alt/text gambar

Minggu, 03 Mei 2026

Topik Pilihan: , ,

Seputar Hermeneutika

Bambang Sugiharto, Hermeneutika

Hermeneutika dalam Sastra 


Dalam perkembangan seni rupa, khususnya, orang akhirnya menyadari bahwa seni pada akhirnya adalah soal tafsir. Di dunia teater dan sastra pun, pada awalnya, yang dianggap penting adalah si penulis atau seniman itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, dalam kajian sastra, reaksi pembaca menjadi hal yang juga penting. Ini tidak lagi disebut sebagai writerly text, tetapi readerly text, atau lebih tepatnya, efek yang ditimbulkan pada pembaca. 

Dalam aliran pos-strukturalisme, yang muncul adalah pemahaman bahwa pembaca memiliki peran penting dalam menafsirkan karya, bahkan bisa dikatakan pembaca itu menulis ulang teks tersebut. Dengan kata lain, saat kita membaca sebuah cerpen atau novel, kita secara tidak langsung menulis ulang cerita tersebut dalam pemahaman kita sendiri. Ini mengubah tekanan yang semula pada penulis menjadi pentingnya interaksi pembaca dengan teks. Pembaca, dalam hal ini, bukan hanya menerima apa yang ditulis, melainkan juga berperan aktif dalam menafsirkan dan menghidupkan teks itu. Bahkan, pembaca disebut sebagai pihak yang menulis ulang, atau dalam pos-strukturalisme disebut sebagai writerly reading. Dalam hal ini, pembaca juga menjadi hal yang sangat penting. 

Pemikiran hermeneutika, yang awalnya berfokus pada metodologi, berkembang menjadi hermeneutika filosofis yang membawa perubahan besar dalam cara berpikir. Hermeneutika filosofis ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran Martin Heidegger, HansGeorg Gadamer, dan Jean Paul Gustave Ricoeur, yang menyelami tafsir tidak hanya dalam teks, tetapi dalam seluruh cara kita memahami dunia. 

Ini adalah revolusi besar yang memengaruhi hampir setiap bidang pemikiran, memperkenalkan pemahaman baru tentang bagaimana makna dibentuk dan ditafsirkan.

Bambang Sugiharto, Hermeneutika: Pengantar Ringkas, Bandung: Mizan, 2025, h. 33-34

***

Hermeneutika sebagai Proses Pembebasan dari Ilusi Keyakinan 

Menurut berbagai pandangan, berpikir kritis bisa dilihat sebagai hal positif bagi zaman sekarang. Manusia menjadi lebih sadar akan kemampuannya, semakin mengetahui apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak. Ini bisa mengurangi kesombongan. 

Melalui perenungan kritis, manusia juga mulai menyadari kerumitan dan kompleksitas dirinya. Kesadaran akan hal inilah yang biasa disebut sebagai kedewasaan. Ketika seseorang semakin dewasa, dia semakin menyadari bahwa meskipun merasa hebat dalam beberapa hal, dalam sisi-sisi lain dia pun lemah. Ini adalah bagian dari kematangan, yaitu kemampuan untuk melihat banyak sisi diri yang lebih rumit dan ambigu, termasuk sisi-sisi yang mungkin buruk. Manusia dan kehidupan memang mengandung banyak paradoks: ia pada dasarnya baik sekaligus buruk, bahkan bisa menjadi jahat. 

Hal ini juga berlaku dalam pandangan kita terhadap orang lain. Kita bisa saja mengagumi seseorang, tapi seiring dengan perjalanan waktu, kita mungkin menyadari bahwa orang yang kita kagumi ternyata memiliki sisi yang sangat negatif. Sebaliknya, seseorang yang kita anggap buruk bisa saja menjadi menarik jika kita melihat sisi-sisi lain dari dirinya. 

Kemampuan untuk melihat banyak sisi ini adalah tanda kedewasaan, karena kita mulai menyadari bahwa dunia ini tidak hanya hitam dan putih. Sebelumnya, kita mungkin melihat dunia sebagai sesuatu yang sederhana—sesuatu yang jelas dibagi menjadi yang baik dan buruk, suci dan dosa. Namun, semakin lama hidup, semakin banyak yang kita alami. Kita menyadari bahwa dunia ini jauh lebih kompleks dan sering kali sangat sulit untuk menilai sesuatu dengan tegas. 

Hermeneutika, dengan cara tertentu, mencerminkan proses kematangan ini. Ini adalah sebuah bentuk evolusi kesadaran yang membawa kita ke tingkat pemahaman lebih dalam, baik sebagai individu maupun sebagai peradaban.

Hermeneutika mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dengan lebih terbuka, memahami relativitas, serta mengklarifikasi ilusi-ilusi yang sebelumnya kita yakini sebagai kepastian. 

Orang yang telah mencapai tahap kematangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun perjalanan spiritual, tidak lagi melihat dunia dengan pola pikir yang sederhana. Banyak orang yang telah mencapai tahap makrifat—seperti para sufi atau mistikus justru terkesan menjadi lebih permisif dalam menilai, tidak mudah menyatakan ini baik atau buruk. Mereka mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih longgar terhadap norma-norma yang selama ini kita anggap sebagai aturan yang pasti. Orang-orang yang lebih fundamentalis sering kali tidak bisa memahami hal ini dan justru marah terhadap pandangan semacam itu. Mereka mungkin bahkan menganggap pandangan seperti itu “rusak" atau “kehilangan prinsip”. 

Sebenarnya secara ilmiah, menurut Lawrence Kohlberg, perkembangan moral juga menggambarkan proses pendewasaan yang serupa. Dalam teori moralitasnya, tahap yang paling tinggi adalah tahap universalis, yaitu saat seseorang tidak lagi terjebak dalam norma-norma yang kaku dan tidak lagi sibuk menilai atau mengkritik. Mereka melihat dunia dengan pemahaman yang lebih luas dan lebih longgar. 

Ini adalah tahap yang dicapai oleh tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan Jalaluddin Rumi, yang melihat dan bertindak di luar kerangka norma yang terbatas. Dari perspektif ini, tahap tersebut bisa dianggap sebagai puncak kematangan individu, dan dalam konteks peradaban, mungkin ini adalah tahap menuju kematangan yang lebih luas. 

Sains, agama, seni, dan seluruh bidang lainnya kini dipaksa untuk mempertanyakan apa mereka sebenarnya dan apa pentingnya mereka dalam konteks dunia yang semakin berubah. Ini adalah proses yang penting, karena memungkinkan kita untuk mengevaluasi ulang semua yang kita yakini dan memberikan ruang bagi pemahaman yang lebih kompleks tentang dunia.

Hermeneutika, dalam konteks ini, menjadi kunci untuk menghadapi tantangan zaman dan bagaimana kita bisa merumuskan kembali pemahaman kita tentang berbagai bidang tersebut. Namun, bagi mereka yang masih terikat pada pandangan konvensional, proses ini bisa sangat mengguncang. Banyak orang mungkin merasa terancam atau bahkan bingung dengan cara pandang baru ini. 

Akhirnya, yang menjadi inti dari hermeneutika adalah untuk membantu kita melihat kenyataan yang lebih besar dan lebih kompleks. 

Bambang Sugiharto, Hermeneutika, h. 50-53

***


0 komentar:

Posting Komentar