alt/text gambar

Selasa, 18 Maret 2025

Topik Pilihan:

Victor Hugo: AKU JADI BIJAKSANA, BUKAN MENUA

 

Oleh Hamid Basyaib


DIPANDANG sebagai salah satu sastrawan terbesar Prancis, Victor Hugo (1802-85) juga dikenal sebagai pejuang keadilan sosial. Karya termashurnya, “Les Misérables,” menggambarkan penderitaan kaum tertindas dan perjuangan manusia untuk memperoleh keadilan dan pengampunan. Sampai sekarang karya besar ini terus diadaptasi menjadi film, drama panggung dan pertunjukan musikal. 


Ia gigih menentang tirani dan memperjuangkan hak asasi manusia. Ia menentang Napoleon III, dan diasingkan selama hampir dua dekade. Namun ia kemudian mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Prancis. Ia dimakamkan dengan upacara kenegaraan, dan dilayat oleh dua juta orang. 


Warisannya tidak hanya hidup dalam kesastraan, tetapi juga dalam semangat perjuangan untuk kebebasan dan keadilan. Dalam sebuah esainya tentang masa tua, ia menulis:


“Kau mulai menua,” kata mereka kepadaku. Kujawab: “Tidak. Aku bukan sedang menua. Aku sedang menjadi bijaksana.”


Aku berhenti menjadi apa yang menyenangkan orang lain demi menjadi diriku yang sejati. Aku berhenti mencari penerimaan orang lain agar bisa menerima diriku sendiri. Aku meninggalkan cermin-cermin palsu yang berdusta tanpa ampun.


Tidak, aku bukan sedang menua. Aku  menjadi lebih tegas, lebih selektif terhadap tempat, terhadap orang, teehadap kebiasaan, dan ideologi.


Aku melepaskan keterikatan, rasa sakit yang tak perlu, orang-orang, jiwa-jiwa, dan hati—bukan karena kepahitan, tapi demi kesejahteraanku sendiri.


Aku menukar serial pesta dengan malam-malam insomnia yang penuh pembelajaran. Aku berhenti menjalani kisah orang lain dan mulai menulis ceritaku sendiri. 


Aku meninggalkan stereotip yang dipaksakan. Aku berhenti menggunakan riasan untuk menutupi luka—sekarang aku membawa sebuah buku yang mempercantik pikiranku.


Aku menukar gelas anggur dengan cangkir kopi, berhenti mengidealkan kehidupan, dan mulai benar-benar menjalaninya.


Tidak, aku bukan sedang menua.


Aku membawa kesegaran ke dalam jiwaku dan kepolosan dari penemuan baru setiap hari di hatiku.


Di tanganku ada kelembutan kepompong yang, saat terbuka, akan mengepakkan sayapnya menuju tempat-tempat yang tak terjangkau oleh mereka yang hanya mencari kesenangan duniawi.


Di wajahku ada senyum nakal saat aku mengamati kesederhanaan alam dan, di telingaku, ada kicau burung riang yang mengiringi langkahku.


Tidak, aku bukan sedang menua—aku hanya menjadi lebih selektif. 


Aku menghabiskan waktuku untuk hal-hal yang tak kasatmata. Aku menulis ulang kisah yang dulu diceritakan kepadaku, menemukan kembali dunia, menyelamatkan buku-buku lama yang pernah kutinggalkan tanpa khatam.


Aku sedang menjadi lebih bijaksana. Aku telah meninggalkan ledakan emosi yang tak mengajarkan apa-apa. Aku belajar bicara tentang hal-hal yang lebih bermakna, yang menumbuhkan ilmu, yang menanamkan nilai-nilai, dan menempa takdirku sendiri.


Tidak, bukan karena aku mulai tidur lebih awal di Sabtu malam aku disebut menua—hanya saja: hari Minggu pun pantas untuk dimulai lebih awal, dengan secangkir kopi yang dinikmati perlahan, dan membaca puisi dengan damai.


Bukan usia yang membuat seseorang berjalan lebih lambat—tetapi keinginan untuk mengamati mereka yang tergesa-gesa dan tersandung oleh ketakpuasan mereka sendiri.


Bukan usia yang membuat seseorang terkadang memilih diam — tapi karena tidak semua kata perlu bergema.


Tidak, aku bukan sedang menua.


Aku akhirnya mulai menjalani hidup yang benar-benar berarti bagiku. ***

0 komentar:

Posting Komentar