![]() |
| (Kompas, Rubrik “Asal Usul”, 4 April 1999) |
Dan semoga kerinduan ini bukan hanya mimpi di atas mimpi
(Ebiet G Ade)
Oleh: Mohammad Sobary
Orang-orang tersayang, dan mereka yang dekat dengan kita, sering mengundang kerinduan bila pertemuan lama tak terjadi. Kerinduan itu anugerah Tuhan yang disematkan ke dalam jiwa umat-Nya. Saya kira kerinduan itu mahkota jiwa kita. Sungguh berbahagia orang yang jiwanya masih memakai mahkota kerinduan. Termasuk rindu pada tatanan, atau keadaan, yang penuh rasa damai, tertib, aman, tenteram.
Orang-orang miskin masih mudah bersikap kalem, menghadapi kemiskinannya. Tetapi bila dari jiwa mereka rasa damai, tertib, aman, tenteram tadi direngguti, dan hidup tinggal diliputi rasa cemas dan ketakutan, mereka akan menjeritkan rasa cemas dan ketakutan itu ke langit.
Jeritan ke langit lambang rasa putus asa sebab berjuta-juta jeritan kepada penguasa di Bumi telah sia-sia belaka. Para penguasa di Bumi -- yang hidup tetap dalam kemewahan di tengah zaman malaise sekarang -- tak lagi peka. Rata-rata bahkan tak paham lagi apa arti buah jerit keputusasaan sebab jerit putus asa tak ada dalam kamus yang dicetak buat para penguasa Bumi ini.
Apakah mereka lain dari orang-orang biasa? Intinya sama. Mereka pun memakai mahkota. Bedanya, mereka memakai mahkota di kepala, dan bukan di dalam jiwa.
***
Tiap kali ingat drama mini karya Mas Danarto, Mengembaikan kegembiraan berpolitik, jiwa saya digedor-gedor kerinduan akan kedamaian, kerukunan, dan rasa adil dalam politik.
Drama yang dipentaskan dekat sebelum pemilu 1997 itu menampilkan adegan kampanye pemilu yang teduh, dan nyaman ibarat sebuah pesta keluarga. Tiga kontestan -- Golkar, PPP dan PDI -- tampil bersama. Tak ada adegan saling memaki atau menyudutkan. Mereka saling membantu.
“... pem-pem... bangunan" seru jurkam Golkar, sambil melenggang di depan massa yang penuh suka-cita. Tepuk tangan pun membahana.
“... de... de demokrasi... " teriak jurkam PDI.
"Beb... beb... bebas SPP..." jerit wakil PPP.
Panitia seusai kampanye kekeluargaan itu membagi makanan dan minuman kepada massa rakyat. Terdorong oleh keheranan melihat begitu baik hati orang-orang partai, spontan massa menari bersama sambil menggumamkan rasa heran tadi.
"Lho..., kok dilayani...? Lho kok dilayani...” berulang-ulang.
***
Diam-diam Mas Danarto pun tengah dirundung kerinduan akan suasana di mana rakyat hidup dengan penuh tawa. Juga Bung Karno. Lewat Di bawah Bendera Revolusi kerinduan Bung Karno terungkap:
“... marilah kita jaga nama kita terhadap diri sendiri dan terhadap luar negeri. Marilah kita semua, tua-muda, di kota-kota, di kampung-kampung, di desa-desa, menghabisi keadaan tiada keamanan ini. Dengarkanlah ratap-tangis bapak tani meminta keamanan, ratap-tangis orang kecil meminta ketenteraman. Janganlah ada orang lain dapat berkata: Inikah bangsa Indonesia, yang tak dapat mengadakan keamanan di dalam rumahnya sendiri?"
Saya ingin betul mendengar presiden sekarang, atau para penggede lain, berpidato dengan kerisauan yang begitu dalam memikirkan kaum tani dan semua wong cilik yang rindu akan rasa damai dan ketenteraman.
Keinginan saya ini mungkin terlalu mewah. Kita tengah menyaksikan sebuah ironi sejarah: ironi yang getir. Di bawah revolusinya Bung Karno, kitá berteriak bahwa masa depan yang jaya-sentosa terletak pada persatuan bangsa. Idiom revolusi dulu: Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
Di bawah bendera pembangunan -- juga bendera reformasi -- sebaliknya: masa depan terletak pada perpecahan. Sebagian propinsi kita berkata, pisah dari Indonesia menjadi sarana memenuhi impian kemerdekaan dan keadilan.
Ironi ini -- sekali lagi -- terasa betapa getirnya. Dapatkah kita lepas dari kegetiran psiko-sosio-politik demikian ini? Mari kita duduk dalam ketenangan. Mari kita lepas mahkota yang bikin kepala cepat panas. Dan mari kita pindah mahkota itu ke dalam jiwa kita.
Dengan mahkota di dalam jiwa kita semoga mampu memahami tuntutan minta cerai itu cuma sikap merajuk, karena di dalam jiwa mereka masih bersemi rasa cinta pada Indonesia Kalau kita bersatu, dan kompak-- karena masing-masing mengakui kelemahannya -- lalu kita bisa kuat. Rasa aman, damai, tenteram, tentu bisa kita ciptakan. Ini, saya kira bukan hanya mimpi di atas mimpi, seperti kata Ebiet di awal tulisan.
Di Slawi, Jawa Tengah ada bukti kuat. Tanggal 20 Maret lalu, pengurus Daerah Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) yang baru malam sebelumnya dilantik, menggelar atraksi kolosal partai-partai politik di "Monumen Gerakan Banteng Nasional". Acaranya disebut "Gelar Budaya".
Warga Slawi, "tumpah” di situ. Para wakil partai tukar bendera dengan rasa damai. Dalam pawai keliling kota yang meriah, partai A memanggul bendera partai B, partai C memanggul bendera partai F dan seterusnya. Keadaan aman tenteram damai. Tak ada pelemparan, tak ada pembakaran.
Kegembiraan berpolitik terdapat bukan cuma dalam impian Mas Danarto, tetapi juga dalam kenyataan hidup di Kodya Slawi, kota industri, pengolahan teh yang terkenal itu. Sejarah yang adil tentu tak lupa mencatat bahwa kedamaian politik macam itu tidak jatuh dari langit.
Di balik kedamaian massal itu ada tangan-tangan yang mengatur. Pertama, tangan Pak Harmoko, ketua PKKB dan stafnya. Kedua, tangan Pak Umar Dhanu, Dandim 0713 Tegal. Kolonel ini matanya tajam, tegas, tetapi ramah. Mahkota kemiliterannya saya kira dipakai bukan di kepala, melainkan dalam jiwa. la paham akan kerinduan orang-orang di bawahnya. (Mohamad Sobary)
Sumber: Kompas, 4 April 1999


0 komentar:
Posting Komentar