![]() |
| A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 2017 |
A. Setyo Wibowo
Logika dasar penghendakan akan kebenaran selain terujud dalam metode ilmiah, sebagaimana ditunjukkan Nietzsche, juga tampak dalam sebuah Weltanschauung (cara pandang dunia) yang dipromosikan di bawah klaim-klaim saintifik. Sebuah dunia benar, yang sebenar-benarnya, dipromosikan dengan meremehkan dan menendang keluar separo dunia lain yang dianggap salah. Dunia bayang-bayang (Hinterwelt) tentang sebuah kondisi yang sesuai dengan kebenaran diciptakan di latar belakang kehendak akan kebenaran kaum saintis. Dunia ini bisa diciptakan dengan membuat imaji wishful thinking tentang sebuah dunia saintifik di mana semua akan sesuai dengan program yang dimaui (kebenaran yang dikehendaki), bisa pula diciptakan dengan membuat imaji mengerikan atas bagian lain dari dunia yang akan muncul bila kebenaran yang dikehendaki tidak dituruti. Entah secara positif entah negatif, penciptaan dunia bayang-bayang artinya mereduksi dunia senyatanya.
Bagi Nietzsche, model berpikir sains sebenarnya tidak beranjak dari domain moral. Apa artinya moral bagi Nietzsche? “Aku menamainya 'moral yaitu sebuah sistem penilaian atas nilai-nilai yang berhubungan dengan kondisi eksistensi” (buku Kehendak Kuasa I, 240). Perbincangan tentang moral dalam terminologi nietzschean tidak bisa dilepaskan dari sebuah sistem menilai yang terkait dengan kondisi-eksistensi. Mengapa orang memiliki sistem penilaian tertentu, bagi Nietzsche, itu terkait secara niscaya dengan kondisi eksistensi orang itu sendiri. Dengan kata lain, moral adalah soal Genealogi.
Apa Itu Genealogi menurut Nietzsche?
Bagi Nietzsche, Genealogi bukanlah ilmu yang mencari-cari pohon silsilah keluarga (I'arbre genealogique). Genealogi juga bukan soal mencari-cari bagaimana sebuah ide atau nilai muncul dan lahir di suatu masa lampau. Nietzsche tidak terlampau memperhatikan soal-soal historis atau kronologis seperti itu.
Genealogi nietzschean lebih berusaha mencari kaitan-kaitan antara ujaran metafisis tertentu dengan sistem afektif (motivasi) yang melandasinya.
Metode genealogis nietzschean hanyalah membeberkan di bawah terang matahari siang bolong apa yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum! Maksudnya? Dengan gamblang, lewat Geneaologi kita diajak Nietzsche untuk tidak terlalu gampang ditipu oleh omongan tentang Kebenaran. (133)
Sistem nilai berbasiskan Metafisika yang memberi prioritas pada Kebaikan, atau Kebenaran ditelisik oleh Nietzsche sebagai simtom. "Mengapa" orang menganggap suatu Kebenaran atau Kebaikan sebagai benar-benar Kebenaran dan Kebaikan diperlakukan oleh Nietzsche sebagai data simtomatologis untuk didiagnosa. Untuk Nietzsche, penghendakan atas nilai-nilai di atas—bukannya mengatakan tentang nilai-nilai tersebut dalam dirinya sendiri—malah justru mengatakan siapa yang menghendakinya. Analisis ini berujung pada sebuah pertanyaan retoris: ada apa sebenarnya dengan si penghendak nilai-nilai tersebut? Singkatnya, fiksasi atas nilai-nilai tertentu merupakan simtom yang bagi si fisio-genealog akan menyingkapkan derajat kekuatan dan kelemahan kehendak (kebertubuhan) manusia.
Kondisi eksistensi yang dekaden akan menghendaki fiksasi nilai-nilai tertentu secara idee fixe. Lepas bahwa nilai yang di-fixed-kan itu suci atau kotor, baik atau buruk, fiksasi itu sendirilah yang menyingkapkan kelemahan dan keterserakan kehendak si penghendak. Manusia lemah, yang loyo, yang terserak membutuhkan penyatuan diri. Ia akan lari dalam ideal-ideal fixed untuk memberikan topangan eksternal bagi kondisi eksistensi. Ia membutuhkan sebuah kriteria benar atau salah, baik atau jahat untuk dia jadikan nilai fixed bagi jangkar kehidupannya.
Dan karena dasarnya adalah ketidakberanian berhadapan dengan realitas kaotis, maka ideal yang dia buat merupakan rasa dendam pada realitas (ideal yang dia buat akan sedemikian tinggi sehingga meremehkan dan menjelekkan dunia senyatanya). Ia akan sangat represif terhadap apa yang ada, karena ia takut atas keterserakan yang sudah ada di dalam dirinya dan kini mengancam dirinya dari luar. Itulah domain moral, domain benar salah dan baik jahat yang sebenarnya hanyalah idee fixe kaum lemah loyo.
Di mata Nietzsche, idee fixe ini berbahaya karena memberangus dan membinasakan separo dunia. Kalau moralnya adalah moral kebenaran, maka separo dunia yang berujud kesalahan akan diantar ke altar guillotine. Kalau moralnya adalah kejahatan, maka separo dunia yang berisi kebaikan akan dia habisi tanpa rasa salah sedikit pun, karena baginya dunia bayang-bayang lebih riil daripada dunia sebenarnya.
Sebaliknya, kondisi eksistensi yang ascenden adalah yang immoral, artinya yang "melampaui" benar-salah dan baik-jahat. Ia melampauinya karena tidak ada cara lain lagi baginya dalam menerima realitas apa adanya selain "secara apa adanya". Idee fixe adalah nihil, hanya dunia bayang-bayang. Ia berguna menolong manusia bertahan dalam hidup, meski hidup secara separo. Yang dibutuhkan adalah melampaui idee fixe, menerima kebenaran dan ketidakbenaran sebagai satu bagian utuh dari realitas. Hanya orang ascenden yang berkehendak kuat dan mampu mengatasi dirinya yang berani menerima realitas di luar dirinya dengan segala kemungkinannya.
Berbeda misalnya dengan orang kristiani yang memberi finalitas positif kepada realitas (alam semesta adalah hasil keberlimpahan kasih, sehingga oleh karenanya bersifat baik) dan berbeda dengan Schopenhauer yang memberikan finalitas negatif kepada realitas (dunia adalah derita), Nietzsche tidak memberi finalitas apa pun pada realitas. Realitas apa adanya adalah sekaligus baik dan jelek, sekaligus tidak baik dan tidak jelek. Itulah sudut pandang immoral. Katakanlah sebuah moral baru dari Nietzsche, yang secara provokatif dikontraskan dengan moral sebagaimana biasa dipahami dengan istilah "immoral". "Immoralisme" nietzschean dalam menerima realitas apa adanya inilah yang kemudian diumumkan sebagai kesalehan. Dengan sudut pandang semacam inilah kaum saintifik di mata Nietzsche sangat tidak bermoral, atau dengan kata lain, moral mereka (sebagaimana moral agamawan dan metafisikus) adalah moral yang mengingkari realitas apa adanya sehingga untuk itu harus "dilampaui".
Di balik kehendak mati-matian akan kebenaran, yang ada adalah sebuah moral, tepatnya, moral "kaum lemah" yang takut berhadapan dengan realitas. Moral ini harus dilampaui karena ia memotong kehidupan apa adanya, memiskinkan dan mengamputasi enigma realitas. Amputasi kehidupan saat kita masih hidup, bukankah ini yang layak disebut Nihilisme, sebuah peniadaan diri? Tuduhan nihilis kepada zamannya menjadi lebih lengkap lagi manakala Nietzsche membuktikan bahwa, yang namanya kebenaran ilmiah hanyalah idee fixe, sebuah dunia bayang-bayang (Hinterwelt) hasil Antropomorfisme orang-orang yang takut berhadapan dengan realitas apa adanya.
Usulan yang ditawarkan Nietzsche adalah, agar supaya manusia menjadi kaum polutropoi, kaum yang memiliki banyak sudut pandang, yang mampu melihat realitas secara perspektivis. Ia harus menjadi roh bebas, yang mampu melepaskan diri dari kesempitan kehendak mati-matian akan kebenaran dan mengakui realitas secara apa adanya (artinya bahwa realitas itu pada dirinya sendiri bersifat immoral, ia tidak baik dan tidak buruk sekaligus baik dan buruk, terbuka bagi beragam sudut pandang secara perspektif). Pada tingkat ini orang menjadi saleh, ia menghargai dan menempatkan realitas pada tempat yang seharusnya.
Nietzsche memberikan kesimpulan uraian kritis tentang sains. Sang immoralis atau kita yang lain, menyimpulkan bahwa di balik sains yang ada ternyata sebuah "kepercayaan metafisik":
“Tentunya kalian sudah mengerti ke mana aku akan sampai: sebuah kepercayaan metafisis yang atasnya kepercayaan kita kepada sains dilandaskan selalu ada. Kita yang lain, yang saat ini sedang mencari pengetahuan, kita yang lain, yang tanpa Tuhan dan anti Metafisika, meskipun begitu kita toh masih meminjam api dari kebakaran yang sudah dikobarkan oleh sebuah kepercayaan milener, kepercayaan kristiani, yang juga merupakan kepercayaannya Platon, kepercayaan bahwa Tuhan adalah kebenaran, bahwa kebenaran itu ilahi... Tetapi lalu harus bilang apa, jika itu semua semakin lama semakin terdiskreditkan, jika semuanya ternyatakan sebagai tidak ilahi, jika semua itu ternyata adalah kesalahan, kebutaan, kebohongan—dan jika Tuhan itu sendiri ternyatakan sebagai kebohongan kita yang paling tahan lama?”
Manusia pencerahan a la Comte yang percaya bahwa sains sudah mengalahkan awan gelap Metafisika, ditelanjangi kedoknya oleh Nietzsche. Di balik sains, yang bekerja sebenarnya adalah sebuah kepercayaan metafisis sebagaimana tampak dalam prasyarat inkondisional sains dalam bentuk kehendak mati-matian akan kebenaran. Ia bersifat metafisis, karena ia sendiri berada di luar klaim sains itu sendiri (atau dalam kasus buruknya, sains hanya menjadi sarana canggih untuk mengafirmasi apa yang sebenarnya sudah diletakkan secara antisipatif).
Nietzsche menolak Metafisika seperti itu. Bukankah ia mengatakan dirinya sebagai “kita yang lain yang tanpa Tuhan dan anti Metafisika”? Tetapi, kehati-hatian haruslah tetap dijaga karena persis pada paragraf yang sama Nietzsche menyatakan pula utangnya kepada api kebakaran milener yang sudah dikobarkan sejak Platon. Kesalehan yang dinyatakan Nietzsche adalah kesalehan anti Metafisika (sejauh Metafisika yang dimaksud mereduksi realitas). Tetapi, menjadikan diri anti Metafisika terhadap Metafisika seperti itu bukankah artinya jatuh dari ekstrem satu ke ekstrem lain? Katakanlah, jika Metafisika yang dimaksud adalah moral akan kebenaran, bukankah anti Metafisika artinya lalu mengajurkan moral akan kesalahan? Apakah Nietzsche jatuh dalam kesalahan yang sama, meski secara terbalik? Tidak. Nietzsche tidak sesederhana itu. Ia mengkritik moral metafisis zamannya. Tetapi, ia juga berutang pada Metafisika semacam itu. Artinya, Nietzsche tidak jatuh dalam sebuah sikap reaktif, menjadi sekadar anti Metafisika. Ia adalah dua-duanya. Ia adalah anak zaman “yang sedang mencari pengetahuan” di depan fakta-fakta zamannya, Nietzsche bertanya-tanya: seandainya semua kepercayaan sebagaimana tampak dalam sains, Metafisika, agama, dan ideologi apa pun ternyata terdiskreditkan, tidak bisa dipercaya lagi, apa yang terjadi? Bukankah kita berada dalam kekosongan, Nihilisme dan kegelapan total? Seandainya, apa yang selama ini menjadi topangan dan motor kehidupan terbukti sebagai kebohongan, apa jadinya kehidupan ini yang telah begitu terbiasa dengannya? Nietzsche mengintuisikan sebuah jawaban yang melampaui itu semua. Hanya dengan melampaui sudut pandang metafisis dan sudut pandang anti metafisis, artinya mengembalikan realitas pada apa adanya dan mengadopsi "sekaligus banyak sudut pandang" untuk menghormati dan bersikap "sopan" di depan realitas, sebuah arah baru masih dimungkinkan bagi manusia.
Secara umum, Nietzsche berbicara tentang kebutuhan untuk percaya yang terujudkan dalam kehendak mati-matian akan kebenaran dalam sains. Kepercayaan yang dikritik Nietzsche adalah cara percaya yang mati-matian. Apakah solusinya lalu tidak percaya? Sayang, tidak sesederhana itu. Di mata Nietzsche, “tidak percaya” pun bisa dilakukan atas dasar kepercayaan mati-matian akan 'ketidakpercayaan' itu sendiri. Nietzsche dengan jelas menyatakan bahwa kebutuhan untuk percaya pun bisa tampak:
“dalam nihilisme model Saint-Petersbourg—artinya sebuah kepercayaan dalam ketidakpercayaan (Glauben an den Unglauben, belief in unbelief), bahkan sampai menjadi martir deminya.”
Ateisme, di mata Nietzsche, bisa jadi merupakan ekspresi kepercayaan baru. Di situ si ateis percaya bahwa Tuhan tidak ada dan mati-matian mempertahankan dogma tersebut bahkan sampai rela menjadi martir deminya (135). Bila solusinya bukan ketidakpercayaan seperti itu, lantas apa sumbangan Nietzsche? Bagi Nietzsche, masih ada sebuah cara percaya yang lain, cara menghendaki yang lain yang ia umpamakan dengan menjaga keseimbangan di seutas tali tambang. Nietzsche membayangkan bahwa ada cara lebih sopan untuk menghendaki kebenaran. Tidak lagi mati-matian seperti kegilaan kaum saintifik yang berpretensi bisa menelanjangi dan menangkap kebenaran, tidak lagi berpretensi menjelaskan, memprediksi dan menaklukkan realitas. Nietzsche hati-hati dan mengambil jarak, Cara seperti itu telah memakan korban terlalu banyak, cara percaya seperti itu adalah sebuah bunuh diri, peniadaan diri. Manakala kehendak akan kebenaran (Wille zur Wahrheit) menjadi apa pun harganya dan mati-matian ia menjadi Wille zum Tode (kehendak akan kematian). Yang ditawarkan Nietzsche adalah sebuah pencarian untuk "pelampauan". Memang kebenaran seperti itu ada gunanya, dan cara penghendakan mati-matian atasnya pun telah membantu sejenis manusia tertentu untuk hidup dan meneruskan kehidupan. Tetapi, mengingat Nihilisme yang ia hasilkan, cara seperti itu harus dilampaui. Kehendak akan kebenaran adalah sebuah kehendak juga, dan tidak pernah ada kebenaran atau pengetahuan apa pun tanpa kehendak di belakangnya.(136)
Soalnya bagi Nietzsche, saat kehendak bertindak seperti eliminator, ia menjadi berbahaya bagi hidup itu sendiri. Kehendak yang bertindak semacam itu adalah simtom kehendak yang cacat, yang kebertubuhannya terserak-serak. Usulan Nietzsche tentang "cara baru menghendaki yang tahu batas dan sopan"—sebagai manifestasi dari keutuhan dan kekuatan tubuh si penghendak—barangkali bisa secara ringkas dikatakan sebagai Kehendak Kuasa. Subjek penghendak yang bisa mengutuhkan dirinya sendiri, yang mampu mengkosmoskan dirinya dalam dinamika perang (artinya "kosmos" yang ada selalu bersifat "tentatif"), subjek seperti itulah yang mampu menghormati dengan santun realitas apa adanya.
______
Catatan kaki:
133. “Menurut Raphael Enthoven, Genealogi nietzschean secara langsung berutang budi pada Spinoza (dan juga pada Pascal yang sudah mengatakan “le coeur a ses raisons que la raison ne connait point”). Blaise Pascal sudah paham bahwa sering kali rasio kita hanya pintar rasionalisasi (entah berkhotbah tentang kebenaran, keadilan, berargumentasi ini itu), padahal di balik itu ada sesuatu (le coeur, hati, yang terdalam dari diri kita) yang sama sekali lain yang bekerja di balik argumen-argumen canggih tadi. Dalam bahasa Nietzsche, klaim tentang kebenaran lebih mengatakan sesuatu tentang diri si pengujarnya sendiri daripada tentang isi kebenaran itu sendiri.
Misalnya ada seorang rekan yang begitu bersemangat membela orang tertindas. Kebenaran baginya adalah berjuang demi keadilan, artinya membela orang-orang yang dirampas tanahnya. Dengan dissertasi S3 yang sedang dibuat, maka ia memakai pisau analisis marxis untuk menyimpulkan bahwa semua tuan tanah dan pemilik modal (jadi semua orang kaya) adalah kaum penindas, orang tidak adil, intinya jahat. Ia menciptakan Kebenaran. Baginya benar adalah berjuang membantu orang tertindas, benar adalah membela keadilan, dll. Dan jangan coba-coba mengkritiknya, karena dengan mata merah dan mulut berbusa ia akan membela diri untuk tetap mengatakan bahwa “kaum pemiliki tanah—siapa pun dan bagaimana pun situasinya—adalah manusia tidak adil, artinya jahat". Kebenaran dia bela habis-habisnya, kalau perlu fakta pun dia tuduh “fakta palsu” demi teori kebenarannya. Akalnya dengan tangkas merasionalisasi teori A sampai-Z untuk membenarkan apa yang menurut “hati-nya" harus ditenangkan. Dan persis soalnya di situ: sebenarnya ada apa dengan dirinya, ada apa dengan “hati”-nya, ada apa dengan “pengalaman hidup yang membentuk hatinya”? Kita baru maklum dan sedikit memahami omongannya tentang kebenaran ketika tahu bahwa ia berasal dari kelas Dalit (untouchable) di India, dan bahwa kakaknya menjadi korban pembunuhan (yang dilakukan kaum pemilik tanah).
134. Teks varian Mp XV 2, 26 untuk ilahi: “kepercayaan kristiani akan Tuhan sebagai kebenaran, karena Tuhan “adalah Kebenaran', sesuatu yang "melampaui di atas sana", “ en-soi (in itself) dari Kebenaran". Teks varian untuk kebutaan: "penampakan, kebohongan, kegilaan, delirium akan kegilaan” (delirium, delire, frenzy: emosi-nafsu berlebih-lebihan yang membuat orang mengatakan apa saja yang berlawanan dengan kenyataan, dan toh dia sangat yakin dengan itu semua).
____
135. Ateisme yang keras, memaksa, dan kejam adalah Ateisme yang dipraktikkan sebagai ideologi Negara di Uni Sovyet dulu, atau di Cina saat ini. Dalam bentuk lebih tidak kelihatan, Ateisme reaktif yang serba menyerang dan justru tampak sebagai “kepercayaan terselubung” tampak manakala kita berdiskusi dengan orang yang mengaku diri ateis. “Tuhan itu opini atau fakta? Mana yang membuat manusia maju: agama atau ilmu pengetahuan?” Lewat argumen seperti itu si ateis mencoba menundukkan orang beragama, menunjukkan kebodohan orang beragama yang ternyata hanya beropini tentang Tuhan, dan bahkan beropini secara ngawur karena praktik agama mereka hanya menghambat kemajuan teknologi dan sains. Dengan cara argumentasi seperti itu, si ateis menampakkan iman kepercayaannya pada fakta (pada sains dan teknologi). Tanpa sungkan ia akan berdebat semalam suntuk untuk membela iman ateisnya. Dia tidak puas kalau ada lawan yang tidak tunduk. Bahkan bila ia dilawan banyak orang, ia bersedia mempertaruhkan kehidupannya (menjadi martir) demi Ateismenya.
___
236. Habermas menyatakan secara lain intuisi nietzschean tersebut dengan mengatakan bahwa ilmu-ilmu selalu terikat pada kondisi subjektif (kepentingan). Tidak ada ilmu bebas nilai. Bandingkan dengan uraian Franz Magnis Suseno dalam “Sosok Pemikiran Habermas” dalam Filsafat sebagai Ilmu Kritis, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 182-183. Disebutkan di situ bahwa Habermas menelisik tiga ilmu dengan kepentingannya masing-masing. Ilmu-ilmu empiris analitis (ilmu alam) memiliki tujuan penguasaan alam lewat penemuan hukum-hukum pasti. Ilmu-ilmu historis empiris (sejarah, historiografi, linguistik) memiliki kepentingan pemahaman guna memperluas pengertian bersama demi sebuah tindakan bersama. Dan ilmu tindakan (ekonomi, sosiologi, politik, ilmu refleksif, dan kritik ideologi, filsafat, dan psikoanalisis) memiliki kepentingan pembebasan. Memang, model analisis yang hendak membuka kedok ideologis ilmu-ilmu seperti di atas tidak diteruskan oleh Habermas karena ia menyadari bahwa di tiap ilmu selalu ada kepentingan transendental yang merupakan prasyarat pengembangan ilmu itu sendiri (Franz Magnis-Suseno, hlm. 184).
_______
Sumber:
A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche, Yogyakarta: Kanisius, 2017, h. 240-248



