alt/text gambar
Tampilkan postingan dengan label Spektrum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spektrum. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2026

Strategi Perang Sun Tzu

Kebanyakan orang mengira bahwa perdebatan adalah ajang adu argumen yang berisik, padahal di mata Sun Tzu, setiap kata yang keluar setelah perdebatan dimulai adalah tanda bahwa kamu gagal memenangkan situasi secara strategis. 


Kemenangan sejati dalam komunikasi bukan terletak pada seberapa telak kamu memukul mundur logika lawan, melainkan pada bagaimana kamu mengatur medan tempur mental sehingga lawan bicara merasa tidak punya pilihan selain setuju denganmu. "Seni berperang yang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran," dan prinsip ini berlaku mutlak dalam meja negosiasi maupun obrolan di tongkrongan.


Dalam interaksi sosial, kita sering melihat orang yang terlalu bernafsu membuktikan dirinya benar hingga akhirnya menciptakan resistensi emosional dari lawan bicaranya. Mereka menang secara teknis, tapi kalah secara hubungan—sebuah kemenangan semu yang menurut Sun Tzu sangat tidak efisien. Dengan mengadopsi taktik kuno ini, kamu sebenarnya sedang membangun otoritas yang tenang, di mana posisi kamu sudah tidak tergoyahkan bahkan sebelum kalimat pertama diucapkan.


1. Kenali Dirimu, Kenali Lawanmu (Intelijen Komunikasi)


Sun Tzu menekankan pentingnya informasi sebelum melangkah. Dalam percakapan, ini berarti kamu harus memahami motivasi, ketakutan, dan ego lawan bicara kamu. Jangan masuk ke dalam perdebatan tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka pertahankan—apakah itu kebenaran fakta, atau sekadar harga diri? Jika kamu tahu bahwa lawan bicaramu hanya ingin merasa dihargai, memberikan apresiasi di awal akan meruntuhkan seluruh benteng pertahanan mereka.

Gunakan teknik mendengarkan secara strategis untuk memetakan "medan tempur" pikiran mereka. Biarkan mereka bicara lebih dulu hingga mereka menghabiskan seluruh "peluru" argumennya. Saat mereka merasa sudah didengar, mereka akan secara psikologis menurunkan tamengnya, dan saat itulah ide kamu bisa masuk tanpa perlawanan yang berarti.


2. Menang di Atas Kertas (Pre-emptive Position)


"Prajurit yang menang, menang dulu baru pergi berperang." Dalam komunikasi, ini adalah tentang membangun kredibilitas dan framing sebelum topik sensitif dibahas. Jika kamu sudah memposisikan diri sebagai otoritas yang solutif dan tenang sejak awal pertemuan, lawan bicara akan merasa ragu untuk mendebat kamu karena bobot reputasi yang kamu bawa sudah terlalu berat untuk dilawan.


Atur suasana dan konteks percakapan agar berpihak pada tujuanmu. Gunakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya sudah pasti "ya", sehingga kamu membangun momentum persetujuan (yes-set). Ketika arus percakapan sudah mengalir ke arahmu, mengajukan argumen utama hanyalah masalah waktu, dan lawan akan mengikutinya secara naluriah sebagai bagian dari konsistensi logika mereka sendiri.


3. Sediakan "Jembatan Emas" untuk Mundur


Salah satu strategi Sun Tzu yang paling brilian adalah jangan pernah mengepung musuh secara total; selalu sisakan jalan keluar. Jika kamu memojokkan lawan bicara hingga mereka merasa bodoh atau dipermalukan, mereka akan menyerang balik dengan emosi buta demi menyelamatkan muka. Perdebatan akan berubah menjadi perang harga diri yang tidak berujung.


Berikan mereka jalan keluar yang terhormat. Gunakan kalimat seperti, "Saya mengerti kenapa Anda berpikir begitu berdasarkan data lama, namun jika kita lihat variabel baru ini..." Dengan menyalahkan "data lama" atau "situasi yang berubah", kamu membiarkan mereka mengubah pendapat tanpa harus merasa kalah. Membiarkan lawan menjaga harga dirinya adalah cara tercepat untuk mendapatkan kesepakatan mereka.


4. Gunakan Kecepatan dan Ketidakterdugaan


"Cepat seperti angin, tenang seperti hutan." Dalam perdebatan, jangan biarkan lawan menebak arah serangan logikamu. Jika mereka menyiapkan argumen A, seranglah dari sudut pandang B yang tidak mereka antisipasi. Fleksibilitas intelektual ini membuat lawan bicara kehilangan keseimbangan mental karena mereka terpaksa berpikir ekstra keras untuk mengejar pola pikirmu yang adaptif.


Ketika lawan mulai emosional, tetaplah tenang seolah-olah serangan mereka tidak berdampak apa pun padamu. Ketenangan yang kontras ini adalah bentuk intimidasi halus yang menunjukkan bahwa kamu berada di level yang berbeda. Di mata Sun Tzu, emosi adalah kekacauan, dan siapa pun yang tetap tenang di tengah kekacauan dialah yang memegang kendali penuh atas hasil akhir.


5. Hindari Pertempuran yang Tidak Perlu


Sun Tzu tahu bahwa tidak semua perang layak dimenangkan. Jika perdebatan hanya akan membuang energi tanpa hasil yang produktif, strategi terbaik adalah menghindar. Memenangkan argumen dengan orang yang bebal atau tidak memiliki otoritas untuk membuat keputusan adalah pemborosan sumber daya yang fatal.


Pilihlah pertempuranmu dengan bijak. Terkadang, diam atau mengalihkan topik adalah bentuk kemenangan strategis karena kamu menjaga energi dan reputasi kamu untuk isu yang jauh lebih krusial. Seorang ahli strategi tahu kapan harus menarik pedang, dan kapan harus menyimpannya sambil tersenyum penuh makna.


"Kemenangan sejati adalah saat lawanmu merasa bahwa ide yang kamu tawarkan adalah ide mereka sendiri yang baru saja mereka temukan."


Apakah kamu merasa selama ini kamu lebih sering memenangkan argumen tapi kehilangan kawan, atau kamu sudah mulai belajar menaklukkan tanpa harus bertempur?

Jumat, 27 Maret 2026

, ,

Rukun Khutbah Jumat

Rukun Khutbah Jumat

Khutbah Pertama


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan din yang benar, sehingga menjadikannya menang atas semua din meskipun kaum musyrik membencinya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

 Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, maka berjayalah orang-orang yang bertakwa.

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

**

Bacaan sebelum duduk:

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al-Qur'an yang agung. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

***

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ

Segala puji bagi Allah, seperti yang diperintahkan-Nya.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Wahai manusia, aku berwasiat kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, maka berjayalah orang-orang yang bertakwa.

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ

فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, Sesungguhnya, Engkau adalah Dzat yang Maha Mendengar, Mahadekat, Dzat yang mengabulkan doa. Wahai Yang Mengabulkan segala kebutuhan.

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ اللهِ ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ  ،  وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

***

VERSI BAHASA ARAB FULL:

Rukun Khutbah Pertama


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

صَدَقَ اللهُ اْلعَظِيْمُ

***

Bacaan sebelum duduk:

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

***

Khutbah Kedua


اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ 

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ  إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ،  فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ اللهِ . اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ، وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ 

***


Rabu, 25 Maret 2026

,

Sejarah yang Dipelajari di Sekolah Versi Penguasa?


Sejarah yang kamu pelajari di sekolah ternyata cuma versi yang disetujui penguasa. Ada fragmen-fragmen penting yang sengaja disembunyikan atau terkubur karena tidak cocok dengan narasi resmi. Siapa yang berhak menentukan sejarah mana yang pantas diceritakan?


Fatimah Purwoko membongkar fakta mengejutkan dari empat periode besar nusantara. Buku ini membahas masa Hindu-Buddha, Islam, Kolonial, dan Pasca-Kemerdekaan dengan sudut pandang yang jarang terexpos. Banyak peristiwa penting yang tidak masuk buku pelajaran karena dianggap terlalu kontroversial atau tidak mendukung kepentingan politik tertentu. Sejarah bukanlah catatan objektif, tapi rekonstruksi yang selalu dipengaruhi oleh siapa yang berkuasa.


Masa Hindu-Buddha menyimpan misteri yang lebih dalam dari sekadar candi dan kerajaan. Purwoko mengungkap bahwa Borobudur, Pawon, dan Mendut ternyata berada dalam satu garis lurus yang memiliki makna kosmik khusus. Konsep kekuasaan pada masa itu bersifat simbolik, raja bukan sekadar penguasa tapi bagian dari jagat raya. Ken Dedes dan ratu-ratu kerajaan mungkin memiliki peran lebih besar dari yang diceritakan dalam versi sejarah resmi yang didominasi oleh perspektif patriarkal.


Masa Islam menyimpan fakta tentang kejayaan maritim yang sengaja dikerdilkan. Kerajaan Islam di Papua dan berbagai wilayah nusantara menunjukkan penyebaran Islam jauh lebih luas dari yang diajarkan di sekolah. Peran Wali Songo dan para ulama dalam perlawanan terhadap kolonialisme sering dipotong atau diubah. Belanda sangat alergi dengan kata Islam dan sengaja menggunakan istilah Muhamaden untuk melemahkan identitas keagamaan. Sejarah ini disembunyikan karena menunjukkan kekuatan spiritual umat Islam yang mengancam kekuasaan penjajah.


Masa kolonial penuh dengan strategi licik yang masih berpengaruh sampai sekarang. Belanda menggunakan candu untuk melemahkan bangsawan Jawa dan merusak struktur sosial masyarakat. Panglima perang Diponegoro bahkan ada yang menyerah karena dibujuk dengan iming-iming candu. Regerings Reglement tahun 1854 menciptakan strata sosial yang membedakan kelas bangsa Eropa, Timur Jauh, dan pribumi. Hanya kelompok ulama dan guru tarekat yang menolak candu karena menganggapnya haram, itulah sebabnya mereka menjadi musuh utama Belanda.


Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa memiliki narasi yang lebih kompleks dari sekadar pahlawan nasional. Purwoko mengajukan pertanyaan provokatif, apakah pemberontakan Diponegoro sebenarnya dalih untuk memahkotai diri lepas dari takhta Mataram? Narasi besar sejarah nusantara masih didominasi oleh rekonstruksi kolonial Belanda yang menyederhanakan perlawanan sebagai pemberontakan pribadi. Padahal ada 112 perlawanan oleh kelompok Islam dalam kurun seratus tahun yang menunjukkan resistensi sistematis terhadap penjajahan.


Masa pasca-kemerdekaan juga tidak lepas dari penyembunyian sejarah. Pelarangan pesta Sinterklas oleh Soekarno adalah salah satu contoh kebijakan yang jarang dibahas dalam konteks lengkapnya. Akar pemikiran Bung Karno yang dikaitkan dengan ajaran teosofi Tarekat Mason dari ayahnya menimbulkan pertanyaan tentang ideologi pendiri bangsa. Letusan Tambora yang menyapu peradaban kesultanan Islam hingga tak berbekas juga menunjukkan bahwa bencana alam bisa menghapus jejak sejarah yang penting. Semua ini mengingatkan kita bahwa sejarah adalah diskontinu dan tidak pernah final.


Jadi menurut kamu, apakah sejarah yang tidak cocok dengan versi resmi harus tetap diajarkan atau dibiarkan terkubur? Coba ceritain pendapatmu di kolom komentar. Apakah kamu pernah menemukan fakta sejarah yang berbeda dari yang diajarkan di sekolah? Yuk diskusi, jangan cuma diem aja.

Minggu, 22 Maret 2026

,

Khutbah Jumat: Azas Hidup Taqwa


Kaum muslimin, sidang shalat Jumat yang berbahagia. 

Pada kesempatan khutbah ini, marilah kita menyegarkan ingatan kita dan merenungkan tentang takwa. Takwa itu adalah tujuan dari seluruh ajaran Alquran. Oleh karena itu, kita baca dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah: 


الۤمّۤۚ ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ

Alif Lam Mim. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Qs.Al Baqarah (2): 1-2)

Takwa itu ialah pola hidup atau gaya kita menempuh hidup, yang disertai dengan kesadaran yang mendalam bahwa Allah itu hadir. Bahwa Allah itu beserta kita.


"Sesungguhnya Allah bersama kita." (Qs. Al-Taubah (9): 40)

Seperti diucapkan Nabi kepada sahabatnya, Abu Bakar, pada waktu beliau berdua berada di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah. Kemudian Abu Bakar merasa ketakutan karena hampir diketahui musuh. Lalu Nabi dengan tenang mengatakan: 

لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ

"Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS Al-Taubah (9): 40) 

Kesadaran bahwa Allah beserta kita mempunyai efek atau pengaruh yang besar sekali dalam hidup kita. 

Pertama, kesadaran itu memberikan kemantapan dalam hidup, bahwa kita ini tidak pernah sendirian. Kita selalu bersama Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak akan takut menempuh hidup ini dan kita bersandar kepada-Nya. Maka, sikap bersandar kepada Allah itu disebut tawakal. Salah satu sifat Allah ialah Al-Wakil, artinya tempat bersandar. 

"Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung." (Qs. Ali Imran (3): 173) 

Kedua, (dampak yang kedua) bahwa dengan kesadaran hadirnya Allah dalam hidup kita, maka kita akan dibimbing ke arah budi pekerti luhur, ke arah akhlaqul-karimah. Mengapa? Karena kalau kita menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalam hidup kita, maka tentunya kita tidak akan melakukan sesuatu yang sekiranya tidak mendapat perkenan dari Dia, tidak mendapat ridha Allah.

***

Sesuatu yang diridhai Allah itu ialah sesuatu yang bersesuaian dengan nurani kita. Karena dalam diri kita terdapat sesuatu sebagai mudhghah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi. Sebagai segumpal daging. Suatu perumpamaan segumpal daging ini menentukan seluruh hidup kita: 

Ingatlah bahwa dalam dirimu ada segumpal daging yang kalau baik maka seluruh jasadmu (hidupmu) akan baik dan kalau daging itu rusak maka seluruh jasadmu (hidupmu) pun rusak, (daging) itu adalah kalbu.” (HR Bukhari) 

Itulah hati nurani yang diberikan kepada kita oleh Allah Swt., sebagai petunjuk pertama menempuh hidup yang benar. Maka, pertama kali di dalam mempertimbangkan akal perbuatan ialah hati nurani. Dari situ kemudian kita mendapatkan suatu rentangan garis lurus antara diri kita dengan Tuhan yang disebut as-shirathal-mustaqim (jalan lurus). 

Oleh karena itu, perbuatan baik tentu bersesuaian dengan hati nurani. Sehingga Rasulullah Saw. juga menggambarkan kepada seorang sahabatnya yang bernama Wabishah bin Ma'bad, seorang yang hidupnya sedikit kasar karena dia dari kampung. Wabishah bertanya kepada Nabi, tentang apa itu kebajikan dan kejahatan? Maka Nabi menjawab dengan meletakkan tangannya ke dada Wabishah bin Ma'bad dan mengatakan, “Wabishah, kebajikan ialah sesuatu yang membuat hatimu tenteram, sedangkan kejahatan adalah sesuatu yang membuat hatimu bergejolak meskipun kamu didukung oleh seluruh umat manusia.” Berikut sabda Nabi itu: 

Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu, wahai Wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR Ahmad) 

Maka kita mengetahui sesuatu itu diridhai oleh Allah, kalau kita berbuat dengan tulus dan jujur mendengarkan hati nurani kita. Karena itu, dalam hadis disebutkan bahwa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga ialah takwa kepada Allah dan budi pekerti luhur. 

"Nabi Saw. ditanya: Apakah yang paling banyak memasukkan orang ke surga?” Nabi menjawab, "Takwa dan akhlak yang baik.' Nabi juga ditanya, Apa yang paling banyak memasukkan orang ke neraka?' Nabi menjawab, “Dua lubang yaitu mulut dan kemaluan.” (HR Ibnu Majah) 

Hal itu pula yang menjadi dasar alasan, mengapa takwa itu merupakan asas hidup yang benar. 

Ketika Nabi kita menghadapi persoalan Masjid Dhirar, yaitu masjid yang didirikan oleh beberapa kalangan di Madinah dengan maksud yang kurang baik, bukan maksud untuk menanamkan takwa kepada Allah tapi untuk memecah belah, maka, oleh Allah, Nabi diberi wahyu melarang beliau memasuki masjid itu, yang memang kemudian masjid itu dibakar. 

"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS Al-Taubah (9): 109) 

Dalam agama kita, asas hidup itu hanya dua. Yang satu benar dan yang lainnya salah. Azas hidup yang benar ialah at-taqwa minallahi wa ridwanan, bertakwa kepada Allah dan upaya mencari ridho Allah. 

Azas kedua, yang salah adalah semua azas hidup yang tidak berdasarkan taqwa dan tak bertujuan mencari ridha Allah. 

Menempuh hidup berasaskan takwa kepada Allah dan ridha-Nya tidak lain ialah, bagaimana kita menjalani hidup ini dengan terus-menerus waspada, agar semua tingkah laku kita dalam konteks pengawasan Tuhan. 

Karena itu di Al-Quran disebutkan dalam Surah Ya Sin, yang sering kita baca, bahwa pada manusia itu yang penting adalah amalnya. Dan amal itu akan dicatat oleh Tuhan beserta efeknya atau dampaknya. 

Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas. (Qs. Ya Sin (36): 12) 

Maka dari itu, yang kita bawa menghadap Allah adalah amal. Dan kalau seseorang sudah meninggalkan dunia ini, maka amal itu terwujud di dunia dalam bentuk reputasi. 

Seperti dikatakan dalam bahasa melayu, bahasa Indonesia, “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan amal.” 

Amal yang menjadi reputasi. Yaitu ketika orang mengenang seseorang yang sudah meninggal itu apakah baik atau buruk. Dan, umur reputasi itu jauh lebih panjang daripada umur pribadi manusia tersebut. Sampai sekarang kita masih bisa menyebut dengan penuh penghargaan kepada Plato, kepada Aristoteles, apalagi kepada Nabi. 

Tapi kita juga bisa menyebut dengan penuh kutukan dalam hati, orang-orang seperti Fir'aun, Abu Lahab, Nero, dan lain-lain. 

Jadi reputasi itu, nama baik ataupun nama buruk, jauh lebih panjang daripada umur seseorang. 

Aristoteles tampil di dunia hanya sampai umur 40-50 tahun menurut perkiraan. Tetapi sampai sekarang orang masih mengenang dia dan mempelajari pengetahuan yang diwariskan. Inilah amal. Inilah yang dimaksud dalam Surah Ya Sin di atas. 

Maka dari itu, agar reputasi kita ini nanti baik, yang berarti mencerminkan apa yang kita alami di akhirat, maka hendaknya kita berusaha betul-betul menyadari Allah itu hadir. 

Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-Hadid (57): 4) 

Firman Allah:

Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Mujadilah (58): 7) 

Tidak ada empat orang yang berbisik-bisik melainkan Allah yang kelima. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu melainkan Allah selalu beserta mereka di mana pun mereka berada. 

Kata imanuel dalam bahasa Ibrani, artinya Tuhan bersama kita. Imanu artinya beserta kita, el artinya Tuhan (Allah). 

Maka dari itu tidak heran, bahwa Al-Quran seperti yang saya kutip di atas, tidak lain tujuannya ialah membuat orang itu bertakwa. Dan seluruh ibadah kita ini pun akhirnya ialah agar membuat kita lebih bertakwa.

Barakallahu li wa lakum fil qur'anil 'azim, innahu huwal gafururrahim


Sumber: Nurcholish Madjid, 32 Khutbah Jumat, h. 360-367


Catatan tambahan:

Buya Hamka pernah mengutip kata bijak dari penyair Mesir, Ahmad Syauqi (1868–1932), yang dijuluki Amir al-Syu'ara (Pangeran Penyair). 

Syair Ahmad Syauqi yang terkenal mengenai reputasi, amal, dan kenangan baik yang ditinggalkan seseorang di dunia dapat memperpanjang usia mereka secara maknawi, bahkan setelah mereka wafat. 

Bunyi Pesan/Syair:

"Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu yang akan dikenang orang daripada dirimu, karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia."

Makna dari Kata Bijak Tersebut:

Umur Kedua: Syauqi menekankan bahwa manusia memiliki dua umur: umur biologis (ketika bernapas) dan umur sosial (ketika namanya dikenang baik).

Memperpanjang Usia: Meskipun umur fisik manusia pendek, ia bisa "diperpanjang" dengan meninggalkan amal jariyah, karya, atau reputasi yang baik (sebutan dirimu yang dikenang).

Warisan: Apa yang ditinggalkan seseorang (amal dan nama baik) lebih bernilai daripada sekadar keberadaan fisiknya saat hidup. 

Pesan ini sering dikutip sebagai motivasi untuk terus berbuat kebaikan agar terus hidup dalam ingatan manusia dan mendapatkan pahala yang terus mengalir.



Rabu, 18 Maret 2026

7 Tips Memutus Rantai Kemiskinan Mental yang Diwariskan Lingkunganmu


Kemiskinan yang paling mematikan bukan terletak pada angka di saldo rekening, melainkan pada cara berpikir yang merasa selalu menjadi korban keadaan. Banyak orang lahir dalam lingkungan yang merayakan keluhan dan mencurigai kesuksesan, sehingga mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa nasib sudah digariskan dan usaha adalah kesia-siaan. 


Rantai ini tidak akan putus hanya dengan bantuan modal finansial, karena mentalitas yang rusak akan selalu menemukan cara untuk menghabiskan sumber daya tanpa pernah membangun pondasi masa depan yang kokoh.


Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat pola di mana seseorang mendapatkan rezeki nomplok namun habis dalam sekejap untuk konsumsi barang mewah demi pengakuan status sosial sesaat. Lingkungan yang toksik sering mengajarkan bahwa menabung adalah perilaku pelit dan belajar hal baru dianggap sebagai gaya yang sok tahu atau ingin terlihat berbeda. Dengan memutus kebiasaan untuk selalu mencari pembenaran atas ketidakmampuan diri, kamu sebenarnya sedang mengambil langkah pertama untuk keluar dari penjara pikiran yang diwariskan secara turun-temurun.


1. Berhenti Menyalahkan Silsilah dan Keadaan


Menyalahkan orang tua atau lingkungan tempat tinggal hanya akan memberikan kelegaan sesaat namun tetap membiarkan kamu terjebak dalam lubang yang sama. Mentalitas korban adalah candu yang membuat kamu merasa berhak untuk gagal hanya karena tidak memiliki fasilitas yang sama dengan orang lain yang lebih beruntung. Selama kamu masih menuding faktor eksternal sebagai penyebab utama kegagalan, kamu sedang menyerahkan kunci kendali hidup kamu kepada orang lain yang bahkan tidak peduli.


Mulailah menerima kenyataan pahit bahwa meskipun kamu tidak bisa memilih tempat lahir, kamu bertanggung jawab penuh atas tempat di mana kamu akan mati. Ambil tanggung jawab atas setiap keputusan kecil yang kamu buat hari ini, mulai dari cara kamu menghabiskan waktu luang hingga cara kamu mengelola uang recehan. Sikap ksatria dalam mengakui kesalahan pribadi adalah satu-satunya jalan untuk memperbaiki arah hidup secara permanen dan bermartabat.


2. Melakukan Kurasi Ketat Terhadap Lingkungan Sosial


Lingkungan yang terbiasa dengan kemiskinan mental biasanya memiliki daya tarik magnetis yang sangat kuat untuk menarik siapapun yang mencoba melompat keluar. Jika kamu tetap menghabiskan waktu dengan orang-orang yang hobinya bergunjing dan meratapi nasib tanpa solusi, maka perlahan tapi pasti pikiran kamu akan teracuni oleh pesimisme mereka. Memutus rantai berarti kamu harus berani dianggap sombong atau tidak setia kawan demi menjaga kesehatan mental dan fokus pada pertumbuhan diri.


Cari lingkungan baru yang membicarakan ide, peluang, dan pertumbuhan jangka panjang daripada sekadar membicarakan keburukan orang lain atau gosip selebriti. Tidak perlu memusuhi teman lama, cukup kurangi durasi interaksi dan alihkan perhatian kamu pada komunitas yang memaksa kamu untuk berpikir lebih keras dan bekerja lebih cerdas. 


Perubahan frekuensi pergaulan ini akan secara otomatis mengubah cara kamu memandang dunia dan peluang yang tersedia di depan mata.


3. Mengubah Pola Konsumsi Menjadi Investasi Pengetahuan


Orang dengan kemiskinan mental sering kali sangat royal untuk urusan gaya hidup namun sangat pelit saat harus mengeluarkan uang untuk membeli buku atau mengikuti pelatihan. Mereka lebih memilih mencicil ponsel terbaru yang nilainya turun setiap bulan daripada menginvestasikan waktu untuk menguasai keterampilan yang permintaannya tinggi di pasar kerja. Pola konsumsi yang terbalik ini adalah alasan utama mengapa kemiskinan terus berputar dalam lingkaran yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Tahan keinginan untuk terlihat kaya di depan orang-orang yang sebenarnya tidak menyukai kamu dengan cara menunda pembelian barang-barang yang tidak produktif. Alihkan anggaran tersebut untuk memperdalam keahlian teknis atau literasi keuangan yang bisa membantu kamu menghasilkan lebih banyak pendapatan di masa depan. Memiliki otak yang berisi jauh lebih keren dan menguntungkan secara strategis daripada sekadar memiliki penampilan luar yang mentereng namun dompet kosong melompong.


4. Menghapus Kata Tidak Mungkin dari Kosakata Harian


Penyakit mentalitas miskin yang paling kronis adalah kecenderungan untuk langsung menyerah sebelum mencoba dengan dalih bahwa hal tersebut mustahil dilakukan oleh orang sepertinya. Batasan-batasan semu ini sering ditanamkan sejak kecil lewat kalimat-kalimat yang mengecilkan ambisi dan memuji rasa cukup yang sebenarnya hanyalah kemalasan yang dibungkus agama atau tradisi. Kamu harus mulai meragukan setiap keraguan yang muncul di kepala kamu dan mulai menguji batasan kemampuan diri secara berkala.


Coba selesaikan satu tantangan kecil setiap minggu yang selama ini kamu anggap sulit atau di luar jangkauan kemampuan kamu saat ini. Keberhasilan-keberhasilan kecil ini akan membangun rasa percaya diri bahwa dunia ini jauh lebih luas dan fleksibel bagi mereka yang berani mencoba dengan tekun. Dengan membuktikan pada diri sendiri bahwa kamu mampu melampaui ekspektasi lingkungan, kamu sedang merobek batasan mental yang selama ini mengurung potensi terbaik kamu.


5. Membangun Literasi Keuangan Sejak Dini


Banyak orang terjebak kemiskinan bukan karena kurangnya pendapatan, melainkan karena buta total terhadap cara kerja uang dan sistem bunga yang menjerat. Lingkungan yang miskin secara mental biasanya hanya mengenal uang sebagai alat untuk membeli barang, bukan sebagai benih yang harus ditanam agar tumbuh menjadi pohon penghasilan. Memahami perbedaan antara aset yang menghasilkan uang dan liabilitas yang menyedot uang adalah ilmu wajib yang harus kamu kuasai secara mandiri.


Pelajari bagaimana cara mengelola arus kas pribadi dan mulailah berinvestasi dalam instrumen yang paling kamu pahami meskipun jumlahnya sangat kecil di awal. Kedisiplinan dalam mengatur keuangan akan memberikan kamu rasa aman dan kebebasan untuk mengambil keputusan karier yang lebih berani tanpa dihantui ketakutan tidak bisa makan esok hari. Uang yang dikelola dengan bijak adalah alat pembebasan paling ampuh untuk memutus ketergantungan kamu pada sistem atau orang lain yang menindas.


6. Melatih Kedisiplinan di Atas Motivasi Sesaat


Motivasi adalah perasaan yang datang dan pergi, namun kedisiplinan adalah jangkar yang membuat kamu tetap bergerak maju saat suasana hati sedang memburuk. Orang yang terjebak kemiskinan mental biasanya bekerja hanya saat mereka merasa bersemangat, sehingga hasil kerja mereka menjadi tidak konsisten dan sulit dipercaya. Padahal, kesuksesan yang berkelanjutan hanya bisa dibangun lewat rutinitas membosankan yang dikerjakan dengan standar kualitas yang sama setiap harinya.


Buatlah jadwal harian yang ketat dan patuhi itu seolah-olah hidup kamu bergantung padanya, karena pada kenyataannya memang demikian adanya. Abaikan keinginan untuk bermalas-malasan atau menunda pekerjaan hanya karena kamu merasa sedang tidak dalam suasana hati yang baik untuk berkarya. Ketangguhan untuk tetap produktif di bawah tekanan adalah ciri utama dari mereka yang sudah berhasil keluar dari zona nyaman yang mematikan dan menuju puncak kesuksesan.


7. Berfokus pada Pemberian Nilai Bukan Sekadar Mencari Uang


Keinginan untuk cepat kaya tanpa memberikan kontribusi nyata adalah ciri khas dari pola pikir instan yang sering diajarkan di lingkungan yang kurang berkembang secara ekonomi. Kamu harus memahami bahwa uang hanyalah efek samping dari nilai manfaat yang kamu berikan kepada orang lain atau perusahaan tempat kamu bernaung. Jika kamu hanya fokus mencari uang, kamu akan mudah tergoda pada jalan pintas yang berisiko merusak reputasi dan integritas kamu dalam jangka panjang.


Berusahalah untuk menjadi orang yang paling kompeten dan paling membantu di manapun kamu berada, sehingga orang lain merasa rugi jika tidak bekerja sama dengan kamu. Tingkatkan kualitas layanan atau produk yang kamu tawarkan hingga melampaui apa yang diharapkan oleh pasar saat ini dengan dedikasi penuh. Fokus pada manfaat yang berkelanjutan ini akan membangun kekayaan yang jauh lebih stabil dan terhormat dibandingkan hasil dari manipulasi atau keberuntungan sesaat.


Menurut kamu apakah faktor lingkungan lebih kuat dalam membentuk nasib seseorang ataukah kekuatan tekad pribadi yang bisa mengubah segalanya? Silakan tuliskan pendapat atau pengalaman inspiratif kamu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar semakin banyak orang yang berani memutus rantai kemiskinan mental dalam hidupnya.

,

Tips Khutbah Jumat

Faktanya, jamaah menilai kesan khutbah Anda dalam hitungan menit.

Gaya penyampaian, struktur isi, dan dalil yang kuat menentukan apakah khutbah Anda terasa bermakna, menginspirasi, atau malah datar dan terlupakan. Berikut cara cepat membuat khutbah yang langsung berdampak:

Buka dengan masalah nyata – Mulailah khutbah dengan persoalan sehari-hari yang dekat dengan jamaah. Koneksi awal membuat perhatian mereka tetap tertahan.

Sisipkan ayat & hadits relevan – Hadirkan satu ayat atau hadits sebagai tulang punggung khutbah; ini memberi bobot dan otoritas.

Gunakan struktur jelas: Masalah → Solusi → Doa – Jamaah lebih mudah mengikuti jika alur khutbah runtut dan berujung pada aplikasi praktis.

Gunakan bahasa yang mengalir, bukan retorika berbelit – Pilih kalimat singkat, mudah dimengerti, dan contoh nyata agar pesan menyentuh hati.

Variasikan intonasi & jeda – Nada turun naik dan jeda yang tepat membuat poin penting terserap dan mencegah kebosanan.

Akhiri dengan seruan aksi & doa – Tutup dengan langkah konkret yang bisa dilakukan jamaah dan doa yang menyentuh.

sumber: FB

✅ Ingin langsung siap tampil?

Dapatkan 1001 Teks Khutbah Jumat Siap Tampil — ratusan teks lengkap dengan ayat, hadits, dan penutup siap cetak.

https://bintang.buat.io/1001-teks-khutbah-siap-cetak-1

Selasa, 17 Maret 2026

, ,

Jürgen Habermas Menentang Ide-Idenya Sendiri Terkait Gaza

Oleh: Hairus Salim


Salah seorang filsuf paling berpengaruh di dunia telah memberikan pendapatnya tentang perang di Gaza. Seorang cendekiawan Timur Tengah menjelaskan mengapa pendapatnya salah.

Asef Bayat//Penulis dan Profesor Sosiologi dan Kajian Timur Tengah di Universitas Illinois Urbana-Champaign

-----

Catatan dari saya (HS): tulisan ini ditayangkan pertama kali di New Line Magazine, 8 Desember 2023. Saya membaca tulisan ini beberapa tahun lalu dan terima kasih telah diingatkan lagi oleh bro Hassan Basri. Penerjemahan ini dilakukan sehubungan dengan meninggalnya sang filsuf, yang bukan kebetulan, di Indonesia cukup banyak penggemarnya. Mungkin akan lebih baik untuk mengenangnya dengan membaca surat Asep Bayat ini, berkaitan juga dengan penyerangan AS-Israel terhadap Iran sekarang ini dan juga untuk merenungkan bagaimana antara pemikiran dan tindakan bisa demikian berjarak.  Dalam dunia yang tidak baik-baik saja, komitmen moral yang jelas jauh lebih diperlukan. Penerjemahan ini untuk kepentingan diskusi. Penerjemahan ini dilakukan melalui mesin dengan sedikit penyuntingan tambahan dari saya. Buku Asep Bayat Islam Post-Islamisme sudah pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh LKIS, tahun 2011, dan mungkin akan diterbitkan ulang dalam waktu dekat.

-----

Catatan editor: Jürgen Habermas dan Asef Bayat adalah pemikir global yang sangat berpengaruh. Buku-buku mereka telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diajarkan di universitas-universitas di seluruh dunia. Habermas adalah bagian dari jajaran tokoh legendaris Mazhab Frankfurt dalam teori kritis, bersama dengan mendiang Theodor Adorno, Max Horkheimer, dan Herbert Marcuse. Namun, ia mungkin paling dikenal karena gagasannya tentang "ruang publik" — sebuah ranah di mana warga negara berkumpul untuk memperdebatkan masalah-masalah yang menjadi perhatian umum dan "opini publik" terbentuk, yang ia telusuri kembali ke kedai kopi dan salon sastra di Eropa abad ke-18 — dan sebagai pembela demokrasi liberal dari para kritikusnya, baik dari kiri maupun kanan. Ia tidak asing dengan tantangan yang diajukan Bayat dalam surat terbuka ini; debat publik dan pertempuran intelektualnya selama beberapa dekade telah membuatnya menjadi nama yang dikenal luas di Jerman.

Bayat adalah seorang sosiolog Timur Tengah kontemporer yang terkenal dengan konsepnya tentang "pasca-Islamisme" dan kajian-kajiannya yang mendalam tentang politik jalanan, kehidupan sehari-hari, dan bagaimana orang biasa mengubah Timur Tengah (judul tambahan bukunya tahun 2013, "Kehidupan sebagai Politik"). Habermas telah banyak dikritik atas pernyataan-pernyataannya baru-baru ini tentang perang Gaza, tetapi yang membedakan surat terbuka ini adalah kritik imanennya: Bayat berupaya menunjukkan bagaimana Habermas gagal menerapkan ide-idenya sendiri pada kasus Israel-Palestina. Kritik ini berangkat dari dalam logika pemikiran Habermas ini. Hal ini memberikan kekuatan yang akan—atau seharusnya—beresonansi dengan Habermas dan para pembelanya. Ini lebih merupakan undangan alih-alih polemik. Ini adalah upaya untuk terlibat, dan kami menerbitkannya di sini dengan harapan bahwa hal itu akan terjadi.

-------------------------

Yang terhormat Profesor Habermas,

Anda mungkin tidak ingat saya, tetapi kita pernah bertemu di Mesir pada Maret 1998. Anda datang ke Universitas Amerika di Kairo sebagai profesor tamu terhormat untuk berinteraksi dengan fakultas, mahasiswa, dan masyarakat. Semua orang antusias untuk mendengarkan Anda. Gagasan Anda tentang ruang publik, dialog rasional, dan kehidupan demokratis bagaikan hembusan udara segar di saat kaum Islamis dan otokrat di Timur Tengah membungkam kebebasan berekspresi dengan dalih "melindungi Islam". Saya ingat percakapan menyenangkan yang kita lakukan tentang Iran dan politik agama saat makan malam di rumah seorang kolega. Saya mencoba menyampaikan kepada Anda munculnya masyarakat "pasca-Islamis" di Iran, yang kemudian tampaknya Anda alami dalam perjalanan Anda ke Teheran pada tahun 2002, sebelum Anda berbicara tentang masyarakat "pasca-sekuler" di Eropa. Kami di Kairo melihat dalam konsep inti Anda potensi besar untuk memupuk ruang publik transnasional dan dialog lintas budaya. Kami menghayati inti filosofi komunikasi Anda tentang bagaimana konsensus kebenaran dapat dicapai melalui perdebatan terbuka dan bebas.

Sekarang, sekitar 25 tahun kemudian, di Berlin, saya membaca pernyataan "Prinsip Solidaritas" yang Anda tulis bersama tentang perang Gaza dengan sedikit kekhawatiran dan kecemasan. Semangat pernyataan tersebut secara luas menegur mereka di Jerman yang berbicara, melalui pernyataan atau protes, menentang pemboman tanpa henti Israel terhadap Gaza sebagai tanggapan atas serangan mengerikan Hamas pada 7 Oktober. Pernyataan itu menyiratkan bahwa kritik terhadap Israel ini tidak dapat ditoleransi karena dukungan terhadap negara Israel adalah bagian mendasar dari budaya politik Jerman, "di mana kehidupan Yahudi dan hak Israel untuk eksis merupakan elemen sentral yang layak mendapat perlindungan khusus." Prinsip "perlindungan khusus" berakar pada sejarah luar biasa Jerman, pada "kejahatan massal era Nazi."

Sungguh patut dipuji bahwa Anda dan kelas intelektual politik negara Anda bersikeras untuk mempertahankan ingatan akan kengerian bersejarah itu agar kengerian serupa tidak menimpa orang Yahudi (dan saya berasumsi, dan berharap, juga terhadap bangsa-bangsa lain). Tetapi formulasi Anda tentang, dan obsesi Anda pada, keistimewaan Jerman praktis tidak memberi ruang untuk percakapan tentang kebijakan Israel dan hak-hak Palestina. Ketika Anda mencampuradukkan kritik terhadap "tindakan Israel" dengan "reaksi anti-Semit," Anda mendorong orang untuk diam dan membungkam debat.

Sebagai seorang akademisi, saya terkejut mengetahui bahwa di universitas-universitas Jerman—bahkan di dalam ruang kelas, yang seharusnya menjadi ruang bebas untuk diskusi dan penyelidikan—hampir semua orang tetap diam ketika topik Palestina muncul. Surat kabar, radio, dan televisi hampir sepenuhnya kosong dari debat terbuka dan bermakna tentang masalah ini. Bahkan, banyak orang, termasuk orang Yahudi yang menyerukan gencatan senjata, telah dipecat dari jabatannya, acara dan penghargaan mereka dibatalkan, dan dituduh sebagai "antisemitisme." Bagaimana orang dapat berdiskusi tentang apa yang benar dan apa yang salah jika mereka tidak diizinkan untuk berbicara secara bebas? Apa yang terjadi pada gagasan Anda yang terkenal tentang "ruang publik," "dialog rasional," dan "demokrasi deliberatif"?

Faktanya adalah bahwa sebagian besar kritikus dan protes yang Anda tegur tidak pernah mempertanyakan prinsip melindungi kehidupan Yahudi — dan mohon jangan samakan para kritikus rasional pemerintah Israel ini dengan neo-Nazi sayap kanan yang memalukan atau anti-Semit lainnya yang harus dikutuk dan dihadapi dengan keras. Memang, hampir setiap pernyataan yang saya baca mengutuk kekejaman Hamas terhadap warga sipil di Israel dan anti-Semitisme. Para kritikus ini tidak memperdebatkan perlindungan kehidupan Yahudi atau hak Israel untuk eksis. Mereka memperdebatkan penyangkalan kehidupan Palestina dan hak Palestina untuk eksis. Dan inilah sesuatu yang secara tragis tidak Anda sebutkan dalam pernyataan Anda.

Tidak ada satu pun referensi dalam pernyataan tersebut yang menyebut Israel sebagai kekuatan pendudukan atau Gaza sebagai penjara terbuka. Tidak ada yang membahas tentang ketidakseimbangan yang menyimpang ini. Ini belum termasuk penghapusan kehidupan sehari-hari warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki. “Tindakan Israel”, yang Anda anggap “pada prinsipnya dibenarkan”, telah mencakup menjatuhkan 6.000 bom dalam enam hari kepada penduduk yang tidak berdaya; lebih dari 15.000 orang tewas (70% di antaranya perempuan dan anak-anak); 35.000 orang terluka; 7.000 orang hilang; dan 1,7 juta orang mengungsi — belum lagi kekejaman karena menolak akses penduduk terhadap makanan, air, perumahan, keamanan, dan sedikit pun martabat. Infrastruktur penting kehidupan telah lenyap.

Meskipun, seperti yang Anda nyatakan, hal-hal ini secara teknis mungkin tidak termasuk dalam "niat genosida," para pejabat PBB telah berbicara dengan tegas tentang "kejahatan perang," "pengusiran paksa," dan "pembersihan etnis." Kekhawatiran saya di sini bukanlah tentang bagaimana menilai "tindakan Israel" dari perspektif hukum, tetapi bagaimana memahami sikap dingin dan ketidakpedulian moral yang Anda tunjukkan dalam menghadapi kehancuran yang begitu dahsyat. Berapa banyak lagi nyawa yang harus binasa sebelum mereka layak mendapat perhatian? Apa arti "kewajiban untuk menghormati martabat manusia" yang digarisbawahi dengan tegas dalam pernyataan Anda pada akhirnya? Seolah-olah Anda takut bahwa berbicara tentang penderitaan warga Palestina akan mengurangi komitmen moral Anda terhadap kehidupan orang Yahudi. Jika demikian, betapa tragisnya bahwa perbaikan kesalahan besar yang dilakukan di masa lalu harus dikaitkan dengan melanggengkan kesalahan mengerikan lainnya di masa kini.

Saya khawatir kompas moral yang menyimpang ini terkait dengan logika keistimewaan Jerman yang Anda junjung tinggi. Karena keistimewaan, menurut definisinya, tidak memungkinkan satu standar universal, melainkan standar yang berbeda. Beberapa orang menjadi manusia yang lebih berharga, yang lain kurang berharga, dan yang lainnya lagi tidak berharga. Logika itu menutup dialog rasional dan menumpulkan kesadaran moral; ia membangun blok kognitif yang mencegah kita melihat penderitaan orang lain, menghambat empati.

Namun, tidak semua orang menyerah pada hambatan kognitif dan mati rasa moral ini. Pemahaman saya adalah bahwa banyak anak muda Jerman secara pribadi mengungkapkan pandangan yang sangat berbeda tentang konflik Israel-Palestina dari pandangan kelas politik negara itu. Beberapa bahkan ikut serta dalam protes publik. Generasi muda terpapar media alternatif dan sumber pengetahuan serta mengalami proses kognitif yang berbeda dari generasi yang lebih tua. Tetapi sebagian besar tetap diam di ranah publik, karena takut akan pembalasan.

Tampaknya semacam "lingkaran tersembunyi" sedang muncul, ironisnya di Jerman yang demokratis, mirip dengan Eropa Timur sebelum tahun 1989 atau di bawah pemerintahan despotik di Timur Tengah saat ini. Ketika intimidasi membungkam ekspresi publik, orang cenderung menciptakan narasi alternatif mereka sendiri tentang masalah sosial penting secara pribadi, bahkan ketika mereka mengikuti pandangan yang disetujui secara resmi di depan umum. Lingkaran tersembunyi semacam itu dapat meledak ketika kesempatan muncul.

Saya khawatir bahwa sekadar pengetahuan dan kesadaran mungkin tidak cukup. Lagipula, bagaimana seorang intelektual dapat "mengetahui" tanpa "memahami" dan memahami tanpa "merasakan," seperti yang dipertanyakan Antonio Gramsci? Hanya ketika kita "merasakan" penderitaan satu sama lain, melalui empati, mungkin ada harapan untuk dunia kita yang bermasalah ini.

Mari kita ingat kembali kata-kata penyair Persia abad ke-13, Saadi Shirazi:

Mari kita ingat kata-kata penyair Persia abad ke-13, Saadi Shirazi:

         Manusia adalah bagian dari satu kesatuan,

         Dalam penciptaan satu esensi dan jiwa.

         Jika satu bagian menderita kesakitan,

         Bagian lain akan tetap gelisah.

         Jika Anda tidak memiliki simpati terhadap penderitaan     manusia,

         Anda tidak dapat mempertahankan nama manusia!


Dengan hormat,


Asef Bayat


8 Desember 2023


Sumber: Fb Hairus Salim

Sabtu, 14 Maret 2026

,

Bagaimana Heidegger Menggugat Cara Kita Memahami Sains?


Martin Heidegger


Sering kali kita membayangkan ilmu pengetahuan sebagai aktivitas yang murni “melihat” dunia secara objektif. Seorang ilmuwan, dalam gambaran populer, hanya mengamati realitas, mencatat fakta, lalu merumuskan teori. Seolah-olah ilmu pengetahuan adalah cermin yang memantulkan dunia sebagaimana adanya.


Namun bagi filusuf Martin Heidegger, gambaran ini terlalu sederhana bahkan menyesatkan. Dalam analisisnya tentang hubungan manusia dengan dunia ilmiah (das wissenschaftliche Weltverhältnis), ia menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah titik awal pemahaman manusia terhadap dunia. Sebaliknya, ia adalah hasil akhir dari proses yang jauh lebih mendasar, keterlibatan praktis manusia dalam kehidupan sehari-hari.


Dengan kata lain, sebelum manusia menjadi “pengamat dunia”, ia terlebih dahulu adalah “pelaku di dalam dunia”.


Sejak zaman Yunani kuno, tradisi filsafat sering memisahkan dua hal:


Teori: aktivitas kontemplatif, murni melihat dan memahami.


Praktik: aktivitas bekerja, menggunakan alat, dan berinteraksi dengan dunia.


Dalam tradisi ini, teori dianggap lebih tinggi daripada praktik. Ilmuwan dilihat sebagai seseorang yang mengesampingkan aktivitas praktis demi mencapai pandangan objektif.


Namun Heidegger membalik asumsi ini.


Menurutnya, bahkan aktivitas ilmiah yang tampak paling “teoretis” sekalipun sebenarnya dipenuhi oleh tindakan praktis:


membaca hasil pengukuran eksperimen


mengamati preparat di bawah mikroskop


menggali situs arkeologi


menulis dan mencatat data


Ilmu pengetahuan ternyata bukan aktivitas pasif melihat dunia, tetapi jaringan tindakan yang sangat aktif.


Dalam sejarah filsafat Barat, banyak pemikir menganggap penglihatan sebagai dasar pengetahuan. Ide ini muncul dari tradisi Yunani dan terus berlanjut hingga filsafat modern.


Tokoh-tokoh seperti:


René Descartes


Immanuel Kant


Edmund Husserl


masih menganggap bahwa pengetahuan berakar pada intuisi atau persepsi.


Heidegger menolak asumsi ini.


Ia berpendapat bahwa sebelum kita “melihat” sesuatu secara teoritis, kita sudah lebih dahulu memahami dunia secara praktis melalui tindakan sehari-hari.


Melihat, dalam kehidupan nyata, bukan sekadar menangkap objek dengan mata. Melihat selalu terjadi dalam konteks penggunaan.


Misalnya:


Anda melihat sebuah surat di meja. Anda langsung memahami bahwa surat itu perlu dikirim. Lalu Anda mencari amplop yang ukurannya sesuai.


Apa yang terjadi di sini?


Anda tidak sekadar melihat kertas. Anda langsung memahami:


ukuran surat


fungsi surat


kebutuhan amplop


Artinya, persepsi kita selalu sudah terikat pada jaringan makna praktis.


Dalam filsafat Heidegger, dunia sehari-hari bukan kumpulan benda netral. Dunia adalah jaringan alat dan kegunaan.


Ia menyebut benda-benda yang kita gunakan sebagai Zuhandenheit  “yang siap digunakan”.


Contohnya:


palu untuk memukul paku


pena untuk menulis


sepatu untuk berjalan


Ketika kita menggunakan alat-alat ini, kita biasanya tidak memikirkannya secara teoritis. Kita tidak berkata:


“Objek berbahan logam dengan massa sekian gram sedang saya gunakan.”


Kita hanya memakainya.


Palu adalah sesuatu untuk memaku. Pena adalah sesuatu untuk menulis.


Makna benda muncul dari hubungannya dengan tindakan manusia.


Menariknya, menurut Heidegger, kita mulai berpikir secara teoritis justru ketika aktivitas praktis terganggu.


Ia memberikan beberapa contoh gangguan dalam penggunaan alat:


1. Auffälligkeit — alat rusak

Palu patah ketika digunakan.


2. Aufdringlichkeit — alat hilang

Kita tidak menemukan alat yang diperlukan.


3. Aufsässigkeit — alat mengganggu

Pena bocor atau sepatu terasa menyakitkan.


Dalam kondisi normal, alat “menghilang” dalam penggunaan. Kita tidak memikirkan palu saat memaku.


Namun ketika terjadi gangguan, alat tersebut tiba-tiba menjadi objek perhatian.


Misalnya:


Saat memaku, kita tiba-tiba menyadari:


 “Palu ini terlalu berat.”


Di sinilah terjadi perubahan penting.


Heidegger mengatakan bahwa perubahan ini melahirkan bentuk baru pemahaman: pernyataan predikatif.


Awalnya kita hanya menggunakan palu.


Kemudian muncul kalimat:


 “Palu itu berat.”


Kalimat ini tampak sederhana, tetapi sebenarnya menandai perubahan besar dalam cara kita memahami dunia.


Sebelumnya palu adalah bagian dari aktivitas memaku. Sekarang ia menjadi objek yang memiliki sifat.


Di sinilah Heidegger membedakan dua cara memahami sesuatu:


1. Hermeneutic “as”

Memahami sesuatu dalam konteks penggunaan.

Palu sebagai alat memaku.


2. Apophantic “as”

Memahami sesuatu sebagai objek dengan sifat tertentu.

Palu sebagai benda yang berat.


Perubahan dari yang pertama ke yang kedua adalah dasar munculnya pemikiran teoretis.


Ketika benda-benda dilepaskan dari konteks penggunaan sehari-hari, mereka menjadi objek yang berdiri sendiri.


Heidegger menyebut mode keberadaan ini sebagai Vorhandenheit

 “yang hadir sebagai objek”.


Dalam tahap ini:


benda tidak lagi dilihat dari fungsinya


tetapi dari sifat-sifatnya


Berat, panjang, massa, volume.


Di sinilah ilmu pengetahuan modern mulai terbentuk.


Terutama dalam ilmu seperti fisika matematika, alam dipahami sebagai:


keseluruhan objek yang dapat diukur.


Dengan kata lain, “alam” dalam sains bukan alam yang kita alami sehari-hari, melainkan alam yang telah direduksi menjadi objek terukur.


Salah satu kesimpulan paling radikal dari Heidegger adalah:


fakta ilmiah tidak muncul secara langsung dari realitas.


Fakta ilmiah muncul dari cara tertentu manusia memproyeksikan dunia.


Sebelum ada fakta ilmiah, harus ada:


cara melihat tertentu


metode pengukuran


kerangka konseptual


Barulah sesuatu dapat disebut “fakta”.


Dengan demikian, ilmu pengetahuan adalah praktik khusus yang lahir dari kehidupan manusia, bukan jendela langsung menuju realitas mutlak.


Analisis ini memiliki konsekuensi filosofis yang besar.


Heidegger menolak gagasan bahwa ilmu pengetahuan memberi kita akses istimewa pada “realitas sebagaimana adanya”.


Sebaliknya, ilmu pengetahuan:


memisahkan objek dari konteksnya


mengukur dan menghitungnya


menjadikannya bagian dari sistem yang dapat diprediksi


Proses ini sangat berguna. Tanpa itu, teknologi modern tidak akan ada.


Namun proses ini juga mereduksi kompleksitas dunia.


Dunia yang kaya makna berubah menjadi dunia angka.


Heidegger juga menggugat tradisi epistemologi modern.


Selama berabad-abad, filsafat pengetahuan berangkat dari gambaran berikut:


seorang subjek terisolasi


mengamati objek di luar dirinya


lalu memperoleh pengetahuan


Namun bagi Heidegger, gambaran ini keliru.


Manusia tidak pernah berada di luar dunia sebagai pengamat netral. Manusia selalu sudah berada di dalam dunia, terlibat dalam aktivitas praktis.


Karena itu, dasar pengetahuan bukanlah persepsi, melainkan keterlibatan praktis dalam kehidupan bersama.


Jika filsafat lama memulai dari “kepala” (kesadaran yang mengamati), maka Heidegger ingin memulai dari “kaki” (tindakan manusia di dunia).


Analisis Heidegger mengingatkan kita bahwa dunia yang kita huni bukan sekadar kumpulan objek.


Dunia adalah:


jaringan alat


ruang aktivitas


medan makna bersama


Sains memang memberi kita pemahaman yang sangat kuat tentang alam. Namun ia hanyalah satu cara melihat dunia di antara banyak cara lainnya.


Sebelum dunia menjadi objek penelitian, ia sudah lebih dahulu menjadi rumah tempat manusia hidup dan bertindak.


Dan mungkin justru di situlah, menurut Heidegger, makna dunia yang paling mendasar berada.

Jumat, 13 Maret 2026

,

Ulama NU: Empat Prinsip Utama


Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, sebagaimana yang dianut oleh Nahdlatul Ulama memegang empat prinsip utama. Pertama, tawassuth yang berarti tengah-tengah, tidak eksrim ke kiri maupun ke kanan. Kedua, tawazun yang artinya berimbang. Ketiga, itidal alias tegak lurus. Keempat, tasammuh yang berarti toleran. Oleh karena itu, dalam berdakwah, Nahdlatul Ulama senatiasa berpegangteguh pada firman Allah yang berbunyi :

Artinya:

Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Nabi Muhammad sendiri diperintah oleh Allah agar berdakwah bil hikmah, dengan penuh kearifan, dengan penuh bijak, tidak boleh kasar, tidak boleh menyakiti hati orang, serta tidak boleh menyinggung. 

Dakwah Nabi Muhammad kemudian diteruskan oleh walisongo di tanah Nusantara. Tak ada kekerasan, peperangan, dan pertumpahan darah dalam dakwah walisongo di Nusantara. Terbukti, dengan dakwahnya, para walisongo berhasil mengislamkan begitu banyak orang. Mengislamkan, bukan mengkafirkan. Merangkul, bukan memukul. Dakwah yang demikian ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Nahdlatul Ulama sejak awal mula berdirinya hingga saat ini.

Hadirnya buku kumpulan khotbah ini diharapkan dapat menjadi acuan dan contoh bagi segenap warga Nahdlatul Ulama pada khususnya, dan umat islam Indonesia pada umumnya, dalam menebarkan dakwah yang rahmatan lil alamin sesuai yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw melalui mimbar-mimbar masjid dalam khotbah mereka. Semoga ada guna dan manfaatnya.

Sumber: Tokopedia


,

MAHALNYA BIAYA KEKUASAAN

TEMPO, 13 Maret 1993


Resensi oleh: Fachry Ali


Judul buku: WAR, CULTURE ANDA ECONMY IN JAVA 1667-1726, ASIAN AND EUEOPEAN IMPERIALISM IN THE EARLY KARTASURA PERIOD

Penulis: M.C. Ricklefs

Penerbit: Allen & Unwin, Sidney, 1993

Tebal: 444 halaman 


Inilah buku yang menguraikan dengan teliti perang suksesi Jawa selama setengah abad, sejak awal disintegrasi Mataram (1677) sampai dengan Amangkurat IV (meninggal 1726). Intensnya rangkaian konflik di masa itu telah menyebabkan perang sebagai wahana perubahan. Demikian tulis Ricklefs dalam buku 14 bab (di luar pendahuluan dan kesimpulannya) ini. 

Sebelum perang, baik masyarakat Jawa maupun Eropa, dari segi teknologi persenjataan, tak jauh berbeda. Keduanya sama-sama berada di masa pra-industri. Tapi supremasi Eropa muncul ketika kondisi Mataram mulai goyah sepeninggal tokoh utamanya, Sultan Agung. Amangkurat I, penggantinya, memerintah dengan “tangan berdarah”. Dia memusatkan kekuasaan demi kepentingannya sendiri. 

Di bawah Trunajaya, pemberontakan pecah dari sebuah persekutuan yang “aneh”. Bukan saja karena melibatkan para petualang Sulawesi di bawah Kraeng Galesong, tapi juga putra mahkota sendiri. Pangeran Kajoran, ulama bangsawan berpengaruh menjadi pendukung utama Trunajaya, tokoh pemberontak asal Madura. Dalam kondisi teralienasi secara politik, raja tak mampu bertahan. Ia kabur. Istana Plered, yang dijaga Pangeran Puger, jatuh pada dini 1677, dan seluruh pusaka diangkut ke Kediri, pusat kekuasaan Trunajaya. 

VOC, yang pada mulanya tak berminat dalam perang itu, “terpaksa” terjun. Kekacauan perang akan mengganggu kepentingan dagangnya. Maka mereka menerima permintaan bantuan Amangkurat I. Dan sejarah Jawa berubah drastis: munculnya kekuasaan asing. Sejak itu VOC tak pernah dipisahkan dari kekuasaan dan simbol politik Jawa. Kemunculan Amangkurat II, setelah Trunajaya hancur, menimbulkan persoalan legitimasi. Ia dituduh sekutu “kafir”, atau anak Gubernur Jenderal VOC yang menyaru jadi raja. 

Namun Amangkurat II tampaknya hanya tunduk setengah hati kepada VOC. Melalui tangan Untung Surapati, dia telah mendalangi pembantaian Kapten Tack, Duta VOC untuk Kartasura pada 8 Februari 1668 di depan istananya. Toh peristiwa yang dilukiskan Rickfels dengan bagus pada Bab 5 ini tak menimbulkan perang kedua kekuatan itu. VOC maupun Kartasura punya kepentingan bersama: menjaga keamanan Jawa, walau motifnya berbeda. 

Yang juga penting dilihat adalah uraian Rickfels tentang perubahan persepsi kekuasaan “negara-negara” lokal dengan kehadiran VOC. Di sini VOC --yang Gubernur Jenderalnya dipanggil Eyang oleh Amangkurat II --telah dilihat sebagai imperium alternatif, yang jauh lebih kuat dari Mataram. Ini terbukti dari permintaan Cirebon, Semarang, Banten, dan Madura Barat di bawah Cakraningrat II sampai IV untuk tunduk langsung ke VOC, dan bukan kepada raja mereka di Kartasura. Toh VOC, kecuali Semarang, menampik semua permintaan itu. Kehadiran kekuasaan VOC yang setengah-setengah itu tak membawa penyelesaian kekuasaan yang konklusif. Mungkin inilah salah satu penyebab perang terus berlanjut. 

Namun rangkaian peperangan itu harus juga dilihat pada semangat Islam yang mempertanyakan legitimasi VOC dan bahkan Kartasura sendiri. Justru Islam, menurut Rickfels, pada waktu itu berfungsi sebagai peneguh identitas. Pemberontalan Pangeran Dipanagara (bukan yang di Yogyakarta pada 1825), bertujuan mengusir kafir atas nama Islam. Pada 1718, Jayapuspita, pemimpin pemberontakan Surabaya menulis kepada tentara Kartasura; “apakah Anda tak merasa muak bersama kaum kafir?” Dan ketika Pakubuwana I membunuh Sayid Maqallawi pada 28 Januari 1719 di mesjid penghulu istana, Babad ing Sangkala mencatatnya sebagai “kenacuran Jawa telah tiba”. 

Toh kehadiran Belanda membawa efek lain. Salah satunya adalah alih teknologi persenjataan. Misalnya pada 1725 terdapat 1.000 orang desa yang memiliki senapan yang diduga buatan sendiri. Tapi yang terpenting adalah kesadaran ekonomi. Ketika VOC muncul sebagai aktor ekonomi dominan, kesadaran komersial tumbuh  di kalangan para penguasa lokal, terutama di pesisir. Bahkan politik moneter pun diterapkan untuk mengatasi ekonomi utang VOC. Kerator mendevaluasi gulden Belanda secara seoihak dengan memakai real Spanyol. VOC terpaks membeli produk Jawa lebih mahal, dan Keraton membayar utangnya kepada VOC lebih mudah. 

Dari segi kekuasaan, banyak yang berubah sejak VOC turut campur dalam masalah intern Jawa. Tapi yang jelas, baik VOC maupun Kartasura tak memperoleh banyak dari perang suksesi 50 tahun itu. Ketika Amangkurat IV mangkat pada 20 April 1726, kekuasaan pembangkang telah menyusut. “Jika dinasti Mataram hanya berkepentingan memelihara kekuasaannya, “ ucap Rickfels, “mereka telah meperolehnya. Tapi semua itu haru dibayar mahal, baik secara ekonomi maupun politik. 


Sumber: TEMPO, 13 Maret 1993

Rabu, 11 Maret 2026

, ,

Renungan di Bulan Ramadhan

Nurcholish Madjid, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan, Bandung: Mizan, 1999

Oleh: Nurcholish Madjid


Seperti yang sudah sering dibahas sebelumnya, pada diri manusia, sesuai dengan konsep ajaran Islam, terdapat kecenderungan atau dorongan ingin melanggar, yang di antaranya disebabkan oleh sifat-sifat pembawaan manusia yang ingin selalu cepat, serba instan, atau suka potong kompas dalam ungkapan orang sekarang. Namun, pada diri manusia juga ditemukan adanya dorongan halus yang selalu mengajak atau membisikkan keinginan berbuat baik dan mencintai kebaikan, yang bersumber dari hati nurani. Dorongan halus tersebut dalam idiom Al-Quran disebut hanif. 

Hanif adalah kecenderungan dasar manusiawi yang selalu mengajak dan mendorong manusia agar mencintai dan merindukan yang benar. Dan sejak dari penciptaannya terdahulu (primordial), manusia berada dalam sebuah kesucian asal atau juga sering disebut kesucian primordial. Yang demikian itu, kemudian ditegaskan dalam sebuah hadis yang masyhur di kalangan kita yang berbunyi, “Setiap anak yang lahir ke dunia dilahirkan dalam kesucian ...."

Kesucian asal juga sering diistilahkan dengan fitrah. Fitrah inilah yang kemudian seperti kita ketahui menjadi tujuan perintah ibadah puasa. Itulah sebabnya, hari raya setelah menjalankan ibadah puasa disebut Idul Fitri, yang artinya kembali kepada kesucian.

Berkaitan dengan sifat bawaan dan asal manusia yang selalu terdorong mencintai kebajikan, dengan sendirinya berbuat kebajikan merupakan tindakan yang memang sesuai dengan fitrah manusia. Dengan sendirinya pula, segala tindakan baik atau kebajikan tidak akan pernah bertentangan dengan fitrahnya. 

Dengan kata lain, berbuat baik tidak akan melahirkan konflik dalam batin seseorang karena yang demikian sesuai dengan fitrahnya. Itulah sebabnya perbuatan baik dalam bahasa Arab lalu diistilahkan dengan amar ma'ruf—dalam bahasa Inggris, kata kebajikan juga diterjemahkan dengan well-known, yaitu sesuatu yang sudah diketahui nature-nya. 

Sebaliknya, perbuatan munkar (kemungkaran) adalah seluruh perbuatan yang memang sesungguhnya diingkari—dari derivasi kata ankara, yang artinya sesuatu yang memang diingkari oleh hati nurani. Jadi, perbuatan mungkar adalah perbuatan yang memang tidak sesuai dengan nature manusia. 

Dalam kasus seperti ini, kita kembali diingatkan oleh sebuah hadis Nabi Muhammad Saw. yang menasihatkan kita agar selalu meminta petunjuk dan bimbingan kepada hati nurani, istafti qalbak. Hati kecil ini juga sering disebut dlamir sehingga kita sering mendengar ungkapan dalam bahasa Arab yang sangat populer, “sal dlamirak”. Yang artinya, kalau hendak melakukan sesuatu, hendaknya tanyakan terlebih dahulu kepada hati kecil Anda.
 
Meskipun kita tahu bahwa manusia memiliki hati nurani yang dapat membimbing ke kebajikan, dalam kehidupan nyata sehari-hari, seperti kita saksikan, sering ditemukan pertentangan antara yang ideal dan realita. Artinya, banyak terjadi kejahatan meskipun manusia sudah dikaruniai hati nurani. Di sinilah orang beriman terus dituntut untuk bermujahadah, berusaha dengan sungguh secara ruhaniah agar dapat membebaskan diri dari hal-hal yang tidak baik atau mungkar.

Orang beriman pun sekaligus dituntut untuk terus berupaya menjadikan segala sesuatu lebih baik atau melakukan ajaran nahi munkar. 
Dalam ajaran moral atau akhlak Islam, setiap orang harus berusaha untuk dapat berbuat baik dalam situasi atau kondisi apa pun. Tugas melakukan perbaikan terhadap segala kemungkaran dinyatakan sebagai amal sosial atau tanggung jawab sosial sebagaimana dalam Alquran disebutkan bahwa suatu musibah yang datang tidak saja akan mengena atau menimpa orang-orang yang berbuat jahat, tetapi juga mereka yang baik-baik pun akan menjadi korban. Seperti disebutkan dalam firman Allah Swt., "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (QS Al-Anfal (8): 25). 
Ayat tersebut menasihatkan agar orang beriman tidak bersikap permissive, tidak peduli dan melonggarkan terjadinya perbuatan dosa atau kemungkaran. Dengan ungkapan lain, sesuai dengan konsep ajaran Islam, tidak ada pandangan bahwa perbuatan mungkar yang bersifat merugikan pribadi yang tidak merugikan orang lain dapat dibiarkan. 

Apa pun bentuk perbuatan dosa atau kemungkaran harus dicegah karena yang demikian itu merupakan sebuah komitmen dan tugas sosial setiap pribadi Muslim. 

Di sisi lain, konsisten dengan konsep iman, kita memahami bahwa tidaklah mungkin keimanan dapat disandingkan dengan sikap oportunis. Sikap oportunis (yang mementingkan untung serta asal tidak dirugikan dengan mengabaikan aturan moral) adalah sikap yang bertentangan dengan pesan-pesan keimanan itu sendiri. 

Itulah sebabnya, perlu terus diadakan pelatihan ruhaniah atau jihad nafs sebagai sebuah tahap menyucikan diri (tazakka). Dan dalam berbuat sesuatu, orang beriman harus terus meminta petunjuk, bimbingan dari Allah Swt. sehingga tidak mudah tergelincir ke dalam perbuatan dosa atau kemungkaran. Oleh karena itu, dalam shalat, kita selalu membaca doa yang berbunyi, Tunjukilah kami jalan yang lurus (QS. Al-Fatihah (1): 6). 

Ada beberapa hal yang akan merintangi kita dalam melakukan latihan ruhaniah, seperti syirik—dari syirk, yaitu sikap mempersekutukan Allah Swt. dengan yang lain, tergolong dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah Swt. 

Syirik, mengandung pengertian membagi tujuan dengan berhala yang dalam perwujudannya adalah hawa nafsu atau kepentingan pribadi.
Selain perbuatan syirik adalah sikap tidak ikhlas dalam beramal. Namun seperti yang kita pahami, ajaran ikhlas menjadi masalah yang sangat pribadi, seperti masalah puasa. 

Hal yang menjadi urusan pribadi antara seorang hamba dengan Allah Swt. Seseorang dikatakan ikhlas dalam beribadah, artinya ia menjalankan ibadah memang semata-mata diorientasikan atau ditujukan kepada Allah Swt. 

Berlaku ikhlas atau tidak, sekali lagi, menjadi urusan pribadi seseorang yang melakukan perbuatan tersebut. 
Keikhlasan sebagai kualitas tertinggi dalam melakukan pengabdian kepada Allah Swt. akan tercapai bila dilakukan lewat upaya pelatihan ruhani secara terus-menerus.

Pelatihan ruhani tersebut tentunya harus dimulai dengan upaya pribadi terlebih dahulu. Artinya, kita tidak perlu menunggu atau, bahkan menuntut orang lain berlaku ikhlas. Akan tetapi, mulailah dari kita sendiri seperti yang dinasihatkan oleh sebuah ungkapan dalam bahasa Arab yang sangat terkenal, “ibda' binafsik”.

Juga perlu diingat, tidaklah benar bagi orang beriman melakukan justifikasi, menilai keikhlasan seseorang. Sikap ikhlas juga memiliki kaitan yang erat dengan ajaran Islam tentang mengatur dan memperoleh harta, seperti yang dinyatakan dalam sebuah ayat yang menjadi kelanjutan perintah puasa yang berbunyi, Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil, (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian harta benda orang lain itu dengan (jalan) berbuat dosa padahal kamu mengetahui (QS Al-Baqarah (2): 188). 

Hal pengaturan harta ternyata tidak bisa dipisahkan dengan perintah berpuasa yang tujuannya menumbuhkan ketakwaan atau kesadaran kepada Allah Swt. Ini juga memiliki kaitan erat dan masalah pengorientasian tujuan, yakni Allah Swt. sebagai refleksi sikap ikhlas. 

Tindakan penyuapan atau bribery dan kolusi sesungguhnya merupakan perbuatan dosa yang para pelakunya mengetahui dan menyadari hal itu sebagai tindakan dosa atau salah. Namun, mereka berusaha mencari legalisasi atau pengesahan lewat prosedur hukum agar tampak sebagai tindakan yang dibenarkan. 

Kata hakim dalam pengertian di atas sebenarnya tidak berarti hanya merujuk kepada hakim di pengadilan. Akan tetapi, maksudnya juga melibatkan setiap orang yang diberi kepercayaan (authority), yakni kewenangan menyelesaikan suatu masalah. Termasuk di dalam arti tersebut adalah dokter, kiai, guru, ustad, dan sebagainya. 

Mereka juga dapat disebut hakim yang dengan sendirinya berpotensial melakukan tindak kolusi dalam hal memutuskan suatu perkara. 
Di situ juga diisyaratkan, hendaknya para hakim dalam menyelesaikan masalah tidak tergoda oleh godaan harta. Dengan demikian, mereka dituntut berlaku adil. Seorang hakim harus dapat menegakkan keadilan dan tidak melakukan pemihakan yang diakibatkan oleh godaan-godaan harta dan kepentingan diri lainnya.

Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Kalau Fathimah, anak perempuan Muhammad mencuri, maka akan saya potong tangannya.” 

Terlihat dengan jelas bahwa Rasulullah tidak akan sekali-kali menoleransi atau bersikap kompromistis dengan melakukan tindak diskriminasi dalam upaya menegakkan keadilan lewat hukum. Hukum, 
sebagai sumber keadilan dalam sejarahnya membuktikan, kalau sudah tidak lagi dihormati, khususnya oleh mereka yang berpredikat hakim, maka yang” bakal terjadi adalah kehancuran. 

Salah satu contoh dalam sejarah adalah bangsa Romawi yang sangat terkenal dengan hukum-hukumnya. Ternyata, bangsa Romawi juga harus mengalami kehancuran justru karena mereka tidak lagi mau berlaku sebagaimana diatur oleh hukum yang mereka ciptakan sendiri, seperti yang dikutip oleh seorang sejarahwan terkenal Gibbon dalam bukunya, The Decline and the Fall of Roman Empire. 

Yang demikian juga terjadi pada umat Islam. Tepatnya ketika umat Islam mengalami dan mencapai puncak kejayaan dengan kota Bagdad sebagai pusatnya. Kemewahan telah menjerumuskan mereka, jauh dari ajaran moral. Aturan hukum mereka abaikan begitu saja. Mereka hanya berlomba-lomba dengan materi. Dan hasilnya, mereka pun kemudian dibinasakan secara tragis oleh tentara Mongolia yang terkenal sangat bengis dan sadis. 

Karena mereka merupakan kelompok atau kumpulan individu, maka yang terbaik dilakukan adalah gerakan penyadaran yang bersumber dari masing-masing. Hal ini sebagaimana ungkapan yang sangat masyhur di kalangan para mubalig, yang berbunyi, “Mulailah dari dirimu sendiri.”

Dimulai dari keluarga. 
Dalam Alquran disebutkan bahwa setiap manusia tidak akan menanggung dosa orang lain. Oleh karena itu, hendaknya setiap orang beriman lebih mementingkan kualitas keimanan dirinya. 

Diharapkan, setelah terbentuk kelompok-kelompok individu yang memiliki kualitas yang baik, dengan sendirinya berimplikasi pada munculnya sebuah masyarakat atau kelompok sosial yang tangguh secara moral pula. 

Ini disebutkan dalam firman Allah Swt. yang berbunyi, ... Dan tidaklah seseorang berbuat dosa melainkan kemudlaratannya kembali kepada dirinya sendiri, dan orang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain ... (QS Al-An'am/61: 164). 

Ajaran puasa yang dimaksudkan untuk mencapai tingkat ketakwaan, menghendaki adanya sikap ketulusan, ikhlas dan jujur, termasuk jujur kepada diri sendiri, serta melarang berbuat dusta. 

Dusta, sebenarnya merupakan sumber segala perbuatan dosa, sebagaimana yang disabdakan dalam hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, “Pangkal segala perbuatan dosa adalah dusta.” 

Ajaran puasa juga kemudian menuntut orang berpuasa agar dapat mengendalikan diri dari perbuatan dosa, yang dikatakan sebagai wujud ketakwaan itu sendiri. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw., “Barang siapa berpuasa dan tidak meninggalkan kata-kata keji atau kotor, maka sesungguhnya Allah tidak berkepentingan dengan meninggalkan makan dan minumnya.”

Dimensi intrinsik berpuasa adalah pelatihan diri menahan segala godaan yang dapat menggelincirkan kepada dosa, di antaranya, menjauhkan diri dari perbuatan atau berbuat dusta. Sikap yang demikian dapat melahirkan sikap oportunis, lawan keimanan. Kedua sikap itu tidak akan dapat tumbuh dan hidup secara berdampingan, koeksistensi, seperti ditegaskan dalam firman Allah Swt. yang mengajarkan jalan-jalan yang harus dilalui, yakni yang benar (al-haq) dengan yang batil, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu Galan) kefasikan dan ketakwaan." (QS Al-Syams/911: 8).

Menyinggung kasus bahwa iman, yang bersumber pada hati nurani, tidak bisa dipersandingkan dengan dusta, kita diingatkan kepada ungkapan yang artinya kurang lebih sebagai berikut, “Kamu dapat membohongi semua orang setiap waktu dan setiap saat. Akan tetapi, kamu tidak akan dapat membohongi diri sendiri.” 

Di samping bertujuan mencapai ketakwaan, ibadah puasa juga dapat mempertajam kepekaan hati nurani yang mengajak ke kebenaran dan kebaikan.

Ketajaman dan kepekaan hati nurani diperoleh dengan pelatihan ruhaniah lewat shalat tarawih—yang sebenarnya adalah shalat malam (qiyam-u '-layl) yang dilakukan secara pribadi. Namun kemudian dalam perkembangannya, tepatnya pada masa Khalifah - 
Umar bin Khaththab ra., shalat tarawih dilakukan secara berjamaah. Dan tindakan tersebut diakui sebagai bid'ah yang baik.

Selain itu, ibadah puasa juga memberikan pelatihan menahan kesabaran dan konsisten dalam mengendalikan dorongan atau bisikan hawa nafsu. Seluruh ajaran dan amalan tersebut identik dengan mempelajari keteladanan Nabi Ibrahim sebagai figur pribadi yang hanif atau yang selalu mengikuti bimbingan hati nurani. Pribadi yang sangat patuh dan penuh keikhlasan serta ketulusan kepada Tuhannya dan tidaklah sekali-kali menyekutukan-Nya. Dalam Alquran dinyatakan, Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan): (QS. Al-Nahl/16: 120).

Sumber:

Nurcholish Madjid, 30 Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan, Bandung: Mizan, 1999, h.
213-223