Pagi ini saya membaca catatan S. Satya Dharma di Facebook, tentang perlakuan kekuasaan terhadap kesusastraan di daerahnya, Medan, kota di mana saya pernah belajar.
Saya berkomentar begini: Barangkali sastra akan menemukan kematiannya yang penuh tangis setelah imajinasi sastrawan dibajak AI (kecerdasan buatan). Penemuan yang agaknya sama membinasakannya dengan ditemukannya mesiu dan bom atom. Tak ada lagi kehilangan yang lebih berharga daripada sirnanya imajinasi, intuisi.
Untuk pertama kali saya mendengar seorang teman dari Australia, yang duduk di sebelah saya, di Beranda Rakyat Garuda, Jakarta. Ucapnya, ‘Kau kasi saja ide cerita dan bagaimana penutupnya’, AI akan menuliskannya dengan segera, lebih ligat daripada kita mengganti kertas baru di atas mesin ketik.
Martin Aleida (status Fb)

0 komentar:
Posting Komentar