alt/text gambar

Senin, 24 Agustus 2026

Topik Pilihan:



Dari Baca Komik Sampai Lulus Cum Laude: Kisah Unik Jalaluddin Rakhmat Sang Maestro Komunikasi


Siapa yang tidak kenal dengan buku legendaris Psikologi Komunikasi? Bagi kalangan mahasiswa ilmu komunikasi di seluruh Indonesia, karya tersebut adalah "kitab wajib" yang terus dipelajari dari generasi ke generasi. Di balik maha karya tersebut, berdiri sosok Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.—seorang cendekiawan Islam, pakar komunikasi, sekaligus politisi yang perjalanan hidupnya diwarnai kisah unik, mulai dari kegemarannya membaca buku di perpustakaan hingga meraih prestasi akademis tingkat dunia.


Pria yang akrab disapa Kang Jalal ini membuktikan bahwa rasa ingin tahu yang besar dan ketekunan belajar sanggup membawa seseorang dari keterbatasan menuju puncak pencapaian intelektual.


Dahaga Ilmu dan Petualangan Luar Biasa Masa Muda


Lahir di Bandung pada 29 Agustus 1949, Jalaluddin tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan tradisi keagamaan. Sejak kecil, sang ibu membekalinya dengan pendidikan madrasah dan bacaan kitab kuning. Namun, kebiasaan belajarnya sangat tak biasa. Kang Jalal adalah seorang pembaca yang sangat haus akan ilmu; dari membaca komik hingga melahap karya filsuf berat seperti Spinoza dan Nietzsche di perpustakaan ayahnya.


Rasa penasaran dan kecintaannya pada buku bahkan sempat membawanya berkelana ke berbagai pesantren di Jawa Barat semasa SMA untuk mendalami agama, sebelum akhirnya menuntaskan pendidikan di SMA Negeri 2 Bandung. Ketertarikannya pada dunia literasi dan keilmuan ini menjadi fondasi utama yang membentuk nalar kritisnya di kemudian hari.


Lulus Cum Laude IPK 4.0 di Amerika Serikat


Setelah meraih gelar sarjana dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung dan menjadi dosen di sana sejak 1978, Jalaluddin mendapat kesempatan melanjutkan studi ke Iowa State University, Amerika Serikat. Di kampus inilah karakter pembelajar mandirinya semakin berkibar. Kang Jalal pernah mengakui bahwa ia belajar jauh lebih banyak dari membaca tumpukan buku di perpustakaan universitas dibandingkan sekadar mendengarkan kuliah di kelas.


Hasilnya tak main-main. Pada tahun 1981, Jalaluddin menyelesaikan studi magisternya dengan predikat cum laude dan mengantongi Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4.0. Prestasi langka ini mengantarkannya terpilih sebagai anggota perkumpulan kehormatan akademis bergengsi di AS, Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi. Dahaga keilmuannya tak berhenti di situ; ia kemudian merengkuh gelar Doktor (Ph.D.) dalam ilmu politik dari Australian National University (ANU).


Melahirkan "Buku Kitab" Komunikasi dan Pengabdian Masyarakat


Sekembalinya ke Indonesia, Jalaluddin merancang kurikulum fakultasnya di Unpad dan melahirkan buku fenomenal Psikologi Komunikasi. Buku ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan ilmu komunikasi di Tanah Air. Selain mengajar di Unpad, ITB, dan IAIN Sunan Gunung Djati, ia juga mendirikan organisasi Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) pada tahun 2000.


Di masa purnatugasnya sebagai akademisi, Kang Jalal melangkah ke panggung politik praktis melalui PDI Perjuangan dan terpilih menjadi anggota DPR-RI periode 2014–2019 di Komisi VIII. Di parlemen, ia mendedikasikan suaranya untuk membela hak-hak kelompok minoritas dan memperjuangkan nilai-nilai toleransi.


Hingga tutup usia pada 15 Februari 2021 di Bandung, Kang Jalal meninggalkan warisan pemikiran yang tak lekang oleh waktu. Dari sosok anak muda yang gemar membaca komik dan buku filsafat, ia bertransformasi menjadi salah satu maestro komunikasi paling berpengaruh di Indonesia.


Sumber: Wikipedia


0 komentar:

Posting Komentar