alt/text gambar

Senin, 16 Februari 2026

Topik Pilihan: ,

Paul Ricoeur (1913-2005): Seputar Hermeneutika dan Seni Memahami

Ricoeur adalah seorang filsuf Prancis. Lahir pada 1913 di Kota Valence, Selatan Lyons. 

F Budi Hardiman dalam bukunya Seni Memahami menjelaskan pemikiran Ricoeur tentang seni memahami. Berikut beberapa kutipan penting dari buku FBH tentang Ricoeur:

Apakah memahami menurut Ricoeur? Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat mengacu pada semboyan “Le symbole donne a penser”. Makna yang terkandung di dalam simbol atau teks tidak mengacu pada simbol atau teks itu sendiri, melainkan terhubung dengan konteks makna yang lebih luas yang berciri eksistensial, yaitu makna hidup. Aktivitas memahami bukan sekadar menafsirkan makna itu pada dirinya, melainkan juga memikirkannya atau merefleksikannya dalam hubungannya dengan makna hidup. Dalam arti ini simbol bukan hanya obyek interpretasi, melainkan obyek refleksi filosofis. 

Di sini ada dua momen penting dalam aktivitas memahami. Pada momen pertama, memahami terarah bukan pada intensi pengarang teks, melainkan pada “persoalan” teks itu. “Persoalan” demikian komentar Vanhoozer, “merupakan, katakanlah, tuan kepadanya pengarang dan penafsir sama-sama berlutut”. Persoalan teks itu tentu pertama-tama menawarkan diri untuk “ditangkap” oleh pembaca sebagaimana terjadi di dalam hermeneutik Gadamer, tetapi lalu Ricoeur melangkah lebih jauh pada momen kedua. Pada momen ini persoalan teks menantang refleksi filosofis pembaca. Memahami dalam pengertian Ricoeur tidak terbatas pada hal yang tertulis dalam teks, melainkan melibatkan sebuah diskursus filosofis yang ditimbulkan oleh teks. Dalam arti ini memahami adalah merenungkan makna, yaitu menyingkap makna itu lewat refleksi. 

***

Pokok Gagasan Paul Ricoeur

Berbeda dari Gadamer, yang menolak refleksi Cartesian dalam memahami teks, Ricoeur justru melihat refleksi Cartesian sebagai sesuatu yang penting bagi hermeneutik. Memahami teks bukan hanya memahami makna yang terkandung di dalam teks itu, melainkan juga lewat teks itu merefleksikan makna hidup kita, karena teks mengacu kepada kehidupan, kepada dunia di luar teks itu. Makna teks itu menimbulkan permenungan filosofis. 

***

Ricoeur menempuh jalan melingkar untuk menyingkap intensi tersembunyi teks (bukan pengarang teks). 

Mitos-mitos, misalnya, memuat makna-makna universal yang juga terarah pada kita sebagai penafsir, seperti: kebersalahan, penderitaan, kejahatan, dst., sehingga menimbulkan refleksi filosofis yang di dalamnya kita menghubungkan makna itu dengan kehidupan kita sendiri. Maka itu, hermeneutik juga melibatkan eksistensialisme, khususnya yang dikembangkan oleh Gabriel Marcel dan Karl Jaspers, karena interpretasi membawa refleksi tentang eksistensi kita sebagai penafsir. Jalan melingkar dari teks lewat fenomenologi dan eksistensialisme menuju pada makna filosofis teks itu ditempuh oleh Ricoeur, maka hermeneutik Ricoeur disebut “hermeneutik fenomenologis”. Jalan melingkar itu adalah lingkaran hermeneutik Ricoeur. 

Kita telah mengenal lingkaran hermeneutik Heidegger, yaitu: untuk memahami sebuah teks, kita perlu memiliki pra-pemahaman lebih dahulu tentang dunia. Seperti telah dibahas di atas, Bultmann telah menempatkan konsep Heidegger tentang pra-pemahaman atau presuposisi dalam memahami itu untuk eksegesis. 

***

Dalam kutipan di atas ada dua anak kalimat yang perlu dijelaskan. Anak kalimat kedua — kita harus percaya supaya dapat memahami — sudah kita kenal dari Bultmann, yaitu: si penafsir memiliki presuposisi yang berasal dari kepercayaannya yang memungkinkannya untuk memahami teks sakral. Iman menghasilkan pemahaman. Anak kalimat pertama—kita harus memahami supaya dapat percaya—memiliki targer untuk apa yang disebut Ricoeur “kenaifan kedua”.“? Teks-teks sakral atau simbolisme dalam mitos-mitos tidak dipahami sekadar untuk diketahui. Si penafsir juga ingin memahami maknanya bagi kehidupannya. Makna itu untuk dipercaya. Namun kepercayaan yang timbul dari memahami ini tidak lagi sama dengan kepercayaan yang terkandung dalam teks, yaitu kenaifan “pertama, saat simbol dipercaya secara. langsung, tanpa mediasi nalar. Kenaifan “keduadimungkinkan oleh suatu mediasi logos, yaitu hermeneutik. Ricoeur menyebut kenaifan kedua 'ini “cara percaya “modern” akan simbol-simbol”, karena orang-orang modern bisa percaya kebenaran teks-teks sakral, hanya jika teks-teks itu dan simbol-simbol di dalamnya diinterpretasikan secara kritis, yaitu direfleksikan untuk kehidupan mereka. Hermeneutik—katakanlah—“mementaskan kembali” (re-enact) isi kepercayaan tersebut. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bultmann dengan “demitologisasi”, yakni untuk menemukan kenaifan kedua? “Le symbole.... 

***

Ricoeur mengacu pada sikap mengobyektifkan teks dalam strukturalisme Prancis. Penafsir tidak lagi mencari makna “di belakang teks”, seperti pada Schleiermacher, karena makna itu ada “di depan teks” sebagai sesuatu yang menyingkap diri kepada pembaca. Otonomi teks inilah yang menurut Ricoeur memungkinkan tindakan menjelaskan yang tidak lain daripada “distansiasi metodologis”. 


Sumber: 

F. Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida, Yogyakarta: Kanisius, 2018, h. 235-271.

0 komentar:

Posting Komentar