Mitos vs Pencerahan: Sebuah Dialektika Pencerahan
Apa yang dapat diperoleh dari penafsiran Nietzsche, Horkheimer, dan Adorno mengenai Mitos, Pencerahan, dan Odysseus?
Lewat penafsiran epos Odysseus, Horkheimer dan Adorno menampilkan inti semangat Pencerahan, yaitu perlawanan manusia terhadap segala bentuk dominasi. Dalam Mitos, yang mendominasi adalah hukum Nasib, dewa-dewi, dan kekuatan gaib. Dengan segala kecerdikan dan kelicikannya, Odysseus dapat mengatasi kungkungan nasib, tetapi toh ia tidak dapat menghindar dari tuntutan logika Mitos untuk berkorban.
Dan kalau toh akhirnya ia dapat pulang ke kampung halamannya, keberhasilan itu tidak dapat dilepaskan dari korban-korban yang telah ia persembahkan dan penyangkalan diri yang sudah ia lakukan, serta kerinduannya akan kampung halaman. Kerinduan akan kampung halaman ini sedemikian penting. Kampung halaman menjadi tujuan seluruh perjuangan Odysseus. Tanpa kerinduan akan kampung halaman, Odysseus mungkin akan tetap terjebak di alam Mitos. Ia tidak mempunyai alasan dan daya yang membuat ia mau dan mampu berkorban. Kampung halaman sebagai tujuan dan kerinduan akan kampung halaman sebagai daya tarik untuk keluar dari alam Mitos adalah paradigma bagi tujuan hidup umat manusia.
Horkheimer dan Adorno menilai Pencerahan yang melahirkan manusia modern memang berusaha mengatasi segala bentuk Mitos, tetapi Pencerahan tidak lagi sadar akan arahnya sehingga ia justru berputar-putar dalam logika Mitos, yaitu logika dominasi. Odysseus memang terlepas dari dominasi Mitos. Namun setelah sampai di kampungnya, ia tampil sebagai pahlawan yang akan memimpin dan mendominasi orang-orangnya. Di saat itulah, Mitos baru muncul: Mitos Odysseus.
Untuk dapat keluar dari kungkungan Mitos ini, Pencerahan perlu mengenal kembali tujuannya, yaitu "kebebasan dan kemanusiaan yang sejati”, semangat antidominasi. Mungkin kita segera terpancing untuk bertanya bagaimana mengatasi Pencerahan yang sudah 'menyeleweng' ini? Bagaimana mengatasi dominasi? Serta bagaimana melepaskan diri dari logika korban?
Horkheimer-Adorno tidak memberi jawaban yang jelas. Mungkin juga mereka juga tidak mempunyai jawaban. Mereka memang baru memusatkan perhatian pada destruksi Pencerahan, yaitu Pencerahan yang membuat manusia memperkosa alam: bumi, tumbuhan, binatang, dan manusia lain dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Manusia berperang, menciptakan senjata-sejata pemusnah, dan membantai suku bangsa tertentu (sebagaimana dilakukan Nazi dengan anti-Semitisme dan genosidanya. Dan seperti perlakuan Zionis Israel terhadap Palestina, --NE). Berikutnya, munculnya mekanisme rasional yang abstrak yang tidak memperhitungkan individu dan menggerakan aktivitas manusia menjadi kegiatan repetitif belaka. Terjadi alienasi manusia dari alam dan dari manusia lain. Kebudayaan merosot menjadi kebudayaan massa. Orang tidak lagi mengenal kebutuhan yang sejati mereka karena pasar mencekokkan apa yang harus kita butuhkan ...
Tidak ada jawaban yang jelas dari Horkheimer dan Adorno tentang jalan keluar dari situasi senja Pencerahan. Mereka hanya mengatakan, ”Homeros mencegah kita lupa pada korban (victims) dan menyingkapkan penderitaan abadi tak terkatakan dalam beberapa detik pada saat para ibu berjuang melawan maut”, yaitu saat mereka melahirkan hidup.
Pencerahan—juga berbagai proyek yang bercita-cita luhur lainnya seperti kemerdekaan, pembangunan, reformasi—dalam perjalanannya, dapat lupa pada semangat awalnya: semangat antidominasi. Pencerahan, yang lahir lewat korban, bisa jadi beku dan menjadi berhala-berhala yang terus-menerus menuntut korban, dengan disertai rasionalisasi korban yang serba canggih. Horkheimer dan Adorno, mengambil inspirasi dari Nietzsche, mengajak kita untuk juga waspada terhadap wajah ganda cita-cita luhur, terutama saat mereka mulai menuntut korban.
Sumber:
Sumarwan, "Odysseus, Mitos, dan Pencerahan: Bayang-bayang Nietzsche dalam Pemikiran Horkheimer dan Adorno", dalam A. Setyo Wibowo, dkk, Para Pembunuh Tuhan, Yogyakarta: Kanisius, 2009, h. 65-67

0 komentar:
Posting Komentar