![]() |
| Ringkasan perbandingan Logosentrisme dan Dekonstruksi Derrida |
Dalam metode dekonstruksi yang dikembangkan oleh filsuf Jacques Derrida—yang awalnya berakar dari teori semiotika Ferdinand de Saussure—signifiant (penanda) adalah bentuk fisik dari tanda (seperti bunyi, tulisan, atau gambar), sedangkan signifie (petanda) adalah konsep mental atau makna yang dipikirkan saat melihat penanda tersebut.
Dekonstruksi hadir untuk membongkar asumsi bahwa signifiant dan signifie memiliki hubungan yang stabil, tetap, atau absolut.
Berikut adalah beberapa contoh konkret bagaimana signifiant dan signifie bekerja, serta bagaimana metode dekonstruksi membongkar hubungan keduanya:
1. Contoh Sederhana: Kata "Rumah"
Signifiant (Penanda): Tulisan R-U-M-A-H atau bunyi ucapan "rumah".
Signifie (Petanda): Konsep mental tentang sebuah bangunan tempat tinggal, tempat berteduh, dan pulang.
Cara Dekonstruksi Membongkarnya: Dekonstruksi akan menunjukkan bahwa makna "rumah" tidak pernah tunggal atau stabil. Bagi seorang tunawisma, "rumah" bisa berarti jalanan. Bagi korban KDRT, "rumah" berarti tempat yang menteror, bukan tempat berlindung yang aman. Makna "rumah" (petanda) selalu bergeser tergantung konteks, waktu, dan siapa yang memaknainya, sehingga penanda tidak pernah benar-benar mengunci satu makna pasti. (Sumber: Google)
**
Dadang Rusbiantoro, dalam bukunya Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derrida, menjelaskan:
Dalam strukturalisme, setiap signifiant (penanda) hanya mempunyai satu signifie (petanda). Seperti ketika kita mengatakan "angsa", maka asosiasi kita akan mengacu pada referensi dalam realitas tentang satu konsep "angsa". Dalam posmodernisme, konsep signifie (petanda) tidak pernah memiliki satu arti dan seperti kata Roland Barthes, petanda selalu mempunyai banyak arti atau plus de sens karena hubungan penanda dengan petanda adalah arbitraire. Dengan kata lain, tak ada hubungan intern antara konsep yang ditunjukkan dengan bunyi yang menunjukkannya, sehingga tidak ada petanda yang pasti atau transenden bagi penanda. Jika kita mengatakan “angsa”, kata “angsa” mempunyai banyak keragaman asosiasi konsep “angsa” dalam realitas dan setiap individu, tidak pernah merujuk ke satu konsep “angsa” yang sama karena hubungannya yang arbitraire seperti angsa yang hitam atau putih, berleher panjang atau pendek, bisa terbang atau tidak, angsa sebagai simbol pelarian diri (dalam sastra), dst. Di sisi lain, penanda juga bisa terlepas dari konsep yang ditunjukkannya seperti konsep konotasi atau metafora dan metonimi. Oleh karena itu, posmodernisme menganggap bahwa signifie (petanda) yang merupakan pusat dari struktur selalu bergeser terus menerus, sehingga seperti apa yang dikatakan Derrida, tak ada pusat dan tak ada asal usul yang pasti, serta tak ada petanda transenden. Semuanya akan menuju suatu permainan petanda yang tak terbatas karena penanda tidak mempunyai hubungan yang pasti dengan petanda, sehingga penanda akan menjadi polisemi, bermakna ganda atau bermakna banyak, dan penanda dapat bergeser terus-menerus dari petandanya (Dadang Rusbiantoro, Bahasa Dekonstruksi ala Foucault dan Derrida, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2001, h. 11-12)
***
"Tuhan" dalam Filsafat Dekonstruksi
Dalam filsafat dekonstruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida, konsep "Tuhan" diposisikan sebagai puncak dari apa yang ia sebut sebagai Logosentrisme atau Metafisika Kehadiran (Metaphysics of Presence).
Untuk memahami posisi Tuhan dalam teori penanda (signifier) dan petanda (signified), kita harus melihat bagaimana Derrida membongkar struktur bahasa tradisional yang diwarisi dari linguistik Ferdinand de Saussure.
1. Struktur Bahasa Tradisional (Saussure)
Sebelum Derrida, Saussure membagi tanda bahasa menjadi dua:
Penanda (Signifier): Bentuk fisik dari tanda (suara, tulisan, simbol).
Petanda (Signified): Konsep mental atau makna yang dirujuk oleh penanda.
Dalam pandangan tradisional, penanda berfungsi untuk menyampaikan petanda secara utuh. Di sinilah konsep "Tuhan" bekerja dalam filsafat Barat: Tuhan dianggap sebagai Petanda Transendental (Transcendental Signified)—sebuah makna absolut, pusat dari segala kebenaran, yang berada di luar bahasa, tidak berubah, dan menjadi jangkar bagi semua makna lainnya.
2. Dekonstruksi Derrida: Tidak Ada Petanda Transendental
Derrida menolak adanya makna absolut tersebut. Menurutnya, sebuah penanda tidak pernah langsung merujuk pada petanda (makna murni). Ketika Anda mencari makna dari suatu kata di kamus, Anda hanya akan menemukan kata-kata lain (penanda lain).
Proses ini disebut Derrida sebagai "Différance"(penundaan dan pembedaan makna):
Makna tidak pernah benar-benar "hadir" secara utuh. Makna selalu ditunda dan bergantung pada jaringan penanda lainnya.
Oleh karena itu, dalam dekonstruksi, "Tuhan" sebagai "Petanda Transendental" adalah sebuah ilusi metafisika. Manusia menciptakan konsep "Tuhan", "Kebenaran Mutlak", atau "Pusat" hanya karena mereka cemas terhadap ketidakpastian makna bahasa.
3. Posisi "Tuhan" dalam Teks Dekonstruksi
Ketika konsep "Tuhan" dimasukkan ke dalam bahasa, Tuhan otomatis tunduk pada hukum bahasa:
Tuhan menjadi Penanda: Kata "Tuhan" hanyalah sebuah penanda yang maknanya terus berubah tergantung konteks, budaya, sejarah, dan teks tempat kata itu berada.
Kehilangan Absolutisme: Karena makna selalu différance (ditunda), makna "Tuhan" tidak pernah final atau absolut dalam teks.
Ilusi Pusat: Derrida menyatakan bahwa tidak ada teks yang memiliki pusat tetap (decentered). Ketika Tuhan dijadikan pusat kebenaran sebuah teks, dekonstruksi akan membongkar bahwa "pusat" tersebut sebenarnya tidak stabil dan selalu mengandung kontradiksi di dalamnya.
Melalui dekonstruksi, Derrida tidak bermaksud "menghilangkan" Tuhan secara teologis, melainkan menunjukkan bahwa klaim manusia tentang kebenaran mutlak atas nama Tuhan dalam bahasa dan teks adalah sesuatu yang rapuh, bias, dan selalu terbuka untuk dipertanyakan.
Teori ini berdampak pada Teologi Dekonstruktif atau bagaimana tokoh lain seperti Mark C. Taylor menerapkan dekonstruksi dalam memandang agama (Sumber: Google).
***


0 komentar:
Posting Komentar