Pada periode awal Islam, seperti
dituliskan oleh seorang penulis sejarah terkenal di awal Islam, yaitu Ibnu
Ishaq, dalam kitab sejarah yang berjudul Sirah An-Nabawiyah atau kisah
tentang Nabi, pada tahun-tahun pertama Rasulullah berdakwah di kota Makkah, hanya
sedikit orang yang dapat menerima agama baru, agama Islam ini. Hanya berkisar
3-4 ratus orang. Empat tahun pertama Rasulullah berdakwah di antara 45 ribu
penduduk Makkah pada waktu itu. Yang sedikit ini pun mengalami perlakuan yang
kurang manusiawi: penghinaan, penindasan, bahkan penyiksaan yang dilakukan oleh
orang-orang Quraish Makkah pada waktu itu.
Menghadapi situasi yang sangat
keras itu, Rasulullah akhirnya memutuskan agar sebagian para pemeluk Islam yang
awal itu bertahan dalam imannya dan terpaksa harus mencari perlindungan di
negara lain. Yang dalam bahasa sekarang barangkali meminta suaka politik kepada
negara lain karena mengalami tekanan, penindasan, di luar batas kemanusiaan.
Negara yang dituju adalah, yang
dalam sejarah Islam disebut, negara Habsyi, yang sekarang disebut Republik
Ethiopia. Pada waktu itu Ethiopia dipimpin oleh seorang kaisar, yang oleh Ibnu
Ishaq disebut Kaisar Najasi, yang dalam sejarah Barat disebut Emperor atau Kaisar
Negus, yang beragama Kristen Ortodoks. Hanya sekitar 90 orang yang
diperintahkan untuk mencari suaka politik itu, yang dipimpin oleh saudara
sepupu Nabi, yakni Ja'far bin Abi Thalib.
Apa yang terjadi? Setelah mereka
mendapatkan suaka politik di Habsyi, dengan menempuh perjalanan yang jauh,
jalan kaki dari Makkah ke Jeddah, kemudian menyeberangi Laut Merah, untuk
sampai di daratan Afrika, maka penguasa Kota Makkah pada waktu Abu Sufyan
mengutus anaknya bernama Muawiyah bin Abi Sufyan, untuk menghadap Kaisar
Najasi. Dan meminta agar 90 orang kaum muslimin yang telah mendapat suaka
politik itu dikembalikan—kalau bahasa sekarang itu "diekstradisi"—ke
Kota Makkah.
Maka Kaisar Najasi memanggil
Muawiyah dan bertanya: "Atas dasar apa Anda meminta agar 90 orang ini
diekstradisi atau dikembalikan ke Kota Makkah?”
Maka menjawablah Abu Sufyan:
"Mereka ini menimbulkan kegaduhan, huru-hara, dan kegoncangan dalam
masyarakat Makkah. Karena mereka mengaku menganut agama baru yang disebarkan
oleh orang yang bernama Muhammad. Karena mereka ini menimbulkan kekacauan, instabilitas,
gangguan dll, maka kami mengambil langkah-langkah keras terhadap mereka."
Tapi Kaisar Negus tidak mau
percaya begitu saja. Maka dipanggillah orang-orang yang mendapatkan suaka itu.
Juru bicaranya Ja'far bin Abi Thalib maju ke depan.
Kaisar Najasi bertanya: "Apa
yang diajarkan Muhammad kepada kalian, sehingga penguasa Kota Makkah Abu Sufyan
meminta kalian diekstradisi (dikembalikan) ke Kota Makkah?"
Maka menjawablah Ja'far bin Abi
Thalib: "Muhammad telah mengajarkan kepada kami agar kami hanya menyembah
Allah yang transenden (mengatasi alam semesta), dan menyuruh kami meninggalkan
penyembahan terhadap berhala yang merendahkan harkat dan martabat kami sebagai
manusia. Muhammad mengajarkan kepada kami untuk berkata benar, jujur, dan adil.
Dan beliau mengajarkan kepada kami kalau kami berbicara, kami tidak boleh
berdusta. Dan kalau kami berjanji kami tidak boleh mengingkari janji yang telah
kami ucapkan. Muhammad mengajarkan kepada kami supaya kami menjaga hubungan
baik dengan saudara dan tetangga, menjauhi segala tindakan kejam, zalim, dan
aniaya. Muhammad menyuruh kami untuk menjauhi pertumpahan darah dan
menyelesaikan setiap persoalan dengan dialog, musyawarah, dan mufakat. Muhammad
menyuruh kami tidak berbuat zalim kepada anak yatim. Kami tidak boleh menimbulkan
fitnah yang menyebabkan kesengsaraan, keburukan, dan penderitaan pada orang
lain."
Lalu Kaisar Najasi bertanya:
"Saya beragama Kristen Ortodoks. Apa yang diajarkan Muhammad kepada kalian
tentang Yesus Kristus?"
Maka Ja'far membaca surah Maryam
yang mengisahkan tentang kelahiran Nabi Isa as yang sedikit berbeda dengan apa
yang disebutkan dalam Injil Kanonik (Injil Matius, Lukas, Yohanes) yang ada
sekarang ini. Dikisahkan tentang Malaikat Jibril yang datang kepada Siti Maryam
dan kemudian Siti Maryam hamil dan lahirlah seorang putra yang disebutkan dalam
Al Qur'an "'Isa kalamullah". Isa itu tercipta karena kalam Allah.
Karena Siti Maryam itu tidak ada suaminya.
Sesudah itu, Kaisar Negus
berkata, "Kalau itu yang diajarkan Muhammad kepada kalian, maka saya tidak
punya alasan untuk mengabulkan permintaan ekstradisi oleh Abu Sufyan.
Dia berkata kepada Muawiyah,
"Kalian pulang ke Makkah. Orang-orang ini tetap berada dalam perlindungan
saya di negeri Habsyi atau Etiopia sekarang ini.
Peristiwa itu sudah lama sekali
terjadi, bahkan sebelum hijrah Rasulullah ke kota Madinah.
Kalau teks yang ditulis oleh Ibnu
Ishaq itu kita baca sekarang, lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan kita
dihadapkan dengan dunia masa kini, maka apa yang dapat kita pahami dari teks
sejarah itu?
Dari jawaban Ja'far bin Abi
Thalib, kita dapat menarik suatu kesimpulan sederhana: yang pertama diajarkan
Rasulullah kepada orang-orang Makkah pada waktu itu adalah seperti jawaban
Ja'far bin Abi Thalib: yaitu menyembah Allah yang transenden dan meninggalkan
penyembahan terhadap berhala. Yang diajarkan Rasulullah pertama-tama adalah
tauhid dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan.
Ja'far mengatakan menyembah Allah
yang mengatasi alam semesta, yang dalam bahasa filsafat disebut "Tuhan
yang transenden". Tempat manusia bergantung, memohon segala pertolongan,
dan mengembalikan segala persoalan yang mereka hadapi kepada Tuhan yang
transenden itu.
Jadi, tauhid itulah esensi dari
Islam: Tuhan-lah yang menciptakan alam semesta; hidup ini terbatas; dunia ini
akan kiamat; manusia semua akan mati. Dan kematian tidak mengakhiri
segala-galanya. Karena kematian adalah awal dari keabadian dan
pertanggungjawaban moral manusia.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ
ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗࣖ
“Siapa yang mengerjakan
kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (Q.s. Az
Zalzalah)
Lalu, sisi kedua jawaban Ja'far
itu adalah jawaban moral: Muhammad menyuruh kami berbuat baik dengan sanak
saudara dan tetangga; menyuruh kami berbicara jujur; menjauhi segala kedustaan;
menyuruh kami memenuhi janji apabila kami berjanji; menyuruh kami berbuat baik
kepada semua; tidak menimbulkan fitnah dan adu domba.
Jadi, moralitas itu suatu norma,
"apa yang boleh, apa yang tidak boleh". Sebenarnya itu sudah ada
dalam kesadaran batin manusia sendiri. Manusia secara instingtif punya
kemampuan membedakan yang benar dan yang salah. Dalam al Quran dikatakan:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
fa al-hamahâ
fujûrahâ wa taqwâhâ
“lalu Dia mengilhamkan
kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,” (Q.s. Asy Syams ayat 8).
"fujuraha wa taqwa"
(hati manusia punya dua potensi: kefasikan dan ketaqwaan).
Secara instingtif, manusia sudah
memiliki kemampuan membedakan hal baik dan buruk, yang adil dan tidak adil,
yang benar dan salah. Fungsi ajaran agama adalah sebagaimana fungsi al Quran
itu sendiri, yakni
هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
"hudal lin-nâsi wa
bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân
“Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara
yang hak dan yang batil).” (Q.s. Al-Baqarah, ayat 185).
Ia mengingatkan hati manusia yang
sebenarnya sudah tahu apa yang salah apa yang benar tapi bisa lupa. Yang
instingtif itu bisa lupa karena berada di bawah sadar: kadang ia muncul dalam
kesadaran, kadang tidak. Maka agama fungsinya mengingatkan.
Persoalan besar yang kita hadapi
sekarang ini adalah persoalan moralitas ini. Tiap hari kita mengkaji fiqh: ini
halal itu haram. Tapi persoalan fundamental yang dihadapi adalah—dan ini
persoalan abadi, dan yang pertama-tama diajarkan oleh Rasulullah—justru iman
kepada Allah dan teguhkan moralitas.
Dan kalau kita mencari moralitas
itu, kita tidak akan menemukannya kecuali moralitas itu dikaitkan dengan agama.
Walaupun seseorang itu tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang baik
mana yang buruk, tapi pengetahuan seseorang tentang yang baik dan buruk itu
tidak berbanding lurus dengan kepatuhan dan ketaatan.
Contohnya, dokter tahu merokok
itu merusak kesehatan, tapi banyak juga dokter yang tetap merokok. Artinya,
pengetahuan seseorang tidak berbanding lurus dengan kesadaran dan kepatuhan.
Itu dua hal yang bisa berbeda. Karena itu, agama menandaskan moralitas kepada
iman kepada Allah. Dengan iman kepada Allah, timbullah kesadaran di dalam batin
atau hati manusia.
Dan karena itulah kita disuruh
untuk terus-menerus ingat dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Selalu
ingat bahwa Allah selalu mengawasi perbuatan kita.
وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
بَصِيْرٌۗ
“Dia bersamamu di mana saja
kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. Al Hadid
ayat 4)
Dengan selalu ingat kepada Allah,
selalu dekat kepada Allah, maka akan semakin peka-lah hati nurani manusia.
Semakin halus perasaannya, makin baik dia pada orang lain, begitu pula
sebaliknya. Semakin jauh manusia dari Allah, semakin tumpullah nuraninya,
semakin kasar perasaannya, semakin kejam dia pada orang lain. Karena itulah
dikatakan bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena esensi
shalat adalah ingat kepada Allah.
Dan ingat kepada Allah atau iman
kepada Allah itu disusul dengan iman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir
artinya kita percaya bahwa semua orang akan dibangkitkan dan mintai
pertanggungjawaban di hari kiamat. Pada waktu itu Allah menjadi hakim yang Maha
Adil. Yang salah akan mendapat balasan; dan yang baik juga akan mendapatkan
balasan. Meskipun Allah juga Maha Pengampun kepada makhluk-makhluknya. Tapi
bahasa sederhananya: yang baik akan masuk surga, yang jahat masuk neraka.
Persoalannya begini: kalau orang
tidak percaya pada hari akhirat. Tidak percaya adanya balasan di akhirat, maka
konsekuensinya untuk apa kita jadi orang baik? Karena secara faktual, orang
baik tidak selalu bernasib baik di dunia. Dan orang jahat tidak selalu bernasib
buruk di dunia. Faktanya, banyak orang baik menjadi susah dan sengsara karena
kebaikan yang dia lakukan. Contohnya, ada orang yang secara tulus menolong
orang yang terkena rampok, misalnya, tiba-tiba datang segerombolan masyarakat
malah menuduh orang baik yang memberikan pertolongan itulah pelakunya. Ia
digebuki sampai babak belur. Padahal dia orang baik. Artinya, ada orang baik
yang menjadi susah karena kebaikannya. Sebaliknya, ada orang jahat, tidak
mengalami nasib buruk di dunia: dia makin hebat saja, makin kaya raya, makin
berkuasa, sehat wal afiat, dan seterusnya. Kalaulah seperti itu kehidupan di
dunia ini, pertanyaan kita: untuk apa kita menjadi orang baik?
Tentu persoalannya tidaklah
sesederhana itu. Di situlah fungsi iman pada hari akhir. Yakin adanya hari
akhir di mana manusia akan menerima balasan dari segala perbuatannya. Maka iman
kepada Allah dan kepada hari akhir itulah jawabannya. Perbuatan baik akan
dibalas oleh Allah dengan kebaikan, kejahatan pun akan mendapatkan balasannya
juga. Jadi, iman kepada Allah dan hari akhir itulah yang mendorong orang untuk
patuh pada kaedah-kaedah moralitas.
"Hukum bisa tegak karena
dilandasi oleh moral, dan moral bisa tegak kalau dilandasi oleh iman kepada
hari akhir." Karena itulah seorang filsuf Jerman yang sangat terkenal,
namanya Immanuel Kant mengatakan: "Kalau kita mencari sebuah sistem
moral yang terbaik, kita tidak akan menemukannya, kecuali di dalam agama."
***
Pesan taqwa: marilah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan kita kepada Allah dengan selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi kita. Apa yang kita perbuat di dunia akan dimintai pertanggungjawaban secara individu-individu di hadapan Allah di akhirat kelak.
Sumber:
Khutbah Jumat Yusril Ihza
Mahendra (Untuk Apa Kita Jadi Orang Baik?) di YouTube

0 komentar:
Posting Komentar