Oleh Narudin Pituin
AKU INGIN
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
(1989)
Kata-kata “aku ingin” merupakan gabungan subjek dan predikat yang belum tuntas dari judul puisi, diambil dari baris pertama. Gabungan bunyi vokal dan bunyi konsonan atau asonansi dan aliterasi pada baris “aku ingin mencintaimu dengan sederhana” terdengar merdu akibat bunyi-bunyi vokal /a/ dan /u/, juga terdapat gabungan bunyi-bunyi konsonan merdu semacam /n/, /m/, dan bunyi nasal /ng/.
Kata “kata” dan kata “sempat”, lalu kata “isyarat” dan kata “sempat” membentuk rima dalam dengan aliterasi dan asonansi yang saling bersahutan. Kata “dengan” dengan kata “diucapkan” serta “disampaikan” pun membentuk rima dalam yang merdu. Lalu, bunyi kata “kayu” harmonis dengan bunyi kata “abu”, bunyi kata “awan” harmonis dengan bunyi kata “hujan”.
Semua huruf kecil yang digunakan dalam puisi ini mulai dari kalimat pembuka baris pertama merupakan muslihat poetic license (kebebasan penyair) yang dikerjakan dengan kesadaran bahasa Sapardi. Tanda baca titik dua ( : ) pun merupakan jeda sintaksis untuk lebih memusatkan perhatian kepada baris-baris dengan kalimat panjang dalam puisi ini, yakni berupa kalimat legato yang berirama dan berima dalam.
Puisi ini pendek, hanya terdiri dari 2 bait, setiap bait terdiri dari 3 baris. Seluruhnya disusun dengan kesejajaran panjang baris—tampak apik secara sekilas pandang.
Makna utuh, “aku ingin mencintaimu….” menandakan peristiwa belum terjadi karena baru sebatas “ingin” (secara mental), belum terjadi dengan tindakan subjek secara langsung (secara behavioral). Makna tambahan, “tak sempat” menandakan bahwa sesuatu tak terjadi.
Makna pusat, metafora atau kiasan api menjadi abu dan hujan menjadi tiada ialah penyelesaian dari suatu proses atau akhir dari sesuatu. Jika sesuatu ini cinta, puisi ini ialah cinta yang menuju akhir atau titik penghabisan.
Hubungan “aku—kamu” atau “aku dan –mu” itu tak jelas siapa, mungkin aku-lirik atau Sapardi sendiri. Akan tetapi, bisa jadi ini isyarat cinta umum, yakni aku-publik dan kamu-publik, semua kita terlibat dan merasakan pengalaman dalam puisi cinta sampai titik penghabisan ini.
Kata keterangan “dengan sederhana” menandakan secara tak langsung bahwa kita sering luput terhadap keadaan alam yang biasa terjadi, tetapi memiliki hakikat makna yang luar biasa semacam peristiwa kefanaan kayu menjadi abu, lalu awan kepada hujan lalu tiada.
Ketiadaan ini ialah kefanaan hidup yang digambarkan secara kias oleh Sapardi dalam puisi ini dengan suatu fenomena yang sederhana karena peristiwa semacam ini lazim kita hadapi dalam kegiatan sehari-hari: kayu—abu, awan—hujan—tiada.
Persoalannya ialah ada dikotomi spasial (tempat) tercipta di sini, yakni peristiwa kayu menjadi abu terjadi di atas bumi, sedangkan peristiwa hujan menjadi tiada terjadi di udara, atau di langit. Secara tak langsung, puisi ini mengingatkan kita kepada dunia ini, yaitu hubungan mesra antara langit dan bumi dan di antara keduanya.
Kemudian, jika sudah menyebut bumi, langit, dan di antara keduanya, termasuk fenomena proses alamiah yang membumi (kayu, abu) dan yang melangit (awan, hujan), tentu saja “aku” di sana siapa? Dan “kamu” di sana siapa pula sesungguhnya? Tuhan tengah menegur kita secara sederhana untuk memberi cinta-Nya lewat peristiwa sehari-hari, baik di bumi maupun di langit.
Tuhan ternyata sedang berbicara tanpa kata kepada kita selama kita masih hidup—seraya menunjukkan cinta-Nya yang demikian melimpah. Salah satunya terwakilkan kebesaran-Nya lewat kekecilan proses alamiah keseharian: “kayu kepada api yang menjadikannya abu” dan “awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”.
Hanya dua hal sederhana ini cukup mewakili keistimewaan-Nya bagi para insan yang berpikir dengan akal sehat dan merasa dengan hati mulia. Bukankah dengan merenungkan segala ciptaan-Nya, manusia akan sampai kepada Sang Pencipta yang Maha Tak Terjangkau?
***
2023—2026

0 komentar:
Posting Komentar