Oleh: A.S. Laksana
(Jawa Pos, 29 Juni 2014)
Ini hari kedua bulan Ramadan jika Anda memulai puasa kemarin dan hari pertama jika Anda memulainya hari ini. Saya menyampaikan selamat berpuasa dan tetaplah seperti diri Anda sebagaimana biasanya. Anda tidak perlu menjadi seseorang yang berbeda, atau ajaib, hanya karena ini bulan Ramadan. Saya berharap puasa Ramadan Anda kali ini berhasil dan Anda bisa mempertahankan kualitas pribadi Anda sebagai "orang yang berpuasa”, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan Syawal, Sya'ban, Muharam, dan di seluruh bulan selama setahun..
Ada satu cerita yang saya ingat tentang puasa, bukan kisah dari zaman nabi atau para sahabat, tetapi cerita dari pesisir Semarang di abad ke-15. Pada waktu itu armada Laksamana Cheng Ho singgah di sana dan beberapa anak buahnya tidak bisa melanjutkan pelayaran karena ada yang sakit. Mereka yang menetap di Semarang itu dipimpin oleh seseorang yang di masa sekarang dikenal sebagai Kiai Juru Mudi Dampo Awang.
Kiai Juru Mudi dan para awak kapal yang menetap di Semarang adalah para pemeluk agama Islam dan pelan-pelan mereka mengajarkan keyakinan mereka kepada penduduk setempat. Mereka membangun surau untuk salat berjamaah dan bangunan itu dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi Klenteng Gedung Batu. Buku sejarah klenteng menjelaskan bahwa perubahan dari surau menjadi klenteng ini dilakukan oleh orang-orang yang datang kemudian dan mereka bukan pemeluk Islam. Orang-orang Tionghoa, Anda tahu, memiliki tradisi menghormati leluhur. Maka, mereka memugar surau sederhana itu sesuai dengan keyakinan mereka. Jadilah klenteng.
Makam Kiai Juru Mudi ada di dalam salah satu ruangan di klenteng tersebut. Hingga beberapa tahun lalu, ketika saya pulang terakhir kali ke Semarang dan mengunjungi klenteng tersebut, para peziarah beragama Islam masih bisa masuk ke dalam ruangan sampai di samping makam. Mungkin sampai sekarang masih begitu. Yang non-muslim hanya bisa melakukan persembahyangan di luar ruangan.
Di Semarang, Kiai Juru Mudi juga menyampaikan kepada penduduk setempat bahwa dalam satu tahun ada satu bulan di mana kita perlu menahan haus dan dahaga. "Itu baik bagi kesehatan," katanya. la mengajarkan puasa Ramadan dan para penduduk setempat mengikuti sarannya. Namun, beberapa waktu kemudian mereka menggugat sang Juru Mudi dan mencemoohnya: "Kami mengikuti apa yang kau ajarkan, tidak makan dan minum, tetapi kau sendiri rupanya makan sembunyi-sembunyi saat kami semua sedang tidur.”
Rupanya ada satu orang di antara penduduk setempat yang pada suatu malam di bulan Ramadan menyaksikan bahwa lampu di rumah Kiai Juru Mudi menyala. Orang itu penasaran dan kemudian mengintip apa yang dilakukan oleh pemilik rumah. la melihat Kiai Juru Mudi sedang makan dan mengira Kiai Juru Mudi, yang menganjurkan tidak makan dan minum selama sebulan, makan sembunyi-sembunyi. Dengan perasaan marah, keesokannya ia menyampaikan apa yang ia lihat kepada orang- orang lain dan mereka semua marah. Penduduk setempat, dengan pengetahuan yang belum lengkap, merasa sedang dikelabui oleh orang yang mereka percayai. Tetapi pada masa itu, ketika urusan dan kepentingan orang belum serumit sekarang, kesalahpahaman mudah sekali diselesaikan. Orang masih bisa dengan mudah menerima penjelasan orang lain dan mereka jadi mengerti bahwa dalam menjalankan puasa itu orang boleh makan sahur di malam hari.
Itu cerita yang lucu dan memunculkan sebuah adegan yang menarik di dalam benak saya. Karena itu, ketika beberapa tahun lalu saya memiliki kesempatan menulis tujuh episode untuk sinetron serial Laksamana Cheng Ho, yang dibintangi antara lain oleh Yusril Ihza Mahendra (sebagai Cheng Ho) dan Pak Wagub Jawa Timur Gus Ipul (sebagai Raja Majapahit Wikramawardhana), saya menyelipkan adegan itu. Saya tidak tahu apakah peristiwa itu benar-benar terjadi atau tidak. Saya menemukannya di buku sejarah klenteng Sam Po Kong yang saya baca ketika masih sekolah. Rumah orang tua saya tidak jauh dari klenteng itu dan saya sering bersepeda ke sana ketika kecil, mengagumi bangunan, dan mempercayai bahwa akar-akar pepohonan di belakang bangunan tersebut dulunya adalah rantai kapal. Belakangan, saya pernah juga membaca tulisan yang menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho tidak pernah singgah di Semarang.
Entah mana yang benar, tetapi saya sebenarnya lebih menyukai bahwa peristiwa itu benar- benar terjadi dan memperkaya khazanah tentang hal-hal sepele yang pernah berlangsung di negeri ini. la akan menjadi satu kepingan kecil yang, bersama-sama keping-keping lainnya, membentuk mozaik keindonesiaan kita. Saya mensyukuri keberagaman. Saya mensyukuri bahwa kita hidup di negara yang memiliki benteng kuat untuk mempertahankan keberagaman tersebut.
Saya bersyukur bahwa di dalam masyarakat kita ada dua organisasi keagamaan yang bernama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya saling melengkapi dan, dengan kehadiran keduanya, kita memiliki benteng tangguh yang menjadikan kecenderungan kecenderungan ekstrem semacam Taliban di Afganistan mustahil mendapatkan tempat di negara ini.
Kalau saat ini kita merasakan adanya suhu yang sedikit memanas, saya yakin itu hanya hal sesaat yang coba dikobarkan oleh para politisi, dengan kepentingan pragmatis mereka terhadap kekuasaan. Bahkan saya tetap bisa tenang ketika mendapat kabar tentang pertemuan di Jogja yang diberi judul "Perang Melawan Pluralisme". Saya kira itu hanya tindakan dari kelompok kecil yang tidak memahami sejarah dan tidak mau tahu tentang sejarah negeri ini.
"Apa yang saya bisa tinggalkan hanyalah rohku saja, yaitu roh setia hingga terakhir pada tanah air, dan tidak mundur sekalipun menemui rintangan apa pun, menuju cita-cita kebangsaan yang ketat," tulis Robert Wolter Monginsidi di dalam penjara tentara pendudukan Belanda (NICA). la 21 tahun saat itu. Tiga tahun kemudian, subuh, 5 September 1949, pemuda Minahasa ini dieksekusi dan ia menolak ketika matanya akan ditutup: "Dengan hati dan mata terbuka, aku ingin melihat peluru penjajah menembus dadaku."
Saya membaca kisahnya di waktu kecil, dan membaca lagi tentangnya beberapa tahun lalu. Jika kelompok kecil yang hendak memerangi pluralisme itu juga membacanya, mereka akan paham bahwa kemerdekaan negeri ini diupayakan dan dipertahankan tidak saja oleh orang-orang Islam, tetapi juga oleh para pemeluk agama lain seperti Wolter dan lain-lainnya. Tidak hanya oleh orang Batak, tetapi juga oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan lain- lainnya. Tidak hanya oleh para lelaki, tetapi juga oleh kaum perempuan.
Maka ketika seorang teman menceritakan dengan kalut tentang seseorang yang berteriak- teriak menyerukan perang melawan pluralisme itu, saya menjawabnya guyon saja, "Jadi saya sebagai orang Jawa harus memerangi orang Batak, Madura, Sunda, Badui, Tengger, Betawi, Tionghoa, Arab, dan lain-lain sampai di Nusantara, atau setidaknya di pulau Jawa ini hanya tersisa orang Jawa?"
Benar bahwa kita perlu berhati-hati, benar bahwa kita tidak boleh meracuni diri sendiri dengan pemikiran yang sempit dan picik, tetapi saya kira tidak perlu memelihara rasa cemas yang berlebihan. Kita hanya perlu menjaga pikiran kita sendiri agar tetap sadar dan waras. Seorang teman pernah memberi tahu saya, dulu menjelang saya menikah, "Ingat, Bung, mulai besok kau lelaki beristri. Jangan sekali-kali melayangkan tanganmu untuk menyakiti istrimu, sebab sekali kau melakukannya, kau akan cenderung mengulanginya, dan tanganmu akan lebih enteng melayang di saat-saat berikutnya."
la benar sepenuhnya dan benar untuk jenis-jenis kebiasaan yang lain: membanting pintu, melempar asbak, melontarkan fitnah, memaki serampangan, dan lain-lain. "Hal paling sulit adalah melakukan sesuatu untuk kali pertama," katanya. "Yang kedua dan seterusnya akan semakin mudah dan pada akhimya kau bisa melakukannya tanpa merasa bersalah sama sekali."
Dari sana kita bisa belajar satu hal, ialah bahwa kita selalu memiliki alasan untuk segala tindakan. Jika Anda telanjur melanggar, Anda punya alasan untuk menjelaskan kenapa Anda melakukan pelanggaran. Jika Anda terus bertahan lurus, Anda pun memiliki alasan kenapa Anda memilih tetap lurus. Hal itu sama belaka dengan jika kita mengatakan kepada teman kita, "Kau kelihatan kusut sekali. Ada masalah?" Maka teman kita akan segera menyampaikan hal-hal yang membuatnya kusut. Sebaliknya, jika kepada orang itu Anda menyampaian, "Kau kelihatan cerah sekali hari ini," ia akan langsung menyampaikan kepada Anda hal-hal menyenangkan yang membuat parasnya cerah.
Pikiran adalah hal terkuat yang kita miliki, tetapi ia juga bisa menjadi hal yang paling rentan dan mudah dipengaruhi. Dengan kekuatan pikiran manusia membentuk sejarahnya, dengan kelemahan pikiran manusia tersuruk-suruk dalam menjalani hidupnya, terombang-ambing oleh ketidakpastian, dan mudah sekali menelan pelbagai jenis sampah yang dijejalkan oleh orang-orang lain. Ada prinsip sepele tentang pikiran, yakni jika Anda sendiri tidak mampu mengendalikan kesadaran Anda, maka orang lain yang mengendalikannya. Orang-orang lain yang akan menjejali kepala Anda dengan apa pun yang mereka suka. Pada saat itu kita kalah.
Selamat berpuasa. Saya tidak ingin Anda kalah. Saya berharap Anda keluar sebagai pemenang saat bulan Ramadan ini berakhir. Saya berharap Anda bisa mempertahankan diri sebagai "orang yang berpuasa" dalam setiap perilaku Anda di bulan-bulan apa pun, selama setahun penuh, sampai tiba Ramadan berikutnya. (*)
Akun twitter: @aslaksana
Sumber: Jawa Pos, 29 Juni 2014

