alt/text gambar

Rabu, 04 Maret 2026

Topik Pilihan:

POLITIK KETUA RANTING

TEMPO, No. 53 Thn. X, 28 Februari 1981


Oleh: Th. Sumartana


Pak Dawud, begitu saja namanya kita sebut. Umurnya 70 tahun sudah. Tampangnya asli desa. Giginya ompong melompong. Bersama bininya ia tinggal tak jauh dari pucuk gunung. Pendidikan manteri pengairan ia dapat dari zaman Belanda. Tapi sejak muda tak pernah mau "benum" di luar desanya. Di situ seumur-umur bercocok tanam. Hidup dari olah otot dan kasih sayang alam. Mengajar penduduk desa mengatur saluran air. Membaginya rata. Lanskap yang miring ketinggian dan berbatu itu sebagian memang disela oleh tanah rata lagi gembur. Diasuh oleh hikmah yang lahir dari alam, seisi desa dapat bertahan hidup dengan wajar.


Rumahnya juga tua tapi terpelihara. Perabot andalannya adalah sebuah ambin besar yang hampir memenuhi ruangan. Di sana ia biasa duduk atau duduk-duduk dengan para tetangga. Tikar yang tergelar di situ kentara mengkilat karena pantat. Di sana-sini amoh rombeng. Konon, di tahun 50-an seorang pejabat tinggi negara khusus datang mampir di rumahnya. Sejak itu Pak Dawud semakin dihormati orang sedesanya. Di sisi sebelah kanan tersimpan sebuah papan nama dengan tulisan yang sudah baur: Ketua Ranting. Ia memang Ketua Ranting partai dengan tanda gambar kepala kerbau.


Setelah berbasa-basi cara desa, kata-kata pun mulai meluncur, dengan hormatnya.


Tanya: Berpuluh tahun Pak Dawud tinggal di sini, tak mau pindah, kenapa?


Pak Dawud: Pertanyaan ananda memang pertanyaan. Tapi pada pendengaran saya lebih berisi persoalan daripada keinginan tahu. Lebih butuh nasihat daripada jawab. Baiklah, ini dari segi saya jauh lebih enak. Sebab, – apa boleh buat – nasihat adalah bagian dari ciri ketuaan. Semuanya ini telah menjadi bagian sah dari umur saya. (Pak Dawud mengulum senyum).


Begini, jadi bukan karena saya tak ingin maju. Bagi saya "maju" tak sama dengan "pindah". Panggilan hidup saya memang bukan untuk pindah. Orang muda-muda boleh pindah, tapi biarlah saya di sini saja. Inilah batas yang saya tetapkan bagi diri saya. Tepatnya di sinilah saya kira letak persoalan kita. Apabila kita pengin maju, perlu kita ketahui terlebih dahulu batas-batas keinginan kita itu. Soal yang kita hadapi sekarang ini saya kira adalah bahwa kita tidak mau tahu tentang batas-batas dari apa yang wajar bagi kita sendiri. (Pak Dawud mengacung-acungkan telunjuknya ke dirinya sendiri, seperti memarahi diri sendiri. Setelah reda, pelahan-lahan ia mulai dengan kalimat baru).


Pembangunan bagi saya pertama-tama harus didasari oleh kemampuan untuk menguasai diri. Yaitu mengontrol keinginan kita sendiri tentang kemajuan yang kita kehendaki. Berpuluh tahun sampai detik ini, itulah yang saya ajarkan kepada penduduk desa ini. (Telunjuknya berputar 180 derajat) Di-zaman Belanda dulu kita bahkan tak tahu apa yang sebenarnya kita ingini. Boleh dikata kita hidup hanya dengan naluri. Jelas bahwa kita memerlukan kebebasan bahkan untuk berkeinginan. Sebab itu kita mau perang mati-matian melawan Belanda. Hanya orang bebas yang bisa menguasai diri. (Kali ini Pak Dawud berkomat-kamit. Lidahnya menjulur-julur tak ada halangan. Setelah mengatur napas ia pun melanjutkan kalimatnya sambil menunjuk tanah). Inilah yang saya kerjakan di tempat ini. Saya mengajar penduduk bagaimana mereka menyimpulkan kemauan mereka sendiri. Saya mengajar, tidak mendikte. Tidak pula menganjurkan mereka agar meniru kemauan orang lain, bagaimanapun majunya mereka.


Tanya: Bapak masih Ketua Ranting partai di sini? 


Pak Dawud: Ananda bertanya apa arti kata "politik" bagi saya? Wuh, panjang ceritanya. Begini. Ketika itu, di tahun 30-an, tak sengaja seorang teman mengajak saya menghadiri rapat raksasa di sebuah lapangan di kota K. Di sana untuk pertama kali saya mengenal BK. Saya amat terkesan ketampanannya. Dan di sana pula saya mendengar suatu ajaran yang belum pernah saya dengar sepanjang hidup. Saya ingat betul, saat itu BK dalam bahasa daerah berkata bahwa "Kita semua yang kumpul di lapangan ini adalah orang" ("tiyang" atau "wong"). Kita adalah orang, tak kurang tak lebih. Saya lupa sesudah itu apa yang dikatakan BK. Tapi saat itu, di tahun 30-an, saya amat terkesan. Mulai saat itulah saya mengerti apa arti kata "politik". (Pak Dawud menghela napas panjang).


Sesungguhnya politik adalah cara hidup yang kita tempuh bersama untuk menjadi orang. Politik dalam arti tertentu adalah perjuangan untuk mengakui dan diakui sebagai orang. Tak kurang tak lebih. (Pak Dawud menghela napas lagi). Itulah politik. Itulah perjuangan politik. Itulah pula perjuangan saya di tempat ini selama berpuluh tahun. (Kembali ia menunjuk tanah). Sampai sekarang saya masih Ketua Ranting. Tapi terus-terang, bagi saya tak penting apakah partai saya bergambar kerbau atau kancil. Yang penting adalah apabila penduduk desa ini tahu harga mereka sebagai "orang".


Tanya: BK sudah tiada. Partai warisannya kalang kabut. Apa pendapat bapak?


Pak Dawud: Jangan memuja orang. Berat dosanya. Sama berat dengan melecehkannya. Pelajaran pertama bagi setiap orang dalam politik adalah belajar untuk tidak memuja atau melecehkan orang. Bersetuju boleh, tapi jangan memuja. Melawan silakan, tapi jangan melecehkan. (Wajahnya nampak bersungguh-sungguh).


Adapun tentang partai yang kalang-kabut, ananda sebagai penonton boleh ikut kalang-kabut. Tapi sebagai peserta janganlah kecewa. Jangan terlalu banyak khayal. Ananda harus tahu "batas-batas" yang saya sebut tadi. Jangan mengukur kemampuan diri sendiri dengan kemampuan orang lain. (la berkata-kata seperti sedang marah).


Belajarlah dari hikmah perkembangan alam. Tak ada tahapnya yang tak berguna. Bagaimana lamban, bagaimana bodoh, bagaimana memalukannya sekalipun. Belajarlah pada batas-batas kemampuan diri sendiri. Sambil belajarlah punya keyakinan. Jika orang tua mengira bahwa mereka bisa hidup tanpa keyakinan, maka anak-anak mereka akan menjadi sebaliknya. Tahi angin pun akan dipertahankan mati-matian. Itulah yang disebut kalang-kabut! Bertinju melawan kabut! 


Tanya: Pak Dawud...,


Pak Dawud: Ya?! (Pak Dawud menguap. Membuka mulutnya lebar kemudian menutupnya kembali. Benar, giginya memang ompong-melompong).


Sumber: TEMPO, No. 53 Thn. X, 28 Februari 1981

0 komentar:

Posting Komentar