KHUTBAH IDUL ADHA
1439 H/2018M
Kaum muslimin sidang
shalat Idul Adha yang berbahagia,
Pada hari ini, kita
kembali mengumandangkan kalimat-kalimat takbir dan tahmid, mengagungkan dan memuji asma Allah, Tuhan
semesta alam. Pada hari yang berbahagia ini, kaum muslimin dianjurkan, selain
memuji Allah dalam bentuk shalat Idul Adha, dzikir, takbir, dan tahmid, juga melaksanakan
penyembelihan hewan qurban.
Qurban, artinya
"pendekatan". Dengan menyembelih hewan qurban, berarti kita telah
berbuat sesuatu yang mendekatkan diri kita (taqarrub)
kepada Allah dan rahmat ampunan-Nya. Hari raya Idul Adha yang mulia ini
mengajarkan kita akan semangat pengorbanan, supaya timbul rasa kepedulian kita terhadap
sesama, dan dengan rela hati serta ikhlas untuk selalu membantu orang lain.
Jika pada hari
raya ldul Fithri kita mengeluarkan zakat fitrah yang tujuannya untuk menyantuni
kehidupan masyarakat yang tidak mampu, maka penyembelihan hewan qurban pada hari
raya Idul Adha dan hari-hari Tasyriq berikutnya, juga dalam semangat menyantuni
kepentingan hidup masyarakat yang tidak mampu.
Agama Islam
mempunyai pendirian, bahwa kehidupan yang aman, adil, dan sejahtera di dunia ini, tidak mungkin akan
terwujud apabila kaum mustadh'afin (orang-orang tertindas) dan kaum du'afa'
(orang-orang yang lemah dan miskin), tidak mendapatkan layanan dari golongan masyarakat
yang mampu.
Para du'afa' atau orang-orang miskin adalah sendi dan tulang punggung kekuatan suatu masyarakat. Karena segala hal yang menyangkut kehidupan manusia di dunia ini, banyak sekali tergantung kepada peran rakyat jelata dan masyarakat miskin. Baik itu petani, buruh, nelayan, dan lain sebagainya. Mereka ini termasuk golongan orang-orang yang menderita. Mereka merupakan golongan yang harus mendapatkan perhatian yang utama dan pertama. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Carilah (keridhaan)-Ku melalui kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong dengan sebab kaum du’afa (orang-orang miskin) di antara kalian." (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Oleh karena itu,
Rasulullah saw telah menggariskan suatu sikap yang jelas terhadap masyarakat yang lemah dan miskin,
yaitu kepada mereka haruslah diberi pelayanan dan santunan yang memadai demi kehidupan
dunia yang aman, sejahtera, dan berkeadilan.
Allahu Akbar
3 x walillahil hamd
Kalau kita
perhatikan secara saksama, setiap kali timbul pergolakan sosial dalam kehidupan,
baik dalam suatu negara ataupun dalam kelompok masyarakat, senantiasa
ditimbulkan oleh rasa tidak puas antara golongan yang lemah, yang tidak
mempunyai kecukupan dalam hidup dan yang menderita kelaparan, terhadap golongan
yang berkecimpung dalam kemewahan dan
kesenangan hidup.
Dan setiap
pergolakan sosial, betapapun kecilnya, senantiasa menimbulkan malapetaka dan
akibat yang mengerikan. Oleh karena itu, kewajiban kita umat Islam untuk
senantiasa memikirkan dan memperhatikan nasib rakyat miskin, mengikis
kesenjangan sosial, sehingga tercipta rasa keadilan di tengah-tengah kehidupan
sosial masyarakat kita. Inilah inti pertama dari hikmah penyembelihan hewan qurban
pada hari raya Idul Adha.
Bagi seorang
muslim yang sudah mampu, dianjurkan untuk berkorban. Sedangkan yang tidak mau melakukan, akan mendapatkan
sanksi, sebagaimana peringatan Rasulullah :
"Barang siapa yang sudah mampu untuk berqurban, tetapi tidak mau melaksanakan, janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (Hadis riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)
Di bulan ini,
empat belas abad yang lalu, setiap hari raya Idul Adha, Rasulullah membeli dua
ekor domba yang gemuk, bertanduk, dan berbulu putih bersih. Beliau mengimami
shalat Idul Adha, setelah itu beliau mengambil seekor domba dan meletakkan kakinya
di sisi tubuh domba seraya berkata: "Ya
Allah, terimalah ini kurban dari Muhammad dan umat Muhammad." Lalu beliau menyembelih hewan kurban
dengan tangannya sendiri.
Setelah itu,
Rasulullah membaringkan domba yang lain seraya berdo'a: "Terimalah ini kurban dari umatku yang tidak mampu
berkurban.” Kemudian daging tersebut
dibagikannya kepada semua umat Islam yang miskin pada waktu itu. Hadits ini
diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Tirmizi. Berdasarkan hadits
inilah maka ahli fiqih menetapkan kurban itu sunnah muakkad (artinya: sunnah
yang sangat dianjurkan).
Ibadah korban
dalam Islam berbeda dengan korban yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Kaum musyrikin
menyembelih korban untuk disajikan pada para dewa dan untuk dijadikan sebagai
sesajen. Seperti dalam kepercayaan agama Mesir kuno, misalnya. Dalam Islam, korban
berbeda dengan upacara persembahan dalam agama-agama non-Muslim. Dalam Islam,
daging kurban tidak disajikan kepada Tuhan, tapi daging kurban justru dinikmati oleh sebagian besar orang-orang miskin di muka bumi.
Melaksanakan
ibadah korban adalah bukti keikhlasan dan ketakwaan manusia kepada Allah.
Firman Allah:
LAYYANALALLAHA
LUHUMUHA WA LA DIMA UHA, WALAKIYYANALUHUTTAQWA MINGKUM
“Tidak akan sampai daging dan darah binatang korban itu kepada Allah, melainkan yang akan sampai kepada Allah itu ialah takwa dari kamu semua.” (Qur’an surat AI Hajj ayat 37)
Ibadah qurban
mencerminkan pesan Islam betapa Islam memperhatikan nilai-nilai keadilan dan
kepedulian sosial. Ibadah korban merupakan bentuk puji syukur manusia kepada
Allah atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Firman Allah:
INNA A’ TAY NA
KAL KAUSAR, FASAL LILI ROBBI KA WAN HAR, INNASYA NI AKA HUWAL ABTAR.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka kerjakanlah shalat untuk Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Qur’an surat Al-Kausar ayat 1-3)
Salah satu hikmah
ibadah korban adalah untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat kikir, tamak, rakus,
dan bakhil, dalam diri manusia. Agar tumbuh sikap dermawan, sifat belas kasih
terhadap sesama, dengan mengorbankan sebagian harta kita untuk membeli dan
menyembelih hewan korban, kemudian dagingnya dibagi-bagikan kepada fakir miskin
dan orang-orang yang berhak menerimanya.
Allahu Akbar
3x walillahil hamd
Nabi Ibrahim as,
setelah selesai membangun Ka'bah di kota
Makkah, ia mendapat perintah untuk berkorban
dengan jalan menyembelih putra kesayangannya sendiri, putra tunggal yang sangat
disayangi dan telah lama didambakan. Sekalipun berat untuk melaksanakannya,
Nabi Ibrahim dengan rela hati menjalankan perintah Allah, sedangkan Isma'il
sendiri dengan kesadaran dan tawakkal, pasrah atas perintah itu.
Peristiwa itu diceritakan
dalam AI Qur'an:
“Maka tatkala anak itu sampai pada umur yang sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.” Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insha Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 102)
Nabi Ibrahim
telah rela akan kematian anaknya atas perbuatan
tangannya sendiri, dan sang anak telah
pula rela akan kematian dirinya demi patuh kepada orang tua dan taat kepada
Allah. Perintah pun dilaksanakan. Setelah itu, Allah berseru memanggil Ibrahim:
“Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi
itu. Demikianlah Kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya
ini suatu ujian yang nyata. Dan kami ganti anak itu dengan seekor sembelihan
yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan
orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim." (Qur’an surat Ash Shaffaat ayat 104-109).
Peristiwa inilah
yang kemudian oleh Nabi Muhammad SAW diabadikan setiap tahun pada hari Raya Idul Adha menjadi ibadah
korban sebagaimana yang kita kenal saat ini. Seorang mukmin menjadikan
peristiwa di atas sebagai cermin dalam mengorbankan segala sesuatu yang
dikehendaki Allah. Peristiwa pengorbanan itu menjadi simbol kesetiaan yang
tinggi seorang manusia kepada Tuhannya, yang tidak ada bandingannya sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Firman Allah:
LAN TANALULLBIRRA
HATTA TUNFIQU MIMMA TUHIBBUN
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada
kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai.” (Qur’an surat Al-Imran ayat 92).
Allahu Akbar
3 x walillahil hamd
kaum muslimin
sidang shalat Idul Adha
yang berbahagia,
Pada hari
ini, berjuta-juta kaum
muslim dari seluruh dunia berkumpul bersama-sama di tanah suci untuk
melaksanakan rukun Islam yang ke lima, yakni ibadah Haji. Ibadah haji
dikumandangkan oleh Nabi Ibrahim sekitar 3.600 tahun yang lalu. Sesudah masa beliau,
praktek-prakteknya sedikit banyak telah mengalami perubahan,
namun kemudian diluruskan kembali oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu
yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan
nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ibadah haji
berkaitan erat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagaimana isi
khutbah Rasulullah pada Haji
Wada' (Haji Perpisahan) yang intinya menekankan
persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta, dan kehormatan manusia, serta larangan melakukan pemerasan dan penindasan terhadap
kaum yang lemah, baik di bidang ekonomi, sosial, dan politik, maupun dalam
bidang lainnya. Makna-makna dalam praktek ibadah haji pada akhirnya akan
mengantarkan jamaah haji untuk hidup dengan pengalaman dan pengamalan
nilai-nilai kemanusiaan universal.
Ibadah haji
dimulai dengan niat,
sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tidak
dapat disangkal, fungsi pakaian, antara lain, ialah sebagai pembeda antara
seseorang dengan yang lainnya. Pembedaan tersebut dapat membawa antara lain, kepada perbedaan
status sosial, ekonomi, profesi,
dan prestise. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis (kejiwaan) kepada
pemakainya.
Di Miqat Makani, (yakni
tempat dimulainya ritual ibadah haji), perbedaan dan pembedaan itu harus
ditinggalkan. Semua orang harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh
psikologis yang negatif dari pakaian harus ditinggalkan. Sehingga semua orang merasa
dalam satu kesatuan dan persamaan. Tidak ada kaya dan miskin. Tidak ada raja
dan rakyat jelata. Semuanya sama sebagai manusia biasa.
Di Miqat, apa pun
ras dan sukumu, lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari! Baik
sebagai serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan; tikus yang melambangkan
kelicikan; anjing yang melambangkan tipu daya; atau domba yang melambangkan
penghambaan. Tinggalkan semua itu! Di Miqat makani, berperanlah sebagai manusia
yang sesungguhnya.
Dengan mengenakan
dua helai pakaian berwarna putih-putih—sebagaimana kain yang akan membalut
tubuh kita ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini—seseorang yang
melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi oleh pakaian ini. Jamaah
seharusnya merasakan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban individu
yang akan dihadapinya kelak di
hadapan Tuhan Yang
Maha Kuasa—yang di sisi-Nya tiada
perbedaan antara seseorang
dengan yang lain, kecuali atas dasar takwa kepada Allah.
Dari segi
kemanusiaan, Ka'bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga. Di
sana, misalnya, ada Hijir Isma'il yang arti harfiahnya adalah "pengakuan Isma'iI". Di sanalah, Isma'il putra Ibrahim—pembangun Ka'bah—pernah berada dalam pangkuan
ibunya yang bernama Siti Hajar. Siti Hajar adalah seorang wanita hitam, miskin,
bahkan budak, yang kuburannya berada di tempat itu. Budak wanita ini
ditempatkan Allah kuburannya di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi
kedudukan untuk seseorang bukan berdasarkan keturunan, harta, pangkat, jabatan,
atau status sosial lainnya, tetapi semata-mata karena tingkat ketakwaan kepada
Allah.
Setelah selesai
melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama
manusia-manusia yang lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama,
yakni berada dalam lingkungan Allah SWT, maka dilakukanlah
sa'i.
Di sini muncul
lagi Siti Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistrikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Diperagakan bagaimana
pengalaman Siti Hajar mencari air untuk putranya. Keyakinan Siti Hajar terhadap
kekuasaan Allah sangat kokoh. Ia bersedia ditinggalkan bersama anaknya di suatu
lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu kuat tidak menjadikannya berpangku
tangan. Ia tidak hanya menunggu turunnya hujan dari langit.
Tapi, ia berusaha, mondar-mandir
berkali-kali, demi mencari kehidupan.
Siti Hajar memulai usahanya
dari Bukit Shafa,
yang arti harfiahnya adalah “kesucian dan ketegaran”,
sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai
dengan ketegaran dan niat yang suci. Kemudian diakhiri di Marwa yang berarti
"ideal manusia”, “sikap menghargai”, “bermurah hati”, dan “memaafkan orang
lain".
Kalau thawaf menggambarkan
larut dan meleburnya manusia dalam
hadirat Ilahi, yang dalam istilah tasawuf disebut: fana' fillah, maka sa'i menggambarkan usaha manusia mencari kehidupan
dunia, yang dilakukan begitu selesai thawaf untuk melambangkan bahwa kehidupan
dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan yang tak terpisah—yang tidak boleh
kita abaikan salah satunya.
Dengan thawaf, disadarilah
tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sa'i yang menggambarkan
bahwa tugas manusia adalah berusaha semaksimal mungkin. Hasil usaha akan
diperoleh, baik melalui usaha maupun melalui anugerah Tuhan. Itulah yang
dialami oleh Siti Hajar bersama putranya, Isma'il dengan ditemukannya mata air
zamzam. Namun, perlu dicatat bahwa mengenal Allah itu baru datang setelah ada upaya
maksimal yang dilakukan oleh manusia itu sendiri.
Di 'Arafah, padang yang
luas lagi gersang
itu, seluruh jamaah wuquf
(berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah jamaah seharusnya
menemukan ma'rifat (pengetahuan sejati) tentang jati dirinya, akhir perjalanan
hidupnya di dunia. Di sana pulalah jamaah semestinya menyadari langkah-langkahnya
selama ini. Kesadaran-kesadaran inilah yang mengantarkan jamaah haji di Padang Arafah
untuk menjadi 'arif (bijaksana) dan memahami.
Kaum muslimin
sidang shalat Idul Adha
yang berbahagia,
Demikianlah
nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah korban dan ibadah haji. Semoga ibadah
korban dan ibadah haji yang dilaksanakan oleh kaum muslimin pada Idul Adha ini dapat menjadikan
kita manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.
BARAKALLAHULI WALAKUM FIL
QUR’ANIL’AZIM, INNAHU HUWAL GAFURURRAHIM
KHUTBAH KEDUA
ALLAHUAKBAR 7X
-ALHAMDULILLAHI HAMDAN KASIRAN KAMA AMAR
-ASYHADUALLA ILAHA ILLALLAH WAH DAHULA SYARIKALAH. WA ASYHADU ANNA
MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASULUH
-ALLAHUMMASALLI WA SALLIM WA BARIK ‘ALA MUHAMMAD, WA ‘ALA ALIHI WA
ASHABIHI AJMA’IN, AMMA BA’DU
-FAYA AYYUHANNAS, USIKUM WA IYYA YA BITAQWALLAH FA KOD FA ZAL MUTTAQUN
-KO LALLAHUTA’ALA FIL QUR’AN NIL ‘AZIM: “INNALAHAWA MALAIKATAHU
YUSALLUNA’ALAN NABIY, YA AY YUHALLAZINA AMANU SOLLU ‘ALAIHI WASALLIMU TASLIMA.
-ALLAHUMMASALLI’ALA MUHAMMAD WA’ALA ALI MUHAMMAD
KAMA SOLLAITA ‘ALA IBRAHIM WA ‘ALA ALI IBRAHIM
WABARIK ALA MUHAMMAD WA ‘ALA ALI MUHAMMAD KAMA BARAKTA ‘ALA IBRAHIM WA
‘ALA ALI IBRAHIM
FIL ‘ALAMIN INNAKA HAMIDUMMAJID
-ALLAHUMAGGFIRLILMUSLIMINNA WAL MUSLIMAT WAL MU’MININA WAL MU’MINAT AL
AHYA IMINHUM WAL AMWAT
INNAKA SAMI’UN QORIBUMMUJIBUD DA’AWAT YA KODIYAL HAJAT.
RABBANA ATINA FIDDUN YA HASANAH WA FIL AKHIRATI HASANAH WA QINA
‘AZABANNAR
-‘IBADALLAH. INNNALLAHA YAKMURU BIL ‘ADLI WAL IHSAN
WA ITA IZIL QURBA WA YANHA ‘ANIL FAHSYA IWAL MUNKAR WAL BAG.
YA ‘IZUKUM LA’ALLAKUM TAZAKKARUN, WA LA ZIKRULLAHI AKBAR.




