alt/text gambar

Kamis, 21 April 2022

Topik Pilihan: ,

KUTIPAN DAN KATA BIJAK (4)

“Jika kita tidak menguasai bahasa asing, maka kita tidak mampu memiliki derajat tertentu,” kata Bung Hatta. 

"Ada dua cara bagi kita untuk bisa mencintai kemanusiaan dan kebebasan: cara pertama adalah memilih jalan intelektual dan akademis. Cara yang kedua adalah menjadi aktivis."

"Lelaki mencintai dua perempuan: satu adalah ciptaan imajinasinya, dan yang lain belum lagi dilahirkan." Kahlil Gibran

Sangat sedikit intelektual Indonesia seperti Ignas Kleden. Ia tak pernah mau berkompromi dalam soal kualitas ide dan kesungguhan dalam menghadapi masalah. Mungkin ini sebabnya ia tak pernah tampil di acara talk show televisi — sebuah medium komunikasi yang tekun memerosotkan mutu percakapan intelektual, selain mengumbar kedangkalan kultural tanpa putus melalui acara-acara hiburan yang keburukannya sulit dipercaya. --Hamid Basyaib, dalam tulisannya mengenang Ignas Kleden


"Sex adalah ekspresi cinta yang paling tinggi." Dr. Boyke

"Keberanian itu bukan anugerah, tapi hasil latihan hidup sehari-hari. Keberanian itu sama seperti otot manusia. Kalau tidak dilatih, dia akan jadi lemah. Latihan pertama adalah: jangan lari. Hadapi semuanya. Itu cara untuk melatih keberanian." --Pramoedya Ananta Toer

Apa yang diperintahkan oleh hukum itu haruslah berupa kebaikan dan apa yang dilarang oleh hukum harus berupa kejahatan. Jadi, janganlah hukum itu memerintahkan kejahatan. Itu prinsip hubungan hukum dengan moral. Contoh hukum yang tidak didasari moral: hukum di zaman Nazi untuk melegalkan pemusnahan etnis Yahudi.

“Jika apa yang Anda lakukan memberikan inspirasi kepada orang lain untuk bermimpi lebih, belajar lebih, melakukan lebih dan menjadi lebih, maka Anda adalah seorang pemimpin." – John Quincy Adams

“… jika ada orang yang mampu menganggap cobaan sebagai anugerah dan kuat menjalani hidup, orang yang tak terganggu dengan tekanan atau terhasut hasrat, orang yang tidak tertarik sama sekali dengan kepuasan yang semu -jika orang seperti itu memang ada, maka dia sudah pasti berbahagia.” (Cicero)

“Kebebasan selalu merupakan juga kebebasan para pembangkang.” (Rosa Luxemburg)

“Sepanjang sejarah, musuh agama ialah 'taghut' yaitu sebuah sistem yang melawan kebenaran dan merusak kehidupan manusia, sebuah sistem yang menimbulkan perbudakan dan berbagai macam berhala. Siapakah pengikut taghut ini? Menurut Al-Qur'an, mereka adalah para aristokrat yang kaya, dan orang-orang serakah yang hidup dalam kemakmuran dan kemewahan, serta para penguasa yang tak punya rasa tanggung jawab.” (Ali Syariati)

“Menulis buat saya adalah perlawanan. Di semua buku saya, saya selalu mengajak untuk melawan. Saya dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang.” Pramoedya Ananta Toer (https://www.berdikaribook.red/pramoedya-ananta-toer-melawan-dan-menulis)

"Tahukah kamu dusta terbesar dalam hidup. Yaitu, saat dirimu sepenuhnya dikendalikan oleh nasib. Dan, kamu tak lagi mengerti apa yang kamu inginkan dari hidupmu." ---Paulo Coelho

Demokrasi adalah proses di mana orang-orang memilih seseorang yang kelak akan mereka salahkan. (Bertrand Russell, Filsuf Inggris dan ahli matematika. Peraih Nobel Sastra 1950)

Keadaan seluruh dunia berubah. Sekarang apa? Negara-negara komunis pun mengakomodasi kapitalisme. Perang Dingin tidak ada lagi. Saya sendiri tetap seperti dahulu, menentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan sekadar menentang, tetapi melawan! Melawan pelecehan kemanusiaan. Saya tidak berubah.

"Kefasihamu dalam mengutip pendapat orang lain, jangan sampai membuatmu lalai mendengar suara jiwamu sendiri. Ingat kata Iqbal, dirimu adalah lilinmu, yang lain ilusi laksana sihir."

"Hanya bisa mengagumi, tapi tak bisa memiliki."

"Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri. Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengabdian ilmu, harus yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka 

untuk mengabdi umat manusia. Bekerjalah untuk umat manusia." (Karl Marx)

"Beritahu kami agar tidak pernah lupa bahwa pemerintah adalah diri kita sendiri, bukan kekuatan asing di atas kita. Para pemimpin tertinggi demokrasi kita bukan Presiden dan senator dan anggota kongres dan pejabat pemerintah, tetapi para pemilih negeri ini." (Franklin D. Roosevelt, Negarawan dan presiden ke-26 Amerika Serikat, 1882-1945)

"Seorang pemimpin itu, harus bisa menggenggam hati rakyatnya, rakyat itu sama misteriusnya dengan alam. Tapi, kalau kau berhasil menggenggam hati rakyatmu, mereka akan terus mengikutimu." (Kata kata H.O.S Tjokroaminoto yang selalu diingat oleh Bung Karno)

"Kalau kita tidak bisa menyelamatkan mayoritas orang-orang miskin, kita juga tidak bisa menyelamatkan minoritas orang-orang kaya." John F. Kennedy

"Indak ado kusuik yang indak salasai." (Pepatah Minang) Orang Minang menyelesaikan masalah lebih memilih jalan damai secara kekeluargaan ketimbang jalur hukum. Kalau jalur kekeluargaan akan didapat win-win solution. Sementara jalur hukum, menang-kalah.

"Ketika berhadapan dengan orang, ingatlah Anda tidak berurusan dengan makhluk logika, tetapi makhluk emosi." (Dale Carnegie)

kata Maulana Rumi, segala yang hadir dalam kehidupan adalah tamu Tuhan yang harus dijamu dengan baik.

Eksistensialisme : intinya, menjadi "otentik". Tidak mengekor saja. Dia mempunyai pendapat sendiri. Tidak membeo saja. Tidak merupakan salinan orang lain. Ia hanya terikat pada kebenaran. Berpikir bebas dan mandiri. Ia berbuat baik karena hal itu memang baik, bukan karena alasan yang dipengaruhi dari luar (budaya, trend, pendapat massa, dsb). Orang yang terlepas dari inotentisitas. Kehidupannya tidak dijalankan oleh orang atau instansi lain.  (Lihat K. Bertens, Etika, h. 89-92)

"Melalui fungsi kritisnya, filsafat hukum membantu memberi visi pada norma hukum. Tanpa sikap kritis, hukum dapat berubah menjadi monster efektif di tangan kekuasaan untuk kepentingan penguasa. Tanpa sikap kritis untuk mendorong hukum ke arah lebih berwajah manusiawi, manusia akan diperbudak oleh hukum ciptaannya sendiri." (Andrea Ata Ujan, Filsafat Hukum: Membangun Hukum, Membela Keadilan, Yogyakarta, Kanisius, 2009, h. 33-34)

"Jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan." (Joko Pinurbo, penyair Indonesia)

"Di bawah pemimpin yang baik, anak buah bodoh pun ada gunanya. Tapi di bawah pemimpin yang bodoh, pasukan terbaik pun kocar-kacir…".

"Dosa yang membuatmu sedih dan menyesal itu lebih masuk akal oleh Allah dari pada perbuatan baik yang membuatmu sombong." - Ali bin Abi Thalib

"Beritahu kami agar tidak pernah lupa bahwa pemerintah adalah diri kita sendiri, bukan kekuatan asing di atas kita. Para pemimpin tertinggi demokrasi kita bukan Presiden dan senator dan anggota kongres dan pejabat pemerintah, tetapi para pemilih negeri ini." (Franklin D. Roosevelt --Negarawan dan presiden ke-26 Amerika Serikat, 1882-1945)

Kenapa matematika di Indonesia diajarkan sebagai hitung-hitungan? Kenapa gak diajarkan sebagai latihan cara berpikir, latihan konsep-konsep? Aku berpendapat bahwa matematika adalah orkestrasi dari konsep-konsep: konsep fisika, konsep kimia. Sementara musik adalah matematika yang berbunyi. (Sudjiwo Tedjo)


SEPUTAR ETIKA POLITIK

"Setiap aliran filsafat, bahkan hampir setiap filosof, mempunyai pandangan sendiri tentang apa yang menjadi ciri-ciri struktural dasariah manusia. Bahkan, ciri-ciri sangat umum, bahwa manusia itu makhluk berakal budi, berkebebasan, personal sosial, tidak disepakati oleh semua." (Franz Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987, h. 96)

"Perpisahan antara eksekutif dan legislatif, atau kontrol pemerintah oleh dewan perwakilan rakyat, dan terutama oleh partai-partai oposisi, menutup pintu terhadap manipulasi undang-undang demi kepentingan pemerintah." (Franz Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987, hlm. 231)

"Unsur terpenting dalam paham pembagian kekuasaan negara sudah tentu adalah tuntutan agar yudikatif berdiri bebas dari campur tangan eksekutif independensi peradilan merupakan salah satu tolok ukur terpenting bagi tingkat keberadaban suatu negara." (Franz Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1987, h. 231)

"Dengan moral musti diartikan mereka yang berjuang berdasarkan prinsip benar-salah, adil-tak-adil, tanpa memperhitungkan kekuatan politik. Sedangkan pada political force para mahasiswa menekankan perjuangannya berdasarkan pemupukan kekuasaan hingga dengan demikian terpaksa melakukan opportunisme politik." (Arief Budiman dalam Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia, h. 26)

“Suatu pemikiran, walaupun baru kemungkinan, dapat menggoncang dan mengubah keadaan”. --Nietzsche

"Kaum revolusioner harus mencintai keadilan." (Goenawan Mohamad, dalam Hamid Basyaib dan Kuskridho Ambardi (Ed),  Mempertimbangkan Warisan Arief Budiman, h. 90).

Orang membuat berita, kata Ariel Heryanto, bukan karena ada peristiwa penting, dan orang mengikuti berita bukan karena butuh informasi tentang dunia. Yang terjadi, kata sosiolog itu, adalah orang berjualan berita, dan publik membeli hiburan atau gosip. Itulah bentuk pengaruh industrialisasi (kapitalisasi) dalam dunia media.

KEPERKASAAN KATA-KATA

Belajarlah semangat menulis dari sosok Pramoedya Ananta Toer dan sosok Widji Thukul.  Belajarlah dari mereka yang mampu membuat penguasa saat itu geram bukan main. Melalui tulisan-tulisannya mereka menyuarakan realitas sosial yang terjadi di negeri tercintanya.  Seolah mereka tak rela jika ketidakadilan terus dibiarkan. Mereka marah ketika kekuasaan disalahgunakan demi kepentingan pribadi dan golongan. Meski hanya rakyat biasa, ya, mereka menyadari bahwa mereka hanya rakyat biasa yang tidak akan mampu melawan penguasa dengan kekuatan atau mengangkat senjata. 
Lantas, tak menyurutkan semangat perlawanan dan perjuangan, Pram & Thukul menggunakan goresan pena dan rangkaian kata menjadi tulisan-tulisan pembelaan bagi kaum tertindas. Semakin mereka menulis, semakin tersindir pula penguasa. 
Meski tak mengenal mereka secara langsung tapi kita patut belajar dari semangat menulisnya, betapa tulisan mampu mengispirasi jutaan orang dan menggerakan orang untuk melakukan sesuatu. Bahkan melakukan perlawanan, seperti yang dilakukan Ali Syariati dalam menggerakkan Revolusi Islam di Iran. 
Pram pernah berkata dalam buku “Khotbah Dari Jalanan” : Sepintar apapun kau, jika tak menulis maka kau akan hilang dari sejarah.
Di kesempatan lain, Pram mengakui: "Saya belajar dari Maxim Gorky (sastrawan Rusia)  yang betul-betul saya kagumi. Gorky kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah."
Sahabat, menulis membutuhkan komitmen moral yang tinggi, jadikan menulis sebagai media untuk menebar dan menularkan kebaikan. Maka dari itu menulis membutuhkan pengetahuan dan keberanian, harus tahu dan berani. Menulislah juga dengan kalimat yang sederhana. Permudahlah pembaca menyelami isi kepalamu melalui tulisan-tulisanmu. 

Kutipan dari novel Bukan Pasarmalam 

"Dan kalau engkau jadi presiden, dan ibumu sakit atau ambillah bapakmu atau ambillah salah seorang dari keluargamu yang terdekat--besok atau lusa engkau sudah bisa datang menengok. Dan sekiranya engkau pegawai kecil yang bergaji cukup untuk bernafas saja, minta perlop untuk pergi pun susah. Karena sep-sep kecil itu merasa benar kalau dia bisa memberi larangan sesuatu pada pegawainya." (h. 10)

"Kemanusiaan kadang-kadang menghubungkan seorang dari kutub utara dan seorang dari kutub Selatan. H. 64

Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut--sekalipun badut besar. H. 65

Untuk apa kau ladeni suara orang yang tidak punya kesopanan. H. 66

"Detik demi detik lenyap ditelan malam. Dan dengan tiada terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan malam dan siang. Tapi masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu." H. 66

Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. H. 104

"Informasi di media massa hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat." (Noam Chomsky)

"Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan." (Eduard Douwes Dekker)

Not all readers are leaders, but all leaders are readers.” Harry S. Truman

Membaca buku-buku sastra menjadi kebutuhan tak terelakkan. Manakala pendidikan tak mampu memberikan pencerahan. Jika filsafat hanya membuat kakimu mengawang-awang jauh dari tanah. Sedangkan sains mengebiri imajinasimu. Dan jika agama tak lagi menumbuhkan cinta pada sesama.

"Kita hanya akan dipertemukan dgn apa yg kita cari." (Buya Hamka)

Hukum vs. Moral 

"...hukum tidak identik dengan moralitas, melainkan hasil konsensus yang dapat dilampaui kesadaran moral. Marthin Luther King, misalnya, menegaskan perlunya melanggar hukum yang tidak adil demi moralitas itu sendiri." (catatan kaki dalam F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Yogyakarta: Kanisius, 2003, h. 128) Baca juga: http://www.secapramana.com/artikel/hukum_moral_dlm_masyarakat_majemuk.htm


"Jujur, berani, amanah." (tiga jimat kepemimpinan jend. M jusuf)

Kaum tertindas bisa bermacam-macam: tertindas oleh rezim otoriter, tertindas oleh struktur sosial yang tidak adil dan diskriminatif, tertindas karena warna kulit, gender, ras, dsb. Paling tidak ada dua ciri orang tertindas: pertama, mengalami alienasi dari diri dan lingkungannya. Mereka tidak mampu menjadi subjek otonom, tapi hanya bisa mengimitasi orang lain. Kedua, mengalami self-depreciation, merasa bodoh, tidak mengetahui apa-apa (M. Agus Nuryatno, Mazhab Pendidikan Kritis: Menyingkap relasi Pengetahuan, Politik, dan Kekuasaan, Yogyakarta: Resist Book, 2011, h. 38)

Menurut Noam Chomsky (pemikir kontemporer Amerika): kekuasaan, kecuali dapat dijustifikasi, tidak dapat dilegitimasi. Mereka yang berada dalam posisi otoritas berkewajiban membuktikan mengapa mereka bisa diangkat ke posisi tersebut dan mengapa hal tersebut bisa dijustifikasi. Jika kewajiban ini tidak bisa dipenuhi, si pemegang otoritas tersebut harus digulingkan. Otoritas pada hakikatnya tidak dapat dijustifikasi. Sebuah contoh bentuk otoritas yang dapat dilegitimasi adalah yang dilakukan orang tua ketika mencegah anak kecil berjalan ke tengah jalan raya.

"Orang optimis dan pesimis tetap dibutuhkan. Orang optimislah yang membuat pesawat, dan orang pesimis membuat pelampung." (Pepatah Cina)

Tips untuk bahagia, para pakar menyarankan agar kita menemukan kembali sifat anak-anak pada diri kita: mudah bahagia sama yang di depan mata, mudah melupakan, selalu ingin tahu, tidak mendendam dsb.

"Jangan menjauhi orang yang menjauhimu!! Kalau dia menjauhimu balaslah dengan mendekatinya, kalau dia berbuat jahat kepadamu maka balaslah dengan berbuat baik kepadanya." KH Abdurahman Wahid (Gus Dur)

"Melawan guru dengan kitab, melawan rajo dengan undang-undang." (Petitih adat)

Cinta adalah penyakit. Ia membuat orang lemah di hadapan insan yang dicintainya. Ia menyebabkan candu kehidupan, seakan-akan hidup tak punya arti tanpanya, dan seseorang harus memiliki kebergantungan dengannya. Oleh sebab itu, aku tak mau terjerat cinta, dan tidak akan menoleransi diriku terjebak cinta untuk selama-lamanya. (Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman)

KUNCI PIDATO:

"Saya memberikan pidato berkali-kali dalam setahun di hadapan berbagai macam kelompok. 'Rahasia' saya sederhana saja: saya anggap 'publik speaking' tidak berbeda dengan jenis-jenis pembicaraan lain. Ia (hanya) merupakan cara membagi pikiran kepada orang lain. Dalam beberapa hal, pidato lebih mudah daripada percakapan sosial, karena Anda sepenuhnya menguasai arah pembicaraan. Tapi Anda harus punya sesuatu yang untuk dikatakan." (Larry King- seorang pembicara hebat Amerika. Dalam buku: Seni Berbicara)

"Kita selalu ingin memilih calon yang terbaik menjadi pemimpin kita, namun sayangnya dia tidak pernah menjadi kandidat.” (Kin Hubbard, Penulis Amerika Serikat)

APAKAH HAK BERPENDAPAT ITU HANYA ADA PADA 
KALANGAN AKADEMISI ATAU ILMUWAN?

Refly Harun, pakar Hukum Tata Negara, menjelaskan, "Atas nama konstitusi dan kebebasan, setiap orang bisa menyampaikan opini, baik secara lisan maupun tulisan. Dan itu dijamin oleh Konstitusi, terutama dalam Pasal 28 UUD 1945: hak untuk berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat, baik secara lisan dan tulisan." (lihat Refli Harun, https://youtu.be/rYkvf05vkMg, menit 10:40)




0 komentar:

Posting Komentar