![]() |
| Ariel Heryanto |
Oleh: Ariel Heryanto
(Kompas, 7 Agustus 2026)
Teknologi digital menjadi ujung tombak perubahan sejarah terbesar abad ini. Perubahan itu membawa berkah bagi sebagian pihak. Sebagian pihak lain jadi korbannya, termasuk media cetak. Banyak yang bangkrut. Yang bertahan tinggal segelintir dan hidup megap-megap.
Berakhirnya masa jaya media cetak berdampak meluas pada kehidupan berbangsa. Hingga akhir abad ke-20- kehidupan publik punya sosok kebangsaan yang bisa dibayangkan, antara lain berkat hadirnya media cetak. Wujud materialnya: selama satu abad, perhatian publik setiap hari terfokus sejenak pada koran edisi hari itu.
Jumlah koran dan majalah terbatas. Segelintir media besar sangat dominan sehingga perhatian warga bangsa lebih terpusat dan dipersatukan. Terlepas dari konten dan kualitasnya, terhimpunnya perhatian rutin di media cetak itu membentuk ikatan kesadaran bersama dan wacana publik tanpa harus ada kesepakatan tentang topik yang dibahas.
Menurut teori Ben Anderson, ritual kolektif membaca koran yang dijalani turun-temurun itu memungkinkan terbentuknya angan-angan sebuah komunitas yang setara, berdaulat, dan menghuni sebuah teritori terbatas. Itulah nasion modern. Yang tidak dibahas Anderson, kini, sebagai angan-angan pun, sosok nasion itu berantakan karena memudarnya eksistensi media cetak dan maraknya teknologi digital.
Segelintir koran besar masih terbit, tetapi kehadiran mereka tidak lagi sama karena pembacanya sudah jauh berkurang. Yang tersisa jauh berubah. Perhatian publik tidak lagi terpusat pada satu atau dua media cetak. Perhatian mereka bukan beralih ke satu atau dua media daring, melainkan tercerai-berai ke berbagai platform digital. Nasib koran ibarat ikan dalam kolam yang gelagapan karena menyusutnya volume air kolam itu ke level kritis.
Hingga akhir abad ke-20 beberapa koran besar di Tanah Air membuka ruang diskusi dan polemik mencerahkan di kalangan sarjana dan mahasiswa. Di negara lain, peran itu dijalankan oleh jurnal akademik. Di negeri ini, pada abad lalu, ruang Opini sesekali mirip simposium besar ketika koran menyajikan polemik berminggu-minggu tentang topik berat, termasuk teori klasik dalam ilmu sosial.
Lewat koran, banyak intelektual muda di masa Orde Baru berkenalan dengan teori strukturalisme dan marxisme. Bukan dari ruang kuliah, atau jurnal akademik. Perdebatan paling seru semasa Orde Baru tentang feminisme, Pancasila, atau sastra juga berlangsung di koran. Pemerintah Orde Baru berusaha membanjiri media massa dengan sampah propaganda. Namun, mereka tidak pernah berhasil menguasai sepenuhnya ruang publik.
Satu edisi koran biasa dibaca habis dalam hitungan menit. Edisi berikut baru hadir 24 jam kemudian. Berbeda dari pesan serba singkat dan instan di media sosial, koran memberi ruang cukup bagi ulasan panjang. Ia juga memberi kesempatan pembacanya mencerna teks yang kompleks bernuansa, kalimat demi kalimat, secara perlahan. Tanggapan dari pembaca butuh berhari-hari untuk ditulis, dikirim lewat pos ke penerbit, diperiksa redaksi, sebelum antre terbit.
Koran tidak hanya untuk kaum elite. Pembaca awam bersuara lewat rubrik Surat Pembaca. Sulit dipastikan seberapa banyak suara mereka diperhatikan publik. Terlepas dari soal itu, pesan mereka mendapat privilese tercetak dalam koran yang sama, menjangkau ratusan ribu pembaca koran yang sama bersama aneka pesan elitis. Privilese seperti itu sulit diharapkan di media sosial masa kini.
Dalam jagat media digital, warganet tercerabut dan tercerai dari komunitas nasional. Mereka terbelah dalam kubu-kubu lintas negara oleh polarisasi algoritma yang dikendalikan segelintir miliarder terkaya di dunia. Suara warganet tenggelam dalam samudra pesan dari mesin bot, disinformasi dan misinformasi dari aneka platform. Semua hanya selintas tampil di layar gawai yang terus-menerus berubah dan cepat kedaluwarsa. Semua orang berpeluang bersuara berkali-kali tanpa henti, tanpa jaminan ada yang membaca, mendengar, atau menonton.
Di masa jayanya, koran dicetak untuk dibaca pada hari yang sama, lalu biasanya dibuang. Ada yang menggunakan koran bekas untuk alas duduk di lantai atau kursi bioskop yang penuh kutu. Ada yang memanfaatkan kertas koran bekas untuk pembungkus. Ada pula yang mengumpulkan lalu menjual koran bekas ke pedagang loakan.
Ada sebagian kecil pembaca yang memilih konten koran karena dianggap bernilai istimewa. Konten itu digunting lalu dilem pada selembar kertas sebagai klipingan. Setelah beberapa tahun, koleksi klipingan bisa sangat besar.
Sejak tahun pertama bermahasiswa, saya berkenalan dengan kliping koran di perpustakaan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Dua perpustakaan di sana mengerjakan klipingan koran dengan tekun. Hasilnya menjadi sebagian koleksi penting. Jumlahnya sangat besar dan tersusun di beberapa rak. Setiap bulan perpustakaan di sana menerbitkan buku katalog berisi daftar klipingan yang terbaru, dikoleksi dan dipilah sesuai tema. Empat dekade kemudian, salinan buku-buku katalog klipingan koran dari UKSW saya temukan tersimpan rapi di perpustakaan Universitas Monash, Australia.
Koleksi kliping koran di perpustakaan kampus mengilhami saya membuat koleksi klipingan sendiri. Kliping koran tidak sekadar bernilai eksotik atau antik. Bagi saya, klipingan koran melengkapi bacaan akademik yang berat, teoretis, dan abstrak. Setelah berpuluh tahun, koleksi klipingan itu banyak memperkaya data empirik penelitian saya, khususnya tentang kehidupan sehari-hari kaum non-elite di masa lalu.
Misalnya soal vulgarnya semipornografi film nasional pada 1980-1990-an atau ilustrasi berbagai kasus ekstrem penindasan budaya Tionghoa di tingkat lokal. Ada masanya jilbab diharamkan, tetapi homoseksualitas dan transjender diberi toleransi. Ketika Orde Baru menyebarkan kampanye antikiri di Ibu Kota, di tingkat lokal operasinya bisa jadi serba binal dan sebagian kocak.
Setiap perubahan sosial membuka cakrawala hidup baru. Juga berangsur menghapus ingatan publik atas perubahan yang dialami bangsa. Masa jaya koran sudah berakhir, tetapi koleksi kliping koran membantu kita melawan lupa.
Sumber: 7 Agustus 2026


0 komentar:
Posting Komentar