alt/text gambar

Kamis, 14 Mei 2026

,

JALALUDDIN RAKHMAT: "TIDAK PERLU MENJADI SYIAH"




SAYA temukan dia di reception room--duduk di kursi sambil memutar untaian tasbih kecil di pangkuannya. la memakai serban Persia dan jubah Arab, seperti yang biasa dipakai oleh para mullah di Iran atau Iraq. Wajahnya yang bersih dan kelihatan ramah mengundang saya untuk mendekatinya. Setelah berbasa-basi sebentar, tahulah saya mullah bercambang lebat ini bernama Luthfullah Ash-Shafi. Begitu disebut nama itu, saya segera terkenang buku Ihsan Il lahi Zhahir, Asy-Syiah was Sunnah. Namanya disebut berkali-kali dalam buku itu.

"Ya Syaikh, ma'a ihtirami lakum, saya mendengar kabar bahwa Anda orang-orang Persia memilih syi'ah dengan maksud untuk menghancurkan Islam, karena dendam Anda kepada Sayyidina Umar bin Khatab ra, atau Arab yang menaklukkan negeri Anda". Saya berusaha menangkap ekspresi wajahnya. Biasa. Tidak terkejut, juga tidak marah Tampaknya ia membenarkan kabar. itu atau menerima dakwaan itu. Beberapa saat kemu dian ia tersenyum.

Ya akhi, ma'a ihtirami lil 'arab wa taqdiri lahum, Saya bangga saya menguasai bahasa Arab dan sanggup menulis dalam bahasa itu, sebagus saya menulis dalam bahasa ibu saya, bahasa Persia; walaupun saya tidak memiliki ijazah magister dalam bahasa Arab. Saya menganggap bumi Arab tanah yang suci. Saya jadikan Arab kiblat saya. Saya cium tanahnya yang pernah di injak Nabi Islam walaupun orang melarang saya. Saya ingin tulang-tulangku dibenamkan di tanah suci dan dibangkitkan dari situ juga

Wa ma'a dzalik walaupun begitu, saya ingin menyatakan bahwa Arab tidak beriman kepada Muhammad, kecuali setelah dakwah Islamiah. mengetuk telinga mereka. Maka berimanlah kaum muslimin yang pertama yang memiliki kemuliaan dan ketinggian karena menjadi pelopor keislaman. Tetapi sebagian yang lain bahkan kebanyakan masuk Islam belakangan. Banyak di antara mereka yang masuk Islam (setelah Futuh Makkah); menerima Islam karena takut dan bumi sudah sempit buat mereka.

Ada seseorang yang masuk Islam dengan petunjuk akalnya, la tinggalkan negerinya untuk mencari kebenaran. Ditemukannya segala kesulitan dan marabahaya. Sampai ia menemukan kebenaran itu. pada diri Muhammad Saw. la beriman - padanya dan menjadi sahabatnya yang setia la memberikan petunjuk yang bijaksana pada perang Khandaq, juga pada peristiwa lainnya. Nabi yang mulai membalasnya dengan penghargaan yang luhur: "Salman min ahlil bait" Inilah kebanggaan orang Persia.

Orang Persia masuk Islam bukan karena ditaklukkan orang Arab. Mereka mendengar Islam yang mengajarkan persamaan dan Kasih Sayang kebenaran dan keadilan, agama yang menyatakan: Tidak ada kelebihan bagi orang Arab di atas orang Ajam, orang putih di atas orang hitam, agama yang menegaskan tidak ada lagi Kisra sesudah hari ini Orang Persia melihat Salman, orang rantau, menjadi ahli bait Nabi. Ia melihat Ammar bin Yasir, budak hitam, menjadi sahabat setianya. Ia menyaksikan Bilal, orang Afrika yang ucapan sin-nya dihitung sebagai syin oleh Rasul dan dijadikan muadzinnya. Maka masuklah orang-orang Persia ke dalam Islam dan berjihad secara ilmi dengan mengembangkan ilmu hadist, fiqh, adab, nahwu, kedokteran, syair, fisika, dan sebagainya.

Tetapi dengan otaknya yang jernih, ia melihat Islam. tidak dicerminkan pada perilaku penguasa-penguasa Islam Istana-istana para khalifah ternyata jauh dari ajaran Islam dan ajaran Muhammad. Kisrawiyah yang diperangi Nabi bahkan muncul pada Mu'awiyah dan i putra-putri Marwan Orang Persia melihat unsur kesu kuan menyebar di tengah-tengah umat, yang membeda kan antara Arab dan mawali, antara Adnaniyah dan Mudhariyah. Mereka menyaksikan harta kaum muslimin digunakan untuk foya-foya dan maksiat.

Mereka tidak melihat Islam di istana yang gemerlapan. Mereka menemukan Islam (sambil mengutip ucapan Ihsan Ilahi Zhahir) pada "orang-orang yang berlindung di gua-gua, menutup dirinya, dan bersembu nyi di lubang-lubang".

Mereka melihat Islam pada Ali Zainal Abidin yang mengangkut karung makanan di punggungnya dan membagikannya pada orang-orang miskin, bukan pada Hisyam bin Walid yang menggenggam kekuasaan; pada Musa bin Ja'far yang pindah dari penjara yang satu ke penjara yang lain, bukan pada Harun al-Rasyid yang menyeret orang hanya karena kecintaannya pada keluarga Nabi, pada Al-Hadi yang tinggal bersama orang-orang miskin di Samira, bukan pada penguasa yang meminum khamar di pesta-pesta.

Berpalinglah orang Persia pada ahli bait- keluarga Nabi yang ditindas dan dikejar-kejar, karena mereka tahu ahli bait lebih tahu tentang apa-apa yang berada di dalam keluarga Nabi. Mereka mendengar hadits yang mengamanatkan Al Qur'an dan keluarga Nabi, yang suci. Ke situlah orang-orang Persia menyimpan hati mereka" 

la berbicara cepat sekali. Saya berkali-kali ingin menyelanya dan gagal Untunglah kemudian datang Asy-Syaikh Jawad-Mughniyah, alim dari Libanon yang sudah sava kenal sebelumnya Luthfullah berhenti sebentar. Saya ceritakan kepadanya apa yang tengah kami perbincangkan. Saya sebutkan beberapa kecaman tentang orang Persia dan Syi'ah yang ditulis oleh Ihsan Ilahi Zhahir.

Syaikh Jawad Mughniyah menarik nafas panjang Seperti mengeluh, ia berkata: "Di dunia ini segala hal berubah kecuali tulisan yang menentang Syi'ah Segala permulaan ada ujungnya, kecuali tuduhan terhadap Syi'ah. Segala vonis harus berdasarkan bukti kecuali vonis terhadap Syi'ah Mengapa? Apakah Syi'ah itu pembuat onar atau pembikin kekacauan, yang hanya in gin mengganggu orang? 

Saya segera menukas, "Maaf, saya kira Anda bermubalaghah. Kebencian pada Syi'ah ada juga ujung nya Lihatlah Dr. Ahmad Amin, sebagai misal. Pada Fairul Islam, ia melukiskan Syi'ah. sebagai produk Yahudi,

PANJI MASYARAKAT NO 513

Drs. Jalaluddin Rakh mat, M.Sc., adalah dosen pada Fakultas  Komunikasi dan Pasca Sarjana, Univer sitas Padjadjaran (Un padi dan Institut Tekno logi Bandung (ITB) Tamat dari Fakultas Pur blisistik Lopad (1976) kemudian melanjutkan studi bidang Penelitian Komunikasi di lowa State University (19821 dan memperoleh Master of Science dengan tesis berjudul A Model for the Study of Mass Media Effects on Political Leaders

Walaupun saya mengaku tidak bermazhab. Tetapi karena seperti -Syaltut saya berusaha mendekatkan Sunni dan Syi'ah, orang menganggap saya Syi'ah

Cap Syi'ah dikenakan pada saya, hanya karena saya mengatakan bahwa Syi'ah adalah saudara kita seagama, bahwa kita dapat belajar banyak dari mereka, seperti juga mereka dari kita."

"Saya dengar", sela Jawad Mughniyah, "Para ulama Indonesia mencemaskan timbulnya kelompok

kelompok Syi'ah di perguruan tinggi di Indonesia".


"Sebetulnya sulit mencari Syi'ah di mana pun di Indonesia, yang mereka cemaskan sesungguhnya orang

orang seperti saya; yang ingin mengembangkan

wawasan melewati batas-batas mazhab tradisional,

yang ingin menghidupkan semangat ukhuwwah bukan

saja dalam ucapan, tetapi juga dalam pikiran dan amal.

Bagi kami, tidak ada Sunni dan Syi'ah. Yang ada ialah

Islam". Aku berkata penuh semangat


Syaikh Luthfullah tersenyum. "Tidak semua orang

akan menanggapi Anda seperti itu. Anda boleh masuk

salah-satu organisasi Zionisme, dan rekan-rekan Anda

tidak akan apa-apa. Anda sebut Syi'ah agak positif,

orang akan mengucilkan Anda. Karena semangatnya

untuk mempersatukan umat, Syaltut dicemoohkan dan

diejek orang. Ihsan Illahi Zhahir menyebutnya sebagai

orang tua yang terkecoh oleh tipudaya orang Syi'ah." 

Sebuah buku diterbitkan. Judulnya: Tanbihul Imam li

khuruji Syaltut minal Islam (Peringatan pada imam,

karena keluarganya Syaltut dari Islam). Sebuah negara

Islam menghentikan bantuan keuangan pada Dr. Kalim

Siddiqui di Muslim Institute, London, karena ia menulis

baik tentang Syi'ah, padahal Siddiqui adalah Hanafi."

Hal yang sama terjadi pada Ismail Faruqi, karena ia dan

istrinya menghadiri Seminar Al-Qur'an di Iran"


"Betul, sampai sekarang saya berada dalam posisi

yang bingung. Orang menyebut saya Syi'ah, padahal

saya berpegang pada ushul dan furu Ahlu sunnah. Orang

menuduh saya propagandis mut'ah, padahal hukum

mut'ah tidak saya ketahui. Akibatnya, Sunni menolak

saya dan Syi'ah tidak mengakui saya Ngomong

ngomong (sambil melirik Syaikh Jawad Mughniyah,

penulis Al Figh alal Madzahib Al Khamsah)

bagaimana sebetulnya fiqih Syi'ah itu?"


Syaikh Jawad Mughniyah tersenyum, "Akhi, saya

tidak menghendaki Anda menjadi Syi'ah. Jadilah

Sunni yang baik. Lagipula, bukanlah perbedaan paham akan memperkaya wawasan kita. Pada suatu

hari seseorang mendatangi Imam Ja'far As-Shadiq

meminta makanan. Murid-muridnya memperbincangkan dan mencela orang itu yang meminta makanan sebelum mengucapkan salam. Imam Ja'far mencela perbincangan itu la menegaskan bahwa fiqihnya mengajurkan memberi makanan dahulu dan

baru memperbincangkan salam.  Inilah fiqih Ja'fari.

ya akhi atasi dahulu keterbelakangan dan kesengsaraan kaum muslimin. Setelah itu barulah kita

berdebat tentang masalah furu'.


Bandung. 10 Agustus 1986

Rabu, 13 Mei 2026

,

FEODALISME DAN NEO-FEODALISME DI JAWA

(TEMPO, No. 11 Thn. VIII, 13 Mei 1978)


Oleh: ONGHOKHAM


Bisakah kita membicarakan struktur "feodal" di Jawa?

Para ahli sejarah Eropa abad pertengahan tentu akan menentangnya. Sebab sistim feodal di Jawa lain dari di Eropa. Bila di Eropa lembaga kerajaan (pusat) dapat berkembang selama ratusan tahun, maka di Jawa dinasti dan pusat kerajaan hanya bertahan 100 tahun lebih sedikit. Jadi keadaan politik Jawa jauh lebih tidak stabil. Lembaga-lembaga masyarakat juga tidak mencapai perkembangan yang penuh.

Konsepsi feudum, yaitu penguasaan atas daerah karena itu rupanya tidak berkembang di Jawa. Kekuasaan golongan penguasa selalu didasarkan atas jumlah pengikut (kalangan petani). Pengikut para pangeran ini diikat dengan tuan-tuan mereka dalam konsepsi "bersatunya kawula dan Gusti", atau bawahan dengan atasan. Kehendak gusti (yang-di-pertuan) otomatis harus jadi kehendak pengikutnya.

Melihat keterikatan macam ini dan adanya suatu masyarakat berstruktur priyayi dan wong cilik (rakyat), menyebabkan kita mungkin dapat berbicara mengenai feodalisme di Jawa. Dan seperti di Eropa, susunan dan ikatan ini di Jawa juga diberikan legitimitas oleh agama. Imobilitas sosial dan juga imobilitas orang tidak hanya mau dijadikan kenyataan, tetapi juga dipastikan sebagai ajaran ideologi. 

PETANI DAN ANI-ANI

Namun apakah golongan bangsawan Jawa, para pangeran dan priyayi, juga pada asalnya berfungsi sebagai militer seperti di Eropa? Dengan kata lain, bagaimana posisi militer dari priyayi Jawa untuk mempertahankan previlesenya?

Gambaran kita sekarang mengenai priyayi adalah bahwa mereka itu terutama pejabat. Yang terakhir ini berkembang dalam zaman kolonialisme sebetulnya. Padahal kebanyakan dinasti dan kraton di Jawa didirikan dengan kekerasan, melalui pemberontakan terhadap negara yang ada. Jadi ada suatu kehadiran militer dari kalangan bangsawan. Istilah ksatria bagi para bangsawan Jawa menunjukkan juga fungsi kemiliteran mereka itu.

Namun apakah para bangsawan Jawa juga memiliki monopoli atas peralatan militer? Para bangsawan Jawa rupanya tidak pernah memiliki benteng ataupun pakaian besi seperti di Eropa. Paling ada tameng dan pakaian kulit yang harus melindungi badan terhadap senjata. Kulit kerbau atau sapi tentu tidak se-eksklusip seperti pakaian baja. Tapi kuda dan gajah rupanya dipakai dalam peperangan. Ini tentu dapat mengakibatkan suatu kasta militer tertentu, yang menguasai masyarakat.

Sementara itu, kalau kita teliti alat pertanian di Jawa, (bahkan di Asia Tenggara), sedikit sekali terdapat alat yang bisa dipakai sebagai senjata. Paling-paling ada parang dan arit (sabit). Parang yang dimiliki petani biasa sebagai senjata rupanya tidak demikian efektip. Arit, alat panen yang di Eropa sering jadi senjata para petani dalam menghadapi golongan bangsawan dan dipakai dalam pemberontakan petani, di Jawa (Indonesia) diganti dengan ani-ani. Ani-ani tentu tidak bisa dipakai sebagai senjata. Ani-ani tidak demikian efisien seperti arit namun di Jawa alat ini tetap dipertahankan, mungkin demi menjaga stabilitas susunan masyarakat dalam kasta-kasta. Sebab ekonomi tidak pernah menjadi perhitungan para bangsawan.

Toh pada dasarnya hanya ada perbedaan sedikit saja antara alat perang para petani dan golongan bangsawan di Jawa. Jadi, berlainan dengan di Eropa. Tapi di Jawa monopoli atas persenjataan pada akhirnya berkisar pada konsepsi "senjata pusaka". Senjata pusaka yang dimiliki para bangsawan dikabarkan sebagai senjata ampuh. Berikut cerita soal kekebalan terhadap senjata, pada akhirnya kelebihan itu memberikan posisi lebih pada golongan bangsawan Jawa.

Tentu saja dongeng mengenai keampuhan pusaka dan kekebalan orang, biarpun sangat mengesankan, pada akhirnya bisa tidak berdaya. Dalam hal lain ada satu bidang dalam peperangan yang tidak dapat dimiliki petani, dan hanya dikuasai para bangsawan, yaitu strategi perang. Strategi perang zaman kerajaan Jawa berarti formasi-formasi ketentaraan. Pembentukan formasi dan penggunaannya memerlukan kepemimpinan dan semacam disiplin ketentaraan. Hal yang terakhir ini tak dimiliki para petani.

Kelebihan semacam itu menopang susunan masyarakat feodal (berkasta) di Jawa seperti juga di Eropa.

NEO-FEODALISME DAN POLITIK ELITE

Zaman feodalisme merupakan sampai kini bagian terbesar dalam sejarah umat manusia. Di Eropa zaman itu berlangsung selama hampir 1000 tahun, sedangkan "zaman modern"nya hanya sejak abad ke-18 – tidak lebih banyak dari pada 200 tahun. Mungkin karena itu orang juga melihat semacam segi positif dari zaman tersebut. Bukankah manusia pada zaman feodal dikabarkan hidup serasi dengan lingkungan masyarakat dan alam? Bukankah kalau ideologi dan pandangan sekarang cenderung mengajarkan konflik, maka dalam zaman feodal justru harmoni yang dipetuahkan dan dipraktekkan? Bukankah orang sekarang bilang konflik membawa kemajuan, tapi dulu itu toh dianggap hanya menyebabkan keresahan?

Warisan dan idealisasi zaman feodal sering menyebabkan usaha untuk menghidupkannya kembali. Di pihak lain, usaha itu dikecam oleh para pengritiknya. Inilah yang disebut sebagai "neo-feodalisme". Di satu pihak elite zaman sekarang, seperti elite pada umumnya, ingin mencari hubungan dengan masa lampau untuk memberikan kesan bahwa zaman sekarang ini adalah suatu kontinuitas dengan zaman dahulu yang dengan sendirinya memberikan kesan stabilitas. Di lain pihak para pengritik elite itu akan menamakan mereka "feodal", sesuatu yang jelek.

Di Asia, keadaan warlordisme Tiongkok sebelum revolusi 1949 juga sering disebut keadaan neo-feodal. Di negara Asia lain, yang disebut neo-feodal ialah permainan politik di sekitar elite dan istana. Permainan ini hanya bersifat perebutan kedudukan, sehingga dapat dilukiskan sebagai faksionalisme, bukan politik yang menyangkut persoalan luas masyarakat serta melibatkan masyarakat ke dalamnya. Permainan politik yang bersifat faksionalisme itu menyerupai peperangan antara keluarga-keluarga bangsawan abad pertengahan.

Namun segala gejala dan usaha feodalisme kembali tidak dapat menutupi perubahan fundamentil yang telah terjadi. Manusia sudah mengerti kepentingan diri sendiri dan menuju ke pembangunan, entah untuk dirinya sendiri atau masyarakat. Kesadaran akan kepentingan ini, membawa ke konflik. Dan konflik dengan sesama manusia dan alam di sekitarnya dilihat sebagai satu-satunya jalan yang membawa ke arah pembangunan. Neo-feodalisme tidak lain dari pada suatu imitasi yang kosong, atau snobisme belaka.

Sumber: TEMPO, No. 11 Thn. VIII, 13 Mei 1978


Senin, 11 Mei 2026

,

Koperasi Merah Putih: Infrastruktur Elektoral?

Oleh: Made Supriatma


KDMP Adalah Infrastruktur Elektoral: Pemerintahan Presiden Prabowo-Gibran pada awalnya sangat bersikeras dalam soal efisiensi. Anggaran-anggaran kementerian dipotong. Transfer ke daerah juga dipotong. Pokoknya, peras apa yang bisa diperas. 

Apakah ini artinya pemerintahan tambah irit? Jelas tidak. Ini bukan austerity measures atau langkah penghematan seperti yang dilakukan oleh banyak negara yang kesulitan keuangan. Banyak negara pernah mengalami ini. 

Pada tahun 2008, pemerintah Yunani mengalami krisis hutang yang hebat. Pemerintah tidak transparan atas beban utang yang ditanggungnya. Akibatnya, pemerintahan mengalami defisit luar biasa. Tidak ada orang mau investasi dan semua orang mau lari. 

Akibatnya, pemerintah tidak bisa bayar pegawai. Tidak bisa memperbaiki fasilitas umum yang rusak. Tidak bisa membayar subsidi-subsidi yang sebelumnya dinikmati oleh hampir semua orang. Tidak bisa menarik pajak karena semua orang menghindar dari membayar pajak. 

Yunani menjadi lumpuh. Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah minta bantuan IMF dan Bank Sentral Uni Eropa. Mereka yang menstabilisasi ekonomi Yunani dengan langkah-langkah pengiritan yang luar biasa. Pajak-pajak dinaikkan. Subsidi dipangkas. Pegawai-pegawai negeri yang membebani keuangan negara di PHK. Hal-hal yang non esensial dipangkas. 

Indonesia juga mengalami itu pada 1997 seiring dengan krisis ekonomi Asia. Hidup menjadi sangat sulit. Pemerintahan Soeharto dengan Orde Barunya tumbang karena itu. 

Jika dilihat dari sisi kebijakan, pemerintahan Prabowo sekarang ini jelas tidak sedang melakukan austerity measures atau penghematan. Memang benar anggaran dipangkas. Namun itu bukan dalam rangka penghematan. Itu adalah PENGALIHAN anggaran untuk membeayai program-program yang menjadi prioritas mereka.  

Utak-utik anggaran ini berlangsung secara masif. Misalnya, konstitusi mengamanatkan agar 20% APBN adalah untuk pendidikan. Oleh pemerintahan yang sekarang ini, kuota untuk pendidikan itu tidak dikurangi. Hanya saja, di dalam 20% itu ada komponen Makan Bergizi Gratis yang sangat besar. Ini karena program MBG dilihat sebagai komponen pendidikan. 

Demikian juga dengan Dana Desa. Jumlahnya tahun 2026 sebesar Rp 60,5 triliun. Dana Desa ini tetap ada dalam APBN. Namun Menteri Keuangan memotongnya secara langsung untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. 

Di website Kemenkeu dinyatakan bahwa (saya kutip langsung): 

1. plafon Pinjaman paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) per KKMP/KDMP termasuk yang dipergunakan untuk Belanja Operasional, paling banyak sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

2. tingkat suku bunga/margin/bagi hasil kepada Penerima Pinjaman sebesar 6% (enam persen) per tahun;

3. jangka waktu (tenor) Pinjaman paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan;

4. masa tenggang (grace period) Pinjaman selama 6 (enam) bulan atau paling lama 8 (delapan) bulan; dan

5. periode pembayaran angsuran dilakukan secara bulanan.

Akibatnya, rakyat desa tidak lagi menerima utuh Dana Desanya. Setiap bulan. Kemenkeu mencicil Rp 50 juta per desa. Dalam 72 bulan, pembayaran lunas sebesar Rp 3,6 milyar per desa (dengan bunga 6% per tahun). Akumulasi Dana Desa yang dialihkan selama 6 tahun adalah Rp 363 triliun!

Anggaran Dana Desa dipotong Rp 50 juta per bulan. Apakah KDMP bisa menghasilkan laba Rp 50 juta sebulan? Jelas tidak. Koperasi ini didirikan oleh negara dan diharapkan berusia sepanjang segala abad. 

Satu KDMP itu akan dioperasikan oleh sebelas orang pegawai. Pengeluaran untuk pegawai saja, dengan estimasi minimal (manajer 3 juta; ketua pengurus 2 juta; sekretaris dan bendahara @1,5 juta; serta pengurus non-harian 500 ribu; dan uang duduk rapat 250 ribu), itu akan berjumlah 10 juta per bulan. Ditambah bea operasional lain: listrik, air, bensin, sopir, dll. dipatok 5 juta. Maka seluruh beaya tetap per bulan sudah 15 juta. Ini sangat, sangat minimal dan hampir tidak realistis. 

Untuk pengeluaran 15 juta per bulan, KDMP harus menghasilkan keuntungan Rp 500 ribu per hari. Jika marjin keuntungan 15% saja, yang untuk retail sudah sangat, sangat bagus, maka per hari omzet yang harus didapat adalah 7,5 juta. Satu gerai IndoMulyono atau AlfaMartono omzetnya ya sekitar itu kalau di tempat ramai dan di tempat strategis. 

Terus bagaimana dengan 50 juta cicilan dari Dana Desa itu? Ya anggaplah itu uang hangus. Itu dibayarkan oleh pemerintah. Rakyat desa tidak usah memikirkan itu. Hanya saja, sekarang tidak akan ada lagi dana untuk perbaikan jalan, perbaikan saluran, dana pemeliharaan ini dan itu, dana pendidikan (guru ngaji, dll.). 

Nah, bagaimana KDMP ini akan dikelola? Pemerintah lewat PT Agrinas Pangan (masih ingat BUMN yang impor ratusan ribu mobil dari India, dan nanti dari Jepang dan Korea ini?) akan merekrut pegawai-pegawai yang menjalankan KDMP. Untuk tahap pertama akan direkrut 35.476 orang. Mereka ini akan menjadi Manajer Koperasi. Gajinya antara 3-8 juta per bulan. 

Mereka ini nanti akan menjadi bagian dari Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Sama seperti koordinator SPPG di dalam program MBG, mereka akan dilatih sebagai Komponen Cadangan (Komcad) sebelum bertugas. Jadi mereka akan dilatih kemiliteran di Rindam seluruh Indonesia. 

Selama dua tahun, para pegawai KDMP ini akan menjadi pegawai BUMN dibawah PT Agrinas Pangan. Total pegawai KDMP itu nantinya kira-kira 880 ribu (11 pegawai x 80,000 KDMP). 

Bagaimana setelah dua tahun? Menteri Koperasi mengatakan bahwa setelah dua tahun, pegawai KDMP akan menjadi pegawai PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu). Nah, waktu tertentu ini yang belum jelas. 

Akankah koperasi ini berhasil dari sisi bisnis? Untuk saya, keberhasilannya adalah keajaiban. Selain itu, jika pegawai semua ditopang oleh pemerintah -- berhasil atau tidak berhasil toh mereka akan tetap digaji -- maka keberhasilannya akan lebih mustahil lagi. Tidak ada insentif bagi para pegawai ini untuk menaikkan keuntungan koperasi atau bahkan menjalankannya secara serius sebagai sebuah lembaga ekonomi. 

Bukankah mereka sudah dilatih secara militer sehingga nasionalisme mereka tidak diragukan? Ah, mbel! Kata orang Bantul. Orang-orang paling nasionalis dan paling saleh adalah juga yang paling korup dan malas!

Sebenarnya apa sih tujuan pemerintahan ini membuat koperasi, yang jelas-jelas tingkat keberhasilannya nyaris nol persen? Ah, masak sih nol persen? Iya! Bahkan koperasi yang diresmikan Presiden Prabowo pada Juli tahun lalu sudah tutup kok. 

Saya kira, tujuannya adalah membuka bisnis retail di tingkat desa. Pemerintah ingin mengontrol distribusi khususnya barang-barang yang dianggap strategis -- bibit, pupuk, pestisida atau sarana produksi pertanian; juga distribusi gas subsidi; juga obat-obatan; juga kredit dan kesehatan. Ini semua nanti akan disalurkan langsung tanpa pedagang perantara sehingga, secara teori, akan lebih murah. 

Tapi bukankah itu akan merusak jaringan ekonomi rakyat di desa? Mematikan warung-warung kecil dan pasar tradisional? 

Nah itu harus ditanyakan kepada pembuat kebijakannya. Saya belum pernah melihat mereka membuat studi tentang dampaknya. 

Ada lagi tujuan lain? Ya jelas ada. KDMP ini adalah infrastruktur elektoral. Ia adalah alat untuk mobilisasi dalam pemilu. Partai penguasa pernah menyuruh kader-kadernya untuk masuk dan menguasai kepengurusan KDMP. 

Bisa Anda bayangkan 11 orang dengan penghasilan tetap di setiap desa? Ditambah kerjasama mereka dengan Babinsa karena mereka adalah juga Komcad? Bahkan jika Kepala Desa tidak mau tunduk sekali pun, mereka bisa langsung ke pemilih. Apalagi nanti kalau Bansos disalurkan lewat KDMP. 

Jadi, ini bukan penghematan. Juga bukan pemborosan karena yang dibikin adalah dampak elektoralnya. Bukan dampak bisnisnya. Memang KDMP ini tidak masuk akal dari sisi ekonomi. Tapi mereka tidak berpikir ekonomi. Mereka berpikir bagaimana bisa berkuasa selamanya dan mendapat sebanyak-banyaknya. 

Siapa yang kalah dalam sistem ini? Ya rakyat desa. Tapi nanti akan dikompensasi dengan beras 10kg, gula, minyak goreng. Nanti mereka akan lupa. Setelah pemilu pun mereka tidak akan ingat. Hanya bisa meratap, merenung nasib, sambil berseru, "Rejeki sudah ada yang ngatur." Dan tidak akan pernah sadar bahwa rejeki mereka dihisap oleh "yang ngatur" itu.

Sumber:

https://www.facebook.com/share/p/17sMQVYvzX/

,

7 Cara Agar Otak Cerdas

Ilustrasi


Otak manusia seperti taman yang harus dirawat dan dilatih setiap hari. Jika terus digunakan untuk belajar, berpikir, dan merenung, kemampuan berpikir akan berkembang menjadi lebih tajam dan matang.

Secara filosofis, kecerdasan bukan hanya bawaan lahir, tetapi hasil dari kebiasaan berpikir yang terus dilatih. Orang yang cerdas biasanya tidak berhenti belajar karena mereka memahami bahwa pengetahuan selalu dapat diperluas.

1. Membiasakan diri membaca buku

Membaca membantu otak mengenal banyak ide, pengalaman, dan cara pandang baru. Dari membaca, pikiran belajar memahami dunia secara lebih luas.

Ketika seseorang membaca secara rutin, kemampuan memahami, menganalisis, dan mengingat akan berkembang. Buku menjadi latihan penting bagi kecerdasan berpikir.

2. Menulis dan merenungkan pengalaman hidup

Menulis membantu pikiran menyusun ide dengan lebih teratur. Ketika seseorang menulis, otak belajar menghubungkan pengalaman dan pengetahuan.

Refleksi diri juga membantu memahami kesalahan dan pelajaran hidup. Dari sini tumbuh kebijaksanaan dan kedewasaan berpikir.

3. Berdiskusi dengan orang yang memiliki wawasan luas

Diskusi membantu otak melihat sudut pandang yang berbeda. Dari percakapan yang baik, seseorang belajar memahami ide dengan lebih mendalam.

Ketika berdiskusi, kemampuan berbicara dan mendengarkan juga berkembang. Ini membantu otak menjadi lebih aktif dan reflektif.

4. Melatih diri untuk berpikir kritis

Berpikir kritis berarti tidak langsung percaya pada semua informasi. Otak dilatih untuk bertanya, mencari alasan, dan memahami fakta secara mendalam.

Kebiasaan ini membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Pikiran menjadi lebih tenang dan tidak mudah dipengaruhi.

5. Mengurangi kebiasaan menerima informasi secara berlebihan tanpa seleksi

Terlalu banyak informasi yang diterima tanpa dipahami dapat membuat pikiran lelah dan sulit fokus. Otak membutuhkan ketenangan untuk berpikir dengan baik.

Karena itu, penting memilih informasi yang bermanfaat dan memberi waktu bagi pikiran untuk memahami sesuatu secara mendalam.

6. Menjaga kesehatan tubuh dan pola hidup

Otak bekerja lebih baik ketika tubuh sehat. Tidur yang cukup, makanan bergizi, dan olahraga membantu menjaga fungsi otak tetap optimal.

Jika tubuh terlalu lelah dan tidak dirawat, kemampuan fokus dan berpikir juga dapat menurun. Kesehatan fisik dan kecerdasan saling berkaitan.

7. Membiasakan diri menghadapi masalah dengan tenang

Masalah adalah bagian dari kehidupan yang dapat melatih cara berpikir manusia. Orang yang tenang saat menghadapi kesulitan biasanya lebih mampu mencari solusi.

Ketika otak dilatih menghadapi tantangan secara bijaksana, kemampuan berpikir kritis akan berkembang secara alami. Dari sini lahir ketahanan mental dan kecerdasan hidup.

Mengasah otak membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Kecerdasan sejati tidak muncul secara instan, tetapi tumbuh melalui latihan berpikir dan belajar setiap hari.

Otak yang benar-benar cerdas adalah otak yang terus terbuka terhadap ilmu, mampu berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan dengan bijaksana untuk kehidupan yang lebih baik.

Sumber: Fb

#ilmufilsafat

,

Tentang Qunut Atau tidak Qunut Saat Shalat Jama'ah

Ulil Abshar-Abdalla


Sebetulnya saya tidak mau mengungkit soal qunut ini. Sikap saya dalam soal ritual satu ini sederhana: mau qunut atau tidak qunut saat salat Subuh, itu terserah; masing2 punya dalilnya sendiri2. Yang diperlukan adalah sikap saling menghormati. Toleransi internal di dalam tubuh umat Islam, itulah yang jauh lebih penting dikembangkan. 

Sementara itu, saya melihat sebuah fenomena yang "menarik" sejak dulu hingga sekarang saat jama'ah salat Subuh, terutama di masjid2 tertentu di Jakarta. Fenomena ini tidak saya jumpai di kampung, sebab di sana kehidupan keagamaan relatif homogin: misalnya, di kampung2 Jawa, hampir semua warga muslim ya NU, dan karena itu qunut semua. Sementara di perkotaan, komposisi sosial masyarakat lebih heterogen dan "hybrid" karena itu lalu muncul fenomena yang akan saya ceritakan di bawah ini. 

Saat salat Subuh berjama'ah, saya kadang melihat fenomena ini: seorang imam melakukan qunut, lalu sebagian makmum, karena mengikuti mazhab tidak qunut, diam saja dan tidak mengikuti imam. Saat imam selesai qunut dan sujud, baru dia ikut "bermakmum" kembali. 

Dalam kasus seperti ini, makmum bersangkutan seolah2 "mufaraqah" atau memisahkan diri dari jama'ah beberapa saat lalu "masuk kembali" beberapa saat berikutnya. Dengan kata lain, jika memakai bahasa era digital saat ini, si makmum itu "sign out" sebentar dari jama'ah, lalu "sign in" kembali. 

Pertanyaannya: apakah tindakan "sign out" seperti ini tepat dalam tata cara berjama'ah? Menurut pendapat saya, dan anda boleh tidak sepakat dengan saya: tindakan seperti ini kurang pas, untuk tidak mengatakan keliru. 

Pagi ini, sebagai kegiatan rutinan sebelum JJS (jalan-jalaj sehat), saya membaca Sahih Muslim, dan berjumpa dengan bab "Babu al-Nahyi 'An Mubadarat al-Imam bi al-Takbir wa Ghairihi" (bab tentang larangan bertakbir mendahului imam dan tindakan lain selain takbir). Ada tiga hadis di sana, dengan "kandungan makna" yang sama, dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah melalui pelbagai "jalur" (thariqah). 

Saya kutipan salah satu riwayat itu yang sudah sering kita dengar selama ini. Bunyi riwayat itu: "Innama ju'ila al-imamu li yu'tamma bihi". Artinya: seseorang dijadikan imam karena untuk diikuti. Bunyi hadis itu selanjutnya: jika dia takbir, bertakbirlah; jika ruku', ruku'lah; jika ia berucap "Sami'a-l-Lahu liman hamidah," maka katakanlah, "Rabbana wa laka al-hamd."

Hadis lain dalam bab ini berbunyi: "Innama al-imamu junnatun, fa-idza shalla qa'idan fa-shallu qu'udan" (imam itu laksana benteng; jika ia salat sambil duduk, duduklah kalian). 

Inilah "algoritma" atau kaidah dalam salat berjamaah yang diajarkan Nabi, dan, bagi saya, ini sangat masuk akal. Dalam ajaran ini, seorang imam diangkat sebagai imam untuk diikuti oleh makmum. Tidak bisa seorang makmum, di tengah-tengah salat jamaah, melakukan tindakan "sign out" lalu melakukan sesuatu yang berbeda dengan si imam, misalnya tidak ikut qunut. 

Menurut pandangan saya, sesuai dengan algoritma kenabian dalam konteks salat jama'ah ini, jika anda kebetulan seorang warga NU dan bermakmum kepada imam yang tidak qunut, maka anda tidak boleh "sign out" lalu berdiri sendirian untuk qunut beberapa saat. Begitu pula jika kebetulan anda warga Muhammadiyah dan bermakmum kepada imam yang  qunut, anda ndak boleh "sign out, " lalu berdiri saja tanpa mengikuti qunut-nya imam. 

Langkah seperti itu sejatinya seperti sebuah "pembangkangan," tindakan "bughat" kecil-kecilan dalam konteks berjamaah. 

Sebab, innama ju'ila al-imamu li yu'tamma bihi; seseorang dijadikan imam ya karena untuk diikuti. Buat apa seseorang jadi imam jika tidak diikuti. Tugas makmum adalah mengikuti segala gerak-gerik imam. Bahkan dalam hadis yang lain dikatakan: anda tidak boleh berkata "amin" sebelum imam mengatakan "amin" terlebih dahulu. 

Tentu saja "tidak boleh" di sini bukan dalam pengertian haram, melainkan sunnah saja. Artinya, jika anda melanggar algoritma ini, tidak berarti salat atau jamaah anda batal. Tidak sama sekali. Cuma, kurang afdal saja; menyalahi algoritma salat jama'ah yang diwedarkan Kanjeng Nabi. 

Demikian pendapat saya. 


,

Arah Pendidikan Doktoral


Oleh  I Wayan Suartana   


Beberapa tahun terakhir, muncul gejala yang semakin sulit diabaikan: jumlah lulusan doktor meningkat, lulusan dengan pujian (cum laude) juga meningkat, malah terkesan inflasi, tetapi relevansi penelitian mereka terhadap dunia nyata—berbagai ekosistem—relatif sering dipertanyakan. Skeptisisme berkembang dan dampaknya pun diperdebatkan. Di tengah ekonomi yang bergerak cepat, geopolitik dan ekonomi tak menentu, keseimbangan semu disrupsi teknologi, dan kebutuhan solusi praktis yang mendesak, pertanyaan mendasar pun muncul, untuk siapa sebenarnya pendidikan doktoral diselenggarakan? Bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan administratif dan substansi?


Program doktoral (S-3) di Indonesia diatur dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 9. Program ini berada di jenjang tertinggi yang menuntut kompetensi penelitian dan luaran yang mendalam, penciptaan pengetahuan/teknologi dan seni baru, serta pendekatan multi dan transdisiplin. Itulah rumusan normatif yang menjadi acuan dalam membentuk dan menghasilkan doktor yang mumpuni. Dengan masa studi tepat waktu tiga tahun, luaran berupa hasil riset yang bermakna penyelesai masalah sering mengalami trade off, sementara sinyal pasar—tidak selalu berorientasi ekonomi—bergerak dinamis. Standar luaran mestinya tegak lurus dengan standar proses. Pengayaan proses menghasilkan lulusan yang ”kaya”.


Di sisi lain, pada abad ke-21 kita menyaksikan pergeseran paradigma dalam pendidikan doktoral seiring ekonomi global yang semakin menuntut penelitian yang menghasilkan baik wawasan teoretis maupun nilai praktis (Panta dan Thapaliya, 2025). Di berbagai negara, meskipun doctor of philosophy (PhD) tradisional tetap menjadi landasan utama keilmuan akademik, kemunculan doktor profesional atau doktor terapan—seperti doctor of business administration (DBA), doctor of education (EdD), dan doctor of engineering (EngD)—telah mendefinisikan ulang tujuan dan cakupan pembelajaran doktoral.


Program-program ini mengintegrasikan ketelitian akademik dengan penerapan profesional sehingga memungkinkan basis praktisi untuk menangani persoalan dunia nyata yang kompleks melalui penyelidikan, observasi berbasis dampak. Resonansi doktoral yang berkelanjutan akan bergantung pada integrasi praktik reflektif, augmentasi teknologi, dan kemitraan lintas sektor untuk menghasilkan pemimpin yang mampu menciptakan pengetahuan dengan dampak sosial dan ekonomi yang terukur.


Pendidikan doktoral berada di persimpangan yang krusial dan berisiko. Risiko dalam pengertian ditinggalkan calon mahasiswa sangat mungkin terjadi bila tidak peka dengan perubahan. Dahulu terbatas pada pencetakan sarjana dan peneliti untuk dunia akademik, perjalanan doktoral kini telah berkembang untuk melayani banyak tujuan yang lebih beragam—mulai dari pengembangan kepemimpinan hingga inovasi, kewirausahaan, dan penghasil kebijakan publik. Dalam model tradisional, doctor of philosophy (PhD) menekankan kontribusi teoretis dan penelitian orisinal yang terutama dirancang untuk diseminasi akademik dan pengembangan keilmuwan. Karena pemangku kepentingan lebih demanding, perguruan tinggi harus membaca sinyal ini untuk melakukan tinjau ulang sembari meletakkan dasar-dasar orientasi baru.


Fit dengan perubahan lingkungan

Dalam ekonomi berbasis pengetahuan dan sumber daya manusia, pendidikan tinggi semakin diakui bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, pengabdian, dan penelitian, melainkan juga sebagai mesin inovasi, kewirausahaan, dan kemajuan sosial peradaban. Pemerintah, industri, dan institusi akademik kini berkolaborasi untuk menghasilkan pengetahuan bersama yang tidak hanya bereputasi secara ilmiah, tetapi juga berguna secara sosial—sebuah konsep yang diperkuat oleh Triple Helix Model tentang model relasi perguruan tinggi-industri-pemerintah. Dalam konteks ini, gelar doktor telah berkembang dari sekadar upaya ilmiah individual menjadi suatu bentuk inovasi kolektif.


DBA dan doktor profesional serupa lainnya mencontohkan evolusi ini dengan membentuk praktisi yang mampu beroperasi di titik perpotongan dinamis antara teori dan praktik. Mereka bertindak sebagai mediator pengetahuan yang menerjemahkan wawasan akademik menjadi solusi konkret yang dapat ditindaklanjuti atau diterjemahkan, serta berkontribusi pada pembelajaran organisasi, pengembangan kepemimpinan, dan transformasi strategis lintas organisasi/kultural.


Catatan yang harus terus diperbaiki pada doktor terapan adalah legitimasi akademik, filsafat ilmu, dan kualitas riset. Institusi pendidikan tinggi juga semakin intens mengukur keberhasilan melalui inovasi, kemampuan menghasilkan ceruk kerja, dan keterlibatan sosial, sehingga perbedaan antara penelitian akademik dan profesional menjadi semakin tidak kaku dan keduanya beririsan. Dengan semangat ini sesungguhnya tidak selalu dieksekusi dengan penerbitan legalitas, misalnya usulan pendirian program studi baru, yaitu doktor terapan, tetapi bisa saja legalitas lama disesuaikan dengan melakukan berbagai perbaikan di proses bisnis internal dan kurikulum.


Dalam konteks globalisasi dan ekonomi yang didorong inovasi, doktor profesional atau terapan berkontribusi pada pembentukan modal manusia yang mampu menavigasi lingkungan bisnis dan kebijakan yang kompleks.


Digitalisasi praktik penelitian telah mempercepat munculnya bentuk-bentuk baru pendidikan doktoral, termasuk luaran berupa publikasi ilmiah. Perangkat riset berbantuan AI, supervisi virtual, dan lingkungan pembelajaran digital sedang mendefinisikan ulang pedagogik doktoral. Model-model hibrida kini memungkinkan para profesional, usahawan, serta penikmat seni dan budaya menempuh penelitian tingkat lanjut dengan supervisi jarak jauh sambil terlibat dalam proyek kolaboratif berbasis praktik.


Inovasi-inovasi ini meningkatkan inklusivitas dan kolaborasi global dalam pendidikan doktoral. Namun, terkhusus untuk publikasi jangan sampai sekolah doktor ini dikesankan menjadi tempat ”kursus publikasi”, sebuah metafora diduga betapa masifnya ”industri” perpublikasian saat ini. Maka itu, rumusan profil lulusan, capaian pembelajaran lulusan (CPL), dan rubrik harus mencerminkan wadah portofolio yang lengkap dan menjadi suluh mengembangkan kompetensi utama. Pada saat yang sama dia juga menjadi alat perencanaan dan pengendalian....



Lengkapnya:  

https://www.kompas.id/artikel/arah-pendidikan-doktoral 


I Wayan Suartana 

Koprodi S-3 Akuntansi FEB Unud dan Koordinator S-3 Akuntansi IAI KAPd


TERBARU

MAKALAH