alt/text gambar

Selasa, 25 Agustus 2026

Topik Pilihan: , ,

DEKONSTRUKSI DERRIDA, TITIK METAFISIS FENOMENOLOGI: TANDA-SUARA-WAKTU


Derrida menguraikan, pada bagian introduksinya, horizon permasalahan yang akan ia bahas dalam Speech and Phenomena. Kita akan mengikuti paparan horizonal itu. Dalam karya awal Husserl, Logical Investigations yang terbit pada 1900-1901, Derrida melihat, telah tergelarkan fondasi dan arah bagi proyek fenomenologi secara umum. Bahkan premis-premis konseptual yang dibentangkan di sana terus beroperasi pada karya-karya akhir Husserl seperti Crises dan The Origin of Geometry. Derrida melacak bahwa seluruh formulasi teoretis fenomenologi Husserl bertumpu pada “distingsi esensial” yang terdapat pada Logical Investigations jilid 1, investigasi 1, chapter 1 dan paragraf 1, yaitu distingsi antara “ekspresi” (Ausdruck) dan “indikasi” (Anzeichen).6 

Sebelum memasuki investigasi pertama dalam Logical Investigations (yang totalnya berisi enam buah investigasi), Husserl, persis pada seksi terakhir dalam bab pembukaan yang berjudul Prolegomena to Pure Logic, menekankan pentingnya pengetahuan yang “bebas dari segala pengandaiar”, entah itu pengandaian metafisis, saintifik maupun psikologis.” Dengan demikian, Husserl mengesampingkan segala pengetahuan dan hanya bertolak dari “Faktum” bahasa (yaitu bahwa manusia bisa berbahasa). Hanya dari titik tolak yang “bebas dari pengandaian” (Voraussetzungslosigkeit) inilah, fenomenologi dapat menjadi ilmu yang benar-benar rigorous. Dari sini sebetulnya sudah terlihat bahwa Husserl mengandaikan begitu saja bahwa bahasa, tanda, sebagai sesuatu yang netral dan hanya berperan sebagai medium artikulasi pemahaman. 

Seperti telah kita lihat, Husserl, dalam Cartesian Meditations, secara eksplisit mengoposisikan antara “metafisika yang degenerate” (metafisika dalam artinya yang “biasa” dengan segala spekulasi liarnya) dan “metafisika yang autentik”, sebuah “filsafat pertama” (philosophia prote), yang terwujud dalam fenomenologi itu sendiri (sebagai pengetahuan yang rigorous serta mampu memberikan kepastian).”88 Bagi Husserl, metafisika “naif” tersebut selalu gagal untuk melihat aspek “idealitas”, yaitu suatu identitas dari sesuatu yang dapat direpetisi sepenuhnya dan tanpa akhir tanpa mengalami perubahan makna. Barangkali benar bahwa problem utama fenomenologi Husserl adalah problem posibilitas idealitas makna serta upaya untuk membuktikannya.” Idealitas ini dapat dicandra dalam momen “kini yang hidup” alias “kehadiran-diri kehidupan transendental” yang disebut juga oleh Husserl, dalam Logical Investigations, sebagai “solitary mental life”. Pada titik ini, Derrida nantinya akan menguraikan lebih lanjut, terdapat aliansi metafisis antara kehadiran-diri, modus waktu “kini” (now) dan kehadiran makna secara langsung. 

Terdapat suatu pengandaian metafisis lain yang tidak Husserl sadari dalam proyek fenomenologi yang menurutnya “bebas dari pengandaian” itu. Analisisnya mengenai tanda selalu dipimpin oleh suatu telos bahwa bahasa mesti bersifat logis. Dengan kata lain, Husserl menyubordinasikan bahasa di bawah logika. Derrida membaca bahwa Husserl takpernah melakukan refleksi mengenai bahasa, mengenai relasi oposisi-metafisis dalam bahasa yang ia gunakan." Husserl membahas bahasa selalu dalam domain rasionalitas (yang metafisis), yaitu dengan memandang logika sebagai inti bahasa tanpa menyadari bahwa logika “adalah” metafisika.”" Hal ini semakin tampak nantinya ketika ia berbicara tentang perlunya suatu “tata bahasa logis yang murni”. Analisis tentang “tata bahasa logis yang murni" ini bertujuan untuk mencari “hukum logis apriori” yang memungkinkan bahasa atau diskursus agar dapat dimengerti. Dengan pembatasan ini Husserl telah terarah pada suatu tujuan tertentu, suatu konsep kebenaran tertentu, yaitu kebenaran logis dari bahasa (kebenaran sebagai kehadiran, sebagai kejelasan dan keterpilah-pilahan, sebagai ketidakterkontaminasian makna).

Derrida, dalam bagian introduksi ini, juga menunjukkan kembali tegangan yang bermain dalam fenomenologi. Di satu sisi, fenomenologi adalah filsafat kehidupan karena pemaknaan selalu berangkat dari aktivitas dalam “dunia-kehidupan” (Lebenswelt), di sisi lain, fenomenologi adalah metafisika idealitas karena pemaknaan dalam Lebenswelt selalu ditujukan pada 'dealitas murni yang transendental.?? Tegangan inilah yang 

2

mendorong Husserl untuk mendasarkan pemahaman akan makna pada suatu asal-usul yang self-identical, yaitu “kesadaran” sebagai “kehadiran-diri” dalam momen kehidupan mental yang soliter.s? Itulah yang merupakan lapisan pengalaman yang “pra-ekspresif” saat yang berperan adalah, dalam bahasa Derrida, “living vocal medium” (la vive voix) yang adalah solilokui."" Hasrat untuk mendamaikan tegangan dan memberikan pendasaran logis sebagai “ilmu yang rigorous” inilah yang memaksa Husserl untuk tidak mengakui peran “kontaminasi” dalam tanda walaupun ia sebenarnya telah menyinggungnya. Peran “kontaminas?' inilah, atau apa yang disebut oleh Derrida sebagai differance, yang diradikalisasikan oleh Derrida sehingga berbalik menghancurkan “ cita-cita fenomenologi itu sendiri. 


Pada bab pertama hingga ketiga dari Speech and Phenomena, Derrida memaparkan argumentasi Husserl mengenai distingsi antara “ekspresi” dan “indikasi” serta perlunya momen “monolog batin” alias solilokui. Indikasi hanya berfungsi untuk menandai sesuatu, ia seperti sebuah simbol yang merepresentasikan sesuatu. Pada dirinya, indikasi tak memiliki makna karena ia hanyalah medium untuk menunjuk pada sesuatu. Bagi Husserl, hanya ekspresilah yang memiliki makna. Dalam investigasi pertama, chapter pertama, seksi pertama, paragraf pertama, dari Untersuchungen, Husserl menulis: “Ekspresi berfungsi secara bermakna bahkan dalam kehidupan mental yang terisolasi, ketika ekspresi tidak lagi berfungsi untuk menunjukkan apa pun.”!5 Jadi, hanya ekspresi lah yang mampu merengkuh idealitas “makna” (Bedeutung). Dalam Ideas I, Husserl menulis bahwa “makna logis (Bedeutung) adalah sebuah ekspresi.”"'$ Selain dengan “makna”, Husserl juga mengaitkan “ekspresi” ini dengan 

“tuturan” (Sprache)”. Namun Husserl menyadari bahwa dalam komunikasi sehari-hari, indikasi selalu mengontaminasi ekspresi sehingga mendistorsi relasi unik antara ekspresi dan idealitas makna. Setiap ekspresi adalah indikasi (karena ekspresi selalu menunjuk pada sesuatu) namun tidak setiap indikasi adalah ekspresi (karena indikasi hanyalah medium untuk menunjuk sesuatu dan, oleh karenanya, tidak memiliki relasi esensial dengan idealitas sesuatu itu, yaitu makna).88 


Dengan demikian, indikasi membantu namun sekaligus | menghalangi (yaitu dengan mengontaminasi) relasi langsung antara ekspresi dengan idealitas makna. Sedangkan makna, bagi Husserl, hanya dapat muncul (alias hadir) secara langsung hanya melalui “ekspresi murni”. Untuk mendasarkan kemurnian ekspresi itu, Husserl menganalisis momen bahasa tanpa distorsi komunikasi (alias momen bahasa sebelum separasi antara penutur dan pendengar) yaitu momen “kehidupan mental soliter” (im einsamen Seelenleben).8? Dan memang itulah upaya fenomenologi: deskripsi objektif atas objek yang hadir dengan bertolak dari interioritas yang self-proximate ketika aku berbicara pada diriku dan memahami diriku sendiri dalam momen “kini” yang langsung tanpa mediasi apa pun. Husserl, catat Derrida, tidak mempertanyakan “sesuatu” yang memungkinkan distingsi itu terjadi, dengan kata lain, Husserl tidak mempertanyakan “tanda” secara umum (sebelum distingsi antara ekspresi dan indikasi).:2 Derrida kembali menunjukkan paradoks fenomenologi: di satu sisi, reduksi atas ontologi naif menuju problem konstitusi kesadaran yang selalu dimediasi oleh tanda, tapi, di sisi lain, masih terjebak pada metafisika kehadiran dalam upayanya menemukan suatu 

3

momen yang murni dan bebas dari kontaminasi/mediasi, yaitu momen solilokui.'2 Demi pencapaian cita-cita fenomenologi, Husserl terus berupaya menunjukkan bahwa indikasi adalah sesuatu yang sekunder, hanya bersifat membantu ekspresi namun juga berbahaya bagi kemurnian ekspresi. Indikasi hanya dikaitkan dengan fakta empiris yang dirujuk (dan bukan eidos-nya). Tanda indikatif tidak dapat merengkuh eidos ataupun idealitas makna. Oleh karena itu, indikasi diposisikan sebagai sesuatu yang eksterior dari relasi dengan idealitas makna. Batas indikasi adalah materialitas tanda (bentuk simbol, frekuensi suara, dsb) dan rujukan di dunia empiris.”? Sementara itu, ekspresi adalah tanda yang “mau mengatakan sesuatu”, ia adalah tanda yang memiliki makna, maka judul seksi kelima investigasi pertama adalah “Expressions as Meaningful Signs” (Ausdriicke als bedeutsame Zeichen). Dalam ekspresi “suara” yang diutarakan tetap internal dalam momen solilokui (maka taktermediasi oleh materialitas tanda) dan yang diutarakan bukanlah sesuatu yang eksternal melainkan idealitas makna (yang takterkontaminasi oleh rujukan di dunia empiris). Distingsi ekspresi sebagai yang interior dan indikasi sebagai yang eksterior ini, menurut pembacaan Derrida, menjadi dasar bagi segala reduksi dan konseptualisasi fenomenologi.?2 . Peminggiran atas fungsi indikasi dalam Husserl, menurut pembacaan Derrida, juga didorong oleh motif untuk menjaga intensionalitas kesadaran dari distorsi yang tidak di-kehendak-i. Derrida mencatat, “Husserl menganggap kesadaran yang disengaja dan kesadaran sukarela sebagai sinonim. Makna yang diintensikan adalah makna yang dikehendaki. Mari kita ambil contoh. Jika makna simbol “A” (sebagai indikasi) menurutku adalah “api” dan ketika aku mengutarakan “A'" padamu yang 

menurutmu memiliki makna “perempuan” maka “A”, sebagai indikasi, telah mendistorsikan makna yang kuintensikan, dengan kata lain, yang kukehendaki. Semangat yang sama pulalah yang mendasari Husserl untuk mengesampingkan “ekspresi wajah” | dan “gestur” sebagai indikasi dan bukan ekspresi.” Maka sebenarnya, bagi Husserl, esensi bahasa adalah (ketercapaian) tujuannya. Derrida menulis tentang Husserl ini: “Hakikat bahasa ada pada tujuannya, dan tujuannya adalah kesadaran sukarela sebagai makna (comme vouloir-dire1.”2 Dengan kata lain, dalam teori intensionalitas kesadaran mengeramlah “metafisika kehendak” alias metafisika subjektivitas yang menurut Heidegger meresapi filsafat Barat modern.'? Itulah sebabnya Derrida menyebut aktivitas pemaknaan dalam Husserl ini sebagai aktivitas vouloirdire (“wanting-to-tel?”, volo: dari bahasa Latin artinya “kehendak”). Karena makna adalah makna yang diintensikan alias dikehendaki sementara indikasi, walaupun membantu artikulasi, mendistorsikan intensi/kehendak itu, maka dalam komunikasi dengan orang lain (yang selalu termediasi oleh indikasi) makna takdapat hadir penuh. Jika demikian, jika maknatakdapat hadir ' penuh, bagaimana cita-cita fenomenologi mesti dipertahankan? | Dalam titik inilah, Husserl berupaya memberikan jaminan kepastian makna itu dengan masuk ke dalam analisis mengenai momen solitary mental life. Dengan reduksi ke dalam momen solilokui ini, mediasi fisik (frekuensi suara, wujud simbol) dari indikasi tampak tak memengaruhi sirkulasi makna. Derrida membaca bahwa jika momen “kehidupan mental soliter” ini masih terkontaminasi atau termediasi oleh indikasi atau apa pun, maka seluruh teori penandaan Husserl akan runtuh.:28 Dalam monolog batin ini, menurut Husserl, ekspresi men' capai kepenuhannya. Idealitas makna hadir secara langsung 

tanpa perlu diindikasikan. Itulah “kesadaran hidup”. Dalam momen solilokui ini, aku takperlu berkomunikasi dengan diriku karena komunikasi sudah takperlu, karena makna hadir penuh. Eksistensi makna, pada momen ini, tak perlu diindikasikan karena hadir secara langsung pada subjek dalam waktu “kini”. Maka, ekspresi, yang mencapai kemurniannya pada momen solilokui, tidak berfungsi untuk komunikasi.!2 Takada mediasi kata-kata dalam momen ini, kata-kata hanya mungkin dalam bentuk “imajinasi” (tentang kata-kata). Takada distingsi subjekobjek, distingsi ini hanya mungkin dalam bentuk “representasi” (kita merepresentasikan diri sebagai subjek yang bertutur dan objek yang dituturi).58 Husserl menulis: “Dalam monolog, katakata tidak dapat berfungsi untuk menunjukkan fungsi untuk “menunjukkan adanya tindakan mental, karena indikasi seperti itu tidak ada gunanya. Sebab tindakan-tindakan yang dimaksud adalah yang kita alami sendiri pada saat itu juga lim selben Augenblick1.”81 Hanya dalam momen monolog batin inilah, menurut Husserl, idealitas absolut dari makna dapat menampak. Derrida melihat adanya suatu metafisika yang tersembunyi dalam pandangan tentang idealitas absolut ini. Metafisika itu tampak dalam dua segi: pertama, idealitas absolut mensyaratkan adanya suatu ketetapan alias permanensi dari objek yang hadir di hadapan subjek, kedua, kehadiran idealitas absolut itu terwujud dalam momen “kini” (solitary mental life). Jadi pandangan tentang idealitas absolut secara langsung terkait dengan kehadiran langsung subjek pada dirinya (self-proximate) pada momen “kini” yang langsung dan takterbagi (within the blink ofan eye).“8 Momen itu mengambil tempat pada “pengalaman-kehidupan' (Erlebnise) yang murni (yang memuncak pada solilokui). 

4

Momen kemurnian dalam solilokui selalu mengandaikan bahwa momen “kini” yang terjadi hanya “dalam satu kedipan mata” ini mesti merupakan suatu kesatuan dan takboleh terbagi ataupun terkontaminasi. Menurut Derrida, jika Husserl gagal membuktikan ini, maka proyek fenomenologi akan terancam.!” Walaupun Husserl, dalam The Phenomenology of Internal TimeConsciousness, mengatakan bahwa waktu selalu mengandaikan jejak dari masa lalu (retensi) dan jejak dari masa depan (protensi), ja sendiri tetap menegaskan momen “kini” sebagai momen yang self-identical, sebagai “titik”, sebagai sesuatu yang “punctual”. Husserl menulis dalam Ideas I: “Masa kini yang aktual adalah sesuatu yang tepat waktu (ein Punktuelles) dan tetap demikian, suatu bentuk yang bertahan melalui perubahan materi yang terus-menerus.”85 Momen “kini” ini disebut pula oleh Husserl sebagai “bentuk primordial” (Urform) dari kesadaran. Memori dari masa lalu (retensi) dan ekspektasi atas masa depan (protensi), dalam pandangan Husserl, menyatu dan memuncak dalam momen “kini”. Derrida bertanya: jika masa kini hanya dimungkinkan karena jejak dari ketakhadiran modus waktu yang lain, maka mungkinkah “instant now” itu, mungkinkah im selben Augenblick itu? Mungkinkah momen “kini” yang sepenuhnya takterkontaminasi oleh jejak? Husserl sendiri tampaknya telah menyadari ketakmungkinan ini namun, demi kesuksesan cita-cita fenomenologi yang berupaya mendasarkan kepastian makna dalam momen solilokui saat makna hadir langsung tanpa mediasi indikasi dan dalam “instant now,” ia mesti menampik ketidakmungkinan itu.

Dalam solilokui ini terjadilah suatu “mendengar (memahami) diri sendiri bicara” (s'entendre parler, entendus: “mendengar” dan “mengerti”). Aku berbicara pada diriku, sekaligus mendengar diriku, sekaligus mengerti apa yang aku bicarakan dan dengarkan pada/dari diriku. Ini adalah oto-afeksi yang unik karena seakan tidak memerlukan detour ke “luar” dirinya untuk mereapropriasi dirinya. Derrida menyebut momen ini sebagai “diam fenomenologis” (phenomenological silence) karena seakan takada mediasi indikasi apa pun.588 Hal ini dimungkinkan karena idealitas objek dapat hadir secara langsung tanpa kontaminasi. Namun, sebagaimana diakui Husserl sendiri, idealitas mengandaikan repetisi takhingga.?” Idealitas mesti dapat direpetisi tanpa kehilangan identitas alias kesamaannya dengan dirinya sendiri melalui repetisi takhingga. Dengan kata lain, idealitas mengandaikan repetisi yang sepenuhnya sama. Tapi mungkinkah hal itu? 

" Derrida menulis: Masakini yang hidup muncul dari ketidakidentitasannya dengan dirinya sendiri dan dari kemungkinan adanya jejak retensi. Itu selalu menjadi jejak.” Kehadiran dimungkinkan karena jejak ketidakhadiran. Momen “kini” dimungkinkan lewat relasi diferensialnya dengan modus waktu yang lain. Dengan kata lain, momen “kini” selalu di-mediasi, selalu di-kontaminasi, oleh modus waktu yang lain. Maka “instant now” yang takterbagi, utuh dan unik pada dirinya itu tidak mungkin, sudah selalu tidak mungkin. Sesuatu takkan memiliki kehadiran yang bermakna dan terpahami tanpa jejak memori akan masa lalu yang tak hadir.s39 Sama halnya dengan idealitas murni. Karena idealitas mensyaratkan repetisi, dan repetisi selalu merupakan repetisi dalam konteks yang lain, dalam jaringan pemaknaan yang lain, dengan kata lain, dalam relasi kontaminasi yang lain, maka repetisi takpernah sepenuhnya merepetisi hal yang sama, dan, karenanya, idealitas absolut takpernah ada. Relasi kontaminasi/mediasi inilah yang disebut Derrida sebagai differance. 

Pada bab terakhir dalam buku Speech and Phenomena, yaitu bab ketujuh, Derrida memperlihatkan lebih jauh aktivitas differance 

5

ini. Dalam teks Husserl, dan dalam seluruh teks filsafat Barat secara umum, sisi subordinatif dalam setiap oposisi logis selalu memiliki status suplemen. Indikasi dihadirkan sebagai suplemen, sebagai tambahan untuk memenuhkan kehadiran. Namun, karena suplemen selalu mengandaikan inskripsi suatu elemen yang asing dari sistem ke dalam sistem, maka indikasi juga menghasilkan bahaya bagi keutuhan sistem. Karena kontaminasi indikasi lah, kehadiran penuh atau relasi langsung antara ekspresi dan idealitas makna menjadi terkontaminasi. Relasi suplementer inilah yang disebut Derrida sebagai differance. Suplementasi ini terwujud melalui momen “substitusi”. Derrida menulis: “struktur sebagai gantinya (ftiretwas) L...1 dimiliki setiap tanda secara umum.” Momen substitusi ini selalu diandaikan dalam setiap aktivitas penandaan. Takada tanda tanpa posibilitas substitusi. Setiap tanda, sebagai tanda, mesti bisa dicerabut dari konteks partikular dan diinskripsikan pada konteks yang lain. Dan oleh karena setiap proses substitusi ini melibatkan inskripsi pada konteks yang lain, maka dalam jantung” bahasa terdapat suatu mekanisme “alterasi,” yaitu proses kontaminasi yang lain terhadap setiap makna. Selain itu, bahasa selalu mengandaikan ketidakhadiran subjek. Bahasa, sebagai bahasa, mesti tetap dapat berfungsi bahkan ketika subjek penutur telah mati." 


Konsekuensi dari hal ini adalah bahwa takpernah ada objektivitas kebenaran, takpernah ada idealitas absolut dari makna yang hadir penuh dalam momen solilokui. Ketakmungkinan objektivitas total ini mengimplikasikan lebih lanjut bahwa cita-cita Husserl menggagas suatu pure logical grammar pun akan selalu kandas. Husserl memandang bahwa bahasa, pertama-tama dan secara esensial, bersifat logis. Derrida menunjukkan bahwa bahasa logis adalah bahasa ontologis-metafisis. Rumusan formallogis dari bahasa (misalnya, “S adalah p”) selalu bertolak dari 

pengandaian yang metafisis.'”? Aspek metafisis itu terwujud setidaknya dalam dua bentuk: pertama, konsep kebenaran sebagai “kesesuaian” (adeguatio) yang bertolak dari, mengikuti Heidegger, metafisika representasi: kedua, kehadiran penuh yang takterkontaminasi (yang terwujud melalui konsep “adalah”). Pure logical grammar yang digagas Husserl pun bertumpu pada pengandaian metafisis. Dalam konteks ini, menurut Husserl, bahasa logis boleh bersifat “kontradiktif” tetapi tidak boleh bersifat “nonsense” (Unsinn). Kontradiksi diperbolehkan karena dapat dipersalahkan secara logis. Pernyataan bahwa “bumi itu berbentuk kotak” bersifat kontradiktif namun dapat dicek alias dipersalahkan secara logis. Namun pernyataan “hijau adalah di mana” bersifat “nonsense” karena sama sekali tidak bisa dimengerti. Dengan kata lain, pure logical grammar mengakomodasi kontradiksi dan menolak “nonsense” karena yang kedua tidak memiliki gramatika (sehingga takbisa dimengerti) dan tak memiliki fungsi kebenaran (sehingga takbisa dicek sama sekali). Dari sini sebetulnya kita telah dapat melihat bahwa Husserl menyamakan esensi bahasa dengan tujuannya. Derrida mencatat bahwa terjadi suatu “pergeseran halus (yang) menggabungkan eidos ke dalam telos, dan bahasa ke dalam pengetahuan.” Bahasa mesti mengatakan sesuatu, mesti mengartikulasikan makna yang jelas dan terpilah-pilah, mesti memiliki satu makna yang pasti—semua ini adalah pengandaian Husserl. Dengan demikian, pure logical grammar bertumpu pada konsep kebenaran sebagai objektivitas.” Dan sebagaimana telah kita lihat tadi, konsep ini bersifat metafisis dan objektivitas sendiri takpernah dapat terjadi (karena mekanisme kontaminasi). 

Sistem oposisi-dikotomis yang terdapat dalam fenomenologi Husserl, sebagaimana dalam setiap teks filsafat Barat, selalu memiliki struktur teleologis.'# Segala konseptualisasi oposisilogis selalu diarahkan kepada suatu tujuan yang hadir penuh dan identik dengan dirinya sendiri (entah itu Tuhan, Roh, Kebenaran, Kemanusiaan, dsb). Menjelang akhir buku, Derrida merangkum analisisnya: 


Kita telah mengalami saling ketergantungan sistematis antara konsep rasa, idealitas, objektivitas, kebenaran, intuisi, persepsi, dan ekspresi. Matriks umum mereka adalah sebagai kehadiran: kedekatan absolut dari identitas diri, keberadaan di depan objek yang tersedia untuk pengulangan, pemeliharaan masa kini yang temporal, yang bentuk idealnya adalah kehadiran diri dari kehidupan transendental, yang cita-citanya idealnya identitas memungkinkan pengulangan yang takterbatas. Masa kini yang hidup (|...1 dengan demikian merupakan landasan konseptual fenomenologi sebagai metafisika. 


Metafisika kehadiran—itulah nama yang Derrida berikan pada pandangan filosofis yang menyangkal fakta kontaminasi, yang memandang bahwa makna, kebenaran, dapat hadir penuh, murni, langsung, pada dirinya, pada momen “kini” yang takterbagi lagi. “Sejarah metafisika,” kata Derrida, “oleh karena itu dapat diungkapkan sebagai terungkapnya struktur atau skema keinginan mutlak untuk mendengar diri sendiri.” Sejarah metafisika adalah sejarah kelupaan akan kontaminasi, sejarah kelupaan akan differance, sejarah kelupaan akan yang lain yang sudah selalu menginterupsi kehadiran-diri yang identik dalam momen “kini” yang langsung, sejarah kelupaan akan fakta bahwa “benda tu sendiri selalu lolos.”

6

MEDIASI ADALAH KONTAMINASI 


Lawlor barangkali benar ketika ia mengatakan bahwa isu utama yang dibahas dalam Speech and Phenomena bukanlah sekadar problem distingsi ekspresi dan indikasi dalam bahasa, melainkan “problem mediasi”.550 Dan barangkali juga betul ketika Derrida, dalam kalimat pembukaan The Pit and the Pyramid, mengatakan bahwa “Dalam menentukan Ada sebagai kehadiran (kehadiran dalam bentuk objek, atau kehadiran diri di bawah rubrik kesadaran), metafisika dapat memperlakukan tanda hanya sebagai sebuah transisi.”5! Metafisika selalu memandang tanda sebagai suatu medium transisi yang netral, sebagai mediasi yang tidak memengaruhi apa pun terhadap sesuatu yang dimediasikan, i.e. makna. Bahasa, sebagai momen transisional, dipandang sebagai terowongan yang dapat menghantar makna hingga tujuan secara pasti dan tanpa distorsi. Metafisika adalah pandangan atas tanda, atas bahasa, sebagai transisi (passage) yang dapat digunakan (secara pragmatis) dan dikontrol sepenuhnya. Dengan demikian, metafisika, selalu dan pertama-tama, adalah metafisika tentang tanda. : 


Derrida menunjukkan bahwa mediasi atau transisi yang netral dan takberpengaruh kepada apa yang diangkut di dalamnya sebagai suatu mitos metafisis. Mediasi adalah kontaminasi. Metafor yang digunakan semestinya bukan tentang mengangkut barang melalui terowongan melainkan, barangkali, menggengam dan membawa garam di suatu titik menuju titik lain dalam dasar samudra. Diseminasi tanda, asosiasi tanda, sudah selalu terjadi dan justru memungkinkan tanda (sebagai tanda). Differance adalah relasi mediasi/kontaminasi yang memungkinkan sekaligus membatasi setiap signifikasi. Dipahami secara demikian, kontradiksi, oposisi dan dikotomi yang penuh takmungkin ada. Deleuze 


mempertanyakan dalam review pada tahun 1954 atas buku Hyppolite, Logigue et Eristence, bahwa “Bukankah kontradiksi itu sendiri hanyalah aspek perbedaan yang fenomenal dan antropologis?”:52 Kontradiksi, yang menurut Hegel merupakan “akar dari segala gerak dan kehidupan,”?? ternyata hanyalah hasil pembacaan antropologistik atas perbedaan. Dengan menyadari mediasi sebagai kontaminasi, dengan menyadari peran differance yang sudah selalu terjadi, kita dapat menunda metafisika (baca: sistem oposisi-logis) dan memahami perbedaan tidak sebagai kontradiksi, oposisi, ataupun dikotomi, melainkan sebagai diversitas, sebagai diferensialitas. Dalam diversitas selalu terdapat ketaktentuan (undecidability), ya, karena ketentuan (baca: kejelasan dan keterpilah-pilahan) adalah domain metafisika kehadiran yang percaya bahwa makna dapat hadir, terisolasi, jelas pada dirinya, setelah merekonsiliasikan segala yang lain dalam satu kesatuan utuh (dengan terlebih dahulu membagi yang lain itu ke dalam oposisi dan kontradiksi lantas memperdamaikannya). Momen ketaktentuan, momen kontaminasi, ini sebetulnya telah sedikit dilihat oleh Husserl (misalnya ketika ia, dalam The Phenomenology of Internal Time-Consciousness, mengatakan bahwa takada “kini” yang terisolasi dan takterkontaminasi jejak retensi). Namun, lagi-lagi, karena cita-cita fenomenologi sebagai ilmu yang rigorus yang mampu memberikan pendasaran logis yang taktergoyahkan bagi pengetahuan dan mencapai kepastian logis yang objektif serta bebas dari segala bentuk relativisme, Husserl mesti menyangkal fakta kontaminasi ini dan menutupinya dengan mencari pendasaran yang lebih murni (misalnya momen solilokui). Derrida menemukan fakta kontaminasi ini dan meradikalisasikannya hingga menghancurkan proyek fenomenologi itu sendiri. Jadi dapat dikatakan bahwa 

fenomenologi memungkinkan dekonstruksi tetapi dekonstruksi mendahului fenomenologi. Maksudnya, Husserl telah membukakan jalan ke arah logika kontaminasi (sebuah jalan yang ia hindari sendiri), dan dengan demikian memungkinkan dekonstruksi, namun Derrida meradikalisasikan problem kontaminasi itu hingga menemukan bahwa momen dekonstruktif, i.e. differance, sudah selalu mendahului momen fenomenologis. 

Martin Suryajaya, Nihilisme: Derrida dan Masalah Metafisika, Yogyakarta: Cantrik, 2025, h. 213-228



0 komentar:

Posting Komentar