alt/text gambar

Minggu, 18 Januari 2026

Topik Pilihan: ,

Khutbah: Pesan Taqwa


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Pada kesempatan khutbah Jumat kali ini, saya ingin urun rembuk berkenaan dengan sembahyang Jumat. Sebagaimana kita tahu, beberapa aspek sembahyang Jumat telah menjadi discourse atau wacana dalam masyarakat kita, yang kadang-kadang mengganggu ukhuwah Islamiah di antara kita. 

Salah satu rukun khutbah Jumat ialah membaca salam. Setelah salam, khatib kemudian duduk. Hal itu sebetulnya adalah sikap rileks yang merupakan sisa-sisa praktik Nabi. Pada waktu itu, Nabi tinggal di sebelah masjid. Rumahnya, yang sekarang menjadi makam beliau, terletak satu tembok dengan masjid. Kalau dirasa sudah banyak orang yang datang ke masjid untuk shalat Jumat, beliau keluar rumah dan mengucapkan salam. Kemudian beliau duduk sambil mengamati siapa yang hadir dan siapa yang tidak hadir. 

Tempat duduknya dibikin lebih tinggi, yang kemudian menjadi rujukan desain mimbar Jumat. Oleh karena itu, ada sebagian umat Islam dan para ulama yang menganggap mimbar Jumat seperti yang ada sekarang ini adalah bidah, karena tidak sesuai dengan desain Nabi. Yang betul seperti apa? Kalau kita pergi ke masjid Tanah Abang, di sana ada contoh mimbar Jumat seperti zaman Nabi. 

Setelah Nabi mengucapkan salam, kemudian dikumandangkanlah azan. Seolah-olah diumumkan bahwa sembahyang akan segera dimulai, karena Nabi telah hadir. Pada zaman Utsman bin Affan, ketika Madinah sudah menjadi kota yang sangat besar, azan sekali dirasa tidak cukup. Maka, Utsman memerintahkan agar azan juga dilakukan di luar masjid untuk mengumumkan bahwa shalat Jumat sudah dimulai. Maka tumbuhlah azan dua kali. 

Ini sama saja dengan perkembangan shalat tarawih. Awalnya dilaksanakan sendiri-sendiri di rumah. Nabi selalu mengerjakannya di rumah, karena pada prinsipnya sembahyang sunnah memang dilakukan di rumah. Oleh karena itu, sekarang masih ada orang yang seusai sembahyang wajib, lalu ketika sembahyang sunnah dia pindah tempat. Itu sebetulnya tiruan simbolik pindah ke rumah. Jadi begitulah, banyak aspek rileks dari agama yang telah menjadi formalitas karena kita tidak tahu asal usulnya. Padahal sebetulnya, banyak yang menyangkut masalah praktis seperti dipraktikkan Nabi. 

Ketika khutbah, Nabi selalu menyandarkan pedang atau tombak pada bahu beliau, karena waktu itu umat Islam adalah komunitas militer. Setiap orang Islam adalah seorang militer. Maka orang yang murtad kala itu menjadi desersi dan hukumannya adalah dibunuh. Padahal menurut Alqur'an, yang menghukum orang murtad adalah Allah Swt. sendiri di akhirat nanti. Tapi karena waktu itu murtad mempunyai implikasi desersi (meninggalkan barisan perjuangan) maka hukumnya dibunuh. 

Dalam konteks itulah, ketika menjadi khatib Jumat, Nabi tampil gagah sekali di atas mimbar sambil menyandarkan pedang, atau kadang tombak, pada bahu beliau. Praktik itu sekarang masih ada di masjid-masjid lama, hanya saja pedang dan tombaknya kini diganti dengan tongkat. 

Setelah itu, seperti yang telah kita ketahui bersama, isi khutbah yang paling penting dan wajib disampaikan ialah pesan takwa. Karena itu, khatib selalu mengutip firman Allah yang berkenaan dengan takwa. 

Ayat yang biasa dikutip ialah firman Allah: 

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (Q.s. Ali Amran (31: 102) 

Seluruh ayat Alquran sendiri, sebagaimana tergambar dalam ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, sebenarnya dirancang sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Indikasi orang yang bertakwa menurut ayat-ayat pertama Surah Al-Baqarah, yang pertama adalah: 

Mereka yang percaya pada yang gaib. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Gaib pada ayat ini adalah gaib dalam pengertian seluas-luasnya, tidak seperti pengertian harian yang berlaku sekarang. 

Indikasi kedua: 

Dan mereka menegakkan shalat. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Jadi, orang yang bertakwa tidak sekadar mengerjakan shalat, tetapi menegakkan shalat. Patut diperhatikan, dalam Al Quran perintah shalat tidak pernah dalam bahasa, “Shalatlah kamu!” atau “Kerjakanlah shalat!”, akan tetapi, "Tegakkanlah shalat!” atau aqimus-shalah. 

Indikasi ketiga: 

Dan mereka mendermakan sebagian harta yang telah Kami anugerahkan kepada mereka. (Q.s. Al-Baqarah (2): 3) 

Di samping mempunyai kesadaran vertikal, berupa hubungan dengan Allah, orang yang bertakwa juga memiliki kesadaran horizontal, yaitu hubungan dengan sesama manusia. Dua kesadaran itu dilambangkan dalam praktik shalat. Shalat dibuka dengan takbiratulihram, artinya takbir yang mengharamkan segala pekerjaan selain menghadap Allah, dengan ucapan Allahu akbar, Allah Mahabesar. Takbir ini menggambarkan kesadaran vertikal. 

Tetapi shalat harus diakhiri dengan ucapan salam, as-salamu'alaikum, yang secara simbolik menunjukkan bahwa kita mempunyai perhatian kepada sesama manusia. Kemudian diperkuat dengan anjuran menengok ke kanan dan ke kiri, seolah-olah Allah berpesan, “Kamu betul telah sungguh-sungguh menghadap-Ku melalui shalatmu, membina hubungan yang baik dengan-Ku. Maka, tunjukkanlah buktinya dengan membina hubungan yang baik dengan sesama manusia”. Itulah akhlaqul-karimah, yang intinya adalah perhatian kepada kelompok-kelompok masyarakat yang kebetulan tidak beruntung. 

Ciri orang bertakwa berikutnya adalah: 

Dan mereka beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada engkau (Muhammad) dan yang diturunkan kepada mereka sebelum engkau (Muhammad). (Q.s. Al-Baqarah (2): 4) 

Allah berfirman dalam Al-Quran bahwa Dia mengutus seorang utusan untuk setiap umat. 

Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul. (Q.s. Al-Nahl (16): 36) 

Di mana-mana, kalau ada sekumpulan manusia yang bisa disebut umat, maka di situ pernah ada rasul, sebab Al-Quran juga mengatakan: 

Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Q.s. Fathir (35: 24) 

Dan para rasul berbicara menurut bahasa masing-masing umatnya. 

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. (Q.s. Ibrahim (14): 4) 

Nabi Muhammad adalah orang Arab, karena itu beliau menyampaikan pesan-pesannya dalam bahasa Arab. Tetapi Nabi Isa berbahasa Aramia. Sehari-hari dia menggunakan bahasa Aramia yang dicampur dengan bahasa Yunani, karena waktu itu wilayah Timur Tengah sudah mengalami pe-Yunani-an atau Helenisasi, sehingga disebut daerah Helenik. 

Kitab suci Nabi Musa lain lagi. Dia menggunakan bahasa Ibrani, yaitu bahasa Yahudi kuno. Padahal, Nabi Musa sendiri berbahasa Mesir. Nama Musa adalah perkataan Mesir yang artinya air, Nama ini diberikan Fir'aun karena ketika bayi, Musa ditemukan istri Firaun di Sungai Nil. 

Musa mulanya menggunakan bahasa Mesir. Kemudian belajar bahasa Ibrani-melalui kaumnya, yaitu Bani Israel yang ada di Mesir. Tapi Musa mengetahui atau belajar agama itu dari mertuanya, Nabi Syu'aib, dari Madyan, yang agaknya adalah seorang Arab. 

Oleh karena itu, Musa juga menggunakan perkataan Arab, yang sampai sekarang orang Yahudi sendiri tetap tidak paham, yaitu kata Yahweh. Yahweh berasal dari kata Arab “Ya Huwa', artinya wahai Dia, maksudnya ialah Allah Swt.

Dalam bahasa Arab, kalau kita memanggil seseorang dengan penuh kemesraan, maka ditambah dengan "ya". 

Misalnya, ya Abahu, wahai Ayah. Ya Ummahu, wahai Ibu. Ya Huwa, wahai Dia Tuhanku. 

Ciri orang bertakwa selanjutnya: 

Dan mereka yakin akan Hari Akhirat. (Q.s. Al-Baqarah (2): 4) 


Hari Akhir adalah hari pertanggungjawaban pribadi secara mutlak di akhirat. Di sana tidak ada khullah. Khullah itu berasal dari kata khalil yang artinya teman. Di akhirat tidak ada pertemanan. Tidak ada solidaritas. Tidak ada perkoncoan. Semua orang tampil secara pribadi di hadapan Allah Swt. Dan, tidak ada perantaraan dengan Allah Swt.: 


Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong. (Q.s. Al-Baqarah (2): 48) 


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Kesadaran kepada Hari Akhirat ini penting sekali, karena implikasinya sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Hidup di dunia ini akan menuju pada kehidupan akhirat. Itulah hidup yang sebenarnya. Hidup di dunia ini harus kita jalani dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, karena semuanya akan berakhir dengan pertanggungjawaban pribadi di hadapan Allah Swt. Rangkaian indikasi-indikasi takwa tadi jelas merupakan dasar yang sangat kukuh bagi kehidupan yang benar. Dalam ayat Al-Quran yang lain disebutkan, bahwa takwa adalah asas hidup yang benar. 

Bahasa kita sudah mengenal kata asas, yang kadang-kadang bagi mereka yang tidak tahu bahasa Arab, ejaannya diganti menjadi azaz. Yang benar adalah asas. Kata asas dalam Al-Quran ada yang disebutkan berkenaan dengan sebuah peristiwa menyangkut Masjid Dhirar. Yaitu, masjid yang didirikan kaum munafik atas dasar iktikad kurang baik. Ini kebalikan Masjid Kuba yang didirikan Nabi sendiri, yang disebut sebagai masjidun ussisa 'ala taqwa, masjid yang didirikan atas dasar takwa. Setelah cerita hal praktis-historis ini, ada pesan moral yang bunyinya sebagai berikut: 


Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.s. Al-Taubah [9]: 109) 

Ini adalah gambaran mengenai asas hidup. Asas hidup itu hanya dua: yang benar dan yang salah. Asas hidup yang benar adalah takwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridha-Nya. Asas hidup mana pun, selain takwa kepada Allah dan keinginan mencapai ridha-Nya, adalah tidak benar. Kalau kita betul-betul mengasaskan hidup kita kepada takwa dan keinginan mencapai ridha-Nya, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah budi pekerti luhur atau akhlaqul-karimah. 

Melalui takwa, kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup. Inti takwa adalah kesadaran yang sangat mendalam bahwa Allah selalu hadir dalam hidup kita. Takwa ialah kalau kita mengerjakan segala sesuatu, kita kerjakan dengan kesadaran penuh bahwa Allah beserta kita, Allah menyertai kita, Allah mengawasi kita, dan Allah memperhitungkan perbuatan kita. 


Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.s. Al-Hadid [571]: 4) 


Hadirin sidang Jumat yang terhormat. 


Inilah pengawasan melekat (waskat) yang sebenarnya. Pengawasan yang built in dalam diri kita melalui iman. Dengan demikian, takwa menghasilkan tindakan yang ikhlas, tulus, dan tanpa pamrih. Dengan takwa, kita berbuat baik bukan karena takut pada orang. Kita meninggalkan perbuatan jahat juga bukan karena pengawasan orang. Tetapi karena dinamika yang tumbuh dalam diri kita sebagai akibat dari takwa. 

Kalau kita sudah memperhitungkan kehadiran Allah dalam hidup kita, dan segala sesuatu yang kita kerjakan menurut kesadaran bahwa Allah mengawasi dan memperhitungkan perbuatan kita, maka dengan sendirinya kita akan terbimbing ke arah budi pekerti luhur. Logikanya, kalau kita hanya melakukan sesuatu yang diridhai Allah, maka dengan sendirinya kita hanya melakukan sesuatu yang baik. 


"Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh). (Q.s. Ya Sin [36]: 12) 


Dari mana ukuran kebaikan itu? Pertama-tama dari modal primordial yang diberikan Allah kepada kita, yaitu hati nurani. Hati ini disebut nurani—berasal dari kata nuraniyun, artinya bersifat cahaya karena merupakan modal pertama dari Allah untuk menerangi sikap kita. Banyak hadis yang menggambarkan bahwa kalau kita ingin tahu mana yang baik dan benar, maka kita harus bertanya pada hati nurani. 

Nabi bersabda: 

"Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu wahai wabishah (bin Ma'bad Al-Aswadi). (Nabi mengulanginya tiga kali). Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang (terasa) tidak karuan dalam jiwa dan (terasa) bimbang dalam dada.” (HR. Ahmad) 


Ukuran kebaikan yang kedua ialah agama. Karena itu, agama disebut juga hati nurani yang diturunkan oleh Allah atau fitrah yang diturunkan oleh Allah kepada manusia (fithrah munazzalah). Kalau hati nurani yang ada dalam diri kita itu adalah fitrah (kecenderungan suci) yang ada secara alami dalam diri kita, maka agama adalah fitrah yang diturunkan Allah kepada umat manusia untuk memperkuat fitrah alami itu. 

Ukuran kebenaran yang ketiga ialah mu'ahadah al-'uqud, yaitu perjanjian-perjanjian antarsesama manusia. Manusia mempunyai sisi keburukan dan kebaikan, oleh karena itu kumpulan dari pikiran manusia, besar sekali kemungkinan menuju pada kebaikan. Allah selalu berpesan agar kita senantiasa menghormati perjanjian-perjanjian atau kontrak-kontrak ('uqud) di antara kita. 

Karena itu, undang-undang yang betul-betul absah harus kita hormati. Maka kalau kita sudah sepakat lampu merah adalah berhenti, kita harus menghormati lampu merah itu. Ini adalah ketaatan yang sepertinya sederhana, tetapi dari segi agama hal itu adalah ketaatan kepada Allah. 

Allah berfirman: 


"Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah janji-janji. Hewan ternak dihalalkan bagimu, kecuali yang akan disebutkan kepadamu, dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki. (Q.s. Al Maidah [5]: 1) 

Dengan ayat itu, jelaslah bahwa umat Islam adalah umat yang dididik untuk taat kepada aturan. Makanya, Islam disebut sebagai din. Din adalah sistem ketundukan atau kepatuhan. Sedangkan masyarakatnya disebut madinah, artinya suatu tempat di mana kehidupan itu teratur, karena orang-orangnya tunduk dan patuh pada aturan.


Baarakallahu lii wa lakum fiil quranil 'azhiiim, innahụ huwal-gafụrur-raḥīm. 


0 komentar:

Posting Komentar