alt/text gambar

Jumat, 09 Januari 2026

Topik Pilihan:

Homo Recentis, Kesadaran Semesta, dan Evolusi Keempat

Umat manusia yang hidup sekarang ini disebut manusia modern atau 'homo recentis'. Homo recentis ini telah ada di bumi ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Adam adalah homo recentis pertama. 

Homo recentis mempunyai sensus interior yang dapat menerjemahkan ide dari alam angan-angan. Dengan ide ini manusia modern mengadakan gabungan antara persepsi dengan resepsi yang akhirnya menghasilkan konsepsi yang lebih tinggi derajatnya dari jumlah unsur-unsur yang membentuknya. Dengan jalan demikian, maka homo recentis . mempunyai kemampuan untuk mencipta (creatif vermorgen). 

Homo recentis ini telah memiliki indera batiniah, yakni alat-alat batin kita, yang dapat memandang ke arah alam angan-angan atau alam yang bersifat abstrak. 

Semakin banyak kita mempergunakan pancaindera lahiriah kita, maka semakin banyaklah persepsi dan resepsi yang kita terima; semakin sering indera batiniah kita dipergunakan, semakin banyaklah kita menerima atau membentuk konsepsi. Adapun cara untuk dapat menerima yang disebut belakangan adalah dengan meningkatkan pikiran ke arah alam angan-angan yang bersifat abstrak. Kebiasaan untuk mengadakan abstraksi adalah sifat seorang intelek yang sejati. 

Sehubungan dengan ini, Zoetmulder pernah menegaskan bahwa pikiran yang berkuasalah yang mengadakan abstraksi-abstraksi ini, dan akhirnya ia berkeyakinan bahwa di atas segala yang ada ini, ada Kekuasaan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. 

Hegel pun pemah menandaskan bahwa pikiran yang pasti benar adalah pikiran yang ditingkatkan ke arah budi dan terus menuju pada Tuhan Yang Maha Tinggi.

Kekuasaan untuk dapat mengadakan abstraksi merupakan satu-satunya sifat dari setiap intelek yang mencari pokok-pokok dari setiap keadaan yang sama, dan dengan demikian, intelek itu mengadakan satu kesatuan yang lebih tinggi derajatnya, untuk akhirnya menghasilkan suatu abstraksi yang terakhir mengenai kesatuan Yang Tertinggi, yang tergabung di dalam paham yang meliputi seluruh keadaan. 

Seorang intelektual tidak hanya menggunakan ilmu yang diperolehnya dari pendidikan akademis saja, akan tetapi juga harus dapat mempergunakan abstraksi yang diperolehnya itu dengan cara mengandalkan asosiasi-asosiasi antara apa yang diperolehnya melalui ilmu pengetahuan dengan angan-angan (ide) yang berasal dari alam angan-angan. 

Sebagai contoh dari hasil abstraksi yang merupakan pendapat tertinggi adalah rumus kesetaraan (equivalentie-formulae) cetusan Einstein. Rumus ini diperolehnya semata-mata melalui abstraksi, dan dapat digunakan untuk membuktikan bahwa benda (massa) adalah bersifat setara (equivalent) dengan tenaga (energie). Secara populer matematis, rumusan ini dapat dibekukan sebagai E = mc2.

Seorang intelektual yang sejati sering dan banyak sekali berabstraksi, dan karenanya dapat melihat jauh ke depan serta dapat meraba-raba apa yang terjadi. Di samping itu, seperti kata Einstein, mereka dapat menghasilkan suatu pendapat baru yang gilang-gemilang. Orang yang demikian disebut orang yang mempunyai intuisi. 

Di dalam setiap usaha dan upaya yang mereka lakukan guna membentuk roman dunia (wereld bouwers) dan corak masyarakat (sociaal-hervormes), para sarjana terkemuka tidak pula pernah dapat membebaskan diri mereka dari intuisi ini. 

Newton, Keppler, dan Waals pernah mengatakan bahwa sebagian besar dari buah pikiran mereka adalah hasil dari intuisi mereka. Ketika kepada Newton ditanyakan bagaimanakah caranya ia memperoleh teori gravitasi, maka dia menjawab, dengan cara berpikir sedalam-dalamnya. 

Selanjutnya, Waals juga pernah menandaskan bahwa pendapatnya justru diperoleh melalui intuisi, yang sudah muncul jauh sebelum ia mengadakan perhitungan matematis.

Seperti yang telah diterangkan, intelek yang sejati itu adalah intelek yang mempunyai kebiasaan untuk dapat mengadakan abstraksi, yang ternyata juga bersifat hierarkis atau bertingkat-tingkat. Abstraksi yang tertinggi tingkatannya adalah abstraksi yang dapat menemukan kenyataan Yang Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Telah diterangkan juga bahwa sel-sel otak menjadi bertambah banyak bila ia sering digunakan untuk memiliki hal-hal yang baru. Di dalam evolusi intelek, intuisi merupakan tingkatan intelek yang dapat dianggap sebagai tingkatan yang tertinggi bagi ummat manusia zaman sekarang. Unsur-unsur yang menjadi pikirannya adalah abstraksi. 

Pertumbuhan intelek selalu dibarengi dengan pertumbuhan kesadaran. Kesadaran yang menyertai persepsi dan resepsi disebut kesadaran sederhana (eenvoudig bewustzijn). Ia memiliki kesadaran akan keadaan di sekelilingnya dan kesadaran akan anggota-anggota badannya serta juga mengetahui anggota-anggota badannya ini menjadi bagian dari dirinya.

Konsepsi yang disertai oleh kesadaran akan diri sendiri (zelfbewustzijn) terdiri dari kesadaran akan diri sendiri, yakni badani, jiwani, dan kesadaran akan diri sendiri yang murni. 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai intuisi disertai oleh evolusi kesadaran yang dinamai kesadaran jagad raya (cosmisch bewustzijn), (kesadaran tauhid), kesadaran akan isi jagad raya atau semesta alam memungkinkannya untuk mengetahui isi jagad raya. Adapun alat-alat untuk menangkap isi semesta alam ini adalah indera batin (sensus interior). 

Tingkatan evolusi intelek yang dinamai konsepsi mungkin telah dimiliki oleh Homo Neanderthalensis dan pasti oleh Homo recentis, sedangkan yang terakhir ini telah dikaruniai tunas tingkatan intelek yang disebut intuisi. 

Menurut pendapat para sarjana, pertumbuhan intuisi pada homo recentis baru berlangsung dalam waktu 5.000 tahun dan belum banyak orang yang telah mencapai tingkatan evolusi intelek ini. Yang diketahui dengan sungguh-sungguh dan diselidiki oleh ilmu pengetahuan baru sekitar 43 orang. 

**


Orang-orang yang Memiliki Kesadaran Alam Semesta 

Evolusi intelektual tingkat keempat seperti yang diterangkan di atas mulai sejak 5000 tahun yang lampau. Akan tetapi yang diketahui hingga saat ini yang memiliki intelektual tersebut baru mencapai 43 orang, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat evolusi yang keempat ini baru mencapai tingkat permulaan.

Apabila kita mengingat bahwa umat manusia di dunia ini telah ada selama lebih kurang 2.000.000 tahun, dan seandainya hanya ada empat tingkat evolusi maka ketiga evolusi yang pertama masing-masing berlangsung lebih kurang 700.000 tahun. Evolusi tingkat keempat ini baru berlangsung selama 5.000 tahun, sehingga masih beratus-ratus ribu tahun lagi umat manusia akan sampai ke tingkat evolusi yang keempat. 

Orang yang memiliki tingkat keempat ini adalah: 1. Nabi Musa, 2. Gideon. 3. Jesaya. 4. Li R. 5. Buddha Gautama. 6. Socrates. 7. Nabi Isa. 8. Paulus. 9. Plotinus. 10. Nabi Muhammad s.a.w. 11. Roger Bacon, 12. Dante. 13. Las Casas. 14. Juan Yepes. 15. Francis Bacon. 16, Boehme. 17. Pascal. 18. Spinoza. 19. Mme. Guyon. 20. Swedenberg. 21. Gardiner. 22. Blake. 23. Balzac. 24. J.B.B 25. Whitman. 26. J.B. 27. C.P. 28. H.B. 29. R.P.S. 30. E.T. 31. Paramahamsa. 32. J.H.J. 33. Richard Maurice Bucke. 34. T.S.R. 35. W.H.W. 36. Carpenter. 37. C.M.C. 38. M.C.L. 39. J.W.W. 40. William Lloyd. 41. P.Tyner. 42. C.Y.E. 43. A.J.S.

Mereka-mereka inilah yang termasuk golongan yang memiliki kesadaran alam semesta dan yang disebut-sebut sebagai manusia sempurna (insan kamil). 

Apabila kita menyelidiki riwayat hidup mereka masing-masing, maka terbuktilah bahwa mereka itu semuanya taat beribadah, memiliki pola hidup yang sederhana, mengenyampingkan masalah keduniawian, suka mengasingkan diri dari dunia ramai dan bersembunyi di dalam tempat-tempat sunyi, di dalam rimba belantara atau gua yang gelap gulita. 

Di dalam alam yang sunyi itu, pekerjaan utama mereka sehari-hari adalah bermenung (meditatie) atau tafakur (contemplatie). Kegiatan mengadakan abstraksi ini tidak menyangkut hal-hal yang nyata (riel) akan tetapi abstraksi-abstraksi yang abstrak, terutama abstraksi yang tertinggi, yaitu Tuhan. 

Dalam setiap tingkatan evolusi terdapat perbedaan derajat, artinya ada yang memperoleh derajat tinggi dan ada yang memperoleh derajat rendah atau menengah. 

Apabila kesadaran alam semesta seseorang diibaratkan antena alat penerimaan radio (radio ontvanger) maka di antara pemilik kesadaran alam semesta ini ada yang memiliki kesadaran yang sangat tinggi dan ada pula yang rendah. 

Mereka yang memiliki antena yang paling tinggi sudah pasti akan dapat dengan seterang-terangnya dan senyaring-nyaringnya menangkap suara alat penyiar radio (radio zender), sedangkan mereka yang memiliki antena yang sangat rendah akan menerima gangguan suara (gestoord) dan kadang-kadang suara ini tidak terdengar sama sekali (feeding). 

Diakui bahwa di kalangan tiap-tiap bangsa terdapat seseorang atau beberapa orang yang memiliki kesadaran alam semesta ini. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan atau petunjuk (Q.s. Al Faathir ayat 24, berbunyi: "Tidak ada satu umat pun, kecuali telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan.").

Di kalangan bangsa Indonesia kita dapati misalnya para wali, pujangga-pujangga, di antaranya almarhum R. Ng.Ronggowarsito, para kiai kenamaan dan beberapa orang ahli kebatinan. 

Sudah barang tentu antena mereka tidak setinggi antena para nabi dan orang-orang yang termasuk dalam daftar di atas. Sehubungan dengan hal tersebut maka tidaklah pada tempatnya jika golongan yang menganut aliran ilmu kebatinan menentang golongan agama. 

Pemimpin-pemimpin kebatinan percaya dengan sungguh-sungguh akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi pada umumnya mereka tidak mau atau segan untuk mematuhi aturan-aturan agama yang difirmankan oleh Tuhan dan yang sudah tentu lebih lengkap dari apa yang telah diterimanya. Diibaratkan kita percaya kepada seorang pemimpin akan tetapi kita bersikap acuh tak acuh terhadap amanat-amanatnya atau bahkan merendahkannya, maka asas yang berlawanan demikian (paradox) tidak akan sesuai dengan kebenaran, atau dengan kata lain kita mengabdi kepada kesesatan. 

Aturan-aturan yang ditetapkan oleh agama sudah barang tentu lebih lengkap, karena suara yang mengandung amanat Tuhan tersebut diterima melalui antena para nabi yang tinggi sehingga suara tersebut terdengar dengan jelas dan suci. Mungkin tidak ada dosa yang lebih besar dibandingkan menyembah sesuatu sambil meludahinya, oleh karena yang disembah adalah Tuhan beserta firman-Nya. Di dalam hadist disebut: “Siapa yang menimbulkan sara maka kufurlah dia." 

Aliran kebatinan seharusnya menjadi usaha untuk memperdalam pengetahuan mengenai hikmah-hikmah dalam aturan-aturan agama karena kebesaran suatu agama ditetapkan oleh usaha di lapangan ilmu kebatinan (mistik) yang dilakukan oleh para penganutnya. Alexis Carrel mengatakan, “De kracht van een godsdients is afhankelijk van zijn haarden van mystieke werkzaambeie.” 

Walaupun aliran kebatinan lebih baik daripada atheisme, akan tetapi alangkah baiknya apabila aliran kebatinan bernaung di bahwa patokan-patokan agama, sebagaimana yang dilakukan para wali dan para pujangga-pujangga kuno kita, yang melalui usaha mereka telah menciptakan suatu kebudayaan yang hingga kini masih digemari oleh seluruh lapisan masyarakat.

(Dr. R. Paryana Suryadipura, Manusia dengan Atomnya, dalam Keadaan Sehat dan Sakit: Antropobiologi Berdasarkan Atomfisika, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, h. 193-200, dan h. 207-210).

***

Keterangan tambahan dari layanan AI:

Istilah ini (kesadaran semesta) dipopulerkan oleh psikiater Richard Maurice Bucke dalam bukunya yang terbit pada tahun 1901, Cosmic Consciousness: A Study in the Evolution of the Human Mind. Bucke mendefinisikannya sebagai bentuk kesadaran yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh manusia biasa, sering kali dialami sebagai pencerahan mendadak yang melibatkan perasaan menyatu dengan alam semesta, kegembiraan luar biasa, dan wawasan mendalam tentang makna kehidupan. Dalam bukunya, Bucke menyebutkan beberapa tokoh sejarah yang ia yakini telah mencapai tingkat kesadaran ini, di antaranya:
Buddha
  • Yesus Kristus
  • Muhammad
  • Walt Whitman (penyair Amerika)
  • Henry David Thoreau (penulis dan naturalis Amerika)
  • Francis Bacon (filsuf Inggris)Di luar daftar Bucke, banyak tradisi spiritual dan filsafat lainnya yang membahas pencapaian kesadaran yang mendalam terhadap alam semesta, seperti:
  • Para sufi, seperti Ibn 'Arabi, yang visinya tentang kosmologi sufi mengeksplorasi kesadaran tauhid (keesaan Tuhan) dan keterikatan kosmik.
  • Tokoh spiritual Hindu dan Buddha (seperti Dalai Lama XIV), di mana moksha atau nirwana sering digambarkan sebagai puncak kesadaran diri dan penyatuan kosmik. 


0 komentar:

Posting Komentar