alt/text gambar

Senin, 29 Desember 2025

Topik Pilihan:

Paul K. Feyerabend dan Kritik Kebenaran Ilmiah

F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023


Oleh: F Budi Hardiman


Kata 'metode' dapat dimengerti dengan kata lain,  yaitu prosedur. Prosedur ilmiah memberi fokus pada objek penelitian, menyaring hasil pengamatan, dan juga memastikan pengetahuan yang diperoleh. Dengan kata lain, prosedur ilmiah merupakan sebuah pembatasan. Kita lalu menyebut kegiatan penelitian disiplin ilmiah. Sepanjang sejarahnya, sains modern mematuhi aturan-aturan metodologisnya ketat dan tampil sebagai protagonis pencarian kebenaran yang paling dipercaya di zaman modern. Sains memberi kita informasi yang meyakinkan. Universitas-universitas dengan berbagai fakultas mereka dan pusat-pusat penelitian merupakan organisasi-organisasi pencarian kebenaran faktual yang bekerja sistematis dengan metode ilmiah. Tidak ada yang bisa membantah pentingnya metode sebagai jantung hati sains modern. Feyerabend justru menolak hal itu.  

Penolakan itu memiliki alasan yang patut kita perhatikan. Feyerabend tidak hanya mewaspadai pemasungan kebebasan dan kreativitas oleh metode ilmiah yang terlanjur dianggap universal dan normatif untuk segala aktivitas ilmiah. Ada sesuatu yang lebih serius yang muncul dalam pertanyaan-pertanyaannya: 

"Tidak mungkinkah bahwa sains sebagaimana kita kenal dewasa ini atau 'pencarian kebenaran' dengan gaya filsafat tradisional akan menciptakan seekor monster? Tidak mungkinkah sebuah pendekatan objektif yang mengerutkan dahi terhadap hubungan-hubungan pribadi di antara entitas-entitas yang diselidiki akan merugikan mekanisme yang nestapa, tak bersahabat, pongah tanpa pesona dan humor? 'Tidak mungkinkah,' tanya Kierkegaard, 'aktivitasku sebagai seorang pengamat objektif (atau kritis-rasional) atas alam akan melemahkan kekuatanmu sebagai manusia?'

Persoalan yang dikemukakan Feyerabend di atas cukup dikenal dalam pemikiran kontemporer, seperti misalnya Horkheimer, Adorno, dan Marcuse. Persoalannya lebih aksiologis daripada epistemologis. Intinya, saintifikasi dan teknologisasi masyarakat akan menghasilkan alienasi, dehumanisasi, dan krisis-krisis makna. Menurut para kritikus dari Mazhab Frankfurt itu, ketika pesona dunia ditelanjangi oleh sains, kehidupan juga ditanduskan dari makna. Seperti tercermin dalam kutipan di atas, Feyerabend memiliki keprihatinan yang sama dengan mereka, tetapi target argumentasi mereka tidak diambil Feyerabend. 

Jika para kritikus dari Mazhab Frankfurt itu mempersoalkan rasionalisasi masyarakat, Feyerabend membidik metode ilmiah sebagai biang keladi masalah itu. Metode ilmiah menjadi satu-satunya jalan kepada kebenaran, dan hal ini dilawan Feyerabend sebagai apa yang disebutnya “Chauvinisme sains”. Jika dalam politik Chauvinisme adalah keyakinan irrasional atau loyalitas ekstrem kepada keunggulan kelompok sendiri, dalam sains keyakinan macam itu menurut Feyerabend diarahkan kepada metode ilmiah dan fakta sehingga para ilmuwan tidak memiliki pemikiran alternatif. 

Tentu bukan maksud Feyerabend untuk membawa kebenaran subjektif ke dalam sains karena hal itu bisa menjadi skandal besar. Metode ilmiah memang dimaksudkan untuk menemukan kebenaran faktual. Namun, apakah kebenaran itu memang ditemukan lewat konsistensi pemakaian metode itu, atau malah sebaliknya, ketika metode itu dilanggar? Feyerabend memberikan jawaban historis yang menarik. Menurutnya, jika mencermati sejarah sains, kita akan menemukan bahwa metode ilmiah de facto tidak pernah konsisten dipatuhi, dan justru pelanggarannya membuka jalan ke arah kemajuan sains. 

Pelanggaran metode menjadi kata yang penting bagi Feyerabend. Mengacu pada Kuhn, dia berpendapat bahwa kemajuan sains, yakni penemuan kebenaran-kebenaran baru, terjadi bukan pada saat para ilmuwan mengikuti aturan-aturan metodologis, melainkan justru ketika mereka melanggar aturan-aturan itu. 

Revolusi Kopernikan atau teori relativitas Einstein adalah contoh-contoh bagaimana kemajuan diperoleh dengan melanggar semua aturan umum sains yang dibakukan. Tulisnya di awal bukunya: 

Jelaslah bahwa pelanggaran-pelanggaran seperti itu bukan peristiwa-peristiwa kebetulan, mereka bukan hasil pengetahuan yang tidak memadai atau hasil ketidaksengajaan yang seharusnya dapat dicegah. Sebaliknya, kita melihat bahwa pelanggaran-pelanggaran itu diperlukan untuk kemajuan.

Suatu teori ilmiah dapat diterima bukan karena sesuai dengan metode. Teori itu diterima karena dibela oleh para pendukungnya sehingga diterima sebagai benar. Jadi, menurutnya yang kita hadapi dalam sejarah sains bukan hanya teori, melainkan juga politik teori yang membiasakan pemakaian suatu teori sehingga benar. “Teori-teori,” lanjutnya, “menjadi jelas dan masuk akal hanya sesudah bagian-bagian yang inkoheren dari mereka telah dipakai dalam waktu yang lama”. Koherensi tidak lebih daripada fiksi yang dipertahankan lewat penggunaan teori. 

Pandangan ini sekilas tampak menggaungkan pemikiran Kuhn tentang revolusi paradigma, tetapi sebenarnya jauh lebih radikal daripada Kuhn karena sementara Kuhn masih mencari pola revolusi sains, Feyerabend ingin membatalkan pola-pola itu dengan pelanggaran-pelanggaran. Dengan argumen yang terkesan eksentrik itu dia tidak ingin membela pandangan bahwa kebenaran itu lebih luas daripada metode ilmiah, melainkan bahwa metode tidak harus satu, dan konsekuensinya juga bahwa kebenaran yang diperolehnya juga tidak harus tunggal. Ada banyak tradisi dalam sains dengan pendukung mereka masing-masing, maka kebenaran juga banyak. Hal itu ingin ditutupi oleh “Chauvinisme sains” atau—demikian ia memberi istilah lain—“penyembahan fakta” yang menurutnya perlu digempur habis. 

Pendirian radikal Feyerabend itu disebut "anarkisme epistemologis". Pandangan ini, di samping mempersoal metode ilmiah yang dibela oleh sains modern, juga merupakan kritik atas proses pencarian kebenaran di Barat yang sejak Parmenides dan para atomis diyakini ada dalam bentuk kebenaran objektif yang tunggal. Dari pandangannya jelas bahwa kebenaran tidak bisa kita temukan sebagai sosok tunggal yang dijamin dengan suatu metode ilmiah universal yang baku. Atas pertanyaan kita di awal bagian ini jawaban Feyerabend adalah bahwa metode ada banyak, maka kebenaran juga banyak. Ilmuwan yang bersikap empiris seharusnya memakai berbagai metodologi, termasuk jika perlu memakai metode lain selain metode empiris sehingga berbagai aspek objek penelitiannya dapat didekati secara produktif. Menurutnya, kemajuan pengetahuan juga tidak dapat diukur dengan satu-satunya standar atau kriteria. Dalam sejarah sains tiap tradisi, entah itu empirisme, mekanika kuantum, atau teori relativitas, memiliki kriteria masing-masing untuk apa yang mereka sebut 'kemajuan', 'perbaikan', “kebenaran', dan seterusnya. Menyadari hal itu, Feyerabend sampai pada kesimpulan yang ia yakini untuk seluruh pencariannya: 

Lalu jelaslah bahwa gagasan tentang sebuah metode yang tetap atau sebuah teori yang tetap tentang rasionalitas berdasarkan pada sebuah pandangan yang terlalu naif tentang manusia dan lingkungannya. Bagi mereka yang melihat bahan yang kaya yang disediakan oleh sejarah, dan mereka yang tidak ingin mempermiskinnya untuk memuaskan naluri-naluri rendah mereka, untuk idam-idaman mereka akan kepastian intelektual dalam bentuk kejelasan, presisi, “objektivitas, “kebenaran, akan menjadi jelaslah bahwa hanya ada satu : prinsip yang dapat dibela dalam semua kondisi dan dalam semua tahap perkembangan manusia. Prinsip itu adalah Anything goes.

Kalau mengatakan anything goes, sebagai satu-satunya asas, apakah Feyerabend masih bisa kita sebut sebagai seorang pencari kebenaran? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung pada orang memahami kebenaran. Jika kebenaran dipahami sebagai tunggal, dia pasti orang paling sesat dalam filsafat sains kontemporer, tetapi dia adalah seorang pencari kebenaran dan bahkan seorang pembebas yang humanis, bila kebenaran itu majemuk. Pilihan kondisional itu sendiri persis menunjukkan bahwa kita tidak bisa mematok kebenaran dengan sebuah kriteria yang non-kondisional. Dan hal itulah yang dipilih Feyerabend. Pendiriannya - kemudian — disebut anarkisme epistemologis, dan sebutan ini memiliki sekurangnya dua arti. Pertama, kebenaran tidak ditemukan dalam bentuk tatanan atau aturan, entah itu bernama konsistensi, tradisi rasional atau bahkan rasionalitas, melainkan dalam bentuk kreativitas seperti di dalam estetika. Kedua, kebenaran—termasuk kebenaran faktual—tidak Universal seperti diyakini sains modern, melainkan tergantung pada konteks-konteks sejarah dan kebudayaan para ilmuwan. Dengan anarkisme epistemologis ini Feyerabend dapat dihitung sebagai pencari kebenaran. Jadi, meskipun menentang patokan dan universalitas pengetahuan, ia sebetulnya mencari kebenaran di luar standar dan universalitas itu, tentu tanpa ada keinginan untuk mendeklarasikannya sebagai kebenaran. 

Kita salah menilai jika menganggap anarkisme epistemologis sebagai irrasionalisme baru dalam diskursus sains. Seorang anarkis epistemologis bukanlah seorang irrasionalis. 

Lebih tepat mengatakan bahwa dia adalah seorang pemain strategi. Dia memberi penegasan berikut: 

"Seorang anarkis adalah bagaikan seorang agen terselubung yang memainkan permainan Rasio untuk mengobral otoritas Rasio (Kebenaran, Kejujuran, Keadilan, dan seterusnya)."

Pendirian Feyerabend dalam filsafat bisa dibandingkan dengan pendirian gerakan Dadaisme dalam seni awal abad ke-20 yang lalu. Seperti Dadaisme, dia juga ingin memprovokasi pikiran agar kita mendelegitimasi standar, aturan, prosedur tunggal yang memasung kreativitas. Semua gaya metodologi untuk menemukan kebenaran dianggap memiliki batas, maka naiflah mendukung satu-satunya metodologi. 

Posisi Feyerabend juga dapat disebut relativisme kebenaran karena kebenaran objektif dan universal dianggap tidak ada, dan sebagai gantinya yang ada adalah kebenaran-kebenaran relatif terkait keragaman konteks. Kebenaran dihasilkan atau ditemukan dalam konteks-konteks yang berbeda, dan di antara keragaman patokan dan ukuran kebenaran itu kita tidak dapat memilih mana yang paling benar: 

"Sebuah teori empiris seperti mekanika kuantum atau praktik pseudo-empiris seperti ilmu kedokteran modern dengan latar belakang materialistisnya tentu saja dapat menunjuk pada banyak prestasi tetapi pandangan apa pun dan praktik apa pun yang telah beredar untuk beberapa lama memiliki prestasi-prestasi. Pertanyaannya adalah prestasi-prestasi manakah yang lebih baik atau lebih penting, dan pertanyaan ini tidak bisa dijawab karena tidak ada alternatif-alternatif yang realistis untuk menyediakan titik perbandingan."

Relativisme kebenaran mewaspadai segala bentuk penyeragaman opini yang menurutnya hanya “cocok untuk sebuah gereja yang kaku, untuk korban-korban yang takut dan tamak dari mitos tertentu (kuno atau modern), atau untuk para pengikut lemah atau antusias dari tiran tertentu”. Namun, relativisme kebenaran tidak sekadar mendukung keragaman opini atau mengatakan bahwa kebenaran itu majemuk dan incommensurable satu sama lain, bahkan pada persepsi indrawi” karena jika demikian kita dapat menyebutnya “pluralisme kebenaran. Relativisme kebenaran juga mengatakan bahwa karena kebenaran itu majemuk, kebenaran-kebenaran itu sama saja. Artinya, tidak ada yang perlu dikontestasikan lagi untuk menemukan kebenaran yang sungguh-sungguh benar karena kebenaran-kebenaran itu sudah benar.

Meskipun Feyerabend mendukung anarkisme dan relativisme, terlebih dengan menggarap konsep Kuhn tentang incommensurability, ada nilai dasar yang tidak bisa dia relatifkan, yaitu kebebasan, kesetaraan, dan keragaman. Sudah sangat dini dalam prakata bukunya dia menegaskan perlunya kontrol demokratis atas sains: 

Dalam sebuah demokrasi institusi-institusi ilmiah, program-program penelitian, dan rekomendasi-rekomendasi mesti ditundukkan di bawah kontrol publik, mesti ada sebuah pemisahan negara dan sains, persis sebagaimana ada pemisahan antara negara dan institusi-institusi agama, dan sains harus diajarkan sebagai salah satu dari banyak dan bukan sebagai satu atau satu-satunya jalan kepada kebenaran dan kenyataan."

Motif proteksi negara dari “chauvinisme sains” sains tak lain daripada kebebasan dan kesetaraan. Dia juga memprovokasi kita para pembaca dari kultur non-Barat dengan tilikan kritis bahwa sains modern itu barang impor yang menyingkirkan unsur-unsur tradisional. Perdukunan, shamanisme, pengobatan tradisional, dan ilmu-ilmu pribumi lainnya dianggap tidak benar, tak perlu dianggap serius, dan tidak memiliki hak hidup. Pengobatan herbal Tiongkok, misalnya, seharusnya dapat menjadi sebuah susunan ilmu yang bisa diartikulasikan secara sistematis dalam bentuk epistemologi, etika, kosmologi atau estetika Tiongkok, tetapi masih dianggap bukan sains. Mengapa perdukunan, pengobatan herbal, vodoo tidak punya kedudukan yang sama dengan sains? Jawabannya adalah karena sains telah menjadi Chauvinistis, yakni tidak membiarkan hidup mereka yang tidak sesuai dengannya. 

Untuk merobohkan chauvinisme sains modern, Feyerabend membidik teori kebenaran kebenaran sebagai korespondensi yang mendasari apa sebagai yang disebutnya “penyembahan fakta”. Ada dua pokok kritik yang bisa kita rinci di sini. Pertama, menurutnya teori ilmiah sebagai konstruksi pikiran tidak pernah sesuai dengan fakta atau objek di luar pikiran. Agar teori-teori ilmiah yang canggih dan cantik itu bisa disusun dan dianggap koresponden dan konsisten dengan fakta, ilmuwan harus menyembunyikan kesulitan hubungan antara teori dan fakta itu dengan “hipotesis-hipotesis ad hoc, aproximasi-aproximasi ad hoc, dan prosedur-prosedur lainnya”.

Kedua, fakta, teori, hasil eksperimen yang diajukan ilmuwan tidak bebas ambiguitas dan tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah. Evidensi mengandung ciri historis-fisiologis yang “tidak melulu mencerminkan keadaan objektif tertentu, tetapi juga menyatakan pandangan subjektif, mitis, yang lama telah dilupakan mengenai keadaan itu”. Jika evidensi “terkontaminasi” seperti itu tentulah korespondensi antara teori dan evidensi itu tidak pernah sungguh terjadi. Observation-language yang sangat canggih dan abstrak dalam sains menyembunyikan banyak detail perubahan sehingga kebenaran faktual itu mengandung banyak konstruksi. 

Kritik Feyerabend atas sains, seperti juga pada Kuhn, membantu kita untuk mencari kebenaran tanpa terobsesi pada sains. Sains bukan barang keramat dan tidak perlu diberhalakan karena jika demikian orang menjadi budak sains dan bukan lagi pencari kebenaran. Sains itu sendiri dianggap perlu melepaskan diri dari keyakinan akan kebenarannya sendiri demi kreativitas dan kebebasan manusia. Demokrasi harus mengawasi sains, dan sains juga perlu terus mengoreksi diri karena hanya dengan cara itu sains tidak hanya makin sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal, melainkan juga pencarian kebenaran dapat diteruskan. 

Sumber:

F. Budi Hardiman, Kebenaran dan Para Kritikusnya: Mengulik Ide Besar yang Memandu Zaman Kita, Yogyakarta: Kanisius, 2023, h. 54-64


Catatan: 

Judul di atas adalah dari saya, bukan dari FBH




0 komentar:

Posting Komentar