![]() |
| (NOVA No 1190/XXIII, 13 – 19 Desember 2010) |
Cerita Pendek oleh: Martin Aleida
Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjangkaunya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis. Angan-angan kami adalah sebuah istirahat kubur yang damai di bawah langit biru dilingkung hutan hujan. Betapa bahagianya kami nanti dari dalam liang lihat bisa menyaksikan air yang menderu tak habis-habisnya, berebutan jatuh meluncur membasuh tebing. Alangkah nikmatnya menyaksikan hablur air yang deras menghanyutkan jutaan kiambang buih ke Selat Malaka, meninggalkan jejak pelangi di pucuk-pucuk pohon.
Tetapi, apa mau dikata, cita-cita yang sudah berusia lebih setengah abad itu hanyut sudah. Sekarang aku berdiri seorang diri di tubir sungai ini, di Nantalu. Hati terluka, karena apa yang duluh telah bulat kami tancapkan sebagai niat, tinggal angan-angan hampa belaka. Paling tidak Bro, kawanku... Dulu, ketika baru baliq, tak pernah kami bayangkan bahwa kematian tidak selamanya harus berakhir di liang pesegi panjang di sebidang tanah. Agama yang kami anut tidak memungkinkan khayal kami untuk berpikir tentang akhir hayat seperti itu. Yang tidak memerlukan tanah barang sejengkal pun sebagai kuburan. Dan bahwa dengan panasnya tungku krematorium, tulang dan daging seonggok jasad bisa tinggal hanya segumpal debu. Namun, justru jalan kematian yang berapi seperti itulah yang telah ditempuh Bro, setelah dia mengembara berpuluh tahun di dua daratan benua.
Sendirian aku di tepi sungai ini. Di kakiku air berkecipak berlomba ke muara. Di tanganku terlentang cawan seputih gading. Di dalamnya tertumpuk jasad Bro yang hanya tinggal abu, seujung tajuk bunga kamboja banyaknya. Dari Perancis, anaknya, Suilien, memohon agar aku berkenan melarung abu ayahnya itu di sungai, di tumpah darahnya. Suilien tak bisa datang. Bukan karena tak ada waktu untuk sang ayah. Masalahnya, dia membayangkan betapa dia takkan kuasa menahan getirnya perasaan melihat mulut-mulut yang mencibir yang ditujukan kepadanya. “Cis najis, cucu berdarah iblis...” Begitulah mungkin umpat semua mata bagitu menyaksikan kedatangannya. Suilien ingat bagaimana jasad atoknya, ayah dari ayahnya, 45 tahun lalu, dibiarkan dingin membatu, sampai-sampai cairan tubuhnya sudah merembes dari celah kuku. Lalat dan belatung mengerubung tapi tak ada warga yang mau merapat. Tak ada yang rido menguburkannya baik-baik, dengan doa, walau hanya selenting. Dendam yang sesat telah menjadikan orang tua itu lebih hina dari ikan patin yang terapung membusuk. Padahal, dia yang terbujur itu bukanlah pembangkang Tuhan. Dia pernah menjadi anggota parlemen, berulang kali naik kapal laut menunaikan ibadah haji. Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layat dimakamkam, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.
Beberapa tahun sebelum perisiwa berdarah yang menjungkirbalikkan jalannya sejarah negeri ini, Bro, dan istrinya, bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran yang baik, menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Malang, hanya sekejap dia menikmati hidup sebagai seorang guru besar. Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, “datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,” hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas. Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok. Bukan cuma kaum komunis yang dicap jadi burjuis di negeri itu saja yang jadi sasaran. Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tak bisa kembali ke kampung kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.
Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama seperti kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit butjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruknya. Bersama kawan-kawannya, dia digiring ke pedesaan. Dia dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah selama ini. Bro, yang semasa kecil, di kota kami, ikut melempati apëk, yaitu Cina tua dan papa, yang sedang membuang kotoran manusia ke sungai, sekarang nyahok. Dia dipaksa mengangkut kotoran manusia untuk disiramkan ke tanaman sebagai pupuk, semacam pembenaran terhadap petuah Ketua Mao bahwa pabrik pupuk terebsar di dunia ada di perut manusia.
Akhirnya, Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepenjangan. Melalui perjalanan darat beribu kilometer, yang tak pernah dia bayangkan, sampailah dia di Paris. Di kota ini dia bertemu dengan seorang kawan, yang juga tak bisa pulang ke Jakarta, kecuali siap ditangkap, disiksa, dan dibunuh.
Museum yang mengagumkan, restoran-restoran dengan bangunan antik yang menggiurkan, meyaksikan Bro dan kawannya yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang tubuh Bro yang gembur kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju. Sambil berjalan, hernianya kerap kumat. Untung di Paris. Orang-orang di sini takkan melirik pisak celananya yang menjendol sebesar kelapa. Di kota kami, penyakitnya itu akan menjadi olok-olok. Akan ada orang iseng, membeli jeruk purut, dibubuhi garam, diperas, dan ditiupkan jampi dari kejauhan, bikin kantong buah pelir membengkak, gatal tak karuan. Pada sebuah daun pintu, di sebelah gereja tua, harap-harap cemas kedua sahabat sepenanggungan iu mengetuk dengan kepala merunduk. Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia. Turis rupa-rupa bangsa, yang mencari-cari makanan eksotik, menemukan yang mereka buru di situ. Mereka yang dikejar-kejar pemerintah Indonesia, menjadikan restoran, yang taplak mejanya berwarna merah, itu sebagai pusat temu kangen. Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran itu adalah tujuan yang harus dihindari. Seperti ada wabah lepra di situ. Restoran bertaplak merah itu menarik perhatian Jio, teman Bro ketika masih di Jakarta. Jio yang tak tahan menanggung siksa, membelot menjadi interogator terhadap para tahanan politik yang adalah kawan-kawannya sendiri. Dia pelukis, dan dialah yang memberi ilham jahat kepada penguasa militer, bahwa di pedestal, di atas mana patung Dirgantara akan ditempatkan, yang lancip berdiri di perempatan Pancoran Jakarta, adalah patung pencungkil mata. Untuk membangkitkan amarah masyarakat terhadap pembunuhan jenderal, koran-koran yang berada di bawah kontrol militer, yang bernafsu untuk menjatuhkan Soekarno dengan membantai para pendukungnya, melansir berita bahwa para jenderal, setelah dibunuh, dimutilasi dalam seribu potong. Dicungkil matanya. Patung pencungkil mata itu buktinya.
Sebelum meninggal dibunuh kencing manis, Jio berniat memata-matai restoran bertaplak merah itu. Tak sulit buatnya. Kekuasaan dekat ketiaknya. Duit, apalagi. Dia pun terbang ke Paris. Bro kaget ketika melihat Jio sudah berdiri di depan hidungnya. Nama Jio dan seluruh kelakuannya sudah lama jadi bahan cemooh di kalangan mereka yang terdampar di Eropa. “Apakah sudah sejauh ini tugas yang diterima kawan ini...?” tanya Bro di dalam hati. Tenang, dengan keramahan setengah hati, dia melayani tamu istimewanya hari itu. Yang tidak dia penuhi adalah ketika Jio ingin menginap di apartemennya.
“Apakah sebagai interogator dan intel tugasnya termasuk memenggal kepalaku selagi tidur?” teriak bro di dalam hati. “Ingat kau,” tiba-tiba dia berbicara dalam nada tinggi, tak tahan membendung amarah. “Ini bukan Kota Paris, sarang lonte di Senen, Jakarta. Ini Paris, ibukota negara di mana hukum jadi ukuran peradaban. Ini bukan negaramu, negara hukuman...!” Sebagai warganegara Perancis, Bro tentu tak bisa disentuh seorang pendurhaka semacam Jio.
Bro adalah sebuah pejalanan hidup yang tidak biasa, yang tiada tara. Bertahun menetap di Beijing. Dihinakan Revolusi Kebudayaan. Kehilangan istri di sini. Melompati Tembok Besar, melarikan diri ke Eropa. Berpuluh tahun hidup bukan dari buku, tapi dari ulekan sambal di dapur. Semasa kanak-kanak kami sepengajian. Kuingat benar, tiga kali kami tamat membaca Al Quran. Tiga kali pula diupah-upah berbarengan. Tapi, ah... Lututku lemas. Empat tahun sebelumBro jatuh terduduk, dan tak bangun-bangun lagi di restoran bertaplak merah itu, agama yang sama-sama kami yakini ternyata dia tinggalkan. Ke mana pun pergi, sebentuk salib perak menggantung pas di tentang jantungnya. Apakah perjalanan hidup yang kelabu, yang dia tempuh berpuluh tahun, sama menyiksanya seperti yang dialami kawan-kawannya di tahanan dan di pulau pembuangan Indonesia, di mana para penceramah agama dan Pancasila menyumpahi mereka sebagai komunis, biang kufur?! Membuat iman si pesakitan guncang?!
“Seberat apapun cobaan, pantang kami menyerahkan iman.” Itu kata penyair Aceh, sahabat Bro, begitu mendengar kabar terakhir tentang dirinya. Pengusung salib sejati Bro juga tidak. Dia bersahabat dengan seorang pendeta Budha, yang sama-sama ditindas komunis radikal di Tiongkok tempo hari. Cahaya persahabatan inilah yang di kemudian hari mengilhami Bro dalam mengatasi kemusykilan ketika akan menuliskan wasiat kepada anaknya, dengan jalan bagaimana dia akan kembali kepada Penciptanya. Sebab dia ingin jasadnya yang sudah ditinggalkan rohnya, ibarat rumah yang sudah kosong, tidak hanya berada di Paris, tetapi juga di Amsterdam, Beijing, Berlin, dan Nantalu. Bro memilih jalan kematian seorang Budhis: kremasi.
Bro telah menulis beberapa buku kenang-kenangannya semasa dia masih berada di Indonesia. Dalam bayanganku, Bro tentulah akan menulis buku dengan kisah yang merenggut perhatian, juga simpati, apabila dia menceritakan perjalanan hidupnya di daratan jauh. Dan menumpahkan pengakuan bagaimana kepercayaan, juga iman, telah menjadi permainanyang lapuk dalam sebuah perjalanan hidup yang buruk dan tak pernah dia mimpikan.
Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna “yang kalah,” air terus berpendar berkecipak mencium tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejemput abu Bro. “Tuhan siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.” Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga. ***
Sumber: NOVA No 1190/XXIII, 13 – 19 Desember 2010, halaman 71


0 komentar:
Posting Komentar