Masih ada pendapat lain yang perlu diperhitungkan, yaitu dari Donald Davidson. Perspektif Davidson memang agak lain, yaitu yang telah kita sebut perspektif "metafilosofis”. Bagi Davidson memahami metafor dari sudut semantik belaka akan menyesatkan kita. Di wilayah semantik istilah ”makna” cenderung dipersempit ke pola perilaku linguistik yang baku. Padahal, menurut Davidson, "makna” adalah terutama soal "penggunaan”, yang medan kemungkinannya sangatlah luas dan rumit, dan senantiasa bergerak meluas ataupun menyempit. Jadi, bertentangan dengan Ricoeur, bagi Davidson metafor justru berada secara khusus di wilayah ”penggunaan” bahasa. Metafor, karena tak mungkin diterjemahkan secara literal persis, justru berada di luar medan semantika ”makna”. Metafor karena itu harus dilihat lebih sebagai "peristiwa aneh”, peristiwa yang menyebabkan kita terpaksa mengubah keyakinan dan keinginan serta merangsang kita untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia. Metafor bukanlah pertama-tama "ungkapan” pengetahuan tentang dunia melainkan "sumber” yang melahirkan pengetahuan itu. Namun di sini metafor bukanlah hanya dalam bentuk pernyataan linguistik lengkap. Ia bisa juga berupa sobekan sebuah puisi yang menggetarkan jiwa, rangkaian kata tak lengkap yang senantiasa mengiang-ngiang tak kunjung hilang, beberapa adegan film yang diam-diam mengubah pandangan hidup dan perilaku kita, dsb.
Itulah sebabnya, bagi Davidson, metafor tak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa literal. Berhadapan dengan metafor kita tak sepenuhnya memiliki sarana yang memadai untuk memahaminya. Bahkan bila memahami itu berarti ”menafsirkan ke dalam skema yang telah ada sebelumnya”, maka metafor tak bisa dipahami atau pun ditafsirkan. Tetapi kalau "memahami” berarti menggunakan skema pengertian yang ada sekedar sebagai alat bantu, maka memahami metafor bisa dilihat seperti memahami suatu fenomena alam yang tidak biasa. Di sini kita memahaminya justru dengan mencari kemungkinan untuk merevisi skema-skema pengertian awal tadi.
Nah, karena metafor bisa juga dalam bentuk-bentuk nonlinguistik, maka bagi Davidson metafor tak bisa dianggap memiliki "isi kognitif” dalam artian tegas. Metafor tidak mengatakan sesuatu secara langsung, melainkan secara tak langsung ia menyebabkan kita menyadari sesuatu dan berpikir ke arah tertentu. Jadi metafor pada dirinya sendiri tak memiliki "isi kognitif” melainkan merangsang kegiatan-kegiatan kognitif yang penting.
Karena itu pula kalaupun metafor dianggap dapat melegitimasikan suatu keyakinan maka itu hanya bisa dilakukannya dengan cara metaforis juga, ibarat kalau orang menyodorkan sebuah foto dan mengatakan: "Nah, sekarang kamu percaya?” Demikian maka yang terjadi hanyalah proses ”menjadi”, dari tak disadari menjadi disadari, dari tak diketahui menjadi diketahui. Maka dalam hal ini tidak diperlukan penjelasan metafisik tentang bagaimana kata-kata dalam metafor itu bekerja atau bagaimana ”kebenaran” muncul dari metafor. Davidson mengatakan: "Pada saat kita memahami suatu metafor, kita dapat saja menyebut hal yang kita tangkap itu 'kebenaran metaforis' dan mengatakan bahwa makna metaforis adalah ini atau itu.”
Kini sudah saatnya untuk membuat refleksi kritis atas semua pendapat tadi. Kita mulai saja dengan konsep tentang "realitas” dan bahasa. Saya setuju dengan Madison bahwa konsep kita tentang realitas pada dasarnya tergantung pada bahasa itu sendiri. Konsep kita tentang struktur kategorial realitas pada dasarnya memang dimungkinkan oleh bahasa. Tetapi anggapan dasar semacam ini tidaklah mesti melahirkan suatu kesimpulan bahwa pada akhirnya kenyataan "ekstralinguistik” itu tidak ada sama sekali. Dalam peristilahan tradisional, di sini ada kerancuan berlebihan antara ordo cognoscendi dengan ordo essendi, katakanlah antara tatanan pengetahuan dengan tatanan kenyataan aslinya. Dalam hal ini Ricoeur mungkin lebih proporsional, sebut baginya kenyataan ekstralinguistik itu bagaimana pun memang ada meskipun tidak kita ketahui persis "apa”-nya. Bahwa kenyataan itu "ada” kita tahu oleh sebab memang ada sesuatu yang dikatakan oleh bahasa. Sedang tentang "apa"-nya yang "ada” itu memang benar amat erat terajut dalam bahasa, sehingga yang kita tahu hanyalah kenyataan sejauh dikatakan.
Bagi saya kenyataan bahwa kita "tahu” bahwa realitas itu ada sebetulnya lebih muncul dari pengalaman primordial kita, yaitu berupa "pengetahuan-lewat-pergaulan” dan bukannya berupa ”pengetahuan-lewat-penyimpulan”. Dengan istilah Whitehead, ini adalah pengetahuan melalui "prehensi”, yang lebih bersifat intuitif. Jalan yang dipakai Ricoeur melalui penelitian atas kemampuan reflektif bahasa, saya anggap komplementer terhadap hal ini. Lebih lanjut tampaknya keyakinan kita tentang adanya kenyataan ekstralinguistik ini memang hanya dapat dianggap sebagai kategori terakhir dalam horizon konseptual kita. Tanpa kategori itu fungsi dan nilai bahasa tak bisa dimengerti samasekali. Sedang kenyataan murni yang sesungguhnya pada dirinya sendiri memang tak bisa kita ketahui. Dalam hal ini, meskipun atas dasar alasan yang berbeda, omongan Kant memang masih berbunyi, dalam arti bahwa klaim tentang adanya realitas ekstralinguistik itu hanya memiliki status sebagai postulat saja. Karenanya masih dapatlah dikatakan bahwa ordo essendi tetaplah ada, meski yang dapat kita bicarakan selalu terbatas pada apa yang dapat dikatakan saja alias terbatas pada ordo cognoscendi saja. Yang dapat kita perbincangkan memang hanyalah "kenyataan yang diperkatakan” dalam bahasa.
Keyakinan macam di atas itu pada gilirannya mengimplikasikan bahwa segala pernyataan tentang "apa”-nya kenyataan memang jadi bersifat kontingen, serba terbatas. Namun wacana pengetahuan tidak lantas tidak bernilai, sebab wacana itu meski terbatas toh menampilkan pula aspek-aspek tertentu setiap kali dari kenyataan, atau memiliki korelasi tertentu dengan kenyataan. Pengetahuan yang serba dibatasi perspektif linguistik kita sendiri itu, karenanya, tetaplah bernilai sekurang-kurangnya untuk merumuskan pengalaman pergaulan kita dengan dunia, memahami kekuatan dan keterbatasannya, menyiasati keberadaan kita, dan akhirnya memperluas wawasan kita tentang dunia manusia dan posisi kita dalam alam semesta.
Bambang Sugiharto, Postmodernisme, h. 151-153





