alt/text gambar

Rabu, 04 Maret 2026

POLITIK KETUA RANTING

TEMPO, No. 53 Thn. X, 28 Februari 1981


Oleh: Th. Sumartana


Pak Dawud, begitu saja namanya kita sebut. Umurnya 70 tahun sudah. Tampangnya asli desa. Giginya ompong melompong. Bersama bininya ia tinggal tak jauh dari pucuk gunung. Pendidikan manteri pengairan ia dapat dari zaman Belanda. Tapi sejak muda tak pernah mau "benum" di luar desanya. Di situ seumur-umur bercocok tanam. Hidup dari olah otot dan kasih sayang alam. Mengajar penduduk desa mengatur saluran air. Membaginya rata. Lanskap yang miring ketinggian dan berbatu itu sebagian memang disela oleh tanah rata lagi gembur. Diasuh oleh hikmah yang lahir dari alam, seisi desa dapat bertahan hidup dengan wajar.


Rumahnya juga tua tapi terpelihara. Perabot andalannya adalah sebuah ambin besar yang hampir memenuhi ruangan. Di sana ia biasa duduk atau duduk-duduk dengan para tetangga. Tikar yang tergelar di situ kentara mengkilat karena pantat. Di sana-sini amoh rombeng. Konon, di tahun 50-an seorang pejabat tinggi negara khusus datang mampir di rumahnya. Sejak itu Pak Dawud semakin dihormati orang sedesanya. Di sisi sebelah kanan tersimpan sebuah papan nama dengan tulisan yang sudah baur: Ketua Ranting. Ia memang Ketua Ranting partai dengan tanda gambar kepala kerbau.


Setelah berbasa-basi cara desa, kata-kata pun mulai meluncur, dengan hormatnya.


Tanya: Berpuluh tahun Pak Dawud tinggal di sini, tak mau pindah, kenapa?


Pak Dawud: Pertanyaan ananda memang pertanyaan. Tapi pada pendengaran saya lebih berisi persoalan daripada keinginan tahu. Lebih butuh nasihat daripada jawab. Baiklah, ini dari segi saya jauh lebih enak. Sebab, – apa boleh buat – nasihat adalah bagian dari ciri ketuaan. Semuanya ini telah menjadi bagian sah dari umur saya. (Pak Dawud mengulum senyum).


Begini, jadi bukan karena saya tak ingin maju. Bagi saya "maju" tak sama dengan "pindah". Panggilan hidup saya memang bukan untuk pindah. Orang muda-muda boleh pindah, tapi biarlah saya di sini saja. Inilah batas yang saya tetapkan bagi diri saya. Tepatnya di sinilah saya kira letak persoalan kita. Apabila kita pengin maju, perlu kita ketahui terlebih dahulu batas-batas keinginan kita itu. Soal yang kita hadapi sekarang ini saya kira adalah bahwa kita tidak mau tahu tentang batas-batas dari apa yang wajar bagi kita sendiri. (Pak Dawud mengacung-acungkan telunjuknya ke dirinya sendiri, seperti memarahi diri sendiri. Setelah reda, pelahan-lahan ia mulai dengan kalimat baru).


Pembangunan bagi saya pertama-tama harus didasari oleh kemampuan untuk menguasai diri. Yaitu mengontrol keinginan kita sendiri tentang kemajuan yang kita kehendaki. Berpuluh tahun sampai detik ini, itulah yang saya ajarkan kepada penduduk desa ini. (Telunjuknya berputar 180 derajat) Di-zaman Belanda dulu kita bahkan tak tahu apa yang sebenarnya kita ingini. Boleh dikata kita hidup hanya dengan naluri. Jelas bahwa kita memerlukan kebebasan bahkan untuk berkeinginan. Sebab itu kita mau perang mati-matian melawan Belanda. Hanya orang bebas yang bisa menguasai diri. (Kali ini Pak Dawud berkomat-kamit. Lidahnya menjulur-julur tak ada halangan. Setelah mengatur napas ia pun melanjutkan kalimatnya sambil menunjuk tanah). Inilah yang saya kerjakan di tempat ini. Saya mengajar penduduk bagaimana mereka menyimpulkan kemauan mereka sendiri. Saya mengajar, tidak mendikte. Tidak pula menganjurkan mereka agar meniru kemauan orang lain, bagaimanapun majunya mereka.


Tanya: Bapak masih Ketua Ranting partai di sini? 


Pak Dawud: Ananda bertanya apa arti kata "politik" bagi saya? Wuh, panjang ceritanya. Begini. Ketika itu, di tahun 30-an, tak sengaja seorang teman mengajak saya menghadiri rapat raksasa di sebuah lapangan di kota K. Di sana untuk pertama kali saya mengenal BK. Saya amat terkesan ketampanannya. Dan di sana pula saya mendengar suatu ajaran yang belum pernah saya dengar sepanjang hidup. Saya ingat betul, saat itu BK dalam bahasa daerah berkata bahwa "Kita semua yang kumpul di lapangan ini adalah orang" ("tiyang" atau "wong"). Kita adalah orang, tak kurang tak lebih. Saya lupa sesudah itu apa yang dikatakan BK. Tapi saat itu, di tahun 30-an, saya amat terkesan. Mulai saat itulah saya mengerti apa arti kata "politik". (Pak Dawud menghela napas panjang).


Sesungguhnya politik adalah cara hidup yang kita tempuh bersama untuk menjadi orang. Politik dalam arti tertentu adalah perjuangan untuk mengakui dan diakui sebagai orang. Tak kurang tak lebih. (Pak Dawud menghela napas lagi). Itulah politik. Itulah perjuangan politik. Itulah pula perjuangan saya di tempat ini selama berpuluh tahun. (Kembali ia menunjuk tanah). Sampai sekarang saya masih Ketua Ranting. Tapi terus-terang, bagi saya tak penting apakah partai saya bergambar kerbau atau kancil. Yang penting adalah apabila penduduk desa ini tahu harga mereka sebagai "orang".


Tanya: BK sudah tiada. Partai warisannya kalang kabut. Apa pendapat bapak?


Pak Dawud: Jangan memuja orang. Berat dosanya. Sama berat dengan melecehkannya. Pelajaran pertama bagi setiap orang dalam politik adalah belajar untuk tidak memuja atau melecehkan orang. Bersetuju boleh, tapi jangan memuja. Melawan silakan, tapi jangan melecehkan. (Wajahnya nampak bersungguh-sungguh).


Adapun tentang partai yang kalang-kabut, ananda sebagai penonton boleh ikut kalang-kabut. Tapi sebagai peserta janganlah kecewa. Jangan terlalu banyak khayal. Ananda harus tahu "batas-batas" yang saya sebut tadi. Jangan mengukur kemampuan diri sendiri dengan kemampuan orang lain. (la berkata-kata seperti sedang marah).


Belajarlah dari hikmah perkembangan alam. Tak ada tahapnya yang tak berguna. Bagaimana lamban, bagaimana bodoh, bagaimana memalukannya sekalipun. Belajarlah pada batas-batas kemampuan diri sendiri. Sambil belajarlah punya keyakinan. Jika orang tua mengira bahwa mereka bisa hidup tanpa keyakinan, maka anak-anak mereka akan menjadi sebaliknya. Tahi angin pun akan dipertahankan mati-matian. Itulah yang disebut kalang-kabut! Bertinju melawan kabut! 


Tanya: Pak Dawud...,


Pak Dawud: Ya?! (Pak Dawud menguap. Membuka mulutnya lebar kemudian menutupnya kembali. Benar, giginya memang ompong-melompong).


Sumber: TEMPO, No. 53 Thn. X, 28 Februari 1981

Minggu, 01 Maret 2026

Belajar dari Kondisi Terendah


Setiap manusia pasti pernah berada di titik yang membuatnya merasa kecil, gagal, atau tak berdaya. Ada fase ketika rencana runtuh, kepercayaan dikhianati, dan harapan tak berjalan seperti yang dibayangkan. Banyak orang menyebut fase itu sebagai luka, sesuatu yang ingin segera dilupakan karena terasa menyakitkan.

Namun luka tidak selalu berarti akhir. Ia bisa menjadi ruang belajar yang paling jujur. Di saat semuanya terasa runtuh, seseorang dipaksa melihat dirinya tanpa topeng. Ia belajar tentang batas kemampuannya, tentang kesalahan yang pernah diabaikan, dan tentang kekuatan yang ternyata selama ini tersembunyi. Titik terendah sering kali justru menjadi titik paling terang untuk memahami diri sendiri.

Perbedaan terletak pada cara memaknai. Jika dipandang sebagai luka semata, ia akan terus terasa perih dan membebani. Tetapi jika dilihat sebagai pelajaran, ia berubah menjadi modal untuk melangkah lebih matang. Rasa sakit tidak hilang begitu saja, namun ia memiliki arti.

Hidup tidak menjanjikan jalan tanpa jatuh. Yang menentukan bukan seberapa dalam seseorang terpuruk, melainkan bagaimana ia bangkit setelahnya. Dari sanalah kedewasaan lahir: ketika titik terendah tidak lagi dianggap sebagai kutukan, melainkan sebagai guru yang diam-diam membentuk karakter.


Sabtu, 28 Februari 2026

Cara Baca Buku Cepat tapi Tetap Menyerap Isinya



Mitos terbesar dalam dunia membaca adalah bahwa semakin cepat seseorang membaca, semakin dangkal pemahamannya. Kontroversinya, banyak penelitian justru menunjukkan hal sebaliknya: kecepatan membaca yang tepat justru bisa meningkatkan konsentrasi dan daya serap. Artinya, bukan soal cepat atau lambat, melainkan bagaimana otak mengolah informasi dalam ritme tertentu.

Sebuah riset dari University of Minnesota membuktikan bahwa pembaca yang menggunakan teknik chunking atau membaca dalam kelompok kata dapat menyerap informasi 40 persen lebih baik daripada mereka yang membaca kata per kata. Fakta ini menunjukkan bahwa membaca cepat tidak identik dengan melewatkan isi, asalkan menggunakan strategi yang benar.

Dalam keseharian, banyak orang mengeluh tidak punya waktu untuk membaca buku setebal 300 halaman. Mereka menyerah di bab pertama karena merasa terlalu lama untuk menuntaskan. Namun, orang yang tahu cara membaca cepat dengan benar justru bisa selesai lebih cepat sambil tetap memahami ide utama buku. Pertanyaannya, bagaimana cara melakukannya?


1. Fokus pada Ide Besar, Bukan Detail Sepele


Kesalahan umum saat membaca adalah terjebak pada detail kata per kata. Padahal, penulis biasanya ingin menyampaikan ide besar yang terstruktur di balik rangkaian kalimat. Jika kita melatih diri untuk menangkap argumen utama, detail-detail akan otomatis menyusul.

Misalnya, ketika membaca buku filsafat, tidak perlu berhenti lama pada istilah yang terdengar asing. Tangkap dulu pesan utamanya, seperti “manusia bertanggung jawab atas kebebasannya” dalam pemikiran Sartre. Detail filosofis lainnya bisa dipahami belakangan, tanpa harus menghambat alur bacaan.

Membaca dengan fokus pada gagasan besar membuat kita bergerak lebih cepat, tetapi tetap menangkap substansi. Inilah yang membuat buku tebal tidak lagi terasa menakutkan.


2. Gunakan Teknik Membaca Blok, Bukan Kata per Kata

Otak manusia bekerja lebih baik ketika memproses kelompok kata sekaligus daripada satu kata saja. Teknik ini sering disebut chunking. Dengan melatih mata untuk menangkap frasa atau blok kalimat, kecepatan membaca bisa meningkat signifikan.

Contoh sederhana, cobalah membaca kalimat panjang dengan mata yang berhenti di tiga atau empat titik saja, bukan setiap kata. Awalnya terasa sulit, tetapi lama-kelamaan otak akan terbiasa. Cara ini membantu mengurangi kebiasaan membaca ulang yang menghambat pemahaman.

Teknik blok ini juga yang banyak dibahas di konten eksklusif logikafilsuf, bagaimana otak memproses informasi lebih cepat tanpa kehilangan makna. Pembaca yang konsisten melatih metode ini biasanya bisa menggandakan kecepatan bacanya dalam waktu singkat.


3. Gunakan Pertanyaan Sebagai Pemandu

Membaca cepat tanpa arah membuat kita mudah lupa isi buku. Untuk mengatasinya, bacalah dengan pertanyaan di kepala. Pertanyaan ini berfungsi sebagai jangkar yang menuntun perhatian kita pada hal-hal penting.

Misalnya, sebelum membuka bab baru, tanyakan: apa yang sebenarnya ingin dijelaskan penulis di bagian ini? Saat membaca buku psikologi tentang kebiasaan, fokuslah pada bagaimana kebiasaan terbentuk, bukan sekadar menghafalkan contoh-contoh yang diberikan.

Dengan begitu, kecepatan membaca bukan hanya soal jumlah halaman, tapi juga kedalaman penyerapan. Pertanyaan membuat kita lebih selektif dalam memperhatikan bagian penting, sehingga pemahaman lebih kokoh.


4. Tandai dan Catat dengan Ringkas

Membaca cepat akan lebih efektif jika disertai dengan pencatatan. Catatan ringkas membuat ide utama terekam lebih kuat di memori, tanpa perlu mengulang dari awal.

Sebagai contoh, saat membaca buku sejarah, cukup catat tiga hal utama: tokoh, peristiwa, dan dampaknya. Catatan sederhana ini sudah cukup untuk membantu otak menyusun kerangka besar isi buku. Tidak perlu menyalin ulang kalimat panjang yang justru memperlambat.

Mencatat juga membuat kita lebih aktif berinteraksi dengan teks, bukan hanya menjadi pembaca pasif. Hal ini membantu mengikat informasi lebih lama di ingatan.


5. Latih Konsentrasi dengan Sesi Singkat

Membaca cepat bukan berarti membaca sepanjang hari tanpa henti. Justru, konsentrasi terbaik biasanya terjadi dalam rentang waktu singkat, sekitar 25 sampai 30 menit.

Contoh nyata bisa dilihat dari metode Pomodoro yang membagi waktu kerja menjadi blok fokus dan istirahat. Jika diterapkan pada membaca, kita akan lebih mudah mempertahankan kecepatan sekaligus pemahaman. Daripada memaksa membaca 3 jam penuh, lebih efektif membaca 3 sesi singkat dengan konsentrasi penuh.

Dengan cara ini, otak tidak cepat lelah dan tetap tajam dalam menyerap informasi. Hasilnya, kecepatan membaca bertemu dengan kualitas pemahaman yang lebih tinggi.


6. Gunakan Skimming dan Scanning Secara Tepat

Skimming dan scanning sering disalahpahami sebagai cara malas membaca. Padahal, keduanya adalah teknik efektif untuk mempercepat penyerapan informasi. Skimming digunakan untuk menangkap gambaran umum, sementara scanning untuk menemukan detail tertentu.

Contoh, ketika membaca buku manajemen, gunakan skimming untuk memahami kerangka besar setiap bab, lalu gunakan scanning untuk mencari contoh kasus atau data penting yang mendukung. Dengan cara ini, kita tidak terjebak membaca hal-hal yang tidak relevan.

Teknik ini membuat kita lebih selektif. Tidak semua kalimat penting, tetapi selalu ada inti yang menjadi fondasi dari keseluruhan argumen penulis.


7. Latih Konsistensi, Bukan Sekadar Kecepatan Instan

Banyak orang berhenti setelah mencoba membaca cepat satu atau dua kali karena merasa belum berhasil. Padahal, kemampuan ini sama seperti olahraga: hasilnya datang dari latihan konsisten.

Misalnya, jika setiap hari kita membaca 20 halaman dengan teknik cepat, dalam sebulan kita bisa menyelesaikan 600 halaman dengan pemahaman yang tetap terjaga. Bandingkan dengan membaca tanpa teknik yang sering terhenti di tengah jalan.

Konsistensi ini pula yang membuat membaca cepat bukan sekadar trik sesaat, melainkan kebiasaan jangka panjang yang memperkaya wawasan.

Membaca cepat sambil menyerap isi buku bukan lagi sekadar teori jika dilakukan dengan strategi yang tepat. Bagaimana menurutmu, apakah kamu tertarik mencoba teknik ini dalam rutinitas bacaanmu? Tulis pendapatmu di kolom komentar dan bagikan artikel ini agar lebih banyak orang bisa menikmati bacaan dengan cara yang lebih efisien.

Sumber: Fb

,

Patriotisme adalah Takhayul yang Diciptakan dan Dipelihara melalui Jaringan Kebohongan dan Kepalsuan

Emma Goldman, aktivis politik anarkis dan penulis. Ia memainkan peranan penting dalam perkembangan filsafat politik anarkis di Amerika Utara dan Eropa pada belah awal abad ke-20

Patriotisme—apa yang orang sebut cinta tanah air—bukanlah cinta sama sekali. Ia adalah ilusi yang halus, dibalut dalam bendera, lagu kebangsaan, dan janji-janji muluk. Ia menipu manusia untuk mengorbankan hidupnya demi sesuatu yang sering kali bukan miliknya, demi kekuasaan yang menindas, demi negara yang membungkam. Setiap kali seseorang memuji “tanah airku,” tanyakanlah: apakah ia memuji rakyatnya, atau penguasa yang menindas rakyat itu?

Negara, dalam segala bentuknya, berdiri bukan untuk individu, tetapi untuk mempertahankan hierarki dan kepemilikan segelintir orang. Dan patriotisme adalah alatnya: menanamkan rasa takut, rasa bangga semu, dan kepatuhan buta. Anak-anak diajari mencintai simbol, bukan manusia; warga diajari taat pada hukum, bukan pada keadilan. Sehingga kita lupa, kebebasan sejati tidak ditemukan di bendera atau janji nasional, tetapi dalam keberanian untuk berpikir sendiri dan melawan ketidakadilan.

Kebohongan di balik patriotisme memecah kita. Ia memisahkan kita dari mereka yang menderita di dunia lain, dari mereka yang sama-sama manusia, dari mereka yang sama-sama korban penindasan. Jika kita ingin dunia yang adil, kita harus menolak semua patriotisme semu itu—membongkar jaringan kepalsuan, menentang ilusi, dan menemukan cinta yang benar: cinta pada manusia, bukan pada simbol atau negara.

Sumber: Fb

Jumat, 27 Februari 2026

Sedekah = Tindakan yang Benar


Dalam bukunya 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadhan, Cak Nur menjelaskan: sedekah atau memberikan sebagian harta merupakan sebuah wujud tindakan pembuktian kesadaran akan "kebenaran". 

Dari segi bahasa Arab, kata "shadaqah", juga diartikan dengan "tindakan yang benar". Benar dalam arti sesuai dengan kesadaran yang benar, kesadaran yang ia yakini atau kesadaran Tuhan, takwa. 

Itulah sebabnya, sedekah sesungguhnya juga berefek dikembalikan kepentingan dirinya dan tidak membutuhkan sebuah imbalan atau balasan atau pujian. Hal demikian juga dibenarkan dalam Al-Qur'an bahwa sedekah adalah refleksi kepentingan diri, yakni sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya kami memberikan makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih (Qs. Al-Insan [76]: 9).

Ayat ini menegaskan: ketika seseorang memberi kepada orang lain, ia tidak perlu mengharapkan imbalan atau, bahkan sekadar ucapan terima kasih. Karena ini menyangkut kepentingan dirinya dengan Allah Swt., refleksi sikap membenarkan yang diyakini. 

(Nurcholish Madjid, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan, Bandung: Mizan, 1999, h. 123-124).


,

Islam sebagai Agama Hibrida

Nurcholish Madjid (memakai kemeja putih) 

Oleh: Nurcholish Madjid


SAYA baru saja datang dari Los Angeles dan Berkeley untuk ikut serta dalam kegiatan yang menyangkut Indonesia di kedua Universitas, UC Berkeley dan UCLA. Ada perasaan campur-aduk dari sudut pandang orang luar terhadap keberagamaan bangsa Indonesia. Di satu pihak ada harapan-harapan, di lain pihak ada kecemasan-kecemasan. Sekarang persoalannya adalah mewujudkan dan memperbesar harapan itu dan mengurangi kecemasan, dan kalau bisa menghilangkannya sama sekali. 

Misalnya tentang masalah Islam. Indonesia kini sedang dilanda oleh beberapa gejala yang oleh orang-orang Barat didentifikasi sebagai ekstrimisme atau fundamentalisme. Mereka sangat khawatir dengan gejala ini. Tapi ketika kita ingatkan bahwa semua itu terjadi dalam kancah civil liberties, kecemasan mereka berkurang. Semua gejala yang terjadi akhir-akhir ini adalah bagian dari kebebasan pembahasan atau wacana bebas. Dengan adanya wacana bebas ini, bukan hanya kejelasan-kejelasan yang diperoleh, tapi juga akan terjadi proses-proses penisbian, relati-fisasi, bahkan lebih radikal dari itu adalah proses devaluasi. 

Misalnya jihad. Jihad sekarang merupakan suatu kata-kata yang menjadi bagian dari wacana umum. Di dalam diskusi-diskusi tentang jihad, kesuburan untuk membuat argumen dipunyai oleh mereka yang baca. Bagi yang tidak membaca, sekalipun sangat rajin menggunakan jihad sebagai suatu retorika, akhirnya kehilangan landasan dan keseimbangan. Akibatnya, perkataan jihad yang semula sedemikian menakutkan tetapi kemudian mengalami kejelasan. Dan dengan adanya kejelasan itu, maka terjadi devaluasi terhadap makna jihad sebagai retorika politik, dan karenanya kemudian menjadi isu harian semata. 

Demikian juga fenomena keagamaan, terutama Islam, yang pada tahun 1980-an sering disambut dengan suatu antusiasme, bahkan sedikit banyak itu semacam teriakan tepuk tangan, yaitu apa yang disebut dengan kebangkitan Islam. Tetapi ketika itu menjadi maslah harian, maka terjadi semacam relativisasi. 

Dunia Islam sekarang ini, seperti ditulis oleh para ahli, mengalami apa yang disebut predicament, semacam krisis atau kegoyahan. Salah satu indikasinya antara lain adalah fungsi dari perasaan konfrontatif dengan Barat. Saya sebut “perasaan" karena konfrontasi sebetulnya tidak ada. Yang ada adalah persepsi sebagai akibat dari pengalaman sejarah seperti misalnya yang secara retorika sering diulang: perang salib, penjajahan, dan lain-lain. Maka hal itu mengendap di dalam kesadaran umat Islam, atau bawah sadar umat Islam, sehingga memunculkan gejala yang sepertinya anti-Barat.

Hal itu sebetulnya merupakan suatu anomali, karena Alquran sendiri mengindikasikan, ketika dunia terbagi menjadi Roma (Barat) dan Persia (Timur), orang Islam memihak Roma, bukan memihak Persia. Begitu juga, ada surah al-Rum yang memberikan kabar gembira kepada pengikut Nabi Muhammad bahwa kekalahan Roma oleh Persia, yang sempat membuat orang-orang Mekkah, musuh Nabi, bergembira, akan disusul dengan kemenangan, dan itu terbukti. Sekalipun secara geografis Arabia langsung berhubungan dengan Persia, bahkan di beberapa daerah di Jazirah Arab sempat mengalami Persianisasi, namun batin orang Islam atau pengikut Nabi sesungguhnya lebih dekat dengan orang-orang Roma, karena ada kaitannya dengan agama Nasrani. 

Potensi pertentangan itu disadari oleh sarjana semacam Simon van Den Berg, penerjemah kitab polemisnya Ibn Rusyd, Tahafut al-Tahafut, yang sangat terkenal dan banyak mempengaruhi cara berpikir umat Islam. Di sini ada hal yang patut direnungkan. Dalam pengantarnya, Simon van Den Berg mengatakan bahwa polemik ini adalah salah satu contoh yang orang Barat sendiri tidak menyadari mengenai Islam. 

Dia bilang: “Kalau benar kita boleh mengatakan bahwa budaya Barat pada hakekatnya adalah Maria Sopra Minerva—agama Kristen disesuaikan dengan pola budaya setempat—maka masjid (Islam) pun didirikan di atas puing-puing kuil Yunani. Sehingga apa yang disebut dengan ilmu kalam, theologia, adalah adaptasi—paling tidak dari segi metodologi—dari cara berpikir para filsuf Yunani terutama Aristoteles. 

Karena itu, kalau orang-orang yang disebut ahlussunnah waljamaah mengklaim sebagai pengikut al-Asy'ari, di dalam definisinya mengenai Tuhan melalu perumusan sifat 20, maka sifat 20 itu sesungguhnya sangat Aristotelian. 

Di sana kita lihat ada perkataan “wajib”, “boleh”, dan “mustahil”. Sehingga kalau Tuhan itu disebut abadi (qadim), maka rumusannya menjadi: secara akal Tuhan itu harus qadim, harus alpha, artinya tidak ada permulaannya, dan mustahil Tuhan itu jadid, mustahil Tuhan itu baru, dalam arti didahului oleh ketiadaan. Jadi perkataan “wajib” dan “mustahil” itu sudah menunjukkan logika Aristoteles. Dan itu sekarang menjadi bagian yang sangat sentral dalam wacana kalam di kalangan ahlussunnah

Menurut Ibn Taimiyah, sifat 20 itu bid'ah. Benar bahwa Tuhan itu qadim tapi, kata Ibn Taimiyah, “so what?” Secara rasional itu benar, tapi apa fungsinya? Dalam sifat 20 itu, tidak dimasukkan sifat ghafur (maha pengampun) dan sifat wadud (kasih sayang). Alasannya karena tidak mungkin dirumuskan dengan logika Aristoteles: bahwa “Tuhan itu secara akal wajib pengampun" tak bisa, tidak logis. Itu hanya kita terima karena Tuhan mengatakan begitu tentang dirinya. Tapi bahwa Tuhan itu ada dari semua, tanpa permulaan, itu secara akal bisa dimengerti. 

Budaya Islam bersifat amalgam, atau hibrida dari berbagai budaya. Lihat saja masjid, yang paling sederhana. Di Pondok Indah ada masjid yang orang sering menyebutnya sebagai Masjid Biru. Tidak ada mihrabnya dan tidak ada ruang kecil untuk imam di depan. Mengapa? Karena arsiteknya, Ismail Sufyan, menganggap bahwa mihrab adalah tiruan dari gereja. Tapi kalau konsekuen, maka mestinya tidak ada menaranya. Sebab menara adalah adaptasi dari arsitektur Persia, arsitektur kaum Majusi. 

“Manarah” artinya tempat api, karena orang Majusi, kaum Zoroaster, memahami Tuhan sebagai Zat yang tak bisa digambarkan. Maka akhirnya mereka simbolkan dengan api. Api adalah suatu substansi yang tidak bisa dipegang. Oleh karena itu, orang Majusi kerap dianggap menyembah api. Untuk memperkuat kesucian api, maka api itu ditempatkan di bangunan yang tinggi, namanya manarah, tempat api, yang kemudian menjadi “menara”. Dalam uraian tentang maulid di kampung-kampung, biasanya dikatakan: ketika jabang bayi Muhammad lahir, menara-menara orang Majusi itu runtuh. 

Jadi, pada waktu umat Islam berkembang begitu rupa, suara azan harus mencapai radius yang seluas-luasnya, maka mereka terpikir untuk meminjam arsitektur Majusi ini, yaitu azan dari tempat tinggi. Di zaman Nabi, azan dilakukan cuma di atas atap. Bilal, muazin Nabi, hanya naik ke atas atap yang pendek. Tapi pada masa perkembangan Islam, menara menjadi bagian dari budaya Islam. Tapi itu tak ada salahnya, karena memang budaya tak mungkin eksklusif monolitik. 

Yang murni Arab tidak ada. Di dalam Alquran banyak sekali bahasa-bahasa lain. Menurut seorang ulama Arab yang hidup 1100 lalu, dalam bukunya Al-Muarrab, banyak sekali istilah-istilah yang sangat sentral dalam Islam yang berasal dari bahasa lain. Misalnya shirath, al-shirath al-mustaqim, jalan yang lurus. Shirath ternyata dari Bahasa Latin “strada”. Juga al-qisth (keadilan). Qisth ternyata berasal dari bahasa Yunani, yang setelah diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi just, sebab perubahan dari Q ke G atau J itu biasa. Maka qisth itu adalah just dalam Bahasa Inggris. Qisthash itu adalah justice. Jadi jangan dikira bahwa bahasa Arab dalam Alquran itu semuanya Arab murni. 

Di dalam Alquran juga ada Bahasa Melayu: kafur. Dalam suatu lukisan “nanti kita di surga akan diberi minuman yang campurannya kapur” (wayusqauna biha ka'san kana mizajuha kafura). Yang dimaksud di situ adalah kapur dari barus, yang saat itu sudah merupakan komoditi yang sangat penting di Timur Tengah, bahkan ada indikasi sejak zaman Nabi Sulaiman. 

Waktu itu yang disebut kapur barus tidak digunakan untuk kepinding seperti yang sekarang kita lakukan, tapi sebagai tonic. Ia dimasak menjadi tonic, menjadi minuman yang sangat menyegarkan, dan harganya mahal sekali karena diimpor dari Barus. Maka “kapur” kemudian menjadi simbol dari sesuatu yang sangat mewah dan sangat menyenangkan, sehingga di dalam Alquran dipakai untuk ilustrasi bahwa nanti minuman orang yang di sorga adalah minuman dengan campuran kapur. Dan banyak lagi yang seperti itu. Jadi sebetulnya tidak ada budaya yang monolitik. Semuanya hibrida. 

Nurcholish Madjid, cendekiawan Muslim

Sumber:

Nurcholish Madjid, "Islam sebagai Agama Hibrida", dalam Abd Moqsith Ghazali (Peny.), Ijtihad Islam Liberal: Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis, Jakarta: Penerbit Jaringan Islam Liberal, 2005, h. 61-64.


TERBARU

MAKALAH