![]() |
| TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992 |
Oleh: Mohamad Sobary
Meskipun Kiai Ali Yafie tak berkenan hadir dalam Munas dan Konbes NU di Bandarlampung, saya masih tetap terheran-heran melihat "simpanan" kiai NU sebanyak itu tumplak-blak hadir dalam momen penting tersebut. Ini merupakan kesempatan pertama bagi saya melihat kiai sebanyak itu sekaligus.
Para kiai itu, seperti biasanya, memakai jubah putih dan surban putih. Atau sarung putih, kemeja lengan panjang (tak berleher) putih, dan pecinya pun putih. Pokoknya, serba putih.
Tanpa pandang bulu, para kiai itu saya salami dengan ketakziman yang merata. Orang boleh tak setuju, tapi saya tetap membungkuk dalam menyalami para kiai itu, dan juga mencium tangan mereka. Menciumi tangan kiai tidak akan pernah rugi karena tangan orang-orang yang paling dekat dengan Allah itu penuh berkah. Setidaknya, ini menurut tradisi NU.
Siang itu, ketika bertemu dengan orang berpakaian serba putih, saya membungkuk hormat sambil memberi salam, "Assalamualaikum, Pak Kiai," kata saya.
Seorang wartawan, sahabat saya, menyikut sambil berbisik, "Dia bukan kiai. Ngawur kamu," kata sang wartawan.
Wah, malu juga awak. Rupanya, seperti halnya tak semua yang kuning adalah emas, tak semua orang yang berpakaian serba putih adalah kiai. Pengetahuan saya tentang dunia kiai memang amat terbatas. Tapi saya berjanji tak akan lagi membuat kesalahan serupa dalam Munas itu. Saya mencoba berhati-hati.
Lagi pula, sahabat wartawan itu sudah hampir menjadi pemandu saya. Saya "taruh" dia di depan, di mana saja, kapan saja. Tapi sekali lagi, suatu saat, saya toh "kepleset". Ketika siang itu sidang komisi berjalan dengan panasnya, saya melenggang dari komisi A ke komisi B.
Lupa pada "protokoler"–sebagaimana disepakati dengan teman wartawan itu–saya berjalan di depan. Di luar ruangan, ketika saya jumpai seorang kakek berdiri sendirian di tangga, saya cuma menegurnya dengan "halo" biasa-biasa saja. Sedangkan wartawan kita itu saya lihat membungkuk dalam-dalam, menciumi tangan orang tua itu dan bicaranya pelan. Hormat betul sikapnya.
Mulanya saya mengira ia kebetulan bertemu mertua atau paman, yang lama tak ditemuinya. Tapi ketika kemudian kami duduk di ruangan sidang komisi B, dia bertanya,
"Kenal orang itu tadi?"
"Tidak," sahut saya.
"Dia kiai besar. Di kalangan sesama kiai, dia dikenal sebagai wali Tanah Jawa."
"Siapa namanya?" tanya saya penasaran. Dan ketika wartawan kita menyebutkan namanya, kontan saya menghambur ke luar. Nama itu sudah lama saya dengar. Tapi tak pernah terbayangkan oleh saya bahwa penampilan beliau sesederhana itu. Celana panjang biasa, kemeja biasa, bersendal jepit, tanpa peci. Rambutnya bahkan seperti tak disisir.
Di dunia NU memang dikenal konsep tentang kiai 'indannas dan kiai 'indallah. Bagi yang tak paham bahasa Arab, jangan gusar. Kedua istilah itu cuma menunjukkan adanya perbedaan tajam antara kiai yang mengutamakan simbol-simbol luar agar dikenal baik sesama manusia, dan kiai yang merasa tak perlu berbuat begitu karena "inti" kekiaiannya merupakan urusan langsung dia dengan Allah.
Kiai kita ini jelas termasuk kategori kiai 'indallah' tadi. Ia tak peduli orang lain tak mengenalnya sebagai kiai. Urusan pokoknya menolong orang. Dirinya sendiri dia abaikan.
Orang pun percaya, siapa berurusan dengan kiai kita ini ia akan selalu bejo (beruntung). Berkah Allah bisa diminta lewat perantara dia. Oleh karena itu, saya menamakannya Kiai Bejo.
Di luar ruangan, Kiai Bejo tidak tampak. Saya cari di komisi A dan C. Tapi Kiai itu tak ada di sana. Panitia pun tak tahu ke mana perginya. Ia mirip Nabi Khidir, atau Ki Ageng Pandan Alas, pendekar ciptaan S.H. Mintardja dalam Naga Sasra dan Sabuk Inten itu. Ia nyentrik. Urakan. Dan muncul kapan saja ada keruwetan. Kemudian amblas lagi. Entah ke mana.
Sia-sia saya mencarinya hari itu. Saya ingin menemuinya untuk pertama-tama minta berkah. Kemudian minta maaf karena saya tak mengenalnya. Saya takut kesiku (kualat). Sebab, selama ini saya pun rupanya sudah terbiasa menilai orang hanya dari penampilan luarnya.
Pagi esoknya, seorang menteri datang memberi ceramah. Bertemu dengan menteri juga merupakan kejadian langka bagi wong cilik seperti saya. Tapi berhubung menteri tidak bisa memberkati, maka saya putuskan untuk lebih baik mencari Kiai Bejo. Biar di lubang semut sekalipun, saya akan tetap mencarinya. Apa boleh buat, jadinya tak bisa menatap wajah menteri.
Doa salat subuh saya pagi itu saya tambahi satu pasal lagi, yakni pasal permintaan kepada Allah agar dipertemukan dengan Kiai Bejo. Syukur, kalau di Munas itu juga. Lebih syukur lagi kalau bertemu hari itu.
Dengan perasaan enteng, saya melangkah menuju Islamic Centre. Udara panas. Di bawah sebatang pohon kecil, jauh di pojok gedung, saya lihat seorang kakek bersandar terkantuk- kantuk pada batang pohon itu.
Alhamdulillah. Kiai Bejo. Tanpa peduli sopan santun, saya betot tangan orang tua itu dan saya ciumi sejadi-jadinya. Anehnya, ia tetap merem, terkantuk-kantuk. Seolah tak terjadi sesuatu pun atasnya.
"Maafkan saya Kiai," kata saya.
"Dan kau tak perlu mencariku di lubang semut," sahutnya. Saya terbengong-bengong. Tapi Kiai Bejo malah mendengkur, membiarkan saya tetap siaga menunggu, berjam-jam lamanya.
Sumber: TEMPO, No. 50, Tahun XXI, 8 Februari 1992


0 komentar:
Posting Komentar