alt/text gambar

Minggu, 12 April 2026

SURAT UNTUK WAI TSZ

Kompas, 12 April 1998



Cerpen oleh: Leila S Chudori


Udara di Jakarta tampaknya menunjukkan keadaan negara kami. Panas, penuh peluh dan tak ada pohon-pohon untuk berteduh. Saya sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja teringat untuk menulis surat kepadamu, padahal saya tahu betul di dalam newsletter Keep In Touch alumni kita, kau selalu disebut-sebut sebagai salah satu dari rekan-rekan yang menghilang sejak peristiwa Tianamen. Tetapi, aku selalu punya harapan, karena aku percaya Tuhan selalu mengirimkan tangan-Nya. Suratmu terakhir yang bau sayur dan anyir ikan asin itu yang tampaknya kau kirim dari luar Beijing sebelum melarikan diri begitu gagah berani, begitu inspiratif dan semakin membuatku merasa begitu kecil dan tak berarti.


Wai Tsz yang baik,


Tepat 14 tahun silam, sembari memandang bintang, kita berempat kau, aku, Finn dan Maria – saling berjanji. Kita tak akan menikah sebelum "mencapai bintang itu".


Finn, teman sekamar kita, Putri Salju berambut panjang blonda dan bermata biru itu meletakkan misi hidupnya di sekitar kumpulan bintang Andromeda. Dan katanya, "Yang kuinginkan adalah persamaan hak lelaki dan perempuan. Dan kukira itu sebuah cita-cita yang berlaku bagi kita semua," katanya dengan nada romantis. Idealisme teman sekamar kita asal Denmark ini memang sangat menjengkelkan. Dan karena itu, saya tidak mau pusing untuk membicarakan masalah kemiskinan dan korupsi yang menggila di negaraku, karena pasti susah untuk memaksanya berimajinasi. Gimana dong, negaranya begitu kaya raya dan sentosa, apa dia bisa mengerti?


Lalu, aku ingat Maria dari Filipina mengatakan, "Aku menginginkan perubahan di negaraku. Aku berharap aku bisa menjadi bagian dari perubahan itu," katanya dengan nada tetap dan yakin. Kau dan aku sama-sama langsung berteriak, saling berebutan, "Aku juga mau mengatakan hal itu!"


"Ah, mana pula Indonesia punya persoalan. Ekonomi kalian sungguh luar biasa dibanding keadaan kami," tukas Maria. "Dan kau Wai Tsz, Cina adalah raksasa tidur yang sedang menggeliat bangun. Sekali dia tegak, negara Barat akan habis sekali lahap. Cuma Filipina yang tak memiliki harapan yang pasti di bawah presiden seperti  Marcos…"


Ternyata, yang pertama mengobarkan api demokrasi adalah negaranya, Filipina. Dan sesuai cita-citanya, Maria menjadi bagian dari proses demokratisasi itu. Aku ingat ketika ia mengirim sehelai potongan koran di mana ada foto Maria di antara segerombolan kawan-kawannya di University of the Philippines yang tengah berdemonstrasi di jalan besar Edsa yang bersejarah itu. Seperti sebuah film, aku membayangkan Maria, kawan sekamar kita yang susah bangun pagi itu, menjadi bagian dari sebuah perubahan besar di negaranya. Bayangkan, ia ikut menjadi bagian revolusi damai Filipina Februari tahun 1986, ketika akhirnya Marcos terpaksa bergegas ke Hawaii dan seorang janda akhirnya duduk di atas kursi kepresidenan. Sementara, aku yang menjadi tetangganya, masih dalam keadaan yang sama, bekerja di sebuah majalah berita terbesar di negaraku, dengan naif menyangka bahwa keadaan negaraku aman sentosa sejahtera dan paling tidak masih lebih mending dibanding beberapa negara teman-teman kita sekampus yang setahun bisa mengalami kudeta beberapa kali.


Wai Tsz, sejak kita lulus, aku pulang, menghirup udara yang bercampur polusi ini, menjadi wartawan. Kau pulang, menghirup udara yang bercampur polusi di Beijing, dan menjelma menjadi aktivis hak asasi manusia.


Yang menarik di negaramu itu, peristiwa masuknya berbagai perusahaan Amerika, segera saja dianggap sebagai sebuah "gebrakan Deng" yang luar biasa. Mahasiswa Cina yang diperkenankan membaca terjemahan Milan Kundera dan nonton film James Bond seolah-olah menjadi titik awal demokrasi. Salah satu suratmu dengan penuh gairah bercerita betapa menariknya ceramah-ceramah Fang Lizhi yang tak ragu-ragu mengucapkan kata demokrasi dan kebebasan. Namun setelah peristiwa Tianamen pecah, barulah kita menyadari bahwa "gebrakan" yang didengungkan pakar Barat itu hanya sebuah cara pandang yang menyederhanakan persoalan.


Sementara itu, Wai Tsz,  yang terjadi di tanah airku adalah kebijakan-kebijakan ekonomi baru yang kemudian menghasilkan ratusan bank baru, gedung baru, perusahaan-perusahaan baru, stasiun televisi baru, kelompok kaya baru, mobil-mobil baru, kebijaksanaan baru lagi, gedung-gedung baru lagi, jalan baru lagi, warga super-kaya-baru lagi, dan seterusnya yang oh, sungguh luar biasa dan oh, sungguh memabukkan....


Keadaan seperti ini, Wai Tsz, memang telah membuat kami menjadi wartawan yang profesional, gesit, lincah, kompetitif dan sedikit takabur. Keadaan ini, ternyata membuat kami melupakan banyak hal dalam kemanusiaan. Misalnya, ya misalnya, jika kami sedang membicarakan tentang sebuah peperangan di negara lain pada saat rapat perencanaan, kami duduk bagai sekelompok komentator bola yang sok jago yang melecehkan salah satu pemain yang begitu "goblok" sembari menggigit ayam goreng dan tertawa cekakan, padahal yang tengah kami bicarakan itu adalah nasib ribuan ibu dan bayi yang dibantai di negara itu. Profesi ini telah membuat aku – seperti yang dikatakan Profesor Humphrey yang tidak menyetujui pilihanku untuk menjadi wartawan – mampu membuat kami menjadi sekelompok "orang sok tahu yang tak terlalu tahu apa-apa".


Pendapat Profesor Humphrey tidak sepenuhnya benar, tetapi harus kuakui, terkadang pada beberapa kasus, pendapat itu tidak terlalu salah. Profesi ini telah membuatku duduk di atas awan, memandang rakyat sebagai obyek berita, bagian dari deadline, bagian dari pergunjingan di pub, bagian dari perbincangan di hand-phone atau sekadar deretan angka-angka statistik yang tak berarti. Tianamen yang menjadi sebuah peristiwa besar bagimu adalah sebuah gerakan moral. Namun bagi kami, para wartawan, peristiwa itu tak lebih sebagai sebuah excitement, sebuah aliran adrenalin yang segar, sebuah pompa bagi darah jurnalistik kami. Aku hampir melupakan bahwa selama bertahun-tahun aku mempunyai kawan sekamar yang mungkin menjadi salah satu dari mereka yang sedang merunduk-runduk diburu dan bersembunyi di antara keranjang sayuran di batas kota. Wai Tsz... ada di mana engkau?


Di dalam suratmu terakhir, setelah peristiwa Juni 1989 – surat lusuh berbau anyir itu – aku membaca tulisan tanganmu yang ditulis dengan tinta agak luntur. "Nadira, tolonglah kami dengan tulisanmu..."


O, Wai Tsz, alangkah malunya aku. Tentu saja kami menulis, meliput, memotret peristiwa di negerimu dengan gagah perkasa. Tetapi aku tak yakin bahwa ratusan wartawan yang datang meliput peristiwa itu terdorong oleh keprihatinan. Mungkin ada juga yang memang prihatin, tetapi selebihnya adalah dorongan kompetisi, kebanggaan mendapat berita eksklusif dan kalau perlu karena keinginan meraih piala Pulitzer yang gagah perkasa itu.


Di tahun 1997 ini, tiba-tiba aku terhenyak...


Sementara perusahaan-perusahaan mulai runtuh, bangkrut, jutaan orang terkena PHK, bank-bank dilikuidasi, bahan-bahan pokok ditimbun agar harga-harga melambung tak terhentikan, perusahaan pers mulai menjerit karena harga kertas yang menjulang, para mahasiswa yang protes, ibu-ibu yang protes karena harga susu naik, maka aku baru kembali menjadi "manusia" dan teringat padamu. Teringat pada jalan-jalan kita di tepi Sungai Otonobee; teringat pada pertengkaran kita tentang persamaan dan perbedaan antara kebudayaan Barat dan Timur; dan oh... aku teringat akan "Teori Galaxi"-mu saat engkau mencoba menghiburku ketika menemui aku menangis tersedu-sedu. Kau mengajakku rebahan di atas rumput dan menatap bintang. "Dalam keadaan pedih dan terpuruk, Nadira, terbanglah ke galaksi itu dan tinggalkan Bumi ini. Maka di atas sana, Bumi ini akan terlihat begitu kecil; hingga kau akan heran mengapa kau harus menangisinya. Setelah itu, kembalilah ke Bumi, tariklah napas yang panjang dan kemudian selesaikanlah persoalan itu."


Wai Tsz, "Teori Galaksi"-mu itu sungguh sederhana dan manjur untuk beberapa hal. Tetapi untuk masalah negerimu dan masalah negeriku ini, "Teori Galaksi"-mu ini akan sia-sia. Belum pernah aku seputus asa ini. Belum pernah aku merasa tak berdaya seperti ini. Setiap hari, aku membuka jendela, dan kudengar keluhan ibu-ibu tentang kenaikan harga barang pokok, tentang orang-orang yang baru saja kehilangan kerja; tentang spekulan yang berjingkrak girang setiap kali nilai dolar melesat bagai meteor, beratus-ratus orang yang mendadak menjadi aktor teater, tersenyum-senyum di muka kamera televisi mengucapkan betapa mereka mencintai republik ini.


Dan sungguh benar si jenius William Shakespeare itu.


all the world's stage 

and all the men and women merely players

they have exits and their entrances

and one man in his time plays many parts


Ingatkah engkau ketika Prof Johnson membacakan bait ini dari lakon As Your Like it? Apakah aku tengah menjadi sosok yang tak berdaya dan melankolis seperti Jacques?


Aku membayangkan Shakespeare tengah tertawa terpingkal-pingkal karena dunia ini – panggung drama ini – hanya dipenuhi oleh segerombolan orang dungu. Menurutku, panggung drama ini dipenuhi oleh orang-orang yang kepandaiannya bersandiwara begitu mengerikan. Setiap pagi, koran-koran penuh dengan berbagai berita kesulitan ekonomi, tetapi toh mereka yang mengeluh sibuk menggaruk-garuk rupiahnya untuk ditukar ke mata uang asing dan hidup di atas mayat-mayat penderitaan orang lain.


Wai Tsz, kenapa aku lahir di antara masyarakat yang melahirkan kata "gotong-royong" tetapi sesungguhnya kami adalah sekelompok orang-orang yang sangat individualistis? Hatiku sudah cedera. Seandainya aku sama individualistisnya; mungkin aku sudah pergi terbang melayang bergabung dengan teman-teman kita untuk mengejar pendidikan setinggi awan di AS. Tetapi, pada akhirnya, hatiku memang ada di sini Wai Tsz, tertanam begitu erat dan berakar sekeras-kerasnya di bumi ini. Linggis atau pacul sekuat apa pun tak akan mampu mencerabut hatiku dari tanah ini.


Untuk beberapa bulan lamanya, aku diserang mimpi-mimpi buruk yang isinya lebih mirip lukisan-lukisan Salvador Dali. Satu malam aku bermimpi terjatuh dari gedung bertingkat, seluruh anggota tubuhku terpisah namun aku masih tetap hidup. Malam yang lain aku bermimpi kedua tanganku dirantai dan ujung kakiku mulai digerogoti puluhan anjing berwarna hitam. Malam yang lain lagi aku tiba-tiba saja terlempar ke sebuah lapangan, dalam keadaan hamil tua, dan ratusan burung gagak mencoba menghisap bayiku keluar dari perutku. Maka untuk menghindar mimpi-mimpi itu, aku ke toko buku dan menghabiskan gajiku dengan memborong setumpuk buku komik Lat dengan harapan aku bisa tertawa terbahak-bahak. (Yang terjadi, aku tertawa hingga air mataku mengalir sederas-derasnya yang kemudian dilanjutkan dengan sebuah episode kesedihan tak bernama). Kemudian aku menghindar dari tidur yang kelam hingga untuk beberapa bulan berikutnya aku menjadi penderita insomnia yang parah. Yang kemudian menambah parah keadaan adalah karena aku sama sekali tak mampu bergerak maupun berpikir. Very pathetique. Itulah yang bisa kulakukan: mengeluh dan marah (kepada siapa?). 


Wai Tsz, aku ingat ketika engkau berkata "sesuatu yang dimulai dari niat baik dan nurani selalu lebih sukar dipercaya daripada sesuatu yang dimulai dari niat jahat." Mungkin itulah sebabnya orang sukar percaya bahwa gerakan untuk memprotes adalah sebuah dorongan nurani. Mungkin kata "nurani" memang sudah langka, atau bahkan sudah waktunya masuk ke museum saja.


Wai Tsz, di manakah engkau? Menyamar menjadi pelayan toko? Atau mengajar di salah satu sekolah dasar di sebuah dusun? Atau mungkin secara diam-diam kau masih di Beijing? Aku tak yakin kau akan membaca suratku; aku mengirimnya ke alamatmu yang lama di Beijing. Wai Tsz di mana pun engkau berada... jika kau tak membaca surat ini, aku yakin kau telah membaca isi hatiku.


Sahabatmu,

Nadira

(Jakarta, November '97)


Sumber: Kompas, 12 April 1998

Jumat, 10 April 2026

,

KIAI BEJO

TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992


Oleh: Mohamad Sobary


Meskipun Kiai Ali Yafie tak berkenan hadir dalam Munas dan Konbes NU di Bandarlampung, saya masih tetap terheran-heran melihat "simpanan" kiai NU sebanyak itu tumplak-blak hadir dalam momen penting tersebut. Ini merupakan kesempatan pertama bagi saya melihat kiai sebanyak itu sekaligus.

Para kiai itu, seperti biasanya, memakai jubah putih dan surban putih. Atau sarung putih, kemeja lengan panjang (tak berleher) putih, dan pecinya pun putih. Pokoknya, serba putih. 

Tanpa pandang bulu, para kiai itu saya salami dengan ketakziman yang merata. Orang boleh tak setuju, tapi saya tetap membungkuk dalam menyalami para kiai itu, dan juga mencium tangan mereka. Menciumi tangan kiai tidak akan pernah rugi karena tangan orang-orang yang paling dekat dengan Allah itu penuh berkah. Setidaknya, ini menurut tradisi NU.

Siang itu, ketika bertemu dengan orang berpakaian serba putih, saya membungkuk hormat sambil memberi salam, "Assalamualaikum, Pak Kiai," kata saya.

Seorang wartawan, sahabat saya, menyikut sambil berbisik, "Dia bukan kiai. Ngawur kamu," kata sang wartawan.

Wah, malu juga awak. Rupanya, seperti halnya tak semua yang kuning adalah emas, tak semua orang yang berpakaian serba putih adalah kiai. Pengetahuan saya tentang dunia kiai memang amat terbatas. Tapi saya berjanji tak akan lagi membuat kesalahan serupa dalam Munas itu. Saya mencoba berhati-hati.

Lagi pula, sahabat wartawan itu sudah hampir menjadi pemandu saya. Saya "taruh" dia di depan, di mana saja, kapan saja. Tapi sekali lagi, suatu saat, saya toh "kepleset". Ketika siang itu sidang komisi berjalan dengan panasnya, saya melenggang dari komisi A ke komisi B.

Lupa pada "protokoler"–sebagaimana disepakati dengan teman wartawan itu–saya  berjalan di depan. Di luar ruangan, ketika saya jumpai seorang kakek berdiri sendirian di tangga, saya cuma menegurnya dengan "halo" biasa-biasa saja. Sedangkan wartawan kita itu saya lihat membungkuk dalam-dalam, menciumi tangan orang tua itu dan bicaranya pelan. Hormat betul sikapnya.

Mulanya saya mengira ia kebetulan bertemu mertua atau paman, yang lama tak ditemuinya. Tapi ketika kemudian kami duduk di ruangan sidang komisi B, dia bertanya, 

"Kenal orang itu tadi?"

"Tidak," sahut saya.

"Dia kiai besar. Di kalangan sesama kiai, dia dikenal sebagai wali Tanah Jawa."

"Siapa namanya?" tanya saya penasaran. Dan ketika wartawan kita menyebutkan namanya, kontan saya menghambur ke luar. Nama itu sudah lama saya dengar. Tapi tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa penampilan beliau sesederhana itu. Celana panjang biasa, kemeja biasa, bersendal jepit, tanpa peci. Rambutnya bahkan seperti tak disisir.

Di dunia NU memang dikenal konsep tentang kiai 'indannas dan kiai 'indallah. Bagi yang tak paham bahasa Arab, jangan gusar. Kedua istilah itu cuma menunjukkan adanya perbedaan tajam antara kiai yang mengutamakan simbol-simbol luar agar dikenal baik sesama manusia, dan kiai yang merasa tak perlu berbuat begitu karena "inti" kekiaiannya merupakan urusan langsung dia dengan Allah.

Kiai kita ini jelas termasuk kategori kiai 'indallah' tadi. Ia tak peduli orang lain tak mengenalnya sebagai kiai. Urusan pokoknya menolong orang. Dirinya sendiri dia abaikan.

Orang pun percaya, siapa berurusan dengan kiai kita ini ia akan selalu bejo (beruntung). Berkah Allah bisa diminta lewat perantara dia. Oleh karena itu, saya menamakannya Kiai Bejo.

Di luar ruangan, Kiai Bejo tidak tampak. Saya cari di komisi A dan C. Tapi Kiai itu tak ada di sana. Panitia pun tak tahu ke mana perginya. Ia mirip Nabi Khidir, atau Ki Ageng Pandan Alas, pendekar ciptaan S.H. Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten itu. Ia nyentrik. Urakan. Dan muncul kapan saja ada keruwetan. Kemudian amblas lagi. Entah ke mana.

Sia-sia saya mencarinya hari itu. Saya ingin menemuinya untuk pertama-tama minta berkah. Kemudian minta maaf karena saya tak mengenalnya. Saya takut kesiku (kualat). Sebab, selama ini saya pun rupanya sudah terbiasa menilai orang hanya dari penampilan luarnya.

Pagi esoknya, seorang menteri datang memberi ceramah. Bertemu dengan menteri juga merupakan kejadian langka bagi wong cilik seperti saya. Tapi berhubung menteri tidak bisa memberkati, maka saya putuskan untuk lebih baik mencari Kiai Bejo. Biar di lubang semut sekalipun, saya akan tetap mencarinya. Apa boleh buat, jadinya tak bisa menatap wajah menteri.

Doa salat subuh saya pagi itu saya tambahi satu pasal lagi, yakni pasal permintaan kepada Allah agar dipertemukan dengan Kiai Bejo. Syukur, kalau di Munas itu juga. Lebih syukur lagi kalau bertemu hari itu.

Dengan perasaan enteng, saya melangkah menuju Islamic Centre. Udara panas. Di bawah sebatang pohon kecil, jauh di pojok gedung, saya lihat seorang kakek bersandar terkantuk- kantuk pada batang pohon itu.

Alhamdulillah. Kiai Bejo. Tanpa peduli sopan santun, saya betot tangan orang tua itu dan saya ciumi sejadi-jadinya. Anehnya, ia tetap merem, terkantuk-kantuk. Seolah tak terjadi sesuatu pun atasnya.

"Maafkan saya Kiai," kata saya.

"Dan kau tak perlu mencariku di lubang semut," sahutnya. Saya terbengong-bengong. Tapi Kiai Bejo malah mendengkur, membiarkan saya tetap siaga menunggu, berjam-jam lamanya.


Sumber: TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992


Libido seksual sebagai dorongan biologis dasar manusia.

Secara sederhana (literal), kutipan ini menyatakan bahwa kerumitan hidup manusia, entah apapun itu, baik sosial, ekonomi, budaya, bahkan moral, pada akhirnya berakar pada dorongan dasar, yaitu libido seksual.


~ “Sejelimet apa pun kehidupan” → kompleksitas hidup manusia.

~ “Muaranya cuma satu” → ada satu akar fundamental.

~ “Libido seksual” → dorongan biologis dasar manusia.


Pernyataan ini terdengar reduksionis (menyederhanakan), tetapi justru di situlah letak provokasinya.


🧩

Pernyataan Fahruddin Faiz ini sangat dekat dengan teori milik Sigmund Freud, yang menyatakan bahwa, perilaku manusia di dominasi atau banyak dipengaruhi oleh libido (energi seksual). Namun, Libido tidak selalu tampil sebagai seks secara langsung, tetapi bertransformasi menjadi berbagai bentuk gerak aktif manusia seperti, ambisi, kreativitas, kekuasaan, bahkan moralitas sekalipun.


Dalam kerangka ini: 👉 Politik bisa jadi sublimasi hasrat dominasi.

👉 Seni bisa jadi sublimasi hasrat cinta.

👉 Relasi sosial bisa mengandung dorongan seksual terselubung.


Ini artinya, Faiz sedang menggemakan gagasan bahwa, di balik “Peradaban Tinggi”, ada dorongan naluriah yang sangat primitif.


🔍

Tafsir filosofis (lebih dalam)


Namun, penting untuk diketahui bahwa, Faiz bukan sekadar menyatakan “manusia hanya makhluk seksual”. Justru bisa jadi ada beberapa kemungkinan tafsir/ interpretasi:


1️⃣ Kritik terhadap kemunafikan sosial.

Manusia sering berbicara moral tinggi, menjunjung norma, seolah-olah tampak rasional, akan tetapi: 👉 banyak keputusan hidup tetap dipengaruhi oleh hasrat biologis.


Artinya, Ada jarak antara apa yang kita akui (rasional) dan apa yang menggerakkan kita (naluriah).


2️⃣ Ajakan untuk jujur terhadap diri sendiri.

Dalam konteks filsafat eksistensial, memahami manusia berarti memahami dorongan terdalamnya bukan hanya identitas sosialnya. Faiz seperti mengajak, “Kenali dirimu bukan dari topeng, tapi dari dorongan paling dasar.”


3️⃣ Provokasi intelektual (bukan kebenaran mutlak).

Gaya Fahruddin Faiz dalam buku ini memang ringan, penuh reflektif sekaligus provokatif. Buku ini bertujuan membuka cara berpikir filsafat yang kritis dan reflektif, bukan memberi dogma tunggal. 


Jadi, kutipan ini lebih tepat dipahami sebagai “Pemantik Berpikir”, bukan kesimpulan final tentang manusia.


⚖️

Namun begitu saya menaruh kritik terhadap pernyataan ini, karena tidak semua filsuf setuju dengan reduksi manusia ke libido, seperti beberapa tokoh berikut:


🔹Abraham Maslow → manusia juga digerakkan oleh Aktualisasi Diri.


🔹Viktor Frankl → manusia digerakkan oleh pencarian makna (bukan libido).


Sehingga Libido 🫦 merupakan salah satu faktor penting, namun bukan satu-satunya.


🌿 

Pernyataan Faiz ini bisa diringkas sebagai berikut:


Manusia sering tampak kompleks, tetapi memiliki dorongan dasar yang sederhana. Libido adalah salah satu energi paling kuat dalam kehidupan manusia. 


Namun, pernyataan ini bersifat provokatif karena memang bertujuan untuk menggugah kesadaran, bukan membatasi hakikat manusia.


🔑 Intinya:

Faiz mengajak kita melihat bahwa di balik rasionalitas manusia, ada dimensi naluriah yang tidak bisa diabaikan.


Sumber 📚:

• Sebelum Filsafat Quotes | goodreads.com

• Fahruddin Faiz - Sebelum Filsafat | iflegma.com

• Sebelum Filsafat Karya Fahruddin Faiz: Lentera Bagi yang Ingin Memahami Hidup Tanpa Tersesat dalam Teks Berat | ibenews.id

• Freud, S. Three Essays on the Theory of Sexuality (1905)


#fahruddin #faiz #filsafat #sigmund #freud #psikologi #libido #naluri #hasrat #sex #manusia


Sumber: Fb

Kamis, 09 April 2026

,

Seni dan Dunia Manusia

Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?


Oleh: Bambang Sugiharto


Art sings and shouts from the axis of truth to wake us up to who we are and where we are going; seni bernyanyi dan berteriak dari poros kebenaran untuk membangunkan kita akan siapa kita dan ke mana kita akan pergi.” 

— Alex Grey


MEMBICARAKAN “seni” sebagai sesuatu yang penting, apalagi pokok, selalu terasa berlebihan. Sebabnya adalah karena seni umumnya dianggap sekadar sebagai hiburan dan hiasan. Scbagai hiburan, pentingnya seni hanyalah untuk membuat hati senang dan pikiran tenang, membantu kita untuk sejenak melarikan diri dari persoalan. Sebagai hiasan, seni diperlukan sekadar untuk membuat tampilan diri lebih menawan, atau membuat suasana terasa Iebih nyaman. 

Begitulah, seni konon hanyalah urusan keindahan, kesenangan atau sekadar soal kemasan. Kalaupun perlu dipelajari, ia dianggap keterampilan tambahan saja. Artinya, kalaupun anak-anak diberi les menggambar atau musik misalnya, biasanya yang dimaksudkan adalah untuk membekali keterampilan cadangan. Siapa tahu kelak bila anak tak berhasil di bidang-bidang yang lebih jelas dan subur, seni bisa menjadi semacam skill darurat yang menyelamatkan. Karena itu sesungguhnyalah ia tak teramat penting, kebutuhan ketujuh atau kesepuluh, suatu kemewahan. Ia hanya berarti, bila segala kebutuhan pokok sudah tercukupi, atau bila keterampilan lebih mendasar telah dikuasai.

Repotnya, bahkan bagi mereka yang berkecimpung di bidang seni sekalipun, persoalannya kurang lebih sama juga: mendudukkan seni sebagai sesuatu yang penting dalam peradaban tetaplah terasa mengada-ada. Pasalnya, konon “seni sudah berakhir", kata Arthur Danto, Victor Burgin, Joseph Kosuth, Hal Foster atau Adorno.

Betapa tidak, dalam kehidupan yang kian dikelola oleh pasar, seni tak lebih dari sekadar desain, sekadar siasat komunikasi pemasaran, atau lebih gawat lagi, semacam strategi pembiusan demi meraih berbagai keuntungan (keuntungan ekonomi, politik, sosial, bahkan keagamaan). Sementara pada bentuknya yang paling serius pun—yang kini biasa disebut “Seni Kontemporer" misalnya—memang tak lagi jelas bedanya mana karya yang sungguh-sungguh 'seni', mana yang sekadar perilaku ganjil tak senonoh dari orang-orang yang frustrasi atau kehilangan identitas dan sakit jiwa, yang mencari perhatian secara kekanak-kanakan. Tak heran bila bagi sementara orang, kalaupun seni masih ada, itu hanya terdapat pada adikarya-adikarya zaman dulu yang 'adiluhung', “klasik” ataupun 'modern', yang bercita rasa keindahan tinggi dan halus (sublime). Dan di luar itu adalah sampah.

Ini menjadi lebih pelik lagi bila kita dengar perkataan sejarawan seni E. H. Gombrich. Setelah mengamati dan menganalisis demikian banyak karya sepanjang sejarah seni rupa Barat akhirnya ia mengatakan bahwa sesungguhnyalah tak ada itu yang namanya “seni” dalam artian umum, yang ada hanyalah para seniman. “There really is no such a thing as art, there are only artists", katanya. Artinya betapa sulit merumuskan secara tepat apa sesungguhnya mahluk yang bernama 'seni' itu, sebab pada karya setiap seniman seolah seni itu setiap kali dirumuskan kembali secara berbeda dan baru. 
Tapi, semua cerita di atas itu hanyalah selintas kesan karikatural yang kadang naif ataupun terlampau sinis. Kesan macam itu tak sepenuhnya benar. Dari sisi tertentu, itu seringkali menunjukkan kedangkalan pemahaman, kesempitan wawasan ataupun kebingungan. Untuk memahami posisi seni dalam peradaban manusia, kita perlu melihat dahulu bagaimana manusia memaknai kehidupan, pengalaman dan dunianya. 

Makna dan Pengalaman Real

Manusia memaknai pengalamannya melalui banyak cara: lewat sains, filsafat, seni, dan agama. Yang merupakan fokus utama di sini adalah “pengalaman” itu. Seni adalah cara yang sangat unik dalam menafsir dan memaknai pengalaman itu, yang berbeda dari sains, agama dan filsafat. Untuk mendalami di mana keunikan pemaknaan lewat seni, kita perlu mengkaji dulu hakikat 'pengalaman' itu melalui fenomenologi. Berkat fenomenologi Husserlian kini kita menyadari bahwa kenyataan pertama dan paling dasar kehidupan adalah “kehidupan yang dialami, dirasakan dan diimajinasikan" pada tingkat pra-reflektif dan pra-teoretis. Ini bukan dunia abstrak ala sains, bukan dunia dogmatis ala agama, bukan pula dunia ideal-normatif ala moralitas. 
Rekaman pengalaman kehidupan konkret utama dan pertama yang langsung, mendalam dan padat itu terutama adalah “perasaan", ingatan, hasrat dan gairah, kata Merleau-Ponty. Dunia versi ilmu hanyalah salah satu tafsiran abstrak pragmatis saja atas dunia primer yang langsung dialami itu. Husserl menyebut dunia primer itu sebagai Lebenswelt, atau Life-world, dunia yang langsung dialami (lived world), dunia hidup-bersama konkret sebelum direfleksi, dunia yang bentuknya tak jelas (amorf), dan sangat kompleks. Ini dunia yang mengatasi kategori Subjek-Objek. 
Dalam pengalaman asli ini, subjek dan objek berbaur campur aduk dengan segala kualitas lain, seperti: aneka perasaan yang kabur, kepekaan moral, imajinasi nilai, pengalaman persentuhan langsung, kesadaran, aspirasi ruh yang tak jelas, impian bawah sadar, dsb. Dunia dan kehidupan bukanlah “objek" di luar sana yang daripadanya bisa kita tarik “hukum-hukum"-nya. Dunia dan kehidupan adalah latar belakang dan medan segala pemikiran kita, sekaligus sesuatu yang senantiasa merupakan bagian intim di dalam diri kita sendiri juga. Kita sudah selalu demikian menyatu dengan dunia, dan dunia sudah selalu ada dalam diri kita. Kesatuan asasi itu muncul dalam “perasaan”, “imajinasi” dan “perilaku”. 

Kita menyadari diri kita hanya lewat interaksi dengan dunia sekeliling itu, dan sebaliknya, dunia sekeliling kita pahami berdasarkan pengalaman kedirian kita. Tentang sesuatu yang kita sebut “air” misalnya, dalam hidup kita “apa" itu air maknanya sangatlah kompleks, erat terkait pada berbagai dan berlapis-lapis pengalaman kita dengan air. Ketika kita berbuka puasa, air kita alami sebagai minuman yang langsung merasuki seluruh tubuh, menyegarkannya dan memberi tubuh kehidupan baru. Saat berwudhu air tampil sebagai simbol ketulusan hati untuk membersihkan diri. Ketika kita sedang membuang air kecil atau meludah, kita sadari bahwa air bukanlah objek di luar sana, melainkan bagian penting yang ada di dalam tubuh kita sendiri: air 'adalah' diri kita. Begitu seterusnya. Itulah fenomena “air” yang sesungguhnya, yang muncul dalam pengalaman konkret di medan Lebenswelt. Artinya, “apa" itu air dalam kenyataannya sangatlah pelik, tebal dan kompleks. Dalam konteks ini pemaknaan sains atas air sebagai “H2O' misalnya, menjadi terasa terlalu tipis dan kerdil. Begitu pula pemaknaan agama dan moral yang langsung menarik segala pengalaman sehari-hari ke dalam kerangka konseptual doktrin teologis (air adalah lambang pembersih “dosa" agar kita menjadi “suci”, misalnya) ataupun ke dalam kerangka normatif moralitas (air tertentu, seperti minuman keras misalnya, adalah “buruk” untuk kesehatan tubuh dan jiwa). Pada titik ini, baik sains, agama maupun moralitas sebenarnya mereduksi, menyederhanakan atau menciutkan kompleksitas dan ambiguitas pengalaman real dari medan Lebenswelt itu. Kekayaan realitas air dalam kerumitan maknanya itu memang tidak bisa sepenuhnya di-“jelaskan” (erklaren), melainkan hanya bisa di-“lukiskan”, untuk kemudian dipahami (verstehen). Dan yang mampu melukiskan kompleksitas dan ketebalan pengalaman itu adalah seni: melalui lukisan dengan reka citranya; melalui puisi dengan pengolahan katanya, melalui musik dengan rajutan nada, dinamika dan iramanya, melalui tarian dengan olah cipta geraknya, melalui novel, teater dan film dengan konstruksi dramatiknya, dst. 
Seni memberi bentuk pada pengalaman yang tak jelas bentuknya (amorf). Seni menampilkan yang tadinya tersembunyi, mengartikulasikan yang tak terartikulasikan. Itu sebabnya filsuf Heidegger menyebut seni pada dasarnya adalah poiesis (Yunani), dalam arti: menampilkan, membuat tampak dan berwujud. Dalam arti itu, setiap seni itu “puitik”.
Kekuatan seni adalah melukiskan kedalaman pengalaman yang sebenarnya tak tampak dan tak terlukiskan, memperkatakan hal yang tak terrumuskan, membunyikan hal yang tak tersuarakan, ataupun menarikan inti pengalaman batin yang tak terungkapkan. 
Dari sisi ini, yang hendak dirogoh dan diungkapkan oleh seni sesungguhnya bukanlah sekadar “Keindahan" fisik seperti yang lazim dikira orang, melainkan “Kebenaran”. Dalam tradisi Estetika Barat, seni memang telah selalu dimengerti sebagai ars (keterampilan), tekhne (keahlian) dan berkaitan crat dengan “keindahan" (kalon). Yang sering terabaikan adalah bahwa seni terutama berkaitan dengan “penciptaan”, poein, dan akar kata “Estetika” adalah aisthenasthai, yang artinya adalah “persepsi. Maka seni terutama adalah soal 'menciptakan persepsi baru', persepsi tentang kebenaran yang lebih dalam dari realitas yang kita hadapi sehari-hari . Ia memang lebih terkait dengan “kebenaran" kehidupan, daripada dengan 'keindahan". The essence of art...is the setting-itself-into-work of truth', kata Heidegger. Pada hakikatnya seni adalah tampilnya kebenaran secara berefek (menyentuh). Di sini “kebenaran” bukanlah kebenaran ilmiah (kebenaran tentang pola-pola teratur kerja alam), bukan kebenaran religius (kebenaran sesuai wahyu dan hukum Tuhan), bukan pula kebenaran moral (kebenaran normatif ideal), melainkan “Kebenaran Eksistensial” (the truth of being).
Dengan kata lain, “kebenaran" ini bukan kebenaran dalam arti doktrin, dogma, rumus, keyakinan atau apa pun yang sifatnya konvensional, melainkan kebalikannya, justru munculnya realitas-realitas yang awalnya tersembunyi, yang tak disadari (namun ada), yang seringkali tidak konvensional, bahkan kadang bisa bertabrakan dengan dogma (dogma religius, ilmiah, moral, dsb.), namun nyata dan mungkin. Ini kebenaran kenyataan hidup yang kita alami seperti adanya, kenyataan yang hampir tak pernah bersifat hitam-putih, kenyataan yang pelik dan tumpang-tindih. Dengan kata lain, “kebenaran” yang diungkapkan dunia seni adalah juga aneka sisi lain dari realitas: bahwa “cinta” misalnya, tidak selalu indah, bisa juga absurd atau kejam: bahwa wajah manusia bila dilihat sebagai terbelah-belah ala lukisan kubisme akan menimbulkan kesan yang berbeda, dsb. “Kebenaran” versi filsuf Heidegger ini (inspirasi dari Nietzsche, kemudian diolah juga oleh filsuf Gadamer, Ricoeur, Derrida dan Badiou) dasarnya adalah keyakinan bahwa realitas (being) itu pada intinya misterius dan kompleks. “Apa" se-'benar'-nya realitas hidup ini hanya tersingkap secuil-secuil pada kesadaran kita dan tak akan pernah terkuras habis, selalu ada sisi baru yang kita temukan. Realitas ini adalah khazanah kemungkinan nyaris tanpa batas. Demikian, salah satu fungsi Seni yang penting adalah fungsi “disclosive' itu, yaitu: ia memungkinkan tersingkapnya (disclosure) aneka lapisan, kompleksitas, dan misteri realitas bagi kesadaran kita. Maka tak perlu heran bila sebuah film bercerita tentang seorang yang jahat namun sangat memesona, misalnya: atau atas nama cinta seseorang justru membunuh orang yang dicintainya: seorang psikopat dan busuk justru dirayakan sebagai pahlawan, seorang rohaniwan panutan ternyata bermoral bejat, dsb. Bermacam sisi realitas macam itu memang mungkin, dan bisa nyata. Sedang fungsi yang lain dari seni adalah fungsi "heraldic”: seni merintis, mengantisipasi, dan membimbing kita ke arah kemungkinan-kemungkinan baru untuk memahami dan menghayati realitas. Ini terlihat pada karya-karya seni yang memperkenalkan style-style baru atau cerita-cerita fiksi/fantasi ke arah masa depan. Cerita-cerita fiksi/fantasi ilmiah misalnya, selain isi tematiknya bisa membukakan kesadaran atas nilai-nilai tertentu, juga bisa membukakan kebenaran dalam arti “membukakan kemungkinan", yang awalnya musykil namun di kemudian hari menjadi nyata, misalnya bahwa manusia bisa berpindah tempat dengan sekejap ala film Star Trek, siapa tahu kelak itu sungguh-sungguh terwujud dalam teknologi teleportasi. Seperti juga hal-hal yang dulu hanya ada dalam komik fantasi, beberapa kini ternyata dapat terwujud. Dalam ranah pengalaman, “kebenaran" realitas-sebagai kenyataan dan kemungkinan memang seringkali serumit, se-absurd, sekaligus se-memesona dan se-tak terduga itu. Maka, seperti halnya makna hakiki “air”, demikian juga “kebaikan", “kejahatan”, “cinta”, “kepahlawanan”, dsb, kebenaran maknanya (kenyataannya) sangatlah kompleks dan pelik. "Benar” dalam arti: 

“kenyataannya memang begitu" atau “sesuatu memang mungkin dilihat sebagai begitu";  kebenaran sebagai fakta nyata (das Sein) ataupun sebagai “kemungkinan” tersembunyi yang lantas kita sadari. Jadi, ini bukan kebenaran sebagai ideal seharusnya (das Sollen) atau kebenaran normatif. Maka lantas dalam konteks ini yang dimaksud dengan “kebenaran" juga tidak berkait dengan soal benar-salah, correct-incorrect, true-false, atau baik-buruk (moral), melainkan soal: dangkal atau mendalam, bermakna atau tidak bermakna, membuat kita melihat lebih jauh atau tidak. Manusia memang membutuhkan potret mendalam kenyataan dan kemungkinan real macam itu untuk memaknai pengalaman-pengalamannya, tidak hanya membutuhkan pegangan normatif ideal (moralitas dan agama) atau pun pegangan praktis untuk menyiasati kenyataan real (sains). 

Pembicaraan di atas adalah pembicaraan tentang seni pada tingkat filosofis, semacam refleksi tingkat-dua yang lebih mendalam, lebih “generik" dan lebih “abstrak” daripada refleksi empiris. Maka bisa saja hal itu tidak langsung dialami oleh para pekerja seni sendiri. Refleksi filosofis melihat seni dalam kerangka lebih menyeluruh dan lebih jauh, yaitu: pada tingkat terdalamnya (ultimately) “seni" itu apa, dalam kerangka peradaban manusia secara keseluruhan (bukan hanya dalam “dunia seni" atau “medan sosial seni" yang spesifik). Wacana di dunia akademis seni sendiri umumnya berada pada tingkat pertama, pada level empiris-teknis, yakni ihwal bagaimana dinamika perubahan dan pertumbuhan di tiap cabang seni yang spesifik (seni rupa, musik, tari, dsb.) mengakibatkan perubahan-perubahan dalam pemahaman-diri masing-masing bentuk seni itu. Apa itu seni tari, seni rupa, seni musik, dsb. pengertiannya bisa berubah-ubah dan sangat spesifik bersama dengan perubahan konsep dan praktik teknis-konkret dari para seniman dan medan-sosial seninya. Uraian lebih rinci tentang hal yang terakhir itu ada pada bagian "Pergeseran paradigmatik" di belakang. Maka, seorang pelukis, misalnya, ketika melukis tentu tidak langsung merasa sedang menggarap “kebenaran”, karena lukisan memang bukan khotbah tentang kebenaran. Pada tingkat paling konkret, ketika melukis, si seniman lebih seperti bermain-main secara imajinatif dengan kemungkinan konseptual atau kemungkinan teknis bentuk, warna, bidang, dst, ketimbang berwacana. Akan tetapi ketika dia mulai bekerja dengan gagasan/tema/konsep tertentu, sudah muncul indikasi bahwa dia sedang menggarap sisi tertentu atau “makna” tertentu dari realitas, apa pun itu, baik yang “nyata” ataupun “yang mungkin”. Dan ketika kelak apresiator “menyadari sesuatu yang baru” tentang realitas saat menikmati karya itu, pada waktu itulah “disclosure” terjadi: sesuatu dari realitas tersingkap bagi kesadarannya, yang awalnya tersembunyi. “Penglihatan” atau “kesadaran” baru itulah yang dimaksud dengan “kebenaran”. Ini berlaku juga pada bidang seni lain seperti musik, teater, tari, sastra, dsb. 

Seni memang memiliki kekhasan kodratinya sendiri, akan tetapi untuk melihat nilai seni lebih jauh perlulah kita juga melihat keterkaitan sekaligus perbedaan lebih rinci antara seni dengan jenis-jenis pemaknaan lain atas pengalaman manusia, yakni: sains, teknologi, agama, dan filsafat. 

Seni, Sains, dan Teknologi 

Ilmu empirik atau sains memang merupakan salah satu upaya untuk memaknai pengalaman-pengalaman juga. Tapi ia memaknai dengan mereduksi, menciutkan, menyederhanakan atau menyingkatnya ke dalam kepentingan pragmatis alias kepentingan untuk menggunakan dan memanfaatkannya. Dan bila unsur-unsur inti suatu fenomen telah tertangkap, sains akan memanipulasinya untuk berbagai kepentingan lain. Ketika unsur hidrogen dan oksigen telah terungkap dari fenomen “air” misalnya, air lantas bisa dimanipulasi untuk menciptakan tenaga listrik atau berbagai kemungkinan reaksi kimiawi baru lain. Cara pandang sains dan teknologi adalah cara pandang yang menantang (challenging), mengerangkeng (enframing), dan membedah-mengeksploitasi (revealing, exposing), kata filsuf Heidegger. Sains dan teknologi menantang dan menaklukkan alam, menghitung dan menggunakan segala yang ditemukan dalam pengalaman. Akibatnya, misalnya, air di sungai dilihat sebagai tak lebih dari stok atau pemasok energi, tanah menjadi sekadar deposit mineral, udara sekadar gudang nitrogen dan oksigen, dst. 

Seni memandang alam secara berbeda. Ia tidak mengeksploitasi dan memanipulasinya, melainkan membantu menampilkan keindahan hakiki, the splendor, dari alam itu, kata filsuf Heidegger lagi. Jadi, kalau sains menyingkat realitas, seni justru menyingkap kekayaan realitas. Ketika marmer masih merupakan bagian dari bukit-bukit di Italia, misalnya, orang tidak menyadari keindahan hakiki marmer, sebab memang tersembunyi di bawah tanah, di bawah kaki. Namun, saat marmer itu digarap oleh Michaelangelo menjadi patung David atau Pieta yang amat memesona, atau dibentuk menjadi pilar-pilar basilika San Pietro oleh Bernini yang indah luar biasa, misalnya, di sana keindahan dan pesona, atau “kebenaran" realitas marmer, the splendor dari marmer, menjadi tampak, bersinar, mengagumkan. Pendekatan sains atau iptek cenderung melihat realitas dari sisi pola-pola abstrak yang berlaku umum. Itu sebabnya mengenai fenomena “manusia”, misalnya, bagi sains tidak terlalu penting apakah manusia itu bernama si Amir, si Leo, ataupun Rusdi. Yang penting mereka itu secara umum (abstrak) sama-sama “manusia”, yang dari sudut psikologi, kedokteran, ataupun sosiologi, memperlihatkan gejala yang serupa. Itu cukup. Seni melihatnya sangat lain. Fokusnya justru pada yang konkret-konkret dan unik. Kehidupan unik seorang Amir sangatlah berbeda dari kehidupan si Leo atau Rusdi. Keunikan itu penting sebagai bahan untuk cerita novel, teater ataupun film. Bagi seni yang penting bukan konsep manusia abstrak dan umum. Seni selalu hendak bicara tentang hidup manusia yang nyata, yang kompleks, rumit, tak terduga, dan lebih pelik daripada yang diperkatakan secara abstrak oleh sains. Namun, melalui kasus-kasus konkret itu orang dapat belajar tentang hal-hal yang universal juga. Melalui film percintaan tokoh konkret bernama Romeo dan Juliet, misalnya, kita dapat memahami lebih luas dan lebih pelik lagi konsep universal tentang “cinta”: bahwa selain indah dan menggebu, cinta juga bisa menjadi sangat konyol, misalnya. Sains ibarat gambar kerangka anatomi di ruang-ruang kelas. Tidak penting itu kerangka siapa. Seni adalah lukisan berbagai manusia yang berwajah unik, cantik atau buruk, berdaging, gemuk atau kerempeng, ompong atau bergigi indah, dst. 

Sains menggunakan logika nalar, yang awalnya disistematisasikan oleh Aristoteles 2500-an tahun lalu ke dalam aneka bentuk silogisme. Di sana penalaran dimainkan melalui konsep-konsep verbal-literal (harfiah). Logika macam itu dipercanggih kemudian dalam sains dan teknologi melalui sistem simbol matematis. Dalam seni, logika yang digunakan bukan jenis logika itu, melainkan “logika perasaan”. Logika perasaan adalah permainan efek asosiasi bentuk, dan metafora tentang esensi sesuatu. Bentuk bulatan, misalnya, membawa imaji lucu, bentuk runcing tajam melahirkan perasaan tak aman, bentuk suara teriakan membuat kita takut, bunyi air mengalir membuat perasaan sejuk, dst. 

Permainan efek bentuk itulah yang dikelola oleh para seniman: bentuk citra pada lukisan, kata pada sastra, nada dan ritme pada musik, gerak pada tarian, alur cerita, suasana dan karakter pada film dan drama, dst. Bentuk-bentuk yang dikelola oleh seni itu tak selalu indah, bahkan bisa juga buruk-menjijikkan (seperti pada banyak karya seni kontemporer), namun yang jelas bentuk-bentuk itu penuh makna, significant form, kata Clive Bell. Sewaktu menjelaskan fenomena seni, neuroscientist Ramachandran menggunakan istilah dalam bahasa sanskerta, “rasa”, yang dimaksudkannya sebagai “kemampuan menangkap esensi dari sesuatu dalam rangka menggugah emosi tertentu pada otak". Maka kalaupun seniman memainkan bentuk-bentuk, akhirnya yang dimainkan oleh mereka sebenarnya adalah '“esensi-esensi” atau makna-makna hakiki yang mendalam di balik aneka bentuk. Itu sebabnya, dalam banyak karya yang berbobot, makna yang dikandungnya seringkali bahkan bisa sangat mendalam dan filosofis. Artinya, bentuk-bentuk itu menyeret kita pada renungan-renungan filosofis. Meskipun begitu kita perlu hati-hati di sini. Bila “logika-nalar” sains bekerja melalui 'makna' harfiah-denotatif, “logika-rasa” seni meskipun di satu pihak mengandung 'makna' juga—makna simbolik-konotatif—namun sebenarnya ia bekerja terutama melalui “efek", efek pada rasa dan imajinasi. Pada karya seni yang penting pertama-tama bukanlah “what it means”, “maknanya apa", melainkan 'what it does”: dia melakukan apa pada kita, kita merasakan efek apa darinya, barulah kita dapat menemukan "makna"-nya. 

Sains dan teknologi cenderung menganggap realitas sebagai objek, sesuatu yang "mati”. Bahkan manusia pun cenderung dilihat sebagai objek, objek untuk dibedah dan ditelaah. Seni agak sebaliknya, segala hal dilihat sebagai benda “hidup”. Bentuk karikatural perilaku seni adalah seperti dalam film kartun. Di sana bahkan segala benda pun dibuat seolah bernyawa (boneka mainan saling mengobrol, sepatu berlarian, pohonan tertawa-tawa, dst.). Bukan kebetulan bila orang biasa memberi komentar seperti: “lukisan kursi itu hidup sekali”. Begitulah, seni memberi nyawa pada segala, menghidupkan realitas sekeliling kita. 

Sains membutuhkan sikap berjarak dan kritis, sebab tujuannya memang hendak menjelaskan hukum-hukum umum di balik kenyataan. Seni bekerja justru dengan cara menyatu dengan objeknya. Ketika seorang sutradara atau aktor hendak melukiskan seorang gila dengan dunianya, ia akan mengikuti dan menyelami dunia orang gila itu. Sedangkan seorang psikiater akan mengamati perkembangannya atau mewawancarai dia secara berjarak dan kritis. Sains memang bermaksud hendak 'menjelaskan' realitas, sementara seni lebih bermaksud untuk 'melukiskan'-nya atau menyentuhkannya pada sensibilitas batin kita yang paling dalam. Sains berkomunikasi pada nalar, seni berdialog pada perasaan dan imajinasi, dan dengan cara itu menimbulkan perenungan. 

Setelah kita melihat perbedaan paradigmatik antara dunia seni dan sains, kini ada perlunya juga kita melihat sebaliknya, yaitu kemiripannya: bahwa dalam sains pun terdapat unsur-unsur "seni” atau unsur perasaan, imajinasi dan kreativitas. Dalam sains pun ada unsur perasaan dan imajinasi yang ikut bekerja, meski seringkali tidak disadari. Dalam alam berpikir ilmiah-modern lama sekali “perasaan" dicurigai bahkan didiskreditkan sebagai unsur irasional yang bisa mengganggu objektivitas dan membutakan penalaran. 

Adalah Michael Polanyi yang menyadarkan kita bahwa bahkan dalam kegiatan ilmiah pun selalu ada unsur perasaan, gairah, dan hasrat (passion, desire, emotion) yang demikian menentukan. Dalam kegiatan ilmiah, unsur perasaan itu berperan selektif, heuristik, dan persuasif. Selektif, artinya, perasaanlah (intuisi) yang memberi isyarat apakah suatu penelitian itu berharga atau tidak berharga, layak ditekuni atau tidak, data mana yang kira-kira relevan dan persoalan mana yang mungkin dipecahkan. Heuristik (penemuan cara baru untuk menyelesaikan masalah), artinya, penelitian yang mencari penemuan baru membutuhkan keberanian untuk menciptakan model-model ataupun metafor baru yang barangkali tak lazim. Dalam sosiologi, misalnya, masyarakat bisa dibayangkan dengan metafor mesin, tapi bisa juga dibayangkan dengan model mahluk hidup atau organisme. Masing-masing membawa konsekuensi penalaran yang sangat berbeda. Kreativitas dan keberanian menciptakan model/metafor baru ini adalah juga soal imajinasi dan perasaan. Persuasif, artinya, setiap temuan baru perlu dikomunikasikan, dibela, dan diperjuangkan agar dapat diterima dan diakui oleh komunitas ilmuwan. Dan di sini empati dan imajinasi pun penting untuk menentukan cara bagaimana temuan itu harus dikomunikasikan. Secara umum, sebuah pembaharuan konsep, teorema ataupun aksioma, seringkali baru bisa diterima karena ketepatan metafora yang digunakan, elegansa penalaran, serta korelasi imajinatif-rasawi dari model yang digunakan. Dan semua itu adalah soal seni (empati, ketepatan perasaan dan kreativitas imajinasi), seni menyiasati medan dan kenyataan, seni merumuskan dan melukiskan hal yang awalnya tak terrumuskan dan tak terbayangkan.

Namun relevansi paradigma estetik atau seni umumnya lebih terasa lagi pada ilmu-ilmu sosial-budaya atau ilmu-ilmu kemanusiaan (Human Sciences/Humaniora). Ketika di awal milenium ketiga ini ideologi-ideologi besar telah ambruk, dasar-dasar metafisik-transendental kehilangan kepercayaan, kerangka-kerangka makna tradisional tak lagi bergigi, sedang kanon-kanon kebenaran pun tak lagi pasti, maka ilmu-ilmu yang berurusan dengan manusialah yang justru harus berperan memegang kendali. Ilmu-ilmu yang dahulu disebut “Humaniora" (ilmu yang membuat manusia lebih manusiawi), yakni Filsafat, Sejarah, Studi Agama, Sastra, Seni dan Bahasa, perlulah diberikan sebagai kajian kritis atas riwayat panjang pergumulan batin manusia, serentak peluang terbuka ke arah penciptaan diri individu yang matang. Di sini pulalah paradigma estetik menjadi penting, namun dalam arti “Aesthetics of Existence", yaitu proses penciptaan diri dan kehidupan sebagai karya seni pribadi, proses mengelola perasaan, imajinasi dan hasrat untuk mengartikulasikan pengalaman dan merumuskan pemikiran personal, proses menjajagi secara kritis dan imajinatif berbagai kemungkinan menjelaskan dan memberi makna kenyataan. Dalam rangka itu, bahkan ilmu-ilmu pasti dan ilmu teknik pun bisa diajarkan sebagai “seni”, yaitu sebagai permainan imajinatif-kreatif dalam menjajagi bermacam kemungkinan untuk memahami dan merekayasa kenyataan, bukan proses penjejalan “hukum alam" dengan segala pretensi keniscayaannya yang pasti dan abadi. Bukankah pada tingkat paling fisik pun angka-angka matematis dan aneka simbol dalam dunia ilmu merupakan kreasi imajinatif artistik? 

Akan halnya di bidang teknologi, seni berperan penting di sana karena teknologi selalu memerlukan aktivitas desain alias perancangan imajinatif artistik. Aktivitas perancangan dan rekayasa itu selalu berurusan banyak dengan olah-bentuk, olah-fungsi, olah-makna dan olah-efek. Tapi pada tingkat lebih dalam, teknologi berkait erat dengan seni terutama karena teknologi adalah sarana pembentuk dan penyampai substansi “isi” (pesan). Itu terutama terasa dalam teknologi komputer dan televisi di mana substansi isi itu (game, internet, acara TV, dsb) sangat ditentukan terutama oleh desain kemasan bentuk medianya, produk keterampilan dan visi artistik. “The medium is the message,” kata Marshall McLuhan.

Lebih jauh lagi, makna teknologi terutama terletak pada dampak praktisnya, yang telah mengubah tata-nilai, cara bersikap, cara merasa dan pola-pola hubungan dalam dunia manusia hingga ke tingkat yang teramat pelik. Sedemikian pelik dampak itu hingga untuk memahaminya, mengandalkan kajian teoretik ilmiah saja akan terlalu steril dan kerdil. Pada titik inilah karya-karya seni dalam bentuk novel, seni rupa, teater, film, dsb., seringkali lebih mampu melukiskan secara efektif bagi kesadaran, imajinasi dan hati, kepelikan dan kompleksitas dunia tekno-praksis tadi. Di sini seni dapat berperan sebagai testimoni, antisipasi, juga evaluasi, atas tekno-kultur atau atas peradaban teknokratis. Sebagai testimoni, seni (film, foto, novel) dapat melukiskan secara menyentuh berbagai kejadian buruk akibat teknologi, macam tragedi Chernobyl atau eksperimen ilmiah konyol Nazi, misalnya. Sebagai antisipasi, ia dapat melukiskan bayangan masa depan, yang baik maupun yang buruk, seperti krisis energi atau rusaknya ekosistem di masa depan misalnya. Sebagai evaluasi, ia dapat menyeret perenungan-perenungan kita tentang apa yang sesungguhnya berharga namun hilang dalam alam teknokratis, tentang kemungkinan-kemungkinan baru teknologi yang menjanjikan sekaligus menakutkan, tentang kemampuan teknologi mengubah tata nilai, perasaan, dan imajinasi, atau tentang konsekuensi-konsekuensi berat yang harus ditanggung karenanya, dsb. Banyak film bertutur tentang hal-hal terakhir itu, macam film Avatar, the Matrix, seri Star Wars, misalnya. 

Bila tadi adalah peran seni bagi teknologi, sebaliknya pun perlu dilihat: peran teknologi bagi seni. Teknologi dapat berperan ekstensif, reflektif dan politis bagi seni. Ekstensif, artinya teknologi dapat memperluas kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh dunia seni. Akibat teknologi maka patung kini dapat bergerak (patung kinetik), seniman tak mesti terpatok oleh satu media melainkan dapat berkarya dengan multi-media, seni rupa berkembang menjadi seni video, dst., dst. Reflektif, artinya, aneka kemungkinan baru yang dibukakan teknologi akhirnya menantang dunia seni untuk setiap kali merumuskan kembali hakikat dirinya juga: ketika bentuk-bentuk seni kini berubah, seni itu sesungguhnya apa? Mana yang disebut seni dan mana yang bukan? Politis, artinya, melalui teknologi informasi, kini seni dimungkinkan untuk berperan “politis”, yaitu: melalui bermacam siasat desain dan pencitraan digital, bermacam komunitas kini dapat mengartikulasikan dan mengkomunikasikan dirinya sesuai budaya dan aspirasinya sendiri. Dengan “kata lain, melalui teknologi, kini seni menjadi cara micro-politics beroperasi. Berikutnya, kita akan melihat keterkaitan dan perbedaan antara seni dengan pemaknaan ala agama dan filsafat. 

Seni, Agama, dan Filsafat 

Seni adalah komunikasi pengalaman ruh, ruh pribadi yang bersentuhan dengan ruh semesta (Anima Mundi) saat kepekaan indra kita tiba-tiba tersapa, terpesona dan terbuka pada dimensi yang lebih dalam dan lebih tinggi di balik segala. 

Ketika aneka membran indrawi kita menangkap pesona kuat dari bentuk-bentuk sekeliling kita, seperti warna matahari jingga, nyanyian burung-burung yang tak tampak, ataupun tarian butir-butir hujan yang ceria, ada keharuan, kegembiraan, keterpukauan yang misterius, yang tak terjelaskan namun sekaligus tak terelakkan. 

Pada saat seperti itu rupanya batin kita terdalam bersentuhan dengan batin semesta. Pengalaman persentuhan dan komunikasi batin ini dialami setiap orang dan setiap saat, dalam kadar yang berbeda-beda. 

Pada para seniman, kepekaan batin untuk menangkap misteri itu rupanya lebih tinggi. Juga kemampuan mereka untuk mengartikulasikan dan mengungkapkannya secara mengena. 

Demikian, seni pada akhirnya adalah komunikasi pengalaman batin ruh sang seniman kepada semua ruh manusia lain, komunikasi misteri kehidupan yang terdalam, komunikasi tentang sang Maha Ruh (Tuhan, Dewa, dsb) di balik segala kejadian. Itu sebabnya pada tingkat terdalam seni itu selalu “religius", bahkan “mistis”.

Sebenarnya mistik dan religiusitas berakar pada pengalaman keseharian, pengalaman tentang keajaiban bentuk dan drama kehidupan. Tak heran bila filsuf John Dewey menyebut karya-karya seni besar sebagai “Paradigma Pengalaman”. Akar pengalaman estetik adalah pengalaman dramatik keseharian. 

Kecemasan orang yang berkerumun saat melihat kecelakaan di jalanan. Ketegangan penonton saat mengikuti lompatan-lompatan bola dalam permainan sepakbola. Keharuan seseorang saat melihat bunga pertama menyeruak dari tanaman yang selalu disiraminya. Perasaan aneh saat melihat api membesar ketika kita siramkan minyak ke atas bara. Kepekaan atas keajaiban bentuk serta pengalaman atas drama kehidupan macam itulah akar dari kesadaran estetik dan kecenderungan berkesenian.

Itulah pengalaman-pengalaman yang membuka membran-membran indra manusia pada kaitan-kaitan halus terselubung antar berbagai kejadian, yang menggiringnya pada perenungan lebih mendalam ihwal misteri alam dan kehidupan, yang menjebaknya pada keharuan-keharuan tanpa alasan atas matahari, angin, tanaman ataupun hujan, tapi juga yang mendorongnya sampai pada pemikiran-pemikiran paling imajinatif dan brilian. Itu sebabnya seni sejak awal adalah bagian erat dari agama dan filsafat.

Pengalaman macam itulah yang akhirnya mengubah sikap reaktif (menjawab) menjadi kreatif (mencipta), kecenderungan reseptif (mencerap) menjadi formatif (membentuk). Dengan kata lain, pengalaman indrawi menyentuh intuisi dan membukakan imajinasi, imajinasi kreatif. 

Imajinasi adalah alat manusia untuk membongkar segala yang mengungkungnya, untuk menjangkau yang tak terbatas, alat untuk mengubah realitas. Imajinasi adalah kemampuan tertinggi yang memungkinkan nalar bekerja dan perasaan menggeliat. Imajinasi adalah akar agama, sains, dan filsafat. Begitulah keyakinan kaum Romantik khususnya, tapi juga keyakinan banyak filsuf berabad-abad lamanya. 

Dalam kerangka ini konon para senimanlah—yaitu mereka yang mempertajam sensibilitas reseptif dan mengelola imajinasi-kreatifnya secara optimal—yang paling mempunyai akses pada kebenaran hidup sesungguhnya. 

William Blake—pelukis dan penyair abad ke-19—beranggapan bahwa imajinasi membawa manusia ke pembebasan diri dan keselamatan sejati. Bukan hanya menciptakan seni, imajinasi, katanya, juga menciptakan mitologi dan melahirkan agama. 

Realitas sehari-hari pun selalu kita alami melalui imajinasi dan pada dasarnya memang “ciptaan” imajinasi. Mengikuti alur pikir Ibn 'Arabi, Blake meyakini bahwa seluruh alam semesta diciptakan lewat imajinasi, yang dimiliki baik oleh Tuhan maupun manusia. 

Karena itu kunci menuju keselamatan adalah mengenali kekuatan imajinasi ini. Terinspirasi Jacob Boehme dan Paracelsus, Blake bahkan meyakini bahwa surga adalah imajinasi, dan manusia adalah apa yang diimajinasikannya sendiri juga. 

Penyatuan diri kembali dengan Tuhan dimungkinkan oleh kemampuan imajinasi dan cinta. Kedua hal itu bekerja melalui simbol, terutama simbol-simbol dalam seni. Simbol menggabungkan manusia dengan idea Ilahi. Itu sebabnya Kitab Suci umumnya bicara dalam bahasa yang penuh simbol. Simbol mengungkapkan kompleksitas dan kedalaman kebenaran. Simbol adalah bahasa universal yang dapat ditangkap oleh semua manusia.

Kalau Berkeley pernah menyebut esse est percipi—kenyataan adalah apa yang kita cerap—penyair dan pemikir Shelley memodifikasikannya menjadi being is imaginary, kenyataan adalah apa yang kita imajinasikan.

Mirip Blake, Shelley beranggapan bahwa imajinasi manusia adalah bagian dari budi universal, sekaligus merupakan aspek ilahi dalam kodrat manusia. Imajinasi menyebarkan sinar tak terlihat yang menghubungkan dan menghidupkan segala hal. 

Bahkan jiwa manusia, katanya, dihidupi oleh imajinasi, sementara akal adalah bagian tubuh (otak) semata. Imajinasi adalah kekuatan kreatif akal. Karena imajinasi lebih tinggi dari akal, maka hanya imajinasilah yang dapat menangkap kebenaran abadi. Imajinasi hanya dapat menghadirkan apa yang dilihatnya itu melalui simbol. 

Dan bila simbol dianalisis oleh akal, maka kekuatan simbol akan terbunuh dan hilang. Dalam kerangka pikir filsuf Benedetto Croce, imajinasi menghubungkan kognisi dengan emosi, dan keduanya menyatu dalam ekspresi. Ekspresi adalah pikiran-hati manusia. 

Ekspresi paling kuat dari pikiran-hati itu adalah simbol atau citra/imaji. Imaji adalah bahasa dasar dan paling “primitif” yang mengartikulasikan emosi. Kehidupan batin atau ruhani mulai dari bahasa citra ini.

Filsuf Schelling mempunyai pandangan yang sejalur dengan gagasan di atas. Kemampuan membentuk simbol, katanya, bersumber pada imajinasi Ilahi, yang menjembatani yang real dengan yang ideal. Alam material sendiri adalah simbol, simbol dunia ideal. Bila manusia dapat melihat alam melalui imajinasinya, maka ia akan menangkap yang ideal. 

Sebagaimana alam semesta merupakan karya kreativitas imajinasi Tuhan, seni adalah karya kreativitas imajinasi manusia. Melalui seni atau melalui simbol-lah manusia menyatu dengan Tuhan dan mendapatkan keselamatan. Bagi Schelling, seni mampu menampilkan kebenaran lebih daripada filsafat, imajinasi lebih unggul dibanding intelek atau akal.

Semesta yang ditangkap oleh manusia lewat ketersentuhan rasa lantas dirayakan dan diungkapkannya melalui imajinasi kreatif dalam aneka ritual dan upacara, dalam aneka olah bentuk, olah rupa, kata, gerak, dan nada; diukirnya pada batu, kayu, tubuh ataupun dinding gua. 

Bahkan perang pun dirayakannya dengan dekor misteri hidup dan mati: dihiasnya tubuh, tombak ataupun perisai dengan warna-warni. Itulah cara manusia mengaitkan ruh kecil individualnya dengan Maha Ruh semesta. Alhasil dunia manusia adalah dunia “bentuk" yang diciptakannya, yang biasa kita sebut “kebudayaan”, atau pada tingkat lebih umum dan kolosal, “peradaban". 

Dalam arti luas, “Seni' adalah segala upaya untuk memberi bentuk batiniah pada hidup dan semesta, berbagai cara membiakkan aspirasi batin lewat penciptaan benda dan peristiwa. Dan dunia yang diciptakannya itu diubahnya kembali setiap kali, karena perubahan situasi dan kondisi, tapi juga karena hidup memang sebuah proses “menjadi”, proses pertumbuhan ruh ke tingkat lebih halus dan lebih tinggi.

Maka dalam rentang evolusi peradaban yang panjang, jingkrak-jingkrak spontan kebahagiaan yang tak terkoordinasi berubah menjadi tarian, gerak komunikasi tubuh tanpa bentuk menjadi perilaku santun terpolakan, seruan rasa yang kacau menjadi bahasa pelik sarat gagasan, pencerapan ukuran diberinya bentuk matematis-geometris demi penghitungan. 

Sistem-sistem nilai pun ditata ulang kembali, apa yang dianggapnya penting dan tak penting, yang baik dan buruk, dirumuskannya kembali setiap kali. 

Dalam evolusi keagamaan misalnya, kekerasan, dari simbol kekuatan berubah menjadi isyarat kelemahan; sedang mereka yang lemah, awalnya dianggap sebagai pihak yang kalah, perlahan berubah, menjadi pihak yang wajib dilindungi, bahkan dianggap wajah suci sapaan Ilahi. Kekejaman pedang harus berhenti di hadapan lawan yang tak berdaya. Memaafkan menjadi lebih mulia daripada balas dendam, dst. 

Demikianlah, seni, sebagai kepekaan terhadap misteri dan tendensi kreatif untuk membentuk kehidupan agar menjadi lebih manusiawi, akhirnya menghasilkan rasa “keberadaban", suatu tolok ukur umum evolusi kemanusiaan. 

Tak mengherankan bila filsuf macam Friedrich Schiller menyebut tingkat tertinggi peradaban sebagai Aesthetic State, suatu situasi hidup bersama yang dikelola oleh rasa “keindahan terdalam". Di sana, katanya, peradaban adalah situasi di mana manusia sebagai Ruh semakin mampu memandang lebih dalam aspek ke-Ruhaniannya, di mana kekuasaan berubah menjadi kepedulian, nafsu menjadi komitmen cinta, hasrat serakah menjadi solidaritas, sedang kerendahan hati dan belarasa menjadi sesuatu yang sangat mulia. Bukankah hal-hal semacam ini pula yang diperjuangkan agama-agama? 

Seni akhirnya adalah soal makin tajamnya kesadaran makna dan nilai di balik “bentuk", bentuk alam semesta, bentuk perilaku manusia, tapi juga bentuk sistem dogma, bentuk kehidupan bersama, dsb. Imajinasi kreatif yang menggerakkannya adalah juga imajinasi yang melahirkan ilmu dan teknologi, segala sistem kepercayaan dan sistem-sistem gagasan filsafati, artinya, yang membentuk seluruh gerak kebudayaan dan peradaban. 

Maka dalam arti luas, seni adalah berbagai siasat untuk memasuki kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lebih dalam atas pengalaman, kesemestaan dan kemanusiaan. Pada titik ini “keindahan” (Latin: pulchrum) hanyalah kata lain untuk “kebenaran" (verum) dan “kebaikan" (bonum). 

Meskipun demikian, pemaknaan atas misteri hidup bukanlah privilese agama saja. Filsafat adalah cara lain untuk merenungi hakikat dan misteri kenyataan. Berikut ini kita akan melihat keterkaitan dan perbedaan antara seni dan filsafat.

Dalam arti luas itu, filsafat memang adalah seni juga, seni dalam memainkan imajinasi-konseptual untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan penjelasan rasional ihwal hakikat terdalam kehidupan, diri, semesta dan Tuhan—hal-hal yang tak mungkin dijawab oleh sains (karena sains terbatas pada yang terukur dan terindra). 

Maka jangan heran, bila ada seribu filsuf, ada seribu jawaban dan seribu cara pula untuk menjelaskan tentang hakikat terdalam itu. Filsafat pada akhirnya memang semacam permainan. Bila seni adalah permainan logika-imaji dan rasa, filsafat adalah permainan logika-konseptual. 

Maka dari sudut sebaliknya, seni pun pada tingkat yang paling serius selalu bersifat filsafati: novel, film, lukisan, musik ataupun tarian yang berbobot selalu mengandung perenungan mendalam ihwal manusia, kehidupan, semesta dan misteri Ilahi. 

Namun, dalam arti ketat dan sempit, filsafat memang berbeda dari sains ) maupun seni. Filsafat memikirkan persoalan-persoalan mendasar dan besar yang tak mungkin dipikirkan oleh sains, misalnya: asal dan tujuan hidup; mengapa alam semesta ini ada: apakah Tuhan itu ada; apa artinya 'mati'; siapakah sesungguhnya manusia, dsb. 

Meskipun seni adalah juga renungan-renungan filsafati, namun seni tak berambisi menerang-jelaskan. Ia cukup melukiskan dan mengkomunikasikannya secara menyentuh. Sementara filsafat adalah pemikiran-pemikiran spekulatif yang memang bermaksud untuk menerang-jelaskan kenyataan keseluruhan secara masuk akal. Dan kemungkinan penjelasan itu memang selalu banyak, tak hanya satu. Kendati kerap sangat spekulatif dan sering tidak didukung bukti empiris, dalam kenyataannya filsafat telah menentukan kiblat-kiblat peradaban manusia secara mendasar dan konkret. 

Filsafat Marx telah melahirkan negara-negara sosialis; filsafat John Locke dkk. telah melahirkan masyarakat Liberal Barat; filsafat Taoisme dan Konfusianisme telah menciptakan mentalitas masyarakat Asia Timur, dst. 

Filsafat terutama mempunyai nilai khas dalam kemampuannya: 1. memetakan kait-mengait berbagai sisi kehidupan manusia secara keseluruhan (yang juga tak mungkin dilakukan oleh sains, sebab sains bersifat sektoral); 2. menyingkap persoalan-persoalan mendasar dunia manusia yang sering tersembunyi, pelik, dan kompleks; 3. membantu memerkarakan terus-menerus keyakinan-keyakinan dasar manusia agar tidak membeku, kerdil bahkan menjadi destruktif, serta agar manusia tetap melihat kemungkinan kebenaran lebih luas. 

Dalam hal ini, seni membantu filsafat dengan cara membukakan kemungkinan-kemungkinan imajinatif baru atau memperkenalkan metafor-metafor baru, untuk dikelola lebih lanjut dengan nalar-konseptual diskursif oleh filsafat. Keterkaitan dunia seni dan filsafat memang sangat erat, sedemikian hingga dalam sejarah peradaban Barat, posisi, hakikat dan pelembagaan seni de facto ditentukan oleh interaksi ketat antara seni dan filsafat. Berikut ini adalah uraian lebih rinci mengenai hal itu. Di kemudian hari interaksi itu pula yang pada akhirnya justru melahirkan krisis di dunia seni Barat.

Seni yang Multikultur dan Sehari-hari 

Dari berbagai perkembangan kritis internal dunia seni Barat maupun tendensi kritis dari pemahaman atas keragaman budaya dalam interaksi global saat ini makin berkembanglah kesadaran bahwa sesungguhnya pengalaman yang biasa disebut “estetik” (pencerapan lewat kepekaan indrawi) itu sangatlah luas. Bersama itu disadari pula bahwa kriteria dan konotasi tentang apa yang disebut seni pun demikian beragam. Sebenarnya keterkaitan erat antara gejala yang disebut “seni” dengan ritual keagamaan, dengan kekriyaan, dekorasi, hiburan, penataan lingkungan, fungsi-fungsi sosial, kesehatan, dst. bagaimanapun jauh lebih lazim dan umum daripada anggapan bahwa seni adalah wilayah khusus yang bersifat elitis dan esoteris. Umumnya gejala yang disebut 'seni' awalnya menyatu dengan praktik keagamaan. Di dunia Barat pun drama dan epik Yunani berasal dari ritual keagamaan. Sama halnya karya-karya besar abad Pertengahan, Renaisans, Barok ataupun Klasik. Sejarah seni di Barat juga tak bisa dilepaskan dari keterlibatan para artisan yang bekerja melayani kebutuhan-kebutuhan praktis. Kecenderungan menghias adalah tendensi estetik yang demikian umum juga pada hampir segala kebudayaan hingga kini: dari sejak menghias tubuh, menghias rumah, taman, pakaian, sampai makanan. Dalam banyak kebudayaan, membangun dan menghias rumah, atau memasak dan menghias makanan bisa bermakna sangat filosofis, tak ubahnya seperti yang biasa digolongkan sebagai “fine arts" di dunia modern Barat. 

Dari segala ilustrasi di atas itu kian jelas bahwa dalam situasi realnya gejala yang disebut “seni' dan “estetika” umumnya merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan keagamaan, kekriyaan, etika, dan berbagai aktivitas sehari-hari kehidupan masyarakat. Dan kenyataan bahwa eksklusivitas fine arts pun akhirnya terdobrak oleh dinamika di dalamnya sendiri maupun dari interaksi luarnya menunjukkan bahwa pengisolasian eksklusif fine-arts itu sebenarnya artifisial. 

Yang menarik adalah bahwa kecenderungan ke arah perubahan paradigmatik di atas sebagiannya juga dipicu oleh pemikiran para filsuf abad ke-20 di dunia Barat sendiri. Di antaranya adalah pemikiran Dewey, Heidegger, Gadamer, Scharfstein, Berleant dan Katya Mandoki. 

John Dewey melihat keterkaitan erat antara seni dan pengalaman sehari-hari. Baginya seni berakar pada pengalaman-pengalaman yang intens dan koheren seperti pengalaman tentang makanan yang mengesankan, misalnya. Karya seni membantu memformulasi dan mereartikulasi pengalaman manusia, mengajar kita bagaimana sebaiknya melihat dan merasa, karena itu pengalaman estetik itu bersifat “paradigmatik” bagi seluruh pengalaman kita sehari-hari. Heidegger melihat seni sebagai siasat untuk memantapkan dan mengubah persepsi sehari-hari; membukakan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menafsirkan kenyataan dan dengan itu setiap kali menciptakan kembali dunia manusia yang khas dan baru. Gadamer melihat karya seni dalam kerangka 'permainan'. Seni adalah pengalaman keterleburan intens antara subjek dengan dunia di luarnya, dan pengalaman semacam itu sebenarnya terjadi dalam hidup sehari-hari. Hanya saja dalam penikmatan karya seni, pengalaman itu menemukan intensitas keterleburan yang padat. Agak mirip dengan Gadamer, meski lewat jalur yang berbeda, Scharfstein melihat seni dari sisi fungsional, yaitu bahwa seni memungkinkan manusia menyatu (fusion) dengan realitas lebih besar di luar dirinya: menyatu dengan lingkungan, dengan manusia lain dan masyarakatnya, dan akhirnya dengan realitas transendental. Berleant mengkritik kerangka pandang Kantian yang menuntut perpektif berjarak atas karya seni. Ia justru mempromosikan estetika yang bersifat partisipatoris, dan dengan begitu ia selanjutnya mendukung pandangan bahwa seni adalah bagian dari pengalaman sehari-hari yang bersifat kontekstual-kultural. Dan akhirnya, Katya Mandoki melihat bahwa dalam kerangka “bio-estetika' yang lebih luas, estetika pada dasarnya adalah soal penajaman sensibilitas dalam kiprah pencerapan sehari-hari yang merupakan kebutuhan natural hidup. Secara lebih spesifik, konteks luas ini ia sebut sebagai estetika “the prosaic”, yakni: medan percaturan praktik sosio-kultural sehari-hari di mana gaya, retorika dan dramaturgi digunakan untuk memikat, menangkap serta mengelola minat dan hasrat mahusia. Sedang seni yang biasa disebut “seni murni” adalah wilayah estetika “the poetic”, yakni: bermacam kegiatan olah bentuk dalam rangka menangkap dan mempertajam efek dari aliran denyut realitas prosaik sehari-hari yang bergerak terus tanpa henti; bagaikan still foto yang hendak menangkap dan membekukan aneka peristiwa yang senantiasa berlari. The prosaic adalah bermacam “presentasi" realitas, the poetic adalah aneka upaya “re-presentasi" realitas.

Dalam situasi centang perenang setelah aneka tegangan dan perdebatan dalam perjalanan seni di dunia Barat itu, kiranya perlulah kita kini mendudukkan seni pada konteks paling mutakhirnya.


Karakter Seni Murni

Seni (murni) pada dasarnya adalah komunikasi. Komunikasi antarmanusia melalui penafsiran atas sebuah karya. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi itu adalah bahasa imaji, imaji rupa, kata, gerak, ruang, ritma, ataupun nada, yang bentuknya diolah sedemikian rupa hingga menjadi simbol penuh makna. Dalam bahasa imaji ini memang tak ada gramatika baku seperti yang terdapat pada bahasa verbal. Bahkan hampir setiap seniman menciptakan sendiri ungkapan khas atau idiolect-nya pribadi. 
Dalam komunikasi itu logika yang bekerja pun berbeda, yaitu cenderung didominasi "logika-rasa” imajinatif yang sangat mengandalkan imajinasi dan hati. Tentu saja saat menafsirkan karya, “logika nalar” konseptual pun ikut berperan, namun kekhasan komunikasi lewat karya seni terletak bukan pertama-tama pada 'makna' logis konseptualnya, melainkan pada “efek” rasawi imajinatifnya. Melalui efek itulah orang lantas lebih lanjut menalarkan 'makna'-nya. Pada titik ini seni memang merupakan kegiatan memproduksi efek indrawi, efek imajinatif dan rasawi. 
Yang menjadi fokus utama karya seni bukanlah pola-pola atau hukum umum kenyataan seperti yang dicari dalam sains. Sebaliknya, yang diburu para seniman dan diungkapkan dalam karyanya adalah sisi-sisi unik, sisi yang berbeda, yang tak terduga dan tak lazim (otherness/differences) tentang kenyataan, juga kemungkinan-kemungkinan tersembunyi yang disiratkan oleh realitas itu. Dengan cara itu, seni penting untuk memperlihatkan kompleksitas kehidupan. Melalui yang partikular dan unik itu realitas setiap kali dideskripsikan kembali, segala pola dan hukum universal dipahami secara baru lagi. Kalaupun realitas dan masalah-masalah dasar kehidupan dari zaman ke zaman pada dasarnya sama saja, seni setiap kali menemukan sudut pandang baru dan metafora-metafora baru untuk melukiskan serta memahami kompleksitas dan kedalamannya. Itu sebabnya seni bukanlah sekadar jenis kognisi atau cara pemahaman biasa, melainkan disebut sebagai metakognisi: kognisi yang selalu memikirkan ulang hakikat kognisi itu terus-menerus, upaya pemahaman yang senantiasa mengkaji ulang apa artinya memahami. Bagi filsuf Aristoteles, jenius yang sesungguhnya bukanlah mereka yang canggih menghitung atau menyimpulkan gagasan, melainkan mereka yang mampu menciptakan metafora-metafora baru yang mengejutkan, cara-cara baru yang segar, untuk memahami kenyataan. Semacam itulah yang dapat kita harapkan dari para seniman. Dari sisi ini seni tiada lain adalah bermacam upaya untuk merekayasa kognisi, cognitive engineering.
Seni hendak memberi bentuk pada pengalaman-pengalaman. Pengalaman selalulah real, namun sekaligus kompleks, mengandung demikian banyak unsur tumpang-tindih, sehingga bentuknya tak jelas dan sulit dirumuskan secara memadai. Betapapun ganjilnya bentuk-bentuk sebuah lukisan, betapa pun rumitnya kalimat sebuah puisi, betapa pun peliknya sebuah komposisi, bahkan betapa pun fiktifnya struktur dramatik sebuah novel, mereka adalah bermacam upaya untuk merumuskan pengalaman-pengalaman nyata, yang pada dasarnya amorf, tak berbentuk. Seringkali pengalaman-pengalaman yang mendalam. Dan semakin mendalam pengalaman itu sebenarnya memang semakin tak terumuskan dan tak jelas bentuknya. Seni hendak merogoh kedalaman rumit pengalaman dan mengkomunikasikannya melalui medan bentuk atau medan imaji, yang mengena pada indra dan imajinasi, khususnya indra batin kita. Dalam rangka merumuskan yang tak terumuskan dan memproduksi efek itu, seni mengotak-atik dan mengolah bentuk: bentuk rupa, bentuk ritma, gerak, nada, alur cerita ataupun kalimat dan kata. Boleh jadi pada tingkat evolusi awalnya dahulu, kecenderungan merumuskan ini lebih berbentuk mimesis alias peniruan, seperti yang banyak ditekankan dalam filsafat Yunani dan kini digarisbawahi kembali oleh para pakar Biologi Evolusioner. Namun dalam perkembangan dunia manusia sebenarnya aspek kreatif dan penciptaan ulang secara imajinatif lebih menonjol daripada sekadar peniruan. Seni mengolah bentuk seringkali justru dengan merusak, memanipulasi, melebih-lebihkan atau mengekstrimkan bentuk-bentuk itu, justru agar menjadi bentuk bermakna, menjadi significant form (Clive Bell). Itulah yang dimaksud dengan “gaya”, “style” atau “karakter khas". Itu sebabnya, di dunia seni rupa misalnya, bentuk wajah dipersingkat konturnya oleh para seniman pra-modern macam pada patung-patung Afrika atau Nias, atau justru dihias secara berlebihan seperti pada patung-patung Bali, diburamkan rincian detailnya pada Impresionisme, dirusakkan pada Ekspresionisme, dibelah menjadi kotak-kotak pada Kubisme, atau dibuat ganjil pada Surealisme. Sekaligus dengan cara itu bentuk-bentuk fisik diberi cap batin personal oleh si seniman, diubah dan dimatangkan menjadi manifestasi batiniah ruh. Karakter ekstrimitas bentuk dalam dunia seni itu analog dengan kecenderungan orang membuat karikatur. Pada karikatur, si seniman juga mengekstrimkan bagian tertentu dari wajah orang (hidung diperbesar, atau rahang diperlebar, dsb.), tapi dengan cara itu pula esensi orang tersebut jadi muncul. Itu sebabnya pelukis Picasso pernah mengatakan: “Art is a lie that enables us to realize the truth”, seni adalah kebohongan yang memungkinkan kita melihat kebenaran.
Ekstrimitas dalam seni seringkali melahirkan masalah etis berkaitan dengan kebebasan penciptaannya. Karya seni tertentu, meskipun mungkin bermutu tinggi, bisa saja menimbulkan kontroversi dari sudut kesantunan, moralitas atau pun keagamaan. Tapi dunia penciptaan kreatif seni pada dasarnya memang mengandaikan dan ditandai kebebasan atau otonomi tertentu. Masalahnya, “otonomi" atau “kebebasan” ini dalam kenyataannya tak sesederhana dan semutlak yang biasa dikira orang. Seperti telah kita lihat dalam wacana Barat di atas, pada kerangka modernitas umumnya, dan Kantian khususnya, seni memang dianggap sebagai bidang khusus yang khas dan mandiri. Dan seniman adalah individu yang bebas dan otonom (kebebasan seniman bahkan menjadi semacam paradigma bagi kebebasan individu modern umumnya). Namun kini kita tahu bahwa itu semua telah mendapatkan kritik-kritik mendasar, lagi pula seperti halnya di era Pra-modern dan era Romantik, kini di era Post-modern kita menyaksikan kembali bagaimana seni tidak lagi semandiri yang dikira orang. Kini seni sedemikian luas menyusupi hampir segala bidang, seni justru sedemikian menyatu dengan kehidupan: seni digunakan dalam penyampaian informasi, dalam siasat pemasaran, di bidang olahraga, agama, politik, gaya hidup, bahkan dalam segala pernik yang kita kenakan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari sudut ini masalah kebebasan dan otonomi seni menjadi lebih kompleks. Kita dapat membedakan beberapa jenis otonomi: pertama, otonomi referensial, yaitu: kebebasan merepresentasikan realitas; kedua, otonomi etis, yakni: bebas dari keterkaitan pada norma dan nilai; ketiga, otonomi institusional, yaitu: ketidakterkaitan pada kepentingan institusi tertentu; keempat, otonomi fungsional, yakni: ketidakterikatan pada fungsi pragmatis tertentu (istilah Kant: purposiveness without purpose, atau disinterestedness). Bagi proses kerja seniman sendiri, “ke dalam" (ad intra), dia memang membutuhkan kebebasan bereksplorasi tanpa kekangan dan beban kepentingan, sebab hanya dengan begitu ia dimungkinkan menemukan kecerdasan uniknya. Tapi bagi pertimbangan publikasi “ke luar" (ad extra), kebebasan terpaksa berhadapan dengan banyak pembatasannya. Bila menyangkut kepentingan publik yang luas, maka hampir semua jenis kebebasan di atas praktis menjadi terbatas, artinya otonomi referensial harus tetap mempertimbangkan norma etis, persinggungan dengan institusi lain, maupun efek fungsionalnya yang bisa tak sesuai dengan yang dimaksudkan semula. Namun bila konteksnya adalah apresiasi publik yang terbatas, dengan sendirinya kebebasan bisa semakin luas. Jadi situasinya berbanding terbalik: makin luas publiknya, makin terbatas kebebasannya: makin terbatas publiknya (publiknya khusus dan tersiapkan) makin luas kebebasannya. 
Ini pun sebetulnya terkait pada jenis seninya. Pada seni terapan tentu otonomi fungsional, referensial, institusional maupun etisnya sangat terbatas, sebab ia memang diciptakan untuk menunjang fungsi dan kepentingan publik yang luas. Sementara bagi seni 'murni' (yang reflektif) semua jenis otonomi bisa dinikmati lebih besar. 
Cara pandang seni atas realitas, juga sebaliknya cara pandang kita atas karya seni, sangatlah khas dan bukan “subjektif” ataupun “objektif”. Dua kategori umum ini tidak tepat untuk menjelaskan proses yang terjadi. Yang lebih tepat untuk memahami proses seni itu adalah: pola “bermain". Ini adalah gagasan H. G. Gadamer, meski telah dirintis juga sebelumnya oleh Huizinga, Buytendijk, dan Schiller. Yang khas dalam “permainan” adalah: 1) Dalam “bermain” kita menyatu, lebur dengan kenyataan di luar, tanpa jarak, hingga pemilahan Subjek-Objek di sini tidak relevan lagi, subjek melebur dalam objek dan sebaliknya, yang bermain dan yang dipermainkan tak jelas lagi (seorang pemain bola memang memainkan bola tapi sekaligus juga dipermainkan oleh bola, seorang penyair “memainkan" kata-kata, sekaligus ia “dipermainkan" oleh kata-kata,); 2) penghayatan yang terjadi bersifat total, mencakup pikiran, perhitungan, perasaan, intuisi dan imajinasi sekaligus. Karena itu saat bermain adalah justru saat-saat manusia paling serius, keseriusan total. Ini memang paradoks. Itu sebabnya saat asyik bermain orang lupa makan, tidur, dsb.; 3) pada saat seniman bermain dalam proses penciptaan, tak jelas mana lebih dahulu isi atau bentuk: apakah yang terjadi adalah isi pesan (subject matter) diwujudkan dalam bentuk atau sebaliknya, pengolahan bentuk duluan lantas melahirkan isi pesan. Kedua aspek itu berinteraksi secara sirkuler dan dialektis; 4) yang jelas, dalam proses “bermain” macam itu yang akhirnya tampil bukanlah si senimannya, isi pesannya ataupun bentuk sosok karyanya itu sendiri, melainkan: kesadaran baru/perasaan baru tentang kenyataan baik bagi si seniman maupun bagi apresiatornya. Proses disclosure, kata Heidegger, yaitu: tersingkapnya aspek-aspek baru dalam kenyataan. Seni adalah proses dan hasil 'permainan' tingkat tinggi. 
Manfaat Seni Murni 
Sebetulnya seni dapat berperan dan bermanfaat apa saja bagi manusia, sesuai yang kita kehendaki. Sehubungan dengan medan perasaan kita misalnya, dengan kemampuannya membagi serta menularkan pengalaman dan perasaan, seni dapat meng-amplifikasi kepekaan empatik dan menyuburkan belarasa (compassion). Delapan puluh persen (80℅) dari kehidupan kita sebetulnya kita hayati dengan perasaan dan imajinasi, bukan dengan pikiran. Kita praktis hanya berpikir manakala terbentur pada persoalan-persoalan. Keunikan manusia sebetulnya bukan terletak pada kecanggihan akal budinya. Kalau hanya akal budi, sebetulnya komputer atau artificial intelligence semakin mampu menggantikan bahkan mempercanggih kemampuan akali manusia. Pada manusia, yang unik dan tak terduga—karenanya tak mungkin ditiru oleh artificial intelligence secanggih apa pun—adalah perasaan dan imajinasinya.
Itu sebabnya selera dan reaksi orang atas jenis keindahan, humor, makanan, seks, perilaku kesantunan, dsb, sangat berbeda-beda dan tak bisa dipolakan secara umum (yang mereka anggap “indah”, “lucu”, “enak' atau “merangsang” bagi satu sama lain sangatlah berlainan). Perasaan dan imajinasi, meski sebagian dibentuk secara kolektif, sebagian lebih besar bersifat sangat pribadi, dibentuk oleh akumulasi pengalaman yang sangat personal. Kualitas kesadaran, perasaan dan imajinasi yang sangat personal-individual ini dalam neuroscience biasa disebut: qualia
Seni membantu mengamplifikasi kepekaaan rasa dengan cara mengangkat lebih eksplisit aneka qualia ini, menyingkapkan keragaman emosi dan kualitas rasawi di balik aneka perbedaan manusia, benda-benda dan peristiwa. Seni bahkan dapat membawa kita pada perasaan-perasaan yang sublim dan pelik, sebab karya seni yang bermutu biasanya berhasil merumuskan perasaan atau situasi-situasi yang sebenarnya tak terumuskan dan tak terlukiskan. 
Dengan itu kepekaan empati kita dipertajam, spektrum perasaan kita diperluas, diperkaya dan diperdalam. Dengan itu pula solidaritas atau belarasa antarmanusia dipupuk dan disuburkan. 
Lebih jauh dari sekadar mahluk berperasaan, sejatinya manusia adalah juga mahluk ruhani. Ruh atau hati adalah bagian terdalam dari diri, yang ironisnya jarang mendapat perhatian di dunia pendidikan. Padahal kata orang “the heart of education is the education of the heart", dan memang demikian seharusnya: inti pendidikan adalah pendidikan hati. Di dunia pendidikan yang kini didominasi pendidikan keterampilan macam balai latihan pertukangan seringkali pendidikan hati itu dianggap cukup dengan yang namanya pendidikan “akhlak”. Dan pendidikan “akhlak" pun sering dimengerti sekadar sebagai pendidikan agama atau budi pekerti. Penanaman doktrin dan nilai-nilai tentu ada perlunya, tapi yang lebih penting dan sering tak disadari adalah bahwa hati atau ruh butuh mengenali kerumitan batin manusia, jatuh bangunnya dalam pergumulan nilai, kedalaman penderitaan mereka, aneka benturan yang mereka alami, kerinduan mereka yang paling tersembunyi, dsb. Dan adalah seni yang memungkinkan mereka mengenali hal itu dalam kompleksitasnya. Dan itulah yang dimaksud dengan “kebenaran eksistensial". Seni tak hanya menampilkan “keindahan”, melainkan terutama, “kebenaran” realitas kehidupan ruh atau hati manusia. Seni dapat menyingkapkan aneka lapisan kehidupan yang pelik: lapisan fisik, emosi, intelek, intuisi, hingga lapisan batin terdalam dan terumit. 
Novel, film, puisi, musik, lukisan, patung ataupun teater yang bagus juga mampu melukiskan ambiguitas watak manusia, dari yang dangkal, patologis, serakah, sombong, bodoh, hingga yang mistis mempesona. Seni mampu melukiskan itu semua secara menyentuh dan menggetarkan. Seni murni adalah wahana utama pendidikan hati, strategi untuk memperdalam pengalaman, arena yang memungkinkan anak mengenali kerumitan dan kedalaman ruhnya sendiri. Seni murni ibarat menu empat sehat lima sempurna, yang penting untuk nutrisi ruh batin kita. Seni terapan (dekoratif, pop, hiburan) ibarat snack. Kalau batin hanya diberi makan snack belaka maka ia akan kurang gizi, malnutrisi, tidak berkembang menjadi matang dan mendalam. 
Seni juga penting untuk mengimbangi perspektif sains. Sains membuat kita memandang segala hal cenderung sebagai objek dan dengan asas marnfaat, pragmatis. Tanaman misalnya, dibedah, diteliti kandungan biokemisnya, dimanfaatkan untuk obat penyakit tertentu. Seni mengangkat hakikat dan nilai hal-hal itu pada dirinya sendiri. Di sini tanaman bukan dibedah, melainkan dikagumi, dilukis, dan dirasakan keunikannya. Seperti telah diuraikan sebelumnya, sains cenderung memperobjek bahkan “membunuh" realitas, menganggap segalanya benda mati, sekadar bahan untuk diteliti. Seni sebaliknya, justru “menghidupkan" segala hal, memberi mereka nyawa, memandang semua sebagai bagian dari hidup kita. Jika sains dan teknologi cenderung mengeksploitasi dan memanipulasi, seni cenderung merawat, mengagumi dan menghayati. Maka dalam situasi aneka krisis ekologis saat ini, pendekatan seni merupakan sebuah urgensi. 

Penutup 

Kita telah melihat fenomena 'seni' dengan banyak cara dan dari bermacam sudut. Hasilnya adalah berbagai definisi yang tiada habisnya. Keluasan kemungkinan definisi ini menunjukkan kompleksitas mahluk bernama “seni” itu. Dan kompleksitas ini memerlihatkan bahwa seni adalah fenomena yang demikian menyatu dengan bermacam aspek kehidupan dan bahkan juga berubah dan berkembang bersama evolusi kesadaran. Itu sebabnya, apa itu “seni” sebenarnya tak mungkin dipenjarakan semata-mata dalam satu atau dua rumusan, juga tidak bisa dipahami dalam kerangka Barat modern belaka. Namun satu hal kiranya jelas: keyakinan klasik zaman Yunani maupun Renaisans, bahwa seni adalah salah satu bidang mendasar yang membuat manusia lebih beradab dan manusiawi, kiranya tidaklah berlebihan. 

Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika, lulusan Universita San Tomasso, Roma, Italia. Research Fellow pada beberapa lembaga riset Filsafat dan Estetika a.l. di Amerika, Denmark, Jepang dan Hongkong: pernah menjabat sebagai Presiden Asian Association of Christian Philosopher, dan Sekjen International Society for Universal Dialogue. Penulis berbagai buku dan artikel jurnal seputar persoalan-persoalan postmodern, kebudayaan dan seni kontemporer. Aktif sebagai Dewan Kurator di Selasar Sunaryo Art Space. Saat ini Direktur Pascasarjana UNPAR. Juga mengajar di Fakultas Filsafat UNPAR, Pascasarjana FSRD ITB dan UNNES. 


Sumber

Bambang Sugiharto, "Seni dan Dunia Manusia", dalam Bambang Sugiharto (ed), Untuk Apa Seni?, Bandung: Pustaka Matahari, 2020, h. 15-41.


Tambahan:


Seni dan Agama

Dalam alam religiomitik-pramodem seni menyatu dengan segala kegiatan kehidupan sehari-hari, ia mengurusi sejak perkara pernak-pernik sesajen hingga misteri hidup dan mati. Di sini karakter umum seni itu simbolis dan langgam dasarnya dekoratif. Simbolis, sebab yang ditangkap bukanlah medan rupa seperti tampaknya, melainkan energi batin di baliknya, misteri Ilahi yang memancar dari auranya. Dekoratif, sebab seni berfungsi menggarisbawahi suasana perayaan bersama. Itu sebabnya pula sosok senimannya tak teramat penting di sana. Semua adalah dari dan untuk bersama. Dalam hal ini seni bukan pertama-tama menyangkut benda, melainkan menunjuk pada keseluruhan peristiwa, di mana kata, gerak, nada, dan benda saling berkomunikasi, saling merasuki, menjadi mantra dan keajaiban upacara. Di sini seni menyatu dengan agama, filsafat dan pengetahuan, seperti yang masih kita saksikan jejak-jejaknya macam di Bali, Toraja atau Papua. --Bambang Sugiharto, Untuk Apa Seni?, h. 34

**

Hampir Segala Kegiatan Manusia adalah Seni

Dalam skala umum, ada kecenderungan kini, bahwa istilah “seni” dikembalikan ke konteks penggunaannya dalam bermacam kegiatan kehidupan sehari-hari. Itu berarti termasuk pula penggunaan kata “seni” dalam arti “seni memasak”, “seni merangkai bunga”, “seni berbicara”, “seni berpolitik”, dsb. Dalam semua kegiatan itu manusia memang juga mengasah sensibilitas indrawi dan keterampilan kreatifnya terus-menerus, sekaligus merumuskan ulang kembali setiap kali apa yang dianggapnya berharga dan ideal dalam hidup ini. 

Maka kini dalam arti luas, “seni” menunjuk pada berbagai upaya mencipta ulang dan menyiasati kemungkinan-kemungkinan yang tersedia, dalam rangka mengubah kualitas kehidupan menjadi lebih sesuai dengan aspirasi tertinggi dan terdalam batin manusia. Dalam konteks ini hampir segala kegiatan dalam dunia manusia sah saja disebut “seni". Sedang dalam arti sempit, “seni" menunjuk pada berbagai permainan kreativitas olah bentuk dan imaji (rupa, citra, gerak, nada, dan kata), dalam rangka mempertajam efeknya bagi sensibilitas dan sensasi, demi menggedor kesadaran reflektif dan rasawi. Dalam konteks inilah kita dapat mendudukkan karya-karya seni spesifik macam seni rupa, seni tari, teater, musik, atau pun sastra, terutama yang secara konvensional biasa dianggap “seni murni".

Bambang Sugiharto, Untuk Apa Seni?, h. 36


TERBARU

MAKALAH