proses yang penting, karena memungkinkan kita untuk mengevaluasi ulang semua yang kita yakini dan memberikan ruang bagi pemahaman yang lebih kompleks tentang dunia.

Hermeneutika, dalam konteks ini, menjadi kunci untuk menghadapi tantangan zaman dan bagaimana kita bisa merumuskan kembali pemahaman kita tentang berbagai bidang tersebut. Namun, bagi mereka yang masih terikat pada pandangan konvensional, proses ini bisa sangat mengguncang. Banyak orang mungkin merasa terancam atau bahkan bingung dengan cara pandang baru ini. 

Akhirnya, yang menjadi inti dari hermeneutika adalah untuk membantu kita melihat kenyataan yang lebih besar dan lebih kompleks. 

Bambang Sugiharto, Hermeneutika, h. 50-53

***


Sabtu, 02 Mei 2026

AI vs Imajinasi Manusia

Pagi ini saya membaca catatan S. Satya Dharma di Facebook, tentang perlakuan kekuasaan terhadap kesusastraan di daerahnya, Medan, kota di mana saya pernah belajar.

Saya berkomentar begini: Barangkali sastra akan menemukan kematiannya yang penuh tangis setelah imajinasi sastrawan dibajak AI (kecerdasan buatan). Penemuan yang agaknya sama membinasakannya dengan ditemukannya mesiu dan bom atom. Tak ada lagi kehilangan yang lebih berharga daripada sirnanya imajinasi, intuisi.

Untuk pertama kali saya mendengar seorang teman  dari Australia, yang duduk di sebelah saya, di Beranda Rakyat Garuda, Jakarta. Ucapnya, ‘Kau kasi saja ide cerita dan bagaimana penutupnya’, AI akan menuliskannya dengan segera, lebih ligat daripada kita mengganti kertas baru di atas mesin ketik.

Martin Aleida (status Fb) 

, ,

Filsafat: Sebuah Refleksi atas Keterbatasan Setiap Klaim Manusia tentang Kebenaran

 

Bila dengan "filsafat" dimaksudkan "sistem-sistem pemikiran besar", maka kini paling banter ia hanya bisa dilihat sebagai konstruksi tentatif tentang dunia atau dalam peristilahan Stephen Pepper, suatu "World Hypothesis". Meskipun demikian, dibandingkan dengan wacana metaforis dalam arti sempit, wacana filosofis masih bisa dianggap memiliki perbedaan tegas oleh sebab ia lebih memiliki "kekuatan penjelasan” (explanatory power) ketimbang wacana metaforis. Itu adalah berkat kecenderungannya yang kuat ke arah ”univositas” konsep. Tetapi di sisi lain ”univositas” tidaklah sama dengan ”transparansi” dalam merepresentasikan realitas murni, bagai cermin. Univositas hanyalah strategi untuk membangun ruang-logika, yang penting untuk "menjelaskan” realitas. 

Persoalannya kemudian apakah univositas itu memang selalu tercapai? Ini soal lain. Dalam kenyataannya hasil dari berbagai tegangan tadi umumnya adalah sebuah "wacana hibrida” dengan terminologi yang licin dan selalu mengelak. Dan itulah filsafat, ia adalah wacana hibrida, antara ekuivositas dan univositas, namun toh masih dapat dikatakan memiliki kemampuan ”penjelasan” lebih ketimbang "pelukisan”, sebab memang betapapun juga ia berintensi besar untuk bergerak dengan logika dan univositas. 

Betapapun ekuivokalnya filsafat, ia toh tidak sama dengan puisi ataupun novel. Filsafat selalu dibangun atas dasar keinginan untuk "menjelaskan” kenyataan dan bukan sekedar melukiskan. Dan kendati memang membawa ambiguitas, ditambah lagi statusnya yang "hipotetis” saja (yang notabene tak bisa diverifikasi ataupun difalsifikasi secara ketat), toh filsafat masih sangat berguna terutama untuk mengorganisasikan dan memperluas pemahaman kita tentang dunia, manusia dan kehidupan itu sendiri dari sudut berbagai kemungkinan penafsirannya.

Namun dari sudut hermeneutik, filsafat tak selalu mesti berarti "sistem pemikiran besar yang menyeluruh”, melainkan dapat pula berarti sekedar "refleksi kritis yang hendak memahami berbagai cara manusia memahami dunianya”. Dari sini kita masuk ke tataran ketegangan yang kedua. 

Pada tataran yang kedua, filsafat sebagai hermeneutik berurusan lebih dengan berbagai bentuk manifestasi pemahaman manusia tentang dunianya. ltu berarti ia berurusan terutama dengan berbagai permainan-bahasa yang digunakan manusia untuk memahami kenyataan hidupnya. Permainan-bahasa di sini dapat berarti: berbagai ilmu, sistem nilai, sistem logika, bahkan berbagai ideologi, dst. Pada tataran ini filsafat mengalami tegangan di antara beragam permainan-bahasa itu. Namun di antara berbagai permainan-bahasa itu filsafat dapat dilihat sebagai ”netral” dalam artian bahwa ia tidak pertama-tama berurusan dengan nilai-kebenaran dari berbagai permainan bahasa itu, melainkan berurusan pertama-tama dengan pola atau model yang digunakan oleh berbagai pemahaman dalam beragam permainan-bahasa itu. Kalaupun kemudian filsafat bicara juga tentang nilai-kebenaran, itu lebih merupakan implikasi dari proses hermeneutik tadi. 

Yang khas dalam filsafat sebagai hermeneutik adalah bahwa pada akhirnya ia merupakan pengenalan reflektif atas keterbatasan setiap klaim manusia tentang pengetahuan, dan atas aspek relatifitas historiko-kultural dari setiap bentuk wacana manusiawi. Kesadaran atas keterbatasan-keterbatasan ini adalah kunci untuk dialog dan kerjasama antarmanusia. Itu sebabnya filsafat sebagai hermeneutik dapat berperan sangat penting dalam memajukan dialog antar permainan-bahasa yang berbeda demi terciptanya saling pemahaman timbal-balik dan saling memperkaya satu sama lain dengan konsep yang makin luas tentang dunia, manusia dan kehidupan ini. Dengan kecenderungannya untuk berhati-hati terhadap segala klaim tentang kriteria ”universal”, hermeneutik memajukan rasa hormat atas keunikan dan otonomi setiap budaya dan nasion. Namun dalam kenyataan, antara yang partikular dan yang universal sebenarnya tak perlu dipertentangkan secara diametrikal pula. Bukankah semakin kita mengenal dan menghormati yang partikular kita justru dapat melihat dan memahami yang universal juga? Semakin kita memahami yang banyak kita justru semakin mengerti yang satu? Tetapi keyakinan macam ini barangkali hanya bisa dianggap sebagai horizon eskatologis saja. 

(I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2001, h. 165-166) 

Jumat, 01 Mei 2026

Metafor dalam Pandangan Davidson


Masih ada pendapat lain yang perlu diperhitungkan, yaitu dari Donald Davidson. Perspektif Davidson memang agak lain, yaitu yang telah kita sebut perspektif "metafilosofis”. Bagi Davidson memahami metafor dari sudut semantik belaka akan menyesatkan kita. Di wilayah semantik istilah ”makna” cenderung dipersempit ke pola perilaku linguistik yang baku. Padahal, menurut Davidson, "makna” adalah terutama soal "penggunaan”, yang medan kemungkinannya sangatlah luas dan rumit, dan senantiasa bergerak meluas ataupun menyempit. Jadi, bertentangan dengan Ricoeur, bagi Davidson metafor justru berada secara khusus di wilayah ”penggunaan” bahasa. Metafor, karena tak mungkin diterjemahkan secara literal persis, justru berada di luar medan semantika ”makna”. Metafor karena itu harus dilihat lebih sebagai "peristiwa aneh”, peristiwa yang menyebabkan kita terpaksa mengubah keyakinan dan keinginan serta merangsang kita untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia. Metafor bukanlah pertama-tama "ungkapan” pengetahuan tentang dunia melainkan "sumber” yang melahirkan pengetahuan itu. Namun di sini metafor bukanlah hanya dalam bentuk pernyataan linguistik lengkap. Ia bisa juga berupa sobekan sebuah puisi yang menggetarkan jiwa, rangkaian kata tak lengkap yang senantiasa mengiang-ngiang tak kunjung hilang, beberapa adegan film yang diam-diam mengubah pandangan hidup dan perilaku kita, dsb. 

Itulah sebabnya, bagi Davidson, metafor tak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa literal. Berhadapan dengan metafor kita tak sepenuhnya memiliki sarana yang memadai untuk memahaminya. Bahkan bila memahami itu berarti ”menafsirkan ke dalam skema yang telah ada sebelumnya”, maka metafor tak bisa dipahami atau pun ditafsirkan. Tetapi kalau "memahami” berarti menggunakan skema pengertian yang ada sekedar sebagai alat bantu, maka memahami metafor bisa dilihat seperti memahami suatu fenomena alam yang tidak biasa. Di sini kita memahaminya justru dengan mencari kemungkinan untuk merevisi skema-skema pengertian awal tadi.

Nah, karena metafor bisa juga dalam bentuk-bentuk nonlinguistik, maka bagi Davidson metafor tak bisa dianggap memiliki "isi kognitif” dalam artian tegas. Metafor tidak mengatakan sesuatu secara langsung, melainkan secara tak langsung ia menyebabkan kita menyadari sesuatu dan berpikir ke arah tertentu. Jadi metafor pada dirinya sendiri tak memiliki "isi kognitif” melainkan merangsang kegiatan-kegiatan kognitif yang penting.

Karena itu pula kalaupun metafor dianggap dapat melegitimasikan suatu keyakinan maka itu hanya bisa dilakukannya dengan cara metaforis juga, ibarat kalau orang menyodorkan sebuah foto dan mengatakan: "Nah, sekarang kamu percaya?” Demikian maka yang terjadi hanyalah proses ”menjadi”, dari tak disadari menjadi disadari, dari tak diketahui menjadi diketahui. Maka dalam hal ini tidak diperlukan penjelasan metafisik tentang bagaimana kata-kata dalam metafor itu bekerja atau bagaimana ”kebenaran” muncul dari metafor. Davidson mengatakan: "Pada saat kita memahami suatu metafor, kita dapat saja menyebut hal yang kita tangkap itu 'kebenaran metaforis' dan mengatakan bahwa makna metaforis adalah ini atau itu.”

Kini sudah saatnya untuk membuat refleksi kritis atas semua pendapat tadi. Kita mulai saja dengan konsep tentang "realitas” dan bahasa. Saya setuju dengan Madison bahwa konsep kita tentang realitas pada dasarnya tergantung pada bahasa itu sendiri. Konsep kita tentang struktur kategorial realitas pada dasarnya memang dimungkinkan oleh bahasa. Tetapi anggapan dasar semacam ini tidaklah mesti melahirkan suatu kesimpulan bahwa pada akhirnya kenyataan "ekstralinguistik” itu tidak ada sama sekali. Dalam peristilahan tradisional, di sini ada kerancuan berlebihan antara ordo cognoscendi dengan ordo essendi, katakanlah antara tatanan pengetahuan dengan tatanan kenyataan aslinya. Dalam hal ini Ricoeur mungkin lebih proporsional, sebut baginya kenyataan ekstralinguistik itu bagaimana pun memang ada meskipun tidak kita ketahui persis "apa”-nya. Bahwa kenyataan itu "ada” kita tahu oleh sebab memang ada sesuatu yang dikatakan oleh bahasa. Sedang tentang "apa"-nya yang "ada” itu memang benar amat erat terajut dalam bahasa, sehingga yang kita tahu hanyalah kenyataan sejauh dikatakan. 

Bagi saya kenyataan bahwa kita "tahu” bahwa realitas itu ada sebetulnya lebih muncul dari pengalaman primordial kita, yaitu berupa "pengetahuan-lewat-pergaulan” dan bukannya berupa ”pengetahuan-lewat-penyimpulan”. Dengan istilah Whitehead, ini adalah pengetahuan melalui "prehensi”, yang lebih bersifat intuitif. Jalan yang dipakai Ricoeur melalui penelitian atas kemampuan reflektif bahasa, saya anggap komplementer terhadap hal ini. Lebih lanjut tampaknya keyakinan kita tentang adanya kenyataan ekstralinguistik ini memang hanya dapat dianggap sebagai kategori terakhir dalam horizon konseptual kita. Tanpa kategori itu fungsi dan nilai bahasa tak bisa dimengerti samasekali. Sedang kenyataan murni yang sesungguhnya pada dirinya sendiri memang tak bisa kita ketahui. Dalam hal ini, meskipun atas dasar alasan yang berbeda, omongan Kant memang masih berbunyi, dalam arti bahwa klaim tentang adanya realitas ekstralinguistik itu hanya memiliki status sebagai postulat saja. Karenanya masih dapatlah dikatakan bahwa ordo essendi tetaplah ada, meski yang dapat kita bicarakan selalu terbatas pada apa yang dapat dikatakan saja alias terbatas pada ordo cognoscendi saja. Yang dapat kita perbincangkan memang hanyalah "kenyataan yang diperkatakan” dalam bahasa. 

Keyakinan macam di atas itu pada gilirannya mengimplikasikan bahwa segala pernyataan tentang "apa”-nya kenyataan memang jadi bersifat kontingen, serba terbatas. Namun wacana pengetahuan tidak lantas tidak bernilai, sebab wacana itu meski terbatas toh menampilkan pula aspek-aspek tertentu setiap kali dari kenyataan, atau memiliki korelasi tertentu dengan kenyataan. Pengetahuan yang serba dibatasi perspektif linguistik kita sendiri itu, karenanya, tetaplah bernilai sekurang-kurangnya untuk merumuskan pengalaman pergaulan kita dengan dunia, memahami kekuatan dan keterbatasannya, menyiasati keberadaan kita, dan akhirnya memperluas wawasan kita tentang dunia manusia dan posisi kita dalam alam semesta. 

Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 151-153


TERBARU

MAKALAH